I shuffled away from Kanda River, cut a bend in Chuo-dori Avenue, and turned right across Maidreamin, speeding down the six-meter-wide street to quickly arrive at Akihabara Station’s Electronic Town South Exit.
See you soon Akiba….
For a moment I took a deep breath inside station building, letting my palms and face slightly warm. I let steady stream of passengers in front of me pull over against a wall.
I had been hiding in station for ten minutes and my body was starting to warm up. The time was already 18:30 hours. I rushed to platform and prepared to follow Yamanote Line train around Tokyo. This circle line would head south for eleven kilometers, entering Shinagawa District, but only crossing it, then bend to northwest for seven kilometers and stopped in Shibuya District.
There were Meiji Jingu Shrine and Yoyogi Park in the area. But no, it was late, I would visit one of its venues tomorrow. Now I was heading to Takeshita Street, which is a three hundred and fifty meter long alley that is a mirror for young Japanese with a variety of unique and interesting clothes. Along this road also tourists pampered with culinary spots and fashion outlets.
Thirty-five minutes since I left Akihabara Station, I was standing at Harajuku Station’s Takeshita Exit now. And right across the street is a gate with a nameboard titled Takeshita Street with a large LCD clock underneath.
“It’s getting quiet,” I thought. I had even been an hour late since Takeshita Street started closing down. But that was okay…. I’d better get into the rest of crowd and enjoyed what was left in that five meter wide alley.
Santa Monica Crepes outlet.Who wants to eat those famous crepes?Takeshita Street east gate.
I passed a large McDonald’s outlet where the diners had already started to leave their table and headed out. I continued to fight against the flow of visitors who had already left Takeshita Street. There was only a little crowd I found at Santa Monica Crepes outlet. Some tourists and local residents were still queuing to get the most famous culinary along Takeshita Street. Do you want to know the price of Crepes there? Seem from sample Crepes on display, the price ranges from 400-670 Yen per piece. Did I buy it????.
I continued down the alley, past the “Sanrio Vivitix Harajuku” knick-knacks outlets, “PINK-latte Harajuku” and “WEGO” fashion outlets, I even found a “Premium King” afternoon thrift shop on one side of the alley. I took steps to east gate of Takeshita Street which was directly adjacent to Meiji-dori Avenue.
Not long, I only visited Takeshita Street for half an hour because most of stall owners had already started to pack up their goods and were about to close their shop’s rolling door. then I stepped along the alley for west gate of Takeshita Street.
Heading to west gate of Takeshita Street.One of simple platforms at Harajuku Station.Obedient to queue, clean and dispose trash in its place.
This time I intend to return to Yadoya Guesthouse. It was been almost forty hours I haven’t properly slept. Tokyo’s air was already frozen and my body was also asking for rest. Better to just finished first day of exploration in Tokyo. I would immediately head to Nakano to take a warm bath and sleep.
Perjalanan meninggalkan wisata Bukit Sikunir tak semacet dini hari sebelumnya. Arus jalanan tampak lancar. Aku yang membonceng di belakang tentu mendapatkan kesempatan berharga untuk menikmati panorama di kaki Bukit Sikunir yang dini hari tadi gelap gulita ketika kulewati.
Pemandangan yang terpampang sungguh menakjubkan. Tampak sebuah danau yang tenang dan jernih menghias di sisi kiri jalan.
“Danau nopo niku, Pak Bian?”, sahutku dari jok belakang
“Oh itu….Telaga Cebong, Mas Donny”, jawab Pak Bian datar seolah pemandangan itu sudah tak istimewa baginya. Tentu karena beliau orang lokal.
Bonus ketika menuruni Bukit Sikunir….Telaga Cebong.
Menelusuri jalanan sama persis seperti saat berangkat menuju Bukit Sikunir, aku akhirnya tiba di Hotel Bukit Mas dalam tiga puluh menit.
Aku menyerahkan uang sebesar Rp. 100.000 kepada Pak Bian sebagai biaya jasa yang diberikannya untuk mengantarkanku ke Bukit Sikunir pulang-pergi.
Setelah Pak Bian berpamitan, aku memutuskan untuk tak langsung menuju kamar. Tetapi aku akan mencari sarapan karena perutku sudah terasa lapar semenjak menuruni Bukit Sikunir.
Tak mau mencari tempat makan yang jauh dari hotel, maka aku menemukan sebuah kedai bakso dan soto. Tanpa ragu aku memasukinya dan memesan seporsi bakso dan nasi putih. Dengan lahap aku menikmati menu tersebut. Aku menyantpnya sambil menikmati lahan pertanian kentang yang membuat pikiranku sejenak menjadi segar.
Saking betahnya, lebih dari satu jam aku duduk di kedai itu sembari menyeruput teh tawar hangat yang disajikan pemilik kedai.
Kudu cepet ngunyahnya….Keburu dingin oleh hawa dingin Dieng
.Di akhir waktu, aku menyerahkan uang sebesar Rp. 20.000 untuk membayar segenap makanan yang aku santap.
Dengan begitu maka petualanganku di Dieng usai sudah.
Aku pulang…
—-****—-
Setelah urung melewati jalur yang dipilihkan oleh sebuah aplikasi android berbasis peta, maka aku memutar balik kemudi untuk mencari jalan pulang yang sama dengan jalurku berangkat kemarin pagi. Kali ini aku tak akan mengandalkan aplikasi itu. Aku lebih suka melakukan perjalanan konvensional yaitu bertanya ketika tersasar.
Tercatat dua kali aku bertanya kepada petani yang bekerja di sawah hingga akhirnya aku menemukan titik awal untuk menyusuri jalur keberangkatan semula.
Nyempetin beli Cabai Gendot khas Dieng….Buat masak nasgor enak kali yeee.
Sejenak menikmati kabut di Tol Kahyangan.
Pemandangan indah di Tol Kahyangan.
Sesuai keinginan dini hari sebelumnya bahwa aku akan mampir sejenak di Tol Kahyangan. Maka kali ini, aku memenuhi janjiku sendiri untuk menghentikan mobil dan turun sejenak ke jalanan untuk menikmati suasana Tol Kahyangan tersebut.
Tak lama berada di jalanan tersebut, aku kembali menginjak pedal. Kini perjalanan dominan menuruni perbukitan. Tak perlu khawatir lagi akan resiko mesin kepanasan, oleh karenanya aku santai saja menikmati setiap jalur yang kulahap.
Akan tetapi di tengah perjalanan mobilku dipepet oleh seorang anggota Crew Krakalan yang mengemudikan RX-King dan kemudian mengetuk pintu kaca depan.
“Mas, kampas remnya bau”, ujarnya.
“Lebih baik berhenti dulu, Mas. Istirahatkan mobil daripada nanti remnya blong”, tambahnya serius.
“Oh, Baik Pak. Terimakasih sudah mengingatkan”, aku menjawab sembari menyapukan mata ke sepanjang jalan untuk mendapatkan tempat yang lapang untuk menghentikan mobil.
Akhirnya aku merapat ke sebuah lahan dengan kedai kopi kecil di salah satu sisinya. Ku hentikan mobil dan menunggu suhu rem turun kembali.
Beberapa menit setelah aku berhenti, tampak serombongan pemuda pemudi bersepeda motor dan ikut memarkirkan motor mereka. Mungkin piranti pengereman di sepeda motor mereka juga mengalami panas berlebihan. Setelah bercakap sekejap, aku mengetahui bahwa mereka berasal dari Cirebon.
“Tadinya kami tuh hanya mau cari makan, Mas. Tapi malah kebablasan sampai ke Dieng”, mereka melemparkan candaan. Aku hanya bisa tertawa mendengar candaan mereka.
Usai intermezzo itu maka aku mulai melanjutkan perjalanan. Satu hal yang menjadi musuh dalam tahap ini adalah rasa kantuk yang berlebihan. Beberapa kali di jalur persawahan yang lengang, roda depan mobilku hampir menjurus ke saluran irigasi. Tapi toh, aku tetap keras kepala, tak mau berhenti untuk mengambil waktu beristirahat.
Berhasil memasuki jalur pantura, aku cukup girang karena bisa mentop upe-tollcard di siang sehari sebelumnya di saat sebagian besar minimarket mengalami permasalahan jaringan. Kini e-toll card bersaldo menjadi penjamin bagiku untuk bisa pulang melewati Jalan Tol Trans Jawa sehingga bisa lebih cepat tiba di Jakarta.
Aku mulai memasuki tol di gerbang tol Batang/Subah/Kandeman pada pukul dua siang. Hanya sekali mengisi bahan bakar dan shalat jamak pada rest area Km 260B-Banjaratma di Brebes, maka aku melanjutkan injakan pedal hingga ibu kota.
Jalan Tol Trans Jawa.
Gelap segera datang.
Aku pun tiba di Jakarta pada pukul delapan malam.
Hmmmhhh….Perjalanan wisata yang singkat namun cukup mengesankan.
Dinner was finished. I hurriedly left Ameyoko Market and walked back to Ueno Station’s Hirokoji Exit. My steps were getting faster and easier because Tokunai Pass was still active in my hand. I seem to have a power to go in and out of each station since that afternoon.
It was a few minutes before 6pm, when Yamanote Line picked me up at a platform at Ueno Station. I boarded a very crowded carriage and mingled with city workers. The conditions in carriages were similar to Jakarta Commuter Line carriages in my hometown, crammed and tightly packed.
This time I would move south, two kilometers to visit the leading electronics center in Tokyo, namely Akihabara area, Japanese people usually call it Akiba.
Less than ten minutes, I arrived. Visiting Akiba meaned I was officially leaving Taitō Special City District and entering another district, namely Chiyoda. A district which is famous for existence of Imperial Palace is none other than the residence of Emperor of Japan.
I stepped out of Akihabara Station via Electronic Town South Exit. Coming out of the gate, I instantly stood on a street wich wasn’t wide, only about six meters and was immediately intimidated by tall building belonging to LABI Akihabara which was clearly displayed offering duty-free electronic goods.
It was next door to Akihabara Radio Kaikan, a ten-story commercial building to the right which left only a narrow alleyway. Meanwhile, warnings against smoking were issued at every pole in the form of a No Smoking Sign which was easily found everywhere. Then at the end of the road, a voice came out from Maidreamin Akihabara’s outside speaker.
Left: Akihabara Radio Kaikan Building.The Sky Hop Bus costs 2,000 Yen.Above that was Sobu Line train.Maidreamin Akihabara, a famous maid cafe in Japan whose waiters wear maid costumes.
I continued eastward until I came to main street, Chuo-dori Avenue and I could tell that the temperature was getting colder when I arrived at a bank of Kanda River. I decided to enjoy the hustle and bustle of Akiba from the top of river, because I wasn’t really interested in entering various electronics shops in every inch of Akiba. How would I be interested if to buy a small electronic item like a stopcontact adapter, You have to spend up to 1,000 Yen.
On the streets of Akiba, local residents went back and forth so fast, they seemed to be chasing time to return to their respective homes after working all day or some night employees who still looked fresh and fit to meet their work time in their respective offices.
Not even an hour I was in Akiba, cold temperature made me give up and decided to withdraw sooner. I rushed to Electronic Town South Exit of Akihabara Station.
As the night progresses, my adventure would be more difficult because I had to fight the winter temperatures in Japan. But I will try my best to hold it in, because I didn’t want to just let go of my exploration time there.
Perlahan mataku membuka, tetapi dinginnya udara dini hari mampu menutup paksanya kembali. Sementara itu tubuhku masih meringkuk kedinginan di sebalik selimut hotel yang tak begitu tebal, padahal aku sudah melapis tubuhku dengan dua t-shirt, salah satunya berlengan panjang….Hebat nian tusukan hawa dingin Dieng di awal pagi itu.
Secara bersamaan dering alarm yang terlontar dari gawai pintar membalik keheningan kamar menjadi kebisingan. Mungkin suara keras itu telah sampai di kamar sebelah.
“Sekarang atau tidak sama sekali”, bentakku kepada diri sendiri yang hampir ditaklukkan kemalasan.
Aku akhirnya bangkit, terduduk menggigil di tepi ranjang, untuk kemudian membasahi terlapak tangan di kamar mandi dan menyekakannya ke wajah.
Mengenakan winter jacket yang tergantung di pintu kamar dan memakai sepatu kets maka aku bersiap keluar kamar. Tetapi belum juga memegang gagang pintu, gawaiku berdering.
“Mas Donny nggih?….Aku nang ngarep hotel yo, mas?”, seru seorang lelaki dari panggilan telepon itu.
“Oh, dia tukang ojeknya”, aku paham dengan cepat.
Maka aku pun menuju lobby dan resepsionis setengah baya yang tertidur di sofa pun bergegas bangkit melihat kedatanganku.
“Sampun siap, Mas Donny?”, dia melempar sapaan di pagi yang beku sambal menyembunyikan badannya di balik sarung..
“Nggih pak….Adem banget nggih”, aku menjawab dengan gemeretak gigi yang kutahan.
Usai membuka pintu hotel maka aku pun langsung disambut dengan lambaian tangan seorang tukang ojek di gerbang halaman.
Suasana di luar tampaknya sangat bising karena ada sekelompok pemuda yang sedang berbicara serius dengan staff hotel. Sekelompok pemuda itu mengaku sudah membayar uang muka hotel kepada seorang tour guide. Tetapi pihak hotel merasa tak menerima uang muka dari siapapun. “Wah, bakal kedinginan sampai pagi tuh anak-anak muda”, aku berusaha berempati dengan masalah mereka.
“Monggo, Mas Donny”, tukang ojek itu mengingatkanku
Aku pun meluncur pergi meninggalkan sekelompok pemuda tersebut. Menyusuri Jalan Dieng dan menikung ke selatan melalui Jalan Telaga Warna. Bersyukur terpaan angin sepanjang perjalanan di hadang oleh Pak Bian yang mengemudi motor di depan.
Usai menempuh dua kilometer maka aku berpindah di Jalan Sikunir yang gelap lagi sepi. Hanya percakapanku di atas motor dengan Pak Bian yang membuat suasana sedikit hangat. “Aku arang-arang adus, Mas Donny….Hahahah”, kelakar pak Bian ketika aku menanya bagaimana kebiasaan mandi warga Dieng dengan cuaca dingin seperti itu.
Setelah menyelesaikan perjalanan di Jalan Sembungan, aku pun tiba di Bukit Sikunir setelah total menempuh jarak sejauh tujuh kilometer selama setengah jam.
Usai membayar tiket sebesar Rp. 15.000 dan melihat jalan sempit menuju kaki Bukit Sikunir, aku baru mendapat hikmah dari terhimpitnya mobilku di parkiran dalam hotel. Ternyata jalan menuju parkiran Bukit Sikunir macet total dengan antiran mobil mengular panjang. “Wah ini pasti akan banyak wisatawan yang tak bakal bisa menemui fajar di atas bukit”, aku membatin kecut.
Sementara itu, Pak Bian terus merangsek lincah menyalip antrian mobil untuk tiba di kaki Bukit Sikunir.
“Jenengan tak tunggu nang kene yo, Mas. Aku tak ngopi wae”, Pak Bian dengan mantab memarkirkan motornya dan bergegas mencari kopi setelah aku meninggalkannya untuk mulai menanjaki Bukit Sikunir.
Jalur awal untuk menanjak.
Membeli sebotol air mineral di ujung deretan warung, aku mencegah diri untuk berhenti sedetikpun demi mencapai puncak bukit tepat waktu.
Sepertinya bejubelnya wisatawan akan menggugurkan protokol pandemi COVID-19. Bahkan tak sedikit wisatawan yang melepas masker dan bercakap dengan kencang sepanjang perjalanan.
Aku terus fokus meniti jalan tangga berbatu buatan warga yang bergantian dengan jalan setapak asli di sepanjang pendakian. Sesekali menyalip banyak rombongan yang kepayahan dalam mendaki.
Aku menghela napas panjang setiba di puncak bukit dan mengambil posisi pada sebuah gundukan untuk bersiap menyambut fajar. Kusempatkan untuk melakukan Shalat Subuh dengan posisi duduk pada sebuah batu besar setelah bertayamum dengan embun yang menempel di semak-semak sekitar.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara yang keluar dari toa seorang pemandu wisata dengan jelas kudengar, yaitu manawarkan kepada rombongannya untuk mendaki kembali ke puncak pandang tertinggi.
“Loh aku belum di puncak bukit ya?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.
Tanpa pikir panjang, aku segera mencari keberadaan jalur pendakian lanjutan. Menemukannya dengan mudah maka aku mendaki kembali menuju puncak tertinggi Bukit Sikunir.
Setibanya di atas, aku lebih memilih untuk memisahkan diri dari kerumunan, oleh karenanya aku tak berdiri di gundukan yang dipenuhi pelancong. Aku berdiri di pinggiran tebing yang aman. Dan sejenak meneguk air mineral yang kubeli sebelumnya lalu berdiri fokus memunggu kedatangan fajar.
Cuaca di atas Dataran Tinggi Dieng pagi itu sangat membuatku khawatir, karena tak jarang kondisi langit membuat semburat-semburat tipis berwarna oranye tertutup oleh rombongan awan yang terus bergerak konsiten, Aku hanya berharap saat matahari menampakkan batang hidungnya, awan-awan itu sudah berpindah dan menghilang.
Rupanya do’aku didengar oleh Sang Kuasa, aku akhirnya bisa meilhat dengan jernih saat fajar memuncak dan menandakan awal terbitnya matahari.
Tak mau kehilangan momen indah yang akan tampil sekejap saja, maka aku fokus mengarahkan kamera ke pertunjukan alam itu tanpa henti. Kutangkap indahnya panorama itu berkali-kali.
Pertunjukan alam yang sangat indah.
Lihat bunga-bunga es itu !.
Pemandangan dari puncak Bukit Sikunir ketika pagi.
Pemandangan lainnya.
Tetapi di tengah konsentrasiku, dua perempuan muda datang mendekat dan meminta tolong untuk menyettingkan kameranya supaya bisa mendapatkan gambar yang jernih. Beruntung aku bisa dengan cepat membantunya sehingga waktuku tak terinterupsi terlalu banyak untuk menikmati sunrise yang semakin lama semakin memudar.
Berlangsung selama lima belas menit, akhirnya pertunjukan sunrise di Bukit Sikunir rampung. Aku hanya menghabiskan waktu beberapa saat untuk mengelilingi setiap sisi Bukit Sikunir untuk menikmati pemandangan lahan pertanian terasering Dieng yang memesona mata.
Dalam penyisiran itu, aku memperhatikan lima pemuda yang mendirikan tenda disalah satu titik di puncak bukit dan sisa-sisa mereka memasak masih cukup terlihat jelas. Mungkin mereka belum sempat membersihkan sampah di bekas perapian tersebut.
Aku pun mulai menuruni kembali Bukit Sikunir setelah merasa puas menikmati pemandangan di puncaknya dari berbagai sisi. Kini aku kembali menyelenip di antara arus pelancong yang berjubel menuruni bukit.
Dalam setengah jam, aku kembali tiba di kaki bukit. Begitu terpesonanya mata akan keramaian yang tertampil di bawah bukit. Kusaksikan terdapat panggung menyanyi dan spot-spot bagi seniman lokal untuk menghibur para pengunjung. Sementara kedai-kedai kuliner yang tampak masih bersiap diri untuk memasak ketika aku mulai menanjak, kini telah menampilkan beragam makanan yang menggoda. Namun kedai itu tampak ramai pengunjung yang mulai kelaparan setelah menaik turuni bukit yang sangat membakar kalori mereka.
Yuk turun….!
Kentang Semut, jajanan khas Dieng.
Mau beli gorengan hangat juga ada.
Tetap saja aku tak membeli apapaun di sepanjang deretan kedai-kedai kuliner itu. Aku masih khawatir dengan resiko penularan COVID-19. Aku melanjutkan langkah untuk menyudahi kunjungan dengan segera.
Tiba di area parkir yang luas, maka dengan mudah aku menemukan Pak Bian yang tentu sedang menunggu kedatanganku juga. Aku menyapa pak Bian yang sedang asyik menghisap sigaret bersama teman seprofesinya.
“Ayo pak, balik ke hotel !”. Aku meminta pak Bian untuk segera bergegas.
I was standing again at train platform, in Shibuya Station, in Yamanote Line, on 3:48 p.m. The sun had retreated on city skyline and made the temperature degraded to a point of 3 Celsius Degree. Then the air which was nearing to freezing easily penetrated thick black gloves on my palms. But it would be a shameful precedent if I had to give up and chose to curling up in Yadoya Guesthouse bunk bed.
I had already prepared myself to explore Taitō Special City District. Twelve kilometers northeast of Shibuya Special District, thirty minutes away in distance.
Ameya Yokocho was the main reason for my stop over to Ueno Station. It was a one-stop shop, cheap and all discounted. It was said that if wanted to get a cheap dinner, so travelers flocked to that ex-black market which had existed since World War II.
I arrived at Ueno Station exactly on 5:35 pm. Taking Hirokoji Exit, the largest exit in south of station building. This exit has a large courtyard and directly faces Chuo-dori Avenue, opposite Ueno Marui Department Store (OIOI), a famous fashion center with nine-story in Taitō Special City District.
Darkness began to acquire the day when I started my steps towards Ameya Yokocho. More simply called Ameyoko or Ameyoko Market. I hadn’t yet imagined that this market was already starting to get crowded and smell of food was spreading. Made my stomach growl along the way.
I walked down the road under train overpass, heading south. The market distance is about two hundred meters, only five minutes from Hirokoji Exit.
I arrived at a t-junction which in a street stood Ameyoko Market gate. I faced two other streets in t-junction, both of which were part of market lane. But I thought wrong. It wasn’t sweet smell of food which I smelled, but rather fishy smell of sea fishes which firstly pierced deep into my nose. Of course I ignored it because my attention was drawn to the crowd over there.
Not unexpectedly, there would be a number of typical Turkish restaurants and several kebab outlets there. I thought it won’t be difficult to find halal food for Muslim travelers here. Meanwhile, along the next street, several outlets selling marine fish were interspersed with fashion outlets, souvenirs, minimarkets, sport equipment and various other outlets.
I didn’t think that I would prepare some budget to buy anything which was traded in this market, except for dinner. I kept combing every inch of Ameyoko Market until I was finally attracted to an image of a bowl of chicken ramen. Not about contents in the bowl, but the price listed below, it was just 399 Yen.
I didn’t understand about a menu name, but I had a strategy. I took my smartphone and took the picture. I rushed into the restaurant. I started to look around, the table design was elongated and circular in an oval in the middle with several tables on each side of wall which were already filled with local residents. They were so noisy in sipping noodles in their bowl. I went to the waitress and showed a picture on my smartphone. Then that waiter shouted into kitchen while mentioning the name of a menu which I showed then she pointed at an empty seat. I see, that was my dining table. I sat at a table against the wall and waited for the menu to be served.
One of restaurants in Ameya Yokocho.
Meanwhile, I started pouring a pitcher of water with ice cubes in it. I continued to pay attention to visitors behaviour in restaurant. Once they entered the room, they would remove their jackets on a hanger in the corner of room, then sat at dining table, ordered and quickly ate their food. Everything was in regularity.
Soon the waiter served a menu I ordered and I started to eating it. According to a reference I had read, Japanese people will slurp the noodles they order with a sound enough to be heard to showing that the noodles are delicious and as a respect gesture for the chef. So I had the same scene even though it was a bit of a hassle and made my noodle soup splattered onto the dining table. That wasn’t enough to embarrass me, because a water pitcher on my table was completely ran out, I didn’t know how many times I poured it in my small glass. A maidservant who had been watching me for a while covered her smile with her hand while intermittently whispering to other maidservants. She certainly knew that I was a traveler with have a different skin from japanese.
As a result, I paid for the food with a big smile on her, because she never closed his smile when she looked at me.
Hirokoji Exit in Ueno Station.Ueno Station inside.Ueno Station Platform.
I finished dinner on 5:45 p.m., and hurried out from Taitō Special City District.
Aku tiba di Hotel Gunung Mas setelah melakukan sambangan wisata terakhir di hari pertama, yaitu di situs sakral Tuk Bimalukar.
Kuparkirkan mobil di area parkir hotel bagian dalam, tepat di sudutnya. Aku menuju kamar dan mulai mengalirkan air panas di bak mandi. Menunggunya beberapa saat, aku meluruskan badan di ranjang. Merasakan pegal tarikan otot kaki dan pinggang usai berkendara dari ibu kota sejak dini hari.
Rupanya ranjang sederhana itu membuatku terlelap. Lelapan itu tentu didukung oleh jaket dan kaos kaki yang masih kukenakan karena mampu meredam hawa dingin Dieng selama aku terlelap.
Beruntung aku terbangun sebelum waktu bergulir dalam satu putaran jam. Aku tersentak dan bergegas menuju kamar mandi. Selama terlelap, aku tanpa sengaja telah membuang air melaui kran yang terus mengucur….Astaghfirullah.
Aku segera menutup kran dan memasukkan tangan ke dalam bak….Hmmhhh, air masih saja dingin. Entah air panasnya yang sudah habis kualirkan atau memang suhu Dieng yang dengan cepat telah mengalahkan air panas yang keluar dari kran. Tapi sudahlah……Aku tak berani mandi dengan air sedingin itu, akhirnya aku keluar dari kamar mandi setelah menyeka badan seperlunya dengan kain yang kubasahi.
Menjelang pukul tujuh malam….
Aku mulai keluar dari kamar dan meninggalkan hotel dengan berjalan kaki di sepanjang Jalan Dieng. Aku awas dengan menyapukan pandangan ke sekitar. Dalam setiap Langkah, aku sangat berniat untuk menikmati Mie Ongklok malam itu. Karena rasa lapar yang sudah tak tertahan, maka ketika aku menemukan kedai makanan yang menjual Mie Ongklok maka aku akan menyambanginya.
Pucuk dicinta ulam tiba, belum lama melangkah aku menemukan sebuah resto yang menampilkan kuliner buruanku di papan menunya. Artha Pringgodani, nama resto itu. Tampaknya resto tersebut juga menyediakan penginapan di lantai atasnya.
Untuk mengantisipasi penularan COVID-19 maka aku mengambil duduk di bangku resto sisi luar karena begitu padatnya pengunjung di sisi dalam. Setelah seorang pelayan resto menghampiri maka dengan cepat aku memesan seporsi Mie Ongklok dan susu jahe panas.
Menunggu untuk beberapa lama, pelayan itu datang kembali dengan membawa semangkuk mie berkuahkan loh (kuah kental berbahan kanji) dengan taburan daun kucai, kol dan tiga tusuk sate ayam.
Hotel & Resto Artha Pringgodani.Itu tuh menunya….Ngambil duduk di luar aja kali ya.Nyam….Nyam.
Dinamakan Mie Ongklok karena dalam proses mematangkan mie digunakan alat yang dinamakan Ongklok yang berupa keranjang mini berbahan anyaman bambu dengan tiang kayu panjang sebagai pegangan.
Ternyata untuk menikmati semangkuk Mie Ongklok tidak diperlukan budget yang mahal. Aku hanya membayarnya sebesar Rp. 15.000 saja….Murah kan?
Keluar dari resto Artha Pringgodani, aku tak langsung pulang menuju hotel. Melainkan melanjutkan langkah kaki menuju ke Jalan Dieng sisi timur. Aku hanya ingin menyaksikan aktivitas warga lokal dan para wisatawan di pusat keramaian wisata Dieng.
Aku terus melangkah hingga tiba di depan Terminal Dieng yang berseberangan dengan signboard “Welcome to Dieng”. Setelah membeli beberapa makanan ringan di sebuah minimarket kenamaan terdekat maka aku memutuskan untuk kembalin ke hotel untuk beristirahat.
When D.K’s black car was chasing Sean Boswell who was speeding in his red racing car and the racing group was led by Han Lue in front who was masculine swerving in his yellow racing car. In the chase, there was a moment when three race cars were forced to pass at an intersection which full of pedestrians. The scene was so thrilling but looked absolutely fantastic from top camera. Unmistakably, that was a piece of scene in the movie “The Fast and the Furious: Tokyo Drift”. And the intersection in question was known as the Shibuya Crossing.
Well, if this was a different story again…..
Have you ever watched a film based on a true story and tell of a dog named Hachi and his master Parker Wilson, played by veteran actor Richard Gere?.
Being tell In the film, Hachi was so loyal and always took Wilson to station every day to go to teach and waited for his return in front of the same station in afternoon. Such was Hachi’s daily activities. Until one day, Wilson died on campus because of a heart attack and would never see Hachi again. But because of Hachi’s loyalty, Hachi until the end of its life still waiting for its master who never again came in front of the station. This legendary dog was a true story of the origin of Hachiko Statue which was located near Shibuya Station and just a hundred meters south of Shibuya Crossing.
That afternoon the air was getting colder, slowly dropping from 4 Celsius degree, the time was 13:45 hours when I was already at the north entrance gate of Nakano Station. Not long, the Chuo-Sobu Line train arrived. In the late afternoon, passengers were still quiet, maybe it wasn’t time to go home from work. I took a seat on the left side of carriage and felt the warmth of air in the carriage. I only realized when I felt hot air gush from under the seat and hit my feet as I sat down. Apparently trains in Japan put a heating engine under the seat.
The inner side of Shibuya Station.Shibuya Station Gate directly located opposite Hachiko Square.
Just five minutes towards southeast, I got off the Chuo-Sobu Line to change to Yamanote Line. Now the train was moving south for four kilometers and took ten minutes and was in increasingly congested passenger conditions. Yamanote Line is the busiest train line in downtown Tokyo.
I arrived at Shibuya Station on 14:00 hours and took directions to Hachiko Exit Gate at north of station building. When I stepped out of station gate, I was immediately greeted by appearance of Hachiko Square which was already full of visitors. Some sat on each side of the plaza and most surrounded the statue of loyal beast queuing for photos. There was nothing special about the statue, maybe it was Hachiko’s life story which made the statue feel alive and became a attention center.
I enjoyed soon the crowd at Hachiko Square. Because I couldn’t wait to feel the sensation of crossing at Shibuya Crossing. I stepped a hundred meters north and started to stand at that famous five junction. I could only smile to myself when I saw the behavior of some tourists when crossing. Some took pictures in the middle of intersection, some ran and climbed a signpole to take photos from a height, and some posted vlogs as long as the green light was still on. And when a sign sound “tut-tut-tut” loudly shouting after another as a sign that traffic light would turn red, then all tourists and local pedestrians rushed to walk to road edge and briefly left a silence moment, then followed by the sound of horns and the roar of car engines which scrambling across the intersection headed in all directions.
Chūken Hachikō, if it were still alive, t would be 97 years old.Yuhuu….Shibuya Crossing.Tsutaya is a well-known bookstore in Japan. I’m @ Shibuya Crossing.An intersection which is said to be able to cross 50,000 pedestrians for 30 minutes.
I was who still couldn’t believe that I could be there, was infected by their acute strangeness. Since it was an intersection of five streets, it was even five times, I crossed back and forth from side to side at Shibuya Crossing. Oh my God, Was this an afternoon when made me going crazy from exposure to Tokyo life’s aroma?.
Usai meninggalkan area luar Kompleks Candi Arjuna, niatku semula yang ingin segera meluruskan kaki di ranjang hotel ternyata kembali urung.
Menjelang jam lima sore, akhirnya aku menginjak pedal mobil menuju ke timur sejauh dua kilometer. Menelusuri Jalan Arjuna Barat dan kemudian melintas di depan hotel tempatku menginap yang berposisi di salah satu titik Jalan Dieng.
Setelah berjalan dengan rute melingkar, aku memutus rute di Jalan Wanayasa-Dieng, ruas jalan dimana Tuk Bimalukar berada.
Inilah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di Dataran Tinggi Dieng yang disakralkan oleh masyarakat setempat.
Bima Lukar merujuk pada sebuah kisah perlombaan membuat sungai antara Pandawa dan Kurawa. Pihak Pandawa yang diwakilkan Bima, dikisahkan memenangkan perlombaan ini setelah menuruti sebuah wangsit untuk membuat sungai tanpa berbusana (lukar).
Begitu tiba, aku dihadapkan pada sebuah kompleks situs sakral dengan titik pandang yang menjulang tinggi di sisi jalan dengan konstruksi yang terbuat dari batu andesit.
Karena rasa penasaran yang kuat akan panorama indah Dusun Kalilembu dengan hamparan lahan pertanian teraseringnya maka aku bergegas menaiki titik padang Tuk Bimalukar. Aku pun mulai menaiki puluhan anak tangga menuju ke tingkatan teratas.
Tiba diatas, dengan nafas tersengal aku menuju ke sepasang gazebo untuk berstirahat terlebih dahulu, untuk kemudian aku mulai menaiki tangga besi menara pandang untuk mencapai titik tertinggi pada situs ini.
Tampak dengan jelas hamparan pertanian kentang yang menghijau di sekitar Tuk Bimalukar. Untuk beberapa saat lamanya aku menghabiskan waktu di titik pandang ini demi menghabiskan waktu yang sebentar lagi akan berganti gelap.
Puncak pandang Tuk Bimalukar.Taklukkan puluhan anak tangga itu supaya kamu bisa ke puncak.Gazebo dan gardu pandang menantimu di atas,Lahan pertanian kentang di Dusun Kalilembu.Dua pancuran yang diskralkan (sumber: ksmtour.com)Taman di sekitar Tuk Bimalukar.
Dan di akhir kunjungan, aku memutuskan kembali turun ke bawah untuk melihat bagian utama situs Tuk Bimalukar yang berwujud dua buah pancuran air yang konon menjadi cikal bakal aliran Sungai Serayu. Walaupun menurut kepercayaan lokal, mencuci muka di pancuran ini bisa membuat awet muda, akan tetapi karena masih dalam kondisi pandemi, dengan fokus perhatian pada menjaga jarak dan kebersihan maka aku mengurungkan diri untuk mencuci muka di pancuran tersebut.
Dengan berdatangannya pengunjung lain di situs sakral tersebut maka aku memutuskan untuk pindah ke arah taman di sisi timur Tuk Bimalukar. Aku terduduk di taman ketika bulir-bulir air sesekali jatuh dari langit dan cahaya hari semakin meredup di telan waktu yang terus berputar untuk mengkudeta siang.
Kuputuskan untuk menyudahi kunjungan itu dan kembali menuju mobil yang kuparkirkan di area parkir sisi jalan.
Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di Hotel Gunung Mas sebelum pergi mencari makan malam di sekitar hotel.
Nakano Station building has two levels above ground with eight platforms. The front lobby of station is stretched out with a canopy made of Aluminum Composite Panel until it is right at the front gate of Nakano Sun Mall. When I got there, I exited the north door with a huge paved courtyard decorated with doves which had lunch.
Day was already towards afternoon, it was still cold even though the clock was pointing on 13:40 hours. I just thought of going to the hotel, putting my backpack and starting my first adventure in Tokyo.
I bypassed the parallel road to the right of station’s north gate. Tucked in the haughty feet of Sumitomo Mitsui Trust Bank. Only a row of mural art on the wall which had fuction as barrier the rail line which was able to provide a mood booster that afternoon..
Then I began to entering narrow alleys with three meters wide heading north. That afternoon, every street I passed was deserted, the bustle was very subtle along alleys I was walking through in the Nakano District. Maybe it was because the population of Nakano was only three hundred thousand inhabitants.
Even restaurants which were mushrooming along the alley were still tightly closed, later I would see the excitement of that restaurants when night came. The night where in every restaurant there would stand a man who invited everyone to entering into it. In my head memory, I still remembered some of the names of these restaurants. This showed that I was very impressed during my stay in Nakano District. Izakaya, Tsuyamaru, Gyu No Simonya, Hakata Mangetsu and Ikkenme Sakaba were some of the names of restaurants there. Did I taste their cooking?. NO, I explained again “NO”. Because everyday in Nakano, every time I walked on to meet my stomach needs, I could only buy two pieces of onigiri at a regular FamilyMart in Fureai Road.
Olala….Arriving at Yadoya Guesthouse.The cold barrier from outside air was a plastic curtain.Shared spot to storing food.
“Hi, Where are you coming from?” I asked the dormitory receptionist. I didn’t want to just enjoy her beauty in silence. I better started the conversation.
“Hi Donny, I’m Janessa from Portugal”, of course she knew my name, because she was checking my passport number before giving me a bunk bed where I slept at Yadoya Guesthouse.
“Hi Janessa, I’m very surprised because the receptionist isn’t Japanese, but you”, I started with smile.
“Yeah, I’m working here. It’s nice country”, her smile looked happy.
“Donny, your bunk bed is at fourth level. So enjoying to burn your calorie by walking on stairs there”, Janessa added with a little joke.
“Okay, Janessa. It’s no matter. I’m strong backpacker”, I ended the conversation.
Yadoya Guesthouse left so much impression. There were a lot of silliness in it that made me laugh sometimes when I remembered it. Some of them were when a night I had to wash with cold water because I couldn’t find the location of heating button, or a morning when I found two European lovebirds have cuddle sleeping in a small bunk bed with thick blankets. Or a time on the middle of night, It was hard to closing my eyes because my bed seemed to freezing. Maybe a dormitory for 2,000 Yen per night wasn’t suitable for staying in Japan in winter.
First stairs.During in Japan, I’ve never been to buy a quota and a local SIM card. I always rely on the hotel’s WiFi to send news to my country.Go to the room on fourth floor.Keep stepping the stairs.
From sixteen bunk beds in the room, I met my close neighbor, a solo backpacker from Brunei Darussalam, who was cute in her hijab. Yes, I knew where she came from because I found the image of crescent moon with both hands raised which is the symbol of her country clearly affixed to her backpack.
Whatever I felt, Nakano District still gave a deep impression in my adventure to know Tokyo and Yadoya Guesthouse became the umpteenth home in part of my trip.
Jalanan menjadi tersendat ketika aku menginjak pedal meninggalkan Batu Pandang Ratapan Angin. Dalam kemacetan itu aku masih terus mengutuk diri karena datang ke Dieng pada saat seluruh destinasi wisata di Kabupaten Banjarnegara ditutup sebagai imbas dari penerapan PPKM Level 3. Praktis semenjak pukul sebelas siang, aku hanya bisa mengunjungi dua destinasi wisata Dieng milik Kabupaten Wonosobo.
Waktu masih menunjukkan pukul empat sore dan hari sedang mempersiapkan dirinya untuk menyambut gulita. Aku sendiri masih enggan untuk menghabiskan waktu di hotel karena memang itu bukan sifatku ketika sedang berkelana.
Tetiba tercetus ide iseng untuk mengunjungi tiga candi di wilayah Kabupaten Banjarnegara sebelum beristirahat di hotel. Aku faham bahwa ketiga candi itu memang sedang menutup diri dari pengunjung karena protokol pandemi, tetapi setelah dipikir, aku masih bisa menikmati ketiganya tanpa harus memasuki area dalam candi.
Maka tujuan terdekat dari Batu Pandang Ratapan Angin menjadi milik Candi Bima. Hanya berjarak satu kilometer dan tepatnya terletak di Jalan Arjuna Selatan.
Ketika tiba, aku memarkirkan mobil di sisi jalan karena area parkir tertutup penghalang tali tambang. Tetapi penghalang itu menyisakan sedikit bukaan yang membuatku bisa memasuki jalur yang terdiri dari tiga puluh anak tangga menuju candi. Dan pada akhirnya, dengan leluasa aku bisa mendekati gerbang candi yang tertutup rapat.
Rencanaku berhasil, aku masih bisa menikmati candi itu dari luar gerbang. Bahkan aku nekat menaiki pondasi pada tembok di sebelah kanan gerbang demi menatap Candi Bima lebih dekat. Dan ternyata bukan aku saja yang berbuat demikian, tetapi ada pelancong lain melakukan hal yang sama, berusaha mendekati Candi Bima dengan segala cara.
Keindahan candi terbesar dan tertinggi di Dataran Tinggi Dieng ini tercermin pada relief-relief yang tersemat hingga ke puncak candi. Selain itu jika diperhatikan dengan seksama, candi ini berbntuk layaknya cangkir terbalik. Dalam arsitektur candi maka bentuk Candi Bima ini mengikuti bentuk Shikhara yang mengedapankan bentuk menara menjulang khas arsitektur candi di India Utara. Tanpa adanya candi perwara menjadikan Candi Bima sebagai candi tunggal diatas sebidang tanah yang berbentuk bujur sangkar.
Harus menaiki anak tangga itu untuk sampai ke Candi Bima.Candi Bima.Candi Gatotkaca.Reruntuhan Candi Nakula dan Candi Sadewa.Apakah kalian bisa melihat Candi Arjuna di balik pohon itu?
Keberadaanku untuk mengamati detail relief di Candi Bima harus kuakhiri karena semakin banyak wisatawan yang memenuhi area di depan pagar Candi Bima.
Aku kembali menuju mobil yang kuparkirkan di sisi Jalan Arjuna Selatan, kuinjak pedal menuju candi lain yang lokasinya tak jauh dari Candi Bima, yaitu Candi Gatotkaca.
Berjarak tak lebih dari satu kilometer, aku bisa mencapainya dalam lima menit dan kemudian kuparkirkan mobil di salah satu sisi Jalan Arjuna Barat.
Kali ini aku menikmati arsitektur candi dari pinggir jalan. Hal ini mungkin sekali dilakukan karena letak candi yang berada di bawah badan Jalan Arjuna Barat.
Candi yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno ini menunjukkan jejak penyebaran Hindu di Dataran Tinggi Dieng. Berbentuk bujur sangkar, candi Gatotkaca tak menunjukkan adanya relief-relief khas seperti yang tertampil di Candi Bima. Hanya ada sedikit relief di bilik penampil yang bisa menggambarkan relief asli candi ini di masa lalu. Sedangkan di sisi selatan candi tampak batu-batu asli penyusun Candi Nakula dan Candi Sadewa yang konon pada zaman kolonialisme Belanda masih berdiri gagah.
Beberapa arca pengisi relung-relung candi ini sebetulnya masih ada, hanya saja usahaku untuk melihatnya di Museum Kailasa pupus karena tutupnya museum tersebut akbat kebijakan PPKM Level 3.
Inilah candi pemujaan Dewa Syiwa yang menjadikan penutup kunjungan wisataku di Dataran Tinggi Dieng pada hari pertama. Karena usahaku untuk mengintip keindahan Candi Arjuna gagal karena begitu luasnya kompleks Candi Arjuna sehingga pagar pembatas area candi berada pada jarak yang cukup jauh dari candi utama.
Usai gagal mengunjungi Candi Arjuna, walaupun demi menatapnya aku rela berjalan kaki menyusuri salah satu sisi lapangan rumput di timur Jalan Arjuna Barat maka kuputuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat sejenak setelah semalaman aku mengemudikan mobil dari ibu kota menuju Dataran Tinggi Dieng tanpa pengemudi pengganti.