Author: travelingpersecond

  • <—-Kisah Sebelumnya Memunggungi Stasiun Abdulla Qodiriy, aku berusaha menyembunyikan rasa pengecut yang muncul karena panik menghadapi suhu udara 1oC. Tanganku mulai kaku, nafas terasa berat, ditambah lapar yang mulai menyertai setiap ayunan langkah. Aku terus menatap ke depan ketika melangkah di sepanjang sisi timur Amir Temur Shoh Ko’chasi demi mencari perempatan terdekat untuk merubah haluan…

  • <—-Kisah Sebelumnya Langkahku menuruni anak tangga di gerbang Stasiun G’afur G’ulom terus diperhatikan oleh seorang wanita yang tampak cantik dalam balutan winter jacket berwarna pink, dia berhenti di tangga jeda demi berbicara dengan seseorang melalui telepon pintarnya. Aku paham bahwa wanita itu berdiri di tangga jeda juga untuk menghindari hawa dingin yang sore itu juga…

  • <—-Kisah Sebelumnya Udara mulai mendingin ketka aku bertolak dari Moyie Mubarek Library Museum, waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Langkah kakiku kali ini jelas, mengakhiri eksplorasi, menuju penginapan. Aku membuka aplikasi transportasi Kota Tashkent berbasis Android….Aplikasi itu bernama 3TM. Aku sendiri sudah mahir menggunakan aplikasi itu karena aku telah menginstallnya di telepon pintar sebulan sebelum…

  • <—-Kisah Sebelumnya Lewat pukul dua siang…. Aku memaksakan langkah menyeberangi pertigaan di hadapan. Abdulla Qodiriy Ko’chasi cukup sibuk siang itu. Aku menunggu giliran menyeberang dengan sabar, berdiri di bawah tiang lampu merah dengan ukuran yang tak cukup besar. Beberapa saat menunggu, lampu merah berganti hijau, untuk kemudian aku mulai melangkah menapaki jalur penyeberangan yang tak…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku melangkahkan kaki keluar dari kompleks Dhzuma Mosque, melewati deretan peminta-minta yang didominasi wanita dan anak-anak, kembali melintasi sisi timur pelataran Kukeldash Madrasah yang di penuhi lalu lalang para pelajar. Sama sepertiku, para pelajar itu baru saja usai menjalankan ibadah Shalat Dzuhur di Dhzuma Mosque. Turun di trotoar Navoiy Shoh Ko’chasi*1), menyusuri sisi…

  • <—-Kisah Sebelumnya Tuan Khadirjon mendahului langkah, memimpinku menuju ke pelataran lain yang membentang di sisi selatan bangunan besar masjid berkubah hijau rumput. Memasuki gerbang masjid, dia berkali-kali disapa oleh anak-anak muda yang melintas. Aku yang berusaha terus menyejajari langkahnya, mulai menaruh rasa kagum yang sesungguhnya. “Pasti ini orang penting….Lebih dari perkiraanku sebelumnya”, aku sesekali mencuri…

  • <—-Previous Story What I had to pay attention to was the feeling of heart that wasn’t satisfied yet in witnessing the busyness of the local fishermen who were absorbed in taking care of their catch. The sun had begun to slip from its highest point, slowly losing its sting, bowing to the twilight that begins…

  • <—-Previous Story The long wait to be present on the coast of Fort Kochi had paid off. In one jump down the orange KURTC Bus, I stood in the city built on mangroves. For a moment I stood motionless looking around, quickly adapting to the boisterous travelers at that famous destination in the State of…

  • <—-Previous Story After eating light snacks of Appam, Elai Adai, and Samosa, I completed my breakfast by slowly sipping hot Chai which kept my body warm after being exposed to the cold of the airport air conditioner all night. Chai’s last sip indicated that I had to get ready to head to the main destination…

  • <—-Previous Story Darkness was still overshadowing Kochi’s sky when the time pointed at six. Making my guts shrank for stepping towards the inn which was only one and a half kilometers away. I decided to still seated in the arrival hall’s waiting room at Cochin International Airport Terminal 3. But it turned out…. I was…