Menemui Sepi di Takeshita Street

Takeshita Exit Stasiun Harajuku.

Aku beringsut-ingsut meninggalkan Kanda River, memotong sebuah tikungan Chuo-dori Avenue, dan berbelok ke kanan melintasi Maidreamin, melintas cepat di jalanan selebar enam meter untuk segera tiba di Electronic Town South Exit milik Stasiun Akihabara.

Sampai jumpa lagi Akiba….

Sejenak aku menarik nafas panjang di dalam bangunan stasiun, membiarkan telapak tangan dan mukaku sedikit menghangat. Aku membiarkan arus penumpang yang terus mengalir di depanku, menepi pada sebuah dinding.

Sepuluh menit sudah aku bersembunyi di dalam stasiun dan tubuhku mulai menghangat. Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30. Aku bergegas menuju platform dan bersiap mengikuti kereta Yamanote Line melingkari Tokyo. Circle line ini akan menuju selatan sejauh sebelas kilometer, memasuki Distrik Shinagawa, tapi hanya melintasnya, untuk kemudian menekuk ke barat laut sejauh tujuh kilometer dan hinggap di Distrik Shibuya.

Ada Kuil Meiji Jingu dan Yoyogi Park di daerah itu. Tetapi tidak, ini sudah malam, aku akan mengunjungi salah satu venuenya esok hari. Kini aku menuju Takeshita Street, yaitu gang sepanjang tiga ratus lima puluh meter yang menjadi cermin muda-mudi Jepang dengan berbagai pakaian unik dan menarik. Sepanjang jalanan ini juga memanjakan wisatawan dengan spot-spot kuliner dan gerai-gerai fashion.

Tiga puluh lima menit semenjak aku meninggalkan Stasiun Akihabara, kini aku berdiri di Takeshita Exit milik Stasiun Harajuku. Dan tepat di seberang jalan adalah gerbang dengan nameboard bertajuk Takeshita Street dengan Jam LCD besar dibawahnya.

Sudah mulai sepi”, aku membatin. Aku bahkan telah telah terlambat satu jam semenjak Takeshita Street mulai menutup diri. Tapi tak mengapa….Lebih baik aku segera memasuki sisa keramaian dan menikmati apa yang tersisa di dalam gang selebar lima meter itu.

Gerai Santa Monica Crepes.
Hayuu….Siapa mau makan crepes yang terkenal ituh?
Gerbang timur Takeshita Street.

Aku melintas gerai besar Mc Donald’s yang pengunjung di dalamnya sudah mulai meninggalkan meja dan beranjak keluar. Aku terus melawan arus para pengunjung yang sudah beranjak meninggalkan Takeshita Street. Hanya ada sedikit keramaian yang kutemukan di gerai Santa Monica Crepes. Beberapa turis dan warga lokal tampak masih mengantri untuk mendapatkan kuliner paling terkenal di sepanjang Takeshita Street itu. Pengen tahu harga Crepes di sana? Terlihat dari sample Crepes yang dipajang, harganya berkisar antara 400-670 Yen per potong (itu sekitar  Rp. 55.000- 91.000). Apakah aku membelinya????.

Aku terus menyusuri gang itu, melewati gerai penjual pernak-pernik “Sanrio Vivitix Harajuku”, gerai fashion “PINK-latte Harajuku” dan “WEGO”, bahkan aku menemukan thrift sore “Premium King” di salah satu sisi gang. Aku menghabiskan langkah hingga ke gerbang timur Takeshita Street yang berbatasan langsung dengan Meiji-dori Avenue.

Tak lama, hanya setengah jam saja aku mengunjungi Takeshita Street karena sebagian besar pemilik gerai sudah mulai membereskan barang dagangan dan akan segera menarik rolling doornya. Aku kembali menyisir kembali sepanjang gang itu untuk menuju gerbang barat Takeshita Street.

Menuju gerbang barat Takeshita Street.
Salah satu platform sederhana di Stasiun Harajuku.
Taat mengantri, bersih dan membuang sampah pada tempatnya.

Kali ini aku berniat untuk pulang ke Yadoya Guesthouse. Sudah hampir empat puluh jam aku tak tidur dengan sempurna. Hawa Tokyo sudah beku dan badanku juga minta istirahat. Lebih baik kusudahkan saja eksplorasi hari pertama di Tokyo. Aku akan segera menuju Nakano untuk mandi air hangat dan tidur.

Makan Malam di Ameya Yokocho, Taitō

Platform Stasiun Shibuya.

Aku sudah berdiri lagi di platform kereta, tepatnya di Stasiun Shibuya, dalam ruas Yamanote Line, tepat pada pukul 15:48. Matahari telah undur diri di cakrawala kota dan membuat suhu terdegradasi ke titik 3o C. Lantas udara yang telah menjelang beku itu dengan mudah menembus tebalnya gloves hitam di kedua telapak tanganku. Tapi akan menjadi preseden memalukan apabila aku harus menyerah dan memilih meringkuk di peraduan Yadoya Guesthouse.

Aku sudah bersiap diri menjelajah Distrik Kota Istimewa Taitō. Dua belas kilometer di timur laut Distrik Khusus Shibuya, berjarak tempuh tiga puluh menit.

Ameya Yokocho adalah alasan utamaku singgah menuju Stasiun Ueno. Adalah pasar serba ada, serba murah dan serba discount. Konon jika hendak makan malam murah, maka para traveler berbondong menuju ke exs-pasar gelap yang sudah ada sejak Perang Dunia II itu.

Aku tiba di Stasiun Ueno tepat pukul 17:35. Keluar di Hirokoji Exit, pintu keluar terbesar di selatan bangunan stasiun. Pintu keluar ini memiliki halaman luas dan tepat menghadap Chuo-dori Avenue, berseberangan dengan Ueno Marui Department Store (OIOI), pusat fashion kenamaan  di Distrik Kota Istimewa Taitō yang menjulang tinggi dengan sembilan lantai.

Gelap mulai mengakuisisi hari ketika aku memulai langkah menuju ke Ameya Yokocho. Lebih ringkas dipanggil Ameyoko atau Ameyoko Market. Belum tiba pun aku membayangkan bahwa pasar itu sudah mulai ramai dan bertebar aroma masakan. Menjadikan perut keroncongan sepanjang jalan.

Aku menyusuri jalanan di bawah jalur layang kereta, mengarah ke selatan. Jarak pasar itu berkisar dua ratus meter, hanya lima menit dari Hirokoji Exit.

Tibalah langkahku di sebuah pertigaan yang di salah satu jalannya berdiri gerbang Ameyoko Market. Aku menghadap ke dua buah percabangan jalan yang keduanya adalah bagian dari jalur pasar itu. Tapi aku salah mengira. Bukan aroma harum makanan yang kucium, tetapi justru bau amis ikan laut yang pertama kali menusuk hidung dalam-dalam. Sudah barang tentu aku menghiraukannya karena perhatianku tertuju ke keramaian di dalam sana.

Gerbang Ameya Yokocho.
Gerbang Ameya Yokocho.
Bagian dalam Ameya Yokocho.

Tak kusangka, akan keberadaan beberapa restoran khas Turki dan beberapa gerai kebab di sana. Kufikir tak kan susah menemukan makanan halal untuk para traveler muslim di sini. Sementara di sepanjang jalan berikutnya, beberapa gerai yang menjual ikan laut diselingi oleh gerai fashion, souvenir, minimarket, peralatan olahraga serta beranekaragam gerai –gerai lain.

Kufikir aku tak akan menganggarkan untuk membeli barang apapun yang diperjualbelikan di pasar ini, kecuali makan malam.  Aku terus menyisir setiap jengkal Ameyoko Market hingga akhirnya tertarik pada tampilan gambar semangkuk chicken ramen. Bukan isi di dalam mangkuknya, tetapi harga yang tercantum di bawahnya, 399 Yen, itu berkisar Rp. 50.000.

Tak faham akan namanya, aku tak kurang akal. Kuambil telepon pintar dan kutangkap gambarnya. Bergegaslah aku menuju ke dalam rumah makan itu. Aku mulai mengamati sekitar, desain meja memanjang dan melingkar oval di tengahnya dengan beberapa meja di setiap sisi dinding yang sudah dipenuhi warga lokal. Mereka begitu berisik menyeruput mie di mejanya. Aku menuju ke pelayan wanita dan menunjukkan gambar di telepon pintar. Berteriaklan pelayan itu ke bagian dapur sembari menyebut nama menu yang kutunjukkan lalu dia menunjuk pada sebuah bangku kosong. Aku faham, itulah meja makanku. Aku duduk di sebuah meja di sisi dinding dan menunggu menu dihidangkan.

Salah satu rumah makan di Ameya Yokocho.

Sementara teko berisi air putih dengan es batu di dalamnya mulai kutuang.  Aku terus memperhatikan perilaku pengunjung rumah makan itu. Begitu mereka memasuki ruangan, maka mereka akan melepaskan jaket pada hanger di pojok ruangan, lalu duduk di meja makan, memesan dan menyantap makanannya dengan cepat. Semua serba teratur.

Tak lama pelayan menyajikan menu yang kupesan dan aku mulai menyantapnya. Menurut referensi yang kubaca, orang jepang akan meyeruput mie yang dipesannya dengan bunyi yang cukup untuk di dengar demi menunjukkan bahwa mie itu enak dan sebagai isyarat untuk menghormati sang koki. Maka akupun beradegan sama walau sedikit kerepotan dan membuat kuah mie ku berlepotan ke meja makan. Itu belum cukup membuatku malu, karena air teko di meja benar-benar habis tak bersisa, entah berapa kali aku menuangnya di gelas kecilku. Pelayan perempuan yang sedari tadi memperhatikanku pun menutup senyum dengan tangannya sambil sebentar-sebentar berbisik dengan pelayan yang lain. Dia tentu tahu bahwa aku seorang pengelana yang berbeda kulit dengan bangsanya.

Walhasil, aku pun membayar makanan itu dengan senyum lebar kepadanya, karena dia tak kunjung menutup senyumnya ketika menatapku.

Hirokoji Exit Stasiun Ueno.
Bagian dalam Stasiun Ueno.
Platform Stasiun Ueno.

Aku selesai bersantap malam pada jam 17:45, dan bergegas meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō.

Berkenalan dengan Janessa di Yadoya Guesthouse

Bangunan Stasiun Nakano memiliki dua tingkat di atas tanah dengan delapan platform. Bagian selasar depan stasiun dijulurkan dengan kanopi  berbahan Alumunium Composite Panel hingga tepat di gerbang depan Nakano Sun Mall.  Ketika tiba di sana, aku keluar di pintu utara dengan halaman beraspal yang sangat luas dan dihiasi oleh aktivitas makan siang para merpati.

Sementara hari sudah menuju sore, tetapi tetap saja dingin walau jarum jam sudah menunjuk pukul 13:40. Aku hanya berfikir untuk segera menuju hotel, menaruh backpack dan memulai petualangan perdanaku di Tokyo.

Aku memintas jalan sejajar sebelah kanan gerbang utara stasiun. Memelipir di kaki-kaki angkuh Sumitomo Mitsui Trust Bank. Hanya deretan mural art pada julangan pagar beton pembatas jalur kereta yang mampu memberikan mood booster siang itu..

Tak lama kemudian, aku mulai memasuki gang-gang sempit selebar tiga meter menuju ke utara. Pagi itu, setiap jalanan yang kulewati terlihat sepi, hiruk pikuk sangat tak kentara di sepanjang gang yang kulalui di Distrik Nakano. Mungkin saja karena penduduk Nakano yang hanya berjumlah tiga ratus ribuan penduduk. Ah, aku sok tau perihal populasi.

Pun restoran yang menjamur di sepanjang gang, masih tertutup rapat, nantinya aku akan menemui  kemeriahan restoran itu saat malam tiba. Malam dimana di setiap rumah makan itu akan berdiri seorang laki-laki yang mempersilahkan setiap orang untuk masuk ke dalamnya. Di memori kepala, aku masih mengingat beberapa nama retoran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aku sangat terkesan selama tinggal di Distrik Nakano. Izakaya, Tsuyamaru, Gyu No Simonya, Hakata Mangetsu dan Ikkenme Sakaba adalah beberapa nama restoran disana. Apakah aku mencicipi masakan mereka?. Tidak jawabnya, kuperjelas lagi “TIDAK”. Karena sehari-hari di Nakano, setiap menginjak waktu untuk memenuhi kebutuhan perut, aku hanya sanggup membeli dua potong onigiri di sebuah FamilyMart langganan di bilangan Fureai Road.

Olala….Tiba di Yadoya Guesthouse.
Pembatas dingin dengan udara luar ada pada tirai plastik itu.
Tempat bersama untuk menyimpan makanan.

Hi, Where are you come from?”, tanyaku pada resepsionis dormitory. Aku tak mau hanya menikmati kecantikannya dengan diam. Lebih baik aku memulai pembicaraan.

Hi Donny, I’m Janessa from Portugal”, tentu dia tahu namaku, karena dia sedang mengecek nomor pasporku sebelum memberikan bunk bed tempatku tidur di Yadoya Guesthouse.

Hi Janessa, I’m very surprised because the receptionist is not Japanese, but you”, aku mulai melempar senyum perkenalan.

Yeaaa, I’m working here. It’s nice country”, senyumnya tampak bahagia.

Donny, your bunk bed is at fourth level. So enjoy to burning your calorie by walking on stairs there”, Janessa menambahkan sambil sedikit bercanda.

Okay, Janessa. It’s no matter. I’m strong backpacker”, Aku menutup percakapan itu.

Yadoya Guesthouse begitu banyak meninggalkan kesan. Banyak kekonyolan di dalamnya yang membuatku kadang tertawa ketika mengingatnya. Beberapa diantaranya adalah saat suatu malam aku harus berbasuh dengan air sedingin es karena tak kunjung menemukan letak tombol pemanas, atau sebuah pagi di saat aku menemukan dua sejoli asal Eropa tertidur berdekapan mesra dalam sebuah kotak kecil bunk bed dengan selimut tebalnya atau saat dimana pada tengah malam aku susah setengah mati memejamkan mata karena kasurku serasa ikut membeku. Mungkin memang dormitory seharga 2,000 Yen per malam tak cocok untuk tinggal di Jepang saat musim dingin.

Anak tangga pertama.
Aku ke Jepang tak pernah membeli kuota dan SIM card lokal. WiFi penginapan selalu kuandalkan untuk berkirim kabar.
Menuju kamar di lantai empat.
Nanjak trooosss.

Dari enam belas bunk bed dalam kamar itu, aku bertemu tetangga dekat yaitu seorang solo backpacker asal Brunei Darussalam, berparas manis dalam balutan jilbabnya. Ya, aku tahu asalnya karena menemukan gambar bulan sabit dengan kedua tangan menengadah yang menjadi lambang negaranya tertempel jelas di bagian atas backpack.

Apapun yang kurasakan, Distrik Nakano tetap memberikan kesan yang mendalam dalam petualanganku mengenal Tokyo dan Yadoya Guesthouse menjadi rumah kesekian dalam bagian perjalananku.

Berburu Tokunai Pass: Chou Line dari Tokyo ke Nakano

Tiba di Stasiun Tokyo.

Seperti biasa, mengabadikan diri di depan spot-spot penting di negara orang adalah kebiasaan wajar. Maka sebelum memasuki Stasiun Tokyo, aku menyempatkan diri berpose di depan gerbangnya. Tepatnya di depan “Yaeshu North Entrance”.

Jika kamu ke Tokyo. Kamu akan jarang bertemu orang diatas permukaan, Donny. Tapi begitu masuk ke stasiun bawah tanah maka penduduk Tokyo bak lebah didalamnya. Coba deh buktikan Donny kalau kamu ga percya!”, itulah perkataan teman sekantor yang pernah berangkat ke Tokyo. Tercengang aku waktu itu.

Kini aku sudah di Tokyo dan berharap bisa membuktikannya. Ternyata, perihal di permukaan yang akan jarang bertemu orang….Itu jelas salah. Tokyo tetap saja kota sibuk di dunia dengan tingginya mobilitas penduduk di atasnya. Lalu, “sarang lebah bawah tanah”….Ya, itu benar. Bahkan sebelum aku tiba di ruangan paling bawah pun, stasiun Tokyo sudah penuh manusia. Luar biasa.

Ketika memasuki bangunan stasiun, aku lebih memilih berdiri menempel di sebuah tiang besar dan merekam hilir mudik penumpang kereta yang sangat rapat sekali…..Super sibuk. Mungkin aku menjadi manusia tersantai pagi itu di seantero stasiun Tokyo karena masih saja sempat berdiri berlama-lama merekam aktivitas di dalamnya.

Kini saatnya berburu tiket kereta. Aku sudah meniatkan diri untuk mendapatkan one day pass supaya bisa berkeliling Tokyo sepuasnya hingga tengah malam. Mengantrilah diriku di sebuah ticketing vending machine. Dalam antrian, aku terus memperhatikan lekat bagaimana setiap orang megoperasikan mesin itu. Akan tetapi, ketika giliranku tiba pun, aku tetap tak paham. Semua layar penuh dengan tombol dan angka yang merepresentasikan harga tiket. Entahlah itu tujuan kemana. Kutengok ke belakang, para pengantri semakin sebal karena aku terlalu lama mencari tiket. Aku menyerah, aku mudur dan mempersilahkan penumpang lainnya yang terlihat sangat terburu waktu. Aku terus berdiri agak jauh dari ticketing vending machine dan memperhatikan mereka menggunakannya. Tetap saja bingung…. karena mereka memilih menggunakan aksara kanji.

Akihirnya kuputuskan mencari sisi lain stasiun yang lebih sepi. Aku menemukanya di selasar kiri. Ticketing vending machine itu kosong melompong. Kudekati pelan, tenang dan kuperhatikan dengan seksama setiap tombolnya. Akhirnya kutemukan tombol “ENG” yang akan menuntunku menggunakan bahasa internasional. Tapi tak langsung kutemukan kata “One Day Pass”.

Aku terus mencari di direktori “Discount Card” lalu muncullah kata “Tokunai Pass”. Beruntung, aku pernah membaca sebuah artikel tentang perkeretaapian Jepang sebelum berangkat berpetualang. Dalam artikel itu disebutkan bahawa One Day Passnya Jepang bernama Tokunai Pass. Begitu girangnya aku memecahkan permasalahan itu. Oh, ternyata gampang minta ampun, aku saja yang ndeso. Aku menekannya dan setelah membayar senilai 750 Yen (Rp. 97.500).

Wujud Tokunai Pass.
Ini mungkin receiptnya.

Yang kutahu, Tokunai Pass bisa  didapatkan di seluruh stasiun JR Line. Dan bisa digunakan untuk menaiki seluruh kereta JR Line lokal (dalam kota Tokyo) yang relnya terletak di atas permukaan tanah. Jadi tidak bisa digunakan untuk Tokyo Subway bawah tanah.

Begitu mendapatkan tiket, aku langsung menuju platform ke arah Nakano.

Nakano berada di timur Tokyo dengan jarak 15 Km dan waktu tempuh menggunakan kereta berkisar 20 menit. Aku sengaja mencari tempat menginap yang sedikit jauh dari pusat kota karena harganya yang murah.

Platform menuju Nakano.
Tiba di Stasiun Nakano.

Aku menaiku Chuo Line menuju Nakano. Pukul 13:30, aku tiba di Stasiun Nakano. Dan bersiap berjalan kaki menuju Yadoya Guesthouse.

Tokunai Pass….Traveler Pass in Tokyo, Japan

I successfully moved from Narita International Airport to downtown by cheapest mode of transportation i.e Keisei Expressway Bus for 1,000 Yen (USD 10).

Didn’t happy, because next question appeared i.e “How did I frugally explore city? “

The answer was easy. I must immediately get Tokunai Pass (Tokyo Metropolitan District Pass).

After I got off from airport bus, I rushed into Tokyo station to got it. Of course, I had to went to Automatic Ticketing Machine. Initially, I was confused to looked for Tokunai Pass menu on the machine. After all buttons were punched. Evidently, Tokunai Pass menu was located in “Discount Card” directory. Easy to used it because there were multi language choice that could be used (of course I used English).

Ticketing Tokyo n Shibuya Gate

 

Left: Automatic ticketing machine in Tokyo Station where I bought Tokunai Pass

Right: Gate in Shibuya Station, one of many stations where Tokunai Pass could be used as entry access to train platform.

Tokunai Pass fare was 750 Yen and could be used until 24:00. So to maximize its benefits, You better buy it on the morning and use it to visit Tokyo’s attractions fullday. In fact, I bought it at 13:00 and used it until 21:00.

Tokunai Pass

 

Left: Tokunai Pass
Right: Tokunai Pass receipt

How did I frugally use Tokunai Pass? It was the calculation:

 

If I bought regular tickets towards several attractions below:

  1. Towards Yadoya Guesthouse in Nakano. From Station Tokyo – Nakano Station for 220 Yen
  2. Towards Hachiko Statue and Shibuya Crossing. From Yadoya Guesthouse in Nakano Station to Shibuya Station for 200 Yen
  3. Towards Ameyoko Market. From Shibuya Station to Ueno Station for 190 Yen
  4. Toward Akihabara electronic market. From Ueno Station to Akihabara Station for 160 Yen
  5. Towards Harajuku Street. From Akihabara Station to Harajuku Station for 170 Yen
  6. Back to guesthouse. From Harajuku Station to Nakano Station for 220 Yen 
    Total Overall were 1160 Yen 

Because I bought a Tokunai Pass for 750 Yen so I had saved for 410 Yen.

It was only  an 8 hours journey, If you arrive on early morning, it will be able to visit many attractions and can save budget more.

While using Tokunai Pass, I used only two lines of JR-East Train i.e Yamanote Line (Tokyo Circle Line) which is the busiest line in Tokyo and Chuo Line that connects downtown and Otsuki about 90 km west of Tokyo.

Tokunai Pass can be purchased at automated ticketing machines at all JR-East Line stations in Tokyo. And it can be used for all local JR-East Train Line (in Tokyo) whose rail is located above ground. The train is similar to Jakarta’s Commuter (in Jakarta-Indonesia).

Good luck for using Tokunai Pass when you visit Tokyo…..

 

 

 

 

 

 

Cheap Food for Backpacker at Japan.

Japan had been set by me to be my top destination in East Asia after visited Hong Kong, Macao and Shenzen a year earlier.

For a backpacker who concerns with a budget like me, Japan becomes an expensive place that needs some tricks to spend minimal budget for 4 days exploring its magnetism. Japan magnetism has made every traveler are impressed to Japan.

For minimizing hotel budget, I got a free overnight stay at Kansai International Airport and also got a cheap dormitory at Yadoya Guesthouse (in Nakano area) and Kaga Hotel (in Osaka city).

Transportation budget was also helped by Tokunai Pass in Tokyo and One Day Pass in Osaka.

Well, I will tell how I chose some ways to got cheap food in Japan for saved budget. I did it because I has to save a lot of money for visiting another countries in the world to realize my long backpacker mission.

Lunch

When arrived at Narita International Airport on 11:15 then lunch was something that couldn’t be delayed anymore. It wasn’t possible to waited for lunch in Tokyo downtown. After searched it around Narita’s Arrival Hall, I just found some expensive price at food court, I finally pushed  my steps into Lawson. Indeed many cheap onigiris, but single onigiri certainly wasn’t enough for lunch. Finally it was the best option that I took for my menu:Lunch at Narita

Two onigiris with some companion menu for 248 Yen made me enough satisfied.

Dinner 

My thinking way is simple when being backpacker. I will eat on time to avoid sickness during trip. And wherever is it and when eating time comes then I will try to find the cheapest food around me. I don’t need to go back to a certain place for eating. Just calm and eat something as soon as possible.

My dinner happened when I was enjoying Ameyoko (Ameya Yokocho) Market hubbub near Ueno station. When hungry wasn’t unstoppable I finally started to looked for food around it. A lot of Turkish was opening kebab stall, but it seemed less for my portion.

Dinner at 4 degrees Celsius weather would be better if ate hot noodles like it:

Dinner at Yokoco

Spent for 398 Yen and got a bottle of ice water …. made me could sleep so soundly

Breakfast

I had a breakfast near Yadoya Guesthouse in Nakano where I stayed during visiting Tokyo. Walking around home-based restaurant, I just found a relatively expensive menu. Finally I found Family Mart there. 10 slices of onigiri was being my dish

Breakfast Nakano

Simply paid 298 Yen

Menu in Amerikamura, Osaka

A day later, visiting Amerikamura required me to buy a lunch menu before moved towards Namba Parks.

So hard to found cheap food here, but finally I bought a menu at a home-based Japanese restaurant which selling Thai food.

Here was my choice:

Lunch Amerikamura

 

Slightly expensive to spent for 680 Yen. Because of no other options. But the portion was very much for Indonesian liked me ….. I couldn’t breathe because of satiety.

Well for you who have a minimal budget, don’t worry  for visiting Japan. There is always a solution as long as we tricky faced all condition there.

Let’s visit Japan, friends ……

Tokunai Pass….Senjata Utama para Traveler di Tokyo, Jepang

Berhasil berpindah dari Narita International Airport ke pusat kota Tokyo menggunakan moda transportasi termurah yaitu Keisei Expressway Bus seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000) jangan membuat hati senang dahulu. Karena masalah selanjutnya muncul yaitu “Bagaimana menjelajahi kota dengan hemat?”

Jawabannya mudah. Saya harus segera mendapatkan Tokunai Pass (Tokyo Metropolitan District Pass).

Setelah turun dari Airport Bus, Saya bergegas masuk ke dalam Stasiun Tokyo untuk mendapatkan kartu pass itu. Tentu Saya harus menuju Mesin Tiket Otomatis. Pertama kali bingung mencari menu Tokunai Pass di mesin itu. Setelah segala tombol dipencet ternyata menu Tokunai Pass berada pada directory “Discount Card”. Gampang kok menggunakan mesin ini karena ada pilihan bahasa yang bisa digunakan (tentu Bahasa Inggris yang Saya gunakan).

Ticketing Tokyo n Shibuya Gate

Kiri: Mesin tiket otomatis di Stasiun Tokyo tempat Saya membeli Tokunai Pass

Kanan: Gate di Stasiun Shibuya dimana Tokunai Pass bisa digunakan sebagai akses masuk ke peron kereta.

Tokunai Pass berharga 750 Yen (Rp. 97.500) dan bisa digunakan hingga pukul 24:00.  Jadi untuk memaksimalkan keuntungan penggunaan Tokunai Pass, usahakan Kamu membelinya dari pagi hari dan menggunakannya seharian untuk keliling Tokyo.  Saya sendiri baru membelinya pada pukul 13:00 dan menggunakannya hingga pukul 21:00.

Tokunai Pass

Kiri: Tokunai Pass

Kanan: Struk pembelian Tokunai Pass.

Lalu seberapa hemat ketika Saya menggunakan Tokunai Pass ini. Begini perhitungannya:

Apabila Saya menggunakan tiket ketengan ke beberapa tempat yang Saya tuju berikut:

  1. Menuju Yadoya Guesthouse di Nakano. Tiket kereta Stasiun Tokyo – Stasiun Nakano sebesar 220 Yen
  2. Menuju patung Hachiko dan perempatan Shibuya. Dari Yadoya Guesthouse di Stasiun Nakano menuju Stasiun Shibuya 200 Yen
  3. Menuju Ameyoko Market. Dari Stasiun Shibuya ke Stasiun Ueno 190 Yen
  4. Menuju pasar elektronik. Dari Stasiun Ueno ke Stasiun Akihabara 160 Yen
  5. Menuju Harajuku Street. Dari Stasiun Akihabara ke Stasiun Harajuku 170 Yen
  6. Pulang ke Guesthouse. Dari Stasiun Harajuku ke Stasiun Nakano 220 Yen

Total Keseluruhan 1160 Yen (Rp. 150.800)

Karena Menggunakan Tokunai Pass seharga 750 Yen jadi Saya sudah berhemat 410 Yen (Rp. 53.300).

Itu baru perjalanan selama 8 jam, coba kalau Saya tiba di Tokyo lebih pagi pasti akan bisa mengunjungi banyak tempat dan bisa berhemat lebih banyak lagi.

Selama menggunakan Tokunai Pass, Saya hanya menggunakan dua jalur JR Line yaitu Yamanote Line (merupkan circle linenya Tokyo) yang merupakan jalur tersibuk di pusat kota Tokyo dan Chuo Line yang menghubungkan Tokyo di pusat kota dan Otsuki 90 km di sebelah barat Tokyo.

Tokunai Pass bisa di beli di mesin tiket otomatis di seluruh stasiun JR Line. Dan Pass ini bisa digunakan untuk seluruh jaringan kereta JR Line lokal (dalam kota Tokyo) yang relnya terletak di atas permukaan tanah layaknya komuter Jabodetabek.

Selamat mencoba menggunakan Tokunai Pass kalau Kamu sudah tiba di Tokyo, guys…..

 

 

 

 

 

 

Makanan Murah untuk Backpacker di Jepang.

Jepang memang sudah saya setting menjadi destinasi puncak di kawasan Asia Timur, setelah setahun sebelumnya berhasil menapakkan kaki di Hong Kong, Macao dan Shenzen.

Buat seorang backpacker yang concern dengan budget seperti saya, Jepang menjadi tempat mahal yang perlu banyak disiasati walau hanya sekedar 4 hari menjelajahi daya magis Jepang yang membuat para traveler terkesima akan negeri itu.

Masalah hotel sudah tersiasati dengan menginap gratis semalam di Kansai International Airport dan mendapatkan dormitory murah di Yadoya Guesthouse (di daerah Nakano) dan Kaga Hotel (di kota Osaka).

Masalah transportasi juga tersiasati dengan kartu ajaib Tokunai Pass di Tokyo dan One Day Pass di Osaka.

Nah, kali ini saya akan membahas bagaimana mensiasti cara makan di Jepang yang pernah saya lakukan untuk menghemat budget. Saya sengaja melakukan ini karena harus banyak berhemat dan banyak menabung demi niat mengunjungi berbagai belahan dunia dalam jangka Panjang misi backpacker saya.

Menu Makan Siang

Ketika tiba di Narita International Airport pukul 11:15 maka lunch adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. Sudah tidak memungkinkan menunggu lunch hingga ke tengah kota Tokyo. Setelah keliling Arrival Hall Narita, melihat beragam harga yang begitu mahal di food court setempat, akhirnya Saya mendorong langkah kaki untuk masuk ke Lawson. Memang banyak beberapa pilihan murah onigiri, tetapi satu buah onigiri tentu tidak mampu membendung porsi wajar makan siangku. Akhirnya inilah pilihan terbaik yang Saya ambil untuk menu siang kala itu:

Lunch at Narita

Dua onigiri beserta menu pendamping seharga 248 Yen atau sekitar Rp 32.240 cukup membuat kenyang perut siang itu.

Menu Makan Malam

Cara berfikir saya sederhana ketika sedang backpackeran. Saya akan makan tepat waktu untuk menghindari sakit selama perjalanan. Dan dimanapun saat itu berada dan ketika waktu makan tiba maka Saya akan berusaha mencari makan terhemat disekitar tempat itu. Tidak perlu kembali lagi ke tempat tertentu untuk menyantap sebuah makanan….keburu lapar…hahaha

Makan malam ini terjadi ketika Saya sedang menikmati keriuhan Ameyoko (Ameya Yokocho) Market di dekat stasiun Ueno. Ketika lapar sudah tak tebendung akhirnya Saya mulai menyisir menu di sekitar pasar ini. Banyak orang Turki yang membuka kedai kebab di daerah ini, tetapi sepertinya kurang nendang kalau hanya sekedar makan kebab.

Dinner di suhu 4 derajat Celcius akan lebih enak jika makan mie berkuah panas seperti ini:

Dinner at Yokoco

Cukup merogoh kocek 398 Yen atau sekitar Rp. 51.740 dapat bonus air es seteko yang akhirnya Saya habiskan….bisa membuat tidur malam itu begitu nyenyak…hahaha

Menu Sarapan

Sarapan ini Saya beli di sekitar Yadoya Guesthouse di Nakano, tempat dimana Saya menginap selama di Tokyo. Berjalan di sekitar restoran rumahan Tokyo yang menawarkan menu relatif mahal buat kantongku. Akhirnya Saya menemukan Family Mart di dalam perkampungan. 10 slice onigiri inilah yang menjadi menu pagi itu

Breakfast Nakano

Cukup membayar 298 Yen atau sekitar Rp. 38.740. Cukup buat modal keliling Tokyo di hari kedua selama 6 jam kedepan.

Menu di Amerikamura, Osaka

Sehari setelahnya, menginjakkan kaki siang itu di Amerikamura mengharuskan Saya membeli makan siang sebelum meninggalkan kawasan itu untuk menuju Namba Parks.

Begitu susah mencari makan murah disini, tetapi akhirnya Saya mengambil jalan tengah untuk mengambil menu di rumah makan rumahan warga Jepang yang menjual menu makanan khas Thailand.

Inilah pilihan saya :

Lunch Amerikamura

Sedikit mahal karena harus mengeluarkan 680 Yen atau sekitar Rp. 88.400. Karena tidak ada pilihan murah yang lain. Tapi ini porsinya sangat banyak untuk ukuran orang Indonesia…..Saya sampai tidak bisa bernafas karena kekenyangan.

Nah buat kalian yang mempunyai budget minim tidak perlu khawatir mengunjungi negeri matahari terbit ini. Selalu ada solusi asalkan jeli melihat kondisi di tempat tujuan.

Mari Kunjungi Jepang, teman……