Category: South East Asia

  • <—-Kisah Sebelumnya Selasa….Usai Subuh…. Mata masih kuyu…Badan serasa lemas. Semalaman tidurku terinterupsi oleh dengkuran seorang penginap yang terlelap pulas di sebelah kanan ranjang. Tak hanya diriku, aku pun bisa merasakan protes dari seorang penginap yang tidur persis dibawah bunk bed. Berkali-kali aku bisa merasakan, dia menghantam dasar bunk bed yang kutiduri. Mungkin dia merasakan hal…

  • <—-Kisah Sebelumnya Pada langkah pertama sekeluar dari area Central Market, terjadilah pengkhianatan niat. Langkahku tetap saja tak terima menuju ke penginapan. Hampir menginjak pukul sembilan malam…. “Central Market boleh saja mulai pudar kharismanya ditelan gulita, tetapi tidak dengan Petaling Street. Disana keramaian baru saja dimulai”, aku mulai memaksa niat untuk berubah haluan, walaupun sesungguhnya badan…

  • <—-Kisah Sebelumnya Usai menyesap serbuk oat, aku beranjak pergi dari tepian Jalan Tun Sambanthan. Menyeberanginya untuk mencapai pelataran Central Market. Di pelatarannya, aku berdiri mematung, menatap segenap bangunan pasar yang gemerlap dengan pelita. Inilah salah satu landmark di Kuala Lumpur yang telah berusia lebih dari 130 tahun. “Hhmmhhh….Central Market, harus bertindak bagaimana di kunjungan keempat…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku lapar sekali sore itu…. Aku bergegas menuruni escalator demi escalator untuk menuju lantai 3 Terminal Bersepadu Selatan dan langsung memutuskan keluar melalui jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan. Setiba di depan deretan ticketing vending machine, aku segera mencari tiket menuju Stasiun Pasar Seni yang akan kutempuh menggunakan dua laluan kereta yang…

  • <—-Kisah Sebelumnya Menjelang maghrib aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan pasca mengarungi perjalanan delapan setengah jam dari Kuala Terengganu menggunakan jasa Bus Arwana. Inilah terminal raksasa di selatan kota yang menggantikan peran Terminal Bus Puduraya yang terletak di tengah kota. Malam itu, aku akan menginap di The Bed Station di daerah Pasar Seni, tapi aku…

  • <—-Kisah Sebelumnya Seperti adegan-adegan fiksi yang terjadi di terminal-terminal pemberangkatan, kali ini aku terharu ketika menyaksikan seorang perempuan muda beransel memeluk erat ibunya sembari menenteng travel bag besar. Dugaan termungkin adalah anak itu akan pergi jauh dari orang tuanya di Kuantan dan akan menuntut ilmu di ibu kota. Naiknya perempuan muda itu melalui pintu depan…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku terhuyung menyambar sembarang pegangan ketika terbangun mendadak dari tidur dan langsung menuju kamar mandi bersama ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul. Itu gegara aku menatap jarum jam dinding bertengger di angka setengah delapan. “Kacau”, aku mengutuk bangunku yang sudah terlalu siang. Ba’da Subuh tadi, aku memang sengaja menarik kembali selimut dan menutupi badan…

  • <—-Kisah Sebelumnya Sore hari….Jam enam kurang seperempat…. Aku duduk di kursi paling depan sisi kiri ketika Bas KITē perlahan meninggalkan kompleks Taman Tamadun Islam. Melalui jembatan penghubung satu-satunya, Bas KITē menyudahi putaran roda di atas Pulau Wan Man. Kini Bas KITē akan menuntaskan setengah perjalanan tersisa menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, sesampainya di…

  •   <—-Kisah Sebelumnya Hampir pukul lima sore…. Aku masih menebak-nebak, siapakah gerangan, satu dari tiga pengemudi yang akan menjalankan trip terakhir Bas KITē laluan C02. Mereka sedang asyik bersenda gurau dan berbincang akrab di kedai kopi pojok terminal. Aku terus mengamati dari bangku tunggu di belakang antrian Bas KITē hingga akhirnya satu dari mereka beranjak…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku terduduk dan intens mengawasi lalu lalang kendaraan di Jalan Batu Buruk dari bawah pokok Rhu ketika para jama’ah shalat Dzuhur mulai berdatangan. Beberapa dari mereka tersenyum melihatku yang masih saja duduk mengampar di hamparan rumput Bazaar Ramadhan Masjid Terapung. Beberapa menit setelah iqamah dikumandangkan, bus yang kutunggu mulai memperlihatkan badan hidungnya di…