Author: travelingpersecond

  • <—-Previous Story “I think someone at far away named Fiona misses your English’s article, Donny…..😊😊😊“ Like fictional scenes which occur in departure terminals, that time I was touched when I witnessed a young girl with a backpack tightly hugging her mother while carrying a large travel bag. The most likely guess was that that girl…

  • <—-Kisah Sebelumnya Hampir jam sepuluh pagi, Super Air Jet IU 872 sempurna merapat di salah satu apron milik Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport yang tampak basah usai di guyur hujan beberapa saat sebelum ketibaanku. Titik-titik air hujan rapat menempel di jendela pesawat tempatku duduk. Untuk sesaat segenap penumpang menunggu aktivitas ground staff mempersiapkan aerobridge…

  • <—-Kisah Sebelumnya Tepat pukul setengah dua belas, aku tiba kembali di halte bus Budaiya Market. Kawasan Budaiya Market tampak sepi daripada suasana beberapa jam sebelumnya, yaitu saat aku transit ketika melakukan perjalanan menuju Royal Camel Farm. Lantas aku menyapukan pandangan ke beberapa titik. Setelah sekian menit memperhatikan sekitar, akhirnya aku menemukan sekumpulan pria dewasa yang…

  • <—-Kisah Sebelumnya Mataku mengerjap bersamaan dengan kumandang adzan Subuh. Berlanjut melaksanakan shalat dan seusainya, aku bergegas mengguyur diri di bawah shower lalu bersarapan dengan dua potong roti tawar dengan selipan lembar keju ditengahnya. Menunggu sejenak hingga hari mulai terang, maka usai bersiap diri, aku segera turun ke lobby hotel dan bermaksud untuk memulai eksplorasi. Setelah…

  • <—-Kisah Sebelumnya Gelap mulai meyelinap, temperatur kota mulai jatuh, pelita buatan mulai menerangi jalanan. Sementara aku berdiri di bawah gerbang utama Al Fateh Grand Mosque, menatap GO Cards warna merah yang kupegang dengan tangan kanan. “Seingatku saldonya sudah habis semenjak kemarin sore”, aku bergumam pelan. Gumamku punya makna bahwa aku harus pulang menuju penginapan dengan…

  • <—-Kisah Sebelumnya Meninggalkan Three Musketeers kocak sama artinya dengan aku meninggalkan Marina Beach Garden Park. Aku sudah puas menikmati segenap panorama senja di taman tepi laut tersebut. Sementara itu rona gelap mulai mengintimidasi langkah kaki, hari sudah merayap ke pukul lima petang. Sementara itu, aku masih percaya pada langkah kaki yang menapaki jalanan kota di…

  • <—-Kisah Sebelumnya Lantas aku meninggalkan Beit Al Qur’an dari sisi timurnya. Beruntung sekali aku menemukan jalan kecil yang menikung keluar dari ruas utama Shaikh Hamad Causeway. Jalan tembus itu terasa hidup dengan keberadaan Sail Monument yang berdiri gagah tepat di sebuah t-junction. Maka tikungan itu mengantarkanku untuk melangkah di ruas baru, Al Fatih Highway nama…

  • <—-Kisah Sebelumnya Lewat jam dua siang…. Aku sedikit menyeret kaki ke arah selatan, tentu karena rasa capek yang mulai menggelayut. Tak terasa aku sudah mengitari kota setengah dengan arah putaran berlawanan arah jarum jam, berhasil menyisir sisi barat hingga utara. “Saatnya bergerak ke sisi timur”, aku berujar dalam hati dengan sedikit rasa was-was jikalau matahari…

  • <—-Kisah Sebelumnya Usai sudah menikmati pesona Teluk Bahrain, aku pun meninggalkan The Avenues Park. Untuk kemudian tatapan mata kulemparkan ke arah timur, ke sebuah bangunan melengkung memanjang persis di tepian Teluk Bahrain. Aku menyusuri jalur utama The Avenues Park yang terkoneksi menuju bangunan modern itu. Jarak bangunan itu dari pusat taman berkisar setengah kilometer, cukup…

  • <—-Kisah Sebelumnya Terlalu lama aku terbengong, antusias menikmati desain unik Bahrain World Trade Center. Tingginya yang menjulang hampir 250 meter dengan 50 lantai tersusun di dalamnya. Bangunan berusia 14 tahun yang mengandalkan perpaduan arsitektur ala British dan Denmark itu berdiri gagah bak idola di Manama Center District, area bisnis di ibukota Bahrain. Pantas keanggunannya membuatku…