Author: travelingpersecond
-
<—-Kisah Sebelumnya Memasuki pintu gostinitsa*1), aku berdiam sejenak di sebaliknya. Menggengam telapak tanganku, melemaskannya dari kebekuan. Tak lama setelahnya, aku menaiki tangga menuju lantai dua dimana meja resepsionis berada. “Hello, I’m Donny from Indonesia. Can you check my booking order for 2 nights, Mam!”, aku langsung menuju ke inti pembicaraan “No English, please…!.”, aku tersentak…
-
<—-Kisah Sebelumnya Melompat turun dari bus bernomor 92, aku lantas melangkah menuju kerumunan, sekedar untuk menemukan rasa aman dan tenang dibandingkan harus berdiri di tempat gelap sendirian. Suhu udara sudah turun dibawah titik beku. Sementara itu, di depan halte bernuansa remang berdiri belasan warga lokal yang menunggu kedatangan bus. Aku yang bergabung dengan mereka berusaha…
-
<—-Kisah Sebelumnya Gemeretak gigi mengiringi langkahku meninggalkan Almaty International Airport. Gentar mulai menggoda nyali, membuat imajinasiku menuju Tahar Hotel menjadi sulit. Dalam gulita malam, aku membalikkan badan, mengamati sejenak keindahan bangunan terminal bandara yang sedari beberapa bulan sebelumnya hanya bisa aku kagumi dari halaman muka berbagai web pariwisata internasional. Nameboard dengan aksara Kiril itu menjadi…
-
<—-Kisah Sebelumnya Hampir pukul empat sore…. Sebuah layar LCD mungil milik bandara memperlihatkan suhu luar ruangan yang telah menyentuh minus 7o Celcius, suhu yang menyiutkan nyali siapapun yang berasal dari daerah dua musim sepertiku. Aku berjalan penuh ketergesaan di sepanjang conveyor belt-baggage claim Almaty International Airport. Selanjutnya menuju exit gate sembari mengamati kesibukan para pelancong…
-
<—-Kisah Sebelumnya Pramugari telah membuka pintu kabin bagian depan dan juluran aerobridge telah menempel di badan pesawat. Aku berdiri dari tempat duduk bernomor 15C, merengkuh backpack di kompartemen bagasi di atas dan bersiap diri untuk keluar dari kabin. Tepat pukul setengah empat sore…. Aku akhirnya menginjakkan kaki di bangunan terminal Almaty International Airport, bandara terbesar…
-
Aku turun dari bus berkelir hijau setelah setengah jam lamanya menaikinya dari pusat kota Tashkent. Bus kota bernomor 67 itu ternyata tak mengantarkan segenap penumpangnya hingga drop off zone, melainkan hanya pada pemberhentian tunggalnya, yaitu halte bandara. Maka untuk menghindari kesalahan memilih, aku memutuskan untuk bertanya kepada seorang pengendara taksi tentang keberadaan terminal internasional. “Where…
-
<—-Kisah Sebelumnya Detak jantungku melambat, perasaanku menjadi tenang….Itu terjadi ketika aku berlama-lama memperhatikan warga lokal yang beribadat dengan menangkupkan dupa di kedua telapak tangannya serta mengucapkan do’a di pelataran dekat Phaya Yakkharat. Pastinya, aku siap melanjutkan eksplorasi di luasnya Wat Chedi Luang. Maka melangkahlah aku ke sisi barat, melewati pelataran hijau di sebelah San Lak…
-
A Collaboration Post with BanBanjara Introduction Bangalore, also referred to as the “Garden City of India,” is a thriving city renowned for its energetic urban environment and thriving IT sector. But sometimes, in the middle of this hectic existence, the pull of nature becomes too strong. Nestled in the Western Ghats, Wayanad is a verdant…
-
<—-Kisah Sebelumnya Langkahku sedikit melambat ketika meninggalkan Wat Muen Tum, itu karena letak destinasiku tak jauh lagi, hanya berjarak tiga ratus meter lagi. Tetapi belum juga sampai di tujuan, langkahku dihadang oleh keberadaan kuil lain. Wat Chang Taem namanya. Kuil ini adalah vihara tempat disimpannya Buddha Fon Saen Ha yang berusia lebih dari seribu tahun.…
-
A Collaboration Post with BanBanjara Introduction Kedarnath, situated in the state of Uttarakhand, India, is a widely acclaimed pilgrimage center of great significance. Tucked away in the serene embrace of the Garhwal Himalayas, it rests at an impressive altitude of approximately 3,583 meters. Kedarnath holds a revered place in the hearts of Hindus, being regarded…