Wahai Diriku, Bumiku, Hutanku dan Masa Depan

Hutan Taman Nasional Gunung Palung/TNGP (sumber:https://id.wikipedia.org/).

Wajahmu kini wahai bumi…..

Walau aku tak memiliki banyak kuasa dalam misi penyelamatanmu, setidaknya aku selalu berusaha meringankan bebanmu. Hasrat yang tak bisa kusembunyikan bahwa aku ingin selalu membalas jasa atas apa yang telah engkau sampaikan kepada setiap penghunimu.

Bahan pangan yang kautumbuhkan dari tanahmu senantiasa kumanfaatkan dengan penuh dedikasi demi terciptanya gaya konsumsi sederhana. Berharap bahwa segenap bahan pangan itu menjadi manfaat merata bagi seluruh penghunimu.  

Bukankah menjadi bijaksana jika kelebihannya bahan pangan itu bisa disampaikan kepada penghunimu yang tak mampu?.

Bukankah menjadi lebih adil jika kelebihannya bisa disampaikan kepada makhluk hidup lain yang juga membutuhkannya.

Bukankah menjadi sempurna jika kelebihan akhirnya kami kembalikan ke tanahmu dalam bentuk bahan penyubur atau kompos.

Apa saja yang menjadi seterumu, secara bersamaan juga akan menjadi seteruku. Coba saja kausebutkan wahai bumi. Apakah itu plastik, karbon dioksida, metana ataupun pestisida?. Tentu aku berharap hanya menggunakannya pada batas-batas yang kauterima.

Apa saja yang menjadi sekutumu, secara bersamaan juga akan menjadi sekutuku. Coba saja kausebutkan wahai bumi. Apakah itu reboisasi, transportasi massal, pemilahan sampah atau pupuk organik? Tentu aku melakukan dan menggunakannya demi panjangnya umurmu.

Harapan demi harapan bahwa penderitaanmu terhentikan dari tangan tak bertanggung jawab yang lebih dari sekedar memanfaatkan, tetapi justru mengeksploitasi kandungan berharga yang kau miliki. Semuanya adalah ketamakan yang telah terbungkus rapi sebagai upaya mencari kesejahteraan.

Andai kau masih seperti dahulu wahai bumi,

Di masa-masa indah alammu saat mengiringi masa kecilku yang bahagia,

Sebidang tanah perkampungan yang membesarkanku, hijau dengan kehadiran sebuah hutan kecil dan persawahan nan menghijau sepanjang tahun. Aliran jernih air yang menerobos di sela-sela tanaman padi yang menguning, mengirimkan mina yang bisa menambah kualitas periuk warga.

Hutan yang menyediakan bahan pangan alternatif di masa-masa paceklik. Hutan yang mendinginkan kampung dari teriknya sang surya. Hutan yang menghiasi pagi dengan embun dan kabut yang menyegarkan di setiap permulaan hari.

Hingga kemudian, pengrusakan-pengrusakan itu menjamahmu di mana-mana,

Hamparan hutanmu mulai merana oleh kikisan hegemoni ekonomi. Pokok-pokok kayu yang telah lama berjasa menyelamatkan iklim dunia, kini tak dianggap lagi kedudukannya. Pokok-pokok itu dirobohkan demi nilai ekonomis berbagai jenis sawit untuk mengejar keuntungan sesaat.

Sedangkan di lain belahan, lahan-lahan hutanmu  mulai dikebiri oleh beton-beton angkuh industri ataupun hamparan panas permukiman para penghunimu sendiri.

Air sungai yang dahulu jernih, kini menghitam karena limpasan bahan pencemar. Kontur sungai yang dahulu mengirimkan rezeqi, kini berganti menjadi pengirim musibah. Air bah diluapkan sebagai simbol murka pada penghunimu.

Akankah masa depan masih ada, wahai bumi?

Wahai bumi, sediakanlah generasi  masa depan kami dengan hutan-hutan terbaik. Biarlah mereka belajar tentang alam dari hutanmu, menikmati sebagian pangan, sandang dan papan daripadanya, berekreasi dengan ilmu pengetahuan dari hutanmu dan didiklah supaya mereka menjadi penggiat yang senantiasa membela kelestarianmu.

Hutan, Laut dan Sungaimu

Wahai bumi….

Jika engkau diibaratkan sebuah tubuh maka hutan akan menjadi paru-parumu, laut menjadi jantungmu dan sungai tentu menjadi nadimu. Bersama ketiganya, engkau bisa terus menyertai kehidupan. Tak ada cara lain bagimu kecuali setiap penghunimu harus senantiasa peduli dalam menjaga hutan, laut dan sungai sebaik mungkin.

Terkhusus bumi Indonesia, ketika luasan hutanmu menjadi nomor kesembilan di dunia, lautanmu memiliki garis pantai terpanjang kedua dunia dan sungaimu memiliki panjang hampir seratus ribu kilometer, seharusnya ketiga aset bumi milik bangsa ini membuatnya digdaya sebagai pelopor penyelamatan bumi. Menjadi panutan bagi bangsa lain dalam menjaga alam seharusnya menjadi visi penghuni bangsa ini.

Wahai bumi….

Selain hutanmu, mengapa sungai dan lautmu harus kami pelihara sebagai satu kesatuan?

Kami faham bahwa nenek moyang kami lahir dari rahim maritim bumi Indonesia. Kami juga mengerti bahwa makna maritim yang kau sematkan dalam bangsa kami sesungguhnya adalah perpaduan keunggulan atas sungai dan muaranya, yaitu lautan.

Engkau telah menjadikan sungai-sungai bangsa ini sebagai tempat lahirnya peradaban besar. Kerajaan-kerajaan maritim lahir dan tumbuh pada masa keemasan sungai-sungai bangsa Indonesia. Sungai yang kau titipkan pada bangsa ini  telah menjadi hulu dan muasal adat istiadat serta kearifan bangsa kami.

Mungkinkah segenap penghuni bumi Indonesia ini lupa bahwa Kerajaan Sriwijaya dilahirkan di tepian Sungai Kampar yang subur. Batavia berkembang pesat berkat daya dukung Sungai Ciliwung dan kesultanaan paling besar yang dimiliki bumi Indonesia saat ini lahir dari rahim Sungai Mataram, apalagi kalau bukan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tapi kini sungguh ironis, sungai-sungai besar yang kautitipkan di bumi Indonesia sedang merana.

Kini, sungai bukan lagi menjadi sumber peradaban, melainkan menjadi sumber eksploitasi. Air dan arusnya dipaksa menjadi bagian dari hegemoni industri. Lebih miris lagi, sungai-sungaimu telah menjadi tempat sampah terbesar saat ini.

Sedangkan laut yang kauberikan, menderita kerusakan akibat pukat harimau yang dibentangkan, bahan-bahan peledak yang dinyalakan di atas terumbu karang dan berbagai macam racun sianida yang disebarkan hingga mengganggu keseimbangan ekosistemnya.

Hutanmu pun bernasib setara,

Fungsi hutan telah terkebiri secara perlahan sehinga mengalami gangguan saat menjalankan tugasnya sebagai penyangga utama keanekaragaman hayati bumi Indonesia. Hutan juga mulai terganggu tugasnya sebagai peredam jahatnya gas rumah kaca yang membahayakan bumi

Laju deforestasi di bumi Indonesia bahkan mencapai dua juta hektar per tahun, kini angka itu sudah melebihi batas lazim 1,3 juta hektar per tahun.

Kami sadar diri jika kemudian, hamparan sawit dan gundulnya hutan membuatmu memberikan respon atas masifnya intervensi tangan penghunimu dalam wujud kritisnya iklim dan juga bencana.

Semua perilaku tak bertanggung jawab itu telah membuatmu kian panas wahai bumi,

Penggundulan hutan-hutanmu tentu membuatmu tak sanggup lagi melindungi tameng alam milikmu di angkasa sana. Lapisan Ozon yang berperan penting untuk melindungimu dalam menyerap radiasi ultraviolet sang surya yang berbahaya kini lebih dari sekedar mengkhawatirkan.

Hingga aku mendengar kabar buruk bahwa rusaknya lapisan ozonmu telah menyebabkan gunung es Larsen S runtuh di Antartika. Kini gunus es seluas dua kali Pulau Bali itu telah menyatakan pensiun dari tugasnya mendinginkan bumi tanpa pengganti yang setara.

Masa Depan yang Diharapkan

Wahai bumi….

Generasi kami saat ini akhirnya harus mengemban kewajiban penting untuk mengintegrasikan hutan, sungai dan lautan sebagai kesatuan aset yang harus dikelola secara berkelanjutan. Hanya dengan sikap itulah yang mampu menjamin bahwa ketiganya masih bisa dinikmati oleh para penerus bumi Indonesia. Kami faham bahwa inilah bentuk keadilan dimana penerus kami di masa depan akan memiliki modal yang setara dengan generasi sebelumnya untuk membesarkan bumi Indonesia.

Dengan semua itu, akhirnya aku sebagai bagian dari generasi saat ini, bisa menaruh harapan bahwa dengan membaiknya hutanmu maka hal itu akan menjadi salah satu kekuatan pembangkit ekonomi bumi Indonesia selama 50 tahun ke depan.

Hutan yang kau titipkan untuk bangsa ini, hanya melalui program pembangunan berkelanjutan maka di masa depan akan menjadi sumber devisa favorit mengalahkan gas dan minyak bumi.

Begitupun dengan hutan bakau yang kau berikan, biarlah memberikan derivat terbaik bagi perikanan tangkap bumi Indonesia. Bumi Indonesia telah lama memiliki hasil perikanan tangkap terbaik ketiga di dunia, kelak akan menjadi yang pertama. Semoga hasil perikanan tangkap yang lebih dari 20 triliun itu akan dikembalikan untukmu dalam bentuk perbaikan area pesisir.

Demi kesemuanya itu maka hutanmu yang kini mengalami deforestasi harus segera kembali dijadikan hamparan hijau paru-paru dunia yang sehat. Budaya adopsi pohon harus dihidupkan di bumi Indonesia karena tidak ada ada kata terlambat untuk itu semua.

Generasi muda harus dibudayakan mencintaimu semenjak pendidikan dasarnya. Mereka harus dibudayakan gemar menanam pohon dimulai dari setiap rumahnya. Gerakan adopsi bibit pohon harus dibiasakan sedari awal sehingga mereka akan mencintai pohon dalam ruang lingkup kecil. Dengan begitu di saat dewasa mereka akan mencintai hutan dalam pemahaman yang lebih luas.

Reboisasi pohon durian oleh tim ASRI (sumber: https://alamsehatlestari.org/).

Semoga kejayaan hutan di bumi Indonesia akan kembali seperti masa lalunya. Produk-produk non-komersil yang melimpah seperti buah-buahan, umbi-umbian, madu, tumbuhan obat-obatan dan berbagai hewan layak konsumsi akan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Sedang produk-produk komersil layaknya rotan-rotanan, damar dan berbagai bentuk getah-getahan akan meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia.

Aku sangat berharap bahwa semua pihak sudi dalam memegang teguh pembangunan hutan berkelanjutan dalam setiap aktivitas bisnis dan ekonominya, sehingga hutan bumi Indonesia akan tetap lestari sepanjang masa dan menjadi modal utama untuk memajukan bangsa di setiap zaman.

Seperti Apa yang ASRI Lakukan.

Wahai bumi….

Seharusnya pelestarianmu ini harus dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:

“Jika masyarakat dunia ingin berterima kasih kepada Anda karena melestarikan hutan, apa wujud terima kasih yang Anda butuhkan?”

Seperti apa yang didedikasikan Tim Alam Sehat Lestari (ASRI), hendaknya kita semua duduk bersama dengan setiap lapisan masyarakat bahwa hanya dengan memenuhi kebutuhan utamanya saja maka segenap masyarakat tidak akan merusak setiap jengkal hutanmu.

Bahwa hanya dengan terbentuknya masyarakat yang sehat dan sejahtera maka jaminan kelestarianmu akan terjaga, untuk kemudian langkah ini akan menginspirasi dunia.

Mungkin kita harus lebih mendengarkan ide-ide baik dari masyarakat karena kita seharusnya percaya bahwa mereka sebenarnya memiliki solusi tersendiri tanpa merusak keberadaanmu, wahai bumi.

Demi terciptanya visi mulia itu maka nilai dan prinsip dari Tim Alam Sehat Lestari (ASRI ) dalam menjaga bumi Indonesia ini bisa kita adopsi, yaitu:

1. BERMARTABAT : Pelayanan yang menjunjung tinggi martabat manusia dengan empati 

2. KESETARAAN : Pelayanan tanpa memandang suku, agama, gender, status ekonomi dan sosial, orientasi seksual dan sebagainya.

3. HARMONI : Keterkaitan kesehatan manusia dan lingkungan

4. KEKELUARGAAN : Kerja sama tim yang dapat berkolaborasi dengan pihak internal maupun eksternal dengan koordinasi aktif, ramah, dan sopan santun

5. BERINTEGRITAS : Jujur, disiplin, akuntabel, melayani dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab

6. KETELADANAN : Pelayanan ASRI menjadi inspirasi menjadi perubahan menuju dunia yang sehat dan harmoni

7. MENDENGAR : Mendengar dengan cara radikal dan menghargai pendapat masyarakat

Akhirnya hanya kesadaran diriku sendiri, kefahaman masyarakat akan pentingnya kelestarian bumi dan dukungan penuh para pemimpin bumi Indonesia akan menjadikan bumi Indonesia tetap sehat dan lestari. Sehingga masa depan generasi kita bisa diletakkan pada bumi yang kaya.

#AlamSehatLestari

#ASRI #AdopsiBibit

#AdopsiPohon

#LombaASRI

#KompetisiBlogASRI

Sumber penulisan:

  1. https://alamsehatlestari.org/
  2. https://m.h6.com/
  3. https://infopublik.id/
  4. https://m.antaranews.com/
  5. https://bali.tribunnews.com/
  6. https://travel.tribunnews.com/
  7. https://ppid.menlhk.go.id/
  8. https://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/
  9. https://www.tnbukitduabelas.id/
  10. https://www.biotifor.or.id/
  11. https://ugm.ac.id/
  12. https://m.liputan6.com/
  13. https://id.wikipedia.org/
  14. https://pixabay.com/

One thought on “Wahai Diriku, Bumiku, Hutanku dan Masa Depan

Leave a Reply