Larangan Mengambil Foto di Hast-Imam

<—-Kisah Sebelumnya

Lewat pukul dua siang….

Aku memaksakan langkah menyeberangi pertigaan di hadapan. Abdulla Qodiriy Ko’chasi cukup sibuk siang itu. Aku menunggu giliran menyeberang dengan sabar, berdiri di bawah tiang lampu merah dengan ukuran yang tak cukup besar.

Beberapa saat menunggu, lampu merah berganti hijau, untuk kemudian aku mulai melangkah menapaki jalur penyeberangan yang tak ada markah zebra crossnya. Aku terus mengarahkan pandangan mata ke samping kiri, menjaga diri jikalau ada kendaraan yang menyelonong melanggar lampu merah. Begitulah aku, selalu waspada ketika berpetualang sendirian di negeri orang.

Dari sudut pandang lain, setiap mata pengendara yang berhenti di lampu merah tampak memperhatikan setiap langkahku di jalur penyeberangan itu, karena memang akulah satu-satunya penyeberang jalan yang melintas. Canggung tetapi menjadi sebuah kesan yang menyenangkan tentunya.

Berhasil menyeberangi Abdulla Qodiriy Ko’chasi, hamparan panjang trotoar Qorasaroy Ko’chasi menanti di hadapan. Sejauh mata memandang, trotoar itu tersusun dari beton precast yang berfungsi ganda, selain sebaga u-ditch cover, juga berfungsi sebagai jalur trotoar.

Sementara itu di sisi kanan adalah jalur hijau dimana pohon-pohon berukuran besar, berumur tua, dengan cat putih di setengah batangnya, berbaris rapi di tepian jalan yang tercover oleh hamparan rerumputan nan hijau. Sedangkan ruang kota di sebelah kanan trotoar sepenuhnya tertutup oleh lembaran-lembaran papan seng proyek berlogokan Pemerintah Kota Tashkent “Toshkent Shahar Hokimligi” yang menjadi penanggung jawab pembangunan Islamic Civilization Center di Distrik Olmazor.

Islamic Civilization Center yang akan menjadi bangunan raksasa di sekitar Hast-Imam.

Trotoar yang kulalui tak begitu ramai, justru cenderung sepi dan lengang. Namun, aku telah mengenyahkan ragu, mantap melangkah menuju destinasi terakhir pada petualangan hari keduaku di Tashkent.

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di tujuan…..

Sejenak aku terdiam di gerbang tujuan, menatap lekat-lekat Masjid Abdullah Murodkhojayev yang telah berusia sepuluh abad. Sontak rasa penasaran muncul ketika menatap menara kembar masjid yang tinggi menjulang. Oleh karenanya, aku berusaha mendekati masjid dari sisi depan. Hingga tiba tepat berada dibawah kaki menara, aku seolah nampak kerdil, bangunan masjid itu sungguh megah luar biasa, berarsitektur klasik, berdiri sangat kokoh.

Semakin penasaran, aku mencoba menemukan keotentikan arsitektur masjid dari sisi lain. Berpindahlah aku ke sisi selatan yang kebetulan berfungsi sebagai area parkir. Di sisi itulah, aku menemukan ruangan komersial untuk pemberdayaan masjid. Tampak dua belas kios dipergunakan untuk aktivitas perniagaan. Kios-kios itu ramai disinggahi para pengunjung dan siswa yang besekolah di Imam Al Bukhari Islamic Institute.

Masjid Abdullah Murodkhojayev tampak depan.
Masjid Murodkhojayev tampak belakang.

Langkahku semakin intens, berlanjut ke sisi belakang masjid. Di halaman belakangnya yang luas, aku menemukan dua bangunan besar lain, yaitu salah satu bagian Barakhan Madrasah dan Moyie Mubarek Library Museum.

Aku mulai memasuki bangunan bersejarah Barakhan Madrasah, bangunan yang didirikan oleh Raja Navruz Ahmadkhan pada pertengahan Abad ke-16.  Di dalam bangunan selain memiliki banyak ruangan kelas juga terdapat beberapa toko souvenir. Menakjubkannya, sebagian besar lantai plaza bagian dalam madrasah terselimuti oleh lapisan es. Hal ini dimungkinkan karena dinginnya cuaca Tashkent di akhir Desember.

Khatam menikmati suasana di Barakhan Madrasah, aku meninggalkan bangunan klasik itu demi menuju Moyie Mubarek Library Museum. Tak berjarak jauh, tak sampai lima puluh meter, aku tiba di pos penjualan tiket masuk. Aku harus membayar 30.000 Som untuk kemudian penjaga memberikanku selembar tiket dan mempersilahkanku untuk masuk.

Can me take a picture in the museum?”, aku memeperagakan tangan layaknya memfoto sesuatu dengan memicingkan mata

No”, petugas itu melambaikan tangannya sebagai isyarat tak mengizinkan.

Aku pun melepas sepatu boots dan mulai memasuki ruangan museum. Tampak seorang penjaga duduk mengawasi para tamu yang datang. CCTV tampak disiagakan di setiap kamar. Ada satu naskah besar di ruangan utama, adalah naskah Al Qur’an yang sedang dibaca Khalifah Usman bin Affan ketika beliau dibunuh.

Bagian dari Barakhan Madrasah.
Moyie Mubarek Library Museum.

Sedang di ruangan kamar yang berukuran lebih kecil tampak beberapa pajangan mushaf Al Qur’an dari berbagai masa, dari yang berukuran besar hingga Al Qur’an berukuran super kecil. Moyie Mubarek Library Museum menjadi titik terakhir petualangan hari keduaku di Tashkent.

Aku mengakhiri kunjungan lewat pukul empat sore, kemudian bersiap diri untuk pulang menuju penginapan.

Kisah Selanjutnya—->

Memarkir Langkah di Abdulla Qodiriy Park

<—-Kisah Sebelumnya

Aku melangkahkan kaki keluar dari kompleks Dhzuma Mosque, melewati deretan peminta-minta yang didominasi wanita dan anak-anak, kembali melintasi sisi timur pelataran Kukeldash Madrasah yang di penuhi lalu lalang para pelajar. Sama sepertiku, para pelajar itu baru saja usai menjalankan ibadah Shalat Dzuhur di Dhzuma Mosque.

Turun di trotoar Navoiy Shoh Ko’chasi*1), menyusuri sisi utara wilayah Shaykhontohur Tumani*2), tetiba aku teringat kalau satu-satunya pulpen yang kumiliki telah berpindah tangan ke Tuan Khadirjan, Beberapa waktu sebelumnya, aku memberikan pulpen itu kepadanya usai dia menulis nama, nomor telepon dan alamat tempat tinggalnya pada selembar kertas yang telah terlipat rapi di kantong celanaku.

Sembari melangkah, tatapku awas menyapu pertokoan di sepanjang trotoar, berusaha menemukan toko yang menjual Alat Tulis Kantor. Aku tersenyum kecil ketika melihat sebuah toko kecil yang pintu masuknya terpasang tirai plastik penahan suhu dingin. “ZEBINISO Kitob Do’koni”, begitu nama toko yang kubaca pada nameboardnya.

Berburu pulpen pengganti.

Aku dengan percaya diri memasuki toko, untuk kemudian berdiri sejenak di dalamnya, memperhatikan koleksi novelnya yang berbahasa Rusia. Aku tak berkeinginan membeli, hanya terkesan dengan aksara Kiril yang memenuhi setiap lembaran novel itu.

Ruchka*3)?”, tanganku memperagakan gerakan menulis di atas telapan tangan.

Da*4)”, tangannya merogoh etalase di sampingnya dan mengeluarkan sebuah pulpen. Jarinya pun lincah memencet beberapa tombol kalkulator lalu menunjukkan layarnya padaku.

Oh, Dua Ribu Som”, aku tersenyum membatin

Kurogoh kocek dan menyerahkan pecahan pas kepada perempuan cantik pemilik toko buku itu.

Spasibo*5)”, aku bercakap padanya untuk terakhir kali sebelum pergi meninggalkan toko dari pintu bertirai plastic tebal itu.

Kembali di trotoar Navoiy Shoh Ko’chasi……

Tentu aku semakin antusias menyusuri trotoar oleh karena berkesempatan untuk berpapasan dengan muda-mudi Tashkent yang melintas….Mereka tampak modis dan berpenampilan menarik.

Hingga langkahku tiba di sebuah perempatan. Furqot Ko’chasilah yang memotong arus Navoiy Ko’chasi sehingga membentuk perempatan besar itu. Furqot atau Furkat pada nama jalan ini didedikasikan untuk seorang scientist terkenal asal Russia, F.N Russanov.

Perempatan itu tampak luas dengan arsitektur taman yang baik. Pohon-pohon tampak asri dengan seni topiary yang diaplikasikan di dalamnya.

Perempatan antara Navoiy Shoh Ko’chasi dan Furqot Ko’chasi.

Bella Cosa Beauty Salon”, aku membaca sebuah nameboard terbesar yang kutemui di deretan pertokoan sisi barat perempatan. Untuk sejenak aku berdiri lama di sisi itu, menikmati suasana sekitar yang udaranya mulai menghangat dengan bersinarnya matahari tanpa penghalang.

Sewaktu kemiudian aku melangkah menuju utara melalui ruas jalan baru. Adalah Zarqaynar Ko’chasi yang mengantarku untuk kembali tiba di Stasiun Chorsu. Stasiun dimana aku menginjakkan kaki di pagi hari beberapa waktu sebelumnya, hanya siang itu aku berada di sisi timur stasiun, sedangkan pagi sebelumnya aku berada di sisi baratnya.

Aku dihadapkan pada lokasi parkir stasiun yang memanjang dari timur ke barat dengan deretan kios makanan di sisi selatannya.

Parkiran sisi timur Chorsu Station.

Lalu aku menatap ke arah seberang Zarqaynar Ko’chasi, ruas jalan yang didediasikan pemerintah Uzbekistan untuk menghormati Zarqaynar, seniman asal negeri itu.

Di seberang jalan, aku melihat keberadaan flyover yang memiliki terowongan di bawahnya dengan dinding bercat biru.

Itu adalah akses terbaik untuk pejalan kaki menuju Hazrati Imam Complex”, aku menatap jalurnya yang tampak sepi. Suasana lengang yang membuatku ragu untuk melintasinya.

Beruntung, beberapa saat kemudian muncul seorang lelaki yang menyeret travel bag yang berbelok dari arah berlawanan melalui terowongan itu. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju terowongan. Aku hanya berpikir sederhana, bahwa aku akan berpapasan dengan lelaki itu di tengah-tengah terowongan.

Setidaknya aku tidak sendirian di pertengahan lorong”, aku memutuskan cepat.

Benar saja, aku berpapasan dengannya dan merasa sedikit tenang. Aku berhasil melewati lorong itu dengan cepat, untuk kemudian tiba di sebuah jalan sempit dengan aspal yang tak rata, retak disana-sini, bahkan ada bagiannya yang masih berwujud permukaan tanah. Banyak kendaraan tua diparkirkan di salah satu sisi jalan itu. Sedangkan tepat di sisi kananku adalah sebuah taman kota yang berukuran luas, Abdulla Qodiriy Park namanya.

Davlat Tabiat Muzeyi.

Aku menyusuri tepian barat taman kota yang memiliki luas tak kurang dari 20 hektar tersebut. Semakin jauh melangkah, aku mulai menemukan keramaian. Beberapa muda-mudi tampak melintas di jalanan, tampak mereka sedang pulang dari perkuliahan, begitulah aku menebak dari dandanannya.

Aku sendiri akhirnya berusaha untuk menemukan pintu masuk Abdulla Qodiriy Park demi menikmati keindahan di dalamnya.

Pada akhirnya aku memang menemukan gerbang utama taman itu setelah memutarinya separuh lingkaran. Tapi tampak gerbang taman itu ditutup rapat-rapat. Aku mendekat untuk mencari tahu, mengintip dari gerbang dan mengetahuinya bahwa taman itu sedang menjalani proyek renovasi.

Mengintip bagian dalam Abdulla Qodiriy Park yang ditutup karena renovasi.

Aku pun memutuskan untuk melangkah menjauh dari gerbang dan mencari sebuah tempat duduk di jalur masuk taman. Jalur yang kebanyakan tempat duduknya telah diakuisisi muda-mudi Tashkent demi bersiap menikmati keindahan sore yang beberapa saat kemudian akan tiba.

Patung Abdulla Qodiriy.

Aku terduduk tepat di sisi patung Abdulla Qodiriy, seorang sastrawan terkemuka asal Uzbekistan. Untuk sementara aku memarkirkan langkah di gerbang masuk Abdulla Qodiriy Park sebelum melangkah menuju tujuan akhir yang hanya berjarak 1.5 kilometer lagi.

Keterangan Kata:

Ko’chasi*1) = Jalan

Tumani*2) = Distrik

Ruchka*3) = Pulpen

Da*4) = Ok

Spasibo*5) = Terimakasih

Kisah Selanjutnya—->

Tatapan Perpisahan di Pintu Keluar Dhzuma Mosque

<—-Kisah Sebelumnya

Pelataaran selatan Dhzuma Mosque.

Tuan Khadirjon mendahului langkah, memimpinku menuju ke pelataran lain yang membentang di sisi selatan bangunan besar masjid berkubah hijau rumput.

Memasuki gerbang masjid, dia berkali-kali disapa oleh anak-anak muda yang melintas. Aku yang berusaha terus menyejajari langkahnya, mulai menaruh rasa kagum yang sesungguhnya.

Pasti ini orang penting….Lebih dari perkiraanku sebelumnya”, aku sesekali mencuri momen untuk menatap wajahnya dari samping.

Menyusuri pelataran sisi selatan masjid, arus pengunjung sedikit tersendat karena keberadaan tumpukan pasir dan material bangunan di sepanjang pelataran. Beberapa bagian masjid memang sedang direnovasi.

Ada satu waktu Tuan Khadirjon berhenti, berjongkok dan menyingkirkan beberapa batu bata yang berserakan di tengah pelataran. Aku terkejut dan spontan membantunya merapikan batu bata itu.

These bricks can disturb congregation, Donny

Sure, Sir

You are good person, Donny”, dia menatapku sembari berjongkok

You are better than me, Sir Khadirjon”, aku melempar senyum atas tatapannya.

Come on, Donny!….Adzan had came” dia berdiri menuntunku menuju tempat berwudhlu.

Tempat wudhu diletakkan di bangunan terpisah di belakang pelataran. Tiba di depan bangunan tempat bersuci, aku diam sebentar, memperhatikan lalu lalang pengunjung masjid, melihat bagaimana mereka berwudhu.

Kuperhatikan dengan seksama,

Pertama mereka akan menaruh jaket tebal musim dingin di sebuah gantungan yang ada di atas setiap kran, kemudian duduk pada tempat duduk beton yang disediakan di depan kran, lalu melepas sepatu boots berukuran besar beserta kaos kaki tebalnya.

Tempat berwudhu Dhzuma Mosque.
Mari mengantri untuk berwudhu.

Seusai berwudhu, maka mereka akan mengambul kertas tisu tebal yang ada di atas kran untuk mengelap kaki yang basah. Seumur hidup baru kali ini aku melihat wudhu yang diakhiri dengan mengelap kaki menggunakan kertas tisu. Mungkin karena suhu yang dingin di Tashkent yang menyebabkannya demikian. Sebuah prosesi wudhu yang cukup lama untuk setiap orangnya. Membuatku lama mengantri demi mulai bersuci.

Usai mendapatkan gilirian, aku menduplikasi apa saja yang telah kulihat. Agak sedikit gugup dan gelagapan ketika mulai membuka winter jacket hingga mengelap kaki dengan kertas tisu gulung yang tebal. Itu karena seorang pemuda yang mengantri tepat di sebelah terus melihat prosesiku bersuci. Aku mengakhiri wudhu, bangkit dan menjabat tangan si pemuda yang mengantri itu.

Wa’alaikumsalam, Brother”, dia menjawab salam yang kulempar.

Come on, Donny”, Tuan Khadirjon melambaikan tangannya di mulut pintu. Tampaknya dia sudah selesai bersuci sedari tadi.

Aku mengangguk dan kembali melangkah menuju masjid bersamanya.

Memasuki bangunan masjid, Tuan Khadirjon mendorong daun pintu nan lebar dan tinggi, aku pun menguntit Tuan Khadirjon dari belakang, memasuki sebuah ruang antara. Ruangan yang kumasuki tempak kosong selebar tiga meter, untuk kemudian aku memasuki pintu kedua di dalam ruangan, setelahnya aku baru bisa melihat jama’ah shalat Dzuhur yang sudah memenuhi ruangan utama. Menjalankan shalat sunnah qabla Dzuhur aku terduduk khusyu’ bersama jama’ah lainnya. Menunggu iqamah dikumandangkan.

Berbaur dengan para jama’ah lokal.

Akhirnya beberapa saat kemudian, waktu itu tiba. Kami dalam satu ruangan menjalankan ibadah Shalat Dzuhur berjama’ah dengan khusyu’. Ini menjadi shalat berjama’ah pertamaku di Tashkent. Shalat empat raka’at berjalan lambat dan aku menikmati lantunan demi lantunan ayat suci yang dilantunkan hingga shalat usai.

Melantunkan dzikir dan melantunkan do’a juga telah usai. Tuan Khadirjon tampak bangkit dan melangkah mendekatiku. Aku menyusulnya bangkit, beliau merentangkan kedua tangannya dan memelukku sambil berdiri.

I know you will continue your journey, Donny”, dia tersenyum menatapku

Yes, Sir. Khadirjon. I must go now. Thank you for your kindness”, aku memegang pundak kanannya.

Sampai jumpa lagi Dhzuma Mosque.

Mengucapkan salam, aku pun pergi. Memunggungi Tuan Khadirjon, aku bergegas menuju pintu keluar. Dalam beberapa detik aku sudah berada di halaman, diam sejenak, menatap ke timur dan menetapkan langkah berikutnya

Hazrati Imom Majmuasi” aku berujar pelan.

Kisah Selanjutnya—->

Portuguese Touch Throughout Nehru Park for Children

<—-Previous Story

What I had to pay attention to was the feeling of heart that wasn’t satisfied yet in witnessing the busyness of the local fishermen who were absorbed in taking care of their catch.

The sun had begun to slip from its highest point, slowly losing its sting, bowing to the twilight that begins to rule the day.

Meanwhile I, with a heavy heart, got up from my seat under the tent that was set up a few fathoms from the beach. A while later I had joined myself in the increasingly bustling currents of River Road. The flow of travelers seemed to refer to the preparation of natural attractions which were none other than the setting of the sun on the western horizon, all of which would occur in the next few hours. The clear sky seemed to be fully supporting the natural attractions later that afternoon.

Not only tourists, but the decline of the sun from the highest throne combined with the calm coast of Fort Kochi also made a flock of crows land on the ground and enjoyed the atmosphere. That black animal seemed to dissolve in joy by busily scavenging for food from the leftovers that had fallen from the travelers’ grasp, one or two of them seemed busy collecting fallen hanging roots which I suspected would be used to make nests and the rest were just busy chirping in thanks for the cool afternoon.

Then I was stunned at an inscription on the side of the road. I nodded reading stroke after scratch inscribed on the inscription. Meanwhile, other travelers joined in following my actions. Of course, they also wanted to understand the important information contained in the inscription. Let’s just say, the travelers and I understood it pretty well in the end.

Do you understand an inscription like this?….. Hahaha.

Let’s forcibly conclude that the inscription is the token of endorsement of the garden plot in front of me. Inside, residents seemed to be enjoying the coolness of the park by leaning on the available benches, some others were seen sitting on concrete benches scattered at several points.

City parks……Why do I like presenting myself in that type of landscape?

Guys…..To find out the life atmosphere of the lower middle class, then looking at the city parks in the area concerned could be the most effective step apart from visiting the traditional markets. Therefore, a city park is a type of destination that can’t be separated from my stopover goals wherever I explore.

Entering it, at all points, fish sculptures seemed to dominate the park architecture which according to my observations had an area of no less than two hectares.

Fish?…..

Of course, a conclusion can be drawn…..Fish is a symbol of the main livelihood of the people of Fort Kochi who inhabit the Malabar Coastline.

The age of the trees that shade the entire park from the sun could probably describe how old the park was. And somehow the joy of the park in the night because of the presence of lampposts in all directions.

The concept is intended for children, of course, children’s playgrounds are installed massively throughout the park’s area. Slides, swivel chairs, and swings are standard rides.

Northside park gate.
There are so many fish statues….Why is that child peeing carelessly?…. Hahaha.
Look at those locals!
The children weren’t yet present….Maybe soon.
Well, Let’s play the swivel chair!
Green Cochin Mission Post.
A typical Portuguese building that dates back to the 1800s.
Wow, I wanted to go crazy, I was going to ride that bike….Tired of walking grandiose.

Taking a seat on one of the benches, I casually enjoyed the authenticity of a row of typical Portuguese historic buildings across to the south. These classic buildings stand elegantly along Tower Road even though they have been converted into four-star inns.

The classic style of the Portuguese buildings seemed to transport me into the 19th century. For example, the red-dominated Koder House and the white-dominated Old Harbor Hotel represent a European touch on the coast of Fort Kochi.

While on the west side of the interior, I could see the existence of a post in the form of a large tent with the title Green Cochin Mission. This is the program promoted by the city government as the main movement to liberate Kochi from the city’s garbage disaster. It turns out that not only in Indonesia, in India it’s the same, garbage has become a complicated problem that has never been completely resolved.

Meanwhile, on the north side, River Road looked busier with souvenir shops and local snacks. Then to the east of the park was the beginning of the legendary street….Princess Street.

Come on, let’s explore Princess Street….What’s going on?

Next Story—->

Chinese Fishing Nets: Fort Kochi’s version of Anco

<—-Previous Story

The long wait to be present on the coast of Fort Kochi had paid off. In one jump down the orange KURTC Bus, I stood in the city built on mangroves. For a moment I stood motionless looking around, quickly adapting to the boisterous travelers at that famous destination in the State of Kerala.

Starting from a corner of KB Jacob Road, I was aligned with the Kochi Corporation Zonal Office, a government office tasked with managing the city of Fort Kochi, which had a population of seven hundred thousand people.

It was still Thursday….I didn’t know why?…. In the middle of the day, the two-story government office with cream-colored walls had its front gate tightly closed. It managed to make me look away and stared straight at the stretch of KB Jacob Road which was perpendicular to the shoreline.

That afternoon I wouldn’t follow a structured agenda. Without an itinerary, I would let my feet go as to enjoy the charm of Fort Kochi.

Just stepped out….It didn’t feel like a beach area, that was because the streets of Fort Kochi presented a shady situation with old tree decorations shading all along. Even paving blocks were chosen as the base for the streets, which were arranged very neatly.

Coupled with the crowds of local and foreign tourists, it made me feel less lonely even though I was far from home. After all, many European tourists seemed to be walking alone as solo travelers like me.

Just setting foot a few steps on the streets of Fort Kochi, my heart was amazed because I was transported to the past when I saw models of local buses chasing passengers along the side of the road. The buses seemed to have come from the past….Old, but they make the atmosphere of the city more classic.

Kochi Corporation Zonal Office at the confluence of River Road and KB Jacob Road.
River Road atmosphere.

Toward the first destination, I decided to pull over to the beach. From the tourist photos of Fort Kochi that I often find on search engine pages, Chinese fishing nets were always the ones that appear most often on that page. Then, I wanted to find its whereabouts, if I was lucky I would look closely at the activities of the Indian fishermen in the vicinity.

The shoreline wasn’t longer far, only thirty meters parallel to the River Road that I was currently crossing. I immediately got out of the flow of the street and decided to move closer to it. Within a few steps I arrived at the edge of the beach and as far as the eye could see the blue expanse of Malabar Beach was quite pleasing to the eye.

The beautiful scenery was added to the routine of the fishermen along the coast. A group of fishermen seemed to be relaxing enjoying coffee in a food stall, another group seemed to be just taking shelter from the hot sun and several others were seen busy anchoring their boats and unloading their load from the sea to then transfer the load to cold barrels.

Another sight on the shore was the activity of several small groups of fishermen catching fish using Chinese fishing nets…Fishermen in Indonesia (my country) called it “anco” or “tangkul”. Because it was installed on the shoreline, the catch from the operation of that fishing gear was mostly small fish.

Let’s talk with the Indian fishermen!
Well, the fish were coming….Let’s see how big the fish were.
They started to unloading.
India’s version of Tangkul or Anco.

Fresh and large fish from the sea were immediately transported using pick-up vehicles to be taken out of the beach area. Meanwhile, several medium and small-sized fish were immediately sold at fish stalls along the coast.

Mingling with the local community had indeed become a favorite activity. Sometimes even a little smile that was thrown on their faces made me feel like I was still close to home. That was what made me feel at home sitting with them for a long time and reluctant to move from the beach.

Fort Kochi indeed depicts a high economic movement, in any place, tourists could be seen thronging.

In the waters, tourist boats went back and forth along the coast carrying various multi-national tourists. Of course, the tourist ships offered sea cruise services along the coast to enjoy the exotic Fort Kochi.

Meanwhile, on the mainland, there weren’t a few tourist buses parked along the streets of Fort Kochi. As if Fort Kochi had been sovereign as a tourist city in the State of Kerala.

Tourist Boat….Boat tour around the west coast of Kerala, maybe as far as Vembanad Lake?
Chartered tourist buses in south India.

Even so, for one hour I put myself on the beach and was satisfied to enjoy the activities of the local fishermen.

I have to leave soon….

Let’s follow in my footsteps again….The next place wasn’t far from the beach.

Next Story—->

KURTC: Cochin International Airport to Fort Kochi

<—-Previous Story

After eating light snacks of Appam, Elai Adai, and Samosa, I completed my breakfast by slowly sipping hot Chai which kept my body warm after being exposed to the cold of the airport air conditioner all night.

Chai’s last sip indicated that I had to get ready to head to the main destination of that day….Moreover, if it wasn’t Fort Kochi, an area where four cultures blended: Dutch, Portuguese, British, and Indian.

Leaving Cafe Sulaimani, I headed back towards the roundabout around the main gate of Cochin International Airport. When I got there I felt lucky that there was a police officer on duty.

“Sir, where is the bus shelter which can deliver me to Fort Kochi?”, I ventured to ask.

“Just wait there, the bus will come in fifteen minutes”, he looked at his watch and pointed to a street corner.

“Thanks, sir”

“Welcome”

I immediately crossed the road and waited right around the corner. There wasn’t a bus stop on that side of the road. It was just that the police officer’s instructions convinced me that the bus could be stopped at that corner of the street.

Fifteen minutes of waiting was a calming period, how could I not, the police officer always seemed to be paying attention to me when directing traffic around. He seemed to be making sure I was caught by the bus at the nearest departure.

It was true, in exactly fifteen minutes, an orange bus with the KURTC (Kerala Urban Road Transport Corporation) logo came out from the airport. I quickly caught its presence, and so did the police officer. When the bus slowly approached, the officer looked at me from a distance and pointed his finger at the bus while smiling. I gave a thumbs up and smiled back at him.

“Thank you, kind police”, I cheerfully thought.

I entered the bus from the front door and took a seat in the middle. Exiting the airport, the rows of bus seats still looked empty. Not long after sitting down, a female conductor with an EDC machine came up to me.

“Where will you go?”, She asked a question.

“Fort Kochi, Mam”, I answered smiling.

“88 Rupees”, the conductor shook her head.

It was half past eleven when the bus slowly headed west leaving the Aerotropolis Nedumbassery. The bus pushed through Airport Road, the main road with sidewalks between the two sections.

Slowly but surely, the bus picked up its passengers one by one along the way. Some were picked up at the bus stop and some were picked up outside the bus stop.

In fifteen minutes, my curiosity paid off when the bus passed by an MRT station.

“That must be Aluva Station”, I thought to myself.

In my surfing in cyberspace, I found that Kochi is a city that has MRT facilities. That day I found the trail and I was determined to try Kochi Metro even just once. Maybe when I was coming back from Fort Kochi that afternoon.

Leaving Aluva, the crowds of residents began to look massive when the bus entered an industrial area, the Kalamassery area. Big industrial trucks seem to fill the streets, while other types of city buses were crammed with residents who were busy with their activities.

Then leaving the Kalamassery area, I began to see apartment buildings. I guess that most of the workers from the industrial area live in apartments built up around the Ernakulam area.

Aluva Station is one of the stations in the Kochi Metro network.
The atmosphere of HMT Road in an industrial area of Kalamassery.
TBPL GK Arcade (front right) is an apartment building in Ernakulam district right on the side of Ernakulam-Thekkady Road.

After 45 minutes of the journey, the bus arrived at a terminal in the Vyttila area. Most passengers got on and off at that terminal. This was a large bus hub in Kochi. Buses from and to other areas in Kerala seem to stand by at that terminal.

After picking up passengers at the Vyttila Hub Bus Terminal, the bus returned to the streets. Farther west, large rivers began to acquire views. I understood that the bus I was on was getting closer and closer to the west coast of Kerala. The rivers branch off and split the land. As more and more land was separated by water, I started to find lots of bridges at the end of the journey to Fort Kochi.

One of them was the longest bridge in Kerala, the Kundannoor Bridge, which connects two areas, i.e. Maradu to the east of the bridge and Thevara to the west. Those vast waters make the panorama as far as the eye could see cooler and bluer.

After crossing the longest bridge in Kerala, the bus spun its wheels along Willingdon Island, which was a stretch of land surrounded by water, making it separate from the mainland of Kerala. Meanwhile, the Fort Kochi area itself was part of mainland Kerala which was located in the far west so buses must once again cross a bridge to get there.

It is the Gateway of Cochin BOT Bridge that facilitates the connection between the island and the mainland.

Vyttila Hub Bus Terminal on the banks of the Kaniyampuzha River.
The scene on the bus after leaving the Vyttila area.
View from the top of the Kundannoor Bridge.
The Gateway of Cochin BOT Bridge connecting Willingdon Island with mainland Kochi
Bustle in the Thoppumpady area around eleven o’clock in the afternoon.
Another scene of the Thoppumpady area around AK Xavier Road.
Cemetery in the Fort Kochi area.

And in the end, even after an hour of journey, the bus started to enter the Fort Kochi area. At that time the crowd around was more dominated by tourism activities. Both local and foreign tourists mingle in every corner of Fort Kochi.

It took half an hour for the bus to push its way through the crowded streets of Fort Kochi until it arrived at the last stop of the KURTC bus which was located not so far from the west coast of Kerala.

Okay….Time to explore Kochi for the next few hours.

Next Story—->

Hotel Royal Wings: Tasting the Appam, Elai Adai, and Samosa

<—-Previous Story

Darkness was still overshadowing Kochi’s sky when the time pointed at six. Making my guts shrank for stepping towards the inn which was only one and a half kilometers away. I decided to still seated in the arrival hall’s waiting room at Cochin International Airport Terminal 3.

But it turned out….

I was so sleepy, I even sat asleep while hugging my backpack….

A few minutes after eight o’clock, I jerked awake. The bright light had penetrated the airport’s glass walls. I walked past a soldier armed with a long barrel who had faithfully guarded the airport’s exit door since early morning.

I walked across the drop-off zone, passed the edge of the car parking zone, crossed the bustle of Chili Restaurant, and then arrived at the main gate of Cochin International Airport which was beautifully adorned with the sun on the eastern horizon.

After passing through that exotic gate, I stood at a very busy roundabout with vehicles which going in and out of that main airport in Kerala State. Standing on a side, I could see the existence of a row of modern buildings on a side street.

“There’s no mistake, my inn must be there”, I thought.

“Very close,” I happily smiled.

Now, I was right on the south side of the straight road and getting ready to cross to the modern building complex. The crowds of vehicles that morning made me difficult to cross. Being on the streets of foreign countries has always been something that I always pay attention to, I don’t want to do silly things and endanger myself, because half of my journey wasn’t over yet.

I trudged across Airport Road to arrive on its north side and then started looking for the whereabouts of the accommodation which I had booked through leading travel e-commerce for 800 Rupees.

Yiiaaiiyy, I found it….

I’ve left the main gate of Cochin International Airport.
A roundabout on the west side of the main gate of Cochin International Airport.
Rows of modern buildings on the north side of Airport Road.
This was the Royal Wings Hotel, where I was staying that night.

Back again in advance of my backpacking departure, it was so difficult to consider the location of the inn which I would choose. My desire was so strong to stay around the beach which would certainly provide many opportunities to enjoy the exotic west coast of Kerala for a longer time.

It was just that, the next morning to Dubai was a limitation for me not to be too far from the airport when choosing a lodging. Finally, I decided to stay at the Royal Wings Hotel and decided to just spend the whole day enjoying the situation in the Fort Kochi area.

“Hello, Sir. Can I put my backpack here?”….I asked a male receptionist.

“I have booked a room in this hotel. This is the e-confirmation”, I added information.

Receiving the confirmation letter, he started surfing on his desktop and checked the whereabouts of my inn order.

“Okay, Sir. I have checked your order. You can put your backpack here and you can check on at 1 pm…Come!”, he started to direct me to a small room behind the reception desk. The room was specifically used to store the belongings of the inn guests.

Half of my backload had been deposited at the inn, then I would step away to start exploring.

But before going any further, I decided to look for breakfast around the hotel.

Smelling the sweet smell of a cafe, I was intrigued to approach it, seeing the tempting Indian-style breakfast menu, I decided to enter and took a seat.

“Cafe Sulaimani …”, I read the name of the cafe on a wall.

I decided to buy a simple breakfast like the locals did in the cafe. This was my breakfast menu that morning.

Appam, Elai Adai, and Samosa and a glass of Chai for 55 Rupees….Hhmmhhh looked delicious too.

After breakfast, I rushed to the roundabout near the main gate of Cochin International Airport to find a bus to Fort Kochi….I would tell you how I got there later.

Still regarding Hotel Royal Wings….

I was only able to enter the hotel after exploring Fort Kochi.

I arrived back at the hotel by taking the airport bus from Aluva Station. Towards six o’clock in the evening, I immediately asked for the key from the hotel owner who was at the reception desk.

After getting the key, I was escorted by a room boy, I carried a backpack to the room upstairs to immediately bathe. Oh God, the last time I took a shower was 30 hours before I arrived at the hotel.

Want to know how the hotel I stayed in, here it is:

Reception desk.
Lobby.
Double bed.
Bathroom.
Look at that old TV….Hahaha.

Accessibility

Remembering the location of the Royal Wings Hotel which is close to the airport, of course, this hotel is very close to various public facilities that make it easy for its guests.

At least I could easily go to Fort Kochi using the KURTC bus that departed from the airport. Apart from that, it was also easy for me to get halal restaurants, money exchange, and minimarkets around the hotel.

The distance which could be reached in fifteen minutes from and to the airport, makes it easier for me to catch the next morning’s flight on time than when I had to choose accommodation around Fort Kochi.

Reasonably priced restaurants around the hotel.
Kerala Urban Road Transport Corporation (KURTC) bus bound for Fort Kochi which runs on Airport Road in front of the hotel.

In the end, visiting India was always fun because that country has hotel facilities and a wealth of culinary delights at very affordable prices for a backpacker.

Therefore, never hesitate to travel to that Sub-Continent Country.

Come on, visit India.

Next Story—->

Kukeldash Madrasah: Do’a ke Tanah Suci

<—-Kisah Sebelumnya

Aku meninggalkan kedai pilav, menyusuri trotoar Saqichmon Ko’chasi sisi timur, menuju selatan, untuk kemudian terhenti pada dinamika di sebuah perempatan jalan.

Beruniy Shoh Ko’chasi lah yang membentuk perempatan besar itu karena memotong Saqichmon Ko’chasi dari barat ke timur.

Tampak, walaupun ramai di area zebra crossnya, tetap saja pemerintah setempat menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah yang menyediakan alternatif menyeberang paling aman dan nyaman.

Di sisi lain, delapan jalur trotoar perempatan itu dihiasi barisan pepohonan besar yang meranggas dihajar musim dingin. Pokok-pokok besar itu berbaris dengan interval teratur di sepanjang sisi jalanan.

Sejenak aku berdiri cukup lama, mengarahkan pandangan ke arah timur jauh dimana satu dua gedung pencakar langit sedang dibangun di sepanjang Beruniy Shoh Ko’chasi.

Perempatan antara Saqichmon Ko’chasi dan Beruniy Shoh Ko’chasi.

Pada satu sisi, bentangan panjang trotoar mengarah ke timur telah menunggu. Setengah kilometer di depan, destinasi selanjutnya telah menunggu.

Apalagi semakin lama berdiam di sisi perempatan, udara dingin semakin menusuk dari sela-sela winter jacket yang kukenakan, perlahan tapi pasti menyurutkan hangat badan. Maka, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Bertolak meninggalkan halaman toko springbed “TAMAKI” di pojok perempatan, aku memasuki trotar sisi utara Beruniy Shoh Ko’chasi.

Trotoar selebar tiga meter itu beralaskan beton, tak berbatasan langsung dengan jalan raya, melainkan terjeda dengan bidangan rumput hijau di kiri kanannya. Jalur rumput yang berbatasan langsung dengan jalan tertanam pepohonan yang berjajar rapi. Pohon-pohon itu diberi cat warna putih di bagian pangkal batang hingga setinggi orang dewasa. Pemberian cat warna putih tentu bertujuan sama di jalanan manapun, yaitu mengurangi durasi batang pohon terpapar panas secara langsung untuk mencegah peretakan.

Setengah kilometer kemudian, sebuah halte bus menyambut. Pemberhentian bus itu ramai dipenuhi calon penumpang, bernama Chorsu Mall Bus Stop karena memang letaknya yang berada di tepian pusat perbelanjaan dengan nama yang sama.

Melewati keramaian halte, deretan lapak pedagang kaki lima menjadi pemandangan menarik berikutnya. Sahutan para pedagang buah-buahan, sayur-mayur, mie berbagai warna, dan Non*1) berhasil membuat bising sepanjang trotoar.

Untuk sementara aku larut dalam aktivitas perdagangan kecil itu. Menyaksikan aksi tawar-menawar dan tentu mengagumi modisnya muda-mudi Uzbekistan yang melalui kawasan pasar jalanan yang terletak persis di sebuah pertigaan besar yang terbentuk dari pertemuan tiga ruas jalan, yaitu Beruniy Shos Ko’chasi, Samarqand Darvoza Ko’chasi dan Navoiy Shoh Ko’chasi.

Perdagangan di depan Kukeldash Madrasah.

Dan tepat di sebelah timur pasar jalanan itu terdapat sebuah bangunan dengan arsitektur khas Timurid. Adalah Kukeldash Madrasah yang telah lama menjadi pusat pendidikan penting di Kota Tashkent.

Timurid merujuk pada nama Amir Temur, seorang pemimpin berkharisma ada Abad XIV yang pernah berkuasa di Asia Tengah, Iran, Afganistan, Pakistan, India, Irak dan Kaukasus.

Sedangkan kekhasan arsitektur Timurid terletak pada pintu gerbang yang berbentuk persegi menjulang dengan lengkungan khas di bukaan pintunya. Sedangkan model dekorasi muqarnas menjadi penghias dindingnya. Gerbang itu akan diapit oleh dua menara dengan dekorasi khas.

Sejenak aku terduduk di salah satu tempat duduk beton demi menikmati keindahan arsetektur pesantren itu.

Aku larut dalam keasyikan mengambil beberapa gambar di setiap sudut Kulkedash Madrasah, hingga akhirnya berdiri terpaku menatap keindahan jengkal demi jengkalnya.

Gerbang depan Kukeldash Madrasah.

Tibalah pada suatu waktu, dari belakang, sentuhan lembut dari tangan seseorang mendarat di pundakku.

Hello, where are you come from?

Aku menoleh ke belakang. Menemukan wajah tua bersahaja dengan senyuman super ramahnya.

“Indonesia, Sir”, aku tergagap, gugup menatap senyum cerah lelaki tua itu.

“I’m a teacher in this school….my name Khadirjon….Are you moslem?”,

“Yes, Sir…I’m moslem”

“Subhanallah….Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”.

“Do you live in Tashkent?….What is your name?”

“No Sir, I’m jus a solo traveler…My name is Donny”.

“Masyaallah….You’re a musafir. Your do’a is maqbul….Please, pray for me”

“What do’a do you want, Sir”

“I want go to Makkah Al Mukarrom for Hajj or Umra….Also, I want my daughter to get married this year…Please, say do’a for me !”

Me & Mr. Khadirjon.

Aku pun mulau berdo’a sembari berdiri di depannya. Dia mengamini setiap do’a yang kupanjatkan. Aku merasakan kebahagiaan dalam setiap do’a yang kupanjatkan untuknya. Tak menyangka keramahan orang ini membuatku serasa berada di rumah sendiri.

“Donny….Do you have something that I can keep it as a keepsake?”

Aku yang bingung mencoba berpikir, menentukan barang khas Indonesia apa yang bisa kuberikan. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah ide.

“Do you want Indonesian money”?

“Oh..good idea….Just give me a small banknotes”

Aku merogoh kantong mengambil dompet , menarik selembar uang kertas Rp. 10.000, menandatanganinya dan menyerahkan kepadanya

“10.000 rupiah is equal with 8.000 Som, Sir”

“Oh, nice Donny….Thank you”

Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik berkerudung putih melintas dan mendekat ke kami berdua. Entah perempuan itu bicara apa, yang jelas dia sedang memberi salam kepada Mr. Khadirjon. Menunduk-nunduk ketika berbicara dengannya sebagai bentuk rasa hormat.

“Shara…Introduce my guest, he is traveler from Indonesia. His name is Donny”

“Hallo, Mr Donny….Nice to meet you…My name is Shara from Samarkand”

“Hi, Sara….Nice to meet you”

Perempuan itu menunduk sopan dan meminta izin kepada Mr Khadirjon untuk memasuki pensantren.

“Donny, can you shalat with me in that mosque ?”

“Oh sure, time to Dzuhur pray…Let’s go to the mosque and pray together”.

Kukeldash Madrasah dari sisi timur.

Aku tersenyum lebar dan berinisiatif mengikuti langkahnya menuju masjid.

Sejenak aku akan menjalani ibadah shalat dzuhur. Itulah shalat berjama’ahku untuk pertama kali di kota Tashkent.

Catatan Kaki:

Non*1) = Roti khas Uzbekistan, biasanya berbentuk bulat dan lebar dengan satu sisinya lebih mengkilat dan bertabur wijen.

Kisah Selanjutnya—->

Pilav dan Kegagalan Menyeruput Teh Hangat

<—-Kisah Sebelumnya

Masuk dari lantai bawah, aku terhenti dalam beberapa langkah, tertegun dengan tata letak lapak di Chorsu Bazaar. Mengikuti bentuk lingkaran bangunannya, deretan lapak pun disusun dengan pola melingkar, berpusat di titik tengah ruangan. Tata letak yang efektif, efisien, juga penuh gaya.

Aku mulai menyusuri lantai pertama pasar yang didominasi oleh penjual daging, sosis, keju, sayur-mayur, buah-buahan dan bahan pangan lainnya. Sibuknya aktivitas pasar membuat para pedagang tak mempedulikanku ketika memfoto aktivitas mereka ketika melayani pembelian para pelanggannya.

Aku yang kagum dengan aktifitas dan kebersihan pasar, harus mengitari lantai bawah pasar hingga dua kali sembari menikmati atmosfer perniagaan di dalamnya.

Lapak sekitar pintu masuk yang kulalui.
Chorsu Bazaar dari atas.

Selesai pada putaran kedua, aku mendongak ke atas, melihat sekilas apakah aktivitas di lantai itu sama bergeliatnya. Kuperhatikan dengan seksama, riuh rendah teriakan para pedagang menggema di langit-langit pasar. Aku yang tak bisa menahan rasa penasaran, mengarahkan pandangan ke bagian paling belakang deretan lapak lantai satu. Aku fokus mencari akses tangga menuju ke lantai atas.

Bersyukur aku menemukannya dengan cepat. Aku mendekatinya, entah kenapa banyak tercecer tumpahan lumpur tipis di sekitar anak tangga. Seorang petugas tampak sedang berjibaku membersihkannya dengan floor wiper. Mungkin lapisan tipis lumpur itu adalah residu dari bongkar muat ikan air tawar yang dijual di lapak paling belakang

Aku harus sedikit berjingkat demi menggapai anak tangga pertama. Aku berhasil melalui lapisan lumpur dan mulai menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.

Setiba di lantai atas, aku langsung membuat kesimpulan bahwa lantai dua Chorsu Bazaar digunakan sebagai pasar kering dimana manisan kering, buah-buahan kering, navat (gula batu), parvarda*1), kacang-kacangan, kismis, apricot, saffron diperjualbelikan.

Melihat lantai bawah dari atas, menyematkan kesan indah di sejauh mata memandang. Susunan melingkar lapak tampak rapi dan teratur. Balon warna-warni dibentangkan dari sudut ke sudut bangunan, berhasil menambahkan suasana meriah di ruangan pasar.

Pedagang di lantai atas ternyata lebih agresif, berkali-kali mereka menjemput kedatanganku dengan menawarkan barang dagangan. Seorang pedagang pria bahkan terus mengikuti setiap langkahku sembari menawarkan saffron.

Best saffron from Kashmir, brother”, dia menyejajari langkahku sembari terus menatap mukaku yang kuarahkan ke tempat lain.

Thanks, brother. I come here just to sightseeing”, aku menegaskan maksud.

Hampir mengikutiku sejauh setengah putaran pasar hingga akhirnya dia menyerah karena usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Dia berbalik badan dan membiarkanku lepas dari incarannya.

Doi minta difoto setelah lelah mengejarku.

Aku yang telah selesai mengelilingi lantai atas satu putaran penuh, memutuskan untuk turun. Aku menuruni tangga yang sama disaat naik, lalu keluar dari pintu bertiraikan plastik di lantai bawah.

Dalam sekejap, aku sudah berada di luar bangunan pasar kembali.

Petualangku selama 45 menit di Chorsu Bazaar usai, bahkan berhasil membuatku lapar. Maka aku menyempatkan diri untuk mencari kedai makan di sekitar pasar. Akan tetapi mengitari bagian luar Chorsu Bazaar untuk mencari makanan ternyata tetap tak membuahkan hasil.

Perut yang keroncongan akhirnya mengingatkanku pada sebuah kedai yang menggoreng nasi di tepian jalan dan sempat kulihat sebelum menuju Chorsu Bazaar beberapa menit sebelumnya.

Menemukan ingatan di kepala, aku pun tersenyum dan dengan cepat meninggalkan Chorsu Bazaar. Aku bergerak tangkas menuju kedai makan yang dimaksud.

Derean kedai makanan dekat Chorsu Bazaar.
Pilav.

Menghafalkan rute dengan baik, aku tiba di lokasi dalam tujuh menit. Semua pintu di deret kedai makan tampak sama. Aku susah membedakan pintu mana yang menjual “nasi goreng” yang dimaksud. Aku juga tak melihat pemuda yang beberapa menit sebelumnya kulihat memasak di tepian trotoar.

Maka kulongokkan muka dari pintu ke pintu untuk menemukan masakan itu. Tiga pintu yang kulongok tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya pada pintu keempat, aku melihat seorang pria berumur yang mengangkat penggorengan besar dan menumpahkan isinya ke lima piring kosong nan lebar.

Itu dia”, aku bersorak dalam hati.

Aku yang antusias, memberanikan diri masuk ke pintu yang berhadapan langsung dengan dapur dan meja kasir.

Seorang perempuan berkerudung dan bersepatu boots menyambutku, dia tampak modis dan cantik.

A portion….that food, Mam!”, aku menunjuk nasi goreng di sebuah penggorengan yang asapnya menebarkan bau super sedap.

Da*2)……”, dia mengangguk dengan ekspresi wajah datar sembari menunjuk ke arah bangku kosong.

Aku yang menahan lapar, menyeret langkah dan duduk di meja yang dimaksud.

Tak lama, makanan pesananku datang dan disajikan di meja makan. Terdapat tiga potongan roti berukuran sedang yang disuguhkan bersama seporsi nasi bertabur rempah, daging domba, telur puyuh dan sedikit sayur.

Tak berpikir panjang, aku segera menyantapnya. Tetapi gigitan pertamaku pada roti memberikan kesan tawar. Maka kuputuskan untuk memasukkan tiga kerat roti itu kedalam plastik dan menenggelamkannya di dalam folding bag.

Lebih baik untuk makan malam nanti saja”, aku cengar-cengir sendirian.

Dengan lahap aku menyantap makanan itu. Sendok dan garpu berkelontangan beradu dengan piring.

Fokus pada makanan, membuatku tak memperhatikan jika sewaktu kemudian empat sekawan datang dan duduk di bangku sebelah. Mereka berempat sepertinya mahasiswa dan sedang riuh rendah bercakap-cakap di sisi kananku.

Ramainya suasana di bangku sebelah membuatku mengarahkan pandangan kepada mereka. Aku menatap mereka ketika mereka berempat kompak melihatku yang sedang rakus menyantap makanan. Aku tersenyum kepada mereka ketika sesendok nasi masih kukunyah di mulut.

Aku pun segera menelannya dengan cepat. Kemudian mengajukan pertanyaan singkat pada keempat pria muda itu.

What is the name of this?”, aku menunjuk pada hidangan yang kumakan.

Pilav….That is Pilav3*), our typical food”, salah satu dari mereka yang berpostur paling tinggi menjawab.

Oh, Pilav…..Nice food”, aku menimpali.

Melihat Pilav membuatku  teringat oleh makanan dengan penampilan yang sama. Namanya Pullao, makanan asal Pakistan yang pernah kusantap ketika mengunjungi Qatar. Cuma waktu itu Pullao tersebut dimasak oleh seseorang hanya dengan bercampukan sayuran dan kacang-kacangan.

Enjoy that….”, pemuda itu menambahkan dan menutup percakapan.

Sure…”, aku kembali menghadapi makananku.

Aku menyantapnya kembali ketika pilav itu mendingin dengan cepat oleh sebab dinginnya udara sekitar.

Porsinya yang banyak dan kondisinya yang sudah dingin memaksaku untuk memindahkan separuh porsi pilav itu ke dalam foldable lunch box. Aku bisa memanfaatkannya untuk makan malam.

Usai sudah menyantap pilav.

Aku melangkah ke meja kasir untuk meminta sesuatu….

Can you serve me a cup of tea?”, aku menunjuk pada sebuah tea pot yang terletak di sebuah meja makan.

Nima?*3)”, dia mengambil kalkulator dan menujukkan angka 27.000 padaku

Tea….Please!”, aku menegaskan bahwa aku belum bermaksud menyudahi makan siangku

Rupanya nona cantik itu tak paham dan hanya tersenyum melihatku.

Aku yang sudah kehabisal akal memutuskan untuk menyudahi saja makan siangku dan membayar pilav yang sudah aku santap.

Sudahlah, aku membalikkan punggung dan meninggalkan kedai itu.

Keterangan:

Parvarda*1) : Caramel khas Uzbekistan yang sangat populer, berbentuk manisan kecil yang dilapisi tepung.

Da*2): OK

Nima?*3) : Apa

Kisah Selanjutnya—->

Chorsu Bazaar: Tertegun pada Lapak Kaki Ternak

<—-Kisah Sebelumnya

Dengan tegas, aku mengarahkan langkah menuju Chorsu Bazaar, sebuah pasar tradisional terbesar di Kota Tashkent atau boleh dikatakan sebagai pasar tradisional tertua di kawasan Asia Tengah.

Dari pelataran atas stasiun bawah tanah Chorsu, aku bersusah payah mencari jalur menuju jalan arteri. Aku sepenuhnya paham bahwa Chorsu Bazaar terletak di utara tempatku berdiri dan jalan arteri untuk menujunya berada di sisi barat, itu berarti bahwa aku harus berjalan memutar demi menuju pasar tradisional yang sudah berdiri sejak Abad Pertengahan tersebut.

Maka melangkahlah aku ke barat, melewati jalur kecil yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Jalur itu membawaku melintasi Chorsu Gold Center yang merupakan pusat perdagangan emas terbesar di Tashkent. Sentra emas itu sengaja dibangun oleh pemerintah Uzbekistan untuk melawan dominasi brand perhiasan emas dari luar negeri.

Aku berhenti sejenak di depan sentra emas itu, memperhatikan antrian warga lokal di depan bangunan kecil bertajuk “Bankomat ATM”.

Pasti mereka menarik uang tunai untuk berbelanja emas di sentra emas itu”, aku mengambil kesimpulan cepat.

Chorsu Gold Center.
Toko souvenir.

Sementara itu, membalikkan badan ke arah seberang, aku mendapati sebuah toko besar yang menjual souvenir khas “Negeri Jalan Sutera”. Karpet berpola khas, guci klasik dari berbagai macam bahan dan pernak-pernik lain yang tersusun di etalase dengan mudah bisa dilihat dari luar toko. Tetapi aku toh tetap tak mengindahkan keberadaannya.

Justru aku lebih tertarik pada sebuah lapak tanpa tenda dimana seorang pria paruh baya menjual potongan kaki ternak yang ramai dengan antrian pengunjung. Aku yang beruntung melihat pemandangan itu, memutuskan untuk mengambil foto beberapa momen transaksi jual beli di lapak mungil itu. Untuk beberapa saat, langkahku tersangkut di lapak kaki ternak yang baru pertama kali kulihat dalam hidup.

Hingga akhirnya aku mencukupkan diri mbengambil foto transaksi jual beli ketika si bapak penjual menatap dan tersenyum lebar melihat kehadiranku.

Wonderful, Sir….Thank you for this special moment”, aku bercakap kepadanya yang entah dia paham atau tidak..

Penjual kaki ternak.

Aku berhasil menggapai tepian Saqichmon Ko’chasi*1), lalu tersenyum menatap utara. Jalanan sedang macet-macetnya menjelang pukul sebelas siang. Sepanjang mata memandang, jalan arteri itu dipenuhi oleh brand Chevrolet, compact car varian The New Chevrolet Spark  tampak mendominasi kepadatan jalan. Konon, Chevrolet memang mendominasi pangsa pasar mobil di Uzbekistan.

Di sisi lain, di sepanjang trotoar yang kulintasi, aktivitas perdagangan tepi jalan juga sangat bergairah. Gerobak-gerobak beroda berjajar rapi dan menawarkan berbagai makanan, buah-buahan dan hasil bumi lainnya.

Bahkan beberapa puluh meter kemudian, aku menemukan deretan kedai makan yang telah bergeliat dengan aktivitas memasak. Aku tertegun di satu titik, tempat dimana seorang pria muda sedang mengaduk-aduk nasi di sebuah wajan besar, dia sengaja memasak di atas perapian yang diletakkan di tepian trotoar. Bau rempahnya kuat menusuk indra pencium, otomatis membuatku lapar.

Nasi goreng macam apakah ini?”, aku bertanya dan terkekeh dalam hati.

Tapi belum saatnya untuk makan….Aku harus segera sampai di Chorsu Bazaar”, aku memutuskan untuk menghampiri lagi kedai makan itu setelah mengeksplorasi Chorsu Bazaar.

Saqichmon Ko’chasi yang macet.

Aku meneruskan langkah kaki, melewati area parkir yang sangat luas. Sepertinya itu adalah area parkir khusus untuk pengunjung Chorsu Bazaar, karena aku telah melihat bangunan besar dengan atap sepenuhnya berbentuk kubah warna biru.

Itu pasti Chorsu Bazaar yang sedang kutuju”, aku menatapnya lekat-lekat dari area parkir.

Aku yang sumringah, melangkah lebih cepat demi menggapai gerbang Chorsu Bazaar.

Akhirnya aku sampai……

Aku sendiri tak terburu-buru masuk, aku lebih memilih duduk di pelataran luasnya. Pengelola pasar setempat tampaknya sangat mengerti kebutuhan warga dan wisatawan dengan menyediakan tempat duduk yang nyaman di sekitar pasar.

Aku memilih salah satu bangku beratap dan ternyata betah duduk di bangku itu. Suhu 4oC tak mengalahkan rasa antusiasku untuk menikmati kesibukan di sekitar gerbang masuk. Chorsu Bazaar jika dilihat sepintas lalu, lebih tampak seperti sebuah shopping mall yang besih dan bergaya.

Untuk beberapa saat, aku menikmati duduk manisku di bangku mungil itu.

Hanya saja, karena tak mau didahului siang, aku pun bangkit dan menuju gerbang pasar yang dijaga seorang petugas keamanan yang membawa metal detector.

Tapi entah bagaimana, aku bisa lolos dari pemeriksaannya. Tapi toh aku tak khawatir jika sewaktu-waktu harus diperiksa ketika sudah berada di dalam pasar. Aku melenggang masuk melewati gerbang yang penuh dengan hiasan ucapan selamat tahun baru dengan warna dominan biru. Tampak beberapa pohon natal di tempatkan di anak tangga teratas di sebelah pintu pasar. Yang perlu kamu tahu bahwa 5% penduduk Uzbekistan beragama Kristen Orthodox.

Aku sendiri tak langsung menaiki tangga menuju ke ruangan utama pasar, melainkan memilih berdiri di dekat pintu gerbang demi mengamati aktivitas sekitar. Mengambil beberapa foto menarik di beberapa titik. Memenuhi memori Canon EOS M10 yang setia menemaniku sejak lima tahun terakhir.

Gerbang Chorsu Bazaar.
Nah….Setelah berjibaku, sampai juga di Chorsu Bazaar.

Aktivitas tak normalku membuat security yang berjaga di gerbang lebih intens mengamatiku. Aku hanya berharap dia tak menaruh kecurigaan apapun. Bersyukurnya, segenap waktuku di sekitar gerbang tak ditegur olehnya. Aku dibiarkannya begitu saja. Mungkin dia memahami bahwa aku hanyalah seorang turis yang sedang menikmati suasana saja.

Cukup dengan beberapa gambar yang kudapat, aku pun mulai menaiki anak tangga demi anak tangga untuk memasuki ruangan pasar.

Di anak tangga teratas aku dihadapkan pada akses masuk tak berdaun pintu, melainkan hanya tirai plastik yang digunakan untuk mencegah udara dingin memasuki ruangan dalam pasar.

Aku segera menyingkap tirai itu, masuk ke ruangan pasar, dan terkesima dengan segenap isinya….