Menginap di Plaza Hotel: Menikmati Dua Lembar Paratha

<—-Kisah Sebelumnya

Seturun dari bus bandara bernomor A1, maka aku meninggalkan Halte Ministry of Education. Aku berbelok di sebuah pertigaan yang terbentuk karena persilangan Shaikh Isa Avenue dan Qudaibiya Avenue. Langkahku bersambung dengan menyusuri Qudaibiya Avenue. Pada saat itulah pandanganku mencari keberadaan minimarket. Kehausan yang kutahan semenjak berada di Sharjah-Uni Emirates Arab membuatku begitu berhasrat untuk berburu air mineral.

Aku dengan mudah medapatkan Aroy Dee Minimarket. Tanpa ragu aku pun memasukinya demi membeli dua botol air mineral berukuran 1,5 liter dengan harga 200 Fils.

Aquafina”, aku  membaca nama brand yang menempel di kemasan air mineral tersebut.

Tak kuasa menahan haus, maka tanpa malu, aku menenggaknya di depan kasir wanita yang bertugas. Kasir itupun hanya bisa tersenyum menatap kelakuan kampunganku itu.

Very very very thirsty….”, tak lupa aku membalas senyumnya untuk kemudian pergi meninggalkan minimarket tersebut.

Langkah selanjutnya adalah menemukan hotel yang telah kupesan.

Beruntung sekali aku menemukan hotel itu dalam jarak yang tak terlalu jauh. Dalam jarak tak lebih dari 100 meter maka aku menemukan Plaza Hotel yang akan menjadi tempat menginapku selama di Bahrain.

Plaza Hotel merupakan penginapan yang kupesan melalui aplikasi e-commerce penginapan ternama sejak satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Aku memesan sebuah kamar dengan durasi menginap tiga malam. Plaza Hotel menjadi salah satu hotel yang terletak di Distrik Qudaibiya

Secara geografis, Plaza Hotel terletak di sisi selatan Qudaibiya Avenue dan terletak tak jauh dari Manama Cemetery, sebuah pemakaman umum dengan luasan tak kurang dari 16 hektar.

Memasuki hotel maka kedatanganku disambut oleh seorang resepsionis berkebangsaan Philippina. Menunjukkan e-booking confirmation dan passport kepadanya, maka aku menunggu bukti pembayaran yang sedang dipersiapkan oleh staff wanita tersebut, mengingat jenis pemesanan kamar ini diarahkan oleh aplikasi untuk melunasi pembayaran di penginapan.

Usai menunggu beberapa menit, akhirnya staff wanita itu angkat bicara.

Sir, here’s your room bill for three nights. We have a policy that you can cancel your room for the third night with a full refund. And you can confirm on the second day for this policy. Thank you, Sir”, dia menyerahkan bukti pembayaran kepadaku dengan penuh senyum

Ok, Ms. I think I will stay for three night”, aku merogoh travel walletku lalu menyerahkan uang senilai 31,5 Dinar kepadanya.

Pintu depan Plaza Hotel.
Lobby.
Koridor kamar Lantai 3.
Queen bed.
AC jadoel.

Usai menyelesaikan urusan administrasi maka aku melangkah menuju kamar. Tepat di ujung kiri ruangan, tersedia ruangan bermain bilyard di lantai pertama, tampak ruangan bilyard itu dijaga oleh wanita-wanita muda asal India, Kerala mungkin tebakanku. Hal itulah yang selalu mengurungkan niatku untuk masuk ke dalamnya selama menginap di hotel tersebut karena aku merasa kurang nyaman.

Aku pun langsung menuju ke lantai 3 melalui lift demi menemukan keberadaanku kamarku yang bernomor 320. Tak susah, aku akhirnya mendapatkan kamar tersebut.

Usai menemukan kamar maka tujuanku berikutnya adalah mencari tempat makan demi mendapatkan makan malam. Beruntung dengan mudah aku menemukan sebuah kedai makan milik pendatang asal Kerala, India.

Malam itu, aku hanya memilih menu sederhana untuk makan malam….Yupz, dual lembar Parata seharga 100 Fils.

Kisah Selanjutnya—->

Bus No A1 dari Bahrain International Airport menuju Pusat Kota

<—-Kisah Sebelumnya

Airport bus no A1.

Setelah membeli beberapa kebutuhan penting seperti SIM card, mata uang lokal Dinar dan kartu transportasi umum GO card, maka aku pun menyempatkan diri sejenak untuk menuju halaman parkir bandara demi melihat bentuk utuh bandara kebanggaan Bahrain tersebut dari pelataran depannya.

Ketika tiba di pertengahan lahan parkir….

Aku berdiri di sisi selatan bangunan bandara, aku menghadapkan muka ke arah barat. Satu hal yang membuat damai dalam tatapan tersebut adalah siraman matahari senja yang membuat nuansa di depan bandara menjadi melankolis. Membuatku tak merasa jauh dari rumah.

Spektrum sinar jingga itu menerobos di sela-sela padatnya kendaraan yang terparkir rapi di pelataran. Sedangkan sebaran tiang lampu menjulang seragam bak jari-jari senja yang bersiap menyambut gelap untuk unjuk diri.

Menjelang pukul enam sore….

Kuputuskan untuk meninggalkan halaman parkir bandara demi menuju halte airport bus. Aku berdiri di salah satu sisi platform dan telah menyiapkan mental untuk memasuki pusat kota.

Lima belas menit lamanya aku menunggu kedatangan airport bus, membuat kaki terasa pegal berdiri terlalu lama menunggunya. Bersyukur sebelum hari beranjak terlalu gelap, bus tersebut menampakkan muka di ujung tikungan drop-off zone bandara. Aku menatapnya awas, mencari penanda bahwa bus yang baru saja datang itu adalah bus tepat yang akan kunaiki. Kulihat jelas, kode “A1” tampak berada di ujung kanan atas dashboard bus.

Yes, itu bus yang sedang kutunggu”, aku membatin senang.

Tak lama kemudian, bus itu merapat di halte dan berhenti tepat di depanku. Tanpa pikir panjang aku pun melompat melalui pintu depan. Men-tap GO card di sebuah fare machine terdekat dengan pengemudi, aku memperhatikan dengan seksama bahwa saldo GO card ku berkurang sebanyak 250 Fils.

Tak lama menaikkan segenap penumpang, airport bus bernomor A1 mulai merangsek meninggalkan bandara melalui ruas Airport Avenue. Pada sisi ini, pemandangan awal kota mulai memapar pandangan. Pelita-pelita bumi mulai dinyalakan.

Keelokan panorama kota semakin tampak memesona mata ketika bus menyusuri Shaikh Hamad Causeway. Melintasi jembatan Shaikh Hamad yang mengangkangi ceruk laut Khawr Al Qulay’ah, membuatku bisa menatap ke sejauh hamparan perairan ceruk yang di ujung utaranya memperlihatkan indahnya bangunan bercahaya The World Trade Center. Bangunan bak piramid terbelah itu memendarkan warna biru dan hijau secara bersamaan.

Menyelesaikan etape di Jembatan Shaikh Hamad, bus mulai memasuki area lain perkotaan yang padat kembali. Semua area yang kulewati tampak sama seperti kota-kota besar lain di dunia yang pernah aku kunjungi.

Secara keseluruhan bus yang kunaiki melalui 19 halte berbeda. Sedangkan aku hanya akan turun, jika bus telah mencapai halte Ministry of Education di pusat kota Manama.

Berdasarkan informasi yang kuperoleh, Plaza Hotel tempatku menginap hanya berjarak 100 meter di timur halte tersebut. 

Dalam satu jam perjalanan, akhirnya aku tiba di halte yang kusasar. Tak terasa aku telah menelusuri keindahan kota sepanjang 10 kilometer.

Selamat datang Manama.

Kisah Selanjutnya—->

Berburu Perlengkapan di Bahrain International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir pukul lima sore ketika Air Arabia G9 105 telah berhenti sempurna di salah satu sisi apron Bahrain International Airport.

Sudah menjadi tabiat diri, aku selalu menjadi pribadi yang tak sabaran ketika telah tiba di tempat baru. Mungkin aku menjadi penumpang yang pertama kali bersiap untuk turun karena begitu pesawat berhenti, aku bergegas mengambil backpack dari bagasi atas, untuk kemudian kupanggul lalu mengambil posisi berdiri di depan barisan untuk keluar pertama kali dari kabin.

Keluar dari pintu depan pesawat, langkahku diarahkan melalui aerobridge yang segenap dindingnya terbuat dari kaca bening. Seperti biasa, aku berhenti dan mengamati aktivitas di sekitar apron dari dinding kaca itu.

Sejauh mata memandang, segenap sisi apron dipenuhi promotion wallpaper milik stc, sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka yang dimiliki oleh Saudi Telecom Company. Sementara itu, deretan baggage carts ditempatkan di beberapa titik apron. Tak ketinggalan pula baggage conveyor-belt truck yang tampak bersiap di sekitarnya.

Aku berdiri terdiam untuk beberapa saat demi mengamati pemandangan di apron ketika para penumpang dengan langkah cepat meninggalkan aerobridge. Ketika penumpang terakhir melintas di belakangku maka kuputuskan untuk segera memasuki bangunan bandara.

Berjalan melalui arrival hall dengan karpet abu-abu, aku bergegas menuju konter imigrasi.

Menemukan konter itu dengan mudah, aku mulai mengantri dan pada gilirannya aku melangkah menghadap ke salah satu petugas.

Begitu tiba di depannya, aku dengan inisiatif tinggi menyerahkan paspor, e-booking confirmation dari hotel yang akan kuinapi, lembaran e-Visa, e-ticket penerbangan Kuwait Airways untuk meninggalkan Bahrain menuju Kuwait dalam beberapa hari ke depan.

Is this your first time in visiting Bahrain?”, tanyanya singkat

Yes, Sir”, aku menjawab juga dengan singkat

Your Hotel?

Plaza Hotel, Sir

 “Oh….Where is it?

Qudaibiya, Sir”, beruntung aku tahu distrik tempatku menginap.

Oh, Okay…”, dia menutup percakapan sembari memberikan slip pembayaran e-Visa.

Selepas menyelesaikan urusan imigrasi, aku menuju ke lantai bawah melalui escalator. Tujuan utamaku kali ini adalah mencari local SIM card untuk keperluan komunikasi selama berada di Bahrain. Tanpa berpikir panjang, aku memasuki stc outlet dan membeli Prepaid SIM Card berkuota 8 GB dengan harga 7 Dinar.

Usai mendapatkan SIM Card, aku pun harus menyelesaikan urusan berikutnya. Aku beranjak menuju money changer outlet dan aku menemukan outlet milik Bahrain Financing Company (BFC) di sebuah koridor yang dijaga oleh staff pria berkebangsaan Philippina. Tanpa berpikir panjang, aku segera menukarkan 150 Dolar Amerika di outlet tersebut. Melalui transaksi itu maka aku bisa menggenggam 56 Dinar yang akan kugunakan sebagai bekal mengeksplorasi Bahrain dalam beberapa hari ke depan.

Suasana apron Bahrain International Airport di sore hari.
Arrival corridor.
Air Arabia G9 105 yang kunaiki.
Arrival hall.
Bahrain International Airport tampak muka.
Senja menyelimuti bandara sesaat sebelum kepergianku menuju pusat kota.

Terakhir sebelum aku benar-benar meninggalkan bandara……

Langkah terakhirku kutujukan demi mencari akses transportasi umum, tentunya itu adalah airport bus. Setelah mengeksplorasi lokasi di sekitar halte bus bandara, aku memahami bahwa diperlukan GO card untuk bisa menaiki bus umum di Bahrain. Dan di Bahrain International Airpot, GO card ini dijual melalui automatic vending machine yang letaknya berada di sebelum pintu keluar bangunan bandara.

Aku memulai transaksi di mesin otomatis tersebut untuk kemudia berhasil mendapatkan sebuah Go Card beserta saldonya seharga 1 Dinar 350 Fils. Harga itu terdiri dari 750 Fils untuk harga kartunya, sedangkan 600 Fils untuk daily trip yang bisa digunakan selama 24 jam semenjak waktu pembelian.

Sekiranya semuanya telah siap….

Aku berdiri di halte, menunggu kedatangan airport bus menuju pusat kota.

Kisah Selanjutnya—->

Air Arabia G9 105 dari Sharjah (SHJ) ke Bahrain (BAH)

<—-Kisah Sebelumnya

Demi melawan rasa haus yang tak tertahankan, aku memejamkan mata pada bangku tengah di waiting room Gate 20. Dan tanpa kuduga aku bisa terlelap selama hampir dua jam dalam posisi terduduk sambil memeluk backpack.

Aku terbangun dengan sendirinya di saat waiting room benar-benar penuh oleh penumpang. Mataku perlahan terbuka dan bibirku benar-benar kering saking hausnya.

Beruntung jeda waktu antara bangun dan pengumuman boarding tidaklah lama. Langit-langit bandara pun dipenuhi pengumuman tersebut dalam sekejap. Aku pun berdiri dan bersiap untuk memasuki kabin pesawat.

Melalui  aerobridge aku melangkah gontai, berjejal dengan segenap penumpang dalam antrian panjang. Tak berapa lama, aku tiba di pintu depan kabin. Setelah memastikan ke pramugari yang berdiri di pintu bahwa aku telah memasuki pesawat yang tepat, maka aku pun mulai mencari tempat duduk.

Tetapi begitu tiba di pertengahan kabin, seorang India menunjuk ke arah kamera yang kukalungkan di leher.

Where is your lens cap?”, dia menunjuk ke kameraku

“What…….”, aku melihat ke arah Canon EOS M10 ku

You wright….It loss”, aku berbalik bada dan menyapukan pandangan ke arah belakang

“Oh thank you, Ms….”, aku menarik nafas lega ketika seorang pramugari menghampiriku sembari mengulurkan tangannya yang membawa penutup lensa kameraku yang jatuh.

“Be careful, brother”, Pria muda India itu tersenyum kepadaku.

Sure, thank you….”, aku membalas senyumnya

Dengan cepat aku menemukan bangku, aku segera menyimpan backpack di bagasi atas dan segera membawa folding bagku untuk duduk di bangku bernomor 8D yang merupakan aisle seat di bagian depan.

Tetapi sungguh beruntung bahwa kedua bangku di sebelah kananku kosong sehingga aku bisa berpindah duduk di window seat. Aku pun bersiap untuk melakukan penerbangan menuju Manama-Bahrain.

Penumpang telah siap di bangkunya masing-masing, taxiing menuju runway pun dilakukan, usai meminta izin kepada ATC, pesawat pun melaju di atas runway dan akhirnya airborne di ujung landasan.

Bersiap meninggalkan Sharjah International Airport di Uni Emirat Arab.
Air Arabia, LCC milik Uni Emirat Arab.
Bersiap taxiing.
Terbang di atas Teluk Persia.
Manama tampak dari ketinggian.
Runway Bahrain International Airport.
Suasana apron Bahrain International Airport.

Karena Muscat International Airport terletak di tepian Teluk Persia, maka pemandangan utama pertama yang kulihat adalah birunya perairan lautan Persia. Aku yang terduduk tepat di sisi mesin sebelah kanan Airbus A320 begitu menikmati penerbangan menembus langit yang biru nan cerah.

Penerbangan selama lima puluh menit itu berlangsung mulus tanpa turbulensi. Sebagian besar porsi waktu penerbangan, aku gunakan untuk membaca inflight magazine Nawras. Air Arabia G9 105 sendiri merupakan penerbangan berbiaya rendah sejauh 500 kilometer dengan kecepatan 600 km/jam.

Penerbangan yang nyaman membuat waktu penerbangan yang kutempuh serasa pendek. Setelah mengudara selama empat puluh lima menit, pesawat mulai merendah. Garis pantai mulai tampak dari ketinggian. Hamparan pesisir berwarna kecoklatan dipadu dengan gedung-gedung pencakar langit di sisi jauh jalur penerbangan menjadi penghias sempurna pada beberapa waktu sebelum mendarat. Salah satu pencakar langit yang paling kukenal adalah The World Trade Center yang memiliki bentuk bak piramida terbelah. Gedung itu tampak jelas dari ketinggian. Membuatku tak sabar untuk segera menujunya setelah mendarat.

Ketidaksabaranku untuk segera tiba di Bahrain akhirnya usai. Air Arabia G9 105 akhirnya mendarat dengan sempurna.

Selamat Datang Manama…..Selamar Datang Bahrain.

Alternatif untuk mencari tiket pesawat dari Sharjah ke Bahrain bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Transit di Sharjah International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Posisi duduk yang berada di bangku tengah, membuatku hanya mampu sesekali mengintip kondisi di luar pesawat melalui jendelanya dari kejauhan. Begitu juga ketika Air Arabia G9 115 perlahan merendah dan bersiap mendarat di Sharjah International Airport.

Panorama daratan dengan warna dominan coklat khas padang pasir menjadi latar yang bisa kunikmati ketika pesawat hampir menyentuh bandara.

Sekitar pukul sebelas pagi, roda-roda raksasa Air Arabia G9 115 menyentuh landas pacu Sharjah International Airport, sebuah bandara yang terletak di utara Kota Dubai.

Usai melakukan taxiing sejenak, pesawat berlogo burung camar itu pun merapat di apron Terminal 2 Sharjah International Airport. Beberapa saat kemudian, awak kabin mempersilahkan segenap penumpang untuk meninggalkan kabin melalui aerobridge demi menuju bangunan bandara.

Aku pun bergegas keluar karena sudah tak sabar lagi untuk mengeksplorasi lebih dalam Sharjah International Airport.

Sampai di ujung aerobridge, aku disambut dengan keramaian penumpang yang luar biasa. Wajah-wajah Timur Tengah dan Asia Selatan tampak mendominasi di segenap ruangan.

Di sisi lain, rupa interior di arrival hall menjadi penampakan yang tak begitu istimewa menurut sudut pandangku.

Mengingat penerbanganku menu Manama akan berlangsung pada pukul tiga sore, maka secara otomatis aku harus berdiam diri di Sharjah International Airport selama empat jam lamanya. Maka tanpa pikir panjang, aku bergegas menuju transfer hall untuk menunggu penerbangan berikutnya.

Selama berada di transfer hall siang itu, hanya satu yang menjadi masalah bagiku, aku mengalami rasa haus yang teramat sangat. Aku pun berkonsentrasi untuk mencari keberadaan free water station untuk mendapatkan air minum. Maklum, siang itu aku hanya memegang mata uang Dolar Amerika, rasanya terlalu tanggung untuk menukarkan Dolar hanya untuk membeli sebotol air mineral.

Tetapi sungguh sial, aku sama sekali tak menemukan satupun free water station di seluruh penjuru transfer hall bandara. Berada di bawah naungan ketidak beruntungan, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu saja di gate.

Menurut boarding pass yang kudapatkan dari Muscat International Aiiport, maka aku diarahkan untuk mencari Gate 20, gerbang dimana Air Arabia G9 105 yang nantinya kunaiki akan diterbangkan.

Aku memang berinisiatif untuk melupakan rasa haus dan memilih untuk menuju gate lebih cepat karena di beberapa gate yang kulewati, antrian penumpang begitu padat dan panjang. Aku hanya menduga bahwa karena Sharjah International Airport adalah main-hub dari penerbangan berbiaya murah Air Arabia, maka banyak sekali penumpang yang singgah di bandara tersebut.

Sharjah International Airport sepertinya menjadi Low Cost Carrier Terminal milik Uni Emirat Arab”, aku bergumam sembari melangkah menuju Gate 20.

Tampilan Sharjah Inernational Airport.
Transfer Hall.
Antrian panjang menuju Gate 20.
Usai melewati screening gate.
Air Arabia G9 105 dari waiting room Gate 20.

Benar adanya….

Aku mendapati Gate 20 yang telah tertutup antrian panjang. Aku pun terpaksa mengantri di bagian belakang yang jaraknya telah jauh dari gerbang pelepasan.

Mengantri dengan penuh kesabaran, pada akhirnya aku berhasil memasuki screening gate dua puluh lima menit kemudian.

Kemudian aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku waiting room Gate 20 demi menunggu Air Arabia G9 105 tiba.

Kisah Selanjutnya—->

Air Arabaia G9 115 dari Muscat (MCT) ke Sharjah (SHJ)

<—-Kisah Sebelumnya

Aku terduduk di salah satu bangku berwarna hijau di waiting room Gate C3 Muscat International Airport. Aku menunggu kedatangan Air Arabia G9 115 yang rencananya akan mengantarkanku untuk transit di Sharjah sebelum sampai di tujuan akhir Manama, Bahrain.

Aku cukup sabar dan tenang ketika menunggu kedatangan pesawat tersebut. Aku menjadi penumpang pertama yang tiba di waiting room tersebut berusaha untuk khusyu’ mengamati pemandangan sepanjang apron. Hilir mudik pesawat mampu membuatku mengindahkan rasa bosan. Untuk beberapa saat aku tak menyadari bahwa seiring waktu berjalan, waiting room itu mulai didatangi calon penumpang.

Aku beranjak dari dinding kaca, dan mengambil duduk di depan gate, bersiap diri untuk melakukan boarding.

Tepat jam sepuluh pagi….

Pengumuman memenuhi langit-langit bandara, penerbangan Air Arabia G9 115 memulai proses boardingnya. Aku yang bersemangat, terkesiap dan berdiri di antrian paling depan. Tak lama kemudian, ground staff wanita yang ada di depanku melempar senyum manis dan mengangguk, pertanda bahwa aku dipersilahkan melewati gate. Aku menunjukkan boarding pass dan paspor secara bersamaan, dan dia mengarahkanku menuju aerobridge demi memasuki kabin pesawat.

Di tengah jalur aerobridge itulah, untuk pertama kalinya aku bisa melihat penampakan bangunan bandara, gagah dan berwibawa, itulah kesan pertama yang mengendap dalam pikiranku. Bangunan bandara itu tampak solid dan kokoh dengan gradasi dua warna, hitam di bagian atas dan putih di bagian bawah.

Memasuki pesawat, aku disambut oleh pramugara di tengah kabin. Sebut saja namanya Mustafa, air crew yang berperawakan tinggi.

Nice backpack”, dia tersenyum sembari menunjuk ke backpack yang aku panggul.

I had travelled with it in 30 countries”, aku bergumam pelan sambil menatapnya.

“What?”…..”Thirty”……”Cool”, dia terperangah.

Yeaaa”, aku semakin melebarkan senyum.

Waiting room Gate C3, Muscat International Airport.
Air Arabia G9 115 sudah menunggu di apron.
Melintasi aerobridge saat boarding.
Bentuk Muscat International Airport tampak dari aerobridge.
Kabin Air Arabia G9 115.

Usai memasukkan backpack di bagasi atas, aku segera duduk di bangku bernomor 20E, posisi bangku yang tak menjadi idaman buatku karena keterbatasanku untuk mengeksplorasi suasana di luar pesawat saat penerbangan berlangsung.

Air Arabia sendiri menjadi maskapai ke-26 dari 29 jenis maskapai yang pernah kunaiki. Sedangkan Air Arabia sendiri termasuk ke dalam golongan Low Cost Carrier (LCC) yang berbasis di Sharjah, Uni Emirat Arab. Menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku karena telah diberikan kesempatan untuk menikmati LCC berwarna putih denga kelir merah tersebut.

Air Arabia G9 115 yang kunaiki merupakan penerbangan berdurasi 40 menit dengan jarak tempuh 390 km. Menggunakan pesawat berjenis Airbus A320, penerbangan ini memiliki inflight magazine bertajuk “Nawras”. Dari majalah itu aku mengetahui bahwa Air Arabia memiliki 170 rute penerbangan yang melintas di 50 negara.

Penerbangan pagi itu berlangsung mulus tanpa turbulensi dan aku tiba di Terminal 2 Sharjah International Airport menjelang tengah hari.

Aku pun tak sabar untuk segera menapaki Sharjah International Airport.

Terimakasih Air Arabia.

Alternatif untuk mencari tiket pesawat dari Muscat ke Sharjah bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Menuju Gate C3: Menangkap Air Arabia G9 115

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah lima pagi aku terbangun dari sebuah bangku panjang di salah satu sudut food court Muscat International Airport Lantai 2. Aku bergegas menuju Musholla di lantai yang sama untuk menjalankan shalat dan setelahnya aku kembali ke bangku yang sama untuk menyantap cheese cake dan strawberry yogurt yang kubeli di Lulu Hypermarket pada sehari sebelumnya.

Setidaknya hingga pukul enam pagi aku bertahan di bangku itu untuk kemudian beranjak ke toilet demi menggosok gigi dan menyeka muka.

Ketika semua sudah kurasa siap, maka aku segera menuju ke Departure Hall di Lantai 3 demi menuju ke check-in desk.

Aku sudah tak sabar untuk pergi menuju ke tempat baru lainnya. Pagi itu akan terbang menuju Manama, Bahrain. Akan tetapi penerbangan Air Arabia yang kuambil akan membawaku untuk transit sementara waktu di Sharjah, Uni Emirat Arab.

Walau beberapa hari sebelumnya aku telah mengeksplorasi Dubai, ibu kota Uni Emirat Arab. Akan tetapi rencana transit di Sharjah pagi itu tetap tak mengurangi rasa antusiasku.

Melalui escalator aku menuju lantai 3. Tiba di Departure Hall, aku sigap mencari keberadaan Flight Information Display System (FIDS) demi mencari informasi tentang penerbanganku. FIDS yang terpampang di salah satu sisi koridor mengarahkanku menuju check-in desk nomor F9 untuk mendapatkan boarding pass.

Tanpa pikir panjang aku segera melangkah menuju check-in desk yang dimaksud. Tiba di depannya, tampak sudah mengantri para calon penumpang dengan wajah khas Asia Selatan. Dari paspor yang dipegang, aku tahu bahwa mereka berkewarganegaraan Bangladesh.

Mengantri tak lebih dari setengah jam, akhirnya aku mendapatkan dua boarding pass. Selain untuk penerbangan Air Arabia G9 115 dari Muscat menuju Sharjah, aku juga mendapatkan boarding pass untuk penerbangan Air Arabia G9 105 dari Sharjah ke Bahrain.

Aku menggenggam dua boarding pass tersebut untuk kemudian bergegas menuju konter imigrasi. Dengan mudah aku menemukan konter imigrasi tersebut setelah mengikuti arahan dari beberapa signboard yang terpampang di beberapa titik koridor.

Abis gosok gigi….Hihihi.
Cari info di FIDS.
Menuju Check-in Desk.
Mendapatkan boarding pass di check-in desk F9.
Free duty zone.
Menuju Gate C3.

Sedang enak-enaknya mengantri di konter imigrasi. Seorang petugas imigrasi berjubah putih memanggilku untuk keluar dari antrian.

ID card please !”, dia memintaiku identitas kewarganegaraan.

Wait, Sir”, aku menurunkan backpack lalu berjongkok mengaduk-aduk isinya demi menemukan travel wallet

Is this what you mean?”, aku memberikan KTP WNIku beserta paspor.

Dia terdiam dan fokus mengamati KTP dan paspor yang kuberikan.

Traveling?”, dia berujar memastikan tujuanku berkunjung ke Oman

Yeaa, just traveling”, aku tersenyum sembari menerima kembali KTP dan pasporku.

OK”, tangannya mempersilakanku untuk kembali menuju antrian yang kutinggalkan. Bahkan petugas itu dengan baiknya memohon izin kepada para pengantri demi menyelipkanku di antrian depan, sesuai dengan urutan antrian yang kutinggalkan beberapa menit sebelumnya.

Menghadap staff imigrasi di salah satu konter, dengan mudah aku mendapatkan stempel departure di paspor.

Aku meninggalkan konter imigrasi dengan sumringah dan kemudian mengesampingkan keberadaan free duty area yang kulewati.

Aku merapat ke Gate C3 dan bersiap menuju Sharjah….

Kisah Selanjutnya—->

Menginap di Muscat International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Ruwi-Mwasalat Bus Station mulai diselimuti gelap, hanya sisa semburat senja saja yang memiliki dominasi akhir di atas atap alam terminal bus terbesar di kawasan Ruwi tersebut.

Degup jantungku perlahan melambat usai mendudukkan diri di sebuah bangku terminal, beberapa waktu sebelumnya aku berjibaku di sepanjang Al Fursan Street dengan langkah super cepat demi mendahului gelap untuk tiba di terminal bus.

Sesekali aku meneguk air mineral tersisa, aku berusaha mendinginkan keringat sebelum masuk ke dalam bus.

Sedangkan tepat di depanku, menyala dengan langsam mesin Mwasalat Bus bernomor 1B. “Lebih baik aku naik jika bus bersiap untuk jalan saja”, aku membatin sembari menatap ke arah bus yang perlahan terisi penumpang, tetapi tak terlalu penuh.

Beberapa detik menjelang pukul enam sore…

Pengemudi mulai menaiki bus di bangkunya, bersamaan dengan itu aku pun ikut serta masuk melalui pintu depan. Menyerahkan ongkos senilai 1 Rial maka aku duduk di bangku tengah, tepat di belakang seorang turis asal Eropa yang tampak sibuk mengotak-atik kamera DSLRnya.

Seperti perjalananku menuju Ruwi-Mwasalat Bus Station beberapa hari lalu dari bandara, perjalanan ini akan membutuhkan waktu setengah jam saja untuk tiba di tujuan akhir .

Bus perlahan berjalan meninggalkan terminal, memasuki jalan-jalan kota yang indah tersiram cahaya lampu-lampu jalanan. Sedangkan beberapa bangunan ikonik di sepanjang jalan menampilkan keelokan tersembuyi ketika mendapatkan terpaan lampu berwarna-warni, menjadikan seluruh penjuru kota Muscat yang kulewati tampak hidup.

Menyusuri Sultan Qaboos Street, aku terus terhanyut dalam suasana malam kota. Turis Eropa yang berada di depanku tampak sesekali mengarahkan kameranya ke beberapa sudut kota yang menarik mata.

Sedikit lewat dari pukul setengah tujuh malam….

Aku tiba di Muscat International Airport dan diturunkan di Public Bus Service Area yang berlokasi di Ground Floor bandara. Aku tak terburu-buru untuk memasuki bagian dalam bangunan bandara karena memang penerbanganku menuju Bahrain masih dijadwalkan esok pagi.

Aku pun beranjak menuju Lantai 1. Aku memutuskan untuk berada di luar bangunan bandara demi menikmati keindahan Muscat International Airport di malam hari dari salah satu sudut tamannya. Udara yang belum terlalu dingin seolah mendukung niatanku untuk menghabiskan waktuku di taman depan bandara tersebut.

Duduk di salah satu bangku taman, aku terus berpikir, begitu apiknya Oman Airports sebagai operator Muscat International Airport dalam menata bandara berusia setengah abad tersebut. Sejauh mata memandang, parkir area yang tertata rapi telah dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan mewah. Sedangkan cahaya di setiap penjuru taman menjadikan gradasi tiga warna dominan melukis penampilan bandara. Warna hijau dari vegetasi di sekitar bandara berpadu dengan warna putih dan kuning cahaya lampu membuat simfoni alam yang meneduhkan mata.

Keindahan suasana manjadikanku tak sadar terpedaya oleh waktu. Tak terasa tengah malam sekejap lagi tiba. Udara juga terasa lebih dingin dari waktu sebelumnya. Tak mau kedinginan, aku pun menuju lantai dua bangunan bandara yang merupakan lantai dimana Services & Amenities Area ditempatkan.

Tujuan utama dan pertamaku di lantai itu adalah musholla, tentunya demi menunaikan kewajiban shalat Jamak Maghrib dan Isya’.

Usai shalat, aku tak punya tujuan lain setelah selain beristirahat. Maka kuputuskan untuk mengakuisisi sebuah bangku kosong di food court area untuk tidur dan beristirahat hingga fajar tiba.

Sungguh aku telah menemukan malam yang berkesan di Muscat International Airport.

Kisah Selanjutnya—->

Arwana Bus from Kuala Terengganu to Kuantan

<—-Previous Story

I staggered and grabbed any handles when I suddenly woke up from sleep and headed straight for the shared bathroom when my eyes hadn’t been fully opened. That was because I stared at the clock on the wall perched at half past eight.

“Damn”, I cursed my waking up too late. At dawn, I deliberately pulled back the blanket and covered my cold body. Luckily, last night I had packed all my supplies.

I took a quick shower, yet my whole body still felt clean after the last shower at ten o’clock last night. I put back on the t-shirt I wore to sleep last night and put on the jeans I had prepared last night.

After that, I locked my backpack on my back and headed to the shared kitchen to brew oat powder with hot water from the dispenser. It was a tedious breakfast menu, but I’ve been repeating myself for three days out of my home.

While sipping the wet oat powder mouthful after mouthful, I began to worry because the reception desk was still dark and empty.

“Ouch, what time will the staff be ready? I might be late chasing the bus”, I thought to myself and hoped that, after breakfast, the staff would come so I could hand over the key and take the deposit.

It turned out that until breakfast was over, the room was still empty. I, who was getting more and more anxious, could only give up waiting in the lobby. Luckily, fifteen minutes later, the inn owner appeared and immediately smiled at me.

“I want to check out….sorry for the long waiting”, he started a conversation while turning on the room light and heading behind the desk. The lack of guests at the inn made him not need to ask for my identity and room number because he would easily memorize it. It didn’t take long to take the envelope with my room number containing the 30 Ringgit deposit and then gave it to me.

“Thank you, Sir”, I received the money and handed over the key.

“See you….Be careful”, he waved as I started down the stairs to leave the inn.

Outside the inn….For the fifth time, I completely completed the route to the Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Now I walked very fast and focus only on getting to the terminal. I’d rather wait far from the bus departure time than missed it.

It was almost half past nine when I arrived right in front of the counter where I bought my ticket yesterday.

“Wait for it on platform 1, the bus will come later”, was the answer from the counter staff when I asked where to wait.

“Whatever, in the next hour I’ll just wait here”, I thought as I took the concrete seat next to platform 1.

But waiting for something in a foreign land was always interesting. Observing the activities of local residents on each side of the terminal kept me away from boredom.

Until finally I was shocked when a red maroon bus with a yellow combination appeared from the rear gate of the terminal.

“Arwana Group”, I could clearly read it from a distance.

This was the bus I was waiting for. The bus arrived fifteen minutes before departure. The bus stopped right on platform 1 and I rushed towards it until an Arab-looking man stopped me.

“Kuala Lumpur….this?”, his short question was thrown at me.

“Yes….This bus goes to Kuala Lumpur”, I answered briefly.

“Where are you coming from?”, I added.

“Yemen….”

“Is Yemen Okay now?”, as far as I knew the country was in civil war.

“Yeah…better”

I jumped in from the front door and looked for seat number 13. I chose the single seat on the bus which had a 2-1 formation of seats.

Exactly at half past ten, the bus started the long journey to Kuala Lumpur…

The 43 Ringgit trip would take 5 hours and cover a distance of no less than 450 km.

The bus started leaving the city by commuting through Perusahaan 3 Street, this was the main overland route on Malaysia’s east coast that stretched for more than 700 km, starting from Kelantan in the north and ending in Johor Bahru in the south. I was very grateful for being given the opportunity by God to comb the seaside with the most beautiful scenery in all of Malaysia. The most amazing sight on this trip was where I could cross the road which was only 50 meters from the beach. Later I would show you the beauty of this road.

At the beginning of the trip, I still remember the view of Kuala Terengganu that was presented to Kuala Ibai Village, because I had passed it while visiting the Tengku Tengah Zaharah Mosque the other day. But after crossing the Ibai River, I passed through an area with views I had never seen before. Instead of falling asleep, the sight managed to keep me awake all the way.

Within half an hour, the bus started to leave Kuala Terengganu District and entered Marang District which took Pandak Beach to the gate. Three kilometers away, the bus crossed the coastline of Rusila Beach which was one of the most beautiful sights in the district. Until finally the bus rested for a while at Hentian Bas Marang. The bus had to pick up some of its passengers at the small terminal.

The view after a short pause at the Marang City bus terminal may be the highlight of this trip. The beautiful seaside scenery stretched for 50 kilometers starting from Peranginan Kelutut Beach to Batu Pelanduk Beach at the beginning of the Kuala Dungun District.

My bus has arrived.
It was time to start the long journey.
Peranginan Kelutut Beach.
One of the rivers in Marang District.
The Lipur Rantau Abang Forest in Persekutuan 3 Street, Marang District.
Pulau Serai Bridge over the Dungun River, Kuala Terengganu Street, Kuala Dungun District.

Two hours away, the bus had now passed through the main landmarks of the Kuala Dungun District, especially not the Dungun River which has a width of no less than 300 meters.

The bus quickly started entering Paka City. The city was home to Malaysia’s largest power plant run by the national power company, Tenaga Nasional. No wonder the vast expanse of electric power stations was in this city.

More than ten kilometers parallel to the bend of the Paka River until the bus finally left Paka City and entered a new city, Kerteh City.

Kerteh is an oil city because it has the potential for petroleum stored at the bottom of the South China Sea. The city of Kerteh is one of the most important places in the state of Terengganu because of its dense population and complete public facilities.

Exploring Kerteh City made me understand that Petronas, the giant oil company in my neighboring country, placed many important facilities in this city. Oil refineries, gas pipelines, chemical factories, and the Petronas housing complex dominated the sightings along Kemaman-Dungun Street.

For almost half an hour, I was presented with the bustle of the oil business of Kerteh City, until finally, the bus arrived at the southernmost area of ​​the state of Terengganu, namely the Kemaman District. This is the border area between Terengganu State and Pahang State.

Entering Kemaman, the bus directly divided Chukai City which was the capital of Kemaman District. City parks were spread out in the corners of the city, and congestion was starting to feel, while the Kemaman River stretched widely as the main decoration of Chukai City.

Sultan Mizan Zainal Abidin Polytechnic on Paka Street, Paka City.
Paka River seen from Kemaman-Dungun Street.
Sultan Ismail Janaelectric Station, Paka City.
Petronas’ oil refinery on Kemaman-Dungun Street, Kerteh City.
Kertih Bridge, over the Kertih River, Kemaman-Dungun Street, Kerteh City.
Persiaran Chukai Park on Sulaimani Street, right on the banks of the Kemaman River, Chukai City.
Geliga Bridge over the Kemaman River, Kuantan-Kemaman Street, Kemaman District.
Hentian Bas Ekpres Kemaman in Kemaman District.

South of Chukai City, the bus stopped a second time. This time the bus picked up two passengers at the Kemaman Express Bus Stop. After carrying its passengers, the bus continued its journey to get out of the southern border of Terengganu State and started its adventure in Pahang State.

There was still an hour to arrive at Kuantan Sentral Terminal, the main bus terminal in Pahang State. Meanwhile, it was one o’clock in the afternoon. I was sure all the passengers were feeling the same way….Hungry.

And a quarter of an hour after entering the State of Pahang, the bus finally decided to stop for lunch. It was D’Cherating Cafe which took its name according to the area where the restaurant stood, namely in Cherating Village.

Here, the driver allowed passengers to enjoy lunch for half an hour and then continued the rest of the journey to Terminal Sentral Kuantan . At the end of the journey, the driver-focused behind the wheel to complete the last 40 kilometers to the largest bus terminal on Malaysia’s east coast.

My first stage of the journey was over…

After a break at Kuantan Sentral Terminal, I would continue my journey to the final destination, i.e the Terminal Bersepadu Selatan in Kuala Lumpur.

D’Cherating Restaurant, Pahang State.
Terminal Sentral Kuantan at Pintasan Kuantan Street, Pahang State.

You could also get Kuala Terengganu to Kuantan bus tickets (Kuala Terengganu to Kuala Lumpur) on travel e-commerce on 12go Asia with the following link:  https://12go.asia/?z=3283832

Closing Night in Kuala Terengganu

<—-Previous Story

In the afternoon….It was a quarter to six….

I sat in the front seat on the left when Bas KITē slowly left the Tamadun Islam Park complex. Via the only connecting bridge, Bas KITē completed its wheel loop over Wan Man Island.

Only me….
The driver.

Now the Bas KITē would complete the remaining half of the journey to the Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, when I got there, the bus would take a break to operate again tomorrow at half past ten in the next morning.

On the way back to the inn, I was more relaxed and free to talk with the driver. During the rest of the trip, he told about his daily activities with four other Bas KITē drivers in operating that special city bus. He also told about his son who was having a hard time finding work in Kuala Terengganu, many employment sectors chose to use foreign workers which made it difficult for residents to find a livelihood. I only listened to it as a form of empathy, even though I didn’t know the real facts.

On the way back to the inn, the bus driver only took a middle-aged female passenger who seemed to be very familiar with him. Maybe the woman was a subscriber to his Bas KITē, so as soon as she got on, the driver immediately familiarly asked about the woman’s activities throughout the day. The rest after the female passenger boarded, only the two of them had the dominant conversation until the trip was over. The conversation with Terengganu’s thick accent I tried to understand even though I could only absorb it a little.

At a quarter past six I arrived at the Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu….

Jumping off the bus and thanking the Bas KITē driver once again for giving me five precious minutes to enjoy the beauty of the Crystal Mosque, I tried to leave the terminal as quickly as possible. I didn’t want to be trapped in the dark in the terminal.

I swiftly walked through Masjid Abidin Street to arrive at the intersection where the PERMINT Tower stood. “What’s that sound?…”, I stopped when I heard a noise from a height. Due to that sound, I backed off from the inn. I was now walking along Sultan Ismail Street towards the source of the sound. “Wow….That’s a flock of sparrows”, I knew now. On the entire face of the Wisma PERMINT building, perched a lot of sparrows calling to each other, making the sound like a pleasant harmony to be heard at sunset.

For so long I was stunned, capturing and videoing the scene that two other tourists suddenly came next to me and did the same. After a while of enjoying the harmony of the sound of the sparrows, simultaneously the street lamps began to come on, and the building lights began to be turned on, making the path along Sultan Ismail Street show off the beauty of its colorful lights.

“Looks like I have to enjoy my closing night in Kuala Terengganu by being on the streets even if only for a moment”, I decided.

My night exploration step started from the KT Walk which was a spacious area that usually presents a night market view for residents. It was just that the night has just begun, and a row of new food stalls was getting ready to entertain their prospective guests who would arrive soon. Because there were no significant activities, I just enjoyed the KT Walk for a moment from a corner of the field.

Enjoying the choir of sparrows at Wisma PERMINT.
The front side of KT Walk.
SiThe quiet side of KT Walk.i.

The night was creeping up and the lights were starting to look more dazzling as the sky darkened. I continued to comb along Sultan Ismail Street and then was stunned at a bookstore that seemed to be the favorite bookstore in the city, SMO Bookstores. “There’s nothing wrong if I go in …”, I idly started.

I rushed into the bookstore. As soon as I entered the shop, I just looked around and visited several bookshelves which were visited by many visitors. “A collection of novels which have been adapted into Malay”, I slightly frowned as a sign that I wasn’t interested in it.

SMO Bookstores isn’t as big as a well-known bookstore brand in Indonesia, the collection isn’t much, but many people visit it. Maybe Malaysia’s good literacy rate makes it so.

I finally left SMO Bookstores and resumed my journey to enjoy the night atmosphere of Kuala Terengganu. Although not too crowded, that night was able to make me a little amazed because, during the two days in Kuala Terengganu, I was more dominant in enjoying the atmosphere of the day. Even though the sparkling lamp that night wasn’t as beautiful as in Kuala Lumpur, it still kept its charm. A city that wasn’t so crowded was showing its beauty at night.

I turned at the corner at the northern end of Air Jernih Street, which was still doing business. Walking along the street, I stopped again at a 7-Eleven, I purposely entered it to look for fast food on my dinner menu. I felt like I have been reluctant to go back a little further to visit “Kedai Kak Na” which I visited that afternoon. It was better to just look for perfunctory food at the mini market.

I came out of the 7-Eleven with a packet of fried rice that had been heated in the microwave for a while. I immediately left the minimarket to the inn while enjoying the remaining scenery. Continuing a little step on Kota Lama Street, I turned left on Engku Pangeran Anom 2 Street and then arrived at the inn, The Space Inn…

Engku Pangeran Anom, who is it?

Engku Pangeran Anom was a Terengganu noble with the full name Pengiran Anum Engku Abdul Kadir bin Engku Besar. He was a man who really understood the history of Terengganu and was often a reference to the sultanate which at that time was led by Sultan Ahmad.

I arrived at the inn at exactly half past eight….

It was time for me to wash up, have dinner, fold the clothes and tidy up my backpack because tomorrow I would leave Kuala Terengganu at half past ten in the morning.

Wisma Maidam was towering on Sultan Ismail Street which was used for the Kuala Terengganu Islamic Bank office.
The intersection that I often pass every day while in Kuala Terengganu.
Umobile Center (Telecommunication Equipment Store) on Engku Sar Street. Engku Sar refers to the name of the father of Engku Pengiran Anom whose full name is Syed Abdullah Al-Idrus. “Sar” is another name for “Sir”.
Aneka KAMDAR Building on Kota Lama Street is used as an ASC (Arena Sports Center) which is a Sports Venue business in Kuala Terengganu.
Let’s sleep!…. It was 11 p.m.….Tomorrow I would walk again.

Next Story—->