Sejuta Tiga Ratus Ribu di Imigrasi Busan (2nd Edition)

<—-Kisah Sebelumnya

Segenap penumpang Air Busan BX 123 sudah berdiri di cabin aisle demi bersiap menuruni pesawat. Setelah salah satu pramugara berkoordinasi dengan ground staff, akhirnya juluran aerobridge menempel sempurna di badan pesawat dan pintu telah aman untuk dibuka. Tak lama kemudian, aku mengikuti langkah barisan penumpang di depan untuk keluar dari kabin.

Sepanjang menapaki aerobridge, kekhawatiranku tak seburuk seperti  saat aku memasuki Narita International Airport beberapa hari lalu. “Masak iya, sudah ke Jepang, ndak bisa masuk Korea”,  pikirku menenangkan diri. Aku terus melangkah dengan mantap melewati koridor demi koridor di arrival hall Gimhae International Airport Terminal 1. Terus mengikuti tengara menuju konter imigrasi. Setelah menemukannya maka aku segera menempel di ujung belakang salah satu baris antrian. Aku masih terlihat santai dan penuh senyum. Dan tak menyangka bahwa drama itu baru saja dimulai

Aku mengambil antrian paling kiri, para turis asal Tiongkok tampak mendominasi di depan. Mereka terlihat sangat lancar melewati staf imigrasi. “Sepertinya ini akan mudah”, akhirnya aku membuat kesimpulan. Aku kini berada di kepala antrian, menunggu seorang turis wanita Tiongkok menyelesaikan prosesnya di konter. Petugas laki-laki berkacamata itu dengan cepat memasukkan satu demi satu turis asal Tiongkok sedari tadi.

Neexxxtttt”….Dia memanggil dengan mata masih menatap layar komputer

Petugas Imigrasi     :     “Have you been to South Korea before?

Aku                              :     “Not yet sir, this is the first time

Imigrasi                      :     “Where did you visit before South Korea?

Aku                              :     “Malaysia, Taiwan and Japan, Sir

Dia mulai mengawasiku dengan tatapan curiga.

Imigrasi                      :     “Which other countries have you visited?”, dia menyodorkan sebuah kertas dan pena untukku menulis

Aku mulai menulis satu-persatu hingga tersalin sebelas baris tambahan nama negara yang pernah kusinggahi.

Tapi reaksinya sungguh di luar dugaan, dia hanya geleng-geleng kepala. Aku tak kalah berinisiatif ketika dia bersikap demikian. Dari dalam backpack, kukeluarkan passport lama yang telah terpotong salah satu covernya, “You can check it out here, sir”.

Imigrasi                      :     ”I don’t need this”, dia mendorong passport lama itu dengan telunjuk jarinya ke arahku sebagai pertanda dia tidak mau melihatnya

Alamaaattttttttt….”Dag dig dug”, jantungku mulai berdetak di atas ritme biasa.

Imigrasi                      :     ”Please take out your wallet!

Gertakan ringan itu membuatku terjongkok otomatis dengan tangan mengaduk-aduk isi backpack dengan imbuhan kepanikan. Aku mendapatkan dompet yang dimaksud dalam beberapa saat, memang dompetku kuletakkan di bagian paling dalam supaya aman.

Aku mulai berdiri dan menyodorkan dompet usang itu….Hmmhhh, dompet dengan kelupasan kulit pelapis di beberapa ujungnya. Membuatku pasrah tak berdaya. Petugas imigrasi itu mulai membuka dompetku dan menghitung setiap lembar isinya. Dia bergeleng kepala  ketika hanya menemukan uang kertas sebanyak  110.000 Won (Rp. 1.378.000).

Dia mulai berdiri dan beranjak keluar dari immigration counter box dan mulai menutup antrian dengan standing barrier dan menggantungkan tuilsan “CLOSE” di tengahnya. Segenap turis yang mengantri dibelakangku dimintanya berpindah ke antrian konter di sebelahnya. Setiap turis berpindah teratur sembari melihat dengan sedih atas kemalanganku, beberapa tampak heran penuh rasa ingin tahu.

Waduuhhh”, suara hatiku mulai kecut.

Petugas imigrasi itu segera melangkan memasuki konternya kembali dan menaruh dompetku di hadapannya. Dia mulai menatapku tajam.

Imigrasi                      :     ”Do you bring an ATM?

Aku                              :     “No, Sir”….Batinku menyanggah,”bukannya aku sudah punya Visa, kok dipermasalahin sih?”

Imigrasi                      :     “Credit Card?”

Aku                              :     “No, Sir”….Batinku kembali berguman, “Bukannya yang penting uangku cukup buat mengelana di Korea?”

Imigrasi                      :     “ID Card?”

Aku                              :     “No, Sir”….Kembali batinku melakukan perlawanan,”Bukannya ID Card bagi turis adalah passport?”

Imigrasi                      :     Menggelang tegas dengan muka merah, “Aiissshhhh….No ATM….No Credit Card….No ID Card….You only have a small amount of money…. You can’t stay in Korea

Aduh, Deportasi”, batinku memvonis diri seketika.

Imigrasi                      :     ”What do you do in your country?

Aku                              :     ”Marketing

Imigrasi                      :     “Show your business card!

Aku                              :     ”I don’t bring it, Sir

Imigrasi                      :     ” Aiissshhhh ….”

Dia mulai mengusap-usap kening dan matanya, tak percaya telah bertemu turis semacamku. Kini dia telah menutup passport. Dia berdiri kembali dan memanggil temannya. Dengan cepat temannya datang menghampiri dan mulai bercakap serius meninggalkanku yang sudah diambang deportasi.

Aku tak menahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas itu pasti tentangku. Kuperhatikan dia terus menggelengkan kepala dan temannya sesekali melihatku bak tersangka….Aahhh, suasana ini benar-benar tak mengenakkan dan membuatku gelisah. Tap aku mencoba sekuat mungkin menampilkan muka penuh ketenangan. Bahkan aku bersiap melakukan klarifikasi sebelum dia memutuskan apapun.

OK, dia telah usai berdialog dengan temannya dan duduk kembali di bangku konter imigrasi. Sebelum dia mengeluarkan sepatah katapun, aku mulai melakukan pledoi terakhir. Tak peduli apapun hasilnya….

Aku                              :     ” I have a return ticket, Air Asia 5th January, from Incheon to Jakarta. I will stay at Kimchee Guesthouse Busan and Kimchee Guesthouse Seoul….these are my itinerary and my budgeting during in Korea”, Aku memberikan lembaran itinerary dan budgeting padanya, Aku memang selalu menyusun keduanya setiap melakukan backpacking ke luar negeri.

Petugas imigrasi itu marah dan menempelkan telunjuk ke mulutnya….”Sssttttt”, pertanda dia memintaku untuk tidak banyak mengoceh di depannya. Tapi hal baiknya adalah dia mau membaca lembaran itinerary dan budgeting itu.

Aku                              :     ”Please Sir, I am just a backpacker…..just for sightseeing Korea this time….No more….Please…..I will go home….Believe me!”, aku mengemis memelas.

Petugas imigrasi itu kembali menatapku, kali ini benar-benar menatap mataku lekat-lekat, mungkin dia sedang menguji kejujuran. Sepertinya dia mulai menaruh rasa kasihan. Dia mulai membolak-balik setiap halaman passport baru dan passport lamaku yang sedetik lalu dia tarik dari hadapanku.

Imigrasi                      :     ”OK, You can….You can….But promise me to return to your country!…. Or you’re in big trouble

Cettoookkkk….Stempel arrival itu terbubuh jelas di passport….Oh, indah sekali momen itu.

Hadeeuuhhhh…Leegggaaaa banggeeetttt.

Inilah pelajaran berharga bahwa dikemudian hari nanti aku akan menjadi seorang backpacker yang lebih detail dan mempersiapkan sesuatu dengan sangat baik. Setelah insiden itu, aku selalu membawa kartu nama, KTP, Credit Card (walaupun limitnya kecil) dan ATM (meskipun isinya minim) setiap melakukan perjalanan ke negara orang.

Berkat persiapan yang baik, aku sangat terbantu dengan keberadaan kartu-kartu sakti itu ketika menghadapi random checking serupa di Woodlands Checkpoint di Singapura tujuh bulan setelah insiden ini.

Insiden telah usai, aku melangkah meninggalkan konter imigrasi dengan kemenangan.

Welcome Busan, Welcome South Korea!

Peach Aviation MM6320 dari Tokyo ke Osaka: Maskapai ke-15

<—-Kisah Sebelumnya

Waktu keberangkatanku menuju tur Asia Timur Jilid-2 tinggal sehari lagi. Masih ada satu tahapan itinerary yang masih tercecer dan belum tuntas, yaitu buntunya mekanisme perpindahanku dari Tokyo ke Osaka. Tiga bulan lalu, aku telah menyia-nyiakan tiket bus murah dari Tokyo ke Osaka seharga 5.700 Yen (Rp. 775.000) hanya karena terus berfikir dan banyak mencari pilihan lain. Beberapa waktu kemudian Saat akhir pekan tiba, harga tariff bus itu meningkat hingga 9.700 Yen (1,2 juta). Sedangkan harga tiket Shinkansen  mencapai 14.000 Yen (Rp. 1,9 Juta).                                                                                                                   

Berarti selain bus, Shinkansen juga tak mungkin kupilih. Kereta peluru itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku. Mau tak mau, aku harus kembali mengobrak-abrik informasi tentang transportasi Jepang.

Aku mulai melacak perihal seberapa banyak maskapai komersial yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit. Sebelumnya, aku sudah memesan salah satu maskapai mereka untuk berpindah dari Kaohsiung (Taiwan) ke Tokyo, maskapai itu adalah Vanilla Air. Tetapi maskapai ini nyatanya mematok harga lumayan mahal untuk rute Tokyo ke Osaka, berkisar 10.130 Yen (Rp. 1,4 juta).

Dari persistensiku menjelajah dunia maya, sentuhan mouseku menemukan satu maskapai LCC (Low Cost Carrier) lain milik Jepang, yaitu Peach Aviation. Atrbut maskapai ini mengandalkan perpaduan warna orange dan pink, membentuk warna jingga pucat atau dikenal dengan nama peach. Aku mulai mencari rute. Akhirnya aku menemukan rute Tokyo-Osaka seharga 7.150 Yen (Rp. 970.000), harga yang sedikit lebih hemat daripada menggunakan bus, Shinkansen atau Vanilla Air.

—-****—-

Bersiap take-off bersama Peach Aviation MM6320.

Insiden delay dan tenggakan alkohol secara tak sengaja memang menjadi memori tak mengenakkan sebelum aku meninggalkan Tokyo. Tetapi, aku mulai sumringah ketika nomor penerbanganku disebut dalam pengumuman bandara. Aku mulai mengantri dalam barisan. Mulai terbayang keindahan Osaka Castle dalam setiap detik antrianku. Hingga tiba, boarding pass dan pasporku diperiksa oleh ground staff wanita yang masih sangat muda dan berbadan mungil.

I’m sorry, this is not your flight. Your flight will be depart 30 minutes later”.

Are you sure?”, jawabku separuh bertanya.

Yes, Sir. This flight is MM320 and your flight is MM6320, almost similar”.

Oh God, I’m sorry. This is my wrong”, aku menepok jidat sambil berusaha menyembunyikan rasa malu.

Aku kembali mundur dari antrian dan duduk di salah satu deretan kursi kosong yang sudah ditinggalkan para calon penumpang untuk memasuki pesawat. Aku masih saja mengamati antrian itu hingga orang terakhir memasuki pesawat. Kini aku kembali menunggu….

30 menit kemudian…..

Tak salah lagi, inilah penerbanganku, aku pastikan informasi nomor penerbangan di layar LCD baik-baik, lalu kucocokkan dengan nomor yang sama di boarding pass….Yup, benar ini MM6320. Aku segera memasuki antrian. Lalu di gerbang antrian, aku memberikan bording pass dan paspor untuk diperiksa oleh salah satu ground staff. Akhirnya, aku diizinkan untuk memasuki pesawat.

Dominasi kabin dengan warna peach menjadikan ruangan itu begitu ceria, sedikit mengurangi penatku dalam berjibaku menghadapi delay. Setiap awak kabin begitu sigap membantu penumpang memasukkan barang bawaan ke kompartemen bagasi. Beberapa kali, seorang pramugari tak ragu melepas sepatunya dan menaiki kursi untuk mendorong beberapa bagasi besar dan merapikan letaknya di kompartemen bagasi.

Seusai persiapan, Peach Aviation MM6320 mulai merayap menuju runway diiringi demonstrasi prosedur keamanan penerbangan oleh awak kabin. Beberapa saat kemudian Kapten Penerbangan meminta izin untuk melakukan take-off. Tak lama setelahnya, Airbus A320-100 itu melaju sekencang-kencangnya meninggalkan Narita International Airport dari Terminal 1.

Langit Tokyo sepertinya cerah malam itu. Aku tak merasakan turbulensi apapun selama 1 jam 35 menit penerbangan. Osaka adalah kota terbesar ketiga Jepang yang berjarak 500km di sebelah barat Tokyo. Sepanjang penerbangan sebagian besar penumpang lebih memilih memejamkan mata, tetapi aku tetap saja menyalakan lampu baca karena tertarik dengan banyaknya informasi pariwisata yang tertuang dalam inflight magazine Peach Aviation. Aku memotret satu demi satu lembar informasi pariwisata yang kubutuhkan selama di Osaka nanti. Rupanya aktivitasku itu diperhatikan oleh seorang pramugari dari belakang. Bahkan pada suatu waktu dia datang menghampiriku.

Berburu informasi di dalam pesawat.

Do you still reading, Sir?” .

Yes, Ms. I need some information from this magazine”.

Oh Ok, Sir. It doesn’t matter. I just make sure”.

Dia tersenyum dan kembali menduduki bangku pramugarinya di belakang. Bahkan setelahnya, kupastikan bahwa sepanjang penerbangan aku tak pernah memadamkan lampu baca itu. Pukul 23: 53, Kapten penerbangan mulai bicara dengan microphonenya untuk sekedar mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Kansai International Airport Terminal 2. Semua penumpang bergegas bangun, bersiap diri dan merapikan setiap tempat duduknya. Para awak kabin terus mondar-mandir memeriksa sesuai prosedur keamanan untuk proses landing.

Aku masih tak menahu perihal kondisi sesungguhnya di bawah sana karena aku duduk di aisle seat. Aku mampu merasakan ketika pesawat mulai merendah dan sesekali bergoyang untuk menstabilkan posisi. Hingga akhirnya hentakan halus roda pesawat memberitahukanku bahwa Peach Aviation sudah menyentuh runway Kansai International Airport, di Terminal 2 tepatnya.

Tidak ada aerobridge yang menyambut, semua penumpang harus menuruni tangga dan dijemput oleh Narita apron shuttle bus menuju bangunan terminal.

Tiba di Kansai International Airport Terminal 2 tepat tengah malam.

Malam itu, aku memtuskan untuk bermalam di Kansai International Airport Terminal 2 dan akan berangkat menuju ke tengah kota di keesokan hari.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Tokyo ke Osaka bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Narita International Airport Terminal 1: Alkohol….Oh, Alkohol

<—-Kisah Sebelumnya

Pintu masuk Narita International Airport Terminal 1

Membayar 1.000 Yen (Rp. 136.000) kepada pengemudi berdasi, menerima selembar tanda bayar, diakhiri dengan menduduki bangku paling belakang, kini aku bersiap menelusuri Higashi Kanto Expressway. Ini adalah jalanan yang sama ketika aku melewatnya untuk pertama kali sesaat setelah tiba di Tokyo beberapa hari lalu.

Menempuh jalur aspal sepanjang 70 kilometer dan dalam tempo satu jam, membuatku terlelap di sepanjang dua prefektur yang dilalui oleh JR Kanto Bus, yaitu Tokyo dan Chiba. Aku terbangun ketika bus telah sampai di Narita International Airport dan berhenti sejenak di Terminal 2 untuk menurunkan beberapa penumpangnya. Kini aku diserang kekhawatiran apabila bus telah melewati Terminal 1. Tetapi aku berusaha tetap tenang dan mengikuti arus bus.

Beruntungnya diriku ketika melihat nameboard Terminal 1 jauh di hadapan. Yups, ternyata stop pointku belum terlewat.

Tepat pukul 16:41, aku diturunkan di drop-off zone oleh pengemudi JR Bus Kanto, lalu bergegas memasuki salah satu pintu masuk Narita. Aku semakin percaya diri dengan keberadaan logo Peach Aviation di deretan logo para maskapai yang beroperasi di Terminal 1.

Aku sudah berada di terminal yang tepat”, batinku riang.

Tetapi tantangan lain hadir, aku masih berjarak lima jam dari jadwal keberangkatan. Konter self-check-in belum mengizinkanku mencetak boarding pass.

Baiklah, aku tunggu saja”, aku menyabarkan diri.

Dua setengah jam menunggu di sebuah kursi departure hall, akhirnya aku sukses melakukan proses selfcheck-in tepat pukul 19:25. Kugenggam selembar boarding pass lalu melangkah mantab menuju gate. Begitu tiba, ternyata gate masih saja belum siap.

Konter Peach Aviation.
World Sky Gate_Narita sebagai branding baru dari Narita International Airport.
Floor plan Narita International Airport Terminal 1..

Hingga akhirnya, aku memutuskan mencari minimarket untuk berburu makan malam. Aku menemukan keberadaan Lawson di salah satu koridor dan memasukinya tanpa pikir panjang. Dengan cepat aku mengambil satu kemasan onigiri seharga 248 Yen (Rp. 34.000) dan air mineral termurah seharga 103 Yen (Rp. 14.000) lalu membawanya ke kasir.

Selesai membayar, kulanjutkan langkah menuju observation deck, kemudian terduduk di salah satu kursinya untuk menikmati lalu lintas pesawat berbagai maskapai yang sibuk hilir mudik di Narita International Airport. Outdoor observation deck itu dihembus oleh angin musim dingin yang konsisten membekukan badan.

Walau tak nyaman karena dingin, aku tetap berusaha menikmati makan malam, tetap menduduki salah satu bangku observation deck dan terus terpesona dengan pasangan kegiatan take-off dan landing pesawat-pesawat berbadan besar.

Aku terus berusaha menampilkan senyum terbaik dalam menguyah onigiri, tak mau kalah dengan mimik bahagia para khalayak di sekitarku ketika menikmati harumnya sajian restoran yang mendiami sepanjang sisi observation deck.

Potongan terakhir onigiriku tuntas tak bersisa. Aku lantas membuka air mineral kemasan. Kubuka tutupnya dan tanpa ragu menenggaknya layaknya orang kehausan. Setenggak penuh air akhirnya meluncur mulus di tenggorokan. Tetapi mataku melotot karena hidungku tersengat aroma asing. Sensani hangat menyelimuti sepanjang tenggorokan. Dan akhirya, secara otomatis, aku terbatuk sejadi-jadinya.

Bukan air mineral murni !….Minuman bening itu jelas memuat kandungan alkohol di dalamnya. Akhirnya aku bisa merasakan sensasi alkohol walau secara tak sengaja….Duh, istighfar atau menikmati ya?….Wadaow.

Aku masih saja enggan membuang air kemasan beralkohol itu dan memasukkannya ke dalam backpack. Jika nantinya tak disita di screening gate, biar saja menjadikannya kenangan selama di Osaka.

Akhirnya, selepas puas menikmati lalu lintas bandara, aku segera menuju gate dan bersiap diri untuk terbang.HHmmhh… Begitu memasuki gate, informasi delay langsung menghampiri. Karena penasaran berat, aku menanyakan secara langsung ke ground staff wanita perihal kevalidan delay ini. Dia membenarkan bahwa Peach Aviation bernomor terbang MM6320 memang mengalami keterlambatan ketibaan di Narita dan aku harus menunggu kembali hingga satu jam ke depan.

Boarding pass yang cukup sederhana.
@Kids park, menunggu pesawat datang menjemput.

Kuhabiskan waktu tambahan selama  satu jam ke depan dengan memejamkan mata di ruang tunggu. Aku terduduk di sebelah Kids Park  dekat gate Terminal 1….

Kisah Selanjutnya—->

Stasiun Tokyo: Mencari Jejak Menuju JR Expressway Bus Stop

<—-Kisah Sebelumnya

Bersiap meninggalkan Stasiun Harajuku.

Lewat sedikit dari jam dua siang. Mulai kutinggalkan Meiji Jingū melalui Stasiun Harajuku. Aku kembali menelusuri Yamanote Line, memutar ke selatan melewati Distrik Shinagawa, lalu kembali ke utara. Menempuh jarak sejauh lima belas kilometer dan berbiaya 200 Yen (Rp. 27.000).

Aku tiba di Stasiun Tokyo lewat sedikit dari jam setengah tiga sore dan diturunkan di platform bernomor empat di dekat Marunouchi North Exit. Maranuochi sendiri adalah kawasan bisnis yang berlokasi di sebelah barat Stasiun Tokyo.

Aku terus menelusuri lorong bawah tanah dan terus mencari petunjuk untuk mengeluarkan diri di exit gate yang berlokasi paling dekat dengan JR Expressway Bus Stop. Aku memang sedari pagi telah memutuskan akan menggunakan operator bus tersebut untuk berpindah dari tengah kota ke Narita International Airport.

Begitu menuruni tangga maka aku dihadapkan pada sebuah koridor panjang. Tepat pada dinding di depan anak tangga terakhir tersebut terdapat papan petunjuk lebar berwana kuning. Papan itu mengarahkanku untuk keluar di Yaesu South Exit. Itulah gerbang keluar terdekat dari JR Expressway Bus Stop. Apakah kamu tahu tentang Yaesu?….Berlawanan arah dengan Maranuochi maka Yaeshu adalah kawasan yang terletak di sebelah timur Stasiun Tokyo.

Petunjuk lokasi di koridor Stasiun Tokyo.
Yang tak mau bawa backpack, silahkan sewa loker.
Ini dia loker sewa di Stasiun Tokyo.
Dimana posisimu saat ini?
Automatic ticketing vending machine.

Sisi komersil stasiun ini begitu dominan. Sepanjang lorong bawah tanah, dimanfaatkan pengelola stasiun untuk menjual fasilitas loker kepada para penumpang. Fasilitas penyimpanan ini terkenal dengan nama Coin Lockers. Loker jenis ini mempunyai harga sewa yang bervariasi, dari 600 Yen hingga 1.000 Yen (Rp. 80.000 – Rp. 135.000) per hari.

Sepanjang koridor Stasiun Tokyo itu begitu ramai. Aku terus merangsek dan mulai mengalami disorientasi arah. Secara tak sadar, aku telah tiba di gerbang Shinkansen Transfer North Gate. Hingga akhirnya seorang petugas stasiun membantu mengarahkanku untuk menuju gerbang keluar terdekat. Atas jasanya itu akhirnya aku berhasil keluar di Yaesu Central Exit.

Yups….Tiba di Yaesu Central Exit.

Jeda waktu menuju jadwal penerbangan masih lama. Aku juga tak mau terlalu lama berada di bandara. Maka kuputuskan untuk mengambil tempat duduk di halaman Stasiun Tokyo. Aku terus mengamati aktivitas warga Tokyo yang tampak sangat sibuk. Sembari menikmati kesibukan itu, aku secara konsisten membuka kulit kuaci dan mengunyahnya biji demi biji. Dan karena tak bisa kutemukan tempat sampah, maka kubuanglah kulit kuaci itu di atas akar tanaman hias. Tak kusangka seorang petugas memperhatikan kelakuan burukku itu. Aku berespon cepat, sebelum dia mendatangiku, aku menunjukkan kemasan kuaci yang masih berisi separuh itu kepadanya. Ajaibnya, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Padahal jika dia menegurku, maka aku sudah bersiap diri mengambil lagi sampah kuaci itu.

Masalah kulit kuaci sudah usai….

Aku beranjak dari tempat duduk dan menuju JR Expressway Bus Stop. Sesampai di lokasi, aku langsung masuk ke antrian panjang di platform bus nomor tujuh. Tepat pukul empat sore, aku menaiki JR Bus Kanto yang khas berwarna putih dengan kelir biru itu.

Aku menyerahkan 1.000 Yen (Rp. 135.000) kepada pak sopir yang bepenampilan sangat rapi dan berdasi. Setelah dia memberikan selembar tanda bayar maka aku mengambil tempat duduk paling belakang.

Berada di JR Expressway Bus Stop.
Ayo naik!

Aku bersiap menuju Narita International Airport Terminal 1.   

Kisah Selanjutnya—->

Menulis Do’a dan Harapan di Meiji Jingū

<—-Kisah Sebelumnya

Besiap untuk petualangan hari kedua di Tokyo. @ platform Stasiun Nakano.

Tragedi kehilangan dompet di Stasiun Nakano membuatku menelan ludah ketakutan, ternyata masih tersisa sisi penakut dibalik keberanianku menjelajah dunia.  Aku sejenak menenangkan diri dengan menyeruput air minum dari free water station di salah satu platform Stasiun Nakano.

Komuter silver berkelir kuning penguasa Chūō Line itupun tiba, kuayunkan langkah memasuki gerbong tengah dan duduk di bangku panjang sisi kiri. Aku sengaja memilih duduk tepat di atas console grill pemanas. Itulah kebiasaanku selama menaiki kereta Negeri Matahari Terbit yang sedang tergelincir ke dalam musim dingin.

Aku terus mengikuti arus Chūō Line menuju timur lalu menukik ke selatan setelah berganti dengan kereta Yamanote Line di Stasiun Shinjuku. Dalam waktu dua puluh menit, aku tiba di Stasiun Harajuku setelah menempuh jarak sejauh tujuh kilometer. Untuk tarif sepanjang itu, aku hanya perlu membayar 170 Yen (Rp. 23.000).

Melintasi koridor panjang Stasiun Harajuku, aku keluar dari West Exit yang langsung berhadapan dengan Meiji Jingū First Torii Gate di sisi kanannya. Tetapi astaga……

Kini aku kehilangan gloves sebelah kanan, bagaimana aku mampu menahan beku jika perlengkapan itu raib?. Dengan terpaksa, aku kembali menelusuri jalurku ketika keluar dari platform stasiun dan akhirnya aku menemukan sebelah gloves itu di tengah koridor setelah automatic fare collection gates. Entah kenapa?, sedari pagi, aku terundung kehilangan barang walaupun kembali tertemukan. Mungkinkah ini permulaan dari segala hal mengejutkan di depan petualanganku?.

Baiklah…Fokus kembali ke langkahku…..

Kini aku sudah berpose di depan gerbang Kuil Meiji. Torii itu begitu khas, pengilham sebuah logo perusahaan otomotif kenamaan Negeri Para Samurai. Kutapaki gravel mulus sebagai jalur masuk menuju kuil. Jalur itu memiliki lebar sedasa meter di sisi kiri, dipadu jalur paving block selebar satu meter berpembatas tambang untuk jalur keluar di sebelah kanan. Sementara di beberapa bagian, jalur itu di batasi oleh pagar-pagar bambu yang tersusun rapi setinggi pinggang orang dewasa.

Di depan gerbang Stasiun Meiji-jingumae “Harajuku” (Chiyoda Line) sebagai bagian dari Tokyo Metro Subway Network. Tetapi aku tak menaiki Tokyo Metro itu….Alias nampang doang….Hohoho.
Di depan Meiji Jingū Torii.
Drum-drum Sake (kazaridaru).
Drum-drum anggur berbahan kayu.

Sementara seorang petugas tua, menyingkirkan dedauanan dari gravel menggunakan backpack leaf blower. Dedauan itu hanya perlu dipinggirkan ke sisi jalan dan dibiarkan menjadi kompos alami, begitu ramah lingkungan.

Dalam empat ratus meter, di sisi kanan, aku terpesona dengan susunan rapi kazaridaru yang didedikasikan untuk Meiji-tennō dan Shōken-kōgō. Sedangkan tepat di sisi kiri adalah susunan drum anggur terbuat dari kayu.

Sampai pada Torii utama kuil, setiap pengunjung wajib membersihkan tangan di Temizuya dengan air menggunakan gayung-gayung bertangkai panjang. Ritual membasuh diri atau misogi ini bertujuan untuk memurnikan tubuh dan pikiran sebelum berdiri di depan dewa untuk berdoa.

Temizuya (paviliun bersuci shinto untuk pemurnian) di Meiji Jingū.
Di tengah kuil.

Sejenak aku terhenti setelah melewati gerbang utama, aku terkagum-kagum karena luas dan besarnya Meiji Jingū . Inilah kuil yang dipersembahkan untuk menghormati roh Meiji-tennō , penguasa Jepang masa lalu.

Sementara itu di beberapa bagian kuil sedang dilakukan renovasi. Para pekerja berseragam carpenter warna putih, lengkap dengan berbagai peralatan pertukangan di pinggang serta mengenakan safety helmet tampak berdiri diatas step ladder, sibuk melakukan perbaikan.

Sementara di ujung kuil, tampak para turis mengantri pada sebuah toko yang menjual papan ema dan omamori. Toko itu tampak dijaga oleh wanita-wanita cantik berbaju kimono putih berpadu merah, mereka tampak sopan dan anggun melayani para pengunjung.

Sementara aku meyibukkan diri untuk menuliskan sebuah do’a pada selembar kertas, lalu kumasukkan ke dalam sebuah kotak. Sedangkan beberapa wisatawan menulis do’a dan harapan pada papan ema yang dibelinya, kemudian menggantungkannya pada spot yang telah disediakan.

Para carpenter sedang bertugas.
Toko penjual omamori yaitu jimat yang diyakini masyarakat Jepang dapat membawa keberuntungan dan keselamatan.
Aku berdo’a apa ya kira-kira?
Papan ema, plakat kayu kecil yang dihiasi dengan seni tulisan tangan yang mengungkapkan harapan

Tak terasa satu setengah jam berjalan hingga akhirnya aku selesai menelusuri seluruh bagian kuil. Inilah destinasi terakhirku di Tokyo, karena aku akan segera menuju Narita International Airport untuk mengejar penerbangan Peach Aviation bernomor MM6320 yang akan berangkat pada pukul 21:35.

Akhirnya kuputuskan untuk segera menuju ke Stasiun Harajuku dan bergegas menuju Stasiun Tokyo, karena aku berencana menggunakan JR Bus Kanto menuju bandara.

Mari……..

Bersiap diri di Stasiun Harajuku….Menuju Stasiun Tokyo.

Kisah Berikutnya—->

Tokyo Shuttle dari Narita International Airport ke Tokyo

<—-Kisah Sebelumnya

Aku melompat dari pintu depan dan tak lama kemudian wajah-wajah putih bermata sipit  memperhatikan dengan seksama kehadiranku. Senang rasanya aku bisa berbaur dengan kaum menengah di dalam bus itu. Aku bersama seluruh penumpang akan bergerak menuju pusat kota Tokyo. Lalu aku sudah saja mendudukkan diri di baris ketiga dari belakang, sebelah kanan dekat dengan kaca jendela. Aku terbantu dengan keberadaan soket elektrik untuk menambah daya gawai pintarku, tetapi sayang Wi-Fi itu tak bisa kumanfaatkan.

Kotak transportasi dengan warna kombinasi sepadan hijau putih itu konsisten menyemburkan campuran emisi dan uap air dari knalpotnya di limit beku udara Narita. Warna nama kombinasi merah-hijau sangat mencolok untuk mengingat brand moda transportasi yang satu kepemilikan dengan perusahaan kereta api swasta raksasa di dua prefektur yaitu Chiba dan Tokyo. Keisei nama perusahaan transportasi itu.

Tokyo Shuttle” begitu nama bus itu, akan merayap selama satu jam menuju Distrik Chiyoda dimana Stasiun Tokyo berada. Menyusuri jalanan kota sejauh 65 Km, bus melewati  jalan tol Higashi Kanto Expressway.

Higashi Kanto Expressway di Prefektur Chiba.
JR Bus Kanto melintas.
Willer Express Bus mengejar.

Antar ruas jalan tol itu berbataskan guard rail dan setiap ruasnya hanya bersusun dua jalur. Jalan tol antar distrik yang biasa saja. Sebagian pepohonan yang tampak gersang akibat dormancy  menjadi pemandangan yang sering dalam perjalanan ini, menyisakah jari jemari dahan yang menunjuki langit.

Sementara sutet-sutet raksasa berjarak konsisten mengangkangi tol, mengalirkan listrik antar kota dengan gagahnya. Masuk lebih jauh, perjalanan mulai mempertontonkan kanal-kanal lebar dan bersih terawat dengan beberapa apartemen rendah, sedang dan tinggi pada jarak yang tak bisa dibilang rapat.

Ketika sebagian besar penumpang terlelap dan tertelan laju bus itu, fikiranku semakin runyam. Aku tak bisa menikmati injakan halus pedal gas sang sopir yang berhasil menyirap semua penumpangnya itu.

Apakah nanti akan semudah membalikkan telapak tangan saat mencari kereta ke Nakano?”.

“Bagaimana mencari tombol untuk membeli one day pass di stasiun nanti?”.

Bisakah aku menahan hawa dingin mencekat ini di luar sana?”

Aku tenggelam dalam kegelisahanku sendiri sepanjang perjalanan. Tak mampu menikmati dengan sepenuh hati pemandangan indah di luar sana. Padahal, bukannya selama ini aku merindukan Jepang. Duh….

Semakin pendek jarak dengan pusat kota, pemandangan berganti. Kanal-kanal yang masih saja bersih di jejali dengan bangunan-bangunan apartemen dan perkantoran yang berbaris rapat menongkrongi sepanjang kanal. Tapi tetap saja, semua tampak rapi, bersih dan teratur. Sungguh beradab bangsa itu.

Memasuki Distrik Koto, Prefektur Tokyo.
Ariake-nishi canal.
Heikyu River.

Aku tiba di Stasiun Tokyo dan diturunkan di halte bus berbentuk persegi panjang dengan 5 kaki yang diletakkan pada dua sisinya saja, di pinggir Sotobori-dori Avenue tepat di depan Tekko Building. Aku tak pernah menemukan petunjuk pasti menuju gerbang stasiun itu.

Bahkan belum juga mencari petunjuk pun, aku sudah bersusah payah melawan udara musim dingin Jepang. Menjadi semakin heran kenapa penduduk setempat berlalu lalang begitu saja dengan selapis baju kantoran, tanpa sarung tangan, tanpa penutu kepala dan telinga. Berbeda denganku yang sudah berjaket lapis dua dengan tambahan t-shirt di lapisan pertama bajuku, winter gloves dan earmuffs. Masih saja aku bergetar melawan suhu beku itu.

Aku terus menyusuri jalan tanpa petunjuk latin itu. Hingga kutemukan tulisan latin pertama semenjak aku turun dari bus Tokyo Shuttle. “Tokyo Station”, pelan kubaca signboard besar di atas bangunan stasiun. “TOKYO STATION Yaesu North Entrance”.

Mari menuju Nakano.

Kufikir lebih baik aku segera memasuki stasiun dan mencari kehangatan daripada  membeku di luaran sana.

Saatnya berfikir untuk menuju Nakano.

Link video perjalanan ini: https://youtu.be/pwb_kv0CaeY

Transportasi dari Narita International Airport menuju ke kota Tokyo juga bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

I am Waiting for You: Narita International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Ketika “Si Ayu Maeda” berdiri dan mengangkat mikrofon, itulah momen bahagia bagiku. Aku tahu, dia akan memberitahukan bahwa Vanilla Air JW 130 segera mendarat di Narita International Airport. Bagaimana tak bahagia, Jepang yang sedari dulu hanyalah angan dan menjadi sesuatu yang tak terpikirkan tergapai, akhirnya berlabuh juga aku di gerbangnya. Hasrat akan Jepang juga disebabkan oleh kebodohanku sendiri yang menyiksa diri dengan tak segera mengunjungi negeri itu setelah memahami ritme dan kebiasaan dunia backpacker. Aku lebih berego untuk menyisir Asia Tenggara selama 3 tahun, bahkan edisi perdana ke Asia Timur pun lebih memilih Hong Kong, China dan Macau sebagai tujuan perdana. Jepang sengaja menjadi dessert petualanganku di Asia Timur. Ya benar….Negeri itu menjadi puncaknya bersama Korea Selatan. Menjadikan kisah kali ini terasa spesial.

Melekatnya aerobridge di pintu pesawat menjadi penanda langkah pertamaku menjejak Jepang. Terminal 3 Narita International  Airport menyambut hangat walau kutahu suhu di luar ruangan mencapai 2o Celcius….”Mudah-mudahan darah tak mengalir dari hidungku”, gumam pertamaku ketika menyusuri garbarata.

Nervous dan takut, itulah yang kurasa ketika menyusuri arrival hall menuju konter imigrasi. “Bagaimana jika mereka memeriksa jumlah uang yang kubawa?”, “Bagaimana jika mereka menolakku masuk ke kota?”….Kecamuk amatiran itu masih saja menghantui. Maklum, bagiku Jepang serasa beda kasta.

Is this your filst time in visiting Japan?”, wajahnya datar tapi tak sangar menyidikku.

Yes, Sir”.

How long will you  stay in Japan?”, pertanyaan standar.

4 days, Sir

Hoooohhh….Just foul days. Very sholt time”, dia masih membolak-balik detail pasporku, melihat rekam jejak petualanganku.

Ale you alone?”, mulai menaruh paspor di sebelah kanan tangannya dan fokus bercakap denganku.

Duh alamat….Jangan sampai dia nanyain uang sakuku”, aku membatin pucat.

Okay, what will you do in Japan?” mulai menginterogasi.

!@#$%….^&*()?…..,”:}{[]/”, tanganku bergerak kesana kemari sembari bercerita panjang lebar tentang semua rencanaku. Aku menjadi tak khawatir sedikitpun karena akulah pembuat itinerary yang bisa diandalkan…..Yup, itinerary yang kelewat ngirit.

Good….Good….Good, nice toulist”, sekelumit sunggingan senyum sempat kulihat walau dia segera menyembunyikan. Petugas imigrasi memang begitu, pasang tampang galak adalah prosedur pertama.

Do you bling your itinelaly?”, pertahanan terakhirnya, sepertinya aku akan dengan mudah menjebolnya.

This is, Sir”, dengan muka cerah, aku menyerahkan enam lembar itinerary, lengkap dengan detail waktu, tempat yang akan kukunjungi, biaya yang akan dikeluarkan, dan alamat setiap destinasi ada di dalamnya. Dia sudah kukalahkan dengan telak.

Hoooohh….You will go to Osaka too”, manggut-manggut tapi masih saja membaca lembar demi lembar.

Yes, Sir. That’s nice city to visit”.

Yes…yes..yes….Good, welcome to Japan”, dia membuka kembali pasporku dan menaruh arrival stamp di atas visa waiver mungil berwarna pink itu.

Yesssssss….Aku masuk Jepang.

Uppsss….Pemeriksaan belum selesai rupanya.

Stop, please!”, lelaki paruh baya berjaket hitam dengan resleting yang dibiarkan terbuka sehingga terlihat jelas sweater abu-abu tebalnya menghadang langkahku.

Put your bag….Thele!”, dia menunjuk tempat menaruh tas sembari menenteng dua hand-held metal detector di kedua tangannya. Tanpa basa-basi dia menyapu backpackku dengan alat itu dengan tangan kanannya dan kemudian sapuan tangan kirinya menyusul.

Hand-held  metal detector pun berlapis begitu”, gumamku mengagumi ketatnya Narita.

Can me inspect you?”, dia menunjukkan selembar kertas bergambar rangkaian standar pemeriksaan seluruh anggota tubuh dengan cara meraba.

Yes, sure!”, aku melepas winter jacket bekas asal Pasar Baru itu.

Hooohh…you don’t need to take youl jacket off…..Hoooohh…..Do you using t-shilt? Sulely? This is Japan, you will fleeze with your t-shilt…..Hahaha”, dia terkekeh ramah.

Kurentangkan tangan dan dia mulai memeriksa. Oh, sopannya orang itu, untuk memeriksa begitu saja minta izin. Nilai sosial pertama yang kudapat dari Jepang di kunjunganku.

Tapiii…….

Aku mulai bingung dengan semua sistem transportasi negeri itu. Banyak sekali tersedia jenis kereta menuju kota. Mulai dari Narita SKY ACCESS Line, Keisei Main Line atau JR Sobu Line train, namun aku tak pernah tahu dia akan melewati jalur mana menuju Tokyo. Tombol-tombol Ticketing Vending Machine tak mudah kupahami, tak seperti biasanya aku begitu. Aku serasa tertelan kecanggihan negeri itu.

Tarif kereta menuju pusat kota.
Salah satu Ticketing Vending Machine.

Sudahlah….Aku duduk menenangkan diri dahulu di sebuah sofa empuk warna cerah yang diletakkan di sepanjang sisi dari koridor arrival hall yang alasnya didesain seperti lintasan lomba lari. Pintar, menegaskan itu adalah jalur untuk orang berjalan di dalam terminal bandara. Sembari duduk, sedih aku melihat harga makanan di sepanjang food court Narita, mahal minta ampun.

Onigiri….ya….Onigiri, itu yang termurah. Aku harus mencarinya di minimarket”, perut laparku tiba-tiba beride. Aku mulai menapaki “lintasan lari itu” dan dengan cepatnya menemukan gerai Lawson di subuah pojok koridor.

Dasar memalukan!”, aku mengutuki diri sendiri ketika diminta mundur melingkar mengikuti jalur antrian yang sungguh tak kuperhatikan.  Seorang ibu pengantri terdepan tersenyum melihatku mundur melingkar melewati sela-sela rak minimarket.

Aku keluar Lawson dengan sebuah kemenangan karena menemukan makanan murah pertamaku di Jepang. Kuberanikan diri untuk duduk di sebuah meja makan di sekitar food court Narita untuk menyantapnya.

Dua potong onigiri seharga 248 Yen (Rp. 32.000) untuk makan siang waktu itu.
Kenapa ya waktu itu aku memfoto tempat sampah segala….Hadeuh!.

Bus…Ya, bus….Tak usah kau pikirkan kereta termurah ke kota. Bus tetaplah transportasi terhemat di seluruh belahan dunia”, aku terus melihat sekitar mencari konter tiket bus sembari menyelesaikan potongan terakhir onigiriku.

Tak sulit, aku melihat mejanya di ujung kiri depan dari tempatku terduduk. Aku segera menghampiri nona muda penjaga konter dan tak ragu meminta selembar tiket menuju Tokyo.

Youl bus will depalt on 5 minutes…Hully up”, ucapnya ringan ketika menerima Yen dariku. “Sial, cepat amat”, batinku menyembunyikan ketegangan. Aku tak mau berdebat apakah tiketku akan hangus ketika aku tertinggal bus itu, karena jam keberangkatan yang tercantum di LCD meja konter memang jam 11:30.

Tiket airport bus menuju pusat kota seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000).

Dengan cepat aku fokus mencari tanda atau logo bus. Aku menemukan gambar bus itu dan berlari kearahnya. Tak sadar, aku tak memakai winter jacket dan ketika tiba di pintu menuju shelter bus, aku terhenyak. “Gilaaaa” batinku menjerit, udara 2o C itu menembus tulangku tanpa ampun. Sejenak aku tak bisa bernafas. Tergopoh aku kembali memasuki ruangan dan banyak orang memasang muka aneh melihatku. “Please, Donny….Ini bukan daerah  tropis lagi, bodoh”, aku menghela nafas, sejak tadi aku masih berefleks bahwa udara di luar masih sama dengan udara Kuala Lumpur yang tiga hari lalu kukunjungi. Kupakai cepat jaketku dan kutatap dari jauh sopir bus itu yang berdiri di pintu bus belakang. Dia melihat jam tangannya dan menoleh kesana kemari menunggu seseorang. Aku berlari kearahnya. “Come on, Sil….I am waiting fol you”, ucapnya singkat sambil menunjuk pintu depan. Aku melompat di pintu depan dan bersiap menuju Tokyo. Seharusnya aku tak perlu panik, sepertinya dia diberitahu petugas konter bahwa masih ada satu penumpang yang akan menaiki busnya….Dasar ndeso.

Anyway….Welcome Tokyo.

Kisah Setelahnya—->

Namanya Maeda….Vanilla Air JW 130 dari Kaohsiung (KHH) ke Tokyo (NRT)

Jalur pernerbangan Vanilla Air JW 130 (sumber: https://www.radarbox.com/).

Pramugari ayu berbalut seragam biru dengan bunga di selipan telinga kanannya itu terlihat paling muda….Juga paling cantik.  Senyumnya juga paling ceria.  Berambut pendek  kecoklatan sepanjang bahu tetapi sedikit lebih panjang di potongan sisi kirinya dan sudah barang tentu, paras oriental menjadi penyempurna keelokannya.

Namanya Maeda….

Entah, kalau dirunut, dia terletak di silsilah yang mana dengan Tadashi Maeda, seorang Laksamana Muda yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Nama Maeda disejarahkan sebagai sebuah Klan Samurai di Jepang. Memiliki sifat jujur, berani, setia dan memegang teguh komitmen pada kebenaran.

Berburu Yen di Kaohsiung International Airport.
Bersiap check-in.
Yes, boarding pass ditangan.
Menuju gate setelah diinterogasi cukup lama di imigrasi.

Pagi itu, dia menjadi yang tersibuk di atas Laut China Timur. Seorang keluarga asal Tiongkok terlalu keras kepala mengakuisisi deret bangku demi berkumpulnya satu keluarga kecil dalam penerbangan Vanilla Air kali ini. “Si Ayu” Maeda terus membujuknya untuk duduk sesuai nomor yang tertera dalam boarding pass. Ternyata suara lembutnya tak pernah berhasil membujuk keluarga itu untuk berpisah hingga separuh waktu penerbangan. Bahkan Maeda merayunya hingga berjongkok di depan penumpang itu.

Entah kenapa sampai sekarang pun aku masih teringat dengan si Maeda ini,

Maeda menjadi sebuah bonus dari penetapan pilihan pada maskapai yang sebenarnya aku tak mengenal baik sebelumnya. Pencarianku pada situs penyaring penerbangan berdasarkan beberapa kategori, memilihkanku pada maskapai pengakuisisi Air Asia Jepang ini. Di kemudian hari, tiket seharga Rp. 800.000 itu menerbangkanku dari Kaohsiung di Taiwan menuju Tokyo.

Bahkan waktu-waktuku sebelum bertemu Maeda ini tak seindah yang kubayangkan. Aku memaksakan diri tidur semalaman di Kaohiung International Airport di sebuah selasar Departure Hall.

Bangun pagi….Bahkan masih terkantuk pun, karena terbawa obrolan dengan penumpang lain hingga lewat tengah malam, aku bersungut-sungut menuju meja check-in setelah menukarkan sisa New Taiwan Dollarku dengan Yen.  Konter check-in bernomor D18 dengan LCD bercantum nama maskapai menyelesaikan proses itu dengan cepat.

Gate 30, tempat menunggu Vanilla Air JW 130 datang.
Boarding yang membahagiakan.
Cari bangku bernomor 27D.

Masalah lain muncul,

Di meja imigrasi, terjadi agenda klarifikasi segala yang membuatku dipisahkan dari antrian dan di dudukkan pada sebuah bangku di ujung deretan konter.

Why do your visa look like this”, Visa Waiverku dicurigai.

It’s a new waiver visa for Indonesian e-passport holder,Mam”

Wait, let me check to my boss!”.

Wanita muda itu tergopoh meninggalkanku menuju sebuah ruangan. Aku masih tenang saja menantinya kembali, hingga 15 menit lamanya.

Ahh…Aku pasti lolos”, batinku.

Ok, sir, It’s valid”, celotehnya membuyarkan beku mukaku yang sedang mengamati sebuah pojok bangunan terminal.

Setelahnya, dia melepasku untuk memasuki sebuah koridor berplafon lengkung dangan pohon-pohon artifisial di sisi kiri menuju ke gate nomor tiga puluh.

Itu dia “Si Ayu” Maeda.
Disembarkation Card dan Customs Declaration untuk memasuki Jepang.

Lalu bagaimana dengan keluarga Tiongkok yang sedari tadi dibujuk “Si Ayu” Maeda?

Bersyukur, pimpinan pramugari turun tangan membantunya dan berhasil memisahkan keluarga kecil itu sesuai prosedur penerbangan.

Mengesankan! Vanilla Air menjadi maskapai  nomor empat belas dari dua puluh delapan jenis maskapai yang telah kunaiki. Bersyukur tentunya bisa menikmati jasa penerbangan milik anak perusahaan ANA (All Nippon Airways) ini.

Pagi itu pilot menjelaskan ada sedikit badai yang berasal dari Laut Filipina, tapi syukurlah, turbulensi itu tak berlangsung lama dalam perjalanan. Pernebangan menggunakan Airbus A320, sejauh 2.500 Km, berselang tiga jam dengan ketinggian 37.000 feet ini sungguh menyenangkan. Mungkin saja, karena ini adalah titik kulminasiku dalam menjelajah Asia. Siapa sih yang tak berhasrat mengunjungi Negeri Matahari Terbit itu.

Pukul sebelas lebih beberapa menit akhirnya aku tiba Narita International Airport.

Yuk berpetualang di Tokyo!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Kaohsiung ke Tokyo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Setelahnya—->

Cheap Food for Backpacker at Japan.

Japan had been set by me to be my top destination in East Asia after visited Hong Kong, Macao and Shenzen a year earlier.

For a backpacker who concerns with a budget like me, Japan becomes an expensive place that needs some tricks to spend minimal budget for 4 days exploring its magnetism. Japan magnetism has made every traveler are impressed to Japan.

For minimizing hotel budget, I got a free overnight stay at Kansai International Airport and also got a cheap dormitory at Yadoya Guesthouse (in Nakano area) and Kaga Hotel (in Osaka city).

Transportation budget was also helped by Tokunai Pass in Tokyo and One Day Pass in Osaka.

Well, I will tell how I chose some ways to got cheap food in Japan for saved budget. I did it because I has to save a lot of money for visiting another countries in the world to realize my long backpacker mission.

Lunch

When arrived at Narita International Airport on 11:15 then lunch was something that couldn’t be delayed anymore. It wasn’t possible to waited for lunch in Tokyo downtown. After searched it around Narita’s Arrival Hall, I just found some expensive price at food court, I finally pushed  my steps into Lawson. Indeed many cheap onigiris, but single onigiri certainly wasn’t enough for lunch. Finally it was the best option that I took for my menu:Lunch at Narita

Two onigiris with some companion menu for 248 Yen made me enough satisfied.

Dinner 

My thinking way is simple when being backpacker. I will eat on time to avoid sickness during trip. And wherever is it and when eating time comes then I will try to find the cheapest food around me. I don’t need to go back to a certain place for eating. Just calm and eat something as soon as possible.

My dinner happened when I was enjoying Ameyoko (Ameya Yokocho) Market hubbub near Ueno station. When hungry wasn’t unstoppable I finally started to looked for food around it. A lot of Turkish was opening kebab stall, but it seemed less for my portion.

Dinner at 4 degrees Celsius weather would be better if ate hot noodles like it:

Dinner at Yokoco

Spent for 398 Yen and got a bottle of ice water …. made me could sleep so soundly

Breakfast

I had a breakfast near Yadoya Guesthouse in Nakano where I stayed during visiting Tokyo. Walking around home-based restaurant, I just found a relatively expensive menu. Finally I found Family Mart there. 10 slices of onigiri was being my dish

Breakfast Nakano

Simply paid 298 Yen

Menu in Amerikamura, Osaka

A day later, visiting Amerikamura required me to buy a lunch menu before moved towards Namba Parks.

So hard to found cheap food here, but finally I bought a menu at a home-based Japanese restaurant which selling Thai food.

Here was my choice:

Lunch Amerikamura

 

Slightly expensive to spent for 680 Yen. Because of no other options. But the portion was very much for Indonesian liked me ….. I couldn’t breathe because of satiety.

Well for you who have a minimal budget, don’t worry  for visiting Japan. There is always a solution as long as we tricky faced all condition there.

Let’s visit Japan, friends ……

Bus from Narita International Airport to Tokyo Downtown, Japan

December 29th, 2016 at 11:15 am, Vanilla Air smoothly landed at Narita International Airport terminal 3.

My first time visiting Japan made immigration officers spent a lot of time to interogated my itinerary during stayed in Tokyo and Osaka. But completeness of my itinerary made me easily passed immigration counter.

Narita Airport officers politely checked their country guests. For physical checking, they asked for permission by explaining their procedure on a file that was showed to me.

I remembered after physical checking,  a warm smile officer said to me: “Are you sure sir? Entering Tokyo just use t-shirt like it?” …. I tried kindly reply: “No sir, I will use my jacket after get out from airport “.

After ate onigiri as my lunch menu, I immediately moved to tranportation counter area. Trying to quickly understood all of information there.

The conclusion was….I certainly wouldn’t use Narita Sky Access towards downtown. It only takes 36 minutes towards downtown which is 75 km from Narita. But it certainly need more budget … about 1,400 yen for adults and 700 yen for children …. bye bye Narita Sky Access.

Thought twice also if I would use Narita Express. It need 3,020 Yen for using it towards downtown in 1 hour duration.

And although Keisei Main Line is cheaper than 2 other types of trains. Actually it only need to spend 1,190 Yen to downtown. The train is similar to Jabodetabek commuter train (Jakarta Commuter Train). Finally, I still chose the most cheapest transportation mode i.e  bus.

perbandingan harga

 

Fare:  Narita Sky Access Line Vs Keisei Main Line

A. Bus from Narita Airport to Tokyo Downtown 

The cheapest option is expressway bus. Ticket fare is 1,000 yen. I just needed to went to ticket counter in Narita airport then their staff would give it:

Tiket

After got a ticket, I immediately headed to its shelter. Easy enough to found it because direction signs are very informative at Narita airport.

Bus will reach to downtown within 1 hour and mostly pass through higway.

Here are some views during journey to downtown:

View at expressway

Passengers will be dropped off at a shelter near Tokyo Station:

Stasiun Tokyo Dropping Point

 

Left: Dropping point
Right: Front yard of Tokyo station

To continued my trip to hostel and some attractions from Tokyo Station, I bought Tokunai Pass which mostly using on ground train line. So I never used subway in Tokyo.

B. Bus from Downtown to Narita Airport

Reversely, when we will go from downtown to Narita Airport, bus will depart from Tokyo station but it start from different place with the dropping one when I travels to downtown from Narita Airport.

The expressway bus shelter can be found from following sign boards in Tokyo station

Bus Gate Stasiun Tokyo

 

Yaesu Central Side Gate at Tokyo Station

Exit from Tokyo Station through Yaesu Central Side Gate then turn right…. I found Expressway Bus office and shelter:

JR Expressway

Left: Expressway Bus office
Right: Expressway Bus to Narita airport

From here, bus will depart to Narita Airport.

Okay guys … happy trying.