Bertaruh Resiko di Busan Central Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang.

Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya.

Brengsek….Ini pasti  kelakuan lelaki asal Tiongkok yang beberapa menit lalu berpapasan denganku di pintu kamar mandi bersama.

Sontak aku menuju ke kamar mandi lain yang berada dua lantai di atasku. Aku sudah tak bernafsu mandi di kamar mandi itu walaupun masih tersedia beberapa shower room lagi. Di kamar mandi atas, kondisi lebih bersih, mungkin para tamu enggan bersusah payah naik ke atas. Gegara peristiwa tadi, sakit perutku mendadak hilang. Aku lebih memilih langsung menuju shower room untuk menyiram badan dengan air hangat.

Olala….Ternyata aku sama brengseknya…..

Seusai mandi, aku berlama-lama di depan wastafel untuk mengeringkan t-shirt dan kaos kaki dengan hair dryer, hingga betul-betul kering. “Ah, bodo amat. Ndak ada orang. Guwe kan juga bayar”, suara setan di batinku membisik. Maklum dalam petualangan kali ini, aku mulai menerapkan taktik membawa dua pasang kaos kaki. Aku akan membasuh dan mengeringkan kaos kaki yang tak terpakai untuk persiapan penggunaan berikutnya.

—-****—-

Pagi itu aku bangun tepat waktu. Seusai Shalat Subuh , aku tak lagi tertidur. Aku lebih memilih membuka lembaran itinerary sembari menunggu hari terang. Ketika matahari mulai hadir, aku mulai meninggalkan Kimchee Busan Guesthouse seusai mandi, mengingat penginapan ini tak menyediakan sarapan seala kadar untuk kelas dormitory.

Aku keluar dari gang penginapan, dan menyusur Jalan Hwangnyeong-daero menuju ke barat, ke Stasiun Beomnaegol untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tentu aku harus bersarapan dulu sebelum menaiki Humetro. Aku berhenti pada CU minimarket untuk kemudian memasukinya dan berburu sarapan di dalamnya. Aku menemukan segenggam nasi berisikan jagung di sebuah rak khusus makanan, menuju kasir, membayarnya dan kemudian menyantapnya di sebuah bangku di sisi dalam minimarket.

Tak lama aku menyantapnya. AKu segera memasuki ruangan stasiun dan mencari keberadaan ticketing vending machine untuk membeli one day pass, lalu menuju platform usai menggenggam selembar one day pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Kali ini aku akan menuju ke Busan Central Bus Terminal demi mencari tiket bus menuju ke Seoul malam nanti. Humetro Line 1 (Orange Line) berdecit lembut menghentikan laju di platform. Aku segera duduk di salah satu bangku di gerbong setengah kosong untuk kemudian mengikuti arus kereta menuju Stasiun Nopo, yaitu stasiun dimana Busan Central Bus Terminal diintegrasikan. Aku tiba dalam 45 menit.

Keluar dari gerbong aku mencari petunjuk yang bisa mengarahkanku menuju terminal itu. Tak sulit menemukannya. Sebuah petunjuk yang kemudian menyambung dengan petunjuk selanjutnya mengarahkanku hingga tiba di Busan Central Bus Terminal.

Konter penjualan tiket Busan Central Bus Terminal.

Hello, Miss. How much is a ticket to Seoul? “Aku bertanya kepada staff penjualan tiket di deretan memanjang ticketing counter.

32,000 Won, Sir. The bus will depart on around 16:00 hours”.

Miss, What is the cheapest price and what time does the bus depart?”, aku blak-blakan mengingat kantongku mulai menipis.

23,000 won and bus will depart on 20:30, Sir”.

Okay, Wait Miss“.

Aku meninggalkannya dan duduk di kursi tunggu. Aku mulai berhitung, kalau aku berangkat cepat maka aku akan relatif aman karena akan tiba di Seoul sebelum malam. Tapi artinya aku harus menambah biaya untuk menyewa dormitory lebih cepat. Tentu akan mahal.

Kalau aku mengambil tiket malam, maka mau tidak mau, aku akan bermalam di terminal bus kota Seoul, sedikit beresiko, tetapi itu paling memungkinkan dengan keberadaan uangku yang semakin tergerus habis.

Bismillah…..aku beranjak dari tempat duduk dan kembali menghadap staff wanita tadi.

Yes, Ms. I take the night one”.

Ok, Sir

Aku menyerahkan uang kepadanya dan dia memberikan selembar tiket kepadaku untuk menuju Seoul.

Tiket bus Busan-Seoul seharga 23.000 Won (Rp. 290.000).

Okay, satu bagian penting telah kuselesaikan dengan cepat. Aku akan menghabiskan waktu tersisa di Busan hari ini.

Kisah Selanjutnya—->

Permainan Lampion di Gwangalli Beach

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir jam sembilan malam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Busan International Film Festival (BIFF) Square di daerah Nampo-dong. Aku mulai melangkah meninggalkan konter resmi UNIQLO di bilangan BIFF Gwangjang-ro dan kemudia berlanjut di jalan utama, Gudeok-ro. Seratus lima puluh meter di depan sana adalah Gate 7 Stasiun Jagalchi yang menjadi target langkahku untuk segera meninggalkan Distrik Jung.

Aku sudah menuju bawah tanah sepuluh menit kemudian. Di ruangan bawah tanah yang hangat, aku tak perlu bersusah payah untuk mencari ticketing vending machine karena aku masih menggenggam potongan kecil One Day Pass yang sudah kubeli sore tadi setiba di Busan. Melenggang melewati automatic fare collection gate aku menunggu kedatangan  Humetro Line 1 (Orange Line) di patform stasiun.

One Day Pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Humetro itu cepat sekali tiba, membuka pintu otomatisnya dan aku segera memasuki gerbong tengah. Terduduk di sebuah bangku, aku terus memperhatikan kesibukan seusai kerja warga Busan. Humetro perlahan merayap melalui jalur bawah tanah, menurunkanku di Stasiun Seomyeon setelah melewati sembilan stasiun, untuk kemudian aku berganti menggunakan Humetro Line 2 (Green Line). Dan serupa, setelah melewati sembilan stasiun aku tiba di Stasiun Gwangan di Distrik Suyeong. Tak terasa perjalanan menuju stasiun ini memakan waktu yang cukup lama, empat puluh lima menit.

Aku bergegas menuruni gerbong dan kembali merangsek ke permukaan menggunakan escalator. Kemudian mengambil arah keluar di Gate 5 Stasiun Gwangan yang dihadapkan langsung pada Gwangan-ro Avenue. Suhu udara jalanan sudah berada di level satu derajat Celcius.  Aku terpaksa berjalan dengan tubuh sesekali bergetar sepanjang tujuh ratus meter ke arah pantai. Keberadaan beberapa rombongan turis yang menuju ke arah yang sama, membuatku sedikit tenang, mengingat malam sudah hampir mendekati jam sepuluh.

Aku tiba di pantai dua puluh menit kemudian setelah berjalan kaki hampir tujuh ratus meter. Berdiri di tepi pantai sejauh mata memandang, bentangan bercahaya jembatan terpanjang kedua di Negeri Ginseng itu sungguh mempesona….Yups, itulah Gwangandaegyo Bridge, suspension bridge sepanjang tujuh setengah kilometer yang menghubungkan Distrik Haeundae dan Distrik Suyeong.

Gwangandaegyo Bridge.
Lampu hias yang meriah.

Kini aku telah berbaur dengan turis dan warga lokal lainnya menikmati suasana malam nan meriah di Gwangalli Beach. Aku terus mengamati pertunjukan warga mengudarakan lampion-lampion berukuran mini. Orang tua, kaum muda dan anak kecil hampir semuanya terhanyut dalam kemeriahan permainan itu.

Sementara sebagian yang lain tampak menikmati hiasan lampu berwujud berbagai macam fauna yang enak dipandang mata. Disisi lain pantai tampak berjejal bangunan bertingkat yang memberikan kesan bahwa area pantai telah tersentuh teknologi. Tetapi semua tampak bersih dengan lingkungan yang terjaga dan tertata.

Beberapa bangunan hotel di tepian pantai.
Hotel Aqua Palace.

Aku hanya mampu menahan dingin udara selama empat puluh lima menit. Pasti udara akan mendekat ke titik beku ketika malam mencapai puncaknya. Aku bergegas meninggalkan bibir pantai dan menuju ke stasiun kembali. Melangkah dengan cepat demi menghindari hawa dingin yang semakin menjadi, aku tiba di stasiun dengan nafas tersengal, lalu bergegas menuju platform dan beberapa menit kemudian Humetro membawaku, untuk kemudian menurunkanku di Stasiun Seomyeon. Humetro lantas mentransferku di Line 1 menuju Stasiun Beomnaegol, stasiun dimana hotel tempatku menginap berada….Yups, Kimchee Busan Guesthouse.

Kini tiba saatnya untuk beristirahat demi petualangan lanjutan esok hari.

Sejuta Tiga Ratus Ribu di Imigrasi Busan (2nd Edition)

<—-Kisah Sebelumnya

Segenap penumpang Air Busan BX 123 sudah berdiri di cabin aisle demi bersiap menuruni pesawat. Setelah salah satu pramugara berkoordinasi dengan ground staff, akhirnya juluran aerobridge menempel sempurna di badan pesawat dan pintu telah aman untuk dibuka. Tak lama kemudian, aku mengikuti langkah barisan penumpang di depan untuk keluar dari kabin.

Sepanjang menapaki aerobridge, kekhawatiranku tak seburuk seperti  saat aku memasuki Narita International Airport beberapa hari lalu. “Masak iya, sudah ke Jepang, ndak bisa masuk Korea”,  pikirku menenangkan diri. Aku terus melangkah dengan mantap melewati koridor demi koridor di arrival hall Gimhae International Airport Terminal 1. Terus mengikuti tengara menuju konter imigrasi. Setelah menemukannya maka aku segera menempel di ujung belakang salah satu baris antrian. Aku masih terlihat santai dan penuh senyum. Dan tak menyangka bahwa drama itu baru saja dimulai

Aku mengambil antrian paling kiri, para turis asal Tiongkok tampak mendominasi di depan. Mereka terlihat sangat lancar melewati staf imigrasi. “Sepertinya ini akan mudah”, akhirnya aku membuat kesimpulan. Aku kini berada di kepala antrian, menunggu seorang turis wanita Tiongkok menyelesaikan prosesnya di konter. Petugas laki-laki berkacamata itu dengan cepat memasukkan satu demi satu turis asal Tiongkok sedari tadi.

Neexxxtttt”….Dia memanggil dengan mata masih menatap layar komputer

Petugas Imigrasi     :     “Have you been to South Korea before?

Aku                              :     “Not yet sir, this is the first time

Imigrasi                      :     “Where did you visit before South Korea?

Aku                              :     “Malaysia, Taiwan and Japan, Sir

Dia mulai mengawasiku dengan tatapan curiga.

Imigrasi                      :     “Which other countries have you visited?”, dia menyodorkan sebuah kertas dan pena untukku menulis

Aku mulai menulis satu-persatu hingga tersalin sebelas baris tambahan nama negara yang pernah kusinggahi.

Tapi reaksinya sungguh di luar dugaan, dia hanya geleng-geleng kepala. Aku tak kalah berinisiatif ketika dia bersikap demikian. Dari dalam backpack, kukeluarkan passport lama yang telah terpotong salah satu covernya, “You can check it out here, sir”.

Imigrasi                      :     ”I don’t need this”, dia mendorong passport lama itu dengan telunjuk jarinya ke arahku sebagai pertanda dia tidak mau melihatnya

Alamaaattttttttt….”Dag dig dug”, jantungku mulai berdetak di atas ritme biasa.

Imigrasi                      :     ”Please take out your wallet!

Gertakan ringan itu membuatku terjongkok otomatis dengan tangan mengaduk-aduk isi backpack dengan imbuhan kepanikan. Aku mendapatkan dompet yang dimaksud dalam beberapa saat, memang dompetku kuletakkan di bagian paling dalam supaya aman.

Aku mulai berdiri dan menyodorkan dompet usang itu….Hmmhhh, dompet dengan kelupasan kulit pelapis di beberapa ujungnya. Membuatku pasrah tak berdaya. Petugas imigrasi itu mulai membuka dompetku dan menghitung setiap lembar isinya. Dia bergeleng kepala  ketika hanya menemukan uang kertas sebanyak  110.000 Won (Rp. 1.378.000).

Dia mulai berdiri dan beranjak keluar dari immigration counter box dan mulai menutup antrian dengan standing barrier dan menggantungkan tuilsan “CLOSE” di tengahnya. Segenap turis yang mengantri dibelakangku dimintanya berpindah ke antrian konter di sebelahnya. Setiap turis berpindah teratur sembari melihat dengan sedih atas kemalanganku, beberapa tampak heran penuh rasa ingin tahu.

Waduuhhh”, suara hatiku mulai kecut.

Petugas imigrasi itu segera melangkan memasuki konternya kembali dan menaruh dompetku di hadapannya. Dia mulai menatapku tajam.

Imigrasi                      :     ”Do you bring an ATM?

Aku                              :     “No, Sir”….Batinku menyanggah,”bukannya aku sudah punya Visa, kok dipermasalahin sih?”

Imigrasi                      :     “Credit Card?”

Aku                              :     “No, Sir”….Batinku kembali berguman, “Bukannya yang penting uangku cukup buat mengelana di Korea?”

Imigrasi                      :     “ID Card?”

Aku                              :     “No, Sir”….Kembali batinku melakukan perlawanan,”Bukannya ID Card bagi turis adalah passport?”

Imigrasi                      :     Menggelang tegas dengan muka merah, “Aiissshhhh….No ATM….No Credit Card….No ID Card….You only have a small amount of money…. You can’t stay in Korea

Aduh, Deportasi”, batinku memvonis diri seketika.

Imigrasi                      :     ”What do you do in your country?

Aku                              :     ”Marketing

Imigrasi                      :     “Show your business card!

Aku                              :     ”I don’t bring it, Sir

Imigrasi                      :     ” Aiissshhhh ….”

Dia mulai mengusap-usap kening dan matanya, tak percaya telah bertemu turis semacamku. Kini dia telah menutup passport. Dia berdiri kembali dan memanggil temannya. Dengan cepat temannya datang menghampiri dan mulai bercakap serius meninggalkanku yang sudah diambang deportasi.

Aku tak menahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas itu pasti tentangku. Kuperhatikan dia terus menggelengkan kepala dan temannya sesekali melihatku bak tersangka….Aahhh, suasana ini benar-benar tak mengenakkan dan membuatku gelisah. Tap aku mencoba sekuat mungkin menampilkan muka penuh ketenangan. Bahkan aku bersiap melakukan klarifikasi sebelum dia memutuskan apapun.

OK, dia telah usai berdialog dengan temannya dan duduk kembali di bangku konter imigrasi. Sebelum dia mengeluarkan sepatah katapun, aku mulai melakukan pledoi terakhir. Tak peduli apapun hasilnya….

Aku                              :     ” I have a return ticket, Air Asia 5th January, from Incheon to Jakarta. I will stay at Kimchee Guesthouse Busan and Kimchee Guesthouse Seoul….these are my itinerary and my budgeting during in Korea”, Aku memberikan lembaran itinerary dan budgeting padanya, Aku memang selalu menyusun keduanya setiap melakukan backpacking ke luar negeri.

Petugas imigrasi itu marah dan menempelkan telunjuk ke mulutnya….”Sssttttt”, pertanda dia memintaku untuk tidak banyak mengoceh di depannya. Tapi hal baiknya adalah dia mau membaca lembaran itinerary dan budgeting itu.

Aku                              :     ”Please Sir, I am just a backpacker…..just for sightseeing Korea this time….No more….Please…..I will go home….Believe me!”, aku mengemis memelas.

Petugas imigrasi itu kembali menatapku, kali ini benar-benar menatap mataku lekat-lekat, mungkin dia sedang menguji kejujuran. Sepertinya dia mulai menaruh rasa kasihan. Dia mulai membolak-balik setiap halaman passport baru dan passport lamaku yang sedetik lalu dia tarik dari hadapanku.

Imigrasi                      :     ”OK, You can….You can….But promise me to return to your country!…. Or you’re in big trouble

Cettoookkkk….Stempel arrival itu terbubuh jelas di passport….Oh, indah sekali momen itu.

Hadeeuuhhhh…Leegggaaaa banggeeetttt.

Inilah pelajaran berharga bahwa dikemudian hari nanti aku akan menjadi seorang backpacker yang lebih detail dan mempersiapkan sesuatu dengan sangat baik. Setelah insiden itu, aku selalu membawa kartu nama, KTP, Credit Card (walaupun limitnya kecil) dan ATM (meskipun isinya minim) setiap melakukan perjalanan ke negara orang.

Berkat persiapan yang baik, aku sangat terbantu dengan keberadaan kartu-kartu sakti itu ketika menghadapi random checking serupa di Woodlands Checkpoint di Singapura tujuh bulan setelah insiden ini.

Insiden telah usai, aku melangkah meninggalkan konter imigrasi dengan kemenangan.

Welcome Busan, Welcome South Korea!

Bersitatap Kagum: Air Busan BX 123 dari Osaka (KIX) ke Busan (PUS)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Busan BX 123 (sumber: https://flightaware.com/).

Air Busan adalah maskapai ke-16 dari 28 maskapai berbeda yang pernah kucicipi. Low Cost Carrier (LCC) dari Negeri Ginseng ini memiliki main hub di Gimhae International Airport. Bukan niatan mengunjungi Busan, tetapi karena harga tiket murah yang ditawarkan Air Busan lah yang membuatku memutuskan untuk singgah di Busan sebelum mencapai tujuan utama, yaitu Seoul, ibu kota Korea Selatan.

Aku sendiri mendapatkan tiket murah ini tujuh bulan sebelum keberangkatan dengan harga tak sampai Rp. 800.000.

Inilah kisahku menunggang maskapai dengan tiga warna branding, putih-biru-kuning…

—-****—-

 “Sorry, Sir….We don’t receive coin”, petugas KIX Currency Exchange berseru dengan senyum.

Oh, Okay…It’s no problem”, aku menarik kembali uang koin sembari menunggu hasil penukaran uang kertas.

Dia dengan gesit memencet beberapa tombol kalkulator kemudian menunjukkan angka di LCDnya kepadaku.

Yes, Sir….”, aku mengiyakan cepat.

Sukses menukar Yen dengan USD, kini misiku adalah menghabiskan uang koin untuk membeli bekal apapun yang bisa kujadikan sebagai makan siang, kalau perlu hingga makan malam….Parah kan?, bagaimana caraku berhemat.

Aku berhasil menemukan FamilyMart di sebuah selasar, memasukinya, berburu onigiri dan permen, menyudahinya dengan uang koin di kasir lalu membenamkannya dalam-dalam di backpack. Aku tak pernah meremehkan permen, dua butir permen bisa memenuhi 10% kalori seporsi makan orang dewasa, itu berarti bisa menahan lapar perut beberapa saat hingga menemukan warung makan yang murah. Kali ini aku tak berbasa-basi dengan berkeliling bandara, waktuku sempit, kuputuskan segera menuju konter check-in untuk bertukar e-ticket dengan boarding pass. Standar utama maskapai terhadap penumpang yang akan melintas negara berbeda adalah mengecek visa serta return ticket dari negara yang dituju. Tapi tak perlu khawatir, visaku sudah menempel sempurna di passport dan e-ticket Air Asia untuk pulang dari Korea Selatan juga telah kupesan.

Can you speak English, Sir”, petugas wanita konter check-in bertanya ringan.

Yes, sure Ms. I can

Do you want to sit in emergency exit row?”, dia meminta.

Oh, yes, with pleasure”, aku menjawabnya dengan gembira, kapan lagi bayar murah tapi dapat deretan kursi yang lebih lega.

Ok, thank you Sir

“You are welcome”.

Boarding pass dengan cepat kudapat. Menuju konter imigrasi, aku menyerahkan passport begitu tiba. Tahapan keluar dari sebuah negara adalah hal yang paling kusuka, karena cepat dan tanpa interogasi. Tentu petugas imigrasi akan senang dan terbantu jika tamu negaranya berdisiplin untuk keluar negaranya tepat waktu. Setelah mendapatkan stempel departure di passport, aku segera menuju gate untuk menunggu Air Busan yang sebentar lagi akan datang bahkan mungkin telah bersiap. Tiba tepat waktu, benar adanya, pesawat Airbus itu telah berdiri gagah di apron bersiap memasukkan segenap muatan.

Baording passku.
Nah, dikasih kupun 10.000 Won buat berjudi….”Judiii….Teeeeet….Menjanjikan Kemenangan”.

Menjelang pukul setengah sebelas, panggilan boarding memenuhi langit-langit bandara, Jalur antrian mulai dibuka dan beberapa ground staff mulai berbaris di gate untuk melakukan final checking kepada setiap penumpang. Aku melewatinya dengan mantap, menunjukkan boarding pass dan passport, kemudian diizinkan menuju ke pesawat. Aku merangsek melalui aerobridge lalu disambut dua pramugari berwajah khas Negeri Ginseng.

Annyeonghasimnika”, salah satu dari mereka bersalam senyum dengan sedikit membungkuk, meminta boarding pass, mengecek sebentar lalu mempersilahkanku mencari tempat duduk.

Gamsahamnida”, ahhh, hanya sedikit kosakata Korea yang kufaham. Aku mulai mencari bangku.

Aku duduk di aisle seat pada emergency exit row. Tak lama setelah tiga kolom bangku terisi, seorang pramugari datang menyapa. Pramugari itu menjelaskan dalam Bahsa Korea tentang peraturan di emergency exit row, maklum dua penumpang di sebelahku asli berkebangsaan Korea. Usai menjelaskan ke mereka berdua, kemudian pramugari itu kembali menjelaskan, kali ini dalam Bahasa Inggris, jelas itu untukku. Saat menjelaskan itu, kita berdua saling bersitatap. Sebab kejahilan hatiku saja, aku tak pernah mendengarkan peraturan yang diucapkannya, justru aku lebih fokus menikmati keayuan khas wajah Koreanya yang putih bersih. Aku faham, dia merasa kuperhatikan sehingga dia sesekali menjelaskan peraturan itu dengan senyum, dia semakin keki ketika aku membalasnya dengan seyuman dengan tetap bersitatap muka….Parah habis ya guwe.

I’m in the cabin.
Nah ntuh pintu daruratnya.

Setengah jam menyelesaikan boarding process, akhirnya juluran aerobridge mulai ditarik dari pintu pesawat, pramugari mulai menutup pintu rapat-rapat, penumpang mulai mengenakan sabuk pengaman, pesawat mulai meninggalkan apron sembari memamerkan demo keselamatan penerbangan oleh beberapa awak kabin. Demo itu usai ketika pesawat sudah di runaway dan bersiap take-off meninggalkan Kansai International Airport.

Flight attendants, please prepare for take off”, begitu kata terakhir dari kapten penerbangan yang memecah sunyi ruangan di kabin.

Pesawat itupun melakukan brake release, mesin berotasi dengan tenaga penuh, dan akhirnya airborne berlangsung dengan mulus, pesawat melaju dengan cepat meninggalkan Osaka. Aku cukup terkesima dengan pesawat ini karena inilah pertama kalinya bisa melihat keberadaan pesawat di atas peta bumi dalam sebidang LCD….Guwe kampungan emang.

Ketika tiba waktunya menyajikan in-flight meal, aku lebih memilih memasukkan makanan dan minuman kemasan itu ke dalam folding bag. “Buat makan siang saja lah”, gumamku dalam hati. Aku lebih memilih membaca dengan seksama inflight magazine untuk mencari informasi yang mungkin aja berguna untuk petualanganku di Korea Selatan.

Nih dia….Pengganti menu makan siang.

Tak terasa aku telah terbang selama 1 jam 30 menit dan pilot memberikan pengumunan kepada penumpang bahwa pesawat bersiap mendarat di Gimhae International Airport serta menginformasikan kondisi cuaca di Busan yang cerah. Tak berselang lama setelah pengumuman selesai, awak kabin segera memeriksa setiap sisi kabin dan penumpang untuk memastikan pendaratan berlangsung aman. Akhirnya pesawat mendarat mulus di landas pacu. Betapa bahagianya aku ketika untuk pertama kalinya tiba di Korea Selatan

Hmmhh….Aku sudah tak sabar mengeksplorasi Busan. Aku masih saja tak mampu membendung semburat senyum di wajah.

Aku masih saja tak menduga bahwa di dalam bangunan terminal bandara nanti, akan ada insiden serius yang menimpaku.

Alhamdulillah….

Selamat Datang Busan….Selamat Datang Korea Selatan.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Osaka ke Busan bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Busan International Film Festival Square … Origin of BIFF

IF….

Uncle Sam country has Sundance Film Festival

Great White North country has Toronto Film Festival

l’Hexagone Country has Cannes Film Festival

Then “The Land of the Morning Calm” also has same thing….i.e Busan International Film Festival.

Held every end of year i.e September or October, BIFF always introduces Asian newcomer directors with their first film. The festival which was first held 23 years ago has moved to Centum City in Haeundae-gu area.

This time, I wasn’t going to new BIFF homebase, but I would go along an area where became origin of BIFF, Nampo-dong. For remembering it then headed to BIFF Square.

My journey started from nearest station of Kimchee Busan Guesthouse i.e Beomnaegol MRT station using MRT Line 1 (Orange Line). After passed through 8 stations, I got off at Jagalchi MRT station. Other destination which can be visited near this station is Jagalchi Market (It selling a variety of seafood ) which is open from 5am to 10pm.

Out from exit gate, I’ve been greeted by street food stall. Because cold weather pierced bones, smoke which came out from furnace burning made MRT passengers stopped to eat hot food which sale by buyer.

I experienced a bit of disorientation. I confused in looking for BIFF Square Street, because all streets looked crowded. Finally I braved myself to approach a police officer who was on guard at police post. Patiently, He explained to me while pointing his finger left and right and spoke Korean….Even though I didn’t understand Korean, I though it was easy to understand his explanation.

BIFF street divides that place along 150 m. And when I visited it at night, it was easy to find street food stalls. These stalls form which liked mini house might aim to protect buyers from cold weather at night. It was arranged in a row in middle of road, making BIFF street became a culinary market at night.

Turned a bit to Gwangbok-ro street

I just tried a little bit of eating seafood in a stall, then I proceeded to find a portion of dinner food.

Because it was so hard to find food which suited with my tastes, finally I stopped by at a small food stall in a row of shops around BIFF Street. “Ahangeya” is name of that restaurant. I prefered to eat a beef rice bowl for USD 3,5.

Beside dining stalls, I also found many sellers of souvenirs, t-shirts and some electronic equipments. But my attention wasn’t fixed on that, I prefered to look for a winter jacket at UNIQLO shop.

For spare jacket….It was crazy, 12 days journey and just brought a jacket
for USD 35,5

Cold weather made me freeze.…I couldn’t stay there long and I decided to go back to guesthouse because tomorrow I would walk long and uphill to visit Gamcheon Culture Village.

So.…let’s sleep!

Clean and Modern.…Style of Kimchee Busan Guesthouse

Surely I never knew why this guesthouse was named Kimchee. All I know, kimchee or kimchi are Korean food made from fermented vegetables with various kinds of seasoning and ultimately its taste are spicy and sour. Perhaps this guesthouse will be a gathering place for travelers from various nations with same goal i.e enjoying uniqueness of South Korea.…It only my personal statement….hahaha

Dorm or dormitory have became general choice of backpackers in their journey. Apart offering minimum budget, dorm also offers an option to build network among backpackers who diverse in citizenship. This is very possible because in every dorm room will be filled 12-16 backpackers to sleep together.

This time, my choice was Kimchee Busan Guesthouse as my dorm during my adventure in Busan. The three things that be important concerns in choosing it are price, location and a good feedback rate.

I ordered it 4 months before departure, so I surely got best price. Guesthouse for USD 12,5 per night is located on Hwangnyeong-daero street. It’s about 270 meters from Beomnaegol MRT Station, so guesthouse can be reached by walk.

My arrival at guesthouse was warmly welcomed by a beautiful receptionist. After submitting passport and Won, I get access card to dorm room .

Beautiful receptionist
Receptionist room

For general guesthouse, it’s certainly an extraordinary thing because of elevator availability in it. As I know, a lot of dormes that I have stayed in required me to prepare my leg muscles to climb dozens of stair before reach the room.

Lift access to dorm room

Entering room, my fatigue paid off with spacious dorm room which consisting 10 beds with each locker provided near bed.

Dorm room

In this guesthouse, I firstly breathed fresh aroma of sojuoriginally Korean drink-. Even though I didn’t drink it, at least I knew its aroma, its form and how to drink it from my roommates.

My other funny activity was using hair dryer which provided in shared bathroom to dried my wet socks. It’s become a habit, I only carry 2 pairs of socks, no matter how long is my trip. Every two days, I will wash my socks which I use and dry them in any way.

Another good thing about this guesthouse is providing container to store guests backpacks and their other things. Usually, guests will save their backpack when they arrive earlier than check-in time or when their departure time to leave city is still far from check out time.

I left my backpack because my departure to Seoul was on a scheduled bus on 8pm while I checked out on 12pm.

Guesthouse also provides shelves and refrigerators to store guests foods…. Don’t take people’s food !….hahaha. Usually guests who stay a little longer in guesthouse will store their food here. Surely, I never use this facility because I just stay 2 nights in Busan.

Kimchee snack and Bar

Of course, you have your own taste in choosing hotel.…the important thing is our goals are same, guys.…i.e traveling. That’s it.

The Little One.…Busan Gimhae Light Rail Transit

Yes….Okay….

Yes….Okay…..

Only that 2 kinds of word which came out of my mouth, I didn’t really listen flight attendant explained security procedures at emergency exit. I exactly fascinated to her Korean beauty face. I still stunned to enjoy her beauty until he ended her explanation with a smile … Certainly, I gave her my smile as sweet as possible … hahaha.

1 hour 30 minutes flight became a thrilling journey because I had bad feeling for Busan immigration checking later.

And it finally true.… I was interrogated by immigration officer for 1 hour.

Scary interrogation at immigration counter made my tongue feel bitter when tasting piece by piece a pie which I got from Busan Air flight.

Later, this story would make me change 180 degrees when I prepared my documents for traveling. I became a very perfectionist person in preparation.

I got out from Gimhae International Airport with a disheveled face but that happiness was unable to deeply hidden. This was my first time in visiting South Korea.

2 degree Celcius weather made me rush to look for existence of LRT station. I quickly found it on right side of airport exit gate.

I touched all buttons in automatic machine to get Busan Gimhae Light Rail Transit token.

Waiting for LRT arrival with big curiosity about what will happen next in every second of my adventure in Busan.

Shortly waiting, LRT arrived.

Surely, My first destination was dormitory where I stayed in Busan. I would go to Kimchee Busan Guesthouse on Hwangnyeong-daero Street.

Stopped at Sasang station as LRT last station, I switched to using Humetro(the name for Busan Subway) green line.

In this Humetro. I saw a Indonesian face. Occasionally he saw me, so did I. Sometime he smiled, so did I.

I decided to approache him.

Conversation was unavoidable. It’s true, he is an Indonesian professionalis who working in Busan. From him, I got information that citizens of Busan isn’t open as Seoul. So I would understand what will occur with my interaction with local people in Busan.

Conversation stopped when I had to get off at Seomyeon Station for change to Humetro orange lane. It only took one station in distance then I got down at Beomnaegol station – station where my guesthouse located -.

It wasn’t easy to find this guesthouse location, I had strayed more than half an hour in midst of very cold temperature and it almost made me panic before finally I found it after ask to GS25 minimarket staff.

Finally I check-ed in to Kimchee Busan Guesthouse.

Busan International Film Festival Square…Asal Muasal BIFF

<—-Kisah Sebelumnya

Jika….

Negara Paman Sam memiliki Sundance Film Festival

Negeri Pecahan Es mempunyai Toronto Film Festival

Atau Negara Kota Mode tersohor dengan Cannes Film Festivalnya

Maka Negeri Ginseng juga memiliki hal yang sama….Busan International Film Festival.

Diselenggarakan di sekitar akhir tahun yaitu September atau Oktober, BIFF selalu memperkenalkan sutradara-sutradara pendatang baru Asia dengan karya pertamanya. Festival yang dibuka pertama kali pada 23 tahun lalu, kini telah berpindah tempat ke Centum City di daerah Haeundae-gu.

Kali ini Aku tak menuju ke new homebase nya  BIFF, tetapi Aku akan menyusuri sebuah daerah yang menjadi cikal bakal BIFF yaitu Nampo-dong. Kemudian, untuk menapak tilas asal muasal BIFF maka Aku menuju ke BIFF Square.

Perjalanan dimulai dari stasiun terdekat dari Kimchee Busan Guesthouse  yaitu stasiun MRT Beomnaegol menggunakan MRT Line 1 (Orange Line). Setelah melawati 8 stasiun, Aku turun di stasiun MRT Jagalchi. Satu destinasi lain yang bisa dikunjungi di dekat stasiun ini adalah Jagalchi Market (menjual beragam seafood) yang buka dari jam 5 pagi hingga 10 malam.

Keluar dari exit gate, Aku sudah disambut oleh pedangang street food  tepat di pintu keluar stasiun. Karena udara dingin menusuk tulang, asap yang keluar dari pembakaran tungku itu membuat para penumpang MRT rela berhenti sejenak untuk sekedar memakan makanan hangat yang dijual pembeli itu.

Aku sedikit mengalamai disorientasi kali ini, bingung mencari jalan BIFF Square, karena semua jalan terlihat ramai. Akhirnya kuberanikan diri untuk menghampiri pak polisi yang sedang berjaga di pos polisi lalu lintas. Dengan sabar, Dia menjelaskan arah kepadaku sembari menunjukkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan bahasa Korea…..Walau tak mengerti bahasa Korea, Aku rasa cukup mudah memahami penjelasannya.

Jalan BIFF membelah tempat itu sepanjang 150 m. Dan ketika Aku mengunjunginya di malam hari, sangat mudah menemui tenda-tenda street food. Tenda-tenda berbentuk rumah-rumah mini ini mungkin bertujuan melindungi si pembeli dari dinginnya udara Busan di malam hari. Tersusun berjajar di tengah jalan, menjadikan Jalan BIFF menjadi pasar kuliner dimalam hari.

Mengkol sedikit ke jalan Gwangbok-ro

Aku hanya sedikit mencoba memakan sate seafood di salah satu tenda, lalu Ku lanjutkan untuk mencari makan malam yang lebih sedikit nendang.

Karena begitu susah menemukan makanan berat yang sesuai dengan selera, akhirnya hinggaplah Aku di sebuah warung makan mungil di deretan pertokoan sekitar Jalan BIFF. ”Ahangeya” nama tempat itu. Aku lebih memilih makan beef rice bowl seharga 4.000 Won (Rp. 48.000).

Selain tenda-tenda makan, Aku juga menemukan banyak penjual pernak pernik souvenir, t-shirt dan beberapa peralatan elektronik. Tapi perhatianku tak tertuju pada itu, Aku lebih memilih untuk mencari jaket musim dingin di sebuah konter penjualan Uniqlo di bilangan BIFF Square.

buat ganti jaket…masak iya jalan 12 hari hanya bawa 1 jaket
seharga Rp. 480.000

Hawa dingin membuatku tak kuasa menahan bekunya tubuh….Aku tak bisa berlama-lama disini, dan kuputuskan untuk menuju destinasi berikutnya.

So…..kemanakah?

Bersih dan Modern….Gaya dari Kimchee Busan Guesthouse

<—-Kisah Sebelumnya

Tentu Aku tak pernah tahu kenapa guesthouse ini diberi nama Kimchee. Yang hanya Ku tahu, kimchee atau kimchi adalah makanan khas Korea yang terbuat dari sayuran yang difermentasi dengan aneka macam bumbu yang pada akhirnya berasa pedas dan asam. Mungkin guesthouse ini akan menjadi tempat berkumpulnya para pengelana dari beraneka macam bangsa dengan tujuan sama yaitu menikmati keunikan Korea…..halah, ngawur nih statement.

Dorm atau dormitory sudah menjadi pilihan umum kaum backpacker dalam berkelana. Selain menawarkan keamanan budget, dorm juga menawarkan satu opsi untuk membuat jaringan antar backpacker yang beragam kewarganegaraannya. Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena di setiap dorm room akan diisi 12-16 backpacker untuk tidur bersama….hushhh, di ranjangnya masing-masing maksud Saya.

Kali ini pilihanku jatuh pada Kimchee Busan Guesthouse sebagai tempat bernaung selama berpetualang di Busan. Tiga hal yang menjadi concern penting dalam memilihnya adalah harga, lokasi dan feedback ratenya yang bagus.

Aku sudah memesannya 4 bulan sebelum keberangkatan, sehingga kupastikan Aku mendapatkan harga terbaik. Guesthouse seharga Rp. 180.000 (KRW 15.000) terletak di jalan Hwangnyeong-daero. Berjarak sekitar 270 meter dari Stasiun MRT Beomnaegol sehingga guesthouse ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kedatanganku di guesthouse disambut hangat dengan resepsionis cantik. Setelah menyerahkan passport dan Won, Aku mendapatkan access card menuju dorm room.

Si resepsionis cantik
Ruang resepsionis

Untuk ukuran guesthouse tentu menjadi hal yang luar biasa karena ketersediaan lift di dalamnya. Tak seperti banyak dorm yang pernah kusinggahi dimana Aku harus menyiapkan otot kaki untuk menaiki puluhan anak tangga sebelum menuju ke kamar.

akses lift menuju dorm room

Memasuki kamar, kelelahan itu terbayar dengan leganya ruangan dorm yang terdiri dari 10 bed dengan masing-masing loker yang telah disediakan disebelah bed.

Dorm room

Di guesthouse inilah, Aku pertama kalinya menghirup segarnya aroma Soju –minuman khas Korea-. Walaupun Aku tak meminumnya, setidaknya Aku tahu aroma dan wujudnya serta bagaimana cara meminum Soju dari teman-teman sekamarku.

Keisenganku yang lain adalah menggunakan hair dryer yang disediakan di shared bathroom untuk mengeringkan kaos kaki basahku. Sudah menjadi kebiasaan, Aku hanya membawa 2 pasang kaos kaki, tak peduli seberapa panjang perjalananku. Setiap dua hari Aku akan mencuci kaos kaki yang kugunakan dan kukeringkan dengan cara apapun.

Hal baik lain dari guesthouse ini adalah menyediakan container untuk menyimpan backpack dan barang-barang lain yang dititipkan oleh penginap. Biasanya penginap akan meyimpan backpacknya ketika mereka datang lebih awal dari waktu check-in atau akan meninggalkan kota ketika jam keberangkatan mereka masih jauh dari waktu check-out.

Aku pun menitipkan backpackku karena keberangkatanku ke Seoul menggunakan bus terjadwal pukul 8pm sedangkan Aku waktu check-out ku pukul 12pm

Guesthouse juga menyediakan rak dan kulkas untuk menyimpan makanan para penginap….awas, jangan ambil makanan orang ya….hehehe. Biasanya penginap yang sedikit lebih lama tinggal di guesthouse akan menyimpan makanannya disini. Wah kalau Aku dipastikan ga pernah menggunakan fasilitas ini.

Kimchee snack and Bar

Tentu Kamu memiliki selera tersendiri dalam memilih penginapan…..yang penting tujuan kita sama, guys….jalan-jalan. That’s it.

Kisah Selanjutnya—->

Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

<—-Kisah Sebelumnya

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Kisah Selanjutnya—->