Singgah di De Kock Hotel, Berburu ke Jam Gadang

Pengemudi: “Don, turun di sini saja ya. Mobil mau ambil arah kanan, nanti tambah jauh”.

Aku: “Oh Okay, Uda. Sini aja gapapa”.

Diturunkan Annanta Travel di Jalan Veteran, aku sejenak duduk meregangkan kekakuan otot setelah duduk di jok belakang selama 8 jam.  Patung putih Tuanku Imam Bonjol diatas kudanya menjadi pemandangan pertama yang menjamu kedatanganku di Bukittinggi. Pemimpin Perang Paderi itu menebar berkharisma, gagah tanpa suara.

Pertigaan Jalan Veteran, Jalan Pemuda (kiri) dan Jalan Ahmad Yani (kanan).

Setelah dua hari tersiram panas menyengat di Pekanbaru, kini aku menikmati sejuknya udara Bukittinggi. Kini aku leluasa berlama-lama mengarahkan kameraku kemanapun tanpa sengatan surya. Aku memang harus sesekali berhenti karena kontur jalanan kota yang naik turun, membuatku terengah-engah dengan beban backpack di punggung.

Memasuki Jalan Teuku Umar yang mulai menurun.

Dari kejauhan, aku terus bertatapan dengan gadis muda berambut pirang yang duduk menikmati sore di atas moge. Yang kuprediksi adalah dia tepat berada di depan De Kock Hotel tempatku menginap.

Benar adanya, tiba tepat dimana moge itu terparkir, aku dihadapkan pada lobby hotel yang berwujud sebuah cafe, perempuan muda itu menyusul dan bergegas menuju meja resepsionis. Sepertinya dia adalah staff hotel yang bertugas sore itu.

Aku akan tidur lantai dua dormitory sederhana itu.

Aku: “Hi. Were you in Samosir four days ago?, I think that we stayed at a similar hotel, Bagus Bay Homestay”.

Noah: “Oh really? Yes, I was in Samosir four days ago”.

Aku: “I’m Donny. I am an Indonesian traveler. What is your name?”.

Noah: “I’m Noah form California”.

Aku: “Are you on vacation, No? What do you do in America?”.

Noah: “Yes, I’m on vacation. I am an engineer at oil company. What is your job in Indonesia? “.

Aku: “Marketing”.

Noah: “What marketing?”.

Aku: “I work in field, meet customers, and sell products”.

Noah: “Oh, you aren’t marketing. You are a sales. How about your income? Good income? I work with good income but with high risk in America … hahahaha”.

Aku:” Yes, of course, I’m a salesman. I got a lot of money from my work”.

Itulah Noah, kenalan baruku di Bukittinggi. Kebetulan kita hanya berdua yang menghuni ruang dormitory dengan lima tempat tidur tunggal itu.

—-****—-

Aku duduk di lobby, sebotol Coca Cola berukuran sedang berhasil membekukan keringat setelah berjalan sejauh satu kilometer. Sore itu aku berniat menyambangi Jam Gadang yang hanya berjarak setengah kilometer di barat laut hotel.

Sekitar pukul 17:30, aku mulai beranjak dengan mejinjing kamera menuju kesana. Aku memilih berjalan kaki melewati Jalan Yos Sudarso yang cenderung datar dan menurun di Jalan Istana.

Bangunan tua Novotel.

Tepat di seberang Novotel adalah Plaza Bukittinggi. Aku hanya berdiri terdiam di pelataran plaza untuk menikmati keelokan Jam Gadang. Taman Sabai Nun Aluih yang berada di bawah menara jam itu tertutup lembarang seng proyek dengan rapat. Sedang ada renovasi taman rupanya.

Jam berusia 96 tahun yang didedikasikan untuk sekretaris Fort de Kock (Nama lama Bukittinggi).

Sesuai namanya “Gadang” yang dalam bahasa Minang berarti besar, menara jam ini berketinggian dua puluh enam meter dengan empat jam kembar berusia 128 tahun yang didatangkan langsung dari Rotterdam melalui Teluk Bayur.

Digerakkan mesin Brixlion yang kembarannya ada di Big Ben, London.

Di arsiteki oleh Radjo Mangkuto, Jam Gadang dibuat dengan 4 tingkatan. Tingkat bawah merupakan ruangan petugas, tingkat kedua berisi bandul pemberat jam. Mesin jam ditempatkan di tingkat ketiga dan tingkat paling atas sebagai puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan.

Bahagia rasanya, bisa melihat Jam Gadang yang sedari kecil, aku hanya mengenalnya lewat buku pelajaran Sekolah Dasar.

Travel Annanta dari Pekanbaru ke Bukittinggi

<—-Kisah Sebelumnya

Begadang dengan sahabat sejati.

Malam paripurna di Pekanbaru menjadi sesi nostalgia dalam aroma durian dan gurihnya seporsi Malon (Manuk Londo) yang tampak montok di atas piring. Inilah pertemuan yang sengaja kupersiapkan bersama seorang pengusaha durian yang entah berapa lama tak bersua, sebelum meninggalkan Pekanbaru esok hari.

—-****—-

Pagi menyambut bebarengan dengan kunyahan toast buatan Toko Roti Ganda yang masih saja tersisa sedari kedatanganku di Kota Madani, tawar tapi masih cukup lezat disantap.

Dering smartphone yang kunanti akhirnya tiba.

Ini Donny ya?”, tegurnya singkat.

Annanta ya, Bang?”, singkat pula sapa balasku.

Iya, Don. Hotelnya ancer-ancernya apa ya?”, tanyanya mulai mendetail.

Bereflek cepat, aku berlari menuju meja resepsionis dan menyerahkan smartphone ke staff yang bertugas. Entah bagaimana staff itu menjelaskan kepada sang sopir. Yang kufaham, mereka bercakap dalam bahasa Minang.

Sepuluh menit kemudian, Toyota Kijang hitam berlabel “ANNANTA” menghentikan raung mesinnya di pelataran Hotel Sri Indrayani. Berucap terimakasih kepada staff resepsionis, aku beranjak meninggalkan lobby dan memasuki mobil travel di jok belakang sebelah kanan.

Snack dan air mineral yang disediakan pihak travel.

Emang ngerti Bahasa Jawa, Uda?”, penasaran karena sang sopir memutar lagu Didi Kempot yang tersimpan di flashdisk birunya.

Ah, ga begitu ngerti, Don. Enak aja didengernya”, katanya terbahak.

Ha ha ha”, tawaku lepas.

Aku menjadi penumpang pertama yang dijemputnya. Kunikmati saja setiap injakan pedal gas memasuki gang-gang sempit dan jalanan di beberapa perumahan untuk menjemput lima penumpang lain. Pada jemputan kedua, akhirnya aku menemukan pasangan sebelah bangku yaitu seorang nenek murah senyum yang hanya bisa berdialek Minang. Sedangkan, penumpang terakhir adalah seorang pemuda gempal yang didudukkan di jok terdepan sebelah pengemudi.

Suasana dalam travel.

Perjalanan sejauh 222 km ini akan ditempuh dalam selang waktu 7 jam dan melewati tepian Sungai Kampar yang tersohor itu. Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang bak trek pacu jalanan ala Sirkuit Monaco. Tavel Annanta ini begitu lincah meliuk-liuk diantara truk-truk barang bermuatan berat nan lambat. Si nenek di sebelah hanya sesekali tersenyum menghadapku menikmati balapan tunggal itu.

Memasuki Kota Payakumbuh, aku terus terjaga. Tak mau kehilangan momen singkat melewati sebuah scenic spot. Tak lain adalah Kelok Sembilan. Begitu terpesonanya aku ketika melintas jembatan layang sepanjang 2,5 km dan setinggi 58 meter itu. Tinggi, gagah dan mempesona siapa saja yang melintasnya.

Terpesona ketika Marshall Sastra dan David John Schaap mengupasnya dalam program TV “My Trip My Adventure”.

Perjalanan darat seharga Rp. 160.000 ini melewati 4 Kabupaten ( Kampar, Rokan Hulu, Lima Puluh Kota dan Tanah Datar) dan 3 Kota (Pekanbaru, Payakumbuh dan Bukittinggi) serta menyisakan keindahan alam yang menggoda mata.

Perjalanan yang hanya menyediakan sekali lunch break.  Toast tadi pagi sudah tak mampu lagi menahan rasa lapar, bahkan angin telah mengakuisisi lambung. Siang itu rendang hitam khas Minang menjadi teman santapku. Baru kali ini merasakan rendang di tanah asalnya.

Travel Annanta Si Kencang dari Sumatera.
Rumah Makan Uwan Labuak Bangku di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Hujan mulai turun ketika perjalanan memasuki Kota Bukittinggi melalui tepiah Kabupaten Tanah Datar. Aku mulai bersiap untuk turun, karena Travel Annanta bertujuan akhir di Padang. Aku diturunkan di Jalan Veteran, tepat di sebuah pertigaan dengan Monumen Tuanku Imam Bonjol yang berada di tengahnya.

Tiba di Bukittinggi.

Menjelang gelap, aku haru menuju ke Hotel De Kock.