Category: Asia
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku meninggalkan Distrik Jung menggunakan Seoul Metro Line 4 menuju Stasiun Hongik University yang berjarak sepuluh kilometer. Aku harus menaruh tentengan plastik di Kimchee Guesthouse Sinchon. Melakukan eksplorasi dengan menenteng plastik hitam hanya akan membuat wajahku semakin kampungan saja. Dalam tiga puluh menit aku tiba. Tanpa sempat duduk sejenak, aku langsung saja meninggalkan…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tak seperti sebelumnya, kini aku begitu ripuh mencari bus dari Namdaemun Market demi menuju destinasi berikutnya, Myeong-dong. Mencari segenap papan rute di halte sekitaran Namdaemun Market, tetap saja aku tak menemukan petunjuk apapun. Terpaan angin dingin akhirnya menggiringku ke bawah tanah. Yup, aku kini berderap di koridor Stasiun Hoehyeon, mencari platform demi menuju…
-
Mr. Tirtha still accompanied me to speak, we leaned back in his tiny taxi while observing the bustle around Tourist Bus Park. Several hawkers took turn getting on and off in all small sized-buses offering their wares. A while later, Mr. Tirtha widely spread his arms and we lightly hugged as a substitute for saying…
-
<—-Kisah Sebelumnya Beberapa saat setelah seruputan kopi terakhir di cangkir kertasku, bus biru langit bernomor 402 itu tiba. Tak langsung menuju platform halte. Ternyata sang sopir turun dan berburu kopi di G-25 minimarket, tempatku mendapatkan kopi hitam beberapa saat sebelumnya. Aku sudah berdiri di depan bus ketika dia mendekat sembari memegang kopi panasnya.”*&^%$#@!()<>”, entah apa…
-
<—-Kisah Sebelumnya Sepulang dari Banpo Bridge di Distrik Seocho, aku langsung bergegas tidur demi menyiapkan diri untuk petualangan esok hari. Esok adalah kesempatanku terakhir kali untuk menikmati Seoul karena lusa hari aku harus bertolak ke tanah air. Huhuhu….Sedih —-****—- Sinar matahari pagi menyeruak melewati jendela di tembok miring kamar. Jarum jam telah melewati angka delapan.…
-
<—-Kisah Sebelumnya Untung aku tak tenggelam dalam pulasnya tidur siang di Kimchee Guesthouse Sinchon. Lewat sedikit dari jam lima sore aku terbangun. Segera membongkar isi backpack, aku mencari toiletries bag dan microfiber towel untuk keperluan mandi pertamaku sejak 35 jam yang lalu. Aku sengaja berlama-lama mengguyur diri dengan air hangat walaupun aku tahu ada seorang…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku masih saja bediri termangu di utara alun-alun untuk menikmati kegagahan Gwanghwamun Gate , gerbang enam abad milik Istana Gyeongbok. Alun-alun Gwanghwamun dengan dasar batuan andesit serta paduan hijaunya rumput taman tampak mulai dipenuhi oleh arus kunjungan para pelancong. Selain patung Admiral Yi Sunshin, patung emas Raja Sejong yang Agung-sang raja keempat Dinasti…
-
Before I really finished descending Anadu Hill, I stopped at a shop. A grocery store which sell some snacks, mineral waters, as well as soft alcoholic drinks. A small shop which spread smell of coffee aroma from the roasting stove at right. “Himalayan coffee bean”, said the seller when I watched how he roasted coffees.…
-
<—-Kisah Sebelumnya Hampir tengah hari ketika aku perlahan menuruni gang demi gang Bukchon Hanok Village. Melangkah di sela-sela bangunan tradisional asli Korea seolah melemparku ke masa lalu, masa dimana Dinasti Joseon sedang menikmati era keemasannya. Beberapa saat kemudian, langkahku sudah menyejajari ruas Bukchon-ro Avenue. Aku melangkah santai menikmati sejuknya udara tengah hari Seoul sembari sesekali…
-
“Preparing your leg to climb Anadu Hill!“, Said Mr. Tirtha while clenching his right fist forward. Yes I knew. At the end of that time, I had to conquer hundreds of steps to enjoying the beauty of 47 years old pagoda, one of eighty pagodas of peace which scattered all over earth. Riding northwest, the…