Category: East Asia
-
<—-Kisah Sebelumnya Hampir jam sembilan malam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Busan International Film Festival (BIFF) Square di daerah Nampo-dong. Aku mulai melangkah meninggalkan konter resmi UNIQLO di bilangan BIFF Gwangjang-ro dan kemudia berlanjut di jalan utama, Gudeok-ro. Seratus lima puluh meter di depan sana adalah Gate 7 Stasiun Jagalchi yang menjadi target langkahku untuk…
-
<—-Kisah Sebelumnya Segenap penumpang Air Busan BX 123 sudah berdiri di cabin aisle demi bersiap menuruni pesawat. Setelah salah satu pramugara berkoordinasi dengan ground staff, akhirnya juluran aerobridge menempel sempurna di badan pesawat dan pintu telah aman untuk dibuka. Tak lama kemudian, aku mengikuti langkah barisan penumpang di depan untuk keluar dari kabin. Sepanjang menapaki…
-
<—-Kisah Sebelumnya Air Busan adalah maskapai ke-16 dari 28 maskapai berbeda yang pernah kucicipi. Low Cost Carrier (LCC) dari Negeri Ginseng ini memiliki main hub di Gimhae International Airport. Bukan niatan mengunjungi Busan, tetapi karena harga tiket murah yang ditawarkan Air Busan lah yang membuatku memutuskan untuk singgah di Busan sebelum mencapai tujuan utama, yaitu…
-
<—-Kisah Sebelumnya Lelapan hari pertama tahun baru, masih membalut erat kedua mata. Membalas dendam kebekuan badan tadi malam saat perayaan malam pergantian tahun di Dōtonbori Canal dengan kehangatan selimut Hotel Kaga menjadi sesuatu yang kuanggap impas. Namun akhirnya, hanya satu hal yang mampu memaksa mata untuk tak lagi terpejam, yaitu penerbangan Air Busan BX 123…
-
<—-Kisah Sebelumnya “Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga. “Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan. “See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum. Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol…
-
<—-Kisah Sebelumya Malam nanti adalah malam tahun baru. Ini pertama kalinya aku akan menikmati pergantian tahun di luar negeri, Osaka tepatnya. Tak pelak aku telah meniatkan untuk menikmati bagaimana meriahnya malam Osaka saat New Year’s Eve Countdown. Tapi ini baru pukul 17:00 ketika aku menyudahi menu makan siang yang sangat terlambat. Aku meninggalkan restoran rumahan…
-
<—-Kisah Sebelumnya Dari Stasiun Namba aku menaiki Osaka Metro di arus Midosuji Line, tak berselang satu stasiun pun, aku turun di Stasiun Shinsaibashi. Kemudian mulai mengambil langkah ke selatan menelusuri Mido-suji Avenue. Mido-suji Avenue sendiri berupa jalanan empat ruas yang diapit oleh jalur lambat di kiri-kanannya. Jalur lambat dan jalur cepatnya dibatasi oleh jajaran pepohonan…
-
<—-Kisah Sebelumnya Meninggalkan Osaka Castle melalui Uemachi-suji Avenue , aku menuju Stasiun Tanimachi 4-chome. Melewati deretan pohon red-maple yang tertanam di setiap sisi jalan, kemudian menuju pintu masuk stasiun yang terletak di kaki-kaki perkasa Osaka Museum of History. Enjoy Eco Card (nama lain One Day Pass di Osaka) seharga 600 Yen (Rp. 82.000) membuatku nyaman…
-
<—-Kisah Sebelumnya Gambar itu adalah penggalan adegan film “ The Last Samurai”, ketika Kapten Nathan yang diperankan Tom Cruise bertarung secara terhormat bersama pemimpin para Samurai yaitu Katsumoto yang diperankan aktor kawakan Jepang Ken Watanabe melawan tentara Kaisar Meiji yang dilatih oleh Angkatan Darat Amerika. Latar belakang perang ini adalah “Modernisasi Vs Feodalisme”. Kaisar mengagungkan…
-
<—-Kisah sebelumnya Seperempat jam menuju pukul sembilan….Aku meninggalkan Hotel Kaga di Distrik Kota Nishinari setelah menitipkan backpack di ruang resepsionis. Aku bergegas menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Tetapi terlebih dahulu, aku harus menjejalkan sesuatu ke perut sebelum tiba di stasiun itu. Sedari tengah malam tadi, ketika aku tiba di Osaka, belum sesuap pun aku makan. Aku memutuskan…