Aku bergegas menuruni escalator demi escalator untuk menuju lantai 3 Terminal Bersepadu Selatan dan langsung memutuskan keluar melalui jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan.
Setiba di depan deretan ticketing vending machine, aku segera mencari tiket menuju Stasiun Pasar Seni yang akan kutempuh menggunakan dua laluan kereta yang terintegrasi, yaitu LRT Laluan Seremban dan LRT Laluan Kelana Jaya. Aku memasukkan 3,5 Ringgit ke dalam mesin untuk mendapatkan sebuah token biru menuju Pasar Seni yang letaknya berjarak sepuluh kilometer di utara.
Tak perlu lama menunggu, LRT Laluan Seremban tiba dan aku memasuki gerbong tengah. Sore itu kereta penuh, aku harus berdiri hingga kereta tiba di KL Sentral.
Perlu kamu ketahui bahwa Pasar Seni adalah sebuah area yang letaknya hanya dua kilometer di utara KL Sentral. Dari KL Sentral, aku bergegas turun dan menuju platform LRT Laluan Kelana Jaya untuk mencapai Stasiun Pasar Seni.
Hampir jam tujuh aku tiba di Pasar Seni…..
Area Pasar Seni terlihat dari stasiun.
Automatic fare collection gates Stasiun Pasar Seni.
Aku sejenak menepi di pojok platform stasiun untuk mengamati keramaian area Pasar Seni dari atas. Sudah tiga kali aku menjelajah area itu semenjak 2014, berarti ini kali keempat aku tiba di tempat yang sama. Bosan?….Tentu saja tidak, selalu ada hal-hal baru dan menarik yang bisa kutemukan di tempat yang sama sekalipun.
Menjelang gelap, aku mulai menuruni tangga Stasiun Pasar Seni dan mulai menelusuri Jalan Hang Kasturi untuk menggapai penginapan, yaitu The Bed Station. Penginapan yang kupilih cukup dekat jaraknya dari Stasiun Pasar Seni, hanya perlu berjalan kaki sejauh 200 meter saja.
Menemukan lokasi penginapan, aku bergegas masuk pada pintu yang tak berpenjaga dan tak terkunci, hanya lorong berupa tangga menuju ke atas, yang menghubungkan ke beberapa lantai.
Meja resepsionis yang kucari ternyata terletak di lantai kedua. Aku memasuki ruangan itu yang suasananya masih kosong dan senyap. Untuk kemudian memutuskan mengambil satu tempat duduk di depan meja resepsionis demi menunggu staff hotel tiba.
Akhirnya lima belas menit kemudian, staff pria itu tiba.
“Hallooo….”, dia menyapa ramah.
“Hi….I want to check-in”, aku beranjak dari tempat duduk dan merapat ke meja resepsionis lalu menyerahkan lembar konfirmasi pemesanan online beserta paspor.
“Let me see!….Your name is in our system. Ok, 22 Ringgit for room and 20 Ringgit fo deposit”, dia mulai menutup transaksi.
“Why don’t several hotels in some cities require a deposit?”, aku sedikit tergelitik
“I don’t know about that. I’m originally from Egypt, so I don’t know more…”, dia menjelaskan tetap dengan senyumnya.
“Just take a bunk bed in your room….All the choices are up to you”, dia menyerahkan kunci locker kepadaku.
Usai menyelesaikan transaksi, aku menuju ke lantai 3 melalui tangga untuk memasuki kamar. Kamar itu penuh, 20 bunk bed di ruangan hanya menyisakan satu bunk bed di dekat pintu.
“Oh, ini tempat tidurku”, aku tersenyum mengernyitkan dahi.
Ruangan itu kosong, para penginapnya mungkin sedang berpetualang di tengah kota. Nanti malam, menjelang tidur, aku baru tahu bahwa tamu itu seluruhnya adalah sekumpulan rombongan dari kota lain di Malaysia, karena mereka saling bercakap menggunakan bahasa Melayu. Aku menebaknya sebagai sekelompok siswa yang sedang melakukan study tour karena salah satu dari mereka dipanggil dengan sebutan Cikgu.
Aku berkeliling lantai 3 untuk mencari shared-kitchen tetapi tidak pernah menemukannya. Hanya ada kamar mandi bersama di salah satu sisi tangga dan lobby bersama yang berupa deretan kursi dengan meja gantung memanjang yang biasa digunakan penginap untuk bekerja menggunakan laptop. Hanya tersedia satu sofa panjang di shared lobby ini.
“Waduh, berarti aku harus makan di luar”, aku segera memutuskan pergi dari lantai 3.
Malam itu aku hanya akan mengeksplorasi secara lengkap segenap isi Central Market. Walau sudah tiga kali mengunjunginya, tapi belum sekalipun aku menjelajahnya secara detail. Jadi malam itu aku akan menuntaskan niat itu.
Aku kembali turun ke Jalan Hang Kasturi menuju utara. Hingga tiba di sebuah pertigaan besar.
“Aku harus makan malam segera, sebelum melangkah lebih jauh”, aku memutuskan duduk di salah satu bangku beton di tepi Jalan Tun Sambanthan.
Aku dengan percaya diri membuka kemasan serbuk oat, menuangkannya di foldable lunchbox, mengguyurnya dengan air mineral, lalu memulai makan malam yang sangat sederhana itu dengan lahapnya. Aku sengaja duduk di tepi jalan itu karena di sisi atas, LRT Laluan Kelana Jaya hilir mudik melintasi jalanan dengan indahnya.
LRT Laluan Kelana Jaya melintas di atas Jalan Tun Sambanthan.
Menjelang maghrib aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan pasca mengarungi perjalanan delapan setengah jam dari Kuala Terengganu menggunakan jasa Bus Arwana. Inilah terminal raksasa di selatan kota yang menggantikan peran Terminal Bus Puduraya yang terletak di tengah kota.
Malam itu, aku akan menginap di The Bed Station di daerah Pasar Seni, tapi aku tak perlu terburu waktu karena satu bunk bed di penginapan itu sudah kuamankan melalui e-commerce penginapan ternama pada enam hari sebelum aku pergi meninggalkan rumah.
Ini bukan pertama kalinya aku menjejakkan langkah di Terminal Bersepadu Selatan. Pada Maret 2018, aku menyinggahinya untuk pertama kali ketika kembali dari Melaka. Sedangkan kunjungan kedua terjadi sembilan bulan kemudian ketika aku kembali dari Ipoh.
Tapi pada dua kunjungan terakhir, aku memang terburu waktu. Jadi kala itu pula, aku tak pernah ada niatan untuk mengenal sungguh-sungguh hub transportasi terbesar di Semenanjung Malaysia itu.
Tapi sore menjelang malam itu, alih-alih langsung melanjutkan perjalanan
Niatku kini berkembang….
Akhirnya menjelang malam itu, aku memutuskan untuk mengeksplore Terminal Bersepadu Selatan yang merupakan hub terintegrasi seluas 2 hektar bertinggikan enam lantai kebanggaan Negeri Jiran.
Sore itu, bus Arwana menurunkan setiap penumpangnya di balai ketibaan (arrival hall) lantai 2, tepatnya di sisi barat terminal. Begitu menuruni bus, aku dihadapkan pada lima escalator berjajar yang akan membawa setiap penumpang naik ke lantai 3. Kenapa demikian?….Karena di lantai 3 inilah letak titik konektivitas TBS dengan jalur transportasi umum lainnya.
Sementara penumpang yang memilih melanjutkan pulang menuju rumahnya masing-masing menggunakan kendaraan pribadi, tentunya kendaraan mereka sudah terparkir manis di lantai 4 hingga 6.
Memasuki pintu main lobby bangunan TBS lantai 3, aku langsung dihadapkan pada sebuah arrival lobby di sisi kanan pintu yang dipenuhi dengan barisan kursi. Sementara di depan arrival lobby juga terdapat TBS executive lounge bagi para penumpang berduit tentunya.
Sedangkan beberapa stand promosi perbankan tampak mengakuisisi beberapa sudut selasar, salah satu brand bank tersebut adalah PTPTN (Perbadanan Tabung Pendidikan Nasional) . LED Panduan & Informasi juga tak ketinggalan tertampil berisikan directory tentang lantai 1-6.
Selebihnya kios-kios terkait perjalanan seperti kedai peralatan telekomunikasi (DiGi salah satunya) dan minimarket (POINT dan 7-Eleven tampak di selasar) melengkapi keramaian selasar lantai 3.
Sisi barat terminal dimana platform ketibaan berada.
Platform ketibaan tampak dari lantai 3.
Arrival Lobby lantai 3.
Dua sisi gerbang pelepasan (departure gate).
Escalator menuju departure hall di lantai 2.
LED informasi pelepasan dan ketibaan.
Konter-konter penjualan tiket dilihat dari lantai 4.
Sebelum menuju ke pusat selasar, terdapat gerbang balai pelepasan yang dibagi dalam dua departure gate. Dua gerbang itulah yang akan mengantarkan penumpang menuju dua bagian departure hal l, yaitu departure hall dengan platform 1-13 dan platform 14-16. Sedangkan tepat di sisi selatan departure lobby terdapat pintu keluar menuju jembatan penghubung yang akan mengantarkan penumpang menuju jalur kereta komuter, LRT Laluan Seremban dan kereta bandara (KLIA Transit). Selain kereta, tentu penumpang juga akan diarahkan untuk bisa menggunakan bus kota dan airport bus.
Berjalan hingga berada tepat di tengah ruangan lantai 3, terdapat dua papan LED raksasa untuk menampilkan jadwal berlepas (departure) dan ketibaan (arrival). Sedangkan di bawah dua LED tersebut, delapan belas konter penjualan tampak berjajar mengakuisisi hampir separuh sisi selasar. Dan tepat di ujung awal konter penjualan tiket, tersedia enam mesin yang menjadi bagian dari pojok self service ticketing system. Dan akhirnya tepat di paling ujung selasar, disempurnakan dengan keberadaan pusat informasi untuk memfasilitasi kebutuhan informasi para penumpang.
Dari lift di ujung timur selasar, aku mulai naik ke lantai 4. Selasar lantai 4 ini di dominasi oleh food court,shopping centre dan tersedia juga transit hotel, serta akses menuju lokasi parkir. Dari lantai 4, aku menelusuri jalur tangga menuju lantai 5. Tak ada selasar lagi di lantai 5, melainkan semua lantai gedung didominasi medan kereta (parking area). Begitu pula lantai 6, juga digunakan untuk fungsi yang sama.
Setengah jam sudah aku puas mengeksplorasi seisi Terminal Bersepadu Selatan. Kini sudah saatnya bagiku untuk menuju ke The Bed Station. Aku harus segera merapat ke tengah kota sebelum kemalaman.
Selasar lantai 4 di terminal berusia 10 tahun itu tampak rapi.
Food court area lantai 4.
Area parkir di lantai 5.
Jembatan penghubung menuju stasiun Bandar Tasik Selatan.
Pemandangan dari jembatan penghubung ke arah timur.
Nah itu stasiun keretanya.
Akhirnya aku bergegas turun menggunakan escalator menuju lantai 3 rtuntuk meniti jembatan penghubung menuju ke LRT Laluan Seremban.
Seperti adegan-adegan fiksi yang terjadi di terminal-terminal pemberangkatan, kali ini aku terharu ketika menyaksikan seorang perempuan muda beransel memeluk erat ibunya sembari menenteng travel bag besar. Dugaan termungkin adalah anak itu akan pergi jauh dari orang tuanya di Kuantan dan akan menuntut ilmu di ibu kota.
Naiknya perempuan muda itu melalui pintu depan Bus Arwana menjadi penanda bahwa perjalanan panjang harus segera dimulai lagi. Lima belas menit berhenti, waktu telah berhasil menyuguhkan berbagai aktivitas warga lokal yang unik di sepanjang platform Terminal Sentral Kuantan.
Bus perlahan keluar meninggalkan terminal terbesar di sepanjang pantai timur Malaysia itu, membelah Jalan Pintasan Kuantan yang menjadi jalan utama kota. Berbagai fasilitas publik dengan mudah tertangkap mata yang tak pernah mau tertidur demi menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
Setengah jam lamanya bus menelusuri setiap sudut kota hingga akhirnya tiba di gerbang Distrik Gambang yang berada di sebelah barat Kota Kuantan. Distrik ini terkenal dengan aset alamnya, yaitu Hutan Lipur Pandan yang merupakan cagar alam besar yang menjadi milik bersama dua daerah, yaitu Kota Kuantan dan Distrik Gambang.
Lebuhraya Pantai Timur yang kulalui membelah sisi selatan cagar alam itu. Pemandangan hijau sangat mendominasi sisi kiri-kanan lebuh, mampu membuat mata menjadi sejuk dalam menikmati perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur.
Beberapa waktu kemudian, pemandangan cagar alam berubah menjadi kemunculan beberapa perkebunan kelapa sawit yang mudah sekali ditemukan di Distrik Maran. Maran memang terkenal sebagai penghasil minyak sawit di Malaysia, oleh karenanya, mataku mudah sekali menemukan hamparan perkebunan sawit di sepanjang jalan.
Kejutan lain adalah, semenjak terakhir melintas Sungai Kuantan di permulaan perjalanan dari Terminal Sentral Kuantan, kini aku dihadapkan kembali di kaca jendela, hamparan Sungai Pahang yang konon di beberapa bagian memiliki lebar lebih dari 500 meter. Kini aku tiba di Distrik Temerloh yang kotanya dikembangkan di pinggiran Sungai Pahang. Yang hanya perlu kamu tahu adalah, bahwa Kota Temerloh telah diproyeksikan pemerintah untuk menjadi ibu kota masa depan Negara Bagian Pahang untuk menggantikan Kota Kuantan.
Perjalanan lanjutan dimulai jam 2 siang. Akan menempuh jarak tak kurang dari 250 Km.Stadium Hoki Indera Mahkota di Jalan Pintasan Kuantan, Kota Kuantan.Tepian Lebuhraya Pantai Timur yang didominasi perkebunan kelapa sawit di Distrik Maran.Sungai Pahang di Distrik Temerloh.
Dua jam lamanya, pesona alam adalah aset yang dipamerkan oleh Lebuhraya Pantai Timur, maka kini pemukiman penduduk mulai tampak ketika bus melintasi jalanan baru, yaitu Lebuhraya Kuala Lumpur-Karak. Kota yang kulalui kali ini merupakan bagian dari Distrik Bentong, distrik yang terkenal sebagai area peristirahatan untuk perjalan rute panjang Kuantan-Kuala Lumpur dan sebaliknya. Oleh karenanya, selain perkampungan, rest area banyak di temukan di distrik ini.
Tiga jam sudah perjalanan berlalu….
Kini nuansa kota mulai kentara. Dimulai dengan menelusuri Genting Sempah Tunnel. Inilah terowongan legendaris, karena tunnel ini menjadi terowongan jalan tol pertama di Malaysia. Bisa dikatakan terowongan ini adalah landmark utama sekaligus menjadi pembatas antara dua negara bagian, yaitu Negara Bagian Pahang dan Negara Bagian Selangor….Yeaaaay, aku kini sudah memasuki Distrik Gombak di Selangor.
Usai sebentar menikmati pemandangan Distrik Gombak, kini aku tiba di Kuala Lumpur. Kabar baiknya adalah, beberapa kali berkunjung ke Kuala Lumpur, baru kali ini aku sangat leluasa menikmati jalanan di utara kota. Pinggiran utara itu menujukkan kemakmuran dengan kesibukan pemerintah membangun fasilitas-fasilitas umum. Aku menikmati kesibukan, kemacetan dan hiruk pikuk kota hingga tak tersadar setengah jam berlalu untuk membuatkan tiba di Terminal Bersepadu Selatan di selatan kota.
Pemandangan di sekitar Kampung Cinta Manis, Kota Karak.Rest area di Kampung Bukit Tinggi Betung, Distrik Bentong.Genting Sempah Tunnel sepanjang 900 meter mengantarkanku memasuki perkotaan di Distrik Gombak.Melawati Mall di Jalan Lingkaran Tengah, Kuala Lumpur.Proyek di Jalan Lingkaran Tengah 2, Kuala Lumpur.Hampir jam 6 sore aku tiba di Kuala Lumpur.
Aku tiba….
Lalu apalagi yang harus kulakukan?
Tiket bus Kuantan ke Kuala Lumpur (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asiadengan link sebagai berikut: https://12go.asia/?z=3283832
Aku terhuyung menyambar sembarang pegangan ketika terbangun mendadak dari tidur dan langsung menuju kamar mandi bersama ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul. Itu gegara aku menatap jarum jam dinding bertengger di angka setengah delapan.
“Kacau”, aku mengutuk bangunku yang sudah terlalu siang. Ba’da Subuh tadi, aku memang sengaja menarik kembali selimut dan menutupi badan yang kedinginan. Beruntung, semalam aku sudah mengepack semua perbekalan.
Aku mandi dengan cepat, toh seluruh badan masih terasa bersih setelah terakhir mandi jam sepuluh malam tadi. Aku memakai kembali t-shirt yang semalam kupakai untuk tidur dan mengenakan celana jeans yang telah kusiapkan dari semalam.
Seusainya, aku menggemblok backpack di punggung dan menuju shared-kitchen untuk menyeduh serbuk oat dengan air panas dari dispenser. Sungguh menu sarapan yang menjemukan, tetapi masih saja kurepetisi semenjak tiga hari keluar dari rumah.
Sembari menyesap serbuk oat basah suap demi suap, aku mulai khawatir karena meja resepsionis itu masih gelap dan kosong.
“Aduh, jam berapa staff akan siap?. bisa kesiangan nih mengejar bus”, aku membatin dan berharap, seusai sarapan nanti, staff akan datang sehingga aku bisa menyerahkan kunci dan mengambil uang deposit.
Ternyata hingga sarapan usai pun, ruangan masih saja lengang. Aku yang semakin was-was hanya bisa pasrah menunggu di lobby. Beruntung, lima belas menit kemudian, owner penginapan muncul dan langsung tersenyum ke arahku.
“Nak check-out….maaf lamē menunggu”, dia memulai percakapan sembari menyalakan lampu ruangan dan menuju belakang meja. Sedikitnya tamu penginapan membuatnya tak perlu menanyakan identitas dan nomor kamarku karena dia pasti mudah menghafalnya. Tak butuh waktu lama untuk mengambil amplop bernomor kamarku dan berisikan uang deposit 30 Ringgit lalu memberikannya untukku.
“Terimakasih, Pak Cik”, aku menerima uangnya dan menyerahkan kuncinya.
“Sampe jumpē….Hati-hati”, dia melambaikan tangan ketika aku mulai menuruni tangga untuk meninggalkan penginapan.
Di luar penginapan….Untuk kelima kalinya, aku sempurna mengkhatamkan jalur menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Kini aku berjalan sangat cepat dan hanya berfokus untuk segera sampai di terminal. Lebih baik aku menunggu jauh dari jam keberangkatan bus daripada ketinggalan.
Hampir setengah sembilan ketika aku tiba tepat di depan konter tempatku membeli tiket kemarin.
“Tunggu sahajē di platform 1, nanti bus nak datang”, begitu jawaban abang penjaga konter ketika aku bertanya dimana harus menunggu.
“Whatever, satu jam ke depan aku akan menunggu di sini saja”, aku membatin ketika mengakuisisi tempat duduk beton di sebelah platform 1.
Tetapi menunggu sesuatu di negeri orang selalu saja menarik. Mengamati aktivitas warga lokal di setiap sisi terminal membuatku berada jauh dari rasa bosan.
Hingga akhirnya aku terperanjat ketika sebuah bus warna merah maroon berkombinasi kuning muncul dari gerbang belakang terminal.
“Arwana Group”, dengan jelas aku bisa membacanya dari kejauhan.
Ini dia bus yang sedang aku tunggu. Bus itu tiba lima belas menit sebelum keberangkatan. Bus berhenti tepat di platform 1 dan aku bergegas mendekatinya hingga seorang berwajah Arab menghentikan langkahku.
“Yes….This bus goes to Kuala Lumpur”, aku menjawabnya singkat.
“Where are you come from?”, aku menambahkan.
“Yemen….”
“Is Yemen Okay now?”, setahuku negeri itu sedang dilanda perang saudara.
“Yeaa…better”
Aku melompat masuk dari pintu depan dan mencari tempat duduk nomor 13. Aku memilih bangku tunggal pada bus yang memiliki formasi bangku 2-1 tersebut.
Tepat pukul setengah sepuluh bus pun memulai perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur…..
Perjalanan seharga 43 Ringgit itu akan ditempuh dalam waktu 5 jam dan menempuh jarak tak kurang dari 450 km.
Bus mulai meninggalkan kota dengan menyisir Laluan Persekutuan 3, inilah rute darat utama di pantai timur Malaysia yang membentang sepanjang lebih dari 700 km, bermula dari Kelantan di utara dan berakhir di Johor Bahru di selatan. Aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyisir lebuh*1) tepi pantai dengan pemandangan paling indah di seantero Malaysia. Pemandangan paling menakjubkan dalam perjalanan ini adalah dimana aku bisa melintasi lebuh yang hanya berjarak 50 meter saja dari bibir pantai. Nanti akan kuperlihatkan keindahan lebuh ini.
Di awal perjalanan, aku masih ingat dengan pemandangan Kuala Terengganu yang tersaji hingga Kampung Kuala Ibai, karena aku telah melintasnya saat mengunjungi Masjid Tengku Tengah Zaharah tempoe hari. Tetapi setelah melintasi Sungai Ibai, aku benar-benar melewati daerah dengan pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Alih-alih tertidur, justru pemandangan itu sukses membuatku terjaga sepanjang perjalanan.
Dalam setengah jam, bus mulai keluar dari Distrik Kuala Terengganu dan memasuki Distrik Marang yang bergerbangkan Pantai Pandak. Tiga kilometer jauhnya, bus melintas di garis Pantai Rusila yang menjadi salah satu pemandangan terindah di distrik itu. Hingga akhirnya bus beristirahat sebentar di Hentian Bas Marang. Bus harus menjemput beberapa penumpangnya di terminal kecil tersebut.
Pemandangan usai jeda sejenak di terminal bus Kota Marang, mungkin menjadi pertunjukan utama perjalanan ini. Pemandangan tepi pantai yang indah terhampar sepanjang 50 kilometer yang dimulai dari Pantai Peranginan Kelutut hingga Pantai Batu Pelanduk di permulaan Distrik Kuala Dungun.
Busku telah tiba.
Saatnya memulai perjalanan panjang.
Pantai Peranginan Kelulut.
Salah satu sungai di Distrik Marang.
Hutan Lipur Rantau Abang di Laluan Persekutuan 3, Distrik Marang.
Jembatan Pulau Serai di atas Sungai Dungun, Jalan Kuala Terengganu, Distrik Kuala Dungun.
Dua jam perjalanan, bus kini telah purna melintas landmark utama Distrik Kuala Dungun, apalagi kalau bukan Sungai Dungun yang memiliki lebar tak kurang dari 300 meter.
Dengan cepat bus mulai memasuki Kota Paka. Kota ini adalah rumah bagi pembangkit listrik terbesar di Malaysia yang dijalankan oleh perusahaan listrik nasional, yaitu Tenaga Nasional. Tak heran hamparan luas stasiun tenaga listrik berada di kota ini.
Lebih dari sepuluh kilometer menyejajari liukan Sungai Paka hingga akhirnya bus keluar dari Kota Paka dan memasuki kota baru, yaitu Kota Kerteh.
Kerteh adalah kota minyak karena memiliki potensi minyak bumi yang tersimpan di dasar Laut Cina Selatan. Kota Kerteh menjadi salah satu tempat terpenting di negara bagian Terengganu karena penduduknya yang padat disertai dengan fasilitas publik yang lengkap.
Menulusuri Kota Kerteh membuatku faham bahwa Petronas, si perusahaan minyak raksasa Negeri Jiran itu menempatkan banyak fasilitas pentingnya di kota ini. Kilang-kilang minyak, pipa-pipa gas, pabrik-pabrik kimia dan kompleks perumahan Petronas mendominasi penampakan di sepanjang Jalan Kemaman-Dungun.
Hampir setengah jam, aku disuguhkan kesibukan bisnis perminyakan Kota Kerteh, hingga akhirnya bus tiba di daerah paling selatan dari negara bagian Terengganu, yaitu Distrik Kemaman. Inilah daerah perbatasan antara Negara Bagian Terengganu dan Negara Bagian Pahang.
Memasuki Kemaman, bus secara langsung membelah kota Chukai yang menjadi ibu kota Distrik Kemaman. Taman-taman kota terhampar di pojok-pojok kota, kemacetan mulai terasa, sedangkan Sungai Kemaman tampak membentang luas sebagai penghias utama Kota Chukai.
Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin di Jalan Paka, Kota Paka.
Sungai Paka tampak dari Jalan Kemaman-Dungun.
Stesen Janaelektrik Sultan Ismail, Kota Paka.
Kilang minyak milik Petronas di Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Jembatan Kertih, di atas Sungai Kertih, Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Taman Persiaran Chukai di Jalan Sulaimani, tepat di tepian Sungai Kemaman, Kota Chukai.
Jambatan Geliga di atas Sungai Kemaman, Jalan Kuantan-Kemaman, Distrik Kemaman.
Hentian Bas Ekpres Kemaman di Distrik Kemaman.
Di selatan Kota Chukai, bus berhenti untuk kedua kali. Kali ini bus mengambil dua penumpangnya di Hentian Bas Ekpres Kemaman. Purna mengangkut penumpangnya, bus melanjutkan perjalanan untuk keluar dari batas Negara Bagian Terengganu sisi selatan dan memulai petualangannya di Negara Bagian Pahang.
Masih satu jam lagi untuk tiba di Terminal Sentral Kuantan, terminal bus utama di Negara Bagian Pahang. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Aku yakin semua penumpang sedang merasakan hal yang sama ….Lapar.
Pucuk dicinta ulam tiba, seperempat jam usai memasuki Negara Bagian Pahang akhirnya bus menentukan persinggahan makan siangnya. Adalah D’Cherating Cafe yang mengambil nama sesuai dengan daerah dimana rumah makan itu berdiri yaitu di Kampung Cherating.
Di sinilah, pengemudi membiarkan penumpangnya untuk menikmati makan siang selama setengah jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan sisa menuju Terminal Sentral Kuantan. Di akhir perjalanan itu, pengemudi berfokus di belakang kemudi untuk menyelesaikan 40 kilometer terakhir menuju ke terminal bus terbesar di pantai timur Malaysia.
Perjalanan tahap pertamaku usai sudah….
Usai jeda di Terminal Sentral Kuantan, aku akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir yaitu Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur.
Rumah Makan D’Cherating, Negara Bagian Pahang.
Terminal Sentral Kuantan di Jalan Pintasan Kuantan, Negara Bagian Pahang.
Tiket bus Kuala Terenganu ke Kuantan (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asiadengan link sebagai berikut: https://12go.asia/?z=3283832
Membelakangi Klenteng Sam Poo Kong, pandanganku mengobrak-abrik area kantin. Berusaha menemukan Pak Muchlis sesegera mungkin. Aku harus menyeretnya ke Masjid Agung Jawa Tengah, bukan hanya untuk melakukan shalat jamak, tapi juga menggenapkan wisata religi sore itu setelah baru saja selesai mengitari klenteng.
Kutemukan dia di sebuah pojok, dia terlihat nikmat menghisap asap tembakau. Klepas-klepus tanpa dosa sembari bergilir mengguyur kerongkongannya dengan jus mangga….Hahaha.
“Ayo pak, ikut aku lagi!”, seruku kencang dari kejauhan.
“Loh, nyang endi?”, serunya sambil mematikan api tembakaunya
“Shalat”, kataku singkat sambil melangkah membelakanginya menuju pintu keluar klenteng.
Taksi pangkalan merangkap taksi online datang menjemput. Kini aku dihadapkan pada seorang pengemudi setengah tua yang terlanjur bangga dengan kekhilafan-kekhilafan manusiawinya. Katanya, dia pernah meminta ongkos lebih pada sepasang bule Belanda hanya karena punya alasan bahwa Belanda pernah menjajah bangsanya. Lantas kedua bule itu tak terima, dihentikannya taksi di depan sebuah kepolisian sektor, si sopir menjelaskan alasannya meminta ongkos lebih. Lantas polisi itu menjelaskan ke bule dengan cara yang lebih elegan, si bule pun entah kenapa mau membayarnya lebih…..Lucu, aneh bin ajaib.
Pernah juga dia tak mau menerima kembalian ongkos dari seorang Tionghoa, katanya dia punya harga diri untuk tak dikasihani….Cerita ini lebih ajaib lagi, pengen aku koprol salto saat mendengarnya.
Sudahlah….Aku lagi malas berdebat….Aku bertelepati dengan sedan putih itu untuk segera berlari lebih kencang dan segera sampai….Sedan antar jemput online itu tiba tepat di pelataran tujuan.
Yup….Masjid Agung Jawa Tengah…Sebut aja MAJT.
Pelataran itu lengang, parkir mobil tetapi penuh parkir motor, bercahaya syahdu dipadu gemericik air mancur di sepanjang kolam di tengah jalur trotoar. Di akhir pelataran, tersaji gerbang berpilar dua puluh lima, bergaya romawi, dengan kaligrafi khas Timur Tengah melingkar di lis atasnya…Selera Romawi tersemat jelas di halaman itu.
Aura Romawi di awal kunjungan.
Gimana?….Keren kan?.
Sisi kanan masjid didominasi Al Husna Tower setinggi 99 meter, diejawantahkan dalam 19 lantai. Kalau kamu mau, naiklah sesukamu, diatas menanti teropong pandang (lantai 19) yang mengiming-imingi kecantikan Kota Atlas versi ketinggian, lalu nikmatilah secangkir kopi di sebuah kafe lantai 18 (Kafe Muslim) yang bisa berputar satu lingkaran penuh….Wahhh.
Al Husna Tower.
Sedangkan sisi kiri masjid terakuisisi oleh bedug hijau raksasa berumahkan paviliun 3 lapis atap. Persembahan segenap santri dari Pesantren Al Falah Banyumas untuk MAJT.
Bedug raksasa itu bunyinya gimana ya?.
Sementara, pelataran masjid dihiasi oleh enam payung hidrolik raksaka yang layaknya paying yang sama di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid agung ini tampak lega tak berujung, konon luasnya mencapai 10 hektar. Menjadikan masjid ini sebagai kebanggaan masyarakat Sambirejo. Masjid cantik yang kubahnya bergaris tengah 20 meter yang memuncaki atap limas khas arsitektur Jawa.
Lihat bentuk utuhnya…..Beuhh.
Tak begitu memperdulikan keramaian di halaman, aku bergegas turun ke lantai bawah, bersuci, lalu melakukan shalat jamak di lantai atas. Shalat dengan iringan khutbah seorang ustadz kepada jama’ah pengajian.
Interior masjid.
Lampu gantung di tengah ruangan masjid.
Aku sedikit berlama waktu dengan mengikuti siraman ruhani ini. Sebuah kebiasaan yang selalu kuulang-ulang ketika mengunjungi masjid-masjid ternama. Tak perlu khawatir karena waktuku mentraktir para kolega masih nanti. Bisa kukejar dengan taksi online dalam 15 menit saja.
Al Qur’an raksasa karya H. Hayatuddin, penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an, Wonosobo.
Selesai khutbah, aku mulai meninggalkan bangunan berusia 14 tahun itu, mengucap selamat tinggal pada pusat syiar islam itu setelah berwisata religi di dalamnya, serta mendoakan semoga MAJT menjadi pusat pendidikan agama yang makmur.
Perlu kamu ketahui bahwa masjid ini memiliki fungsi lain yaitu sebagai perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah dan museum perkembangan Islam.
Semarang pantas berterimakasih pada nahkoda Ong Keng Hong karena mengalami sakit keras. Sebab sakitnyalah, dia harus berlabuh dan memilih untuk ditinggalkan rombongan ekspedisi di Bukit Simongan. Laksamana Zheng He masih bermurah hati dengan mengutus beberapa prajurit untuk menemani dan merawat nahkodanya di Semarang. Kemudian di suatu masa, di sekitar Abad XV, Ong Keng Hong inilah yang mensyi’arkan Islam dan mendirikan Goa Gedung Batu yang merupakan cikal bakal berdirinya Klenteng Sam Poo Kong di era modern….Oh ya, konon Ong Keng Hong ini menahkodai kapal raksasa sepanjang 130 m dan lebar 55 m dengan 9 tiang layar. Beriringan bersama 299 kapal lainnya dalam sebuah ekspedisi agung.
Sore itu, jarum jam menunjukkan pukul 15:30, pertanda bahwa tugasku mengawal pelatihan sudah rampung. Setelah mengepak setiap peralatan penting untuk digunakan kembali pada pelatihan hari kedua esok hari, aku tak menuju hotel, melainkan berniat mengeksplorasi di daerah Bongsari.
Momen penutupan pelatihan….Tak sabar untuk segera bereksplosi.
Karena nanti malam aku harus menjamu kolega-kolega penting untuk makan malam bersama maka sang tuan rumah berbaik hati mengantarkan aku dan Pak Muchlis menuju destinasi yang kumaksud. Tak lama kemudian aku tiba di Klenteng Sam Poo Kong. Duduk sejenak di pelataran parkir di gerbang utara klenteng, hatiku terus tertelisik, ada sejarah apakah di dalam sana?.
Menebus tiket sebesar Rp. 27.000, aku mulai memasukinya.
Gerbang kuil.
Sepertinya klenteng ini memang sangat siap menjadi sebuah obyek wisata, berbagai papan petunjuk arah sangat lengkap di letakkan di beberapa posisi strategis, beberapa titik terbaik untuk pengambilan photo juga sudah di tandai dengan detailnya.
“Mas Donny, aku duduk sini ae lah, mau minum es sama udut, kesel aku mas. Sampeyan keliling dhewe wae yo!”, ujar Pak Muchlis meringis sambil memijit-mijit betisnya. Dia lebih tertarik sama jus jeruk dan duduk di rest area.
Rest Area.
Aku menyisir dari sisi utara, melewati sebuah pendopo joglo yang sebagian ruangnya dimanfaatkan pedagang untuk berniaga souvenir, sedangkan tepat di depannya terdapat sebuah posko kesehatan dengan dasar dinding berwarna kuning. Sementara di pelataran klenteng yang sangat luas berdiri dua patung singa emas pembawa bola dunia dan anak singa serta dua patung putih penjaga Yin dan Yang.
Pendopo Joglo.
Posko Kesehatan.
Patung penjaga dan pemegang tanda Yin (bulan) dan Yang (matahari).
Mulai kulangkahkan kaki memasuki bagian klenteng satu per satu. Aku memasuki klenteng dengan tiga puluh enam tiang penyangga dan beratap dua susun. Di bagian depannya dijaga oleh dua singa berwarna emas dan delapan Dewa-Dewi. Inilah klenteng pemujaan Thao Tee Kong (Dewa Bumi) untuk memohon berkah dan keselamatan hidup.
Klenteng Dewa Bumi.
Bersebelahan di sisi selatan, terletaklah Klenteng Juru Mudi. Klenteng ini tentu didedikasikan untuk mendiang Ong Keng Hong, Sang nahkoda yang melakukan syi’ar di Semarang. Berukuran lebih kecil, klenteng ini didirikan dengan enam belas tiang penyangga yang dua diantaranya berwarna coklat, berukir naga dan terletak tepat di pintu masuk. Dijaga oleh patung singa berwarna hijau dan dua Dewa di pelatarannya.
Klenteng Juru Mudi.
Tibalah aku di bangunan utama dalam kompleks peribadatan teruntuk pemeluk Tridharma (Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme). Adalah Klenteng Sam Poo Kong yang berdiri kokoh dengan sembilan puluh tiang dan beratap tiga susun.
Aku berhasil memasuki klenteng ini. Tapi melakukan kesalahan besar dengan memotret lokasi peribadatan yang terlarang. Aku dimarahi sejadi-jadinya oleh petugas klenteng. Maafkan aku pak, aku tak melihat ada gambar kamera tercoret garis merah di dekat tiang tengah.
Di belakang klenteng utama ini terdapat sepuluh relief yang mengisahkan kejadian-kejadian penting dalam pelayaran Laksamana Zheng He, atau kita lebih akrab memanggilnya Laksamana Cheng Ho. Beberapa orang memanggilnya San Poo Tay Djien.
Diantara kisahnya adalah dihadiahinya Laksamana Zheng He beberapa ekor jerapah oleh Raja Hulumosi dari Iran, menumpas pemberontakan Iskandar di kerajaan Samudra Pasai, seratus tujuh puluh prajuritnya gugur dalam mengatasi perang saudara antara Wikramawardhana (Raja Barat Jawa) dan Wirabumi (Raja Timur Jawa), menumpas lima ribu bajak laut pimpinan Chen Zhu Yi di Palembang, mengatasi konflik antara Malaka (Malaysia) dan Siam (Thailand), kisah awal keberangkatan ekspedisi yang dipimpinnya dari Liu Jia Gang, mengawal putri Han Li Bao untuk dipersunting raja Malaysia (Sultan Mansyur Syah), hingga menyelamtkan Duta Besar China yang hilang di Indonesia….Wah, keren ya kisah Laksamana yang satu ini.
Relief di belakang klenteng utama. Cerita disampaikan dalam tiga bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan China.
Patung perunggu Laksamana Zheng He setinggi 12 meter dan Klenteng Sam Poo Kong.
Pintu Gerbang Selatan di belakang patung Laksamana Zheng He.
Hari semakin gelap, lampu warna-warni mulai dinyalakan. Aku telah tiba di ujung eksplorasi klenteng ini. Aku menyempatkan duduk di sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertunjukan yang di deret anak tangganya berdiri patung-patung prajurit yang dibawa Laksamana Zheng He.
Panggung untuk tempat pertunjukan.
Patung-patung prajurit Laksamana Cheng Ho.
Untuk para pengunjung yang ingin berfoto menggunakan kostum semasa Laksamana Zheng He, mereka bisa menyewanya di tempat persewaan di foto kostum.
Foto Kostum.
Itulah kisah kunjunganku di Klenteng Sam Poo Kong, klenteng penuh sejarah dan penutur kisah perjuangan segenap awak kapal yang dikomandani oleh Laksamana Zheng He.
Aku duduk di kursi paling depan sisi kiri ketika Bas KITē perlahan meninggalkan kompleks Taman Tamadun Islam. Melalui jembatan penghubung satu-satunya, Bas KITē menyudahi putaran roda di atas Pulau Wan Man.
Only me….
Bapak pengemudi yang budiman.
Kini Bas KITē akan menuntaskan setengah perjalanan tersisa menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, sesampainya di sana nanti, bus akan beristirahat untuk beroperasi kembali esok hari pada pukul setengah sepuluh pagi.
Dalam perjalanan pulang itu, aku lebih santai dan leluasa untuk berbincang-bincang dengan si pengemudi. Dalam perjalanan sisa itulah dia bercerita tentang aktivitas hariannya bersama empat pengemudi Bas KITē lain dalam mengoperasikan bus kota istimewa tersebut. Dia juga bercerita mengenai anaknya yang begitu susah mencari pekerjaan di Kuala Terengganu, banyak sektor pekerjaan memilih menggunakan tenaga kerja asing yang menyebabkan susahnya warga lokal mencari mata pencaharian. Aku hanya mendengarkannya sebagai bentuk empati, walau aku sebenarnya tak tahu fakta aslinya.
Dalam perjalanan pulang itu, pengemudi bus hanya menaikkan satu penumpang perempuan setengah baya yang tampaknya sudah sangat dikenal akrab olehnya. Mungkin perempuan itu adalah langganan Bas KITēnya, sehingga begitu dia naik, si pengemudi langsung bertanya akrab tentang aktivitas si perempuan sepanjang hari. Selebihnya setelah naiknya penumpang perempuan tersebut, hanya percakapan mereka berdua saja yang mendominasi hingga perjalanan usai. Percakapan berlogat kental Terengganu itu mencoba kufahami walau aku hanya bisa meyerapnya sedikit saja.
Jam enam lebih seperempat aku tiba di Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu….
Melompat turun dari bus dan mengucapkan sekali lagi rasa terimakasih kepada sang pengemudi Bas KITē yang telah memberikan lima menit berharganya untukku supaya bisa menikmati keindahan Masjid Kristal, aku berusaha secepat mungkin meninggalkan terminal. Aku tak mau terjebak gelap di dalam terminal.
Aku melangkah gesit melalui Jalan Masjid Abidin untuk tiba di perempatan dimana Menara PERMINT berdiri. “Itu suara apa ya?…”, langkahku terhenti ketika mendengar suara berisik dari sebuah ketinggian. Akibat suara itu, aku mengurungkan langkah menuju penginapan. Aku kini melangkah menyusuri Jalan Sultan Ismail menuju sumber suara. “Oalah….Itu sekumpulan burung gereja”, aku kini mengetahuinya. Di seluruh luasan muka gedung Wisma PERMINT, bertengger buanyakkk sekali burung gereja yang bersahutan suara satu sama lain, menjadikan suara itu bak sebuah harmoni yang enak terdengar di saat menjelang maghrib.
Begitu lama aku tertegun, mengabadikan dan memvideokan pemandangan itu hingga dua orang turis lain tiba-tiba datang di sebelahku dan melakukan hal yang sama. Setelah beberapa saat menikmati harmoni suara burung gereja, serentak pelita-pelita jalanan mulai hidup, lampu-lampu gedung mulai dinyalakan, menjadikan jalur di sepanjang Jalan Sultan Ismail memamerkan keindahan lampu warna-warninya.
“Sepertinya aku harus menikmati malam penutup di Kuala Terengganu dengan berada di jalanan walau hanya sesaat”, aku memutuskan.
Langkah eksplorasi malamku dimulai dari KT Walk yang merupakan area lapang yang biasanya menyajikan pemandangan pasar malam untuk warga lokal. Hanya saja malam baru saja memulai masanya, deretan kedai makanan baru bersiap diri untuk menjamu calon tamu-tamunya yang akan tiba sebentar lagi. Karena belum ada aktivitas yang berarti, aku pun hanya menikmati sejenak suasana KT Walk dari sebuah pojok tanah lapang itu.
Menikmati paduan suara burung gereja di Wisma PERMINT.
Sisi depan KT Walk.
Sisi dalam KT Walk yang masih sepi.
Malam semakin merayap naik dan lampu-lampu mulai tampak lebih mempesona seiring dengan menggelapnya langit. Aku terus menyisir sepanjang Jalan Sultan Ismail untuk kemudian tertegun pada sebuah toko buku yang tampaknya menjadi toko buku favorit di kota itu, SMO Bookstores namanya. “Tak ada salahnya jika aku masuk…”, aku mulai iseng.
Aku bergegas memasuki toko buku itu. Begitu memasuki toko, aku hanya memperhatikan sekitar serta menyambangi beberapa rak buku yang banyak didatangi pengunjung. “Sekumpulan novel yang telah disadur dalam Bahasa Melayu”, aku sedikit mengernyitkan dahi sebagai penanda aku tak meminatinya.
SMO Bookstores itu tak sebesar brand toko buku kenamaan di Indonesia, koleksinya tak seberapa, tetapi banyak warga yang berkunjung di dalamnya. Mungkin tingkat literasi warga Malaysia yang baik membuatnya demikian.
Aku akhirnya keluar dari SMO Bookstores dan kembali melanjutkan perjalan menikmati suasana malam Kuala Terengganu. Walaupun tak terlalu ramai, malam itu mampu membuatku sedikit takjub karena selama dua hari di Kuala Terengganu, aku lebih dominan menikmati suasana siangnya saja. Walau saja gemerlap pelita malam itu tak seindah di Kuala Lumpur, tetap saja menyimpan pesona tersendiri. Sebuah kota yang tak begitu padat sedang menampilkan keelokan malamnya.
Aku menikung di pangkal utara Jalan Air Jernih yang masih saja bergeliat perniagaan. Berjalan di sepanjang jalan itu, langkahku kembali terhenti pada sebuah 7-Eleven, aku sengaja memasukinya untuk mencari makanan cepat saji sebagai menu makan malamku. Rasanya aku telah enggan kembali melangkah sedikit jauh untuk mengunjungi Kedai Kak Na yang siang tadi kusambangi. Lebih baik mencari makanan ala kadarnya saja di minimarket itu.
Aku keluar dari 7-Eleven dengan menenteng nasi goreng kemasan yang sudah dipanaskan dalam microwave untuk beberapa saat. Aku segera meninggalkan minimarket itu menuju penginapan sembari menikmati pemandangan tersisa. Menyambung langkah sedikit di Jalan Kota Lama aku berbelok ke kiri di Jalan Engku Pangeran Anom 2 untuk kemudian tiba di penginapan, The Space Inn. .
Engku Pangeran Anom, siapakah gerangan?
Engku Pangeran Anom adalah seorang bangsawan Terengganu dengan nama lengkap Pengiran Anum Engku Abdul Kadir bin Engku Besar. Beliau adalah seorang yang sangat memahami sejarah Terengganu dan sering menjadi rujukan kesultanan yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Ahmad.
Aku tiba di penginapan tepat pukul setengah delapan….
Saatnya aku berbasuh, makan malam, melipat jemuran dan merapikan backpack karena esok hari aku akan meninggalkan Kuala Terengganu tepat pukul setengah sepuluh pagi.
Wisma Maidam yang tinggi menjulang di Jalan Sultan Ismail yang digunakan untuk kantor Bank Islam Kuala Terengganu.
Perempatan yang sering kulalui tiap hari selama di Kuala Terengganu.
Umobile Centre (Kedai Peralatan Telekomunikasi) di Jalan Engku Sar. Engku Sar mengacu pada nama ayahanda dari Engku Pengiran Anom yang bernama lengkap Syed Abdullah Al-Idrus. “Sar”adalah sebutan lain dari “Sir”.
Gedung Aneka KAMDAR di Jalan Kota Lama yang digunakan sebagai ASC (Arena Sports Centre) yang merupaka bisnis Sport Venue di Kuala Terengganu.
Tidur wooeey….Sudah jam 11 malam….Besok jalan lageee.
Aku masih menebak-nebak, siapakah gerangan, satu dari tiga pengemudi yang akan menjalankan trip terakhir Bas KITē laluan C02. Mereka sedang asyik bersenda gurau dan berbincang akrab di kedai kopi pojok terminal.
Aku terus mengamati dari bangku tunggu di belakang antrian Bas KITē hingga akhirnya satu dari mereka beranjak dari tempat duduknya, menuju bus dan kemudian menyalakan mesin untuk memanaskannya sebelum memulai perjalanan.
“Oh, dia orangnya”, aku menjentikkan jari.
Dengan cepat aku mencegatnya. “Pak Cik, apakah Masjid Kristal akan terlihat dari jalan yang akan dilewati bus ini?”, aku bahkan juga mencegatnya dengan sebuah pertanyaan konyol.
“Tak tampak masjid tuh dari jalan…kenapē?”, dia tampak heran dengan pertanyaan yang kulontarkan.
“Jika tak kelihatan, saya tidak jadi ikut naik bus terakhir ini, Pak Cik”, aku mengernyitkan dahi.
“Mau melawat ke Masjid Kristal?”
“Iya, Pak Cik”.
“Kamu bisa ikut bas nih, nanti sayē tunggu lima menit untuk melawat sekejap ke Masjid Kristal. Bagaimanē?”.
“Terimakasih. Baik saya ikut Pak Cik”.
Negosiasi antara turis dan pengemudi bus kota usai sudah. Kini aku punya kesempatan walau tak lama untuk mengunjungi salah satu masjid terindah di Asia bahkan dunia itu.
Tepat pukul lima sore….
Aku melompat menaiki Bas KITē dari pintu depan. Menyerahkan ongkos sebesar 3 Ringgit ke pengemudi dan mulai mengambil tempat duduk. Sementara itu, Bas KITē perlahan-lahan mulai meninggalkan Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
Walau tujuanku ada di barat, tetapi kali ini Bas KITē terlebih dahulu berjalan ke timur, mengambil beberapa penumpang di Shahbandar dan Hotel Grand Continental, baru kemudian berputar di Bulatan Batu Bersurat Kuala Terengganu, dan baru kemudian menujulah Bas KITē ke barat untuk menggapai tujuan yang kuinginkan, yaitu Masjid Kristal.
Bulatan Batu Bersurat Kuala Terengganu, di pusat pertemuan empat ruas jalan, yaitu Jalan Sultan Ismail, Jalan Sultan Mahmud, Jalan Sultan Zainal Abidin dan Jalan Sultan Sulaiman.
Suasana di Jalan Air Jernih sore itu.
Perpustakaan Awam Negeri Terengganu terlihat dari Jalan Tengku Mizan.
Pasar Raya Besar Mydin terlihat dari Jalan Tengku Mizan
Perlahan tapi konsisten, Bas KITē melaju di sepanjang sisi selatan Sungai Terengganu dan mendekat ke tujuan. Kini bus mulai melaju di atas jembatan penghubung Pulau Wan Man. Usai melintas jembatan itu, aku dihadapkan pada sebuah gerbang besar di muka Taman Tamadun Islam.
Taman Tamadun Islam adalah daya tarik penting di pulau buatan itu. Inilah theme park pertama di Malaysia yang memadukan konsep agama dan pariwisata, tentu Masjid Kristal menjadi salah satu bagian pentingnya. Sepanjang perjalanan melintas Taman Tamadun Islam, pengemudi Bas KITē menjelaskan bahwa di taman ini tersimpan replika-replika struktur Islam terbaik dari seluruh dunia seperti Taj Mahal, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin, dan Dome of the Rock, hanya saja aku tak punya waktu lagi untuk mengunjunginya.
“Masjid Kristal sudah dekat….Sayē akan berhenti dan tunggu kamu lima minit sahaje…Jika sudah selesai, kitē berangkat lagi”, pengemudi itu berbicara kepadaku sambil fokus di belakang kemudi.
“Baik, Pak Cik”, aku girang menjawab.
Bus perlahan melambat dan memasuki sebuah lahan parkir yang luas. Aku masih belum menyadari jika tempat ini adalah pemberhentian untuk destinasi wisata religi Masjid Kristal.
“Masjid Kristal ada di sebelah sanē”, pengemudi itu menunjuk ke sebuah arah.
“Baik, Pak Cik”, aku bergegas bangkit dan turun dari bus.
“Hitungan mundur lima menit sudah dimulai”, aku membatin, jantungku berdetak lebih cepat. Tak terpikirkan cara lain, kecuali berlari sekencang mungkin ke arah masjid.
Semakin jauh berlari, muka Masjid Kristal sudah terlihat dalam pandangan. Dan usai berlari melewati seorang pemuda lokal yang sedang sibuk mendokumentasikan masjid dengan tripodnya, aku mendadak berhenti.
Tanpa bercakap apapun, pemuda itu balik melempar senyum dan mengambil kameraku. Untuk beberapa saat, agendanya sedikit terganggu dengan ulahku yang kampungan itu.
Cekrek….
Usai mengucapkan terimakasih kepadanya, aku kembali berlari menuju masjid. Dalam satu menit aku pun tiba. Menghiraukan keramaian apapun, aku lebih memilih berdiri terpaku memperhatikan masjid yang sebagian besar bahannya terdiri dari baja dan kaca itu.
Aku terus menikmati masjid berkapasitas 1.500 jama’ah itu dari tepian Sungai Terengganu. Perpaduan warna hitam dan putih, menjadikan masjid berusia 13 tahun itu sangat anggun nan mempesona mata. Inilah masjid ‘pintar‘ pertama di Terengganu, keberadaan infrastruktur IT yang terintegrasi memungkinkan jama’ah bisa mengakses internet untuk membaca Al-Quran elektronik.
Masjid Kristal tampak depan.
Masjid Kristal tampak samping.
Sungai Terengganu yang indah.
Lima menit yang sangat berharga, tak menyangka bahwa dengan keterbatasan waktu, aku masih diperkenankan untuk mengunjungi Masjid Kristal.
Empat menit sudah berlalu….
Satu menit terakhir akan kugunakan untuk berlari kembali menuju Bas KITē. Aku tak mau pengemudi itu meninggalkanku dan membuatku semakin susah mendapatkan kendaraan umum untuk pulang menuju penginapan.
Kelegaan itu membuncah ketika Bas KITē masih berhenti dengan suara mesin yang langsam dan pengemudinya jelas melihat ke arahku sambil melambaikan tangan sebagai penanda bagiku untuk mempercepat lari.
“Hufffttt….Capek, Pak Cik”, aku melompat dari pintu depan.
“Hahahaha….Bagaimanē, elok kah Masjid Kristal tu?”, dia tertawa sembari pelan menginjak gas dan membiarkan bus melaju pelan.
“Bagus banget, Pak Cik”, aku terengah duduk di kursi paling depan sisi kiri.
Saatnya pulang….
Petualanganku hari itu telah usai….
Esok hari aku akan melakukan perjalanan darat nan panjang menuju Kuala Lumpur.
Tak lama setelah memasuki kamar bernomor 523 di The Azana Hotel Airport, aku bergegas memasuki kamar mandi, kemudian keluar dengan pakaian santai. Dari raut muka, aku tahu pak Muchlis sudah dilanda kelaparan. Karenanya sedari tadi, dia terus mengemil kacang tanah kemasan yang dibawanya dari tempat rehearsal.
“Ayo pak, kita jalan, cari makan!”, sahutku sembari mempersiapkan Canon EOS M10.
“Makan kemana kita, mas Donny?”, dia pun nampak belum punya pilihan.
“Mau gak pak ke Kampung Laut? Makan seafood yuk!”, ajakku kepadanya. Diam-diam, aku sudah menemukan restoran ini melalui browsing semenjak meninggalkan bandara tadi sore.
“Jauh ga, mas Donny?”, tanyanya. Mungkin dia enggan karena setahuku passion dia tak jauh-jauh dari naik gunung, melakukan eksplorasi kota membuatnya tersambar malas duluan.
“Engga pak, cuma enam kilometer kok, paling seperempat jam, pakyuk kita cabut!Keburu kemalaman.“, sahutku.
“Aku manut ae lah, Mas Donny. Aku sing pesen Grab, yo!”, ayuk lah berangkat.
Tak lama, Honda Jazz hitam menjemput di lobby, kami pun meluncur ke daerah Tawangsari. Yang kufahami, ini adalah jalur yang sama persis ketika aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport menuju The Azana Hotel Airport. Kami melewati Jalan Yos Sudarso lalu berbelok ke kiri mengikuti Jalan Puri Anjasmoro ke arah bandara. Hanya saja kami akan berhenti sekitar dua kilometer sebelum benar-benar tiba di bandara.
Sampailah kami di Restoran Kampung Laut.
Bersama Pak Muchlis di Kampung Laut.
Begitu sampai di tujuan, aku menjadi lupa lapar. Pemandangan seisi restoran membuat hasrat eksplorasiku kambuh. Aku minta Pak Muchlis untuk mencari bangku, kulihat sejenak menu di sebuah meja, kemudian aku minta dipesankan nasi putih, cumi asam manis dan es kelapa muda.
“Aku keliling bentar ya pak, nanti kabari aku duduk dimananya ya!”, pintaku sedikit bergegas.
“Aku duduk di tengah situ aja ya mas, tak tunggu!”, dia menunjuk meja kecil di ruang terbuka di sisi barat saung utama.
“Baik pak”, aku menutup percakapan cepat kami.
Aku meninggalkannya untuk menelusuri beberapa spot di restoran yang didesain mengapung diatas danau buatan itu. Aku mulai memasuki bagian pertamanya yang berwujud delapan saung utama, empat di sisi kiri dan sisanya di sisi kanan. Meja-meja memanjang dengan puluhan kursi nampak disusun di bawah saung-saung itu, sebagai tanda bahwa saung tersebut digunakan untuk melayani pengunjung dalam jumlah banyak. Tampaknya pak Muchlis sudah tepat memilih bangku kecil di pelataran luar.
Jajaran saung dengan kolam di hadapannya.
Meja makan panjang di dalam saung….Cocok untuk makan bersama sekantor.
Sementara di bagian ujung barat, tampak anjungan panjang menuju ke sebuah nameboard “Kampung Laut” yang sengaja didesain untuk tempat berfoto para pengunjung seusai makan. Konsep yang menarik anak-anak muda untuk berkunjung ke sini.
Spot foto terbaik di Kampung Laut.
Tak lama kemudian, aku segera bergabung dengan Pak Muchlis untuk bersantap malam setelah dia mengirimkan pesan singkat “Makanan sudah siap, mas Donny. Ayo kesini!”.
Yuk mari, makan duyuuu….
Meja makan outdoor.
Menu kami: Kangkung, cumi, ikan, es kelapa muda dan jus alpukat….Standard….Hahahaha.
Seusai makan, aku berbincang perihal rehearsal siang tadi yang dilakukan Pak Muchlis tanpa bantuanku. Apakah ada yang kurang, apa yang bisa dipersiapkan lagi sebelum pelatihan esok hari. “Wes beres kabeh mas Donny, ndak perlu khawatir. Yang penting besok kita datang setengah jam sebelum acara yo!”, ucapnya singakat dan meyakinkan.
Sebelum menutup makan malam di Restoran Kampung Laut, kami berdiri di depan stage mungil dan menikmati beberapa lagu yang dibawakan oleh seorang biduan cantik. Wah kalau ada waktu banyak, pasti aku ikut nyayi tuh bersamanya, sayang dia sedang menyanyikan beberapa lagu request dari pengunjung restoran.
Lagu apa ya enaknya kalau duet sama si mbak…..”Yellow” atau “Tiwas Tresno”.
Tepat pukul 21:30, kami undur diri dan segera menuju ke hotel untuk beristirahat. Dengan sigap Pak Muchlis mendatangkan taksi online berwujud Wuling Confero berwarna putih. Inilah pertama kalinya aku merasakan sensasi menunggang kuda besi buatan Tiongkok itu. Hmmhhh….Cukup lega. “Ini pakai mesin Chevrolet lho mas”, ungkap si pengemudi membanggakan mobilnya. Woow…..Kalau mendengar kata “Chevrolet”, bayangan pertama yang muncul di pikirankau adalah si kuning “Bumblebee”.
Eittt lupa, sebelum benar-benar meninggalkan restoran, buat kamu yang ingin berbelanja batik, disediakan gerai “Kampung Batik” yang menjual batik khas Semarang.
Aku terduduk dan intens mengawasi lalu lalang kendaraan di Jalan Batu Buruk dari bawah pokok Rhu ketika para jama’ah shalat Dzuhur mulai berdatangan. Beberapa dari mereka tersenyum melihatku yang masih saja duduk mengampar di hamparan rumput Bazaar Ramadhan Masjid Terapung.
Beberapa menit setelah iqamah dikumandangkan, bus yang kutunggu mulai memperlihatkan badan hidungnya di gerbang masuk. Bas KITē itu tak mengurangi kecepatan rupanya, mendadak merapat cepat di depan jembatan utara.
Aku gelagapan, bangkit, memasukkan lembaran itinerary yang tadinya kujadikan alas duduk ke dalam folding bag dan mulai berlari sekencang-kencangnya mengejar Bas KITē yang sudah berhenti dan selesai menurunkan penumpang. “Gawat kalau aku terlewat”, aku menahan nafas dan melaju sekencang mungkin.
“Laju….Ayo, laju abang”, seorang ibu yang berjalan dengan payungnya menyemangatiku. Aku hanya bisa berlari sambil berusaha menyisakan senyuman untuknya.
Bas KITē yang awalnya sempat melaju pelan akhirnya melambatkan putaran roda, sepertinya si pengemudi melihatku berlari dari kaca spion. Aku memang berusaha menampakkan diri di kaca spion dan berlari sembari melambaikan tangan. Beruntung bagiku, pengemudi Bas KITē itu menyadari keberadaanku.
Aku melompat naik dari pintu depan…..
“Oh, abang….Kirain sudah pergi ke tempat lain”, pengemudi itu masih menghafal rautku rupanya.
“Belum, Pak Cik….Saya menunggu bus dari tadi”, aku terengah-engah dan menyerahkan uang 3 Ringgit sembari mencoba tetap tersenyum ramah.
Kini aku duduk di barisan bangku nomor enam dan berusaha mendinginkan gerahnya badan tepat di bawah mesin pendingin lalu berusaha kembali menikmati perjalanan menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
Meninggalkan Masjid Tengku Tengah Zaharah, pada mulanya Bas KITē bergerak menuju selatan, bus mengantarkan penumpang menuju destinasi penting, yaitu Noor Arfa Craft Complex yang merupakan outlet kerjainan tangan terkenal di Kuala Terengganu. Usai menurunkan dan mengambil penumpang, Bas KITē kembali melaju ke utara menyusuri Jalan Batu Buruk, menyeberangi Jembatan Kuala Ibai dan melintas kembali Masjid Tengku Tengah Zaharah yang masih saja terlihat anggun walau dipandang dari kejauhan.
Noor Arfa Craft Complex di tepian Jalan Permin Jaya.
Menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
Kedai Makan Stesen Teksi (warga lokal menyebutnya Kedai Kak Na).
Menjelang pukul tiga sore, Bas KITē akhirnya tiba di Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu yang berjarak delapan kilometer dari Masjid Tengku Tengah Zaharah.
Tetapi aku tiba di terminal bus dalam kondisi diserang lapar. Aku tetap berusaha tenang, karena sedari kemarin sore ketika usai bersantap di kantin terminal, aku melihat keberadaan kedai nasi di sebuah pangkalan taksi yang ramai pengunjung. “Makanan di kedai itu pasti enak”, sore itu aku menyimpulkan. Aku sudah menandai kedai itu dan kini saat yang tepat bagiku untuk mengunjungi dan bersantap siang di sana.
Kedai itu tak berubah dari kemarin, benar-benar ramai pengunjung. Tidak hanya para pengemudi taksi, tetapi banyak pekerja kantoran hingga aparat keamanan dan tentara tampak mengantri untuk bisa makan di tempat itu. Sepertinya tempat itu memang tempat makan favorit dan terjangkau bagi warga lokal.
Aku sendiri mencoba menikmati seporsi nasi dengan potongan ayam yang kutambahkan beberapa lembar lalapan segar sebagai pengganti sayur, tampaknya lalapan itu tak berbayar.
Kedai nasi sederhana itu hanya bertempat duduk berbahan plastik tetapi memiliki keistimewaan sendiri karena si pelayan kedai adalah seorang gadis belia berjilbab dengan raut muka ayu khas Melayu. “Pantas saja kedai ini ramai”, aku tersenyum dalam hati.
Aku menikmati santap siang itu dengan sangat lahap. Selain lapar, masakan kedai ini memang terasa nikmat sekali. Aku mengakhiri makan siang dengan menyerahkan uang lima Ringgit kepada puan cantik si penjaga kedai makan.
Masih ada waktu 45 menit sebelum Bas KITē menuju Masjid Kristal berangkat….
Aku mencari mushola di dalam terminal dan memutuskan menjama’shalat. Taka da waktu lagi, karena aku akan terbentur dengan waktu maghrib ketika pulang dari Masjid Kristal nanti.
Bahkan usai shalat, waktu masih tersisa tiga puluh menit….
Kuputuskan untuk mengeksplore dalaman dari Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu dengan menaiki lantai duanya. Di Lantai dua, tampak berjajar kios yang sangat ramai dengan berbagai aktivitas berjualan barang dan jasa. Tetapi mayoritas tampak didominasi oleh kios baju dan jasa tukang jahit kain.
Sementara pemandangan ke arah bawah tampak lebih elok daripada sapuan mata ketika aku berada di bawah. Tampak sisi kiri depan terminal didominasi oleh area parkir taksi. Sedangkan sisi depan kanan terparkir rapi beberapa Bas KITē yang sedari pagi tadi berjasa mengantarkanku berkeliling kota. Di sisi lain, siang itu, bus-bus antar negara bagian mulai bergeliat dan perlahan berdatangan demi mangambil penumpang untuk dibawa keluar kota.
Setengah jam menjelalah setiap sisi Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu membuatku bisa mengenal lebih dekat terminal bus andalan Kuala Terengganu itu.
Bagian belakang terminal.
Kios di lantai 2 Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
Bangku tunggu beton di sebelah platform.
Sisi kanan depan (tamak Bas KITē berbagai laluan)
Sisi kiri depan (tampak bus antar negara bagian yang siap berangkat).
Platform bus.
Kios-kios di sisi kiri depan terminal.
Sudah jam tiga sore….
Saatnya berangkat ke Masjid Kristal….
Tapi kini aku berada dalam masalah besar. Ini adalah Bas KITē laluan C02 trip terakhir, artinya sesampainya di Masjid Kristal, maka aku harus pulang ke penginapan menggunakan taksi….”Hmmh, mahal”, aku terus berfikir….
Aku harus mengakali keterbatasan yang tak menguntungkan ini……