• <—-Kisah Sebelumnya

    Jalur penerbangan Air Busan BX 123 (sumber: https://flightaware.com/).

    Air Busan adalah maskapai ke-16 dari 28 maskapai berbeda yang pernah kucicipi. Low Cost Carrier (LCC) dari Negeri Ginseng ini memiliki main hub di Gimhae International Airport. Bukan niatan mengunjungi Busan, tetapi karena harga tiket murah yang ditawarkan Air Busan lah yang membuatku memutuskan untuk singgah di Busan sebelum mencapai tujuan utama, yaitu Seoul, ibu kota Korea Selatan.

    Aku sendiri mendapatkan tiket murah ini tujuh bulan sebelum keberangkatan dengan harga tak sampai Rp. 800.000.

    Inilah kisahku menunggang maskapai dengan tiga warna branding, putih-biru-kuning…

    —-****—-

     “Sorry, Sir….We don’t receive coin”, petugas KIX Currency Exchange berseru dengan senyum.

    Oh, Okay…It’s no problem”, aku menarik kembali uang koin sembari menunggu hasil penukaran uang kertas.

    Dia dengan gesit memencet beberapa tombol kalkulator kemudian menunjukkan angka di LCDnya kepadaku.

    Yes, Sir….”, aku mengiyakan cepat.

    Sukses menukar Yen dengan USD, kini misiku adalah menghabiskan uang koin untuk membeli bekal apapun yang bisa kujadikan sebagai makan siang, kalau perlu hingga makan malam….Parah kan?, bagaimana caraku berhemat.

    Aku berhasil menemukan FamilyMart di sebuah selasar, memasukinya, berburu onigiri dan permen, menyudahinya dengan uang koin di kasir lalu membenamkannya dalam-dalam di backpack. Aku tak pernah meremehkan permen, dua butir permen bisa memenuhi 10% kalori seporsi makan orang dewasa, itu berarti bisa menahan lapar perut beberapa saat hingga menemukan warung makan yang murah. Kali ini aku tak berbasa-basi dengan berkeliling bandara, waktuku sempit, kuputuskan segera menuju konter check-in untuk bertukar e-ticket dengan boarding pass. Standar utama maskapai terhadap penumpang yang akan melintas negara berbeda adalah mengecek visa serta return ticket dari negara yang dituju. Tapi tak perlu khawatir, visaku sudah menempel sempurna di passport dan e-ticket Air Asia untuk pulang dari Korea Selatan juga telah kupesan.

    Can you speak English, Sir”, petugas wanita konter check-in bertanya ringan.

    Yes, sure Ms. I can

    Do you want to sit in emergency exit row?”, dia meminta.

    Oh, yes, with pleasure”, aku menjawabnya dengan gembira, kapan lagi bayar murah tapi dapat deretan kursi yang lebih lega.

    Ok, thank you Sir

    “You are welcome”.

    Boarding pass dengan cepat kudapat. Menuju konter imigrasi, aku menyerahkan passport begitu tiba. Tahapan keluar dari sebuah negara adalah hal yang paling kusuka, karena cepat dan tanpa interogasi. Tentu petugas imigrasi akan senang dan terbantu jika tamu negaranya berdisiplin untuk keluar negaranya tepat waktu. Setelah mendapatkan stempel departure di passport, aku segera menuju gate untuk menunggu Air Busan yang sebentar lagi akan datang bahkan mungkin telah bersiap. Tiba tepat waktu, benar adanya, pesawat Airbus itu telah berdiri gagah di apron bersiap memasukkan segenap muatan.

    Baording passku.
    Nah, dikasih kupun 10.000 Won buat berjudi….”Judiii….Teeeeet….Menjanjikan Kemenangan”.

    Menjelang pukul setengah sebelas, panggilan boarding memenuhi langit-langit bandara, Jalur antrian mulai dibuka dan beberapa ground staff mulai berbaris di gate untuk melakukan final checking kepada setiap penumpang. Aku melewatinya dengan mantap, menunjukkan boarding pass dan passport, kemudian diizinkan menuju ke pesawat. Aku merangsek melalui aerobridge lalu disambut dua pramugari berwajah khas Negeri Ginseng.

    Annyeonghasimnika”, salah satu dari mereka bersalam senyum dengan sedikit membungkuk, meminta boarding pass, mengecek sebentar lalu mempersilahkanku mencari tempat duduk.

    Gamsahamnida”, ahhh, hanya sedikit kosakata Korea yang kufaham. Aku mulai mencari bangku.

    Aku duduk di aisle seat pada emergency exit row. Tak lama setelah tiga kolom bangku terisi, seorang pramugari datang menyapa. Pramugari itu menjelaskan dalam Bahsa Korea tentang peraturan di emergency exit row, maklum dua penumpang di sebelahku asli berkebangsaan Korea. Usai menjelaskan ke mereka berdua, kemudian pramugari itu kembali menjelaskan, kali ini dalam Bahasa Inggris, jelas itu untukku. Saat menjelaskan itu, kita berdua saling bersitatap. Sebab kejahilan hatiku saja, aku tak pernah mendengarkan peraturan yang diucapkannya, justru aku lebih fokus menikmati keayuan khas wajah Koreanya yang putih bersih. Aku faham, dia merasa kuperhatikan sehingga dia sesekali menjelaskan peraturan itu dengan senyum, dia semakin keki ketika aku membalasnya dengan seyuman dengan tetap bersitatap muka….Parah habis ya guwe.

    I’m in the cabin.
    Nah ntuh pintu daruratnya.

    Setengah jam menyelesaikan boarding process, akhirnya juluran aerobridge mulai ditarik dari pintu pesawat, pramugari mulai menutup pintu rapat-rapat, penumpang mulai mengenakan sabuk pengaman, pesawat mulai meninggalkan apron sembari memamerkan demo keselamatan penerbangan oleh beberapa awak kabin. Demo itu usai ketika pesawat sudah di runaway dan bersiap take-off meninggalkan Kansai International Airport.

    Flight attendants, please prepare for take off”, begitu kata terakhir dari kapten penerbangan yang memecah sunyi ruangan di kabin.

    Pesawat itupun melakukan brake release, mesin berotasi dengan tenaga penuh, dan akhirnya airborne berlangsung dengan mulus, pesawat melaju dengan cepat meninggalkan Osaka. Aku cukup terkesima dengan pesawat ini karena inilah pertama kalinya bisa melihat keberadaan pesawat di atas peta bumi dalam sebidang LCD….Guwe kampungan emang.

    Ketika tiba waktunya menyajikan in-flight meal, aku lebih memilih memasukkan makanan dan minuman kemasan itu ke dalam folding bag. “Buat makan siang saja lah”, gumamku dalam hati. Aku lebih memilih membaca dengan seksama inflight magazine untuk mencari informasi yang mungkin aja berguna untuk petualanganku di Korea Selatan.

    Nih dia….Pengganti menu makan siang.

    Tak terasa aku telah terbang selama 1 jam 30 menit dan pilot memberikan pengumunan kepada penumpang bahwa pesawat bersiap mendarat di Gimhae International Airport serta menginformasikan kondisi cuaca di Busan yang cerah. Tak berselang lama setelah pengumuman selesai, awak kabin segera memeriksa setiap sisi kabin dan penumpang untuk memastikan pendaratan berlangsung aman. Akhirnya pesawat mendarat mulus di landas pacu. Betapa bahagianya aku ketika untuk pertama kalinya tiba di Korea Selatan

    Hmmhh….Aku sudah tak sabar mengeksplorasi Busan. Aku masih saja tak mampu membendung semburat senyum di wajah.

    Aku masih saja tak menduga bahwa di dalam bangunan terminal bandara nanti, akan ada insiden serius yang menimpaku.

    Alhamdulillah….

    Selamat Datang Busan….Selamat Datang Korea Selatan.

    Alternatif untuk tiket pesawat dari Osaka ke Busan bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Gagal check-in lebih cepat, kuputuskan tiga hingga empat jam ke depan untuk menjelajah area Senapelan, area dimana Kesultanan Siak Sri Indrapura pernah menggapai masa keemasannya. Aku mencoba menapak tilas sejarah kesultanan dengan melawat ke beberapa peninggalannya yang abadi hingga kini.

    Atas alasan itu, berangkatlah aku menuju Sungai Siak yang kesohorannya melegenda di Nusantara. Betapa tidak, Sungai Siak pernah menjadi sungai terdalam di Indonesia.

    Kawasan Pecinan di Jalan Dr. Leimena masih sepi pagi itu, hanya satu dua mobil melintas. Aku berbelok ke kiri ketika mulai memotong Jalan Ir. H. Juanda dan menemukan area hijau yang tampak mengakuisisi junction area yang dibatasi Jalan Riau dan Jalan Ahmad Yani. Tak jauh, kuperkirakan sekitar setengah kilometer di utara hotel.

    Ke kanan: Jl. Ir. H. Juanda, lurus: Jalan Jend. Ahmad Yani dan ke kiri: Jl. Riau.

    Taman seluas dua kali lapangan bola ini layaknya taman kota di Jakarta. Memamerkan nameboard dan menyediakan trotoar luas sebagai pembatas antara jalan dan area taman.

    Ini dia nama tamannya.

    Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas merupakan spot playground terkenal di Pekanbaru dan menjadi taman terfavorit bagi warga yang tinggal di area Senapelan.

    Tak pelak, di panasnya siang pun, masih ada beberapa keluarga kecil yang membawa anaknya ke taman dan beraktivitas di area bermain pasir yang dilengkapi dengan ayunan (swing seat), tangga naik turun (kids up down stairs) dan prosotan (kids slide) berketinggian rendah.

    Sementara beberapa petugas kebersihan taman berkaos panjang warna hijau muda tampak sibuk mencabuti rumput liar, menyiram tanaman dan menyapu setiap sudut taman. Taman memang luas, tetapi kebersihannya tak bisa diragukan.

    Menempati bekas kantor Dinas Pekerjaan Umum, dana sebesar delapan milyar rupiah yang telah diinvestasikan dalam pembuatan taman ini tercermin dari lapangnya area dan lengkapnya fasilitas yang disediakan taman.

    Di empat pojok taman disediakan kanopi beton dengan atap berbentuk jamur dan sebuah kanopi tepat di tengah taman dengan atap khas Melayu berornamen selembayung.

    Di sisi kiri, tampak ruang terbuka melingkar yang ditata layaknya area teater lengkap dengan podium tiga tingkat. Beberapa anak muda tampak terduduk di sebuah kanopi memegang papan skateboardnya masing-masing. Sementara pemilik rental mobil-mobilan berdaya baterai tampak mulai menata mainan sewaannya di area yang lebih rindang.

    Jogging track membelah taman.
    Area terbuka multifungsi.

    Tunjuk Ajar” yang bermakna “Memberikan Teladan” dan “Integritas” yang mewakili sebuah “Sikap Kepemimpinan”, cukup menjelaskan bahwa taman ini adalah wahana untuk mencontohkan integritas dalam kepemimpinan masyarakat. Makna ini dipertegas dengan keberadaan sebuah tugu di salah satu ujung taman.

    Tugu Integritas.

    Dibangun dan dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Riau, taman ini didedikasikan untuk program perlawanan korupsi di Pemerintahan Daerah.

    Tugu Integritas menampilkan Bono Sungai Kampar dan Bono Sungai Rokan serta keris Melayu.  Bono merujuk pada ombak yang terbentuk di muara Sungai Kampar dan Sungai Rokan sebagai akibat pertemuan air tawar yang menuju ke laut dan air laut yang menuju ke darat. Sedangkan keris Melayu mendiskripsikan proses penancapan integritas di seluruh lapisan masyarakat.

    Tak rugi juga, mampir di sebuah taman yang tak sengaja kutemukan sebelum mencapai tepian Sungai Siak.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Two slices of Serabi Notosuman were enough for me to enjoy this Solo’s typical culinary. After picking up a dozen others at cashier counter as souvenirs, I immediately left the shop for another souvenir shop, i.e Abon Mesran Mistopawiro Shop.

    An online taxi drove me to that souvenir shop in five minutes. Now I was in Jayengan area to review shop feasibility for Marketing Conference participants to stop by.

    As soon as the online taxi stopped at shop parking area, I immediately entered shop and glanced around to observing merchandise completeness on display. Then I concluded that the shop was worth visiting as a place to hunt for souvenirs. It didn’t take long to visit it, just ten minutes. This was because Rahadian, my friend in doing a survey, would back to Bandung soon.

    Abon Mesran Mistopawiro Shop.

    After visiting Abon Mesran Mistopawiro Shop, Rahadian said goodbye and headed straight to Balapan Station. Meanwhile, I prefered to head to hotel to spendind remaining two hours of my staying time. Rahadian already took an online motorcycle taxi and left, so I ordered an online taxi to Amaris Hotel Sriwedari.

    After arriving at hotel room, I spent two hours for compiling a survey report which I started from the day before yesterday and ended this morning. The report was targeted to reach Marketing Conference’s Event Division today as material for decision making regarding which destinations to visiting. I was so serious about preparing a report, but the phone rang. “It must be a receptionist call as a reminder that the staying time is over,” I inwardly groaned. But whatever it was, I had to leave immediately before being charged an additional cost.

    But where was I going? Remembering that my return flight to Jakarta was still in afternoon. I had to think to make use of my remaining time. My hand moved quickly to touch my smartphone screen and started for surfing to find something.

    Yes, I know where to go“, my heart cheerfully cried out .

    I left the room, walked down the floor in the lift and handed the key to reception desk. I ordered a taxi online and drove to where I intended. The taxi quickly moved out of Solo City’s gate, seven kilometers away. And in 20 minutes I arrived.

    Yes …. Javenir“, my heart said.

    Javenir courtyard.

    Javenir, a well-known souvenir center on western edge of the city which was a favorite for travelers in looking for souvenirs, even some tourist buses which were full of local tourists seemed to go back and forth in this place. I entered selling room and toured every corner. There wasn’t doubt about souvenir completeness in this store, from batik clothes, handicrafts and snacks. I decided to add this place as a list of preferred destinations for Marketing Conference later. I left the shop with a pack of coffee beans and rushed to its back building which was functioned as a restaurant. I decided to have lunch with a group of local tourists there.

    Parking area.
    Restaurant.
    Restaurant inside.
    The menu.

    This lunch was the closing of my survey adventure in Solo, this free journey has reached the end of the story. Because after lunch, I had to immediately go to Adi Soemarmo International Airport to return to Jakarta.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Lelapan hari pertama tahun baru, masih membalut erat kedua mata. Membalas dendam kebekuan badan tadi malam saat perayaan malam pergantian tahun di Dōtonbori Canal dengan kehangatan selimut Hotel Kaga menjadi sesuatu yang kuanggap impas. Namun akhirnya, hanya satu hal yang mampu memaksa mata untuk tak lagi terpejam, yaitu penerbangan Air Busan BX 123 tepat pukul 11:00, karena seperti biasa, untuk penerbangan internasional, empat jam sebelum waktu terbang aku akan memulai perjalanan menuju bandara.

    Hampir pukul tujuh, aku melompat bangun, menyambar handuk putih milik hotel, bathroom amenities dan segera beranjak keluar kamar menuju shared bathroom di ujung lorong. Kamar mandi Hotel Kaga cukuplah luas untuk ukuran backpacker. Berwujud ruang dua sekat, yaitu sekat dengan kaca dan wastafel serta kapsul mandi dengan shower air hangat. Berlama-lama di bawah shower air hangat adalah kebiasaan burukku, karena air hangat sangat efektif mengusir keletihan otot kaki yang merupakan aset utamaku dalam setiap perjalanan….Yups, apalagi kalau bukan untuk berjalan berpuluh-puluh kilometer sepanjang petualangan.

    Usai mandi, aku dengan cueknya melintasi koridor hotel hanya dengan berbalut handuk dan sandal jepit. Menjadikan beberapa tamu hotel yang lewat melihat heran. “Ah, ketemu cuma sekali ini….Biarin saja”, batinku mulai iseng.

    Di dalam kamar aku segera berbenah, memakai t-shirt berangkap long john hitam, celana panjang katun penyimpan suhu tubuh, sepasang sepatu boots dan mulai mengepak semua barang ke dalam backpack Eiger 45L berwarna biru yang kupinjam dari teman sekantor (parah, backpack aja pinjem).

    Aku turun ke lobby menggunakan lift dan segera menyerahkan kunci kamar di meja resepsinonis.

    Thank you for staying at our hotel. Have a nice trip, Sir”, resepsionis yang masih sama, bertugas dari semalam, melempar senyum sembari menyerahkan uang deposit padaku.

    You’re welcome. Very happy to stay at Hotel Kaga …. A good hotel“, Aku menjawab sekenanya. “See you, Sir“”.

    See you”, dia melambaikan tangan dan masih tersenyum.

    Aku kembali turun ke jalanan menuju Stasiun Shin-imamiya, stasiun yang menjadi tempat hinggap pertama kali ketika aku memasuki pusat kota Osaka. Hanya stasiun itulah yang terdekat dari hotel dan dilewati kereta Nankai-Kuko Line menuju Kansai International Airport (KIX).

    Gang-gang selebar lima meter mulai bergeliat, menyisakan sisa peryaan tahun baru semalam. Aku menyusur beberapa gang dengan cepat tanpa menikmati suasana, toh aku sudah beberapa kali melewatnya. Mengambil tembusan ke Abiko-suji Avenue, aku tiba di Stasiun Shin-imamiya dalam lima menit semenjak meninggalkan hotel.

    Memasuki gerbang stasiun, mataku langsung menyisir keberadaan ticketing vending machine. Aku mendapatkannya dengan mudah. Tiket senilai 1.060 Yen (Rp. 145.000) akhirnya berada dalam genggaman dan aku segera merapat ke plafform JR Kansai Airport Rapid Service.

    Tiket JR Kansai Airport Rapid Service.

    Kereta layanan bandara itu tiba tepat waktu, aku memasuki salah satu gerbongnya dan tak lama setela terduduk, kereta itu melaju. Aku kembali menikmati ulang perjalanan seperti saat pertama menumpang kereta yang sama setiba di Osaka. Pemandangan pertama yang tersaji adalah suasana daerah urban padat bangunan di Distrik Kota Nishinari, Sumiyoshi dan Suminoe. Setalah melintas Yamoto River suasana berganti menjadi daerah lahan pertanian di daerah Kishiwada dan Izumisano. Kemudian kereta melintas lautan di Osaka Bay setelah sedikit mendaki jalur layang di Rinku Town. Setelah melintas jembatan laut sepanjang lima kilometer maka kereta tiba di Kansai-Airport Station.

    Daerah urban di Osaka.

    Begitu kereta merapat di platform, aku segera melompat keluar gerbong menuju departure hall Kansai International Airport, si pemenang Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

    Satu tujuan pertama setiba di bandara….Yes, money changer.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Invoice of Nepal’s Visa on Arrival.

    Thai Airways TG 319 was perfectly parked in Tribhuvan International Airport’s apron at exactly 14:08 hours. There wasn’t aerobridge which greet me, one by one passengers descended the stairs on either side of plane door.

    Aviation security: “Hi, Sir….Please, directly stepping to airport building!“, While stepping closer while hold a handy talky and his hand clearly pointing at my face….Assertive with a dark skin and thick mustache.

    Tribhuvan-Thamel pre-paid taxi invoice.

    Me: “OK, Sir….I’m sorry“, without thinking, I put a black Motorola E4 into right pocket of Emba’s brown pants whixh I was wearing.

    In the end, I failed to capture my face image along with Thai Airways TG 319 in one frame because of it. Then I began to enter in passengers queuing who entered into terminal building.

    Wow….music in the taxi was cool.

    My hands tightly gripped my backpack’s shoulder harnesses and my face saw from side to side, paying close attention to Tribhuvan’s interior, which momentarily felt like I was passing through a temple room. Red-brown brick patterned walls with several carved decorations were scattered in every corner of room. Then I was greeted by a line of Visa on Arrival application machines on left side. Without any command, I understood and immediately took a queue at machine in the middle.

    In the queue, I was intrigued by behavior of a son who was inputting visa data for his mother who not tall. He ordered his mother to step closer.

    Ring road situation towards Thamel.

    Snap 01….Just her forehead which was captured….Failed.

    Then he told his mother to tiptoe.

    Snap 02….The photo was 100% her face….Failed again.

    A second later, his mother while looking at me with full of smiles, stood on top of small cardboard which she was still carrying a while ago.

    Snap 03….Yeaaaa….It worked.

    Similar to India’s streets, yes?

    I immediately went to payment counter after successfully printed out the VoA application form. No needed to queue long, I got my visa after handing over USD 25 to female staff who wearing blue saris and on middle-aged age. “Oh, Indonesia. Welcome to Nepal and enjoy your trip. ”, She said when ending our immigration transaction.

    Now I was getting closer to arrival hall exit gate. Before I actually went out, I took very slow steps to read whole information in a hallway. Instantly I quickly stopped at information board which displayed transportation rate to several areas in Kathmandu. Finally, I was relieved to find the word “Thamel” which became my next destination. It was only cost 700 Rupee (USD 6) to got in a dull red minivan which could accommodate 4 passengers and its last row seats were removed and changed as luggage.

    The dust was incredible.

    Ticket seller: “Where will you go, Sir?” Asked to me while holding a wad of red transaction notes.

    Me: “Thamel, Sir“.

    Ticket seller: “Do you want private booking or shared booking?“.

    Me: “Is there someone who is ready to join with me?“.

    Ticket seller: “Come!… .Come!”, he asked me to follow him and out through airport door.

    Competition in tourism services in Thamel area.

    After a while, I finally entered an old car which looked like a Suzuki “Carry” (Carry is a brand from Suzuki manufacturing in Indonesia) from the 80s. The car slowly drove leaving Tribhuvan and down a dusty road. Yes, only dust which I remembered in the first time when I had to tell about this “Land of a Thousand Temples”.

    At an intersection, the car stopped and was entered a man who dressed in dapper Bollywood style and accented with extraordinary English. Offers all kinds of tour packages, from hiking, rafting, trekking and canoeing. It was common knowledge that Nepalis were competing to earn money from their tourism excellence which was famous for the beauty of Himalaya. I told him that I had bought all tour packages which I was going to take while stayed in his country from Jakarta via online. Even though, in fact I never had any tour packages which I prepared. I prefered to follow my heart and foot in my Kathmadu and Pokhara exploration.

    Hotel Holiday House for 1,100 Rupee (USD 9.4) per night.

    Passing the Ring Road route, I continued to be stunned by road view which at a glance resembled to old Indonesia. Thamel, which was only 6 km away from Tribhuvan, was finally reached in 25 minutes.

    Now I entered a famous tourist area in Kathmandu. Dropped down in an alley and taxi driver showed me which way to head towards hotel which I had booked.

    Welcome to Thamel !

    Next Story—->

  • <—-Previous Story

    Enjoying local culinary delights is always an interesting thing for travelers. This type of culinary is a special attraction because it reflects culinary treasures of region in question. This time I would taste one more typical Solo culinary after I’ve tasted five of them.

    That morning, I decided to leave Alun-Alun Kidul (South Square of Surakarta Hadiningrat Palace) early because the sun had shone on that open area. After taking shelter for a while under Waringin Kurung Sakembaran*1, I immediately ordered an online taxi service to Jayengan area.

    Shortly after executing the order, a black Toyota Avanza came to pick me up. Taxi driver was very easy to recognize me after I had given my characteristics in detail starting from the color of my clothes, bag and shoes which I was wearing. I opened the front left door and buried myself in the seat.

    Serabi*2 Notosuman, Sir!”, I confirmed the destination.

    “Ok, Sir”.

    The online taxi drove to east, tracing morning streets of Solo City. It was a national holiday, Islamic New Year, and streets were deserted. I arrived in ten minutes and entered parking area. The first glance was a large green nameboard with words “Serabi Notosuman”, this was the famous Solo City snack. I should try it or at least bought it as a souvenir.

    Parking area.
    Production area.

    In a corner, six production employees were busy working on making serabi. Those employees deftly handled more than a hundred mini serabi pans, carried large basin of dough from the kitchen, greased each pan with oil using a round brush, poured the dough with a distinctive hand shake to form a thin layer over the puddle of dough, then covering the pan for three minutes to produce a cooked serabi. Hot serabi were started to be lifted one by one using a small taper and then were cooled on top of tampah*3, then were wrapped in banana leaves to be ready to sell to buyers. Indeed, the serabi which sold in this outlet were fresh serabi because they were directly taken from the stove.

    I entered the inner room, it turned out that this outlet didn’t only provide serabi. But it also provided some other traditional culinaries such as intip, jenang, lanting, jipang*4 and others.

    Selling room.

    Serabi Notosuman itself was almost a century old, had a distinctive and savory taste of coconut milk. That morning, I chose to order two kinds of serabi, plain serabi and chocolate ones at a price of IDR. 2,000 per piece to bring as a souvenir.

    Located on Mohammad Yamin Street, this outlet operated from 06:00 to 17:00. This culinary based on rice flour and coconut milk had two outlets with different owners, namely Serabi Notosuman Ny. Handayani, which was characterized by its orange color packaging and Serabi Notosuman Ny. Lidia with green color packaging.

    So, take your time to stop by at Serabi Notosuman when traveling to Solo.

    Note:

    Waringin Kurung Sakembaran*1: The twin banyan tree is full of magic in the middle of royal’ south square

    Serabi*2, one of the most common snacks in the market when visiting Java

    tampah*3 is tray which is made from woven bamboo

    intip, jenang, lanting, jipang*4 are typical Javanese snacks

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

    Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

    Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

    Geblek….Sandal….

    Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

    Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

    Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

    Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

    Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

    Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

    Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

    Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

    Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

    Can I see the room?”.

    Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

    Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

    Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

    Hi…”, aku membalas senyumnya.

    Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

    Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

    Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

    Kamar single milik Agosto Inn.

    Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

    Saatnya berburu destinasi.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga.

    Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan.

    See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum.

    Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol derajat Celcius. Muka terasa beku demi mengikuti ayunan langkah menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Untuk ketiga kalinya aku melewati Saka-suji Avenue.

    Malam ini akan banyak orang mabuk di jalanan”, batinku mengingatkan logika untuk terus berhati-hati walaupun Jepang tergolong negara yang aman.

    Enjoy Eco Cardku masih ampuh hingga malam itu untuk menelusuri lorong-lorong bawah tanah Kota Osaka. Kini aku sudah melaju bersama gerbong Osaka Metro Midosuji Line menuju Stasiun Namba. Aku sengaja menaruh Dōtonbori Canal sebagai destinasi terakhirku di Kota Osaka dan aku dengan cerdik menempatkannya di saat perayaan malam tahun baru.

    Pasti disana bakal meriah”, batinku girang.

    Gerbong kereta yang kunaiki tampak penuh. Sebagian diantaranya bukanlah wajah-wajah Jepang. Pasti mereka adalah para pelancong yang berniat sama denganku, menikmati malam pergantian tahun. Perjalananku menuju Stasiun Namba berlangsung sangat cepat karena dari Stasiun Dobutsuen-mae tak berselang satu stasiun pun menujunya. Aku tiba dalam sepuluh menit.

    Keluar dari gerbang Stasiun Namba, aku berjalan kaki menelusuri Mido-suji Avenue. Terus mengarah ke utara. Perkiraanku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapai Dōtonbori Canal. Tetapi sudah dua puluh menit aku tak kunjung sampai.

    Wah….Pasti aku nyasar”, mukaku mulai kecut.

    Aku memberanikan diri bertanya kepada seorang polisi lalu lintas yang tampak sedang berjaga di salah satu sisi trotoar.

    Sir, do you know where is this place?”, aku membuka gawai dan menunjukkan sebuah papan neon Glico bergambar lelaki berlari yang terkenal itu.

    Dia tersenyum ramah dan mengangguk-angguk sambil berseloroh bersemangat “Oh…Thele….Thele”.

    Thank you very much, Sir”, aku melambaikan tangan sembari melangkah meninggalkannya.

    You ale welcome”, polisi itu kembali memperhatikan sekitar.

    Sepuluh menit menelusuri balik jalur yang telah kutempuh tadi, aku melihat beberapa rombongan turis Eropa menuju ke salah satu arah. Aku yakin itulah tempat yang kutuju. Aku mengekor rombongan turis itu. Benar adanya, mereka juga menuju Dōtonbori Canal.

    Aku di Dōtonbori Canal.
    Papan neon Glico bergambar lelaki berlari.
    Tengara terkenal di Osaka.

    Dōtonbori Canal pukul sepuluh malam telah meriah. Badan kanal dipenuhi para turis, sementara restoran dan bar tampak penuh. Turis berduit tentu lebih memilih menunggu malam pergantian tahun dari restoran dan bar yang menawarkan udara hangat. Tetapi aku memutuskan menunggunya di tepian kanal, berkeliling kesana kemari, berusaha menikmati suasana walaupun terdistraksi dengan udara beku Osaka.

    Satu jam berlalu ketika aku menyusuri setiap sisi di tepian kanal, kemudian aku berdiri mengambil tempat di bawah jembatan, bermaksud menemukan udara hangat . Tapi percuma, udara sudah turun di bawah nol derajat Celcius. Ketika aku tak sanggup menghadapi udara beku itu, aku bergegas menuju ke kedai penjual Takoyaki. Aku sengaja mengantri , menunggu pesanan, dan memakannya berlama-lama di depan kedai itu untuk mendapatkan paparan hawa hangat yang tersembur dari tungku kedai.

    Nempel-nempel kompor mencari kehangatan.

    Hampir setengah jam aku memanfaatkan situasi itu untuk memanipulasi suhu dingin. Hingga akhirnya aku mengusir diri karena antrian pembeli mulai ramai. Aku kembali ke kanal setengah jam sebelum hitung mundur tahun baru.

    Ketika berjibaku kembali melawan dingin pada sebuah sisi kanal, aku mendengar sayup bahasa dan logat yang sangat kukenal.

    Ngenteni kene wae cah, ra sah adoh adoh”, seloroh itu samar terdengar.

    Aku menoleh ke belakang, empat pria dan dua diantaranya berambut gondrong sedang duduk di sisi kanal, memegang sebotol besar minuman beralkohol. Itu memang cara efektif melawan dingin. Aku jadi teringat dengan minuman beralkohol yang kumiliki karena salah beli di Narita International Airpot sehari lalu. Tapi aku belum menyerah, aku tak akan menenggaknya.

    Aku terus menahan dingin yang semakin menjadi. Kedua tanganku mulai kebas. Tapi aku berusaha tetap tenang. Hingga akhirnya lima menit sebelum countdown tiba. Para turis mulai tumpah ruah ke sepanjang sisi kanal, restoran dan bar ditinggalkan. Semua berharap akan ada pertunjukan kembang api yang elegan. Hingga saatnya tiba, hitungan itu benar-benar dimulai.

    Tennnn….Nineeee….Eightttt….”, hitungan semakin kencang

    Threeee…..Twoooo….Oneeee…..Happyyyy Newwww Yeearrrr”, tapi semua sontak terdiam dalam tiga detik.

    Suasana Dotonbori Canal tetap lengang, tak ada yang istimewa. Hingga lima belas menit kemudian tetap sama, lengang.

    Ah, gagal total”, aku mulai kesal.

    Turis lain pun mulai mengeluh.  Tak akan ada pertunjukan kembang api. Hingga akhirnya sepuluh pemuda Jepang berinisiatif mengakuisisi suasana dengan menaiki pagar jembatan. Mereka melepas pakaian dan menyisakan celana dalam dalam kondisi suhu yang sangat dingin.  Kemudian salah satu mereka mulai berteriak.

    Threeee….Twoooo….Oneeee”, sambil melompat meliuk bak atlet lompat indah dengan kepala menghujam ke air terlebih dahulu.

    Byurrrr….

    Kemudian tingkah yang sama mulai dilakukan oleh temannya yang sudah bersiap dan berdiri di atas pagar jembatan. Berhitung dalam tiga hitungan mundur, meluncurlah dia ke dalam air. Dan pertunjukan itu terhenti hingga orang ke sepuluh. Setidaknya apa yang mereka lakukan bisa mengobati rasa kecewa seluruh pengunjung Dōtonbori Canal.

    Pertunjukan loncat indah telah usai.

    Menjelang pukul satu dini hari. Udara yang awalnya terasa lebih hangat karena kerumunan ratusan pengunjung akhirnya lindap. Suhu mendingin kembali dengan cepat karena para pengunjung mulai meninggalkan Dōtonbori Canal. Aku mulai pergi dari tempat itu menuju Stasiun Namba.

    Beberapa menit kemudian, Osaka Metro mengantarkanku kembali ke Stasiun Dobutsuen-mae. Beruntung sekali Enjoy Eco Cardku (One Day Pass) masih berlaku walau sudah melewati batas masa pakai yaitu pukul 00:00. Mungkin ini menjadi bonus dari Osaka Metro untuk perayaan tahun baru.

    Sampai Stasiun Dobutsuen-mae, lalu aku meninggalkannya dengan langkah cepat. Saka-suji Avenue sudah lengang, bahkan perjalananku diwarnai dengan insiden pengemudi mabuk yang menghentikan mobilnya di tengah jalanan hingga beberapa orang berusaha mendorongnya ke tepian. Di sebuah persimpangan aku berbelok bersamaan dengan selorohan “Helloooo….Happyyyy Newwww Yearrrr, Sirrrr”, orang itu mengendarai sepeda dengan tangan kanan menggenggam sebotol minuman beralkohol.

    Happy New Year, Sir”, aku membalasnya untuk menunjukkan keramahan.

    Hingga akhirnya langkahku tiba di Hotel Kaga. Aku merasa lega karena aku pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Resepsionis itu masih saja setia dengan tugasnya, menunggui mejanya dengan disiplin.

    Are you happy, Sir?….Good luck for you in the new year”, dia tersenyum menyambutku.

    Sure, Sir…I hope so for you”, aku membalasnya. “It’s time to sleep”.

    Yeaa….Heve a good sleep, Sir

    Aku meninggalkannya menuju ke lift, lift itu mengantarkanku hingga ke lantai tiga. Aku gontai melangkah menuju kamar. Memasuki kamar, melepas sepatu boots, menarik kasur lipat, dan tanpa mandi, aku langsung menghempaskan badan dan dengan cepat aku terlelap.

    Sementara botol minuman beralkohol yang telah tertenggak satu teguk secara tak sengaja dua hari lalu itu berdiri anggun di meja kecil kamar. Yess, aku tak menyentuhnya saat malam tahun baru. Artinya, petualangan botol minuman beralkohol itu tamat dini hari itu. Karena menjelang siang nanti aku akan pergi meninggalkan Osaka dan menuju Busan.

    Korea Selatan, Aku datang!

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku masih saja tak bergeming dengan tawaran para sopir taksi, sementara para penumpang Bus INTRA yang lain lebih memilih menggunakan jasa taksi menuju tujuan akhirnya di Pekanbaru.

    Beberapa waktu kemudian, dari seberang jalan, pengemudi ojek online melambaikan tangan kepadaku. Tentu dia tahu, aku memakai jaket biru dengan backpack berwarna sama. Aku telah mengirimkan deskripsi itu kepadanya lewat pesan dalam aplikasi.

    Asli sini, Bang?”, tanyaku di jok belakang,

    Bukan, aku asal Padang, Bang. Mas asli Jawa ya? Suaranya medok banget”, jawabnya balik bertanya

    Aku mbiyen kuliah ning Jogja, mas. Sampeyan Jowone ngendi?”, belum juga kujawab, sudah bertanya lagi.

    Aku asli Solo, Bang. Orang sini baik-baik kan, Bang?”, aku mulai penasaran.

    Warga Pekanbaru kebanyakan perantau Padang, Bang. Tenang, abang kemana aja aman”, ucapnya menenangkan.

    Dari artikel yang kubaca setelahnya, memang benar 40% warga kota Pekanbaru adalah para perantau asli Minang. Memang hebat orang Minang ini dalam urusan merantau.

    Belum juga pukul 10 pagi, aku tiba.

    Hotel bintang tiga yang kupesan melalui Airy Rooms tepat sembilan hari sebelum kedatanganku di Pekanbaru ini hanya berharga Rp. 81.000 per malamnya. Murah, kan?

    Aku sengaja memilih tinggal di daerah Senapelan hanya untuk menapak tilas kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Melihat aktivitas perekonomian warga kota, mengingat nama Pekanbaru berasal dari kata Pekan Baharu yaitu sebuah pasar yang dirintis oleh Raja Muda Tengku Muhammad Ali, Sultan Siak ke-5. Boleh dikatakan bahwa daerah Senapelan adalah cikal bakal terbentuknya Kota Pekanbaru yang terlahir sebagai dampak positif berkembangnya ekonomi Kesultanan.

    Halaman depan hotel yang berada di tepian Jalan Sam Ratulangi.

    Merasa datang terlalu pagi, aku mencoba peruntungan di depan meja resepsionis. Barangkali mereka bisa memasukkanku lebih cepat untuk beristirahat di kamar.

    Kamar belum siap, Bang. Abang tunggu aja ya di lobby sampai jam 1”, ungkap pemuda berseragam rapi yang bertugas.

    Oh baik, bang. Saya titip backpack saja ya. Saya lebih baik keliling kota dulu, nanti balik lagi pas sudah bisa check-in”, ujarku membalas.

    “Oh, boleh bang. Taruh sini saja”, Dia meminta backpack untuk ditaruhnya dibelakang meja.

    Bang, ada colokan listrik buat ngecharge HP?”, permintaanku kepadanya

    Oh colokan ada di restoran di sebelah kanan lobby. Masuk aja, Bang!”, telunjukknya mengarah pada sebuah pintu.

    Meluruskan pinggang sebentar di lobby, aku masih saja menatap bentuk ruang resepsionis yang autentik, kuning emas mendominasi. Tiga atap dengan tiga selembayung di ujungnya. berbentuk tangan menengadah perlambang hubungan erat antara makhluk hidup dan Sang Pencipta.

    Selain selembayung, motif layaknya songket khas melayu sangat mempercantik ruangan.

    Selepas daya kameraku terisi maka untuk memanfaatkan waktu sembari menunggu waktu check-in, aku mulai menelusuri beberapa jejak Kesultanan Siak yang terepresentasi jelas di sepanjang Sungai Siak, Rumah Singgah Tuan Kadi dan Masjid Raya Nur Alam.

    Memasuki twin bed room pada pukul 2 siang.
    Kamar hotel yang murah namun mewah bagiku.

    Hotel Sri Indrayani awalnya adalah mess yang disewa oleh sebuah maskapai penerbangan untuk para air crewnya sejak 1971. Seiring berkembangnya Pekanbaru, wisma ini menyempurnakan diri dengan bertransformasi menjadi hotel syariah terkemuka di Pekanbaru pada masa perkembangan kota. Letaknya yang berseberangan jalan dengan Kawasan Pecinan juga membuat perkembangan hotel ini berlangsung sangat cepat pada masanya.

    Akhirnya menemukan air hangat setelah 38 jam tak mandi.
    Taman di belakang hotel berbatasan dengan Jalan Bangka.

    Dari hotel Sri Indrayani inilah petualangan mengeksplore Pekanbaru bermula. Saatnya berkeliling kota mengenal Ibukota Provinsi Riau ini.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    My success in enjoying Tahok made my morning worthwhile because I could enjoy again one of many typical Solo City’s culinary. My third day in Batik City continued. The limit was this afternoon when I have to leave Solo City to return to capital city.

    Now I was standing back in front of Gede Hardjonagoro Traditional Market’s gate, waiting for an online taxi to came and picked me up. Not long after, a white Toyota Agya stopped its speed right in front of market gate. I walked towards it and the driver seemed to understand that I was the passenger who he would pick up.

    Alun-Alun Kidul, Sir“, I confirmed the destination.

    It’s quiet in the morning. You should have come there at night, Sir, it will definitely be festive”, online taxi driver provided information.

    What festivy is on the night, Sir?

    Usually, families will play with their children to try various game rides, and young people will hangout around to enjoying culinary delights, Sir“, he lightly said.

    Oh, I see….but I just went there for a survey, Sir, just a moment. The main event is still two months away”.

    I see, Sir. It’s okay

    Ten minutes later, I arrived at Alun-Alun Kidul (South Square), in Gajahan area. Dropped off at east side of square. My attention was immediately fixed on two large banyan trees in the middle of square. The square still looked very quiet that morning.

    OOOngng… .aa… .kkk ……… OOOngng… .aa… .kkk”.

    Ah, that’s a buffalo sound“, I thought.

    I quickly turned around to voice origin, a little further behind me.

    Kebo Bule“, I was shocked.

    Kyai Slamet” Buffaloes was othet their nickname.

    Five buffalos were seen in an iron cage. That was “Kebo Bule” (“Albino Buffalo”) which was usually paraded at “Malam Satu Suro” (“1st Muharram”) celebration parade around Solo City. It was a routine event which held by Surakarta Hadiningrat Palace to welcoming the arrival of Islamic New Year 1 Muharram.

    Illustration of “Malam Satu Suro” celebration (Source: SINDOnews).

    I knew that “Kebo Bule” parade had been done overnight when I fell asleep at Amaris Hotel Sriwedari. Even though I had invited Rahadian to watch the celebration. But our bodies were just too tired after doing some survey for fourteen hours yesterday. So we chose to sleep and enjoy hotel facilities.

    It seemed that that buffaloes was rested in Alun-Alun Kidul after last night parade, “Kandang Mahesa” is their cage’s name. Very lucky, I could see that buffaloes up close even I could touch their head.

    For a long time I watched “Kebo Bule” behavior with several people who deliberately stopped from their vehicle to take a brief look at that sacred buffalo.

    In the end, I decided to walk towards the middle of square to feel a magical nuance when I passed that two twin banyan trees. I thought that magical power of that banyan tree was just a myth, but I also didn’t blame it when many people believed in magical power of that trees. People’s beliefs were different each other and couldn’t be enforced.

    Waringin Kurung Sakembaran” (the name of that twin banyan tree) which have magical powers in the eyes of Solo City’s people.

    Not felt, the sun began to rise and its heat began to pierce into the square. I have to get away from here.

    Next Story—->