• <—-Kisah Sebelumnya

    Satu setengah jam lamanya, aku menyambangi setiap sudut Muscat Sports Club hingga matahari tergelincir menuju ufuk barat.

    Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore….

    Aku pun memutuskan untuk undur diri, mengakhiri petualangan dan beranjak kembali menuju penginapan. Aku harus mengambil backpack yang kutitipkan usai check-in siang sebelumnya. Rencananya, setelah mengambil backpack, aku akan menuju bandara dan menginap di sana saat malam tiba. Itu karena penerbanganku menuju Bahrain akan berlangsung di keesokan pagi.

    Melintasi coffee shop yang terletak di sebelah gerbang utama Muscat Sports Club, aku kembali turun di jalanan. Menelusuri An Nuzhah Street sisi selatan, menuju utara. Kembali menyisir jalanan yang sama ketika aku tiba di Al Wadi Al Kabeer Park dan Muscat Sports Club.

    Sore itu udara sudah tak panas lagi, melainkan bertransformasi menjadi hembusan angin dingin yang membawa butir-butir pasir, membuat kulit gatal dan mata pedih ketika menerpa badan.

    Tak peduli dengan hembusan angin  itu……

    Entah kenapa, tetiba langkahku menjadi kikuk ketika tiba di depan Al Wadi Al Kabir Market. Aku berhenti sejenak, menatap bangunan perbelanjaan itu. Memaksa otak untuk berpikir, “Apa yang harus kupersiapkan?”.

    Aku menarik dompet dari dalam folding bag, melihat isinya, setelah merasa cukup dengan lembaran Rial yang kupunya, maka aku pun tanpa ragu masuk ke dalam bangunan itu dan bergegas memasuki Lulu Hypermarket di dalamnya.

    Ya….Aku menyempatkan berbelanja beberapa makanan untuk perbekalan selama di perjalanan menuju Bahrain. Perjalananku menuju Bahrain akan dimulai dengan menginap di Muscat International Airport malam itu juga dan akan tiba di Bahrain pada pukul empat sore di keesokan harinya. Itu berarti aku akan berada diperjalanan selama 22 jam.

    Setelah menelusuri seisi Lulu Hypermarket selama lima belas menit aku keluar dari pasar swalayan itu dengan membawa cheese sandwich, yogurt, orange juice dan cake. Semuanya kutebus dengan harga 725 Baisa.

    Lalu aku pergi meninggalkan Al Wadi Al Kabir Market dengan menenteng kantung plastik yang berisi barang belanjaan. Selepas mengunjungi Lulu Hypermarket, aku pun melangkah secepat mungkin dan berfokus menuju penginapan. Menjelang pukul lima sore, aku pun tiba di OYO 117 Majestic Hotel, tempatku menginap.

    Setelah mengambil backpack di resepsionis, aku tak terburu menuju Ruwi-Mwasalat Bus Station, melainkan menuju ke kedai khas Bangladesh yang telah menjadi langgananku semenjak tiba di Muscat.

    Mampir di Lulu Hypermarket.
    Suasana jalanan di sekitar OYO 117 Majestic Hotel.
    Tepat di tikungan menuju OYO 117 Majestic Hotel.
    Makan dengan cara Bangladesh….Wkwkwkwk.
    Menjelang gelap di Al Fursan Street.

    Sore menjelang malam itu, aku menyantap nasi putih dengan chicken fry sebagai lauknya. Pemilik kedai itu telah paham dengan kebiasaanku selama beberapa hari sebelumnya. Dia menyuguhkanku satu potongan paha yang itu berarti menyuguhkan setengah dari porsi normal. Jadi aku hanya perlu untuk membayarnya separuh porsi saja, cara tepat bagiku untuk berhemat.

    Aku pun membayar menu makan malamku dengan 250 Baisa ketika selesai menandaskan nasi di piring.

    Selanjutnya aku pun kembali menelusuri Al Fursan Street. Berjalan sejauh dua kilometer dengan waktu tempuh tiga puluh menit.

    Aku pun tiba di Ruwi-Mwasalat Bus Station….

    Aku bersiap menuju ke Muscat International Airport

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku meninggalkan Al Wadi Al Kabeer Park pada pukul setengah dua siang. Tentunya matahari masih menyengat kuat. Langkahku berlanjut ke arah selatan.

    Sudah kepalang  tanggung….Aku akan menuju ujung selatan distrik Al Wadi Al Kabeer sekalian”, aku membatin yakin.

    Aku melanjutkan petualangan melalui sisi selatan An Nuzhah Street. Sesekali aku harus berhenti di teras-teras toko hanya untuk bersembunyi sejenak dari teriknya matahari. Bahkan ketika baru berjalan sejauh setengah kilometer, aku menyempatkan diri untuk memasuki bangunan Al Wadi Al Kabir Market yang didalamnya terdapat outlet Lulu Hypermarket. Aku harus membeli dua botol air mineral karena telah kehabisan air semenjak meninggalkan Al Wadi Al Kabeer Park. Dua botol air mineral berukuran 500 ml tersebut aku tebus dengan 170 Baisa.

    Setelah mendinginkan badan sejenak di ruangan berpendingin udara milik Lulu Hypermarket, aku pun melanjutkan langkah, melawan kembali panasnya cuaca Muscat. Niatanku hanya ingin mengakhiri petualangan ketika telah mengkhatamkan beberapa sudut Distrik Al Wadi Al Kabeer.

    Menggandakan langkah hingga satu kilometer aku pun melintasi sebuah sekolah swasta, Ibn Khaldoun School namanya. Ketika tiba di gerbang sekolah tersebut, aku melihat sekelompok pria yang membawa cricket bat memasuki sebuah gang di sisi An Nuzwah Street. Tentu sekelompok pria yang kutebak sebagai sekelompok atlet tersebut membangkitkan rasa penasaran di hati.

    Aku pun bergegas untuk mengikuti sekelompok atlet kriket tersebut. Hanya berjarak tiga ratus meter, aku akhirnya tiba tepat di depan gang dimana para atlet tadi berbelok dari trotoar.

    Muscat Club…..”, begitulah aku membaca sebuah signboard di pintu gerbang stadion berukuran sedang.

    Gerbang stadion itu tertutup rapat. Aku yang penasaran, tanpa ragu mendekatinya, lalu memutari stadion demi menemukan celah untuk masuk ke dalamnya. Akhirnya aku mendapat celah itu di pojok kiri dari tribun utama stadion. Maka aku pun menyelinap masuk dan kemudian mendudukkan diri di salah satu bangku tribun.

    Dari tribun utama itu, aku bisa melihat dengan jelas bahwa stadion utama itu diapit oleh dua buah lapangan bola tanpa tribun di sisi utara dan selatannya.

    Muscat Club….Apa itu?

    Gerbang stadion.
    Stadion utama untuk latihan Muscat Club.
    Ini buat latihan futsal kali ya…?
    Lapangan pendamping.
    Lapangan untuk berlatih memukulkan cricket bat.

    Muscat club sendiri adalah sebuah klub olahraga di Oman yang mengembangkan beberapa kelompok tim olah raga yaitu sepak bola, hoki, bola voli, bola tangan, bola basket, bulu tangkis, squash hingga kriket. Khusus untuk tim sepak bola Muscat Club, saat ini tim tersebut adalah salah satu kontestan dari Oman Professional League yang merupakan level tertinggi kompetisi sepakbola di Oman.

    Aku baru paham bahwa sekelompok atlet yang kulihat tadi adalah tim kriket milik Muscat Club yang hendak melakukan latihan rutin. Tampak lapangan kriket beserta lajur-lajur untuk berlatih memukulkan cricket bat ada di sisi utara stadion utama, sejajar dengan lapang sepak bola pendamping.

    Sedangkan lapangan hoki berada tepat di sisi selatan lapangan untuk bermain kriket.

    Tentu kompleks lapangan ini hanya digunakan sebagai sarana berlatih saja buat Muscat Club, karena tim ini menggunakan lapangan milik pemerintah sebagai venue kandangnya, yaitu Sultan Qaboos Sports Complex yang terletak di Distrik Boshar.

    Senang rasanya, bisa mengunjungi salah satu kompleks milik klub sepakbola ternama di Oman tersebut.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Jalur penerbangan Super Air Jet IU 872 (Sumber: flightware)

    Tepat pukul setengah delapan aku tiba di depan X ray screening gate pertama Soekarno Hatta International Airport di Terminal 2D.

    “Sudah lengkap semua syaratnya, Pak?”, seorang Aviation Security menanyaiku sebelum aku memasukkan backpack ke X-ray Scanner.

    “Oh….Sudah Pak….Ini, Pak”, aku menunjukkan foto validasi kelayakan terbang kepadanya

    Dia pun mengangguk dan mempersilahkan aku untuk melanjukan pemeriksaan.

    Dengan mudah aku melalui X-ray screening gate tersebut dan segera melanjutkan langkah ke check-in desk. Sebetulnya aku sudah melakukan online check-in pada 24 jam sebelum keberangkatan. Seharusnya aku tidak perlu menuju check-in desk untuk meminta boarding pass. Aku hanya perlu menunjukkan e-boarding pass kepada petugas aviation security di X-ray screening gate kedua.

    Tetapi karena kebiasaanku yang tidak puas kalau tak mendapakan printed boarding pass, aku pun bersikukuh untuk tetap menuju check-in desk walaupun harus melewati beberapa antrian.

    Aku akhirnya memilih mengantri di Desk No. 31. Bersyukur hanya perlu untuk mengantri selama lima belas menit, aku mendapatkan printed boarding pass.

    Maka dalam jarak satu jam dari boarding time, aku bergegas menuju Gate D7. Aku pun tiba di ruang tunggu Gate D7 lima belas kemudian. Berada setengah jam sebelum boarding time membuatku hatiku merasa lebih tenang.

    —-****—-

    Boarding time tiba tepat waktu….

    Pukul setengah sembilan, pengumuman memenuhi langit-langit bandara. Gate D7 untuk penerbangan Super Air Jet IU 872 telah dibuka. Aku bergegas menuju aerobridge untuk masuk ke kabin pesawat.

    Pesawat yang kunaiki berjenis Airbus A320. Pagi itu menjadi waktu yang sangat berkesan bagiku oleh karena IU 872 menjadi penerbangan pertamaku bersama Super Air Jet, sebuah maskapai penerbangan baru yang sejatinya masih menjadi bagian dari Lion Group yang merupakan perusahaan induk maskapai penerbangan berbiaya murah di Indonesia.

    Aku memang sudah sejak lama memendam rasa untuk mencicipi maskapai yang didirikan untuk kaum milenial tersebut. Maskapai yang mengandalkan warna khaki sebagai warna utama maskapai. Warna itu menjadikan penampilan pesawat begitu elegan. Tentu warna dasar itu juga tersemat sebagai warna seragam air crew yang lebih memilih menggunakan jenis seragam taktikal casual.

    Penerbangan ketigaku selama pandemi.
    Air crewnya keren seragamnya.
    Meninggalkan Cengkareng.
    Cantiknya langit selama penerbangan.
    Mendekati Palembang.

    Memasuki kabin pesawat, aku bergegas mencari bangku bernomor 29F, posisi window seat yang memungkinkan bagiku untuk leluasa mengambil gambar selama penerbangan. Begitulah keuntungan utama ketika kita memesan tiket penerbangan di seluruh maskapai yang tergabung dengan Lion Group, dimana para calon penumpang bisa memilih kursi ketika melakukan online check-in tanpa biaya tambahan.

    Penerbangan Super Air Jet IU 872 sendiri adalah penerbangan dari Jakarta menuju Palembang dengan waktu tempuh sekitar 44 menit dan rentang jelajah 420 kilometer. Adapun ketinggian terbangnya adalah 28.000 feet dan kecepatan maksmial 820 km/jam.

    Penerbanganku ke Palembang kali berjalan dengan mulus dan minim turbulensi sehingga memberikan kesan yang cukup baik terhadap penerbangan pertamaku bersama Super Air Jet.

    Aku sudah tak sabar untuk segera mendarat di Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport demi mengeksplorasi Kota Palembang….

    Sebagai alternatif, tiket pesawat dari Jakarta ke Palembang bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

    Kisah Selanjutnya—->

  • Sehari sebelum keberangkatan….

    Matahari mulai lengser dari titik tertingginya, aku sedang berada di daerah Bintaro untuk bertemu salah seorang klien perusahaan. Pada saat itulah, aku mampir sejenak mengunjungi sebuah perusahaan farmasi ternama untuk melakukan tes antigen. Was-was berharap, akhirnya aku mendapatkan hasilnya setengah jam kemudian melalui pesan whatsapp sembari menyeruput arabica di sebuah kedai kopi.

    “Yes….Negatif”, hatiku berseru, kedua tanganku mengepal pertanda sebuah keberhasilan. “Welcome, Palembang”, aku pun segera menyeruput habis kopiku.

    —-****—-

    Keesokan paginya….

    Aku terbangun oleh dering alarm tepat pukul empat pagi, untuk kemudian berbasuh, lalu berlanjut dengan memasak telur mata sapi untuk menjadi menu sarapanku. Aku bisa sedikit bersantai karena telah melakukan packing pada malam hari sebelum terlelap.

    Akhirnya hantaran ojek online membuatku tiba di Shelter Bus DAMRI Kampung Rambutan tepat waktu.

    Tepat setengah jam sebelum keberangkatan bus di pukul enam pagi, aku segera beranjak ke dalam kabin bus, mengambil tempat duduk di bagian tengah, lalu berfokus untuk mencari penginapan melalui sebuah aplikasi e-commerce penginapan langgananku. Setelah menelusuri secara online beberapa penginapan di Palembang, akhirnya aku memilih untuk menginap di daerah Siring Agung. Bersyukur aku mendapatkan penginapan dengan harga sangat terjangkau, cukup membayar dengan kartu kredit sebesar Rp. 105.000/malam saja untuk petualangan 3D2N ku di “Bumi Sriwijaya”.

    Pening karena menatap smartphone selama hampir setengah jam di dalam bus yang sedang melaju di jalan bebas hambatan, maka aku memaksa diri untuk memejamkan mata. Sementara bus DAMRI yang kunaiki secara konsisten melahap Tol Lingkar Luar Barat menuju bandara.

    Dan mataku kembali terbuka ketika bus berhenti di depan Hotel Ibis Budget Jakarta Airport. Seperti biasa, seorang checker dan timer menaiki bus dan menghitung jumlah penumpangnya. Selesai dengan urusan pengecekan, bus pun berlanjut bergerak demi menuju Terminal 3 Ultimate untuk menurunkan penumpang.

    Seusainya, bus perlahan memasuki Terminal 1 dan berlanjut menuju ke Terminal 2. Maka turunlah aku di Terminal 2D, menyesuaikan penerbangan Super Air Jet IU 872 yang akan diterbangkan dari Gate D7.

    Hampir pukul tujuh….

    Aku tiba di depan Domestic Departures Hall 3. Mengingat penerbanganku masih berada di masa pandemi, maka aku pun bergegas menuju ke dalam bangunan bandara. Ada prosedur pemeriksaan kelayakan penerbangan yang harus kulakukan dan terkadang pemeriksaan itu harus melewati antrian super panjang. Tentu aku tak mau terlambat dalam mengejar boarding time penerbanganku yang pagi itu tinggal berjarak satu setengah jam saja.

    Aku mengantri di area mesin validasi yang memiliki empat lajur antrian. Mengambil lajur antrian paling kiri, maka aku harus bersabar hingga menunggu giliranku untuk melakukan validasi tiba.

    Bus DAMRI Kampung Rambutan-Soetta
    Bersiap untuk berpetualang.
    Tiba di Terminal 2D.
    Mengantri untuk mendapatkan validasi kelayakan terbang,
    yuk berburu boarding pass!

    Dalam sepuluh menit, akhirnya waktu itu tiba. Aku memasukkan Nama dan Nomor NIK pada mesin validasi dan akhirnya aku mendapatkan validasi layak terbang. Aku hanya perlu memfoto validasi itu dengan smartpohone yang nantinya akan kutunjukkan kepada ground staff saat melakukan check-in.

    Okay….

    Saatnya menuju check-in desk…..

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Tubuhku remuk redam, hampir dari dua hari sebelumnya aku menghabiskan waktu di jalanan dan perjalanan. Otomatis fatigue segenap otot membuatku cepat terlelap dan akhirnya lambat terbangun di pagi itu. Beruntung aku masih bisa menyempatkan diri untuk menjalankan Shalat Subuh, walaupun setelahnya aku kembali terlelap di kasur empuk OYO 117 Majestic Hotel.

    Pukul sepuluh pagi aku terbangun kembali dari tidur lelap….

    Kemudian, aku pun berlama-lama menikmati siraman air panas di shower kamar mandi, membiarkan otot-otot betisku mendapatkan relaksasi karena aku baru akan mendapatkan kamar hotel kembali di keesokan malam ketika aku memasuki Kota Manama, Bahrain.

    Setelah sadar bahwa aku berada di bawah shower lebih dari setengah jam, maka aku pun segera menyudahi mandi pagi dan mulai bersiap diri untuk melakukan eksplorasi di waktu tersisa. Aku mulai mengemasi semua barang dan perlengkapan ke dalam backpack biruku, untuk kemudian mulai meninggalkan kamar hotel.

    Can me put my backpack here?. I will take it on 5 pm”, aku meminta tolong kepada resepsionis pria yang sehari sebelumnya menerima kedatanganku.

    Sure, you can put your backpack”, dia pun menerima backpackku dan menaruhnya di salah satu titik ruang resepsionis.

    Aku pun mulai pergi meninggalkan hotel. Kali ini tujuan pertamaku adalah mencari sarapan. Tentu aku menuju kedai khas Bangladesh yang telah menjadi langgananku semenjak tiba di Muscat. Kedai itu hanya berjarak seratus meter dari hotel, sehingga dengan cepat aku mencapainya.

    Pagi itu aku mencicipi menu baru, tidak lagi nasi seperti hari-hari sebelumnya, kini aku mencicipi dua potong Chappatti yang dibanderol seharga 100 Baisa.

    Tak perlu waktu lama untuk bersarapan. Aku pun segera beranjak menuju selatan, menelusuri jalanan di sisi kanan hotel tempatku menginap. Maka dalam jarak tempuh setengah kilometer, maka aku mulai merapat di An Nuzhah Street.

    An Nuzhah Street adalah jalan raya yang memiliki lebar tak kurang dari lima puluh meter, sedangkan di bagian tengahnya tampak membentang wadi (jalur air yang biasanya hanya dilewati air pada musim penghujan). Wadi itu telah di beton memanjang menyesuaikan kontur jalan.

    Aku terus melangkah ke selatan hingga kemudian berhenti di sebuah gerbang besar berwarna cokelat.

    “Muntazah Al Wadii Al Kabiir”, aksara Arab itu dengan jelas kubaca.

    Taman Al Wadi Al Kabiir”, aku bergumam mengartikan aksara itu.

    Seketika aku sangat berniat memasukinya.

    Membaca dua belas larangan utama ketika beraktivitas di dalam taman, aku mencoba mengingat beberapa aturan taman yang jarang kutemukan di taman-taman lain, beberapa peraturan yang tertera di papan berbahan besi itu adalah larangan menghisap shisha, membawa sepeda dan kendaraan, memetik bunga, dan melakukan aktivitas barbeque.

    Begitu memasukinya, aku mencoba mengamati taman dari ujung ke ujung, membayangkan bentuk aslinya. Sekilas taman itu berbentuk heksagon, seperti layang-layang dan memiliki luasan berkisar empat hektar.

    An Nuzhah Street.
    Layout taman.
    Taman yang artistik.
    Kids Playground.
    Mau naik kuda?

    Taman itu tampak indah karena tepat berada di kaki perbukitan berbatu. Nuansa komersial juga tampak menyelimuti taman, karena di beberapa titik strategisnya, terpasang beberapa papan iklan yang menjadi bagian bisnis dari JCDecaux.

    JCDecaux sendiri adalah perusahaan periklanan multinasional terbesar di dunia yang berbasis di Neauilly-sur-Seine, Prancis.

    Taman ini terasa istimewa dengan keberadaan kedai kopi di pusatnya dan tersedianya kids playground di sisi lainnya. Sementara itu, pohon palem tetap menjadi vegetasi utama di dalamnya seperti kekhasan taman-taman di seluruh negara di Kawasan Timur Tengah.

    Dan kunjungan di Al Wadi Al Kabeer Park kuakhiri dengan dengan menikmati pemandangan unik dengan keberadaan seekor kuda yang rupanya menjadi properti taman. Rupanya kuda tersebut menjadi daya tarik bagi penduduk lokal untuk mengunjungi taman tersebut.

    Baru kali ini aku melihat taman ada kudanya….Wkwkwkwk.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    After washing jeans, t-shirts and socks, I took a bath. Made my body fresh and repel shabby. “It’s still too early to sleep, I’d better hang out in the shared-kitchen to fill my water bottles which are starting to recede”, my idea suddenly appeared.

    I started downstairs to the second floor where the reception desk and shared-kitchen were located. Arriving there, looked the presence of Mr. Okamoto who slowly brewed the coffee.

    “Where was you going today, Mr. Okamoto?” I asked before he smiled as I poured tap water into my drink bottles.

    “Hi Donny, I didn’t go everywhere today. I was tired. I decided to take a rest all day in my room”, he chuckled while sipping his own brewed coffee.

    “Ohhhhh…..I think you have found a nice destination today….Hahahaha. I see you are very fresh now”, I hasten to sit in front of him and continue the conversation.

    Somehow in the beginning, Mr. Okamoto told many things that night….From the charming story of Okinawan culture, memories of drinking coffee with local Acehnese, the behavior of Japanese girls in modern times, the cuteness of a student from Yogyakarta, as well as the ups and downs of being an English teacher at his capital city.

    Meanwhile, I added a little story about my adventure to visit Japan three years ago, exploring Terengganu on the first day that afternoon until my plan to explore Middle East a few days ahead.

    The specialty of the conversation was a cup of coffee brew made by Mr. Okamoto for me.

    Wow…. Arabica coffee was still imagined to be enjoyed until now.

    —-****—-

    That Monday morning, I accidentally woke up a little late. After the Fajr prayer, I went back to sleep and just woke up at exactly nine in the morning. After bathing, I have breakfast by sipping oat powder that I brought from home, I served the powder in hot water and mixed it with a spoonful of sugar in the inn’s kitchen.

    Twenty minutes later I finished breakfast, I started to go downstairs to the first floor and got ready to continue exploring. Looking at the sky, it looked like my second day in Kuala Terengganu would be as hot as yesterday. I stepped through Engku Pengiran Anom 2 Street to reach Air Jernih Street which if pulled straight north would take me to Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

    The bus terminal was still my ally in dissecting the beauty of Kuala Terengganu. At least I knew where to go all Monday.

    Oh yes, back to the story a day before, when I arrived at the bus terminal after being escorted by myBAS from Sultan Mahmud Airport, I took a moment to get closer to the BAS KITē stop. I deliberately documented the bus route which is the transportation mode of Kuala Terengganu residents’ mainstay. I had monitored the existence of BAS KITē itself from Jakarta two months before departure.

    I got in the BAS KITē
    Tasting the BAS KITē…
    This was the first route I took.
    I couldn’t go up this route, I’m sorry….
    Well, Route C02 was the last route I took.

    Well, if you went to Kuala Terengganu and wanted to save on costs in exploring the city, then BAS KITē was the best solution. After all, instead of taking a taxi everywhere…. It was expensive.

    Let’s see what was a BAS KITē.

    According to the results of my conversation with the BAS KITē driver when going to the Crystal Mosque, there were only five buses in Kuala Terengganu, and the drivers were only five people. But on the route board which I managed to photograph, BAS KITē turned out to only have four routes….Hmmm, maybe one unit was a spare bus….Ah, I didn’t know, what were you thinking anyways?

    The uniqueness of this city bus lies in its design. When viewed from the outside, the body of this city bus resembles the architecture of a typical Terengganu house. The bus’ glass is designed like an arched window, while the bus’ roof is given a distinctive touch of Terangganu’s carved. While at bus inside, seats and dividing area between driver and passengers are dominated by iron and wood combination, full of Terengganu carvings.

    This city bus with a capacity of 36 passengers is operated by Cas Ligas SDN. BHD whose office is in PERMINT Tower, the tower I passed by many times every day when I explored Kuala Terengganu. Cas Ligas SDN. BHD itself is a land and water transportation business in Kuala Terengganu.

    To be able to take this city bus to various tourist destinations, you have to prepare a fare ranging from 1 to 5 Ringgit depending on the distance. Cheap right?…..

    The city bus which departed the earliest was BAS KITē for Kuala Nerus (direction to the airport but doesn’t stop at the airport if you want to go to the airport just use the myBAS service). That route departed at exactly half past eight in the morning and departs at an interval of 1.5 hours before noon and then departs at intervals of 2 hours when it is past noon. The last bus departs at half past five in the afternoon from Hentian Bas Majlis Kuala Terengganu Airport.

    Meanwhile, the city bus which departs at noon is the KITē BAS towards Crystal Mosque. This BAS KITē route first departs at 9:30 am and only provides four trips a day. The last trip departs at five in the afternoon from Hentian Bas Majlis Kuala Terengganu Airport.

    Cheap but limited.

    With an average distance of two hours for each departure, at least I could visit at least three destinations in different routes. “Enjoy it, don’t be in a hurry….”, that’s how I thought about its limitations.

    To keep the mood happy….Yes, right?

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku berkejaran dengan gelap demi tiba di halte bus Fish Market yang terletak di tepian Harat A’Shamal Street. Bersyukur sekali, aku tiba di halte tepat bersamaan dengan merapatnya Mwasalat Bus Line 4 yang berwarna dominan merah.

    Aku segera melompat dari pintu depan ketika bus tersebut berhenti mendecit di depan halte. Membayar dengan 200 Baisa kepada pengemudi, aku pun menduduki bangku tengah. Tak berselang lama Mwasalat Bus itu melaju dengan anggun di Al Mina Street menuju Ruwi-Mwasalat Bus Station.

    Aku sampai dalam lima belas menit….

    Tiba di terminal utama Ruwi tidak berarti perjalananku usai. Melainkan aku harus menyambung langkah sejauh dua kilometer demi tiba di OYO 117 Majestic Hotel yang terletak di daerah Al Wadi Al Kabir.

    Bak atlit jalan cepat, aku melahap blok demi blok daerah Al Humriyyah dan dalam waktu tiga puluh menit aku telah berjarak seratus meter dari penginapan.

    Belum juga tiba di penginapan….

    Tetiba perutku berbunyi. “Oh, iya….Sudah waktunya makan malam”, aku yang terlupa akhirnya membatin.

    Tanpa pikir panjang, aku segera berbalik arah demi menyambangi kantin langganan yang sudah terlewat beberapa puluh meter di belakang.

    Sore itu aku pun menyantap setengah porsi chicken fry khas Bangladesh beserta sepiring nasi dan menebusnya dengan 700 Baisa.

    Aku menyantap menuku dengan cepat untuk kemudian kembali bergegas menuju penginapan.

    Hatiku terasa lega ketika tiba di depan penginapan, setidaknya aku bisa mendahului datangnya malam demi mengamankan diri di penginapan.

    Melangkahlah aku di lobby penginapan…..

    “Hello, sir…. How is your day…. Is it fun?”,, sapa resepsionis pria yang menerima kedatanganku pada pagi sebelumnya.

    Hi, Sir….Wonderful, I had explored the beauty of Muttrah all day”, aku melambaikan tangan kepadanya

    Have a good rest, Sir”, dia terseyum ramah kepadaku.

    “Thanks….”, aku pun meninggalkannya demi menuju lift yang akan mengantarkanku menuju lantai 3.

    Beberapa saat kemudian, aku pun tiba di depan pintu kamar.

    Aku sudah tak sabar untuk menghempaskan tubuhku di kasur dengan segera, mengingat sedari malam sebelumnya, aku tak bisa memejamkan mata dengan sempurna karena harus menempuh perjalanan udara dari Dubai. Ingin rasanya untuk membalas dendam kekurangan tidurku.

    Aku pun membuka pintu dengan santainya, tak ada siapapun di lorong kamar sore menjelang malam itu. Aku segera memasuki kamar, mengunci pintu dan bersiap untuk melompat ke kasur.

    Tetapi….

    Tolakan kakiku terhenti seketika ketika aku mendengar bunyi samar gemerecik air.

    “Itu dari kamar mandi”, aku diam berkonsentrasi mendengarkan.

    Halte Bus Fish Market\.
    Chicken Fry khas Bangladesh.
    Ini dia, warung makan langgananku selama du Muscat.
    Kamarku lega banget kan?

    Aku pun segera menuju ke kamar mandi.

    “Astaga……”, aku menepok jidat, memaki diri sendiri melihat apa yang terjadi di wastafel.

    Kran itu mengucurkan air dengan pelannya.

    Hmmh…..Sudah berapa banyak air yang kubuang sia-sia sedari meninggalkan kamar pagi tadi?”, aku merasa berdosa karenanya.

    Parah kamu Donny…..”, aku terus memaki diri.

    Selepas kejadian itu, aku pun segera membersihkan diri dan kemudian berisitirahat demi memulihkan kesegaran badan untuk berpetualang di keesokan harinya.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    I was satisfied enough to experience the beauty of Pulau Warisan Kuala Terengganu even though I was only pulled over to one side. Observing the bustle of the merchants who slowly began to arrive to prepare for night’s culinary session, the traffic of fishing boats that were about to go to sea leaving the estuary also started to become apparent, then the tourist boats kept on bringing the excitement of tourists to several islands which I myself didn’t know how much. far away, and oil and gas operational vessels keep going back and forth along the estuary.

    “It’s time to get out of here”, I started to tidy up the camera and throw the sit mat into the trash after tearing it into small pieces, I didn’t want to leave even a name imprint on every sheet I threw away in another country.

    I crossed right in the middle of island to the mainland where Kampung Cina stood. On the side of one-way sreet, Roadside gazebos were full of local residents. They began to down to the streets waiting for the sun to fall in west. Across the street, the playground came to life with the presence of several children of Chinese descent playing on swings and slides. Meanwhile, Turtle Alley, which became a famous art alley along the road, began to fill with tourists.

    Goodbye Pulau Warisan Kuala Terengganu.

    “Ah, never mind”, I seemed to give up. “Just looking for food, tonight I don’t have to leave the inn”, I decided.

    I stepped west against the one-way street. One or two beggars approached while clenching their hand several times to their mouths. A sign they need food like me. I looked around, looking for CCTV or anything which could record the surroundings. Realizing there was nothing there, I handed two Ringgits to the two approaching beggars then I hurriedly left them.

    My step arrived at a narrow bend and was only able to flow one vehicle at a time to pass it. Now I have arrived at the end of the road, as a marker I would be faced with the face of Kampung Cina.

    In fact I was at the southern end of Kampung Cina Street. If previously I had combed the road from the north side when I visited Payang Memory Lane, now I have completed it by combing the remaining sections from the south.

    “Oh, this is Kampung Cina after all,” I reflexively thought after seeing the iconic Terengganu Kampung Cina Gate. Of course it was a dragon. Yes, it had always been a symbol of good luck in Chinese society. Two perfectly green dragons faced off at the top of the gate.

    Beautiful gate.
    One of the sections of Kampung Cina Street on the south side.
    Ho Ann Kiong Temple.
    Kampung Tiong Street.
    Alliance Islamic Bank in a side of Kampung Tiong Street.

    The identity of Kampung Cina, so lanterns were also a distinctive decoration of their existence in any country, even in Kuala Terengganu. Red lanterns were scattered on every side of the street.

    While at the T-junction there appeared a dominant yellow temple, i.e Ho Ann Kiong Temple. This was a Chinese temple dating back a century, the oldest Taoist temple in the state of Terengganu dedicated to Mazu, the Goddess of Sea.

    After observing the beauty of temple, I started exploring a new streets. It was Kampung Tiong Street which would be my shortcut to Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. I knew there was a terminal canteen there. “It’s better to have dinner there”, I didn’t think long and decided.

    At first glance, the Terengganu government seemed to offer the beauty of Lang Tengah Island as a mainstay tourist destination along the road. Meanwhile, signs prohibiting selling street vendors without a permit decorated several alleys. “It is forbidden to peddle without a license”, that’s what Datuk Bandar Majlis Bandaraya Kuala Terngganu’s direction. Passing one or two towering buildings in Kampung Tiong Street finally led me to the end of the road.

    “Hmmh, where’s the shortcut way?”. I looked around and was reluctant to walk around to get to the bus terminal. The top of terminal’s roof was visible from where I was standing. “Maybe that”, I saw a small alley straight towards the terminal, I followed it until I arrived at a large parking lot whose its existence was successfully hidden by the thick trees. It turned out that that was the Paya Bunga Square parking lot. Indeed, shopping complex, hotel and office complex were clearly visible in the south corner. “Yiaaiy, the canteen was still open”, I inwardly cheered seeing the crowd in the terminal’s canteen. I didn’t hesitate to enter it until some merchants in the canteen kept offering me their menus. Finally, I decided to enjoy a portion of fried rice for only five Ringgit.

    I voraciously ate the simple fried rice because of the hunger I had been holding back all that time. The fried rice tasted a little curry, either because my smell detected the presence of a curry stall to the left of where I was sitting or indeed this fried rice merchant was too bold to spice up his fried rice. But no matter what, I was actually a fan of Indian curry.

    Half an hour of dining with local travelers at the bus terminal, made me feel like I was just a resident of Terengganu.

    Now it was time for me to go back to the inn…..

    I got off again at Masjid Abidin Street. If before I always walked on left side, now I tried to cross the road and comb from the right side to the south. A few meters ahead, my steps were stopped by the presence of a large parking lot and shops. It seemed that that was a flea shop which became the idol of citizens. Towards dark, young people could be seen carrying their skateboards and sitting enjoying the afternoon under shady trees in the east side of the stretch of land. That was PB Station which was quite famous in downtown because it always presented a festive bazaar on weekends. But sadly I was here on a monday night. Of course I wouldn’t find a crowd even if I waited until the night was over.

    Canteen @ Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
    The venue hosted a weekend bazaar.

    I unsteadily continued walking towards The Space Inn. Passing a large intersection where a six-story building belonging to RHB Investment Bank firmly stood, I finally arrived at Air Jernih Street. Continuing through a few inches of Kota Lama Street  which connected the main road with the location of my inn.

    I arrived….

    It was time to take a shower, washed up and went to bed early……..Hufftt, my eyes were already really heavy.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku menyandarkan diri di sebuah tanggul batu di tepian pantai, memandangi indahnya permukaan laut yang disiram cahaya matahari yang mulai memerah. Sementara para nelayan di dermaga tampak sibuk menyiapkan jaring, menggulungnya rapi untuk kemudian dinaikkan ke perahu-perahu kayu yang mengangguk-angguk di terpa gelombang dan ujungnya diikatkan pada tiang-tiang tambat dermaga.

    Jangan dibayangkan seperti dermaga ikan pada umumnya, dermaga ini hanya berupa deretan platform beton yang seolah mengapung di lautan. Dermaga itu tampak menghampar di tengah perairan.

    Sementara itu latar belakang dermaga itu adalah Passanger Cruise Terminal milik Sultan Qaboos Port yang memarkirkan sebuah kapal pesiar yang sibuk dengan aktivitas di sekitarnya.

    Untuk beberapa saat aku membiarkan diri untuk mengagumi pemandangan itu.

    “Ayo Donny….Beranjaklah!, Saatnya pulang….”, tetiba aku mengingatkan diriku sendiri.

    Aku akhirnya menuruti bisikan itu, toh memang benar, sebentar lagi gelap akan datang menggantikan siang.

    Aku pun melangkahkan kaki kembali melalui sisi timur Muttrah Fish Market. Aku pun sering mencuri-curi pandang ke bangunan pasar yang megah tersebut. Beberapa waktu sebelumnya aku sudah menjelajah setiap sisi bagian dalam dari pasar ikan tersebut. Tetapi toh tetap saja, kharisma bangunan itu masih mencuri perhatianku ketika aku mulai meninggalkannya.

    Aku akhirnya tiba kembali di sebuah sisi Harat A’Shamal Street. Arahku untuk pulang ada di sisi kiri…..Akan tetapi entah kenapa, pandanganku terlempar ke sisi kanan. Tatapku tertambat di sebuah bangunan di ujung barat Harat A’Shamal Street.

    Bangunan itu berbentuk persegi dilengkapi dengan exterior berbentuk lingkaran-lingkaran di sisi panjangnya. Tekstur bebatuan menjadi permukaan utama tembok bangunan. Sementara itu signboard bernamakan DAMAC tampak menghiasi bagian teratas bangunan.

    Aku pernah sekilas bertutur mengenai DAMAC pada artikelku saat mencicipi jasa Dubai Tram di Uni Emirat Arab.

    Bolelah kuulang sekali lagi bahwa DAMAC Properties adalah sebuah perusahaan pengembangan properti terkemuka di kawasan Timur Tengah.

    Daripada kehilangan kesempatan untuk mengetahuinya, lebih baik aku menyambanginya sejenak”, aku telah memutuskan,

    Kuayunkan langkah menuju bangunan itu, dalam jarak dua ratus meter, aku tiba. Kini perhatianku tertuju pada banyaknya rombongan turis yang menuju ke sebuah bangunan lain, tampaknya bangunan itu masih terkait dengan bangunan bertajuk DAMAC yang berada tepat di hadapanku.

    Dermaga untuk nelayan.
    Gedung milik DAMAC.
    Gerbang Mina Al Sultan Qaboos Waterfront yang gagal kulewati.

    Aku memutuskan mengikuti arus turis-turis Eropa tersebut. Hingga aku tiba di sebuah gerbang dengan dua sisi, gerbang untuk kendaraan roda empat di sisi barat dan gerbang pejalan kaki di sisi timurnya. Turis-turis itu tampak memasuki jalur pejalan kaki tanpa pemeriksaan dari para serdadu yang menjaga gerbang.

    Aku pun berinisiatif mengikuti para turis tersebut.

    Aku yang tanpa rasa was-was pun berhasil melewati gerbang itu setelah menempel di bagian akhir rombongan turis asal Jerman.

    Tetapi belum juga menghabiskan lima langkah, salah satu serdadu yang menjaga gerbang memanggilku.

    “Hi, Sir….Wait….Wait” , dia menunjuk mukaku

    “Yes, Sir”, aku menunjukkan mukaku sendiri untuk meyakinkan dia sedang memanggilku.

    “ Yes, you, come here!”, dia mengangguk.

    “Where is your ticket?”, dia berdiri tegap menatapku

    “They don’t show their ticket to you”, aku menunjuk serombongan turis Jerman yang kukuntit.

    “Their tour guide shows their group’s ticket to me”, tentara itu tersenyum menatapku seolah memenangkan percakapan.

    “Oh I’m so sorry, so I can’t go there”, aku menunjuk ke bagian dalam.

    “No”, dia menjawab dingin.

    Aku yang dalam hati tertawa terpingkal pun meninggalkan serdadu itu.

    “Percobaan curangku gagal”, aku akhirnya tak bisa menahan senyum yang akhirnya tersungging ketika aku berbalik badan dan melangkah pergi.

    Destinasi wisata yang hendak kutuju tersebut adalah Mina Al Sultan Qaboos Waterfront.

    Mina Al Sultan Qaboos Waterfront merupakan proyek kawasan pesisir Teluk Oman yang di masa depan akan menaungi beberapa zona sekaligus, yaitu zona bisnis dan perumahan, pusat-pusat perbelanjaan, enam hotel utama, fasilitas rekreasi dan tempat wisata, serta fasilitas pelabuhan bagi kapal pesiar dan kapal pesiar.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Backtracking a moment from Payang Memory Lane, I followed Pasar Besar Payang Street to the mouth of the Terengganu River. Considering the roaming area was a coastal area, then my feet wouldn’t be far from the water. I would stop two hundred meters north, right on the banks of the Terengganu River.

    While the sun was still perfectly round in the west, its rays were still able to make the skin red. Forcing me to occasionally stop behind the big trunks of palm trees by the roadside. Hhmmhh…. Terengganu’s sun was too long, it made the whole face sting.

    But not long….A moment later I arrived at the northern edge of Kampung Cina (China Town). My eyes were instantly fixed on the arched footbridge at the eastern end of the village, it seemed that the object had become the main landmark of this night’s tourist attractions.

    Arch bridge on the Kuala Terengganu Heritage Island.
    The dividing canal between Pulau Warisan Kuala Terengganu and Kampung Cina.
    The gateway for pedestrians to Pulau Warisan Kuala Terengganu.
    That was where I would enjoy the atmosphere….I Love KT Park.

    Unfortunately I didn’t have time tonight, my body was tired to endured the sleepiness all night at Kuala Lumpur International Airport. So tonight, I chose to soundly sleep. It was fine that I have to visit that destiation now, even though I won’t be find its culmination visitation time.

    That was Pulau Warisan Kuala Terengganu, an artificial seven-hectare island on the banks of Terengganu River estuary which was commonly used for night markets, big events, music concerts, art exhibitions and the base of Heritage Island River Cruise to explore the beauty of Terengganu River which had many excellence tourist attractions in its various key spots. Locals often refered to Pulau Warisan Kuala Terengganu as i-City Terengganu, referring to the ICT-based city in Shah Alam, Selangor.

    On top of the iconic archway, I freely could gaze at all corners of Pulau Warisan Kuala Terengganu. In plain view, the island was only separated from the mainland by a canal thirty meters wide. The canal looked clean and was occasionally passed by a security guard’s engine boat.

    It seemed that this island wanted to reveal its identity as the pride of Terengganu with the existence of a green park on the eastern edge of the island. The park was titled I Love KT Park. From a distance, several vehicles were seen parked in the park. A group of families seemed to roll out their mats to enjoy the sunset in Terengganu River by eating the home-cooked food they brought, some men on motorbikes seemed to prepare fishing rods, they were ready to hunt fish on the banks of river.

    As a venue for large events at night, the island was equipped with firing light poles in every corner. I could imagine how festive it would be tonight when the lights were turned on and poured light into the crowds of culinary tents below.

    “Looks like I have to complete the adventure by sitting and relaxing at the end of the island,” I muttered as I looked at the row of shady trees in the northern shore. I started down the canal to reach the main gate of the island which was in the form of a graceful gate with a typical Chinese pattern.

    My steps began to split the island right from the middle, I accelerated the swing of my steps to pass the twilight rays which still gave off their stings. I arrived….. Oh, there wasn’t a single bench to just sit on. Alright…. I took out the itinerary sheets which I compiled a few months ago. I tore off the first sheet where I had completed all the stages of the itinerary. I took a clearing under a big tree and sat down on my own itinerary sheet.

    Cool….silent….safe….enchanting, that was the feeling which arised when you awere under a shady tree with my gaze thrown far to the north. I could see the expanse of Pulau Duyung (Duyung Island) which was three hundred meters away and was only separated by the waters of the Terengganu River.

    Pulau Duyung Supply Centre (PDSC).
    Jabatan Pelancongan Negeri Terengganu.
    Seen in the distance is the Sultan Mahmud Bridge.
    The beauty of the Terengganu River before sunset.

    The bustle of the ships belonging to the Pulau Duyung Supply Center (PDSC), which is one of the oil and gas companies in Terengganu, was very obvious, but I didn’t know what was going on inside. The Ignorance made me only able to digest the scenery in front of me, which was like an oil shipyard.

    While on the east side, there was a magnificent building belonging to Jabatan Pelancongan Negeri Terengganu. There were tourist ships neatly lined up on the banks. Maybe it was the ships that would take tourists to the beautiful islands which were Terengganu’s marine assets.

    Next Story—->