Yuk Tengok….Senado Square

Perjalananku bersama bus kota No 10A berakhir dengan terlewatnya Halte Bus Kam Pex Community Centre di bilangan Jalan Avenue de Almeida Riberio. Beruntung si pengemudi bus masih mau menurunkanku di sebuah pertigaan dengan pemandangan Hotel Ponte Cais 16 tepat di pusatnya.

Halte Bus Kam Pex Community Centre.

Resepsionis itu sepertinya anak si empunya hotel. Setiap pertanyaan yang kulempar selalu dijawabnya mudah, “Wait sir, I firtly ask to my mom”. Duh, enaknya tuh bocah dapat warisan hotel kelak….Hahaha

Check in pun selesai setelah kuberikan Rp 220.000 untuk mendapatkan kunci kamar Hotel Villa Ka Meng.

Semudah menjetikkan jari, tiba-tiba mataku melihat tulisan halal sebegitu besarnya di depan sebuah rumah makan. Dan terkejutnya, orang Tionghoa adalah si pemilik rumah makan itu. Rumah makan Loulan Islam namanya.

Dengan senyum lebarnya, dia bertanya mau makan apa dan menawarkan menu dengan usaha sebegitu kerasnya. Telunjuk jarinya menari-nari menuliskan berbagai aksara China di udara. Gelak tawaku yang tak tertahan membuat seisi rumah makan tertawa riang. Memendam kantuk yang dari pagi tadi menggelayutiku.

Aku membayarnya sedikit mahal dari standar harga street food yang biasa kuburu. Setidaknya mendapatkan referensi sajian halal di Macau.

Melewati sisi kiri jalan….aku menuju Senado Square yang tinggal selemparan batu. Tapi sebelum benar-benar mencapainya, aku berhenti di sebuah money changer untuk menukarkan Dolar Amerika ke Dolar Macau.

Tukarkan sedikit saja….Sisakan untuk mengeksplore Shenzen.

Akhirnya aku menginjakkan kaki di Senado Square, destinasi kedua di Macau yang kukunjungi.

Keunikan Senado Square adalah motif lantainya yang seolah bergelombang dan identik dengan warna putih hitam. Alun-alun yang penuh dengan turis ini benar-benar menunjukkan bahwa tempat ini merupakan warisan sejarah UNESCO. Tidaklah mengherankan atas keramaian itu.

Bangunan-bangunan klasik yang menghiasi kiri kanan alun-alun itu menjadi sasaran empuk para pemilik kamera untuk mengabadikannya.

St. Dominic’s Church.
Museum bersejarah yang pernah berfungsi sebagai panti asuhan dan klinik kesehatan
Balai kota Macau tempoe doeloe.

Luasnya alun-alun membatasi kemampuanku untuk mengitarinya sekali saja dan kemudian terduduk di salah satu ujungnya lalu berteduh dari sengatan surya yang mulai meninggi.

Turis China: “Malaysian?”. Seorang lelaki setengah baya menyapaku di bawah sebuah pohon yang mengurangi panasnya matahari.

Aku: “Me?….Oh, I’m Indonesian”.

Turis China: “Waaa…Indonesian. Nice country”.

Aku: “Ever go to Indonesia?”.

Turis China: “Yes….Bali, Medan and Batam”.

Aku: “Great….How about Indonesia?”.

Turis China: “I Like….I eat Nasi Padang there. Nice”.

Aku: “Hahaha….Ya ya ya. The most delicious food in the world”.

Turis China: “Ever go to China?

Aku: “Absolutely….I will go to Shenzen after my journey in Macau”.

Turis China: “Ohhoo….Good good. Welcome to my country”.

Aku: “Thanks Sir

Percakapan pun berakhir ketika seorang perempuan yang kuduga istrinya menghampiri dan mengajaknya melanjutkan eksplorasi Senado Square.

Beberapa spot di Senado Square:

Peta zona taxi.
Taxi yang sedang menunggu penumpang.
Geblek….Ngapain juga guwe motoin tuh tempat sampah.
Telepon umum.
Bus kota yang melewati Senado Square.

So….If you go there when in Macau….Just enjoy it.

5 Destinasi Wisata Macau dalam 24 jam

Macau adalah negara ke-10 yang kukunjungi. Berawal dari tersangkutnya hasrat pada tiket promo senilai Rp. 512.000 milik Cebu Pacific yang mengantarkanku secara tak sengaja di Manila. Dan daripada membeli tiket balik dari Manila yang sangat mahal maka lebih baik pulang dari Shenzen saja karena Tiger Air menawarkan tiket kelewat murah.

Dalam perjalanan Manila menuju Shenzen itulah, aku terdampar di Hong Kong dan Macau. Untungnya tak lama….Hanya 48 jam di Hong Kong dan 24 Jam di Macau.

Setelah menulis kisah 48 jam selama di Hong Kong maka kali ini Aku akan bercerita tentang apa saja yang kukunjungi selama 24 jam di Macau.

1. Outer Harbour Ferry Terminal

Momen itu tiba seiring pilihanku menggunakan TurboJet Ferry ketika meninggalkan Hong Kong. Tepat pukul 08:55 dengan jarak sekitar 70 km dari Hong Kong, aku tiba di terminal ferry  yang terletak di bagian timur pulau Macau itu.

Dibagian luar bangunan, pelabuhan ini berpapan nama dalam bahasa Portugis yaitu Terminal Maritimo de Passageiros do Porto Exterior. Tulisan berbahasa Portugis sangat biasa terlihat di seluruh Macau. Hal ini dikarenakan selama 4 abad, China menyewakan Macau kepada Portugis untuk digunakan sebagai pelabuhan perdagangan.

Jika di google maps ada istilah Macau Maritime Ferry Terminal, Macau Ferry Terminal atau Hong Kong Macau Ferry Pier maka itu adalah nama yang berbeda untuk satu tempat yang sama yaitu Outer Harbour Ferry Terminal.

Jadi jika kamu berlabuh di terminal ferry ini maka nikmati sajalah keberadaannya.

2. Senado Square

Aku sengaja memilih dormitory di dekat kompleks Ruins St. Paul. Karena di kompleks ini ada dua destinasi wisata terkemuka yaitu Ruins St. Paul itu sendiri dan Senado Square. Sehingga Aku bisa leluasa menjelajah keduanya dengan berjalan kaki.

Segera menitipkan backpack ke Villa Ka Meng Hotel begitu menuruni bus di jalanan Avenue de Almeida Ribeiro dekat dengan  Ponte Cais No 16. Dan setalah menikmati sarapan pagi di rumah makan Loulan Islam, aku bergegas menuju Senado Square

Senado Square sendiri merupakan alun-alun yang dibangun sejak 1918. Adalah shopping tourism untuk para pemburu barang ber merk hingga penikmat jajanan kaki lima. Menjadi salah satu warisan UNESCO, Senado Square menawarkan pemandangan bangunan-bangunan klasik perpaduan budaya Tiongkok dan Portugis si sepanjang sisinya.

3. Ruins St. Paul

Meninggalkan Senado Square maka destinasi terdekat yang kukunjungi berikutnya merupakan reruntuhan sebuah katedral yang bernama Ruins st Paul. Kalau Kamu ke Macau dan belum berfoto didepan Ruin St Paul, maka perjalananmu serasa tidak syah. Karenanya tempat ini menjadi tempat teramai yang dikunjungi turis selama kunjunganku ke Macau

Ruis St. Paul awalnya adalah katedral Portugis yang dibangun pada abd ke-16. Juga menjadi warisan sejarah dunia UNESCO setelah menjadi cagar sejarah pasca kebakaran hebat pada tahun 1959. Bagian ikonik yang sering dijadikan obyek foto para turis adalah bagian pintu depan katedral yang tersisa.

4. Macau Tower

Ruis St. Paul menuju Macau Tower adalah rute yang membuatku tersangkut selama beberapa waktu di jalanan Avenue Da Praia Grande. Mensiasati rute bus Macau yang begitu rumit dan masif, akhirnya aku berhasil menemukan halte bus yang disinggahi oleh bus kota no 9A menuju Macau Tower.

Menara setinggi 338 meter ini menawarkan wisata observation deck, restoran, teater, mall dan kegiatan bungee jumping. Sementara dibagian taman tersedia plaza dan kolam untuk kegiatan olahraga atau hanya sekedar menghabiskan waktu di sore hari bagi para warga Macau.

5. Venetian

Bayangan kemegahan Venetian membuat keberadaanku di Macau Tower tak begitu khusyuk. Aku seakan-akan terburu-buru untuk segera menikmati Venetian. Rasa penasaran untuk memasuki ruangan casino terbesar di Macau bahkan salah satu terbesar di dunia, membuatku ingin segera menuju kesana. Selain casino, satu hal yang selalu kuingat tentang Venetian adalah Gondola Rides yang akan membawa kita ke nuansa pariwisata Venice, Italia.

Merupakan integrasi dua fungsi yaitu hotel mewah dan casino. Bangunan 39 lantai ini terletak di pulau reklamasi Cotai dan berafiliasi dengan The Venetian Las Vegas.

Dannnnn….Kelima destinasi itu hanya kuselesaikan dalam 14 jam eksplorasi di Macau. Selebihnya waktu kugunakan untuk tidur di hotel untuk memulihkan kondisi tubuh pasca beberapa hari sebelumnya mengekplorasi Manila dan Hong Kong.

It is very crazy….

Macao and Shenzen Story

Oversleep….

“The Boss” hadn’t yet came from upstairs, even though we made appointment at 8 am to checked out and met at Villa Ka Meng lobby.

Huft… … evidently he didn’t wake up yet, my message didn’t read by him. I realized it because I bring him to enjoy Macao by walk all day a day before.

That means … my exploration time in Shenzhen would be reduced. I think Okay… how come later.
Too far….

I should focus on running text on dashboard. I was hesitant to pressed a button on bus pole as a signal for the driver to stopped the bus at Taipa Ferry Terminal.

I thought bus would stop at every shelter…. but it wasn’t. So…. I got off at the next stop and continued by walk to ferry terminal.
Scolded….

There wasn’t sign along avenue….I was sorry Sir & gentlemen, I stepped on new sidewalk that you made … it wasn’t ready to be stepped on.

Because of it….I understood when you shouted hard while lifting a shovel.

I just tried to apologized on my way … after leaving the area about 100 meters, I looked back … Curious if my steps before would make problem on pedestrian walk way.

Grateful, they seemed normal as a sign that it hadn’t significant problem.

I arrived at ferry terminal around 9:10 and this was the situation:

Macao Sekhou 1

Took a queue immediately and observed surrounding activities. It wasn’t busy yet as I imagined. Queuing behind Korean families who were busy their gadgets, I finally got a ferry ticket 19 minutes later.

Macao Sekhou 3

Queued for 20 minutes to got into ferry through that blue door. The officer gave me a name tag at that blue door and another officer would take back at the ferry entrance.

Macao Sekhou 2

During sail, a beautiful crew walked around to give a cup of mineral water. I tried to be patient to anchor in Shenzhen … Curious how is Shenzen ?

My attention was focused on three young women on front left. During sailing, they were busy to polished their face with cosmetics. And indeed after arrived, they liked artist who be cynosure.

Arriving at She Kou Ferry Terminal, I filled an arrival form in an open corridor between ferry and immigration counter.

9 degrees Celsius weather was pierced my bones … Ocean waves made me difficult to filled a form while sailing.

“Helooo … Do you have a visa?” a slim officer called me.

Oops … Just me who haven’t entered yet to immigration counter… the counter has empty…..better I ran to counter and complete a form in front of her.

Macao Sekhou 4

Finished … She was kind and helpfull… smiling when he asked to me.
Dying for a pee….

Looked around for a toilet at Immigration office. Finally I saw it at the corner.

A while after I entered in toilet … It has been changed to HORROR. “A little cursing in the heart” when I found faeces didn’t flush in the closet …. I thought it didn’t hard for just push the button.

So I canceled to pie there….

I left the room and looked for Shenzhen Metro station. Because I actually confused to found it. So I approached young officer. I spoke English and he just stared at me. Yess … He finally failed to understand.

For effective communicate with him… I opened my handphone … show their train picture. Finally, his hand immediately pointed to an underground gate at the end of She Kou Ferry Terminal courtyard.

Okay, Let’s went to Hotel, bro….Oh I was sorry, my mind was hostel.

Were we finding the hostel later?

NO NO NO … the Shenzen Fomo Hostel that I booked was already closed…
How was I looking for an impromptu cheap hostel? … I will tell it later … hihihi

Asik di Macau dan “Dongeng” di Shenzen

Kesiangaaaaaan….

“Si Boss” belum juga turun dari lantai atas , padahal janjian jam 8 pagi buat check out dan ketemu di lobby Villa Ka Meng.

Hufftt……bahkan ternyata doi belum bangun, WA ku “checklist satu”. Kumaklumi karena kemarin ku ajak muter gila jalan kaki.

Artinya…..waktu eksplorasiku di Shenzen berkurang. Okee lahh….bagaimana nanti aja.

Kebablasaaaaaan….

Harusnya aku fokus pada running text di atas dashboard. Aku ragu memencet tombol di tiang sebagai isyarat buat pak sopir memberhentikan bus di Taipa Ferry Terminal.

Kufikir berhenti di setiap halte….lah kok malah bablaaaasss. Yo wes….Aku turun di halte berikutnya lanjut jalan kaki ke terminal ferry.

Diomeliiiiiin….

Ga ada tanda sama sekali…..Maap ya Bapak-Bapak sekalian, aku menginjak trotoar baru karya kalian….ternyata belum siap diinjak.

Hadeuuuh….Pantesan kalian teriak kenceng sambil angkat sekop.

Aku hanya berusaha minta maaf dengan caraku…..setelah 100 meter meninggalkan area itu, aku diem-diem tengok ke belakang….penasaran apakah injakanku menjadi masalah. Bersyukur  mereka sepertinya membiarkan….pertanda tak ada masalah berarti.

Aku tiba di terminal ferry sekitar jam 9:10 dan begini suasanya

Macao Sekhou 1

 

Segera mengambil antrian dan mengamati aktivitas sekitar. Ternyata belum sibuk seperti yang aku bayangkan. Mengantri di belakang keluarga Korea yang “autis” dengan gadget masing-masing, akhirnya aku mendapatkan tiket ferry 19 menit setelahnya.

Macao Sekhou 3

Perlu mengantri 20 menit untuk masuk ferry melewati pintu biru itu. Petugas mengalungiku name tag yang akan diambil kembali oleh petugas lain di pintu masuk ferry.

 

Macao Sekhou 2

Selama berlayar petugas cantik itu berkeliling memberikan secangkir air mineral. Aku berusaha bersabar untuk berlabuh di Shenzen…..Kepo nih “Kayak apa sih Shenzeeeennn???

Perhatianku tertuju pada tiga perempuan muda di kiri depan. Selama berlayar terlihat asyik memoles wajahnya dengan kosmestik. Dan memang beberapa saat setelah tiba mereka bak artis yang menjadi pusat perhatian….alamaaakkkk

CIMG2189

Tiba di She Kou Ferry Terminal, aku mengisi arrival form di koridor terbuka antara tempat bersandar ferry dan konter imigrasi Tiongkok.

Udara 9 derajat kelamaan menusuk tulang….Ini gegara ferry ajrug-ajrugan dan membuatku susah mengisi form.

Helooo….Do you have a visa?” “Si Langsing” memanggilku.

Waduh….Tinggal Kita yang belum masuk ke imigrasi…konter udah kosong melompong …..daripada dikira “pekerja illegal yang sedang membuat konspirasi“…mending lari kecil ke konter dan melengkapi kolom isian di depan “Si Langsing”.

Macao Sekhou 4

Beresssss….ternyata doi baik banget….senyam-senyum ketika bertanya…kirain judes…..hihihi.

Kebelet Pipiiiiiiss….

Celingukan cari toilet di kantor Imigrasi. Yesss….Dapet.

Wee laa dalah….Sumringah berubah jadi HOROR. Aku benar-benar membuktikan “dongeng” tentang joroknya warga Tiongkok Daratan.  “Sedikit mengumpat dalam hati” ketika menemukan kotoran mereka tak disiram mengonggok di kloset….padahal apa susahnya tinggal pencet tombol.

Ga jadiiiii Pipiiiiisssss……tar simpen ajjjjjjjaaaaaa…..

Aku keluar ruangan dan mencari dimana Shenzen Metro berada. Karena bingung aku menghampiri pemuda kantoran. cas cis cus Aku ngomong English….doi malah bengong menatapku. Yess…akhirnya doi gagal paham.

Gini aja deh…..buka HP….tunjukin gambar train mereka. Nahhhh kan enak…..langsung tangannya nunjuk ke sebuah lubah bawah tanah di ujung pelataran She Kou Ferry Terminal.

Ke Hotel Kita bro……..eh Hostel dink

Apa iya kita menemukan tuh Hostel nantinya?

Kagak mas Bro….Shenzen Fomo Hostel yang ku booking udah bubarrrr….

Bagaimana kisahku mencari hostel murah dadakan?…..nanti aja ya kuceritain….hihihi