Category: Central Asia
-
<—-Kisah Sebelumnya Gemeretak gigi mengiringi langkahku meninggalkan Almaty International Airport. Gentar mulai menggoda nyali, membuat imajinasiku menuju Tahar Hotel menjadi sulit. Dalam gulita malam, aku membalikkan badan, mengamati sejenak keindahan bangunan terminal bandara yang sedari beberapa bulan sebelumnya hanya bisa aku kagumi dari halaman muka berbagai web pariwisata internasional. Nameboard dengan aksara Kiril itu menjadi…
-
<—-Kisah Sebelumnya Hampir pukul empat sore…. Sebuah layar LCD mungil milik bandara memperlihatkan suhu luar ruangan yang telah menyentuh minus 7o Celcius, suhu yang menyiutkan nyali siapapun yang berasal dari daerah dua musim sepertiku. Aku berjalan penuh ketergesaan di sepanjang conveyor belt-baggage claim Almaty International Airport. Selanjutnya menuju exit gate sembari mengamati kesibukan para pelancong…
-
<—-Kisah Sebelumnya Pramugari telah membuka pintu kabin bagian depan dan juluran aerobridge telah menempel di badan pesawat. Aku berdiri dari tempat duduk bernomor 15C, merengkuh backpack di kompartemen bagasi di atas dan bersiap diri untuk keluar dari kabin. Tepat pukul setengah empat sore…. Aku akhirnya menginjakkan kaki di bangunan terminal Almaty International Airport, bandara terbesar…
-
Aku turun dari bus berkelir hijau setelah setengah jam lamanya menaikinya dari pusat kota Tashkent. Bus kota bernomor 67 itu ternyata tak mengantarkan segenap penumpangnya hingga drop off zone, melainkan hanya pada pemberhentian tunggalnya, yaitu halte bandara. Maka untuk menghindari kesalahan memilih, aku memutuskan untuk bertanya kepada seorang pengendara taksi tentang keberadaan terminal internasional. “Where…
-
<—-Kisah Sebelumnya Memunggungi Stasiun Abdulla Qodiriy, aku berusaha menyembunyikan rasa pengecut yang muncul karena panik menghadapi suhu udara 1oC. Tanganku mulai kaku, nafas terasa berat, ditambah lapar yang mulai menyertai setiap ayunan langkah. Aku terus menatap ke depan ketika melangkah di sepanjang sisi timur Amir Temur Shoh Ko’chasi demi mencari perempatan terdekat untuk merubah haluan…
-
<—-Kisah Sebelumnya Langkahku menuruni anak tangga di gerbang Stasiun G’afur G’ulom terus diperhatikan oleh seorang wanita yang tampak cantik dalam balutan winter jacket berwarna pink, dia berhenti di tangga jeda demi berbicara dengan seseorang melalui telepon pintarnya. Aku paham bahwa wanita itu berdiri di tangga jeda juga untuk menghindari hawa dingin yang sore itu juga…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku melangkahkan kaki keluar dari kompleks Dhzuma Mosque, melewati deretan peminta-minta yang didominasi wanita dan anak-anak, kembali melintasi sisi timur pelataran Kukeldash Madrasah yang di penuhi lalu lalang para pelajar. Sama sepertiku, para pelajar itu baru saja usai menjalankan ibadah Shalat Dzuhur di Dhzuma Mosque. Turun di trotoar Navoiy Shoh Ko’chasi*1), menyusuri sisi…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tuan Khadirjon mendahului langkah, memimpinku menuju ke pelataran lain yang membentang di sisi selatan bangunan besar masjid berkubah hijau rumput. Memasuki gerbang masjid, dia berkali-kali disapa oleh anak-anak muda yang melintas. Aku yang berusaha terus menyejajari langkahnya, mulai menaruh rasa kagum yang sesungguhnya. “Pasti ini orang penting….Lebih dari perkiraanku sebelumnya”, aku sesekali mencuri…