JR Kansai Airport Rapid Service: Stasiun Shin-imamiya ke Kansai Airport Station

<—-Kisah Sebelumnya

Lelapan hari pertama tahun baru, masih membalut erat kedua mata. Membalas dendam kebekuan badan tadi malam saat perayaan malam pergantian tahun di Dōtonbori Canal dengan kehangatan selimut Hotel Kaga menjadi sesuatu yang kuanggap impas. Namun akhirnya, hanya satu hal yang mampu memaksa mata untuk tak lagi terpejam, yaitu penerbangan Air Busan BX 123 tepat pukul 11:00, karena seperti biasa, untuk penerbangan internasional, empat jam sebelum waktu terbang aku akan memulai perjalanan menuju bandara.

Hampir pukul tujuh, aku melompat bangun, menyambar handuk putih milik hotel, bathroom amenities dan segera beranjak keluar kamar menuju shared bathroom di ujung lorong. Kamar mandi Hotel Kaga cukuplah luas untuk ukuran backpacker. Berwujud ruang dua sekat, yaitu sekat dengan kaca dan wastafel serta kapsul mandi dengan shower air hangat. Berlama-lama di bawah shower air hangat adalah kebiasaan burukku, karena air hangat sangat efektif mengusir keletihan otot kaki yang merupakan aset utamaku dalam setiap perjalanan….Yups, apalagi kalau bukan untuk berjalan berpuluh-puluh kilometer sepanjang petualangan.

Usai mandi, aku dengan cueknya melintasi koridor hotel hanya dengan berbalut handuk dan sandal jepit. Menjadikan beberapa tamu hotel yang lewat melihat heran. “Ah, ketemu cuma sekali ini….Biarin saja”, batinku mulai iseng.

Di dalam kamar aku segera berbenah, memakai t-shirt berangkap long john hitam, celana panjang katun penyimpan suhu tubuh, sepasang sepatu boots dan mulai mengepak semua barang ke dalam backpack Eiger 45L berwarna biru yang kupinjam dari teman sekantor (parah, backpack aja pinjem).

Aku turun ke lobby menggunakan lift dan segera menyerahkan kunci kamar di meja resepsinonis.

Thank you for staying at our hotel. Have a nice trip, Sir”, resepsionis yang masih sama, bertugas dari semalam, melempar senyum sembari menyerahkan uang deposit padaku.

You’re welcome. Very happy to stay at Hotel Kaga …. A good hotel“, Aku menjawab sekenanya. “See you, Sir“”.

See you”, dia melambaikan tangan dan masih tersenyum.

Aku kembali turun ke jalanan menuju Stasiun Shin-imamiya, stasiun yang menjadi tempat hinggap pertama kali ketika aku memasuki pusat kota Osaka. Hanya stasiun itulah yang terdekat dari hotel dan dilewati kereta Nankai-Kuko Line menuju Kansai International Airport (KIX).

Gang-gang selebar lima meter mulai bergeliat, menyisakan sisa peryaan tahun baru semalam. Aku menyusur beberapa gang dengan cepat tanpa menikmati suasana, toh aku sudah beberapa kali melewatnya. Mengambil tembusan ke Abiko-suji Avenue, aku tiba di Stasiun Shin-imamiya dalam lima menit semenjak meninggalkan hotel.

Memasuki gerbang stasiun, mataku langsung menyisir keberadaan ticketing vending machine. Aku mendapatkannya dengan mudah. Tiket senilai 1.060 Yen (Rp. 145.000) akhirnya berada dalam genggaman dan aku segera merapat ke plafform JR Kansai Airport Rapid Service.

Tiket JR Kansai Airport Rapid Service.

Kereta layanan bandara itu tiba tepat waktu, aku memasuki salah satu gerbongnya dan tak lama setela terduduk, kereta itu melaju. Aku kembali menikmati ulang perjalanan seperti saat pertama menumpang kereta yang sama setiba di Osaka. Pemandangan pertama yang tersaji adalah suasana daerah urban padat bangunan di Distrik Kota Nishinari, Sumiyoshi dan Suminoe. Setalah melintas Yamoto River suasana berganti menjadi daerah lahan pertanian di daerah Kishiwada dan Izumisano. Kemudian kereta melintas lautan di Osaka Bay setelah sedikit mendaki jalur layang di Rinku Town. Setelah melintas jembatan laut sepanjang lima kilometer maka kereta tiba di Kansai-Airport Station.

Daerah urban di Osaka.

Begitu kereta merapat di platform, aku segera melompat keluar gerbong menuju departure hall Kansai International Airport, si pemenang Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

Satu tujuan pertama setiba di bandara….Yes, money changer.

Kisah Selanjutnya—->

Majalah Dewasa, Osaka Metro dan Osaka Castle

<—-Kisah sebelumnya

Seperempat jam menuju pukul sembilan….Aku meninggalkan Hotel Kaga di Distrik Kota Nishinari setelah menitipkan backpack di ruang resepsionis. Aku bergegas menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Tetapi terlebih dahulu, aku harus menjejalkan sesuatu ke perut sebelum tiba di stasiun itu. Sedari tengah malam tadi, ketika aku tiba di Osaka, belum sesuap pun aku makan.

Aku memutuskan mencari minimarket terdekat. Dalam langkah menuju stasiun, kutemukan sebuah FamilyMart di tepian Saka-suji Avenue. Aku tak akan mengunyah onigiri lagi sebagai sarapan. Aku sudah bosan sejak dua hari lalu rutin mengunyah makanan itu. Akhirnya aku memilih sebuah cup noodle dan segera mengambil antrian di depan kasir. Menunggu giliran, satu persatu pelanggan FamilyMart itu menyelesaikan kewajiban. Aku hanya reflek ikut maju ketika antrian di depan juga maju, tetapi sesungguhnya mataku tak pernah menatap ke depan.

Kasir : “Hello

Aku masih tak bergeming.

Kasir: “Helloo

Aku masih berfikir itu giliran pengantri di depanku

Kasir: “Helloooo….Sir. You…..Sir”.

Aku: “Oh it’s my turn, sorry

Kasir itu hanya senyam-senyum saja melihat mukaku yang memerah karena malu. Sial….Dia dan pengantri di belakangku kompak nyengar-nyengir karena memergoki aku memandangi sebuah sudut rak dengan banyak majalah dewasa yang tersusun rapi. Untung si kasir tidak menawariku untuk membeli majalah itu….Kan malu.

Yang beginian sudah biasa di Jepang….Duhhhh….

Selepas membayar, aku menuju ke sebuah dispenser. Menuang air panas ke cup noodles dan mengambil sebuah pojok minimarket untuk menyantapnya.

Kasir: “Helloooo Sir eat outside, please!”

Duhhhh….Sudah malu, kena usir lagi,. Padahal aku sedang menghindari hawa dingin di luar sana. Ujung-ujungnya, aku tetap saja menyantap cup noodles sambil berdiri di depan minimarket sembari berdingin ria….Nasibbb.

Sewaktu kemudian, cup noodles itu ludes hingga kuahnya pun tak bersisa. Aku melanjutkan langkah ke utara. Tiba di perempatan Abiko-suji Avenue, aku segera menuju bawah tanah melalui salah satu gate milik Stasiun Dobutsuen-mae yang berada di tepi selatan jalan besar itu.

Aku: “Hello, How can I get a One Day Pass, Sir”. Aku memastikan supaya tak kelamaan membelinya seperti kejadian dua hari lalu di Tokyo.

Petugas Keamanan: “Doko e ikitai desu ka?”, rupanya bapak ini tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku: “Osaka Castle, Sir”.

Petugas Keamanan: “Hoooohhhhh….”. Dia belum ngerti juga

Aku: “Osakajo”.

Petugas itu lantas tersenyum mengangguk-angguk dan mengantarkanku melalui sebuah koridor lalu menunjuk ke automatic vending machine.

Arigatou Gozaimasu”, ucapku padanya. Padahal kalau mencari mesin beginian, aku juga bisa. Apakah One Day Pass dijual terpisah dari mesin, itu yang kumaksudkan…..Hmmh.

Sudahlah, aku mulai memencat-mencet tombol automatic vending machine itu. Aku bisa tersenyum lega karena mesin ini tak serumit seperti yang di Tokyo. Aku memasukkan selembar 1.000 Yen, memencet “ENGLISH” button, berlanjut ke “CARD” button dan akhirnya kutemukan “ONE DAY PASS” button seharga 600 Yen (Rp. 82.000).

Malam itu adalah malam tahun baru di luar negeri yang pertama buatku. Aku sengaja membeli One Day Pass karena akan pulang selepas tengah malam, setelah New Year’s Eve Countdown tentunya.

Kini aku bersiap menaiki Osaka Metro. Ini juga  pertama kalinya aku merasakan kereta bawah tanah di Jepang setelah sembilan kali berturut-turut hanya mencicipi kereta permukaan semenjak ketibaanku di Tokyo.

Aku mulai menyusuri Midosuji Line lalu berpindah ke Tanimhaci Line di Stasiun Tennoji. Melaju ke utara sejauh lima kilomater dan dalam lima belas menit, aku akhirnya tiba di Stasiun Tanimachi 4-chome di Distrik Kota Chuo.

Aku segera keluar melalui exit gate dimana gedung Osaka Museum of History dan landmark bersejarah Hoenzaka iseki berada. Dari situ, aku terus menelusuri Uemachi-suji Avenue menuju Osaka Castle yang hanya berjarak satu kilometer.

Osaka Museum of History.
Hoenzaka iseki, bangunan gudang dari Abad ke-5 di Jepang.
Itu pohon maple bukan sih?
Aku tiba di Otemon gate Osaka Castle

Mari kita eksplore Osakajo…..

Kisah Selanjutnya—->