7 Tourist Attractions in Pokhara

<—-Previous Story

Visiting Nepal is synonymous with visiting the Himalayas. And all travelers know that the Himalayan gate is in Pokhara. It has been a long time since this city, nicknamed as “Gem of Himalaya”, has opened itself to show its beauty around the world.

This had put Pokhara on the top list in my visitation to South Asia region. Not Kathmandu, but Nepal’s second largest city which is located in northwest valley of Pokhara, this was what made me hurry for a moment to leave the capital city of Nepal even though it had only been arrive a day before.

Here were seven tourist attractions which I visited in Pokhara:

1 Sarangkot.

Being the closest vantage point to enjoy the Himalayas had placed Sarangkot as a special place to visit for travelers who didn’t have much time to hike that famous mountains.

Early arriving in the morning and sat at the viewpoint ahead of dawn. Enjoying colors gradation which hit ice layer at Machhapuchhare peak. Undoubtedly the golden color would fascinate you.

2. Bindhyabasini Temple

Descending from Sarangkot with its background of iconic Phewa Lake, I immediately headed to a Hindu temple where the Goddess Bhagwati worshiped, which was 7 km east of Sarangkot. Exactly at 08:14 hours. the temple was already so busy with visitors and also congregants who had come to pray.

Temple location which was on a hill made me freely gaze in observing dense residential housing with Himalayas background which turn blue with white ice at its peak.

3. Old Bazaar/Purano Bazaar

Now I was moving about 2 km southward down the road to a commercial place which dated back to the 18th century. The market was dominated by Newar architecture with red brick motifs with a lane which was only enough for two vehicles passing each other.

9:15 am….It was too early for Pokhara people to trade. As far as the eye could see, my memory was spoiled with market streets view which were flanked by classic buildings on either side of road, then at the end of road, there were dammed with Himalayas face whose timeless beauty.

Because the market was so quiet, no one bothered me in enjoying Jalebi in the middle of street.

4. International Mountain Museum

After returning to hotel for breakfast. Then, I continued visiting a museum which was dedicated to Himalayan climbers who never again safely descended.

By paying 450 Rupee, I was treated to a gallery which displayed a photos series of snowy peaks around the world which was followed by the peculiarities of various ethnic Nepalese inhabitants, then closed with several heroic stories of Himalayan climbers.

5. Tashiling Tibetan Refugee Camp.

For those who haven’t had a chance to visiting Tibet, then feel its nuance by visiting Tibetan people in Tashiling. This village was inhabited by Tibetan refugees who migrated because of political intrigue.

They made a living by trading in their new home. Many travelers shopped for souvenirs at this place. I myself took time to lunch with a bowl of noodles for 150 Rupee at one of their food stall.

6. Gupteshwor Mahadev Cave.

Located near from Tashiling, the cave which was located right on a side of Siddhartha Rajmarg road, its ticket fare about 100 Rupee. Circling down the stairs in red main building, I came to the mouth of this cave. Continuing along the curves of narrow humid alleys which lead to the main cave room with a view of swift waterfall which was peeking out from longitudinal slit on a side….Very beautiful.

7. World Peace Pagoda

Late in the afternoon, I arrived at my final destination. By another name, Shanti Stupa, this pure white pagoda was a painstaking climb on Anadu Hill. A Japanese heritage site of worship symbolized peace which uphold silence. Not allowing a slightest noise was a norm which must be obeyed during a visitation.

A natural decoration in the form of Himalayas with the ground of Phewa Lake in a view side became even more perfect with appearance of Pokhara City which was seen from above.

So, if you visit Pokhara, make sure to visit these cool places.

Next Story—->

Haedong Yonggungsa Temple: Tak Pernah Sampai….

<—-Kisah Sebelumnya

Belum genap langkahku mencapai Stasiun Toseong, nada perut mengirim pertanda. “Oh iya, aku belum makan siang”, respon cepat dalam fikirku. Terakhir aku menyantap snack jalanan Bungeoppang dua jam lalu di jalan yang sama dengan tempat berdiriku sekarang, Kkachigogae-ro Avenue.

Menuju Haedong Yonggungsa Temple perlu waktu yang tak sebentar. Aku berhenti sejenak di satu sisi trotoar. Perlahan menyapukan pandangan ke deretan ruko di sepanjang jangkauan mata. Di seberang jauh jalan, aku melihat rumah makan yang tak begitu besar, beberapa warga lokal keluar dari rumah makan mungil itu dengan membawa kantong plastik berisi makanan. Cepat memutuskan, “lebih baik aku makan disana saja, waktuku tak banyak”. Sewaktu kemudian aku sudah terduduk di salah satu bangku rumah makan mungil itu.

Annyeonghasimnika”…….

Good afternoon, Sir. This is the menu. Enjoy your time here

Thank you sir, give me time to choose the menu!”.

Pemuda berpotongan khas poni Korea itu tersenyum mengangguk dan kembali sibuk menyiapkan makanan untuk beberapa pelanggan yang masih mengantri di pintu. Sedangkan aku mulai sibuk memilih makanan yang akan kusantap di daftar menu. Filter pertamaku tentulah harga, mengingat amunisi yang makin menipis pada hari keduaku di Korea.

Hello, Sir”, aku memanggil pemuda itu setelah memilih menu termurah.

Yes, Sir”, dia berkesiap menuju mejaku.

This, Sir

Oh, Kimbap….OK…OK. Oh ya, Where are you come from, Sir”, Dia memahami cepat pesananku sembari membuka topik pembicaraan lain.

“Indonesia, Sir”

Wooow, Indonesia. I ever worked there for 3 years. Selamat siang, Pak

Aku tertawa tak terbendung melihatnya melafalkan bahasa tanah air beta….Hahaha.

Tidak makan babi?”, dia kembali berkelakar.

Tidak…Tidak…..Hahahaha. Bahasa Indonesia Anda bagus”, aku merasa bahagia, seolah sedang berada di negeri sendiri.

Moslem ya?

“Yups. Saya senang bisa mendengar bahasa Indonesia di Busan, Pak”

Ya….Ya….Ya….. Saya bisa sedikit Bahasa Indonesia. Tunggu ya, saya buatkan Kimbap. Hanya 10 menit, Tunggu!

“Ok Pak”

Dia sibuk meramu Kimbap pesananku dengan tekun dan tepat sepuluh menit kemudian, Kimbap itu diangkatnya dan dibawa menujuku. Kini Kimbap telah siap kusantap. Tetapi aku menyantapnya dengan mimik datar. Damn…Aku kangen Nasi Padang.

Kenyangkah anda jika makan siang dengan porsi segitu?

Membayar setelah menyantapnya, aku berbincang sebentar hingga akhirnya tahu dia adalah pemilik rumah makan mungil ini.

—-****——

Aku terduduk tak kenyang dalam gerbong Humetro Line 1 (Orange Line), kemudian berpindah di Humetro Line 2 (Green Line) di Stasiun Seomyeon. Selanjutnya aku menuju ke Stasiun Haeundae demi melanjutkan petualangan.

Destinasi yang membuatku pucat pasi….Entahlah, apakah waktunya akan cukup hingga aku mengejar keberangkatan bus menuju Seoul pada jam setengah sembilan malam nanti. Atau apakah aku akan tertinggal oleh bus itu.

Kekhawatiranku yang berlangsung di sepanjang lorong bawah tanah Busan terhenti ketika voice announcer mengabarkan bahwa Humetro akan segera merapat di Stasiun Haeundae. Bersamaan dengan itu maka keputusanku menuju destinasi terakhir telah bulat…..Aku akan mengunjunginya. Dengan cepat aku bergegas menuju station gate di permukaan, sesampainya di atas, aku melangkah gesit menuju sebuah halte bus yang berlokasi tak jauh dari station gate. Nama halte bus itu sama dengan nama stasiun di sebelahnya, yaitu Halte Bus Haeundae, terletak di tepian Haeun-daero Avenue

Kuperhatikan dengan seksama angka-angka yang merupakan identitas beberapa bus kota yang melewati halte itu. Yes….Ada angka 181 terselip diantaranya, itulah nomor bus yang kusasar. Kuperhatikan lekat-lekat muka setiap bus yang akan berhenti di halte itu. Aku tangkas mencari keberadaan letak angka di bagian depan bus. Cukup lama, bus bernomor lain melewatiku di halte itu hingga datang bus keenam dengan angka yang kucari sedari tadi. Kini aku bersiap diri menyambut bus tersebut yang dari kejauhan mulai menyalakan lampu sein sebagai penanda bahwa bus itu akan mengambil penumpangnya di Halte Haeundae.

Bus berdecit lembut di hadapan, aku segera melompat masuk melalui pintu depan, memasukkan ongkos sebesar 1.200 Won (Rp. 15.000) pada fare box di sebelah sopir sembari menunjukkan sebuah gambar kepadanya. “Haedong Yonggungsa Temple, Sir. Please drop me here…!.”.

Hoohhh….hoooohh”, selorohnya kuanggap bahwa dia telah faham.

Seluruh bangku yang telah penuh, membuatku berdiri sendirian dibawa laju bus kota itu. Wajah-wajah lokal yang heran menatapku sepanjang perjalanan, tentu karena aku berbeda warna kulit dari mereka.

Sementara di dalam bus, tak ada petunjuk apapun yang bisa membantu memantau dimana keberadaanku di setiap saat. Aku mencoba menenangkan diri diluar fakta bahwa kepanikan kecil mulai mengganggu konsentrasi. Tiga puluh menit berlalu, sudah tak terhitung bus itu berhenti menaik turunkan penumpang, tetapi pak sopir tampak terus fokus mengemudikan busnya.

Akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya dan menanyakan kembali perihal gambar kuil yang kutunjukkan sedari awal perjalanan. “Sir, is this temple still far?”, aku bertanya singkat. Lalu bagaimanakah reaksi dia?….Ruarrrr Biasaaahhhh.

Hooohhhh….Hooohhhh”, sembari melambai-lambaikan tangan pertanda tidak tahu. Entah tak tahu tempatnya atau tak tahu bercakap English. “ Ah alamat, pantesan aku dicuekin sedari tadi”. Kini tak ada pilihan, aku harus turun dari bus walaupun aku tak tahu sedang berada dimana. “Sir. Drop me here now!”. Dan perlahan, bus mulai melambat menuju ke sebuah halte kecil di depan sana.

Firasat sedari awal perjalanan itu jelas, aku kini benar-benar tersesat di sebuah tempat nan sepi. Sementara waktu sudah lewat dari jam setengah lima sore. Aku akan berusaha mencari informasi apakah Haedong Yonggungsa Temple masih layak untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Sepuluh menit dalam kebingunan dan kepanikan dalam sebuah halte, akhirnya tampak seorang lelaki muda sedang berjogging mendekat ke arahku. Kuberanikan diri untuk menghentikannya dan menanyakan tempat tujuan itu kepadanya.

It’s about 10 kilometers from here, you get off from the bus but it’s too far from that place

Ok thanks, Sir

Itu berarti aku tak bisa berjalan kaki dan juga tak mungkin menunggu bus menuju kesana….Akan terlalu lama dan menghabiskan banyak waktu. Kuputuskan untuk membatalkan segera dan bersiap menuju tengah kota kembali. Lebih baik aku mengamankan jadwal keberangkatan bus menuju Seoul. Jika aku terlambat maka aku harus bersiap dengan kompensasi menambah biaya akomodasi untuk menginap semalam lebih lama di Busan.

Dengan rasa penuh panik, sebal dan kecewa….Ditambah sedikit takut karena berada di tempat yang sangat sepi di tepian Gijang-daero Avenue, akhirnya aku menunggu kembali kedatangan bus bernomor 181.

I’m so sorry…. Haedong Yonggungsa Temple….Bak kasih yang tak sampai.

Kisah Selanjutnya—->

Boating in Pulo Kenanga

<—-Previous Story

A secret architectural show at Sumur Gumuling was over….

Come on, ladies and gentlemen, we are leaving for the island!“, our tour guide clearly uttered nonsense words. Where was there island on dry land like this? “Where is the sea?“, I still denied full of wonder.

Walking out through stairs at the end of Sumur Gumuling tunnels, I positioned myself at the back end of group, also pushed my self to surface. Arriving at ground level, the guide casually walked to east while focusing on answering several questions from group members who were very enthusiastic about learning the history of Yogyakarta Sultanate. While I myself was plagued by a busy, it wasn’t important to catch some iconic corners with my mirrorless camera lens.

In the past, the land where we were standing on was the bottom of a lake, ladies and gentlemen“, the guide started throwing a clue which made me play with my imagination. “If I’m currently at the bottom of lake, it means that the island is the higher part of where I stand, and the high part must be very easy to see from here“, it turned out I was still as smart as ever …

I rotate my view on 360 degrees, made a quick looking. “That’s it!”, my observation was fixed on a tall building with thick walls in the style of colonial architecture. And the building was right in the direction which I walked.

In the past, kings and their families often boating above us while enjoying beautiful colors of fishes which swim in a clear lake“, the guide explained again. For me, it was common for kings to have worldly pleasures like that, I didn’t really respond to it. I just thought, how could this place combine to special architecture spots at that time, starting from a bath of royal family, a underground mosque and now an artificial island on the highest part of Taman Sari contour.

There it is!“, the guide pointed his finger at a building which I had guessed through imagination. “Pulo Cemeti“, he smiled to all members of group which he was carrying. “Let’s go up!“, He led the group up stair to entering that sturdy old building. When most of  group members were running happily upstairs, I was still in the lower courtyard and looking at Pulo Cemeti, imagining its original form and royal family activities in it in ancient times.

I arrived right at its building door when the entire group was still busy with selfies. Now I look down, imagining the height of water surface and the activity of boating in the middle of lake and followed by colorful fishes along paddling of boat.

Because many Kenanga flowers were planted around this building, public also often refers to this site as Pulo Kenanga. Oh yes, this building is more than a quarter century old, you know ”, the guide enriched information for tour group.

For then, I sat in a giant wind window and still admired the splendor of Sri Sultan Hamengkubuwono I’s work. These thick walls were of course the influence of great architectural culture of Dutch colonial era, which made this site able to survive today.

Also known as Gedhong Kenanga. Because this building area appears to be floating on water during its heyday, it’s often referred to as the water castle”, the guide explained for the last time. The Yogyakarta Sultanate indeed left monumental works like this one. If its site management were made exclusive, surely all parts of Taman Sari would be a matter of pride for Yogyakarta Sultanate.

Next Story—->

ESG, Kelestarian Sumber Daya dan Pemerataan Ekonomi

Hampir setahun lalu, pengajuan kasus perdata pencemaran lingkungan yang dilakukan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berakhir pada kewajiban dua perusahaan tekstil, yaitu PT Kamarga Kurnia Textile Industri (KKTI)  dan PT How Are You Indonesia (HAYI) untuk membayar denda tak kurang dari 16 Milyar Rupiah atas kesalahannya yang mencemari lingkungan di daerah Aliran Sungai Citarum. Akan tetapi kasus tersebut belumlah seberapa karena Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang memproses lebih dari 780 kasus lingkungan hidup dan kehutanan yang melibatkan banyak korporasi.

Permasalah lingkungan di kota besar yang diakibatkan oleh lemahnya empati lingkungan korporasi memiliki kemungkinan besar untuk dikaitkan dalam permasalahan hukum mengingat stakeholder lingkungan di wilayah perkotaan sangatlah banyak dan beragam.

Lalu bagaimana jika kerusakan lingkungan seperti diatas terjadi di wilayah terpencil yang jarang terpapar media?. Atau paling tidak, belum banyak stakeholder yang memiliki kepentingan dengan lingkungan di wilayah tersebut.

Sebagai contoh, kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas PT Rimba Matoa Lestari di Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Papua. Kerusakan lingkungan tersebut berupa erosi dan pencemaran air yang mengakibatkan berbagai jenis kepiting, bia, dan ikan di muara Kali Poroway mati.  

Belum lagi tentang masalah keterlibatan masyarakat sekitar dalam dinamika ekonomi yang digulirkan korporasi. Atau mungkin perihal keadilan remunerasi atas lapisan karyawan mayoritas di level operasional korporasi. Di wilayah terpencil, terkadang isu kesetaraan ekonomi dalam masyarakat menjadi tidak terpantau dengan baik.

Lebih menyedihkan lagi apabila beberapa sebuah standar kelayakan lingkungan dapat diperoleh dengan mudah oleh korporasi lewat “jalan belakang” tanpa melalui mekanisme yang kredibel.

Inilah mengapa isu pelestarian lingkungan dan keadilan sosial menjadi perhatian yang harus diperhatikan oleh sebuah korporasi sebagai bagian dari etika penanaman modal. Sikap dan pemahaman bahwa keuntungan korporasi harus berjalan berdampingan dengan pelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan keadilan internal korporasi harus dibangun dengan inisiatif korporasi tanpa harus menunggu pengawasan pihak eksternal.

Oleh karenanya diperlukan sebuah buffer system yang bisa mencegah timbulnya permasalahan seperti di atas sejak dini. Ada sebuah standar yang memiliki peran penting untuk menciptakan bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Bahkan peran pentingnya juga mencakup  tanggung jawab terhadap sosial dan hukum. Standar yang telah giat diterapkan sejak tahun 1960-an ini dikenal dengan nama ESG.

Menurut Khofifah Noviarianti, creative media intern CESGS (Center for Environmental, Social, & Governance Studies), ESG merupakan sebuah standar perusahaan dalam praktik investasinya yang terdiri dari tiga konsep atau kriteria: Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola Perusahaan). Dengan kata lain, perusahaan yang menerapkan prinsip ESG dalam praktik bisnis dan investasinya akan turut mengintegrasikan dan mengimplementasikan kebijakan perusahaannya sehingga selaras dengan keberlangsungan tiga elemen tersebut.

CESGS (Center for Environmental, Social, & Governance Studies) sendiri merupakan lembaga nirlaba yang didirikan di Indonesia dengan tujuan untuk mendukung penelitian akademis, membangun eksekutif yang berpikiran berkelanjutan, dan sebagai solusi terdepan untuk rekomendasi kebijakan yang muncul dalam masalah lingkungan, sosial dan tata kelola. Penelitian CESGS dilakukan oleh akademisi dan ahli dalam hal ESG sehingga membuahkan hasil penelitian ilmiah yang bereputasi baik, analisis yang solid, dan rekomendasi sistematis. Selain melakukan penelitian dalam hal ESG, CESGS juga berpengalaman dalam menyelenggarakan pelatihan eksekutif, dan menerbitkan literatur akademis tentang ESG.

Aspek ESG (Diadaptasi dari artikel Dr. Antonius Alijoyo, ERMCP, CERG, Dewan Perkumpulan Praktisi Governansi Indonesia (PaGI))

ESG adalah standar yang mencakup aspek lingkungan, sosial dan tata kelola yang harus diperhatikan sebuah korporasi untuk  menerapkan investasi yang beretika, bertanggung jawab dan berkelanjutan (sutainable invensting). Investasi berkelanjutan akan menghindarkan korporasi untuk menghindari bisnis senjata, alkohol, pornografi, perjudian dan bisnis lain yang membahayakan. Selain itu, dengan konsep sustainable investing berarti korporasi akan memperhatikan keterlibatan masyarakat dan mengelola sumber daya manusia sesuai prinsip Hak Asasi Manusia.

ECG yang Kuat Mempercepat Pemerataan Ekonomi.

Menimbang aspek sosial dalam ESG, visi korporasi tentang pengembangan tingkat ekonomi stakeholder dan cara pandang korporasi terhadap karyawan sebagai bagian penting dalam pencapaian kemajuan korporasi tentu dapat dikembangkan.

Aspek sosial dari ESG akan mengarahkan korporasi untuk menghindari eksploitasi karyawan demi keuntungan semata. Perusahaan hendaknya memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan dalam skup internal dan meningkatkan kesejahteraan sosial dalam skup eksternal.

Korporasi yang memegang teguh aspek ESG tentu akan berkontribusi dalam mengarahkan pembangunan lingkungan di sekitarnya menjadi wilayah terdampak ekonomi dengan meningkatkan kualitas hidup, sarana-prasarana dan sistem sosial kemasyarakatan yang lebih baik.

Pengembangan sumber daya manusia di wilayah terpencil menjadi satu dari sekian banyak kunci penting dalam peningkatan kompetensi kawasan. Meningkatnya kualitas kompetensi dan taraf hidup sumber daya manusia di wilayah terpencil tentu akan membantu negara dalam mempercepat pemerataan ekonomi nasional.

ESG Menjaga Kelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Wilayah terpencil yang jauh dari pemantauan media dan komunitas independen lainnya menjadi wilayah yang rawan terdampak kerusakan sumber daya alam. Tanpa standar tertentu yang dijalankan korparasi akan mengancam tergerusnya sumber daya alam. Selain wilayah yang terancam tidak bisa merasakan manfaat positif dari pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki, juga akan mengancam generasi masa depan yang rawan tidak terwarisi sumber daya alam tersebut.

Sumber daya alam yang seharusnya menjadi  kekuatan utama untuk mengembangkan wilayah akan menjadi tak berguna bila dieksploitasi oleh korporasi yang memanfaatkannya untuk kepentingan kapitalisme semata. Padahal di era ekonomi otonom, salah satu cara meninggal ketertinggalan taraf ekonomi dan taraf kehidupan wilayah terpencil sangat tergantung pada optimalisasi sumber daya alam sekitarnya.

Begitu pula dengan limbah yang dihasilkan korporasi, hendaknya limbah senantiasa diolah sehingga bisa dilepaskan kembali ke lingkungan dalam bentuk material ramah lingkungan ataupun dikonversi dalam bentuk lain. Sebagai contoh, perkebunan kelapa sawit selama ini memiliki kontribusi dalam pembentukan gas rumah kaca sebagai akibat dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit. Sebetulnya jika diolah dengan serius maka POME bisa diolah lebih lanjut menjadi listrik yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Namun sangat disayangkan, dari sekitar 800 pabrik kelapa sawit di Indonesia hanya 5% diantaranya yang memiliki fasilitas pengolahan limbah cair sawit menjadi biogas.

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) bermetode methane capture yang bisa memasok 1.000 rumah warga untuk sebuah industri minyak sawit dengan kapastitas produksi 45 ton per jam (sumber: http://www.forda-mof.org).

ECG Menjaga Keberlangsungan Usaha dalam Jangka Panjang.

Pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab, peningkatan sumber daya manusaia yang berkesinambungan di wilayah serta penjagaan tata kelola internal menjadikan kunci utama korporasi mendapat kepercayaan serta dukungan penuh dari masyarakat sekitar demi keberlangsungan kegiatan korporasi dalam jangka panjang.

Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan ini menjadi harapan wilayah terpencil untuk memiliki perencanaan pengembangan jangka panjang sebagai dampak otomatis dari adanya perputaran ekonomi dalam skala besar di jalankan oleh korporasi.

Efek domino lain dari perputaran roda ekonomi dalam wilayah, bisa mendorong tumbuhnya unit usaha pendukung lain berbasis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dalam wilayah. Bahkan dalam skala lebih besar bisa mendorong tumbuhnya usaha komplemen yang secara bersamaan akan menciptakan kawasan industri yang bisa menggerakkan ekonomi kawasan secara lebih luas.

Kita dapat mengambil contoh dalam kawasan perkebunan besar dimana tata kelola (governance) yang baik memungkinkan perkebunan besar membina terbentuknya perkebunan plasma yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar perkebunan. Tata kelola yang baik ternyata membantu meningkatkan aspek sosial (Social) dalam operasional perkebunan besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga aspek dalam ESG(Environment, Social and Governance) saling berhubungan, peningkatan salah satu aspek akan mendorong meningkatnya aspek yang lain.

Kita bisa melihat bahwa ESG memiliki dampak positif ke berbagai segi secara simultan dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pengukuran dan pengawasan ESG harus menjadi perhatian para investor, masyarakat dan pemerintah, karena di konsep usaha berkelanjutan saat ini,  komponen itulah yang bisa diperhatikan oleh stakeholder untuk menentukan apakah sebuah korporasi menjadi tempat yang layak untuk menempatkan investasinya. Korporasi yang tidak memperhatikan aspek ESG tentu akan tergeser oleh korporasi yang memiliki komitmen kuat dalam melaksanakan dan mengembangkan ESG dengan konsiten. Karena di masa depan, hanya korporasi yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola dalam menjalankan aktivitas operasionalnyalah yang akan menarik minat investor dalam menanamkan modalnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh CFA Institute pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa 73% investor mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola dalam melakukan investasi. Sedangkan 27% investor tidak mempertimbangkan aspek ESG dalam keputusan investasi mereka. Ini menunjukkan sudah banyak kepedulian para investor terhadap upaya menciptakan bisnis berkesinambungan dan berkelanjutan. Penanaman modal beretika harus terus dikembangkan di Indonesia untuk menciptakan atmosfer bisnis seperti ini.

Beberapa lembaga secara independen melakukan pemeringkatan penerapan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola pada korporasi yang bergerak di bidang bisnis tertentu. Contohnya adalah lembaga independen asal Inggris bernama SPOTT (Sustainability Policy Transparency Toolkit) yang melakukan pemeringkatan kinerja aspek ESG pada perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, kelapa sawit, dan karet alam. Lembaga independen seperti inilah yang perlu dikembangkan di berbagai bidang bisnis untuk memberikan masukan bagi para investor dan stakeholder lain yang berkepentingan menanamkam modalnya sehingga mereka tidak salah memilih korporasi tempat mereka menanam modal.

Bahkan pasar saham pun mulai terpapar dengan tren investasi tematis bermuatan ESG. Bertambah banyaknya investor yang memiliki prinsip yang sejalan dengan wawasan ESG maka menjadi katalisator bagi pertumbuhan emiten-emiten berwawasan lingkungan, sosial dan tata kelola. Fakta ini diperkuat oleh sebuah survey yang diselenggarakan oleh Schroders yang menyatakan bahwa saat ini 52% millennial ingin memilih berinvestasi dalam sustainable investing. Fakta ini seharusnya membuat korporasi bergerak lebih cepat menyambutnya karena sustainable investing (investasi berkelanjutan) akan semakin tumbuh, jika korporasi tidak serius menggarap investasi jenis ini maka bisa dipastikan mereka akan kesulitan mendapatkan dana investasi di masa depan.

Selain faktor pemahaman investor, aspek ESG juga telah menjadi perhatian utama masyarakat, pemerintah dan konsumen terkait dengan kemungkinan-kemungkinan yang diakibatkan oleh aktivitas korporasi secara lebih luas. ESG telah menjadi isu penting yang secara langsung akan mempengaruhi kebijakan korporasi menuju investasi bersih dan positif.

Korporasi yang tidak bisa mengendalikan ESG dengan cakap bisa berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, ekonomi, kerusakan ekosistem serta berdampak pada wilayah luas dalam waktu lama. Dan pada level krusial, bisa berpotensi menimbulkan konflik sosial. Korporasi yang demikian tentu tidak akan mampu bertahan di masa depan.

Jadi mari kita secara global hendaknya mulai peduli pada aspek ESG (Environment, Social and Governance) demi turut aktif mengawasinya demi kebaikan bersama.

Informasi lebih lanjut:

Instagram: @cesgstudies

Twitter: @CESGStudies

#LombaBlogCESGS

#RisetTanpaRibet

Referensi:

  1. https://www.cesgs.or.id/
  2. https://indikator.indikaenergy.co.id/
  3. https://amp-kontan-co-id.cdn.ampproject.org/
  4. http://governansi.org/
  5. https://www.mongabay.co.id/
  6. https://www.ft.com/
  7. https://kabaralam.com/
  8. Analisa Pengaruh Kinerja Environmental, Social, dan Governance (ESG) terhadap Abnormal Return. Oleh Saddek Syafrullah. 2017.
  9. https://m-bisnis-com.cdn.ampproject.org/
  10. https://www.dbs.com/
  11. https://www.schroders.com/

Bertolak ke Masjid Agung An-Nur dari Pecinan

<—-Kisah Sebelumnya

Kusempatkan memejamkan mata sejenak begitu menyelesaikan proses check-in di Hotel Sri Indrayani. Semalam yang tak nyenyak di bangku tengah Bus INTRA, bersambung dengan empat jam berjalan kaki demi mengeksplorasi daerah Senapelan telah membuat otot betisku kelelahan dan mataku terasa berat.

Smartphone yang masih mengisi ulang daya itu pun berteriak membangunkanku, tepat satu jam sebelum Shalat Ashar. Waktu shalat memang menjadi pilihan sebagai penanda mula untuk kelanjutan petualanganku di Pekanbaru. Itu karena aku memilih untuk mengunjungi sebuah masjid termegah di seantero Provinsi Riau atau boleh dikatakan sebagai salah satu yang termegah di tanah air.

Tak mengulur lagi keterlambatan bersantap siang, aku menyusuri daerah Pecinan di sepanjang Jalan Dr. Leimena yang tak jauh dari gerbang hotel, hingga menemukan sebuah kedai yang memaparkan harum rempah dan terlihat sangat ramai pengunjung. Seluruh bangku di lantai bawah ruko itu hampir penuh dan tanpa pikir panjang aku segera menduduki satu bangku diantaranya.

Mie dengan tauge bercampur potongan lontong, udang, telur dan diwangikan dengan taburan bawang goreng…beuhhh, nikmat

Menenggak pelan asam manis es jeruk dingin menjadikan tubuh mendingin sejenak di panasnya kota. Dan tepat di tegukan terakhir, ojek online itu datang menjemputku.

Menuju ke tenggara sejauh tiga kilometer dan tiba di gerbangnya tepat dua puluh menit sebelum waktu Ashar tiba. Begitu banyak polisi di halaman masjid yang tampak tengah mengamankan sebuah agenda penting siang itu. Setiap kendaraan yang masuk area masjid tak luput dari pemeriksaan ketat.

Mau kemana, Bang”, tegur polisi muda bersenjata laras panjang di gerbang masuk. “Shalat Ashar, pak”, password yang begitu ampuh untuk melewati pemeriksaan itu.

Mirip Taj Mahal, bukan?
Kubah bak gasing terbalik dan pohon-pohon kurma itu….Hmmmhh.

Aku belum juga memasuki ruangan masjid. Sibuk di pelataran menikmati keindahan arsitektur yang tersaji di depan mata. Masjid dominan hijau berusia setengah abad dengan luas area yang kuperkirakan lebih dari sepuluh hektar…..Sungguh, luas sekali.

Lihat saja bagaimana lapangnya salah satu sisi parking lot.

Mughal masih saja menjadi corak arsitektur yang mendominasi, lengkungan-lengkungan khasnya mirip lengkungan pada persemayaman terakhir Mumtaz Mahal di Agra. Sedangkan nuansa sekeliling masjid sedikit mengadopsi atmosfer Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Corak Melayu disematkan oleh warna hijau pada bangunan utama, warna merah pada ornamen di menara dan kuning emas pada ormanen interior beserta seni kaligrafinya. Lalu adat Melayu digambarkan pada lantai dua tingkat dengan beranda dibawah. Mengadopsi konsep rumah panggung Melayu.

Rukun Islam dilambangkan pada lima kubah dan kepemimpian Khilafah sahabat Nabi direpresentasikan pada empat menara.

Kini aku bersiap untuk beribadah Ashar, menyucikan diri di lantai bawah dan menaiki tangga demi tangga menuju ruang peribadatan utama di lantai kedua. Atmosfer di dalam yang begitu khusyu’, membuatku merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mengunjungi rumah Tuhan yang megah ini.

Enam pilar raksasa berdasar hijau dan berlapis putih di bagian atas.

Kulamakan waktu dudukku di bagian belakang untuk menikmati ikon wisata religi Provinsi Riau yang konon bisa menampung hampir lima ribu jama’ah.

Lengkung kubah dari dalam.

Karya arsitektur kenamaan di Pekanbaru ini tak lepas dari tangan dingin Kaharuddin Nasution, Gubernur kedua Provinsi Riau yang memindahkan Ibukota Provinsi dari Tanjung Pinang di Pulau Bintan ke Pekanbaru pada tahun 1960-an. Perpindahan itu tentu membawa konsekuensi baginya untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan mayoritas masyarakat yang notabene memeluk agama Islam. Oleh karena itulah Sang Gubernur merasa penting untuk menghadirkan Masjid Agung An-Nur ini.

Keren ya…… 

Kisah Selanjutnya—->

Menengok Kakek Tua di Gamcheon Culture Village

<—-Kisah sebelumnya.

Pukul sebelas siang, daerah Nopo-dong, Distrik Geumjeong….

Akhirnya aku mendapatkan tiket bus menuju Seoul. Karena bus baru berangkat malam nanti, aku memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi di Busan hingga sore nanti. Kini aku mulai meninggalkan Busan Central Bus Terminal, menyusuri koridor integrasi menuju Stasiun Nopo.

Setiba di stasiun, tak lama menunggu, Humetro Line 1 (Orange Line) membawaku menuju Stasiun Toesong. Jaraknya berselang dua puluh empat stasiun. Aku tiba di stasiun tujuan dalam rentang waktu hampir satu jam.

Turun di Stasiun Toesong, mencari petunjuk menuju Gamcheon Culture Village.

Keluar dari pintu barat Stasiun Toesong, aku kemudian menyusuri Kkachigogae-ro Avenue. Tetapi sebelum jauh melangkah, aku menemukan street food yang sudah kuincar untuk dicicipi sebelum berangkat ke Korea Selatan. Apalagi kalau bukan Bungeoppang, street food berbahan dasar tepung dan berisikan cokelat, keunikan snack ini adalah penampakannya yang berbentuk ikan yang sangat lucu. Aku membelanjakan 1.000 Won (Rp. 12.000) untuk menikmatinya.

Aku menikmati sajian Bungeoppang di depan penjual wanita setengah baya. Mengunyah dalam kondisi makanan yang masih panas membuat dia menertawakanku yang kerepotan mengunyah. Momen seperti inilah yang membuatku selalu bahagia ketika bertraveling, bersenda gurau dengan pengais rezeqi jalanan yang menunjukkan kesahajaannya, apa adanya.

Dari Kkachigogae-ro Avenue, aku berganti haluan di Haedoji-ro Avenue menuju ke selatan. Jalanan masih saja datar, membuatku melintasnya dengan sumringah. Tapi hanya dua ratus meter dari bagian Haedoji-ro Avenue yang kulalui, karena untuk selanjutnya aku mulai menanjak sempurna di Ami-ro Avenue.

Pos polisi di bilangan Kkachigogae-ro.

Aku mulai menanjaki bukit dengan topografi jalanan yang khas, meliak-liuk,  menyebabkan rentang jalan menjadi lebih panjang. Hanya saja aku tak mau dipermalukan dengan beberapa warga lanjut usia yang menanjaki jalan itu dengan gesit. Bahkan tak sedikit warga setengah baya berjogging ria menanjaki bukit. Luar biasa. Aku harus tersengal menanjaki Ami-ro Avenue untuk mengimbangi mereka.

Satu setengah kilometer sudah aku melangkah hingga akhirnya tiba di gerbang depan Gamcheon Culture Village. Sementara waktu telah menunjukkan pukul setengah satu siang. Sebetulnya ada kendaraan umum bernomor 2 yang bisa mengantarku dari Stasiun Toesong menuju Gamcheon Culture Village, tapi aku enggan menggunakannya, karena berjalan kaki adalah sesuatu yang menyenangkan dan memungkinkan berinteraksi dengan warga lokal.

Gerbang depan Gamcheon Culture Village.
Gerbang depan Gamcheon Culture Village.

Usai menikmati suasana gerbang depan Gamcheon Culture Village yang penuh seni, aku mulai memasuki desa budaya yang telah intens diberikan sentuhan seni sejak sebelas tahun lalu itu. Konon desa ini bisa dikunjungi lebih dari satu juta pelancong setiap tahunnya. Wahhh, bisa dibayangkan besarnya putaran ekonomi di bekas desa kumuh ini. Desa yang dulu hanyalah desa kumuh, tempat tinggal kaum miskin kota, kini desa itu telah berubah menjadi desa wisata dengan pendapatan yang luar biasa.

Tingkat seni yang unggul, menjadikan Gamcheon Culture Village diidentikkan dengan “Santorininya Korea”. Menjadikan kebanggaan Distrik Saha yang mencakupi wilayah desa wisata ini.

Seni di sepanjang Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.

Di sepanjang jalan utama desa, mudah ditemukan restoran dan cafe yang memanjakan pengunjung. Sejauh mata memandang,  tampak lautan di ujung desa ketika aku menikmati keindahannya dari sebuah sky rooftop. Sementara toko seni dan souvenir tampak bertebaran dan mudah ditemukan.

Pada sebuah langkah, aku tertarik dengan salah seorang pemilik rumah yang mengenakan kruk di kedua lengannya. Dia bercerita bahwa dia bangga rumahnya berada di tepian jalan utama desa dan menjadi spot menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Aku bersama seorang turis keturunan Tionghoa asal Malaysia dipersilahkan masuk untuk melongok interior rumah si kakek pemilik. Wah inilah bonus dari perjalanan itu.

Tetapi waktu yang begitu sempit, membuatku hanya satu jam berkeliling desa dan memutuskan untuk segera meninggalkan daerah  Gamcheon-dong  untuk menuju ke destinasi lainnya……

Kisah Selanjutnya—->

Sumur Gumuling, Secret Mosque of Yogyakarta Sultanate

<—-Previous Story

Our tour guide waited for a moment for Year End Party participants to enjoy king’s bathing pool, empress and their sons and daughters in the past. For a few minutes I imagined some possibilities of what the story would look like in this place on more than two centuries ago, definitely classics looked like colossal cinemas from old kingdoms. For a moment I thoughtfully enjoyed that imagination.

My focus was destroyed by tour guide’s call to continue journey into another part of Taman Sari. “We will see mosque, ladies and gentlemen!“, He said. I just followed with an ordinary feeling. I could only imagine an appearance of Great Mosque of Surakarta Palace, which I visited three months ago. “Oh, this mosque appearance will like that“, I closed my own guess.

For a moment I was in a large and neatly arranged courtyard with a visitor circular path which follow area shape. A magnificent ornate gate proudly stood at one side of this area, large and old trees covered participants from hot weather of Yogyakarta.

Gedhong Gapura Hageng (Gapura Agung), Taman Sari’s main gate.
A small gate to the mosque.

Meanwhile, on opposite side of it, there was a small gate with a door which leading visitors to underground. Ten minutes later, tour guide called group and they began to follow him into gate.

I was at back of them and began to descend stairs to follow the underground tunnel. “What kind of mosque is in underground?“, I kept curiously wondering.

This mosque isn’t what you imagine, it is just a tunnel for worship. Because this mosque was hidden from Dutch colonialm. In ancient times, Dutch colonialism prohibited kingdom members from performing worship“, tour guide explained, which made me directly understood.

To tunnels.
To tunnels.

It was only camouflage of a function as mosque. A brilliant idea from Sri Sultan Hamengkubuwono I, the first Sultan of Yogyakarta”, I started to admire this architecture in my mind. The tunnel could be passed without having to walk down your head, designed in such a way which it was sufficient for adults to pass through. During regular intervals, lamps were installed which would certainly helpful when the day turns dark. Tunnel walls were also shown original stone texture without paint, adding to its classic atmosphere.

I continued to explore along tunnel to find the end of this unique architectural masterpiece. I was even more amazed, the tunnel led to an arrangement of four staircases which were additional part of tunnels and also fifth staircase which was protruded from second floor tunnel to form a stage. “This stage was a pulpit for khateeb (Islam preacher) to give sermon, and palace’s family members would pray and sit listening to the sermon from the tunnel“, tour guide stood on pulpit while pointing his finger in several tunnels.

Tunnel as a mosque.
Other side of tunnel.
A pulpit.

Sermon sound would be heard until the end of tunnels because it used tunnel walls to echo the voice of khateeb” he continued.

Wow, I really praised the smart strategy of Sultan to be able to worship in the midst of colonial government’s prohibition. If Dutch colonial had inspected this place, of course, they would never have known if these tunnels actually functioned as a mosque of Yogyakarta Sultanate which was very secretive. They must have only suspected that this tunnels only served as an access between sides in Taman Sari area.

This mosque was nicknamed as SUMUR GUMULING.

Next Story—->

Changing the Year in Phewa Lake Edge

<—-Previous Story

Ending a transaction and grabbing a Pokhara-Kathmandu bus ticket, I intended to hurry to hotel. Clockwork seemed to move fast and dark slowly but must have enveloped the city, until then I agreed to a taxi driver to take me to New Pokhara Lodge.

A little white taxi was agile cutting through small alleyway. Once he looked confused and forced him down and asked to young man who was drinking a cup of coffee and sucked a cigarette. Then his pointing hand made the driver understandably nod.

—- **** —-

I sat and watched banknotes from various nationalities neatly arranged in a lobby gallery. One of them is a banknote with Tuanku Imam Bonjol’s image.

New Pokhara Lodge Lobby.

After a while, a middle-aged man appeared, he already had slow movements but was trying to keep smiling. Furthermore, I knew him as Mr. Raj, a hotel’s person in charge who was very good at providing services to his guests at New Pokhara Lodge.

I was placed at second floor of this U-shaped hotel, three-story orange hotel. A room which I redeemed for 900 Rupess had now become my base camp while traveling in Pokhara.

—- **** —-

Mr. Raj briefly advised me, “Don’t worry about your security in New Year Celebration !. Don’t drink too much and back soon!…. Enjoy your night and Happy New Year ”.

Lakeside Road atmosphere.

Walking 650 meters to Phewa Lake edge, I followed a small path which only two-wheeled vehicles could pass. Only two minutes to arrived at the bustle of Lakeside Road. A stage was set up at lake edge.

Street food scent in the midst of groups of Nepalese youths was a perfect blend in the cold air of Pokhara. Temperature of 8o C slowly intimidated stomach. And it felt like I couldn’t afford to eat and sit for long time in sidewalk, cold night temperature had made my unprotected hands and face stiffen. In the end, footsteps led me into AM/PM Organic Cafe. A cup of Masala Tea with vegetarian fried rice would warm the body towards midnight which was being awaited by all people in the world.

Waiting for orders to came.

Food which was finished with had no leftover, tea cup which had dried up and waitress who kept paying attention, made me feel bad. My hunch tell me to get out of the cafe because of course the owner hoped that the table which I was currently occupying could be sold to other visitors.

Now I was trying to sneak into crowd to avoid cold wind which was blowing from the lake. The Nepali-like stature and facial features made me looked like a local all around the stage.

Local artists took turns in giving their best performances, elementary school age children didn’t want to be outdone by their dances, all of them were guided by MC with ideal features, smooth hair without mustaches and worthy looked as Bollywood actor.

Such a small stage amidst a large audience.

That night, Pokhara people seemed to be the happiest people in the world.

I wasn’t sure that it would celebrate fireworks. That belief made me slowly withdraw from crowd. Slowly walking and echoing Mr. Raj’s advice who warned me that whatever might happen because there were indeed many young men who drank too much on streets.

Having yet to turn into an alley, the crowd began to loudly countdown then fireworks shot into the air and exploded right in the center of Phewa Lake. The moment which I had been waiting for was almost interrupted by cold. I turned around and enjoyed the atmosphere. The lake, which was originally dark and appeared to be black, now reflected fireworks light spectrum which were exploding above it.

An admiration which I didn’t even get at the same moment a year ago in Osaka. A beauty which made me forget to capture the moment itself. But never mind, my brain was still recording it well until now.

Check out a situation ahead to the new year at Phewa Lake edge:

https://www.youtube.com/watch?v=0K87N2E0imk

The perfect night.

Next Story—->

Bertaruh Resiko di Busan Central Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang.

Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya.

Brengsek….Ini pasti  kelakuan lelaki asal Tiongkok yang beberapa menit lalu berpapasan denganku di pintu kamar mandi bersama.

Sontak aku menuju ke kamar mandi lain yang berada dua lantai di atasku. Aku sudah tak bernafsu mandi di kamar mandi itu walaupun masih tersedia beberapa shower room lagi. Di kamar mandi atas, kondisi lebih bersih, mungkin para tamu enggan bersusah payah naik ke atas. Gegara peristiwa tadi, sakit perutku mendadak hilang. Aku lebih memilih langsung menuju shower room untuk menyiram badan dengan air hangat.

Olala….Ternyata aku sama brengseknya…..

Seusai mandi, aku berlama-lama di depan wastafel untuk mengeringkan t-shirt dan kaos kaki dengan hair dryer, hingga betul-betul kering. “Ah, bodo amat. Ndak ada orang. Guwe kan juga bayar”, suara setan di batinku membisik. Maklum dalam petualangan kali ini, aku mulai menerapkan taktik membawa dua pasang kaos kaki. Aku akan membasuh dan mengeringkan kaos kaki yang tak terpakai untuk persiapan penggunaan berikutnya.

—-****—-

Pagi itu aku bangun tepat waktu. Seusai Shalat Subuh , aku tak lagi tertidur. Aku lebih memilih membuka lembaran itinerary sembari menunggu hari terang. Ketika matahari mulai hadir, aku mulai meninggalkan Kimchee Busan Guesthouse seusai mandi, mengingat penginapan ini tak menyediakan sarapan seala kadar untuk kelas dormitory.

Aku keluar dari gang penginapan, dan menyusur Jalan Hwangnyeong-daero menuju ke barat, ke Stasiun Beomnaegol untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tentu aku harus bersarapan dulu sebelum menaiki Humetro. Aku berhenti pada CU minimarket untuk kemudian memasukinya dan berburu sarapan di dalamnya. Aku menemukan segenggam nasi berisikan jagung di sebuah rak khusus makanan, menuju kasir, membayarnya dan kemudian menyantapnya di sebuah bangku di sisi dalam minimarket.

Tak lama aku menyantapnya. AKu segera memasuki ruangan stasiun dan mencari keberadaan ticketing vending machine untuk membeli one day pass, lalu menuju platform usai menggenggam selembar one day pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Kali ini aku akan menuju ke Busan Central Bus Terminal demi mencari tiket bus menuju ke Seoul malam nanti. Humetro Line 1 (Orange Line) berdecit lembut menghentikan laju di platform. Aku segera duduk di salah satu bangku di gerbong setengah kosong untuk kemudian mengikuti arus kereta menuju Stasiun Nopo, yaitu stasiun dimana Busan Central Bus Terminal diintegrasikan. Aku tiba dalam 45 menit.

Keluar dari gerbong aku mencari petunjuk yang bisa mengarahkanku menuju terminal itu. Tak sulit menemukannya. Sebuah petunjuk yang kemudian menyambung dengan petunjuk selanjutnya mengarahkanku hingga tiba di Busan Central Bus Terminal.

Konter penjualan tiket Busan Central Bus Terminal.

Hello, Miss. How much is a ticket to Seoul? “Aku bertanya kepada staff penjualan tiket di deretan memanjang ticketing counter.

32,000 Won, Sir. The bus will depart on around 16:00 hours”.

Miss, What is the cheapest price and what time does the bus depart?”, aku blak-blakan mengingat kantongku mulai menipis.

23,000 won and bus will depart on 20:30, Sir”.

Okay, Wait Miss“.

Aku meninggalkannya dan duduk di kursi tunggu. Aku mulai berhitung, kalau aku berangkat cepat maka aku akan relatif aman karena akan tiba di Seoul sebelum malam. Tapi artinya aku harus menambah biaya untuk menyewa dormitory lebih cepat. Tentu akan mahal.

Kalau aku mengambil tiket malam, maka mau tidak mau, aku akan bermalam di terminal bus kota Seoul, sedikit beresiko, tetapi itu paling memungkinkan dengan keberadaan uangku yang semakin tergerus habis.

Bismillah…..aku beranjak dari tempat duduk dan kembali menghadap staff wanita tadi.

Yes, Ms. I take the night one”.

Ok, Sir

Aku menyerahkan uang kepadanya dan dia memberikan selembar tiket kepadaku untuk menuju Seoul.

Tiket bus Busan-Seoul seharga 23.000 Won (Rp. 290.000).

Okay, satu bagian penting telah kuselesaikan dengan cepat. Aku akan menghabiskan waktu tersisa di Busan hari ini.

Kisah Selanjutnya—->

Throwing a flower in Taman Sari

<—-Previous Story

My eyes were widened when a noise of people group could be heard when they crossed a corridor in front of my room …. Ah, I felt asleep again after Subh prayer a few hours ago. With quick reflexes I jumped into bathroom and washed myself as fast as lightning. After getting dressed, I grabbed my camera and put it in a folding bag. I jogged out of the room to Sahid Jaya Hotel & Convention restaurant.

Arriving at the restaurant, some of event’s participants had cleared their tables and carried their bags to go to bus.

“Hi, Donny. You seem too late to be joining breakfast. You must have slept too well last night, ”Todd greeted me who was in a hurry to put rice and several other side dishes onto plate. Todd was an expats from Australia in my company. He was one of my best friend.

“Oh, yes Todd. Not as bad as I think. I still have 15 minutes to eat my breakfast, ”I replied without seeing Todd’s face at all.

I joined with some friends who were still halfway through their breakfast. Without more talking, I immediately cleared a breakfast menu whicht I took. Just drinking a glass of mineral water, I rushed to a chartered bus no.2 which was ready to leave.

Sahid Jaya Hotel & Convention restaurant.

In the morning, second day in Yogyakarta, Year End Party participants would visit Taman Sari in several small groups, each consisting of approximately fifteen participants and one tour guide will be prepared at tourist destination later.

A few minutes later, bus was moving slowly leaving that four-star hotel. Situation in bus was very lively, but I just silently sat while watching Yogyakarta’ streets which started to get busy. Bus slowly crept along Majapahit Street, heading to Patehan area, which was about ten kilometers away.

Not long after, twenty-five minutes later, bus slowly entered a multi-storey parking lot. After getting off the bus, I realized that bus hadn’t actually arrived at its destination. Bus turned out to have to stop at Ngabean Tourism Parking in Notoprajan area, because roads were narrow and bus couldn’t enter to Taman Sari tourist spot.

Ngabean Tourism Parking.
In Notoprajan area.

Committee directed participants per group to ride a small tourist vehicle, i.e Daihatsu Luxio, to Taman Sari. I entered one of them and began to crossing narrow road. Seven minutes later, I arrived at Taman Sari parking lot after rode the car for about two kilometers.

A male guide approached us and introduced himself. After getting to know each other witth all members of group,he started slowly walking while giving an explanation about Taman Sari history. Situation was so crowded, so I couldn’t concentrate on listening to guide’s explanation.

Taman Sari’s gate.
Old building in Taman Sari.
Pasiraman Umbul Binangun, the empress’ bathing pool

Taman Sari also was known as Water Palace, because it was often used for bathing the empress and king’s daughter, let me show you the bathing pool“, I heard bits his explanation because I preferred to take some photos of several unique building and must get out from group.

Now I arrived at bathing pool. From many stories which told by a guide, I only heard a important point, of course it was my own version. “Previously the king would stand on top of that multi-storey building while watching concubines who bathing. When the time came, the king would throw a flower at a concubine who attracts his heart, then in the evening the king would get love from the concubine who he has chosen ”. Damn, I only remembered this thing.

Oh No….

Next Story—->