Tag: Wisata Korea Selatan
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku terduduk di salah satu bangku dekat gate 112 milik Satellite Concourse Building Incheon International Airport setelah beberapa menit lalu dipindahkan oleh shuttle train dari Terminal 1. Waktu boarding yang tinggal setengah jam lagi, membuatku tak bisa mengambil resiko untuk mengeksplorasi seisi bangunan terminal bandara itu. Aku lebih memilih mengamati lalu lalang pesawat…
-
<—-Kisah Sebelumnya Pukul 12:15 aku tiba di Pulau Yeongjong, sebuah pulau di pantai barat Korea Selatan dimana Incheon International Airport dibangun dengan gagahnya. Aku melangkah gontai keluar gerbong Seoul Metro Line I, seakan tak rela meninggalkan Seoul yang baru saja kunikmati sedari lima hari lalu. Tapi toh, aku tetap sadar diri akan amunisi yang tak…
-
<—-Kisah Sebelumnya Usai shalat Subuh, mataku tak lagi terpejam. Sudah menjadi sifatku yang selalu saja terjaga ketika dihadapkan pada sebuah jadwal penerbangan. Sementara di pojok dormitory, backpack biruku yang berkapasitas 45 liter sudah terpacking rapi sejak semalam, sepulang dari Distrik Gangnam tepatnya. Malam tadi, aku memang memutuskan melakukan packing seusai mandi. Sekitar pukul setengah tujuh…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku melangkah meninggalkan pelataran Istana Gyeongbok beberapa saat menjelang sang surya tenggelam di barat kota. Sore menjelang malam itu, aku melangkah lebih santai menuju Stasiun Gyeongbokgung yang hanya berjarak 300 meter dari istana. “Toh, eksplorasiku sudah usai”, batinku menenangkan diri di tengah suhu udara yang mulai menurun lebih dingin. Di dalam stasiun, aku…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku meninggalkan Distrik Jung menggunakan Seoul Metro Line 4 menuju Stasiun Hongik University yang berjarak sepuluh kilometer. Aku harus menaruh tentengan plastik di Kimchee Guesthouse Sinchon. Melakukan eksplorasi dengan menenteng plastik hitam hanya akan membuat wajahku semakin kampungan saja. Dalam tiga puluh menit aku tiba. Tanpa sempat duduk sejenak, aku langsung saja meninggalkan…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tak seperti sebelumnya, kini aku begitu ripuh mencari bus dari Namdaemun Market demi menuju destinasi berikutnya, Myeong-dong. Mencari segenap papan rute di halte sekitaran Namdaemun Market, tetap saja aku tak menemukan petunjuk apapun. Terpaan angin dingin akhirnya menggiringku ke bawah tanah. Yup, aku kini berderap di koridor Stasiun Hoehyeon, mencari platform demi menuju…
-
<—-Kisah Sebelumnya Beberapa saat setelah seruputan kopi terakhir di cangkir kertasku, bus biru langit bernomor 402 itu tiba. Tak langsung menuju platform halte. Ternyata sang sopir turun dan berburu kopi di G-25 minimarket, tempatku mendapatkan kopi hitam beberapa saat sebelumnya. Aku sudah berdiri di depan bus ketika dia mendekat sembari memegang kopi panasnya.”*&^%$#@!()<>”, entah apa…
-
<—-Kisah Sebelumnya Sepulang dari Banpo Bridge di Distrik Seocho, aku langsung bergegas tidur demi menyiapkan diri untuk petualangan esok hari. Esok adalah kesempatanku terakhir kali untuk menikmati Seoul karena lusa hari aku harus bertolak ke tanah air. Huhuhu….Sedih —-****—- Sinar matahari pagi menyeruak melewati jendela di tembok miring kamar. Jarum jam telah melewati angka delapan.…
-
<—-Kisah Sebelumnya Untung aku tak tenggelam dalam pulasnya tidur siang di Kimchee Guesthouse Sinchon. Lewat sedikit dari jam lima sore aku terbangun. Segera membongkar isi backpack, aku mencari toiletries bag dan microfiber towel untuk keperluan mandi pertamaku sejak 35 jam yang lalu. Aku sengaja berlama-lama mengguyur diri dengan air hangat walaupun aku tahu ada seorang…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku masih saja bediri termangu di utara alun-alun untuk menikmati kegagahan Gwanghwamun Gate , gerbang enam abad milik Istana Gyeongbok. Alun-alun Gwanghwamun dengan dasar batuan andesit serta paduan hijaunya rumput taman tampak mulai dipenuhi oleh arus kunjungan para pelancong. Selain patung Admiral Yi Sunshin, patung emas Raja Sejong yang Agung-sang raja keempat Dinasti…