• <—-Kisah Sebelumnya

    Aku meninggalkan Distrik Jung menggunakan Seoul Metro Line 4 menuju Stasiun Hongik University yang berjarak sepuluh kilometer. Aku harus menaruh tentengan plastik di Kimchee Guesthouse Sinchon. Melakukan eksplorasi dengan menenteng plastik hitam hanya akan membuat wajahku semakin kampungan saja.

    Keindahan Istana Gyeongbok (sumber: http://www.agoda.com)

    Dalam tiga puluh menit aku tiba.

    Tanpa sempat duduk sejenak, aku langsung saja meninggalkan kembali penginapan. Kali ini aku akan menuju ke istana terbesar di Korea.

    —***—

    Kini aku dibawa Seoul Metro Line 2. Kembali berdiri karena gerbong penuh dengan penumpang, mengharuskan tangan kananku merengkuh hand strap di atas supaya tidak terjatuh karena kereta sering melakukan pengereman di setiap stasiun yang disinggahi.

    Hanya saja, situasi menjadi aneh. Seorang gadis berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya dan sesekali melihat ke arahku. Aku memang tak menatapnya tetapi setidaknya aku bisa meliriknya samar. “Duh, ada yang memperhatikanku”, aku membatin.

    Aku sesekali melirik gadis itu yang terus tertawa pelan. Ketawaan itu membuatku melakukan instropeksi. “Apakah ada yang salah denganku?“. Aku mencoba memperhatikan diri sendiri, tetapi tetap saja tak segera menemukan kejanggalan itu.

    Hingga akhirnya, aku terjungkal dalam rasa malu ketika menemukan sumber masalah itu. Ternyata terdapat jahitan benang besar di pangkal tangan sebelah kanan. “Aduh, kenapa pula aku tak memeriksa jaket bekas ini ketika membelinya di Pasar Baru”, Aku perlahan menurunkan tangan kanan, lalu memeriksa pangkal tangan sebelah kiri. Mengetahui jahitannya dalam kondisi bagus maka aku bergantian memegang hand strap dengan tangan kiri. Perlahan aku menoleh ke kedua gadis itu dan mengangguk penuh malu. Ternyata kedua gadis itu merespon dengan cara yang sama.

    Damn, sepanjang sepuluh hari perjalanan, aku baru tahu bahwa di pangkal tangan kanan winter jacket bekasku terdapat jahitan besar penutup sobekan”, aku menggerutu sambil menggelengkan kepala.

    Kejadian itu menyematkan rasa malu hingga aku turun di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 3. Kini aku kembali mengikuti laju Seoul Metro ke Stasiun Gyeongbokgung di utara kota. Kali ini aku terduduk hingga tiba di stasiun itu.

    Untuk menggapai Istana Gyeongbok, hanya diperlukan berjalan kaki sejauh tiga ratus meter dari Stasiun Gyeongbokgung. Memasuki pelataran gerbang Istana Gyeongbok, banyak turis yang mengenakan pakaian hanbok. Pakaian itu memang efektif menciptakan aura bangsawan bagi siapapun yang mengenakannya.

    Sementara itu, di setiap sudut pelataran dijaga ketat oleh aparat kepolisian setempat. Tampak jelas Istana Gyeongbok ditutup sore itu, tak ada seorang turis pun yang diperbolehkan masuk. Entah sedang ada momen apakah sore itu?. Praktis aku hanya bisa menikmati kunjungan dengan memasuki National Palace Museum of Korea yang terletak di pelataran yang sama dengan Istana Gyeongbok.

    National Palace Museum of Korea (sumber: http://www.theseoulguide.com)

    Mengunjunginya cuma-cuma, aku dituntut memahami kisah dan seluk beluk Istana Gyeongbok dari berbagai peninggalan yang dipamerkan di museum. Museum berusia 113 tahun tersebut tampak bersih dan terawat. Walaupun aku tak faham sepenuhnya, setidaknya aku bisa menikmati benda-benda bersejarah seperti beberapa helai pakaian adat, catatan kuno, stempel dan beberapa lukisan era Dinasti Joseon.

    Dengan selesainya eksplorasi di tempat penyimpan sejarah Korea Selatan yang berjuluk Deoksugung Museum tersebut maka petualanganku sore itu hanya menyisakan satu destinasi lagi….Distrik Gangnam.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Salah satu sisi di Myeongdong 8-gil.

    Tak seperti sebelumnya, kini aku begitu ripuh mencari bus dari Namdaemun Market demi menuju destinasi berikutnya, Myeong-dong.

    Mencari segenap papan rute di halte sekitaran Namdaemun Market, tetap saja aku tak menemukan petunjuk apapun. Terpaan angin dingin akhirnya menggiringku ke bawah tanah. Yup, aku kini berderap di koridor Stasiun Hoehyeon, mencari platform demi menuju ke Stasiun Myeong-dong. Dengan mudah aku mendapatkannya. Di pinggiran platform, wajahku terus menghadap ke kiri untuk menjemput penampakan Seoul Metro Line 4.

    Cahaya yang semakin benderang perlahan mendekati platform, pertanda si ular besi siap merapat. Dalam sekejap aku sudah berdesakan berdiri memegangi tiang gerbong supaya tak terterjang arus penumpang. Tak lama setelah semua penumpang terangkut, Seoul Metro mulai merayap meninggalkan platform.

    Tak berselang stasiun manapun, aku kemudian turun di Stasiun Myeong-dong, meninggalkan para penumpang yang tetap berjubal di dalam gerbong. Aku tak sabar menjauhi gerbong ketika turun karena ingin segera melihat wujud keramaian Myeong-dong, pusat perbelanjaan kosmetik populer di Seoul. Tentu bukan untuk membeli lipstik, masker ataupun pemutih wajah, melainkan hanya ingin melihat aura-aura cantik pemudi Negeri Ginseng itu….Duh, keceplosan.

    Keluar dari Stasiun Myeong-dong aku terus saja menggerutu, “Kenapa hari ini suhu lebih dingin dari biasanya”. Gloves yang kupakai tak mampu membendung dingin yang meresap hingga lapisan kulit terluar. Alhasil, aku berjalan menikmati Myeong-dong dengan sesekali menggeretakkan gigi karena tak mampu menahan dingin lebih lama.

    Benar adanya, para pemudi nan langsing, tinggi dengan wajah putih aduhai menjejali setiap gang di Myeong-dong. Toko-toko kosmetik tampak dipenuhi para pembeli. Sedangkan beberapa pedagang kuliner lokal mulai sibuk menyiapkan lapak di banyak titik. Myeong-dong yang bagiku sudah tampak ramai, rupanya belum juga mencapai titik puncak keramaiannya. Mungkin malam nanti akan menjadi titik kulminasinya.

    Karena area ini adalah pusat perbelanjaan kosmetik, maka tak menarik minatku untuk memasuki outlet kosmetik yang berjajar di sepanjang Myeongdong 8-gil. Aku hanya berdiri di tepian koridor pertokoan Myeong-dong, asyik menikmati lalu lalang muda-mudi Seoul dan kesibukan para pedagang kuliner yang sibuk menyiapkan dagangannya. Sementara itu beberapa outlet kosmetik kenamaan seperti Holika Holika, Aritaum, Missha dan The Saem tampak kebanjiran pengunjung.

    Kesibukan di Myeong-dong

    Dengan hanya berdiri terpaku begitu saja, menjadikanku sebagai  sasaran empuk udara dingin yang berhembus di Myeong-dong. Benar adanya, aku hanya bisa menahan hawa dingin itu dalam setengah jam saja. Selebihnya aku mulai menggigil tak terkendali.

    Aku menyerah….

    Aku mulai beranjak dan dengan terpaksa memasuki salah satu outlet, seingatku outlet itu bernama innisfree. Karena kebanyakan tamunya adalah kaum hawa, aku hanya berpura-pura mencari oleh-oleh kosmetik supaya bisa dengan leluasa masuk ke dalam outlet. Tentu aku tak akan membeli apapun di outlet tersebut. Aku hanya berkeliling sembari memperhatikan dengan seksama berbagai macam kosmetik yang dijual di outlet tersebut.

    Demi tak menimbulkan kecurigaan, lima belas menit kemudian aku memutuskan keluar dari oulet. Kini aku berlanjut menyusuri kembali koridor-koridor di Myeng-dong sembari perlahan menjauhi pusat kosmetik itu untuk menuju ke stasiun.

    Saatnya meninggalkan Myeong-dong.

    Yup, kali ini aku berniat kembali dahulu ke hotel, menaruh belanjaan yang kubeli dari Namdaemun Market beberapa saat sebelum mengunjungi Myeong-dong. Untuk kemudian aku akan melanjutkan eksplorasi lagi  ke Istana Gyeongbok.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Burung trulek menutup kunjunganku di Fort de Kock.

    Masih ada waktu”….Batin terus memaksa langkah.

    Tiket TMSBK digenggaman, lalu di ujung Fort de Kock aku meyaksikan keramaian di bukit sebelah. Sementara fikiran terus membayangkan eloknya Ngarai Sianok, sedangkan segantung jembatan ikonik menyambutku di depan pandangan.

    Aku tak bisa mengelak pesonanya…..

    Enam Atap Gonjong di pusat, empat utas baja raksasa menahan deck bridge sepanjang 90 meter. Menghubungkan gagahnya dua bukit yang cukup tenar di Bukittinggi yaitu Bukit Jirek dan Bukit Cubudak Bungkuak dengan lebar pijakan 3 meter.

    Adalah Jembatan Limpapeh yang nampak perkasa mengangkangi Jalan Ahmad Yani. Telah berjasa selama 28 tahun dalam menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan benteng Fort De Kock.

    Jembatan Limpapeh sendiri adalah penyambut pertama kedatanganku di Bukittinggi sehari sebelumnya. 

    Limpapeh” sendiri berarti “Tiang Tengah”. Keunikan jembatan ini adalah selain berada di tengah struktur, pier kembarnya juga membatasi kedua sisi Jalan Ahmad Yani sehingga membentuk sebuah gate penyambut tamu kota di jalan protokolnya.

    Jembatan Limpapeh dengan enam gonjong dua lapis.

    Sedangkan pada kunjungan keduaku di malam hari pertama, aksara “Jembatan Limpapeh” yang bersinar merah menyala terhiasi dengan siraman cahaya ungu di kedua pilar kembarnya. Benar-benar menjadi pintu kota yang sangat indah di pandang mata.

    Di malam hari, Jembatan Limpapeh menjadi penyedap aktivitas kuliner di daerah yang terkenal dengan nama Kampung Cino.

    Seperti Janjang yang tersebar di banyak sudut kota, penghubung cantik ini juga merupakan manifestasi integrasi fasilitas kota. Adalah wisata Fort de Kock dan wisata Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yang menjadi obyek terekspose dari alasan pembangunan jembatan ini. Memudahkan para turis untuk berwisata di kota berjuluk Parijs van Sumatra ini.

    Atap gonjong dengan motif batik bunga.

    Demi menjaga keamanan dan merawat usia pakai jembatan, pengelola wisata hanya memperbolehkan maksimal 200 pengunjung yang bisa secara bersamaan berada di atas jembatan ini dan setiap pengunjung hanya boleh berfoto diatas jembatan selama maksimal 3 menit saja. Hayu….Taat aturan ya kalau berwisata kesini….Hehehe.

    Gunung Marapi berselimut kabut dipandang dari atas jembatan.

    Akhirnya aku berkesempatan menikmati pemandangan kota mungil yang pernah menjadi ibu kota Indonesia ini dari ketinggian. Bukan gedung pencakar langit yang tampak dalam pandangan, melainkan hamparan rumah warga, kios-kios perniagaan yang memanjang mengikuti lekuk demi lekuk Jalan Ahmad Yani serta dominasi pepohonan hijau yang diandalkan sebagai area resapan kota.

    Gunung Sirabungan terlihat dari jembatan.

    Menjadi sensasi tersendiri ketika berada di atas jembatan dalam kondisi yang terus bergoyang sebagai ciri khas sebuah jembatan gantung. Menjadi sebuah kepuasaan tersendiri ketika menikmati pesona kota Bukittinggi dari jembatan yang menjadi ikon unggulan kota setelah keberadaan ikon pertama mereka yaitu Jam Gadang.

    Jadi….Kamu harus ke sini ya jika berwisata ke Bukittinggi.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Mr. Tirtha still accompanied me to speak, we leaned back in his tiny taxi while observing the bustle around Tourist Bus Park. Several hawkers took turn getting on and off in all small sized-buses offering their wares.

    A while later, Mr. Tirtha widely spread his arms and we lightly hugged as a substitute for saying “thank you and see you later”. I entered a bus on half an hour before departure. It would be better because Mr. Tirtha could immediately continue work with his taxi.

    The conductor showed me a seat where I should sit. At second row behind driver which was limited by a glass screen. Now situation became tense, when an Indian spouse argued with the conductor. They felt were aggrieved because a ticket agent in Kathmandu had promised them to giving them a front seat. The conductor casually snapped back, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Instantly situation was silence. I just realized, that spouse wanted my seat…. Hahaha, even though I was asked to exchange, I didn’t refuse either. Seriously.

    Three European tourists in the front seat near driver had fun playing cards the whole way.

    Three and a half hours after departure on 7 am, bus stopped for breakfast break for 20 minutes after an hour earlier, bus had once done 15 minutes of toilet break. Hotel’s breakfast which Mr. Raj prepared on the last morning seemed quite effective for me to didn’t spend any consumption budget this time. Come on!, let me showed you how the restaurant which I stopped at:

    Buffet eating!
    That was the cost.
    The hat which used by the cashier was called as Dhaka Topi.
    Yups, I still full….Just drank a coffee.

    I felt hungry at lunch break on 1:30 p.m., enjoying a thali (Indian wide plate) of food which I picked up from buffet table for 400 Rupee and drink a free-orange juice which was given to all passengers since our  departure in Pokhara.

    For free….
    I got on the white one.

    My watch pointed to 15:34 hours. The last toilet break was the most memorable part. Taking the time to explore area around the rest area. I moved towards a side of road and enjoyed panoramic view of valley and ravine below.

    Most trucks in Nepal are Tata Motor.

    Impressed with situation on a side of road, I entered a small alley and saw a glimpse of local residents activities who living on a side of road. Observing a banner which stucked in a concrete wall, I tried to slightly open an outer skin of Nepal’s politics.

    Nepal is a parliamentary republic which has four main political parties. The Communist Party of Nepal (CPN) became the winning party in Nepal which placed two important figures, namely Khadga Prasad Sharma Oli as Prime Minister and Bidhya Devi Bhandari as President of the country.

    That’s the symbol of CPN.

    Back in bus seat, this time, my journey encountered a terrible traffic jam when it descended the last hill nearing Kathmandu border. Looked like a traffic jam in Cianjur on the weekend (Cianjur is tourist destination near my home).

    The bus arrived in Kanti Path Road on 17:08 hours. Excessive fatigue persuaded me to immediately looked for Shangrila Boutique Hotel in Thamel area. I walked through many narrow alleys and asking to local people to find the location. Only walking for 20 minutes, I finally found the hotel.

    I handed over 2.300 Rupee as the rate of staying per night. This time, I would spend 2 nights in Kathmandu to enjoy the city.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Namdaemun Market, Seoul.

    Beberapa saat setelah seruputan kopi terakhir di cangkir kertasku, bus biru langit bernomor 402 itu tiba. Tak langsung menuju platform halte. Ternyata sang sopir turun dan berburu kopi di G-25 minimarket, tempatku mendapatkan kopi hitam beberapa saat sebelumnya.

    Aku sudah berdiri di depan bus ketika dia mendekat sembari memegang kopi panasnya.”*&^%$#@!()<>”, entah apa yang dia ucapkan sembari menunjuk cangkir kopinya. Tetapi aku paham maksudnya, “Tunggu dulu ya bang, saya minum kopi sebentar”. Aku tersenyum mengangguk dan dia mengacungkan jempol kanannya untukku.

    Aku bersandar di bagian depan bus sembari menunggunya menghabiskan kopi di balik kemudi. Beberapa saat kemudian, bunyi gesekan pintu bagian depan terdengar. Menunjukkan bahwa pintu bus telah dibuka dan aku dipersilahkan masuk. Tentu lebih enak duduk di dalam bus yang lebih hangat ketimbang berdingin ria di luaran sana.

    Beberapa saat setelah aku terduduk di bangku tengah, bus pun merapat ke platform halte. Menaikkan penumpang yang sudah menunggu sedari tadi.

    Segenap penumpang telah menempati tempat duduknya masing-masing ketika bus perlahan mulai menuruni Gunung Namsan dan memperlihatkan keindahan Seoul dari balik jendela kaca. Kota metropolitan yang tampak dinaungi selaput kabut di bawah sana. Aku membelalakkan mata tanpa henti untuk menatapnya dari ketinggian.

    Hingga tak terasa, bus sudah melaju kencang di jalanan kota yang datar. Menampilkan kesibukan jalanan kota Seoul. Dua puluh menit kemudian aku diturunkan di Toegye-ro Avenue tepat di depan Gate 5 Namdaemun Market.

    Dilihat dari seberang jalan saja, aura pasar tradisional berusia 75 tahun itu sungguh menggoda. Ramainya lapak pedangang di atas lantai pasar yang sangat bersih dihiasi dengan kepulan asap yang mengisyaratkan bahwa kuliner tradisional akan mudah ditemukan di dalamnya. Konon ada 9.000 lapak di dalam pasar ini.

    Aku mulai menapaki bibir pasar, mengamati sepintas lalu perniagaan rempah di antara warga lokal. Ginseng yang terkenal di negeri itu sungguh menggoda ketika dipamerkan di setiap hamparan lapak pedagang. Dan entahlah, bagaimana bisa dalam sekejap, akhirnya aku berhasil memiliki sebuah kemasan ginseng dari sebuah lapak…..Wah, gaswat.  

    Yuhuu…Aku beli ginseng, dong….Wkwkwk.
    Duh, ga ada logo halalnya euy…..Tapi terlanjur dibeli….Udahlah di cemil aza.

    Tak cukup sampai di situ. Kini mataku tertarik dengan pajangan souvenir di salah satu sisi gang. Aku mendekat dan secara otomatis mulai menawar beberapa gantungan kunci yang lucu dan unik. Oh Tuhan, perniagaan itu berakhir dengan terbelinya selusin gantungan kunci yang rencananya akan kuberikan ke beberapa teman kantor sepulang dari Seoul nanti.

    Wah, setan pasar itu memang benar-benar ada. Kini aku mendadak menawar beberapa snack almond yang dalam fikiranku, akan kucemil esok selama perjalanan panjang di pesawat menuju Jakarta.

    Cukup lama berkeliling pasar, membuat perutku lapar. Ditambah dengan paparan asap kuliner yang menyeruap di gang-gang pasar. Sudahlah, aku memutuskan untuk memasuki sebuah kedai yang diempui seorang perempuan tua yang masih terpancar sisa-sisa aura kecantikannya, berpakaian rapi bersih dan penuh senyum.

    Dia hanya tersenyum terus melihatku yang terduduk di meja makan. “Dangsin-eun eodieseo oneunga?”, dia terus menanyaiku yang tak faham bagaimana menjawabnya. Hingga seorang pemuda dengan tertawa kecil berbicara kepadaku. “She said, where are you come from?”.

    Oh, just say to her, I am from Indonesia….Jakarta….ya, Jakarta”, aku menjawabnya sembari tertawa ringan. “Hoooo. Indunesiaaaa….ya ya ya”, perempuan tua itu mengangguk sembari terus melempar senyum. Dia mendekatiku dan memberikan selembar menu.

    Tak perlu waktu lama, aku segera menunjuk sebuah menu. Bukannya aku faham apa wujud menu itu. Aku hanya melihat di kolom kanan menu bahwa itulah harga makanan paling murah yang bisa kutemukan. “Hoooo, sundubu-jjigae …OK”, perempuan tua itu mengacungkan jempol dan pergi mempersiapkan menu.

    Setelah menunggu beberapa saat. Makanan itu pun di sajikan ke atas meja. Mau tahu bentuk makanannya:

    Tuh….Hahahaha, itu yang dibayar cuma nasi ama tahunya duankk…Sisanya menu pembuka gratisan.

    Perjalananku di Namdaemun Market akhirnya berakhir di kedai makan sederhana itu.  Kini aku sudah keluar pasar dari gate semula masuk dan bersiap meninggalkan pasar seluas empat hektar itu.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Aku masih memandangi Rumah Kelahiran Bung Hatta itu dari trotoar Jalan Soekarno Hatta, Bukan tak rela meninggalkannya, tetapi aku terus berfikir bagaimana sebuah tim kerja membangun replika rumah itu dengan persisnya karena rumah aslinya sudahlah runtuh pada 1962 silam.

    Melangkah kembali menuju arah semula datang, aku berbelok ke Jalan Pemuda setelah melewati Banto Trade Centre. Kaki ini masih kuat ketika dihadapkan pada jalan yang panjang meliuk, rela ku menyusurinya karena mata dimanjakan dengan bentangan sawah nan hijau dan arsitektur khas atap gonjong yang menghiasi bangunan-bangunan resmi milik pemerintah.

    Atap gonjong di SDN 14 ATTS (Aur Tajungkang Tengah Sawah).
    Taman Monumen BDB, simbol perlawanan rakyat menentang kolonialisme Belanda pada 15 Juni 1908.
    Atap gonjong di RSUD Dr. Achmad Mochtar.

    Sepertinya perjalananku akan memutar dan semakin mendaki, kakiku sudah tak sanggup lagi setelah lima hari sebelumnya selalu mengandalkannya untuk bereksplorasi di tanah Sumatera.

    Sudah saatnya memanggil transportasi online untuk mencapai gerbang depan Fort De Kock. Tak sampai lima menit menunggangnya, aku menanjaki Bukit Jirek dan tiba di gerbang depan benteng.

    Wekom in Fort De Kock”…..

    Gerbang benteng.

    Melewati gerbang, rumah makan Family Benteng Indah adalah penyambut pertama, lalu diteruskan oleh konter penjualan tiket. Walau aku mengunjungi Fort de Kock, namun wisata yang tertulis di dalam tiket adalah Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan harga tertera Rp. 15.000.

    Konter penjualan tiket.

    Setelah melewati titik pemeriksaan tiket, kios pedagang makanan berderet di sisi kanan. Lalu sebuah kandang merpati endemik China jenis Junai Mas diletakkan di ujungnya. Setelahnya, aku baru bisa melihat bentuk asli benteng itu.

    Itu dia wujud benteng mungil Fort de Kock.

    Benteng Fort De Kock didirikan oleh Kapten Bauer sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perang ini sendiri meletus di seperempat pertama Abad ke-19. Ketika itu Boan Hendrick Markus de Kock menjadi komandan Der Troepen sekaligus Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari sinilah nama “Fort de Kock” berasal.

    Meriam kuno tahun 1800-an di empat sudut benteng.

    Bangunan utama benteng yang tak lebih dari 400 meter persegi ini terlihat kecil tapi sangat kuat secara fisik dan strategi. Secara bentuk fisik, banteng ini memiliki ketebalan dinding yang bagus dan secara strategis, benteng ini tangguh karena terletak tepat di puncak bukit, memudahkan siapapun mengamati gerak-gerik musuh di sekitar.

    Lihat bagaimana tebalnya dinding benteng.
    Lantai dua atau atap banteng.

    Aku mencoba terus membayangkan bagaimana hebatnya sepak terjang Tuanku Imam Bonjol dalam memimpin kaum Padri melawan Kolonialisme Belanda. Hingga Belanda harus membangun benteng ini untuk mengamankan kekuasaannya dari rongrongan pemimpin karismatik itu.

    Taman dilihat dari atas banteng.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Sepulang dari Banpo Bridge di Distrik Seocho, aku langsung bergegas tidur demi menyiapkan diri untuk petualangan esok hari. Esok adalah kesempatanku terakhir kali untuk menikmati Seoul karena lusa hari aku harus bertolak ke tanah air.

    Huhuhu….Sedih

    —-****—-

    Sinar matahari pagi menyeruak melewati jendela di tembok miring kamar. Jarum jam telah melewati angka delapan. Usai shalat subuh tadi, aku kembali menyelinap di balik selimut, menolak dinginnya udara pagi yang mampu menembus kaca jendela.

    Sadar diri kesiangan, aku melompat dari bunk bed, menyambar toiletries bag dan microfiber towel warna oranye, lalu membasahi badan dengan guyuran hangat shower Kimchee Guesthouse Sinchon. Penghuni lain masih terlelap melanjutkan mimpinya masing-masing, dengkuran-dengkuran ringan sayup terdengar dari koridor penginapan. Beruntunglah aku, inilah kesempatan untuk berlama-lama di shared bathroom. Sebetulnya kebiasaanku berlama-lama di kamar mandi saat bertraveling selalu menyimpan sebuah alasan. Bahwa siraman air hangat yang konsisten menghantam otot betis adalah terapi penghilang lelah terefektif. Tak perlu mencari jasa tukang pijat untuk membuat badan kembali segar.

    Usai mandi dan berpakaian musim dingin dengan lengkap,  aku turun ke lantai satu dan memilih duduk sejenak di shared-lobby. Bergabung dengan beberapa turis yang rajin, merekalah yang sudah terlebih dahulu bangun dan menyantap sarapan yang sudah mereka siapkan di kulkas penginapan. Beberapa turis cantik “Negeri Beruang Merah” dan sekelompok traveler “Negeri Matador” tampak khusyu’dengan sarapan pagi buatan mereka masing-masing.

    Aku? ….Yups, aku hanya sedikit sibuk membuka peta dan mencoba membuat pola visitasi hari itu. Begitu mereka usai bersarapan dan mulai meninggalkan ruangan, maka aku pun ikut meninggalkan penginapan. Entah mereka mau kemana tetapi aku telah memantapkan diri menuju “Menara Cinta”, apalagi kalau bukan Namsan Tower, julangan pemancar televisi setinggi 237 meter dan telah berusia 52 tahun.

    Sebelum memasuki Stasiun Hongik University, aku melaksanakan ritual pagi, yaitu sarapan dengan rumus menu yang itu-itu saja, cup noodle dan nasi putih kemasan, bosan tapi tak ada pilihan.

    Mampu ga kamu, empat hari makan beginian melulu?….Saran terbaik, jangan nggembel ke Korea kek guweh.

    Mengulang-ulang kebiasaan untuk melawan kebosanan, aku berteriak “Kamsahamnida” kepada kasir sebelum keluar dari 7-Eleven. Biasanya aku selalu menunggu sang kasir melambaikan tangan sebelum keluar dari pintu minimarket. Mendapatkan lambaian tangan yang kumaksud, akhirnya aku benar-benar keluar dari minimarket dan berderap menuju platform Seoul Metro Line 2.

    Beberapa detik setelah Seoul Metro singgah di platform,aku melompat masuk. Nuansa pagi yang sepi membuat barisan gerbong Seoul Metro tampak lengang. Ular besi itu mulai menelusuri lorong-lorong bawah tanah. Stasiun demi stasiun kulewati dengan cepat hingga akhirnya aku turun di Stasiun Euljiro sam (3)-ga untuk berpindah menuju Seoul Metro Line 3. Kini sasaran terakhirku adalah Stasiun Chungmuro.

    Memerlukan waktu hampir tiga puluh menit untuk tiba di Stasiun Chungmuro. Di tujuan akhir itu, aku keluar dari gate, lalu bergegas mencari halte yang akan dilewati oleh bus bernomor dua untuk menuju Namsan  Tower.

    Belum juga lima menit menunggu, bus itu tiba. Aku mengambil tempat duduk di tengah dan dalam sekejap larut mengikuti erangan mesin bus kala menanjaki jalanan berjarak sekitar dua kilometer dari Stasiun Chungmuro.

    Perlahan tapi pasti, bus itu sampai juga di pelataran Namsan Tower. Bus berhenti pada sebuah halte nan panjang untuk berbagi dengan bus bernomor lain.

    Jarak Namsan Tower dan halte bus yang berkisar 600 meter harus ditempuh dengan ayunan langkah. Akhirnya aku harus rela terengah-engah menanjaki jalur sisa menuju Namsan Tower. Di pertengahan langkah, engahan itu ternyata tak sempat kurasakan karena aku justru sering berhenti dan terpesona melihati pemandangan di bawah sana yang memamerkan keindahan Seoul dari ketinggian Gunung Namsan. Bisa dibayangkan jika malam tiba….Betapa indahnya.

    Di depan Namsan Tower atau N Seoul Tower nama resminya.

    Menaiki Namsan Tower memang identik dengan percintaan pasangan kekasih. Di atas tower, pasangan kekasih akan membeli sebuah gembok, lalu menamai gembok itu dengan nama mereka berdua yang kemudian dibubuhi tanda hati berwarna merah. Kemudian pasangan tersebut akan menguncikan gemboknya pada sebuah etalase panjang yang memajang beragam gembok cinta dari beberapa kurun waktu.

    Yah….Aku nulis apa dong kalau beli gembok?

    Duh….Siapa saja tuh yang jatoh cinta?

    Namsan Tower selain menyajikan lansekap aerial kota Seoul, juga menawarkan beberapa resto kenamaan yang mungkin akan terasa murah bagi mereka yang dimabuk asmara, kalau buat saya ya ndak ada bedanya, tetap aja restoran adalah barang mahal.

    Kunjungan di Namsan Tower memang terasa hambar jika dilakukan sendirian. Itulah alasan mengapa aku tak berlama-lama di atas. Aku memutuskan turun dan memilih menyeruput kopi buatan G-25 minimarket di seberang halte.

    Memasuki minimarket, menyeduh secangkir kopi panas, lalu menyeruputnya perlahan. Tetapi aku terus diliputi rasa penasaran di setiap seruputan. Aku terus mengamati lalu lalang bus dengan nomor yang berbeda-beda, bukan bus no.2  saja seperti yang kutunggangi tadi.

    Apa mungkin aku bisa mencari bus yang bisa langsung menuju Namdaemun Market  dari sini tanpa harus kembali ke Stasiun Chungmuro”, batinku kritis penuh rasa ingin tahu.

    Kuputuskan menyeruput kopi hitam sambil berjalan menuju halte panjang di seberang minimarket. Aku begitu khusyu’ menyisir satu demi satu papan rute yang tertempel di halte. “Yes…I get it”, aku berseru riang ketika menemukan bus bernomor 402 yang secara langsung dapat membawaku menuju Namdaemun Market dari Namsan Tower.

    Jadi aku hanya perlu menunggu bus saja sembari menghabiskan kopi………

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Banpo Bridge yang gagah mengangkangi Han River.

    Untung aku tak tenggelam dalam pulasnya tidur siang di Kimchee Guesthouse Sinchon. Lewat sedikit dari jam lima sore aku terbangun. Segera membongkar isi backpack, aku mencari toiletries bag dan microfiber towel untuk keperluan mandi pertamaku sejak 35 jam yang lalu.

    Aku sengaja berlama-lama mengguyur diri dengan air hangat walaupun aku tahu ada seorang penghuni penginapan yang beberapa kali mengetuk pintu sebagai tanda memintaku untuk mempercepat mandi….Jahat banget guwe, kannn.

    Usai mencuci kaos kaki, aku pun keluar dari kamar mandi dan melempar senyum pada seorang tamu perempuan asal Tiongkok yang menunggu sedari tadi. Tentu saja senyum hangatku itu berbalas cemberutan bibir darinya. “Maaf neng, abang dah lama kagak mandi, hampura nyakkk…..” .

    Usai berganti baju dan mengenakan semua perlengkapan musim dingin, aku bersiap melanglang Seoul lagi hingga malam nanti.

    Aku masih ingat dengan kata teman-teman sekantor yang memintaku untuk mengunjungi sebuah jembatan yang sering dijadikan latar dalam drama-drama Korea terkenal. Walaupun aku mengindahkannya ketika berangkat, tetapi entah kenapa sore itu aku berkeinginan kuat untuk mengunjunginya juga. Kata teman-temanku, jika malam tiba, di Banpo Bridge sering ada air mancur pelangi, perpaduan antara air mancur dengan permainan cahaya di kedua sisi jembatan. “Oke lah….ndak ada salahnya aku kesana walau bukan penggemar drama Korea”, aku akhirnya sudah memutuskan tujuan.

    Dari Stasiun Hongik University, kini aku akan menuju ke Stasiun Seoul Express Bus Terminal, tempat pertama kali aku menginjakkan kaki di Seoul. Kenyang nanggung dari sepotong Kimbab yang kusantap di Stasiun Hongik University siang tadi sirna sudah. Kini perut mulai berdangdut ria merayakan kesewotanku menahan lapar. Tetapi karena kekhawatiran terjebak malam di Banpo Bridge aku memutuskan untuk menunda keinginan makan malam itu.

    Aku segera melangkah menuju Stasiun Hongik University, menjemput kedatangan Seoul Metro Line 2 dan menuju ke destinasi yang kusasar. Saking fahamnya jalur Seoul Metro karena sedari pagi terus-menerus memelototi peta jalurnya, menjadikanku aware jika aku harus transit dahulu di Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga dan harus pindah tumpangan di Seoul Metro Line 3.

    Kurang lebih memerlukan waktu setengah jam untuk sampai di Stasiun Seoul Express Bus Terminal. Keluar dari gate 8-1 di stasiun itu, aku berjalan kaki menuju Banpo Hangang Park, sisi terbaik untuk menikmati indahnya Banpo Bridge.  

    Perlu waktu 20 menit untuk bisa untuk bisa tiba di taman yang berada di tepian Han River. Memasuki taman yang mulai gelap dengan minim penerangan sebetulnya sedikit menciutkan nyali. Beruntung ada serombongan keluarga Korea yang memasuki taman dan menuju tempat yang sama. Dengan pura-pura menunjukkan ketenangan aku menguntitnya dari belakang….Hahaha, dasar pengecut kamu, Donny.

    Rombongan yang sibuk berjalan sembari menyiapkan beberapa kamera itu membuatku yakin bahwa mereka akan menuju Banpo Bridge view point. Benar adanya, saya dan rombongan keluarga lokal itu akhirnya tiba di tepian sungai secara bersamaan.

    Yeaaa…..nyampai juga.

    Penampakan Banpo Bridge dengan gemerlap lampu memang tampak indah mengangkangi Han River. Aku sangat antusias duduk di tepian sungai demi menunggu momen pertunjukan air mancur pelangi itu dimulai. Detik demi detik, menit demi menit, bahkan aku sudah merelakan diri digulung suhu dingin kota, pertunjukan itu tak kunjung hadir.

    Alhasil, dengan berakhirnya kunjungan keluarga lokal itu karena kekecewaan yang sama, membuatku terpaksa ikut undur diri dari tempat itu. “Masa iya, aku harus sendirian di tepian sungai yang sepi dan gelap begini….”, geramku sambil menahan lapar yang sedari tadi sungguh mengacaukan konsentrasiku.

    Berjalan meninggalkan keelokan Banpo Bridge, aku sungguh beruntung bisa melihat keberadaan gerai mungil 7-Eleven di sisi lain taman.  Cahaya lampu dari dalamnya mengisyaratkan bahwa gerai itu masih buka. Lantas tak berfikir panjang, aku mempercepat langkah mendekatinya. “Enak nih, cup noodles disantap dengan nasi….”, semangatku hadir sembari mengingat cara makan sederhana yang selalu kupraktikkan selama berkunjung ke Korea Selatan.

    Aku berseru girang berhasil mendapatkannya. Kegirangan itu semakin bertambah karena gerai 7-Eleven itu menyediakan tenda di sisi luarnya untuk menyantap makanan yang dibeli dari gerai. Unik, tenda itu dihangatkan dengan sebuah kipas angin yang baling-balingnya dibuat dari filamen pemanas.

    Tuh……..

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Lupa ambil foto pas nginep….Hihihi.

    Aku masih saja bediri termangu di utara alun-alun untuk menikmati kegagahan Gwanghwamun Gate , gerbang enam abad milik Istana Gyeongbok. Alun-alun Gwanghwamun dengan dasar batuan andesit serta paduan hijaunya rumput taman tampak mulai dipenuhi oleh arus kunjungan para pelancong.

    Selain patung Admiral Yi Sunshin, patung emas Raja Sejong yang Agung-sang raja keempat Dinasti Joseon adalah tujuan penting para pelancong. Mereka terlalu terpesona dengan patung-patung itu ketika aku lebih memilih memperhatikan kesibukan Kedutaan Besar Amerika Serikat di tepian Sejong-daero Avenue yang bersebelahan dengan National Museum of Korean Contemporary History.

    Tak terasa waktu telah bergulir lewat dari tengah hari, sisa kantuk usai bermalam di Seoul Express Bus Terminal membuatku tak mampu menyembunyikan rasa kantuk di pelupuk mata. Badan yang belum terguyur air semenjak 30 jam yang lalu juga membuat tubuh tak merasa nyaman.

    Lebih baik pulang ke penginapan saja”, begitu seru batin menggugurkan semangatku untuk melanjutkan eksplorasi. “Sial….Aku menyerah kali ini”, dengan bersungut-sungut kesal, aku memasuki gerbang Stasiun Gwanghwamun.

    Selamat tingga Distrik Jongno”, lirih batinku ketika melompat masuk ke gerbong Seoul Metro Line 5. Tanpa memperhatikan keriuhan di dalam gerbong, aku segera mengarah ke tempat duduk kosong di dekat sambungan. Tanpa basa-basi aku segera memejamkan mata saking kantuknya.

    Aku kini menuju ke Stasiun Hongik University dengan sekali transit di Stasiun Chungjeongno karena untuk menuju Kimchee Guesthoouse Sinchon di Distrik Seodaemun aku harus menunggang Seoul Metro Line 2.

    24 menit kemudian aku tiba di tujuan. Sebelum benar-benar meninggalkan Stasiun Hongik University, aku menyempatkan diri menuju T-Money card vending machine di pojok koridor untuk mengisi T-Moneyku yang hampir kehabisan saldo. Kali ini aku memenuhi kartu perjalanan kota Seoul itu dengan 10.000 Won, angka yang lebih dari cukup hingga akhir petualanganku di Seoul.

    Hilir mudikku di Stasiun Hongik berakhir di sebuah G-25 minimarket untuk sekedar makan siang seadanya. Sepotong Kimbab kemasan berhasil kudapatkan dengan harga 1.300 Won saja. Kenyang atau tidak, hanya itu jatah makan siang yang harus kuterima.

    Usai menyantapnya di meja minimarket, aku segera menaiki escalator yang menjulang menuju permukaan, melewati gang Sinchon-ro 2-gil, menyeberangi Sinchon-ro Avenue, lalu bergegas menuju penginapan.

    Hooohh….You, Donny. Welcome, your room is ready”, begitu sosok resepsionis yang sama sejak pagi tadi menyambut kedatanganku.

    Hi, Sir….Thank you. I think I should go to bed soon….Hahaha”, aku menjawabnya ringan sambil merengkung backpack biru yang sedari pagi kutaruh di pojok ruangan depan.

    Oh yeah, you look tired

    Yes, I spent my last night at Seoul Express Bus Terminal”, aku mengiyakan.

    Usai resepsionis itu me-scan passport yang kuberikan, kunci kamar pun diberikan. Tak menunggu lama, aku segera naik ke lantai atas, memasuki kamar, melepas winter jacket dan sepatu, kemudian segera melompat ke bunk bed untuk memulaskan diri hingga sore nanti.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Hutan Taman Nasional Gunung Palung/TNGP (sumber:https://id.wikipedia.org/).

    Wajahmu kini wahai bumi…..

    Walau aku tak memiliki banyak kuasa dalam misi penyelamatanmu, setidaknya aku selalu berusaha meringankan bebanmu. Hasrat yang tak bisa kusembunyikan bahwa aku ingin selalu membalas jasa atas apa yang telah engkau sampaikan kepada setiap penghunimu.

    Bahan pangan yang kautumbuhkan dari tanahmu senantiasa kumanfaatkan dengan penuh dedikasi demi terciptanya gaya konsumsi sederhana. Berharap bahwa segenap bahan pangan itu menjadi manfaat merata bagi seluruh penghunimu.  

    Bukankah menjadi bijaksana jika kelebihannya bahan pangan itu bisa disampaikan kepada penghunimu yang tak mampu?.

    Bukankah menjadi lebih adil jika kelebihannya bisa disampaikan kepada makhluk hidup lain yang juga membutuhkannya.

    Bukankah menjadi sempurna jika kelebihan akhirnya kami kembalikan ke tanahmu dalam bentuk bahan penyubur atau kompos.

    Apa saja yang menjadi seterumu, secara bersamaan juga akan menjadi seteruku. Coba saja kausebutkan wahai bumi. Apakah itu plastik, karbon dioksida, metana ataupun pestisida?. Tentu aku berharap hanya menggunakannya pada batas-batas yang kauterima.

    Apa saja yang menjadi sekutumu, secara bersamaan juga akan menjadi sekutuku. Coba saja kausebutkan wahai bumi. Apakah itu reboisasi, transportasi massal, pemilahan sampah atau pupuk organik? Tentu aku melakukan dan menggunakannya demi panjangnya umurmu.

    Harapan demi harapan bahwa penderitaanmu terhentikan dari tangan tak bertanggung jawab yang lebih dari sekedar memanfaatkan, tetapi justru mengeksploitasi kandungan berharga yang kau miliki. Semuanya adalah ketamakan yang telah terbungkus rapi sebagai upaya mencari kesejahteraan.

    Andai kau masih seperti dahulu wahai bumi,

    Di masa-masa indah alammu saat mengiringi masa kecilku yang bahagia,

    Sebidang tanah perkampungan yang membesarkanku, hijau dengan kehadiran sebuah hutan kecil dan persawahan nan menghijau sepanjang tahun. Aliran jernih air yang menerobos di sela-sela tanaman padi yang menguning, mengirimkan mina yang bisa menambah kualitas periuk warga.

    Hutan yang menyediakan bahan pangan alternatif di masa-masa paceklik. Hutan yang mendinginkan kampung dari teriknya sang surya. Hutan yang menghiasi pagi dengan embun dan kabut yang menyegarkan di setiap permulaan hari.

    Hingga kemudian, pengrusakan-pengrusakan itu menjamahmu di mana-mana,

    Hamparan hutanmu mulai merana oleh kikisan hegemoni ekonomi. Pokok-pokok kayu yang telah lama berjasa menyelamatkan iklim dunia, kini tak dianggap lagi kedudukannya. Pokok-pokok itu dirobohkan demi nilai ekonomis berbagai jenis sawit untuk mengejar keuntungan sesaat.

    Sedangkan di lain belahan, lahan-lahan hutanmu  mulai dikebiri oleh beton-beton angkuh industri ataupun hamparan panas permukiman para penghunimu sendiri.

    Air sungai yang dahulu jernih, kini menghitam karena limpasan bahan pencemar. Kontur sungai yang dahulu mengirimkan rezeqi, kini berganti menjadi pengirim musibah. Air bah diluapkan sebagai simbol murka pada penghunimu.

    Akankah masa depan masih ada, wahai bumi?

    Wahai bumi, sediakanlah generasi  masa depan kami dengan hutan-hutan terbaik. Biarlah mereka belajar tentang alam dari hutanmu, menikmati sebagian pangan, sandang dan papan daripadanya, berekreasi dengan ilmu pengetahuan dari hutanmu dan didiklah supaya mereka menjadi penggiat yang senantiasa membela kelestarianmu.

    Hutan, Laut dan Sungaimu

    Wahai bumi….

    Jika engkau diibaratkan sebuah tubuh maka hutan akan menjadi paru-parumu, laut menjadi jantungmu dan sungai tentu menjadi nadimu. Bersama ketiganya, engkau bisa terus menyertai kehidupan. Tak ada cara lain bagimu kecuali setiap penghunimu harus senantiasa peduli dalam menjaga hutan, laut dan sungai sebaik mungkin.

    Terkhusus bumi Indonesia, ketika luasan hutanmu menjadi nomor kesembilan di dunia, lautanmu memiliki garis pantai terpanjang kedua dunia dan sungaimu memiliki panjang hampir seratus ribu kilometer, seharusnya ketiga aset bumi milik bangsa ini membuatnya digdaya sebagai pelopor penyelamatan bumi. Menjadi panutan bagi bangsa lain dalam menjaga alam seharusnya menjadi visi penghuni bangsa ini.

    Wahai bumi….

    Selain hutanmu, mengapa sungai dan lautmu harus kami pelihara sebagai satu kesatuan?

    Kami faham bahwa nenek moyang kami lahir dari rahim maritim bumi Indonesia. Kami juga mengerti bahwa makna maritim yang kau sematkan dalam bangsa kami sesungguhnya adalah perpaduan keunggulan atas sungai dan muaranya, yaitu lautan.

    Engkau telah menjadikan sungai-sungai bangsa ini sebagai tempat lahirnya peradaban besar. Kerajaan-kerajaan maritim lahir dan tumbuh pada masa keemasan sungai-sungai bangsa Indonesia. Sungai yang kau titipkan pada bangsa ini  telah menjadi hulu dan muasal adat istiadat serta kearifan bangsa kami.

    Mungkinkah segenap penghuni bumi Indonesia ini lupa bahwa Kerajaan Sriwijaya dilahirkan di tepian Sungai Kampar yang subur. Batavia berkembang pesat berkat daya dukung Sungai Ciliwung dan kesultanaan paling besar yang dimiliki bumi Indonesia saat ini lahir dari rahim Sungai Mataram, apalagi kalau bukan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Tapi kini sungguh ironis, sungai-sungai besar yang kautitipkan di bumi Indonesia sedang merana.

    Kini, sungai bukan lagi menjadi sumber peradaban, melainkan menjadi sumber eksploitasi. Air dan arusnya dipaksa menjadi bagian dari hegemoni industri. Lebih miris lagi, sungai-sungaimu telah menjadi tempat sampah terbesar saat ini.

    Sedangkan laut yang kauberikan, menderita kerusakan akibat pukat harimau yang dibentangkan, bahan-bahan peledak yang dinyalakan di atas terumbu karang dan berbagai macam racun sianida yang disebarkan hingga mengganggu keseimbangan ekosistemnya.

    Hutanmu pun bernasib setara,

    Fungsi hutan telah terkebiri secara perlahan sehinga mengalami gangguan saat menjalankan tugasnya sebagai penyangga utama keanekaragaman hayati bumi Indonesia. Hutan juga mulai terganggu tugasnya sebagai peredam jahatnya gas rumah kaca yang membahayakan bumi

    Laju deforestasi di bumi Indonesia bahkan mencapai dua juta hektar per tahun, kini angka itu sudah melebihi batas lazim 1,3 juta hektar per tahun.

    Kami sadar diri jika kemudian, hamparan sawit dan gundulnya hutan membuatmu memberikan respon atas masifnya intervensi tangan penghunimu dalam wujud kritisnya iklim dan juga bencana.

    Semua perilaku tak bertanggung jawab itu telah membuatmu kian panas wahai bumi,

    Penggundulan hutan-hutanmu tentu membuatmu tak sanggup lagi melindungi tameng alam milikmu di angkasa sana. Lapisan Ozon yang berperan penting untuk melindungimu dalam menyerap radiasi ultraviolet sang surya yang berbahaya kini lebih dari sekedar mengkhawatirkan.

    Hingga aku mendengar kabar buruk bahwa rusaknya lapisan ozonmu telah menyebabkan gunung es Larsen S runtuh di Antartika. Kini gunus es seluas dua kali Pulau Bali itu telah menyatakan pensiun dari tugasnya mendinginkan bumi tanpa pengganti yang setara.

    Masa Depan yang Diharapkan

    Wahai bumi….

    Generasi kami saat ini akhirnya harus mengemban kewajiban penting untuk mengintegrasikan hutan, sungai dan lautan sebagai kesatuan aset yang harus dikelola secara berkelanjutan. Hanya dengan sikap itulah yang mampu menjamin bahwa ketiganya masih bisa dinikmati oleh para penerus bumi Indonesia. Kami faham bahwa inilah bentuk keadilan dimana penerus kami di masa depan akan memiliki modal yang setara dengan generasi sebelumnya untuk membesarkan bumi Indonesia.

    Dengan semua itu, akhirnya aku sebagai bagian dari generasi saat ini, bisa menaruh harapan bahwa dengan membaiknya hutanmu maka hal itu akan menjadi salah satu kekuatan pembangkit ekonomi bumi Indonesia selama 50 tahun ke depan.

    Hutan yang kau titipkan untuk bangsa ini, hanya melalui program pembangunan berkelanjutan maka di masa depan akan menjadi sumber devisa favorit mengalahkan gas dan minyak bumi.

    Begitupun dengan hutan bakau yang kau berikan, biarlah memberikan derivat terbaik bagi perikanan tangkap bumi Indonesia. Bumi Indonesia telah lama memiliki hasil perikanan tangkap terbaik ketiga di dunia, kelak akan menjadi yang pertama. Semoga hasil perikanan tangkap yang lebih dari 20 triliun itu akan dikembalikan untukmu dalam bentuk perbaikan area pesisir.

    Demi kesemuanya itu maka hutanmu yang kini mengalami deforestasi harus segera kembali dijadikan hamparan hijau paru-paru dunia yang sehat. Budaya adopsi pohon harus dihidupkan di bumi Indonesia karena tidak ada ada kata terlambat untuk itu semua.

    Generasi muda harus dibudayakan mencintaimu semenjak pendidikan dasarnya. Mereka harus dibudayakan gemar menanam pohon dimulai dari setiap rumahnya. Gerakan adopsi bibit pohon harus dibiasakan sedari awal sehingga mereka akan mencintai pohon dalam ruang lingkup kecil. Dengan begitu di saat dewasa mereka akan mencintai hutan dalam pemahaman yang lebih luas.

    Reboisasi pohon durian oleh tim ASRI (sumber: https://alamsehatlestari.org/).

    Semoga kejayaan hutan di bumi Indonesia akan kembali seperti masa lalunya. Produk-produk non-komersil yang melimpah seperti buah-buahan, umbi-umbian, madu, tumbuhan obat-obatan dan berbagai hewan layak konsumsi akan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Sedang produk-produk komersil layaknya rotan-rotanan, damar dan berbagai bentuk getah-getahan akan meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia.

    Aku sangat berharap bahwa semua pihak sudi dalam memegang teguh pembangunan hutan berkelanjutan dalam setiap aktivitas bisnis dan ekonominya, sehingga hutan bumi Indonesia akan tetap lestari sepanjang masa dan menjadi modal utama untuk memajukan bangsa di setiap zaman.

    Seperti Apa yang ASRI Lakukan.

    Wahai bumi….

    Seharusnya pelestarianmu ini harus dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:

    “Jika masyarakat dunia ingin berterima kasih kepada Anda karena melestarikan hutan, apa wujud terima kasih yang Anda butuhkan?”

    Seperti apa yang didedikasikan Tim Alam Sehat Lestari (ASRI), hendaknya kita semua duduk bersama dengan setiap lapisan masyarakat bahwa hanya dengan memenuhi kebutuhan utamanya saja maka segenap masyarakat tidak akan merusak setiap jengkal hutanmu.

    Bahwa hanya dengan terbentuknya masyarakat yang sehat dan sejahtera maka jaminan kelestarianmu akan terjaga, untuk kemudian langkah ini akan menginspirasi dunia.

    Mungkin kita harus lebih mendengarkan ide-ide baik dari masyarakat karena kita seharusnya percaya bahwa mereka sebenarnya memiliki solusi tersendiri tanpa merusak keberadaanmu, wahai bumi.

    Demi terciptanya visi mulia itu maka nilai dan prinsip dari Tim Alam Sehat Lestari (ASRI ) dalam menjaga bumi Indonesia ini bisa kita adopsi, yaitu:

    1. BERMARTABAT : Pelayanan yang menjunjung tinggi martabat manusia dengan empati 

    2. KESETARAAN : Pelayanan tanpa memandang suku, agama, gender, status ekonomi dan sosial, orientasi seksual dan sebagainya.

    3. HARMONI : Keterkaitan kesehatan manusia dan lingkungan

    4. KEKELUARGAAN : Kerja sama tim yang dapat berkolaborasi dengan pihak internal maupun eksternal dengan koordinasi aktif, ramah, dan sopan santun

    5. BERINTEGRITAS : Jujur, disiplin, akuntabel, melayani dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab

    6. KETELADANAN : Pelayanan ASRI menjadi inspirasi menjadi perubahan menuju dunia yang sehat dan harmoni

    7. MENDENGAR : Mendengar dengan cara radikal dan menghargai pendapat masyarakat

    Akhirnya hanya kesadaran diriku sendiri, kefahaman masyarakat akan pentingnya kelestarian bumi dan dukungan penuh para pemimpin bumi Indonesia akan menjadikan bumi Indonesia tetap sehat dan lestari. Sehingga masa depan generasi kita bisa diletakkan pada bumi yang kaya.

    #AlamSehatLestari

    #ASRI #AdopsiBibit

    #AdopsiPohon

    #LombaASRI

    #KompetisiBlogASRI

    Sumber penulisan:

    1. https://alamsehatlestari.org/
    2. https://m.h6.com/
    3. https://infopublik.id/
    4. https://m.antaranews.com/
    5. https://bali.tribunnews.com/
    6. https://travel.tribunnews.com/
    7. https://ppid.menlhk.go.id/
    8. https://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/
    9. https://www.tnbukitduabelas.id/
    10. https://www.biotifor.or.id/
    11. https://ugm.ac.id/
    12. https://m.liputan6.com/
    13. https://id.wikipedia.org/
    14. https://pixabay.com/