Author: travelingpersecond

  • <—-Kisah Sebelumnya Air Busan adalah maskapai ke-16 dari 28 maskapai berbeda yang pernah kucicipi. Low Cost Carrier (LCC) dari Negeri Ginseng ini memiliki main hub di Gimhae International Airport. Bukan niatan mengunjungi Busan, tetapi karena harga tiket murah yang ditawarkan Air Busan lah yang membuatku memutuskan untuk singgah di Busan sebelum mencapai tujuan utama, yaitu…

  • <—-Kisah Sebelumnya Gagal check-in lebih cepat, kuputuskan tiga hingga empat jam ke depan untuk menjelajah area Senapelan, area dimana Kesultanan Siak Sri Indrapura pernah menggapai masa keemasannya. Aku mencoba menapak tilas sejarah kesultanan dengan melawat ke beberapa peninggalannya yang abadi hingga kini. Atas alasan itu, berangkatlah aku menuju Sungai Siak yang kesohorannya melegenda di Nusantara.…

  • <—-Previous Story Two slices of Serabi Notosuman were enough for me to enjoy this Solo’s typical culinary. After picking up a dozen others at cashier counter as souvenirs, I immediately left the shop for another souvenir shop, i.e Abon Mesran Mistopawiro Shop. An online taxi drove me to that souvenir shop in five minutes. Now…

  • <—-Kisah Sebelumnya Lelapan hari pertama tahun baru, masih membalut erat kedua mata. Membalas dendam kebekuan badan tadi malam saat perayaan malam pergantian tahun di Dōtonbori Canal dengan kehangatan selimut Hotel Kaga menjadi sesuatu yang kuanggap impas. Namun akhirnya, hanya satu hal yang mampu memaksa mata untuk tak lagi terpejam, yaitu penerbangan Air Busan BX 123…

  • <—-Previous Story Thai Airways TG 319 was perfectly parked in Tribhuvan International Airport’s apron at exactly 14:08 hours. There wasn’t aerobridge which greet me, one by one passengers descended the stairs on either side of plane door. Aviation security: “Hi, Sir….Please, directly stepping to airport building!“, While stepping closer while hold a handy talky and…

  • <—-Previous Story Enjoying local culinary delights is always an interesting thing for travelers. This type of culinary is a special attraction because it reflects culinary treasures of region in question. This time I would taste one more typical Solo culinary after I’ve tasted five of them. That morning, I decided to leave Alun-Alun Kidul (South…

  • <—-Kisah Sebelumnya Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves. Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL…

  • <—-Kisah Sebelumnya “Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga. “Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan. “See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum. Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku masih saja tak bergeming dengan tawaran para sopir taksi, sementara para penumpang Bus INTRA yang lain lebih memilih menggunakan jasa taksi menuju tujuan akhirnya di Pekanbaru. Beberapa waktu kemudian, dari seberang jalan, pengemudi ojek online melambaikan tangan kepadaku. Tentu dia tahu, aku memakai jaket biru dengan backpack berwarna sama. Aku telah mengirimkan…

  • <—-Previous Story My success in enjoying Tahok made my morning worthwhile because I could enjoy again one of many typical Solo City’s culinary. My third day in Batik City continued. The limit was this afternoon when I have to leave Solo City to return to capital city. Now I was standing back in front of…