Tokyo Shuttle dari Narita International Airport ke Tokyo

Aku melompat dari pintu depan dan tak lama kemudian wajah-wajah putih bermata sipit  memperhatikan dengan seksama kehadiranku. Senang rasanya aku bisa berbaur dengan kaum menengah di dalam bus itu. Aku bersama seluruh penumpang akan bergerak menuju pusat kota Tokyo. Lalu aku sudah saja mendudukkan diri di baris ketiga dari belakang, sebelah kanan dekat dengan kaca jendela. Aku terbantu dengan keberadaan soket elektrik untuk menambah daya gawai pintarku, tetapi sayang Wi-Fi itu tak bisa kumanfaatkan.

Kotak transportasi dengan warna kombinasi sepadan hijau putih itu konsisten menyemburkan campuran emisi dan uap air dari knalpotnya di limit beku udara Narita. Warna nama kombinasi merah-hijau sangat mencolok untuk mengingat brand moda transportasi yang satu kepemilikan dengan perusahaan kereta api swasta raksasa di dua prefektur yaitu Chiba dan Tokyo. Keisei nama perusahaan transportasi itu.

Tokyo Shuttle” begitu nama bus itu, akan merayap selama satu jam menuju Distrik Chiyoda dimana Stasiun Tokyo berada. Menyusuri jalanan kota sejauh 65 Km, bus melewati  Keisei Narita Avenue.

Keisei Narita Avenue.
JR Bus Kanto melintas.
Willer Express Bus mengejar.

Antar ruas jalan tol itu berbataskan guard rail dan setiap ruasnya hanya bersusun dua jalur. Jalan tol antar distrik yang biasa saja. Sebagian pepohonan yang tampak gersang akibat dormancy  menjadi pemandangan yang sering dalam perjalanan ini, menyisakah jari jemari dahan yang menunjuki langit.

Sementara sutet-sutet raksasa berjarak konsisten mengangkangi tol, mengalirkan listrik antar kota dengan gagahnya. Masuk lebih jauh, perjalanan mulai mempertontonkan kanal-kanal lebar dan bersih terawat dengan beberapa apartemen rendah, sedang dan tinggi pada jarak yang tak bisa dibilang rapat.

Ketika sebagian besar penumpang terlelap dan tertelan laju bus itu, fikiranku semakin runyam. Aku tak bisa menikmati injakan halus pedal gas sang sopir yang berhasil menyirap semua penumpangnya itu.

Apakah nanti akan semudah membalikkan telapak tangan saat mencari kereta ke Nakano?”.

“Bagaimana mencari tombol untuk membeli one day pass di stasiun nanti?”.

Bisakah aku menahan hawa dingin mencekat ini di luar sana?”

Aku tenggelam dalam kegelisahanku sendiri sepanjang perjalanan. Tak mampu menikmati dengan sepenuh hati pemandangan indah di luar sana. Padahal, bukannya selama ini aku merindukan Jepang. Duh….

Semakin pendek jarak dengan pusat kota, pemandangan berganti. Kanal-kanal yang masih saja bersih di jejali dengan bangunan-bangunan apartemen dan perkantoran yang berbaris rapat menongkrongi sepanjang kanal. Tapi tetap saja, semua tampak rapi, bersih dan teratur. Sungguh beradab bangsa itu.

Aku tiba di Stasiun Tokyo dan diturunkan di halte bus berbentuk persegi panjang dengan 5 kaki yang diletakkan pada dua sisinya saja, di pinggir Sotobori-dori Avenue tepat di depan Tekko Building. Aku tak pernah menemukan petunjuk pasti menuju gerbang stasiun itu.

Bahkan belum juga mencari petunjuk pun, aku sudah bersusah payah melawan udara musim dingin Jepang. Menjadi semakin heran kenapa penduduk setempat berlalu lalang begitu saja dengan selapis baju kantoran, tanpa sarung tangan, tanpa penutu kepala dan telinga. Berbeda denganku yang sudah berjaket lapis dua dengan tambahan t-shirt di lapisan pertama bajuku, winter gloves dan earmuffs. Masih saja aku bergetar melawan suhu beku itu.

Aku terus menyusuri jalan tanpa petunjuk latin itu. Hingga kutemukan tulisan latin pertama semenjak aku turun dari JR Bus Kanto. “Tokyo Station”, pelan kubaca signboard besar di atas bangunan stasiun. “TOKYO STATION Yaesu North Entrance”.

Mari menuju Nakano.

Kufikir lebih baik aku segera memasuki stasiun dan mencari kehangatan daripada  membeku di luaran sana.

Saatnya berfikir untuk menuju Nakano.

I am Waiting for You: Narita International Airport

Ketika “Si Ayu Maeda” berdiri dan mengangkat mikrofon, itulah momen bahagia bagiku. Aku tahu, dia akan memberitahukan bahwa Vanilla Air JW 130 segera mendarat di Narita International Airport. Bagaimana tak bahagia, Jepang yang sedari dulu hanyalah angan dan menjadi sesuatu yang tak terpikirkan tergapai, akhirnya berlabuh juga aku di gerbangnya. Hasrat akan Jepang juga disebabkan oleh kebodohanku sendiri yang menyiksa diri dengan tak segera mengunjungi negeri itu setelah memahami ritme dan kebiasaan dunia backpacker. Aku lebih berego untuk menyisir Asia Tenggara selama 3 tahun, bahkan edisi perdana ke Asia Timur pun lebih memilih Hong Kong, China dan Macau sebagai tujuan perdana. Jepang sengaja menjadi dessert petualanganku di Asia Timur. Ya benar….Negeri itu menjadi puncaknya bersama Korea Selatan. Menjadikan kisah kali ini terasa spesial.

Melekatnya aerobridge di pintu pesawat menjadi penanda langkah pertamaku menjejak Jepang. Terminal 3 Narita International  Airport menyambut hangat walau kutahu suhu di luar ruangan mencapai 2o Celcius….”Mudah-mudahan darah tak mengalir dari hidungku”, gumam pertamaku ketika menyusuri garbarata.

Nervous dan takut, itulah yang kurasa ketika menyusuri arrival hall menuju konter imigrasi. “Bagaimana jika mereka memeriksa jumlah uang yang kubawa?”, “Bagaimana jika mereka menolakku masuk ke kota?”….Kecamuk amatiran itu masih saja menghantui. Maklum, bagiku Jepang serasa beda kasta.

Is this your filst time in visiting Japan?”, wajahnya datar tapi tak sangar menyidikku.

Yes, Sir”.

How long will you  stay in Japan?”, pertanyaan standar.

4 days, Sir

Hoooohhh….Just foul days. Very sholt time”, dia masih membolak-balik detail pasporku, melihat rekam jejak petualanganku.

Ale you alone?”, mulai menaruh paspor di sebelah kanan tangannya dan fokus bercakap denganku.

Duh alamat….Jangan sampai dia nanyain uang sakuku”, aku membatin pucat.

Okay, what will you do in Japan?” mulai menginterogasi.

!@#$%….^&*()?…..,”:}{[]/”, tanganku bergerak kesana kemari sembari bercerita panjang lebar tentang semua rencanaku. Aku menjadi tak khawatir sedikitpun karena akulah pembuat itinerary yang bisa diandalkan…..Yup, itinerary yang kelewat ngirit.

Good….Good….Good, nice toulist”, sekelumit sunggingan senyum sempat kulihat walau dia segera menyembunyikan. Petugas imigrasi memang begitu, pasang tampang galak adalah prosedur pertama.

Do you bling your itinelaly?”, pertahanan terakhirnya, sepertinya aku akan dengan mudah menjebolnya.

This is, Sir”, dengan muka cerah, aku menyerahkan enam lembar itinerary, lengkap dengan detail waktu, tempat yang akan kukunjungi, biaya yang akan dikeluarkan, dan alamat setiap destinasi ada di dalamnya. Dia sudah kukalahkan dengan telak.

Hoooohh….You will go to Osaka too”, manggut-manggut tapi masih saja membaca lembar demi lembar.

Yes, Sir. That’s nice city to visit”.

Yes…yes..yes….Good, welcome to Japan”, dia membuka kembali pasporku dan menaruh arrival stamp di atas visa waiver mungil berwarna pink itu.

Yesssssss….Aku masuk Jepang.

Uppsss….Pemeriksaan belum selesai rupanya.

Stop, please!”, lelaki paruh baya berjaket hitam dengan resleting yang dibiarkan terbuka sehingga terlihat jelas sweater abu-abu tebalnya menghadang langkahku.

Put your bag….Thele!”, dia menunjuk tempat menaruh tas sembari menenteng dua hand-held metal detector di kedua tangannya. Tanpa basa-basi dia menyapu backpackku dengan alat itu dengan tangan kanannya dan kemudian sapuan tangan kirinya menyusul.

Hand-held  metal detector pun berlapis begitu”, gumamku mengagumi ketatnya Narita.

Can me inspect you?”, dia menunjukkan selembar kertas bergambar rangkaian standar pemeriksaan seluruh anggota tubuh dengan cara meraba.

Yes, sure!”, aku melepas winter jacket bekas asal Pasar Baru itu.

Hooohh…you don’t need to take youl jacket off…..Hoooohh…..Do you using t-shilt? Sulely? This is Japan, you will fleeze with your t-shilt…..Hahaha”, dia terkekeh ramah.

Kurentangkan tangan dan dia mulai memeriksa. Oh, sopannya orang itu, untuk memeriksa begitu saja minta izin. Nilai sosial pertama yang kudapat dari Jepang di kunjunganku.

Tapiii…….

Aku mulai bingung dengan semua sistem transportasi negeri itu. Banyak sekali tersedia jenis kereta menuju kota. Mulai dari Narita SKY ACCESS Line, Keisei Main Line atau JR Sobu Line train, namun aku tak pernah tahu dia akan melewati jalur mana menuju Tokyo. Tombol-tombol Ticketing Vending Machine tak mudah kupahami, tak seperti biasanya aku begitu. Aku serasa tertelan kecanggihan negeri itu.

Tarif kereta menuju pusat kota.
Salah satu Ticketing Vending Machine.

Sudahlah….Aku duduk menenangkan diri dahulu di sebuah sofa empuk warna cerah yang diletakkan di sepanjang sisi dari koridor arrival hall yang alasnya didesain seperti lintasan lomba lari. Pintar, menegaskan itu adalah jalur untuk orang berjalan di dalam terminal bandara. Sembari duduk, sedih aku melihat harga makanan di sepanjang food court Narita, mahal minta ampun.

Onigiri….ya….Onigiri, itu yang termurah. Aku harus mencarinya di minimarket”, perut laparku tiba-tiba beride. Aku mulai menapaki “lintasan lari itu” dan dengan cepatnya menemukan gerai Lawson di subuah pojok koridor.

Dasar memalukan!”, aku mengutuki diri sendiri ketika diminta mundur melingkar mengikuti jalur antrian yang sungguh tak kuperhatikan.  Seorang ibu pengantri terdepan tersenyum melihatku mundur melingkar melewati sela-sela rak minimarket.

Aku keluar Lawson dengan sebuah kemenangan karena menemukan makanan murah pertamaku di Jepang. Kuberanikan diri untuk duduk di sebuah meja makan di sekitar food court Narita untuk menyantapnya.

Dua potong onigiri seharga 248 Yen (Rp. 32.000) untuk makan siang waktu itu.
Kenapa ya waktu itu aku memfoto tempat sampah segala….Hadeuh!.

Bus…Ya, bus….Tak usah kau pikirkan kereta termurah ke kota. Bus tetaplah transportasi terhemat di seluruh belahan dunia”, aku terus melihat sekitar mencari konter tiket bus sembari menyelesaikan potongan terakhir onigiriku.

Tak sulit, aku melihat mejanya di ujung kiri depan dari tempatku terduduk. Aku segera menghampiri nona muda penjaga konter dan tak ragu meminta selembar tiket menuju Tokyo.

Youl bus will depalt on 5 minutes…Hully up”, ucapnya ringan ketika menerima Yen dariku. “Sial, cepat amat”, batinku menyembunyikan ketegangan. Aku tak mau berdebat apakah tiketku akan hangus ketika aku tertinggal bus itu, karena jam keberangkatan yang tercantum di LCD meja konter memang jam 11:30.

Tiket airport bus menuju pusat kota seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000).

Dengan cepat aku fokus mencari tanda atau logo bus. Aku menemukan gambar bus itu dan berlari kearahnya. Tak sadar, aku tak memakai winter jacket dan ketika tiba di pintu menuju shelter bus, aku terhenyak. “Gilaaaa” batinku menjerit, udara 2o C itu menembus tulangku tanpa ampun. Sejenak aku tak bisa bernafas. Tergopoh aku kembali memasuki ruangan dan banyak orang memasang muka aneh melihatku. “Please, Donny….Ini bukan daerah  tropis lagi, bodoh”, aku menghela nafas, sejak tadi aku masih berefleks bahwa udara di luar masih sama dengan udara Kuala Lumpur yang tiga hari lalu kukunjungi. Kupakai cepat jaketku dan kutatap dari jauh sopir bus itu yang berdiri di pintu bus belakang. Dia melihat jam tangannya dan menoleh kesana kemari menunggu seseorang. Aku berlari kearahnya. “Come on, Sil….I am waiting fol you”, ucapnya singkat sambil menunjuk pintu depan. Aku melompat di pintu depan dan bersiap menuju Tokyo. Seharusnya aku tak perlu panik, sepertinya dia diberitahu petugas konter bahwa masih ada satu penumpang yang akan menaiki busnya….Dasar ndeso.

Anyway….Welcome Tokyo.

Namanya Maeda….Vanilla Air JW 130 dari Kaohsiung (KHH) ke Tokyo (NRT)

Jalur pernerbangan Vanilla Air JW 130 (sumber: https://www.radarbox.com/).

Pramugari ayu berbalut seragam biru dengan bunga di selipan telinga kanannya itu terlihat paling muda….Juga paling cantik.  Senyumnya juga paling ceria.  Berambut pendek  kecoklatan sepanjang bahu tetapi sedikit lebih panjang di potongan sisi kirinya dan sudah barang tentu, paras oriental menjadi penyempurna keelokannya.

Namanya Maeda….

Entah, kalau dirunut, dia terletak di silsilah yang mana dengan Tadashi Maeda, seorang Laksamana Muda yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Nama Maeda disejarahkan sebagai sebuah Klan Samurai di Jepang. Memiliki sifat jujur, berani, setia dan memegang teguh komitmen pada kebenaran.

Berburu Yen di Kaohsiung International Airport.
Bersiap check-in.
Yes, boarding pass ditangan.
Menuju gate setelah diinterogasi cukup lama di imigrasi.

Pagi itu, dia menjadi yang tersibuk di atas Laut China Timur. Seorang keluarga asal Tiongkok terlalu keras kepala mengakuisisi deret bangku demi berkumpulnya satu keluarga kecil dalam penerbangan Vanilla Air kali ini. “Si Ayu” Maeda terus membujuknya untuk duduk sesuai nomor yang tertera dalam boarding pass. Ternyata suara lembutnya tak pernah berhasil membujuk keluarga itu untuk berpisah hingga separuh waktu penerbangan. Bahkan Maeda merayunya hingga berjongkok di depan penumpang itu.

Entah kenapa sampai sekarang pun aku masih teringat dengan si Maeda ini,

Maeda menjadi sebuah bonus dari penetapan pilihan pada maskapai yang sebenarnya aku tak mengenal baik sebelumnya. Pencarianku pada situs penyaring penerbangan berdasarkan beberapa kategori, memilihkanku pada maskapai pengakuisisi Air Asia Jepang ini. Di kemudian hari, tiket seharga Rp. 800.000 itu menerbangkanku dari Kaohsiung di Taiwan menuju Tokyo.

Bahkan waktu-waktuku sebelum bertemu Maeda ini tak seindah yang kubayangkan. Aku memaksakan diri tidur semalaman di Kaohiung International Airport di sebuah selasar Departure Hall.

Bangun pagi….Bahkan masih terkantuk pun, karena terbawa obrolan dengan penumpang lain hingga lewat tengah malam, aku bersungut-sungut menuju meja check-in setelah menukarkan sisa New Taiwan Dollarku dengan Yen.  Konter check-in bernomor D18 dengan LCD bercantum nama maskapai menyelesaikan proses itu dengan cepat.

Gate 30, tempat menunggu Vanilla Air JW 130 datang.
Boarding yang membahagiakan.
Cari bangku bernomor 27D.

Masalah lain muncul,

Di meja imigrasi, terjadi agenda klarifikasi segala yang membuatku dipisahkan dari antrian dan di dudukkan pada sebuah bangku di ujung deretan konter.

Why do your visa look like this”, Visa Waiverku dicurigai.

It’s a new waiver visa for Indonesian e-passport holder,Mam”

Wait, let me check to my boss!”.

Wanita muda itu tergopoh meninggalkanku menuju sebuah ruangan. Aku masih tenang saja menantinya kembali, hingga 15 menit lamanya.

Ahh…Aku pasti lolos”, batinku.

Ok, sir, It’s valid”, celotehnya membuyarkan beku mukaku yang sedang mengamati sebuah pojok bangunan terminal.

Setelahnya, dia melepasku untuk memasuki sebuah koridor berplafon lengkung dangan pohon-pohon artifisial di sisi kiri menuju ke gate nomor tiga puluh.

Itu dia “Si Ayu” Maeda.
Disembarkation Card dan Customs Declaration untuk memasuki Jepang.

Lalu bagaimana dengan keluarga Tiongkok yang sedari tadi dibujuk “Si Ayu” Maeda?

Bersyukur, pimpinan pramugari turun tangan membantunya dan berhasil memisahkan keluarga kecil itu sesuai prosedur penerbangan.

Mengesankan! Vanilla Air menjadi maskapai  nomor empat belas dari dua puluh delapan jenis maskapai yang telah kunaiki. Bersyukur tentunya bisa menikmati jasa penerbangan milik anak perusahaan ANA (All Nippon Airways) ini.

Pagi itu pilot menjelaskan ada sedikit badai yang berasal dari Laut Filipina, tapi syukurlah, turbulensi itu tak berlangsung lama dalam perjalanan. Pernebangan menggunakan Airbus A320, sejauh 2.500 Km, berselang tiga jam dengan ketinggian 37.000 feet ini sungguh menyenangkan. Mungkin saja, karena ini adalah titik kulminasiku dalam menjelajah Asia. Siapa sih yang tak berhasrat mengunjungi Negeri Matahari Terbit itu.

Pukul sebelas lebih beberapa menit akhirnya aku tiba Narita International Airport.

Yuk berpetualang di Tokyo!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Kaohsiung ke Tokyo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Cheap Food for Backpacker at Japan.

Japan had been set by me to be my top destination in East Asia after visited Hong Kong, Macao and Shenzen a year earlier.

For a backpacker who concerns with a budget like me, Japan becomes an expensive place that needs some tricks to spend minimal budget for 4 days exploring its magnetism. Japan magnetism has made every traveler are impressed to Japan.

For minimizing hotel budget, I got a free overnight stay at Kansai International Airport and also got a cheap dormitory at Yadoya Guesthouse (in Nakano area) and Kaga Hotel (in Osaka city).

Transportation budget was also helped by Tokunai Pass in Tokyo and One Day Pass in Osaka.

Well, I will tell how I chose some ways to got cheap food in Japan for saved budget. I did it because I has to save a lot of money for visiting another countries in the world to realize my long backpacker mission.

Lunch

When arrived at Narita International Airport on 11:15 then lunch was something that couldn’t be delayed anymore. It wasn’t possible to waited for lunch in Tokyo downtown. After searched it around Narita’s Arrival Hall, I just found some expensive price at food court, I finally pushed  my steps into Lawson. Indeed many cheap onigiris, but single onigiri certainly wasn’t enough for lunch. Finally it was the best option that I took for my menu:Lunch at Narita

Two onigiris with some companion menu for 248 Yen made me enough satisfied.

Dinner 

My thinking way is simple when being backpacker. I will eat on time to avoid sickness during trip. And wherever is it and when eating time comes then I will try to find the cheapest food around me. I don’t need to go back to a certain place for eating. Just calm and eat something as soon as possible.

My dinner happened when I was enjoying Ameyoko (Ameya Yokocho) Market hubbub near Ueno station. When hungry wasn’t unstoppable I finally started to looked for food around it. A lot of Turkish was opening kebab stall, but it seemed less for my portion.

Dinner at 4 degrees Celsius weather would be better if ate hot noodles like it:

Dinner at Yokoco

Spent for 398 Yen and got a bottle of ice water …. made me could sleep so soundly

Breakfast

I had a breakfast near Yadoya Guesthouse in Nakano where I stayed during visiting Tokyo. Walking around home-based restaurant, I just found a relatively expensive menu. Finally I found Family Mart there. 10 slices of onigiri was being my dish

Breakfast Nakano

Simply paid 298 Yen

Menu in Amerikamura, Osaka

A day later, visiting Amerikamura required me to buy a lunch menu before moved towards Namba Parks.

So hard to found cheap food here, but finally I bought a menu at a home-based Japanese restaurant which selling Thai food.

Here was my choice:

Lunch Amerikamura

 

Slightly expensive to spent for 680 Yen. Because of no other options. But the portion was very much for Indonesian liked me ….. I couldn’t breathe because of satiety.

Well for you who have a minimal budget, don’t worry  for visiting Japan. There is always a solution as long as we tricky faced all condition there.

Let’s visit Japan, friends ……

Bus from Narita International Airport to Tokyo Downtown, Japan

December 29th, 2016 at 11:15 am, Vanilla Air smoothly landed at Narita International Airport terminal 3.

My first time visiting Japan made immigration officers spent a lot of time to interogated my itinerary during stayed in Tokyo and Osaka. But completeness of my itinerary made me easily passed immigration counter.

Narita Airport officers politely checked their country guests. For physical checking, they asked for permission by explaining their procedure on a file that was showed to me.

I remembered after physical checking,  a warm smile officer said to me: “Are you sure sir? Entering Tokyo just use t-shirt like it?” …. I tried kindly reply: “No sir, I will use my jacket after get out from airport “.

After ate onigiri as my lunch menu, I immediately moved to tranportation counter area. Trying to quickly understood all of information there.

The conclusion was….I certainly wouldn’t use Narita Sky Access towards downtown. It only takes 36 minutes towards downtown which is 75 km from Narita. But it certainly need more budget … about 1,400 yen for adults and 700 yen for children …. bye bye Narita Sky Access.

Thought twice also if I would use Narita Express. It need 3,020 Yen for using it towards downtown in 1 hour duration.

And although Keisei Main Line is cheaper than 2 other types of trains. Actually it only need to spend 1,190 Yen to downtown. The train is similar to Jabodetabek commuter train (Jakarta Commuter Train). Finally, I still chose the most cheapest transportation mode i.e  bus.

perbandingan harga

 

Fare:  Narita Sky Access Line Vs Keisei Main Line

A. Bus from Narita Airport to Tokyo Downtown 

The cheapest option is expressway bus. Ticket fare is 1,000 yen. I just needed to went to ticket counter in Narita airport then their staff would give it:

Tiket

After got a ticket, I immediately headed to its shelter. Easy enough to found it because direction signs are very informative at Narita airport.

Bus will reach to downtown within 1 hour and mostly pass through higway.

Here are some views during journey to downtown:

View at expressway

Passengers will be dropped off at a shelter near Tokyo Station:

Stasiun Tokyo Dropping Point

 

Left: Dropping point
Right: Front yard of Tokyo station

To continued my trip to hostel and some attractions from Tokyo Station, I bought Tokunai Pass which mostly using on ground train line. So I never used subway in Tokyo.

B. Bus from Downtown to Narita Airport

Reversely, when we will go from downtown to Narita Airport, bus will depart from Tokyo station but it start from different place with the dropping one when I travels to downtown from Narita Airport.

The expressway bus shelter can be found from following sign boards in Tokyo station

Bus Gate Stasiun Tokyo

 

Yaesu Central Side Gate at Tokyo Station

Exit from Tokyo Station through Yaesu Central Side Gate then turn right…. I found Expressway Bus office and shelter:

JR Expressway

Left: Expressway Bus office
Right: Expressway Bus to Narita airport

From here, bus will depart to Narita Airport.

Okay guys … happy trying.

Makanan Murah untuk Backpacker di Jepang.

Jepang memang sudah saya setting menjadi destinasi puncak di kawasan Asia Timur, setelah setahun sebelumnya berhasil menapakkan kaki di Hong Kong, Macao dan Shenzen.

Buat seorang backpacker yang concern dengan budget seperti saya, Jepang menjadi tempat mahal yang perlu banyak disiasati walau hanya sekedar 4 hari menjelajahi daya magis Jepang yang membuat para traveler terkesima akan negeri itu.

Masalah hotel sudah tersiasati dengan menginap gratis semalam di Kansai International Airport dan mendapatkan dormitory murah di Yadoya Guesthouse (di daerah Nakano) dan Kaga Hotel (di kota Osaka).

Masalah transportasi juga tersiasati dengan kartu ajaib Tokunai Pass di Tokyo dan One Day Pass di Osaka.

Nah, kali ini saya akan membahas bagaimana mensiasti cara makan di Jepang yang pernah saya lakukan untuk menghemat budget. Saya sengaja melakukan ini karena harus banyak berhemat dan banyak menabung demi niat mengunjungi berbagai belahan dunia dalam jangka Panjang misi backpacker saya.

Menu Makan Siang

Ketika tiba di Narita International Airport pukul 11:15 maka lunch adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. Sudah tidak memungkinkan menunggu lunch hingga ke tengah kota Tokyo. Setelah keliling Arrival Hall Narita, melihat beragam harga yang begitu mahal di food court setempat, akhirnya Saya mendorong langkah kaki untuk masuk ke Lawson. Memang banyak beberapa pilihan murah onigiri, tetapi satu buah onigiri tentu tidak mampu membendung porsi wajar makan siangku. Akhirnya inilah pilihan terbaik yang Saya ambil untuk menu siang kala itu:

Lunch at Narita

Dua onigiri beserta menu pendamping seharga 248 Yen atau sekitar Rp 32.240 cukup membuat kenyang perut siang itu.

Menu Makan Malam

Cara berfikir saya sederhana ketika sedang backpackeran. Saya akan makan tepat waktu untuk menghindari sakit selama perjalanan. Dan dimanapun saat itu berada dan ketika waktu makan tiba maka Saya akan berusaha mencari makan terhemat disekitar tempat itu. Tidak perlu kembali lagi ke tempat tertentu untuk menyantap sebuah makanan….keburu lapar…hahaha

Makan malam ini terjadi ketika Saya sedang menikmati keriuhan Ameyoko (Ameya Yokocho) Market di dekat stasiun Ueno. Ketika lapar sudah tak tebendung akhirnya Saya mulai menyisir menu di sekitar pasar ini. Banyak orang Turki yang membuka kedai kebab di daerah ini, tetapi sepertinya kurang nendang kalau hanya sekedar makan kebab.

Dinner di suhu 4 derajat Celcius akan lebih enak jika makan mie berkuah panas seperti ini:

Dinner at Yokoco

Cukup merogoh kocek 398 Yen atau sekitar Rp. 51.740 dapat bonus air es seteko yang akhirnya Saya habiskan….bisa membuat tidur malam itu begitu nyenyak…hahaha

Menu Sarapan

Sarapan ini Saya beli di sekitar Yadoya Guesthouse di Nakano, tempat dimana Saya menginap selama di Tokyo. Berjalan di sekitar restoran rumahan Tokyo yang menawarkan menu relatif mahal buat kantongku. Akhirnya Saya menemukan Family Mart di dalam perkampungan. 10 slice onigiri inilah yang menjadi menu pagi itu

Breakfast Nakano

Cukup membayar 298 Yen atau sekitar Rp. 38.740. Cukup buat modal keliling Tokyo di hari kedua selama 6 jam kedepan.

Menu di Amerikamura, Osaka

Sehari setelahnya, menginjakkan kaki siang itu di Amerikamura mengharuskan Saya membeli makan siang sebelum meninggalkan kawasan itu untuk menuju Namba Parks.

Begitu susah mencari makan murah disini, tetapi akhirnya Saya mengambil jalan tengah untuk mengambil menu di rumah makan rumahan warga Jepang yang menjual menu makanan khas Thailand.

Inilah pilihan saya :

Lunch Amerikamura

Sedikit mahal karena harus mengeluarkan 680 Yen atau sekitar Rp. 88.400. Karena tidak ada pilihan murah yang lain. Tapi ini porsinya sangat banyak untuk ukuran orang Indonesia…..Saya sampai tidak bisa bernafas karena kekenyangan.

Nah buat kalian yang mempunyai budget minim tidak perlu khawatir mengunjungi negeri matahari terbit ini. Selalu ada solusi asalkan jeli melihat kondisi di tempat tujuan.

Mari Kunjungi Jepang, teman……

Bus dari Narita International Airport ke Pusat KotaTokyo – Jepang

29 Desember 2016 pukul 11:15, Vanilla Air mendarat mulus di Narita International Airport terminal 3.

Pertama kali mengunjungi Jepang membuat petugas imigrasi meluangkan banyak waktu untuk menanyakan itinerary selama berada di Tokyo dan Osaka. Kelengkapan itinerary memudahkanku melewati konter imigrasi.

Petugas di bandara Narita memang sangat santun memeriksa tamu untuk negerinya. Untuk melakukan pemeriksaan fisik saja mereka meminta izin dengan menjelaskan sesuai prosedur yang terpampang dengan rapi pada file yang dia tunjukkan ke saya.

Satu yang saya ingat setelah pemeriksaan fisik itu ada senyuman hangat petugas sambil berujar : “Are you sure Sir? entering Tokyo just use t-shirt like it?“….Saya berusaha ramah membalas: “No Sir, I will use my jacket after get out from airport“.

Setelah menyantap onigiri sebagai menu lunch siang itu, saya segera beranjak untuk menuju area konter transportasi. Berusaha memahami dengan cepat segala informasi yang ada di area tersebut.

Yang jelas, saya tentu tidak akan menggunakan Narita Sky Access untuk menuju pusat kota Tokyo. Konon hanya butuh 36 menit menuju pusat kota yang berjarak 75km menggunakan kereta ini tetapi tentu butuh kocek lebih….sekitar 1.400 yen untuk dewasa dan 700 yen untuk anak-anak….bye bye Narita Sky Access.

Berfikir dua kali juga jika akan menggunakan Narita Express. Butuh 3.020 yen menggunakan kereta jenis ini menuju Tokyo dalam 1 jam durasi.

Dan walaupun Keisei Main Line, lebih murah dari 2 kereta jenis lain. Sebetulnya hanya perlu merogoh kocek 1.190 yen menuju Tokyo. Kereta ini mirip dengan kereta komuter Jabodetabek. Tetap saja saya memilih moda transportasi terhemat yaitu bus.

perbandingan harga

Harga Narita Sky Access Line Vs Keisei Main Line

A. Bus dari Bandara Narita menuju Pusat Kota Tokyo.

Pilihan terhemat tentu menggunakan bus. Tiketnya berharga 1.000 yen. Hanya perlu menuju konter penjualan tiket bus di bandara Narita kemudian petugas akan memberikan tiket ini:

Tiket

Setelah mendapatkan tiket, Saya segera menuju ke titik pengambilan penumpang. Cukup mudah untuk menemukannya karena petunjuk di bandara Narita sangat informatif.

Bus akan sampai ke pusat kota Tokyo dalam waktu 1 jam dan sebagian besar melewati ruas jalan tol.

Berikut beberapa view selama perjalanan menuju pusat kota Tokyo:

View at expressway

Penumpang akan di turunkan di pemberhentian bus dekat dengan stasiun Tokyo:

Stasiun Tokyo Dropping Point

Kiri: Dropping point

Kanan: Halaman depan stasiun Tokyo

Untuk melanjutkan tujuan menuju ke hostel atau tempat wisata lainnya dari Stasiun Tokyo, saya menggunakan Tokunai Pass yang sebagian besar menggunakan jaringan kereta yang berjalan diatas tanah. Jadi saya tidak pernah menggunakan jaringan kereta bawah tanah selama di Tokyo.

B. Bus dari Pusat Kota Tokyo menuju Bandara Narita.

Nah ketika akan melakukan perjalanan sebaliknya dari pusat kota Tokyo menuju Bandara Narita, bus juga akan berangkat dari Stasiun Tokyo tetapi berbeda dengan tempat dropping ketika saya memasuki kota Tokyo dari Bandara Narita.

Lokasi pengambilan penumpang expressway bus ini bisa ditemukan dari petunjuk yang terpampang jelas di dalam stasiun Tokyo

Bus Gate Stasiun Tokyo

Yaesu Central Side Gate di Stasiun Tokyo

Keluar dari Stasiun Tokyo di Yaesu Central Side Gate lalu berbelok ke kanan maka saya menemukan kantor beserta shelter Expressway Bus:

JR Expressway

Kiri: Kantor expressway bus 

Kanan: Expressway Bus tujuan bandara Narita

dari sinilah bus akan bertolak menuju Bandara Narita.

Okay guys…selamat mencoba.