Author: travelingpersecond
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku lapar sekali sore itu…. Aku bergegas menuruni escalator demi escalator untuk menuju lantai 3 Terminal Bersepadu Selatan dan langsung memutuskan keluar melalui jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan. Setiba di depan deretan ticketing vending machine, aku segera mencari tiket menuju Stasiun Pasar Seni yang akan kutempuh menggunakan dua laluan kereta yang…
-
<—-Kisah Sebelumnya Menjelang maghrib aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan pasca mengarungi perjalanan delapan setengah jam dari Kuala Terengganu menggunakan jasa Bus Arwana. Inilah terminal raksasa di selatan kota yang menggantikan peran Terminal Bus Puduraya yang terletak di tengah kota. Malam itu, aku akan menginap di The Bed Station di daerah Pasar Seni, tapi aku…
-
<—-Kisah Sebelumnya Seperti adegan-adegan fiksi yang terjadi di terminal-terminal pemberangkatan, kali ini aku terharu ketika menyaksikan seorang perempuan muda beransel memeluk erat ibunya sembari menenteng travel bag besar. Dugaan termungkin adalah anak itu akan pergi jauh dari orang tuanya di Kuantan dan akan menuntut ilmu di ibu kota. Naiknya perempuan muda itu melalui pintu depan…
-
<—-Kisah Sebelumnya Membelakangi Klenteng Sam Poo Kong, pandanganku mengobrak-abrik area kantin. Berusaha menemukan Pak Muchlis sesegera mungkin. Aku harus menyeretnya ke Masjid Agung Jawa Tengah, bukan hanya untuk melakukan shalat jamak, tapi juga menggenapkan wisata religi sore itu setelah baru saja selesai mengitari klenteng. Kutemukan dia di sebuah pojok, dia terlihat nikmat menghisap asap tembakau.…
-
<—-Kisah Sebelumnya Sore hari….Jam enam kurang seperempat…. Aku duduk di kursi paling depan sisi kiri ketika Bas KITē perlahan meninggalkan kompleks Taman Tamadun Islam. Melalui jembatan penghubung satu-satunya, Bas KITē menyudahi putaran roda di atas Pulau Wan Man. Kini Bas KITē akan menuntaskan setengah perjalanan tersisa menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, sesampainya di…
-
<—-Kisah Sebelumnya Hampir pukul lima sore…. Aku masih menebak-nebak, siapakah gerangan, satu dari tiga pengemudi yang akan menjalankan trip terakhir Bas KITē laluan C02. Mereka sedang asyik bersenda gurau dan berbincang akrab di kedai kopi pojok terminal. Aku terus mengamati dari bangku tunggu di belakang antrian Bas KITē hingga akhirnya satu dari mereka beranjak…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tak lama setelah memasuki kamar bernomor 523 di The Azana Hotel Airport, aku bergegas memasuki kamar mandi, kemudian keluar dengan pakaian santai. Dari raut muka, aku tahu pak Muchlis sudah dilanda kelaparan. Karenanya sedari tadi, dia terus mengemil kacang tanah kemasan yang dibawanya dari tempat rehearsal. “Ayo pak, kita jalan, cari makan!”, sahutku…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku terduduk dan intens mengawasi lalu lalang kendaraan di Jalan Batu Buruk dari bawah pokok Rhu ketika para jama’ah shalat Dzuhur mulai berdatangan. Beberapa dari mereka tersenyum melihatku yang masih saja duduk mengampar di hamparan rumput Bazaar Ramadhan Masjid Terapung. Beberapa menit setelah iqamah dikumandangkan, bus yang kutunggu mulai memperlihatkan badan hidungnya di…