Stasiun Tokyo: Mencari Jejak Menuju JR Expressway Bus Stop

<—-Kisah Sebelumnya

Bersiap meninggalkan Stasiun Harajuku.

Lewat sedikit dari jam dua siang. Mulai kutinggalkan Meiji Jingū melalui Stasiun Harajuku. Aku kembali menelusuri Yamanote Line, memutar ke selatan melewati Distrik Shinagawa, lalu kembali ke utara. Menempuh jarak sejauh lima belas kilometer dan berbiaya 200 Yen (Rp. 27.000).

Aku tiba di Stasiun Tokyo lewat sedikit dari jam setengah tiga sore dan diturunkan di platform bernomor empat di dekat Marunouchi North Exit. Maranuochi sendiri adalah kawasan bisnis yang berlokasi di sebelah barat Stasiun Tokyo.

Aku terus menelusuri lorong bawah tanah dan terus mencari petunjuk untuk mengeluarkan diri di exit gate yang berlokasi paling dekat dengan JR Expressway Bus Stop. Aku memang sedari pagi telah memutuskan akan menggunakan operator bus tersebut untuk berpindah dari tengah kota ke Narita International Airport.

Begitu menuruni tangga maka aku dihadapkan pada sebuah koridor panjang. Tepat pada dinding di depan anak tangga terakhir tersebut terdapat papan petunjuk lebar berwana kuning. Papan itu mengarahkanku untuk keluar di Yaesu South Exit. Itulah gerbang keluar terdekat dari JR Expressway Bus Stop. Apakah kamu tahu tentang Yaesu?….Berlawanan arah dengan Maranuochi maka Yaeshu adalah kawasan yang terletak di sebelah timur Stasiun Tokyo.

Petunjuk lokasi di koridor Stasiun Tokyo.
Yang tak mau bawa backpack, silahkan sewa loker.
Ini dia loker sewa di Stasiun Tokyo.
Dimana posisimu saat ini?
Automatic ticketing vending machine.

Sisi komersil stasiun ini begitu dominan. Sepanjang lorong bawah tanah, dimanfaatkan pengelola stasiun untuk menjual fasilitas loker kepada para penumpang. Fasilitas penyimpanan ini terkenal dengan nama Coin Lockers. Loker jenis ini mempunyai harga sewa yang bervariasi, dari 600 Yen hingga 1.000 Yen (Rp. 80.000 – Rp. 135.000) per hari.

Sepanjang koridor Stasiun Tokyo itu begitu ramai. Aku terus merangsek dan mulai mengalami disorientasi arah. Secara tak sadar, aku telah tiba di gerbang Shinkansen Transfer North Gate. Hingga akhirnya seorang petugas stasiun membantu mengarahkanku untuk menuju gerbang keluar terdekat. Atas jasanya itu akhirnya aku berhasil keluar di Yaesu Central Exit.

Yups….Tiba di Yaesu Central Exit.

Jeda waktu menuju jadwal penerbangan masih lama. Aku juga tak mau terlalu lama berada di bandara. Maka kuputuskan untuk mengambil tempat duduk di halaman Stasiun Tokyo. Aku terus mengamati aktivitas warga Tokyo yang tampak sangat sibuk. Sembari menikmati kesibukan itu, aku secara konsisten membuka kulit kuaci dan mengunyahnya biji demi biji. Dan karena tak bisa kutemukan tempat sampah, maka kubuanglah kulit kuaci itu di atas akar tanaman hias. Tak kusangka seorang petugas memperhatikan kelakuan burukku itu. Aku berespon cepat, sebelum dia mendatangiku, aku menunjukkan kemasan kuaci yang masih berisi separuh itu kepadanya. Ajaibnya, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Padahal jika dia menegurku, maka aku sudah bersiap diri mengambil lagi sampah kuaci itu.

Masalah kulit kuaci sudah usai….

Aku beranjak dari tempat duduk dan menuju JR Expressway Bus Stop. Sesampai di lokasi, aku langsung masuk ke antrian panjang di platform bus nomor tujuh. Tepat pukul empat sore, aku menaiki JR Bus Kanto yang khas berwarna putih dengan kelir biru itu.

Aku menyerahkan 1.000 Yen (Rp. 135.000) kepada pak sopir yang bepenampilan sangat rapi dan berdasi. Setelah dia memberikan selembar tanda bayar maka aku mengambil tempat duduk paling belakang.

Berada di JR Expressway Bus Stop.
Ayo naik!

Aku bersiap menuju Narita International Airport Terminal 1.   

Kisah Selanjutnya—->

Menulis Do’a dan Harapan di Meiji Jingū

<—-Kisah Sebelumnya

Besiap untuk petualangan hari kedua di Tokyo. @ platform Stasiun Nakano.

Tragedi kehilangan dompet di Stasiun Nakano membuatku menelan ludah ketakutan, ternyata masih tersisa sisi penakut dibalik keberanianku menjelajah dunia.  Aku sejenak menenangkan diri dengan menyeruput air minum dari free water station di salah satu platform Stasiun Nakano.

Komuter silver berkelir kuning penguasa Chūō Line itupun tiba, kuayunkan langkah memasuki gerbong tengah dan duduk di bangku panjang sisi kiri. Aku sengaja memilih duduk tepat di atas console grill pemanas. Itulah kebiasaanku selama menaiki kereta Negeri Matahari Terbit yang sedang tergelincir ke dalam musim dingin.

Aku terus mengikuti arus Chūō Line menuju timur lalu menukik ke selatan setelah berganti dengan kereta Yamanote Line di Stasiun Shinjuku. Dalam waktu dua puluh menit, aku tiba di Stasiun Harajuku setelah menempuh jarak sejauh tujuh kilometer. Untuk tarif sepanjang itu, aku hanya perlu membayar 170 Yen (Rp. 23.000).

Melintasi koridor panjang Stasiun Harajuku, aku keluar dari West Exit yang langsung berhadapan dengan Meiji Jingū First Torii Gate di sisi kanannya. Tetapi astaga……

Kini aku kehilangan gloves sebelah kanan, bagaimana aku mampu menahan beku jika perlengkapan itu raib?. Dengan terpaksa, aku kembali menelusuri jalurku ketika keluar dari platform stasiun dan akhirnya aku menemukan sebelah gloves itu di tengah koridor setelah automatic fare collection gates. Entah kenapa?, sedari pagi, aku terundung kehilangan barang walaupun kembali tertemukan. Mungkinkah ini permulaan dari segala hal mengejutkan di depan petualanganku?.

Baiklah…Fokus kembali ke langkahku…..

Kini aku sudah berpose di depan gerbang Kuil Meiji. Torii itu begitu khas, pengilham sebuah logo perusahaan otomotif kenamaan Negeri Para Samurai. Kutapaki gravel mulus sebagai jalur masuk menuju kuil. Jalur itu memiliki lebar sedasa meter di sisi kiri, dipadu jalur paving block selebar satu meter berpembatas tambang untuk jalur keluar di sebelah kanan. Sementara di beberapa bagian, jalur itu di batasi oleh pagar-pagar bambu yang tersusun rapi setinggi pinggang orang dewasa.

Di depan gerbang Stasiun Meiji-jingumae “Harajuku” (Chiyoda Line) sebagai bagian dari Tokyo Metro Subway Network. Tetapi aku tak menaiki Tokyo Metro itu….Alias nampang doang….Hohoho.
Di depan Meiji Jingū Torii.
Drum-drum Sake (kazaridaru).
Drum-drum anggur berbahan kayu.

Sementara seorang petugas tua, menyingkirkan dedauanan dari gravel menggunakan backpack leaf blower. Dedauan itu hanya perlu dipinggirkan ke sisi jalan dan dibiarkan menjadi kompos alami, begitu ramah lingkungan.

Dalam empat ratus meter, di sisi kanan, aku terpesona dengan susunan rapi kazaridaru yang didedikasikan untuk Meiji-tennō dan Shōken-kōgō. Sedangkan tepat di sisi kiri adalah susunan drum anggur terbuat dari kayu.

Sampai pada Torii utama kuil, setiap pengunjung wajib membersihkan tangan di Temizuya dengan air menggunakan gayung-gayung bertangkai panjang. Ritual membasuh diri atau misogi ini bertujuan untuk memurnikan tubuh dan pikiran sebelum berdiri di depan dewa untuk berdoa.

Temizuya (paviliun bersuci shinto untuk pemurnian) di Meiji Jingū.
Di tengah kuil.

Sejenak aku terhenti setelah melewati gerbang utama, aku terkagum-kagum karena luas dan besarnya Meiji Jingū . Inilah kuil yang dipersembahkan untuk menghormati roh Meiji-tennō , penguasa Jepang masa lalu.

Sementara itu di beberapa bagian kuil sedang dilakukan renovasi. Para pekerja berseragam carpenter warna putih, lengkap dengan berbagai peralatan pertukangan di pinggang serta mengenakan safety helmet tampak berdiri diatas step ladder, sibuk melakukan perbaikan.

Sementara di ujung kuil, tampak para turis mengantri pada sebuah toko yang menjual papan ema dan omamori. Toko itu tampak dijaga oleh wanita-wanita cantik berbaju kimono putih berpadu merah, mereka tampak sopan dan anggun melayani para pengunjung.

Sementara aku meyibukkan diri untuk menuliskan sebuah do’a pada selembar kertas, lalu kumasukkan ke dalam sebuah kotak. Sedangkan beberapa wisatawan menulis do’a dan harapan pada papan ema yang dibelinya, kemudian menggantungkannya pada spot yang telah disediakan.

Para carpenter sedang bertugas.
Toko penjual omamori yaitu jimat yang diyakini masyarakat Jepang dapat membawa keberuntungan dan keselamatan.
Aku berdo’a apa ya kira-kira?
Papan ema, plakat kayu kecil yang dihiasi dengan seni tulisan tangan yang mengungkapkan harapan

Tak terasa satu setengah jam berjalan hingga akhirnya aku selesai menelusuri seluruh bagian kuil. Inilah destinasi terakhirku di Tokyo, karena aku akan segera menuju Narita International Airport untuk mengejar penerbangan Peach Aviation bernomor MM6320 yang akan berangkat pada pukul 21:35.

Akhirnya kuputuskan untuk segera menuju ke Stasiun Harajuku dan bergegas menuju Stasiun Tokyo, karena aku berencana menggunakan JR Bus Kanto menuju bandara.

Mari……..

Bersiap diri di Stasiun Harajuku….Menuju Stasiun Tokyo.

Kisah Berikutnya—->

Menemui Sepi di Takeshita Street

<—-Kisah Sebelumnya

Takeshita Exit Stasiun Harajuku.

Aku beringsut-ingsut meninggalkan Kanda River, memotong sebuah tikungan Chuo-dori Avenue, dan berbelok ke kanan melintasi Maidreamin, melintas cepat di jalanan selebar enam meter untuk segera tiba di Electronic Town South Exit milik Stasiun Akihabara.

Sampai jumpa lagi Akiba….

Sejenak aku menarik nafas panjang di dalam bangunan stasiun, membiarkan telapak tangan dan mukaku sedikit menghangat. Aku membiarkan arus penumpang yang terus mengalir di depanku, menepi pada sebuah dinding.

Sepuluh menit sudah aku bersembunyi di dalam stasiun dan tubuhku mulai menghangat. Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30. Aku bergegas menuju platform dan bersiap mengikuti kereta Yamanote Line melingkari Tokyo. Circle line ini akan menuju selatan sejauh sebelas kilometer, memasuki Distrik Shinagawa, tapi hanya melintasnya, untuk kemudian menekuk ke barat laut sejauh tujuh kilometer dan hinggap di Distrik Shibuya.

Ada Kuil Meiji Jingu dan Yoyogi Park di daerah itu. Tetapi tidak, ini sudah malam, aku akan mengunjungi salah satu venuenya esok hari. Kini aku menuju Takeshita Street, yaitu gang sepanjang tiga ratus lima puluh meter yang menjadi cermin muda-mudi Jepang dengan berbagai pakaian unik dan menarik. Sepanjang jalanan ini juga memanjakan wisatawan dengan spot-spot kuliner dan gerai-gerai fashion.

Tiga puluh lima menit semenjak aku meninggalkan Stasiun Akihabara, kini aku berdiri di Takeshita Exit milik Stasiun Harajuku. Dan tepat di seberang jalan adalah gerbang dengan nameboard bertajuk Takeshita Street dengan Jam LCD besar dibawahnya.

Sudah mulai sepi”, aku membatin. Aku bahkan telah telah terlambat satu jam semenjak Takeshita Street mulai menutup diri. Tapi tak mengapa….Lebih baik aku segera memasuki sisa keramaian dan menikmati apa yang tersisa di dalam gang selebar lima meter itu.

Gerai Santa Monica Crepes.
Hayuu….Siapa mau makan crepes yang terkenal ituh?
Gerbang timur Takeshita Street.

Aku melintas gerai besar Mc Donald’s yang pengunjung di dalamnya sudah mulai meninggalkan meja dan beranjak keluar. Aku terus melawan arus para pengunjung yang sudah beranjak meninggalkan Takeshita Street. Hanya ada sedikit keramaian yang kutemukan di gerai Santa Monica Crepes. Beberapa turis dan warga lokal tampak masih mengantri untuk mendapatkan kuliner paling terkenal di sepanjang Takeshita Street itu. Pengen tahu harga Crepes di sana? Terlihat dari sample Crepes yang dipajang, harganya berkisar antara 400-670 Yen per potong (itu sekitar  Rp. 55.000- 91.000). Apakah aku membelinya????.

Aku terus menyusuri gang itu, melewati gerai penjual pernak-pernik “Sanrio Vivitix Harajuku”, gerai fashion “PINK-latte Harajuku” dan “WEGO”, bahkan aku menemukan thrift sore “Premium King” di salah satu sisi gang. Aku menghabiskan langkah hingga ke gerbang timur Takeshita Street yang berbatasan langsung dengan Meiji-dori Avenue.

Tak lama, hanya setengah jam saja aku mengunjungi Takeshita Street karena sebagian besar pemilik gerai sudah mulai membereskan barang dagangan dan akan segera menarik rolling doornya. Aku kembali menyisir kembali sepanjang gang itu untuk menuju gerbang barat Takeshita Street.

Menuju gerbang barat Takeshita Street.
Salah satu platform sederhana di Stasiun Harajuku.
Taat mengantri, bersih dan membuang sampah pada tempatnya.

Kali ini aku berniat untuk pulang ke Yadoya Guesthouse. Sudah hampir empat puluh jam aku tak tidur dengan sempurna. Hawa Tokyo sudah beku dan badanku juga minta istirahat. Lebih baik kusudahkan saja eksplorasi hari pertama di Tokyo. Aku akan segera menuju Nakano untuk mandi air hangat dan tidur.

Kisah Selanjutnya—->

Menikmati Akihabara dari Kanda River

<—-Kisah Sebelumnya

Electronic Town South Exit

Makan malah sudah selesai. Aku bergegas meninggalkan Ameyoko Market dan kembali berjalan kaki menuju Hirokoji Exit milikStasiun Ueno. Langkahku semakin cepat dan mudah karena Tokunai Pass masih aktif dalam genggaman. Aku bak punya kuasa untuk keluar masuk setiap stasiun sedari siang tadi.

Beberapa menit lagi menginjak pukul 18:00, ketika kereta Yamanote Line menjemputku di sebuah platform Stasiun Ueno. Aku menaiki kereta yang sangat padat dan berbaur dengan para pekerja kota. Keadaan dalam gerbong telah mirip dengan gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek, berimpit dan berdesakan rapat.

Kali ini aku akan bergerak menuju selatan, sejauh dua kilometer untuk mengunjungi pusat elektronik terkemuka di kota Tokyo, yaitu kawasan Akihabara, orang Jepang lazim menyebutnya dengan panggilan Akiba.

Tak sampai sedasa menit, akupun tiba. Dengan mengunjungi Akiba berarti aku resmi meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō dan memasuki distrik yang lain, yaitu Chiyoda. Sebuah distrik yang tenar dengan keberadaan Imperial Palace yang tak lain adalahkediaman Kaisar Jepang.

Aku melangkah keluar meninggalkan Stasiun Akihabara melalui Electronic Town South Exit. Keluar dari gate itu, aku sekejap berdiri di sebuah jalanan yang tak begitu lebar, hanya berkisar enam meter dan langsung terintimidasi dengan bangunan tinggi milik LABI Akihabara yang terpampang jelas menawarkan barang-barang elektronik berstatus duty-free.

Gedung itu bersebelahan dengan Akihabara Radio Kaikan, bangunan komersial sepuluh lantai di sebelah kanannya yang hanya menyisakan selarik gang sempit. Sementara peringatan larangan merokok di serukan di setiap tiang dalam wujud No Smoking Sign yang mudah ditemukan dimana-mana. Kemudian di ujung jalan sana, terdengar suara yang keluar dari speaker luar milik Maidreamin Akihabara.

Kiri: Akihabara Radio Kaikan Building.
Sky Hop Bus itu bertarif 2.000 Yen (Rp. 280.000).
Diatas itu adalah kereta Sobu Line.
Maidreamin Akihabara, sebuah maid cafe terkenal di Jepang yang pelayannya menggunakan kostum maid.

Aku terus menyusuri arah timur hingga menemukan jalanan utama, Chuo-dori Avenue dan sangat terasa bahwa suhu semakin dingin ketika aku tiba di tepi Kanda River. Kuputuskan untuk menikmati keramaian Akiba dari atas sungai itu, karena sejak tadi aku tak begitu tertarik memasuki beragam toko elektronik di setiap jengkal Akiba. Bagaimana aku tertarik jika untuk membeli benda elektronik mungil macam adapter stopcontact saja, harus merogoh kecek hingga 1.000 Yen (Rp. 135.000).

Di jalanan Akiba, hilir mudik warga lokal begitu cepat, mereka seolah mengejar waktu untuk segera pulang ke rumah masing-masing selepas bekerja seharian atau beberapa karyawan malam yang masih terlihat segar bugar menyongsong waktu kerja di kantor mereka masing-masing.

Tak genap satu jam aku berada di Akiba, suhu dingin membuatku menyerah dan memutuskan untuk undur diri lebih cepat. Aku bergegas menuju Electronic Town South Exit milik Stasiun Akihabara.

Semakin malam, petualanganku akan semakin berat karena harus melawan suhu musim dingin di Jepang. Tapi aku akan berusaha sekuat mungkin menahannya, karena aku tak mau dengan mudahnya melepas begitu saja waktu-waktu eksplorasiku disana.

Kini aku akan kembali bergerak menuju ke Distrik Shibuya.

Kisah Selanjutnya—->

Makan Malam di Ameya Yokocho, Taitō

<—-Kisah Sebelumnya

Platform Stasiun Shibuya.

Aku sudah berdiri lagi di platform kereta, tepatnya di Stasiun Shibuya, dalam ruas Yamanote Line, tepat pada pukul 15:48. Matahari telah undur diri di cakrawala kota dan membuat suhu terdegradasi ke titik 3o C. Lantas udara yang telah menjelang beku itu dengan mudah menembus tebalnya gloves hitam di kedua telapak tanganku. Tapi akan menjadi preseden memalukan apabila aku harus menyerah dan memilih meringkuk di peraduan Yadoya Guesthouse.

Aku sudah bersiap diri menjelajah Distrik Kota Istimewa Taitō. Dua belas kilometer di timur laut Distrik Khusus Shibuya, berjarak tempuh tiga puluh menit.

Ameya Yokocho adalah alasan utamaku singgah menuju Stasiun Ueno. Adalah pasar serba ada, serba murah dan serba discount. Konon jika hendak makan malam murah, maka para traveler berbondong menuju ke exs-pasar gelap yang sudah ada sejak Perang Dunia II itu.

Aku tiba di Stasiun Ueno tepat pukul 17:35. Keluar di Hirokoji Exit, pintu keluar terbesar di selatan bangunan stasiun. Pintu keluar ini memiliki halaman luas dan tepat menghadap Chuo-dori Avenue, berseberangan dengan Ueno Marui Department Store (OIOI), pusat fashion kenamaan  di Distrik Kota Istimewa Taitō yang menjulang tinggi dengan sembilan lantai.

Gelap mulai mengakuisisi hari ketika aku memulai langkah menuju ke Ameya Yokocho. Lebih ringkas dipanggil Ameyoko atau Ameyoko Market. Belum tiba pun aku membayangkan bahwa pasar itu sudah mulai ramai dan bertebar aroma masakan. Menjadikan perut keroncongan sepanjang jalan.

Aku menyusuri jalanan di bawah jalur layang kereta, mengarah ke selatan. Jarak pasar itu berkisar dua ratus meter, hanya lima menit dari Hirokoji Exit.

Tibalah langkahku di sebuah pertigaan yang di salah satu jalannya berdiri gerbang Ameyoko Market. Aku menghadap ke dua buah percabangan jalan yang keduanya adalah bagian dari jalur pasar itu. Tapi aku salah mengira. Bukan aroma harum makanan yang kucium, tetapi justru bau amis ikan laut yang pertama kali menusuk hidung dalam-dalam. Sudah barang tentu aku menghiraukannya karena perhatianku tertuju ke keramaian di dalam sana.

Gerbang Ameya Yokocho.
Gerbang Ameya Yokocho.
Bagian dalam Ameya Yokocho.

Tak kusangka, akan keberadaan beberapa restoran khas Turki dan beberapa gerai kebab di sana. Kufikir tak kan susah menemukan makanan halal untuk para traveler muslim di sini. Sementara di sepanjang jalan berikutnya, beberapa gerai yang menjual ikan laut diselingi oleh gerai fashion, souvenir, minimarket, peralatan olahraga serta beranekaragam gerai –gerai lain.

Kufikir aku tak akan menganggarkan untuk membeli barang apapun yang diperjualbelikan di pasar ini, kecuali makan malam.  Aku terus menyisir setiap jengkal Ameyoko Market hingga akhirnya tertarik pada tampilan gambar semangkuk chicken ramen. Bukan isi di dalam mangkuknya, tetapi harga yang tercantum di bawahnya, 399 Yen, itu berkisar Rp. 50.000.

Tak faham akan namanya, aku tak kurang akal. Kuambil telepon pintar dan kutangkap gambarnya. Bergegaslah aku menuju ke dalam rumah makan itu. Aku mulai mengamati sekitar, desain meja memanjang dan melingkar oval di tengahnya dengan beberapa meja di setiap sisi dinding yang sudah dipenuhi warga lokal. Mereka begitu berisik menyeruput mie di mejanya. Aku menuju ke pelayan wanita dan menunjukkan gambar di telepon pintar. Berteriaklan pelayan itu ke bagian dapur sembari menyebut nama menu yang kutunjukkan lalu dia menunjuk pada sebuah bangku kosong. Aku faham, itulah meja makanku. Aku duduk di sebuah meja di sisi dinding dan menunggu menu dihidangkan.

Salah satu rumah makan di Ameya Yokocho.

Sementara teko berisi air putih dengan es batu di dalamnya mulai kutuang.  Aku terus memperhatikan perilaku pengunjung rumah makan itu. Begitu mereka memasuki ruangan, maka mereka akan melepaskan jaket pada hanger di pojok ruangan, lalu duduk di meja makan, memesan dan menyantap makanannya dengan cepat. Semua serba teratur.

Tak lama pelayan menyajikan menu yang kupesan dan aku mulai menyantapnya. Menurut referensi yang kubaca, orang jepang akan meyeruput mie yang dipesannya dengan bunyi yang cukup untuk di dengar demi menunjukkan bahwa mie itu enak dan sebagai isyarat untuk menghormati sang koki. Maka akupun beradegan sama walau sedikit kerepotan dan membuat kuah mie ku berlepotan ke meja makan. Itu belum cukup membuatku malu, karena air teko di meja benar-benar habis tak bersisa, entah berapa kali aku menuangnya di gelas kecilku. Pelayan perempuan yang sedari tadi memperhatikanku pun menutup senyum dengan tangannya sambil sebentar-sebentar berbisik dengan pelayan yang lain. Dia tentu tahu bahwa aku seorang pengelana yang berbeda kulit dengan bangsanya.

Walhasil, aku pun membayar makanan itu dengan senyum lebar kepadanya, karena dia tak kunjung menutup senyumnya ketika menatapku.

Hirokoji Exit Stasiun Ueno.
Bagian dalam Stasiun Ueno.
Platform Stasiun Ueno.

Aku selesai bersantap malam pada jam 17:45, dan bergegas meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō.

Kisah Selanjutnya—->

Aura Patung Hachiko, Lima Kali Shibuya Crossing

<—-Kisah Sebelumnya

Masih ingat?…..

Ketika mobil hitam milik D.K sedang mengejar Sean Boswell  yang melaju cepat dengan mobil balap warna merahnya dan rombongan balap itu dipimpin oleh Han Lue di depan yang dengan maskulin meliak-liuk dengan mobil balap ceper kuningnya. Dalam aksi kejar-kejaran itu, ada sebuah momen ketika ketiga mobil balap itu terpaksa melintas di sebuah simpang lima yang penuh dengan para penyeberang jalan. Adegan itu begitu mendebarkan tetapi terlihat sangat fantastis dari kamera atas. Tak salah lagi, itulah sepenggal scene dalam film “The Fast and the Furious: Tokyo Drift”. Dan simpang lima yang dimaksud terkenal dengan nama Shibuya Crossing.

Nah, kalau ini kisah yang berbeda lagi…..

Pernahkah kamu menonton sebuah film yang diangkat dari true story dan menceritakan seekor anjing bernama Hachi beserta tuannya Parker Wilson yang diperankan oleh aktor kawakan Richard Gere?.

Dalam film itu dikisahkan Hachi yang begitu setia dan setiap hari mengantar Wilson menuju stasiun untuk berangkat mengajar lalu menunggu kepulangannya di depan stasiun yang sama saat sore tiba. Begitulah kegiatan harian Hachi. Hingga pada suatu saat, Wilson meninggal di kampus karena serangan jantung dan tidak akan pernah bertemu Hachi kembali. Tetapi karena kesetiaannya, Hachi hingga akhir hayat tetap menunggu majikannya yang tak pernah lagi datang di depan stasiun. Anjing yang melegenda ini adalah kisah nyata yang menjadi asal usul Patung Hachiko yang lokasinya berada di dekat Stasiun Shibuya dan hanya berjarak seratus meter di sebelah selatan Shibuya Crossing.

Kedua film itulah yang sebetulnya menjadi dasar dan alasan bagiku untuk menempatkan Shibuya Crossing dan Patung Hachiko sebagai tujuan pertama di Toyo.

Siang itu udara semakin mendingin, perlahan turun dari 4o Celcius, waktu menunjukkan pukul 13:45 saat aku sudah berada di north entrance gate Stasiun Nakano. Tak lama, kereta Chuo-Sobu Line itu tiba. Siang menjelang sore, penumpang masih sepi, mungkin memang belum saatnya jam pulang kantor. Aku mengambil duduk di sisi gerbong sebelah kiri dan merasakan hangatnya udara dalam gerbong.  Aku baru sadar ketika merasakan hawa panas menyembur dari bawah bangku dan menerpa bagian bawah kaki ketika duduk. Rupanya kereta di Jepang menaruh mesin pemanas di bagian bawah bangku.

Sisi dalam Stasiun Shibuya.
Gerbang Stasiun Shibuya yang berhadapan langsung dengan Hachiko Square.

Hanya lima menit menuju tenggara, aku menuruni gerbong Chuo-Sobu Line untuk berganti  ke gerbong Yamanote Line. Kini kereta bergerak ke selatan sejauh empat kilometer dan memerlukan waktu tempuh sepuluh menit serta dalam kondisi penumpang yang semakin padat. Maklum Yamanote Line merupakan jalur kereta tersibuk di pusat kota Tokyo.

Aku tiba di Stasiun Shibuya pada pukul 14:00 dan mengambil arah ke Hachiko Exit Gate di sebelah utara bangunan stasiun. Langkah kakiku saat keluar dari gerbang stasiun seketika disambut oleh penampakan Hachiko Square yang sudah penuh dengan pengunjung. Sebagian duduk di setiap sisi plaza dan sebagian besarnya mengelilingi patung binatang loyal itu untuk mengantri berfoto. Taka da yang spesial dari patungnya, mungkin kisah hidup Hachiko lah yang membuat patung itu serasa hidup dan menjadi pusat perhatian.

Aku tak lama menikmati keramaian di Hachiko Square. Karena tak sabaran ingin merasakan sensasi menyeberang di Shibuya Crossing. Aku melangkah seratus meter  ke utara dan mulai berdiri di simpang lima ternama itu. Aku hanya bisa tersenyum sendiri ketika melihat kelakuan para turis di saat menyeberang. Ada yang berfoto ria di tengah simpang lima itu, ada yang berlari dan memanjat tiang rambu-rambu untuk mengambil foto dari ketinggian dan ada juga yang memuat vlog selama lampu hijau masih menyala. Dan saat bunyi tut-tut-tut berseru nyaring bersusulan sebagai pertanda lampu rambu akan berganti menjadi merah, maka para turis dan pejalan kaki lokal berlarian menuju ke tepian dan sekejap menyisakan hening sesaat, kemudian disusul oleh bunyi klakson dan deru mesin kendaraan yang berebut melintas simpang lima itu menuju ke segala arah.

Chūken Hachikō, andai masih hidup, dia sudah berumur 97 tahun.
Yuhuuu….Shibuya Crossing.
Tsutaya adalah toko buku kenamaan di Jepang. I’m @ Shibuya Crossing.
Simpang Lima yang konon mampu menyeberangkan 50.000 pejalan kaki selama 30 menit.

Aku yang masih tak percaya bisa berada di situ pun tertular keanehan akut mereka. Karena ini simpang lima maka genap lima kali pula, aku menyeberang bolak-balik dari satu sisi ke sisi yang lain di Shibuya Crossing. Oh Tuhan, inikah sebuah siang yang membuatku menjadi gila karena terpapar aroma kehidupan Tokyo?.

Kisah Selanjutnya—->

Tokunai Pass….Traveler Pass in Tokyo, Japan

I successfully moved from Narita International Airport to downtown by cheapest mode of transportation i.e Keisei Expressway Bus for 1,000 Yen (USD 10).

Didn’t happy, because next question appeared i.e “How did I frugally explore city? “

The answer was easy. I must immediately get Tokunai Pass (Tokyo Metropolitan District Pass).

After I got off from airport bus, I rushed into Tokyo station to got it. Of course, I had to went to Automatic Ticketing Machine. Initially, I was confused to looked for Tokunai Pass menu on the machine. After all buttons were punched. Evidently, Tokunai Pass menu was located in “Discount Card” directory. Easy to used it because there were multi language choice that could be used (of course I used English).

Ticketing Tokyo n Shibuya Gate

 

Left: Automatic ticketing machine in Tokyo Station where I bought Tokunai Pass

Right: Gate in Shibuya Station, one of many stations where Tokunai Pass could be used as entry access to train platform.

Tokunai Pass fare was 750 Yen and could be used until 24:00. So to maximize its benefits, You better buy it on the morning and use it to visit Tokyo’s attractions fullday. In fact, I bought it at 13:00 and used it until 21:00.

Tokunai Pass

 

Left: Tokunai Pass
Right: Tokunai Pass receipt

How did I frugally use Tokunai Pass? It was the calculation:

 

If I bought regular tickets towards several attractions below:

  1. Towards Yadoya Guesthouse in Nakano. From Station Tokyo – Nakano Station for 220 Yen
  2. Towards Hachiko Statue and Shibuya Crossing. From Yadoya Guesthouse in Nakano Station to Shibuya Station for 200 Yen
  3. Towards Ameyoko Market. From Shibuya Station to Ueno Station for 190 Yen
  4. Toward Akihabara electronic market. From Ueno Station to Akihabara Station for 160 Yen
  5. Towards Harajuku Street. From Akihabara Station to Harajuku Station for 170 Yen
  6. Back to guesthouse. From Harajuku Station to Nakano Station for 220 Yen 
    Total Overall were 1160 Yen 

Because I bought a Tokunai Pass for 750 Yen so I had saved for 410 Yen.

It was only  an 8 hours journey, If you arrive on early morning, it will be able to visit many attractions and can save budget more.

While using Tokunai Pass, I used only two lines of JR-East Train i.e Yamanote Line (Tokyo Circle Line) which is the busiest line in Tokyo and Chuo Line that connects downtown and Otsuki about 90 km west of Tokyo.

Tokunai Pass can be purchased at automated ticketing machines at all JR-East Line stations in Tokyo. And it can be used for all local JR-East Train Line (in Tokyo) whose rail is located above ground. The train is similar to Jakarta’s Commuter (in Jakarta-Indonesia).

Good luck for using Tokunai Pass when you visit Tokyo…..

 

 

 

 

 

 

Tokunai Pass….Senjata Utama para Traveler di Tokyo, Jepang

Berhasil berpindah dari Narita International Airport ke pusat kota Tokyo menggunakan moda transportasi termurah yaitu Keisei Expressway Bus seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000) jangan membuat hati senang dahulu. Karena masalah selanjutnya muncul yaitu “Bagaimana menjelajahi kota dengan hemat?”

Jawabannya mudah. Saya harus segera mendapatkan Tokunai Pass (Tokyo Metropolitan District Pass).

Setelah turun dari Airport Bus, Saya bergegas masuk ke dalam Stasiun Tokyo untuk mendapatkan kartu pass itu. Tentu Saya harus menuju Mesin Tiket Otomatis. Pertama kali bingung mencari menu Tokunai Pass di mesin itu. Setelah segala tombol dipencet ternyata menu Tokunai Pass berada pada directory “Discount Card”. Gampang kok menggunakan mesin ini karena ada pilihan bahasa yang bisa digunakan (tentu Bahasa Inggris yang Saya gunakan).

Ticketing Tokyo n Shibuya Gate

Kiri: Mesin tiket otomatis di Stasiun Tokyo tempat Saya membeli Tokunai Pass

Kanan: Gate di Stasiun Shibuya dimana Tokunai Pass bisa digunakan sebagai akses masuk ke peron kereta.

Tokunai Pass berharga 750 Yen (Rp. 97.500) dan bisa digunakan hingga pukul 24:00.  Jadi untuk memaksimalkan keuntungan penggunaan Tokunai Pass, usahakan Kamu membelinya dari pagi hari dan menggunakannya seharian untuk keliling Tokyo.  Saya sendiri baru membelinya pada pukul 13:00 dan menggunakannya hingga pukul 21:00.

Tokunai Pass

Kiri: Tokunai Pass

Kanan: Struk pembelian Tokunai Pass.

Lalu seberapa hemat ketika Saya menggunakan Tokunai Pass ini. Begini perhitungannya:

Apabila Saya menggunakan tiket ketengan ke beberapa tempat yang Saya tuju berikut:

  1. Menuju Yadoya Guesthouse di Nakano. Tiket kereta Stasiun Tokyo – Stasiun Nakano sebesar 220 Yen
  2. Menuju patung Hachiko dan perempatan Shibuya. Dari Yadoya Guesthouse di Stasiun Nakano menuju Stasiun Shibuya 200 Yen
  3. Menuju Ameyoko Market. Dari Stasiun Shibuya ke Stasiun Ueno 190 Yen
  4. Menuju pasar elektronik. Dari Stasiun Ueno ke Stasiun Akihabara 160 Yen
  5. Menuju Harajuku Street. Dari Stasiun Akihabara ke Stasiun Harajuku 170 Yen
  6. Pulang ke Guesthouse. Dari Stasiun Harajuku ke Stasiun Nakano 220 Yen

Total Keseluruhan 1160 Yen (Rp. 150.800)

Karena Menggunakan Tokunai Pass seharga 750 Yen jadi Saya sudah berhemat 410 Yen (Rp. 53.300).

Itu baru perjalanan selama 8 jam, coba kalau Saya tiba di Tokyo lebih pagi pasti akan bisa mengunjungi banyak tempat dan bisa berhemat lebih banyak lagi.

Selama menggunakan Tokunai Pass, Saya hanya menggunakan dua jalur JR Line yaitu Yamanote Line (merupkan circle linenya Tokyo) yang merupakan jalur tersibuk di pusat kota Tokyo dan Chuo Line yang menghubungkan Tokyo di pusat kota dan Otsuki 90 km di sebelah barat Tokyo.

Tokunai Pass bisa di beli di mesin tiket otomatis di seluruh stasiun JR Line. Dan Pass ini bisa digunakan untuk seluruh jaringan kereta JR Line lokal (dalam kota Tokyo) yang relnya terletak di atas permukaan tanah layaknya komuter Jabodetabek.

Selamat mencoba menggunakan Tokunai Pass kalau Kamu sudah tiba di Tokyo, guys…..