Bukchon Hanok Village: Destinasi Pertama di Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya.

Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya.

Keluar dari minimarket, aku melangkah cepat menuju gerbang Stasiun Hongik University yang tak jauh lagi, tepat di sebelah kiri tikungan di depan sana.

Menuruni escalator super panjang menukik menuju bawah tanah, aku mulai membuka denah cetakanku sendiri, lalu menunjuk sebuah titik tujuan. “Aku harus menuju Stasiun Anguk”, batinku berseru sembari melipat denah dan memasukkan ke saku belakang.

Kini aku berada di batas platform. Menjelang siang, suasana stasiun bawah tanah lengang. Tetiba, pertunjukan romansa jalanan di ujung platform sana memudarkan rasa antusiasku dalam menunggu kedatangan Seoul Metro. Sepasang sejoli tampak berpeluk pinggang sembari bertatap mesra. Sesekali sang pria cuek menyosor gadis di depannya….”Buseeet….”, seloroh iriku keluar juga. Pertunjukan seperti itu memang tak membuatku heran karena sudah kerap kujumpai di moda transportasi yang sama milik Negeri Singa atau Kota Shenzen. “Anggap saja sebagai bonus perjalanan…”, batinku tersenyum kecut.

Pelukan mesra mereka terlepas beberapa saat setelah derap suara Seoul Metro terdengar dari lorong kanan. Seoul Metro mendecit lembut dan berhenti di hadapan, mereka mengakhiri romansa dan penonton tunggalnya pun ikut menaiki kereta.  

Seoul Metro Line 2 merangsek meninggalkan Distrik Seodaemun menuju timur. aku akan berwisata ke Distrik Jongno yang berjarak delapan stasiun dan harus berpindah ke Seoul Metro Line 3 di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga serta membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sesuai perkiraan waktu, kini aku sudah berdiri di depan pintu Seoul Metro ketika announcer sound mengatkan bahwa kereta akan segera merapat ke Stasiun Anguk. Setelah berhenti sempurna, aku melompat meninggalkan gerbong yang sedari menaikinya, tak ada kejadian berkesan lain setelah romansa setengah jam lalu.

Keluar dari Stasiun Anguk, aku dihadapkan pada Yulgok-ro Avenue. Percaya diri mengambil langkah ke kiri mengantarkanku pada sebuah simpang lima yang ramai dengan gerai fashion, kuliner dan kosmestik. Sepertinya aku salah jalan.

Aku berdiri terpaku di sebelah tugu Enso yang berlokasi tepat di salah satu sisi simpang lima tersebut. Enso sendiri adalah kuas kaligrafi tradisional asli Korea Selatan. Mengamati perilaku masyarakat lokal yang sibuk berbelanja. Sementara beberapa kelompok turis asal Eropa tampak sedang bercakap-cakap di gerai Tourist Information yang terletak di samping tugu. Sepertinya aku harus ke gerai itu dan menanyakan arah destinasi yang kutuju. Akhirnya aku melangkah menujunya.

Aku: “Hello, Ms. Can me know which way thet I need to choose toward Bukchon Hanok Village?

Dia: “Hi, Sir. You can go straight there and then turn left in crossroad. You will arrive in Bukchon Hanok Village with walking about 600 meter”.

Aku: “Very clear, thank you, Ms

Dia: “You are welcome. And this tourism map is for you”, dia tersenyum  sembari menyerahkan selembar denah pariwisata Seoul untukku.

Aku pun segera melangkah menuju utara. Sedikit santai sembari menikmati keramaian jalanan Bukchon-ro, akhirnya aku tiba di Bukchon Hanok Village dalam 20 menit. Perkampungan budaya ini berlokasi di sebelah barat jalan utama.

Notre Dame Education Center di Bukchon Hanok Village.

Diluar dugaa, ini berbeda dengan Gamcheon Culture Village di Busan yang kukunjungi beberapa hari lalu. Bukchon Hanok Village menampilkan deretan Hanok (rumah tradisional Korea Selatan) yang tersusun rapi memanjang mengikuti kontur jalan setapak. Kayu-kayu yang menjadi bagian dari bangunan Hanok tampak terawat mengkilap, Gang-gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki nampak rapih dan bersih. Inilah perumahan bangsawan era Dinasti Joseon yang berusia lebih dari enam abad dan menjadi kebanggaan Distrik Jongno.

Sesuai dengan julukannya sebagai “Kampung Utara”, maka desa ini memang terletak di sebelah utara dari dua ikon utama kota Seoul yaitu Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno.

Selain berfungsi sebagai pelestarian Hanok, desa ini juga berfungsu sebagai pusat kebudayaan, penginapan tradisional, restoran dan tempat minum teh bersama.

Menyusuri bagian dalam perkampungan, beberapa turis perempuan tampak anggun mengenakan Hanbok (baju khas Korea Selatan) demi menyusuri perkampungan budaya ini dengan lebih khusyu’.

Sebuah keindahan yang tersimpan di daerah Gahoe ini akhirnya berhasil kudatangi juga. Sebuah kesan klasik, ketenangan, kesunyian, sarat makna dan keagungan budaya sangat kental kurasakan dalam kunjungan ini.

Menjajal Seoul Metro: Menuju Stasiun Hongik University

<—-Kisah Sebelumnya

Aku berusaha menyejajari Mr. Park yang tampak gesit untuk kecepatan langkah seusianya. Menunggui Seoul Metro di satu sisi platform, kami bercakap ringan saja. Aku bercerita tentang perjalananku menyusuri Asia Timur kepadanya. Kuselipkan beberapa kisah petualangan di Tokyo, Osaka dan Busan beberapa hari lalu. Mr. Park tampak cukup terkesima mendengarkan alur kisah yang kusampaikan seringkas mungkin.

Sedangkan Mr. Park, In Chul Park nama lengkapnya….Menceritakan aktivitas sehari-harinya yang berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis Obsetri dan Ginekologi (Obgyn) di Myongji Hospital  di Distrik Deokyang.

My job is to help the baby to be born”, begitulah dia menyampaikan perihal aktivitas kesehariannya.

Seoul Metro tiba….

Berada di Line 6, kami berdua memasuki gerbong tengah. Seluruh gerbong tampak sepi pagi itu. Para pekerja belum banyak yang memulai aktivitasnya. Kami berdua terduduk di bangku tengah dan melanjutkan percakapan ke topik-topik ringan berikutnya, mulai dari keluarga kecilnya hingga sedikit menyampaikan serba-serbi Kota Seoul, aku kebanjiran informasi berharga pagi itu. Aku lebih banyak berperan sebagai pendengar yang baik dalam percakapan kami berdua.

Dua puluh menit menjadi perjalanan bersama yang berharga bersama Mr. Park. Aku berpamitan lebih dahulu, karena aku harus turun di Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 2. Sementara Mr. Park masih melanjutkan perjalanan sejauh 14 stasiun lagi menuju Stasiun Hwajeong.

Turun di platform Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga, aku mulai mencari koridor terusan menuju Stasiun Hongik University. Melihatku kebingungan mencari koridor itu, seorang lelaki tambun menghampiriku.

Dia: “Hello, Where will you go?”, dia mulai menyapa dengan pertanyaan.

Aku: “Hongik University Station, Sir. Which corridor should I choose?

Dia: “Wait….

Diapun tampak kebingungan dan berinisiatif mencegat seorang petugas Seoul Metro yang sedang melangkah di sebuah koridor. Mereka berdua tampak bercakap dan petugas Seoul Metro itu tampak menunjuk-nunjuk sisi lain bangunan stasiun.

Dia: “You must steps over there!”, lelaki tambun nan baik itu menunjukkanku sebuah arah setelah beberapa menit lalu bertanya kepasa petugas Seoul Metro.

Aku: “Thank you very much, Sir. You are a kind man”, aku sungguh merasa terbantu atas pertolongannya.

Pantas saja susah ditemukan, koridor itu ada di bagian ujung bangunan stasiun dengan bukaan koridor yang tak terlalu besar. Menelusuri koridor, membuatku sampai pada sebuah platform. Kini aku sudah berada di platform yang benar dengan kode warna hijau di setiap petunjuk.

Lima menit kemudian Seoul Metro tiba, aku segera mengalir di lorong-lorong bawah tanah Kota Seoul bersamanya. Seoul Line 2 tampak ramai dengan para mahasiswa. Mimik-mimik muda berpendidikan tampak berjejal di gerbong. Tak mendapatkan tempat duduk, membuatku harus berdiri di sepanjang 20 menit perjalanan lanjutan.

Akhirnya aku tiba di Stasiun Hongik University…..

Saatnya menuju ke Kimchee Guesthouse Sinchon

Kisah Berikutnya—->

Berburu T-Money bersama Mr. Park

<—-Kisah Sebelumnya

Gosok Gigi….

Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man!

Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota.

Berada di Seoul Express Bus Terminal berarti aku berada di ujung selatan kota, tertahan semalaman di Distrik Seocho demi menunggu kereta pertama beroperasi. Aku bergegas menuju Stasiun Express Bus Terminal….Yupz, stasiun itulah yang terintegrasi dengan terminal dimana aku bermalam.

Sementara residu udara beku masih terasa lekat di kulit ari begitu setengah langkahku terjulur keluar dari gerbang terminal. “Gilaaa….”, batinku yang membatin. Kusegerakan langkah dengan menaikkan tempo kaki menuju gerbang stasiun.

Damn….”, gerbang itu masih terhalang oleh standing barrier.

Belum boleh masuk….”, batinku membuat kesimpulan.

Tergopohlah diri kembali menuju terminal. Kuputuskan menunggu hingga genap satu jam, melebihi setengah jam dari rit pertama kereta beroperasi.

Satu jam yang kumanfaatkan dengan membuka kembali lembaran peta dasa jalur Seoul Metro. Jumlah jalur yang satu lebih banyak dari jalur MRT-LRT milik Negeri Singa. Kapankah Jakarta akan mengejarnya?

Genap enam puluh menit menanti, kini aku merepetisi jejak menuju gerbang Stasiun Express Bus Terminal. Standing barrier itu telah sirna, penanda bahwa stasiun telah membuka diri bagi setiap tamunya.

Memasuki bangunan stasiun, pohon-pohon natal masih saja menyambut walau ini sudah hari ketiga bulan Januari, patung Santa Claus dengan sembilan rusa kutub kesayangannya menyapa dan tepat di pojokan sana security berbadan tambun dengan kelebihan bentuk perut melempar senyum. Dengan sigap dia menyambar topi dan Tongkat-T putihnya lalu berlari kecil menujuku. Sepertinya dia faham bahwa aku bukanlah penduduk Negeri Ginseng, oleh karenanya, dia berniat membantu. Walaupun sebetulnya, aku lebih tertantang menemukan untuk platform dengan caraku sendiri. But, It’s OK, lah.

Security tambun: “Hellooo, where wil you go?

Aku: “Hongik University Station, Sir”.

Security tambun: “Oh, OK. Where are you come from?

Aku: “Indonesia

Security tambun: “Hmmh, Malaysia?

Aku: “No Sir. Indonesia. A country at south of Malaysia”.

Security tambun: “Oh really, follow me!…follow me!”

Aku pun menguntitnya dari belakang

This way”, dia menunjuk sebuah lorong menuju salah satu platform”.

Thank you, Sir”, aku menutup percakapan sebelum dia kembali menempati posnya.

Menyusuri lorong hingga ujung, aku mulai mencari keberadaan ticket vending machine. Mesin itu ada di salah satu sisi. Lorong masih sepi, memungkinkanku untuk mengeksplorasi layar mesin itu. Tekun menjelajah layar, tak ada satu kata pun yang bisa menuntunku untuk mendapatkan One Day Pass.

Aku memunculkan sebuah inisiatif untuk menghadap ke petugas stasiun. Ruangan itu jelas ada di samping sana. Dua orang staff berseragam tampak memulai hari di meja kerjanya. Aku terlanjur mengetuk pintu kaca dan tatapan mereka serempak menuju ke arahku lalu diiringi lambaian salah satu diantara mereka sebagai tengara bahwa mereka mempersilahkan aku untuk masuk menghadapnya.

Aku: “Good morning, Sir?

Staff: “Yes, Can I help you?

Aku: “Does Seoul Metro sell One Day Pass for passenger?

Staff: “No No No, you must buy a regular card

Aku: “What is that?

Merasa kerepotan berbahasa Inggris, dia beranjak dari bangku dan menuju pintu. Dia melambaikan tangan kepadaku untuk mengikutinya. “there!”, dia menunjuk kepada sebuah kotak mesin.

Merasa peluang untuk mendapatkan One Day Pass menipis, aku pun menyerah dan menutup percakapan. “Oh, OK

Langkah kakiku cepat menuju kotak mesin itu. Merasa penasaran dengan apa yang bisa dijual oleh benda penuh teknologi itu. Aku berhenti sejenak, mengamati lekat penampakannya. Belum juga aku memencet apapun maka berdirilah di sampingku seorang lelaki, umurnya 40-an tetapi masih terlihat segar bugar, murah senyum dan tampak berpendidikan.

Dia: “Helloo…..Can I help you? Where are you come from?

Aku: “Hi, Indonesia Sir. Yeaa, I looking for the One Day Pass in this machine, Sir”.

Dia: “Oh, there isn’t One Day Pass in Seoul Metro. You must buy T-Money for your journey using Metro

Aku: “Oh, ya

Dia: “OK, I will help you to get it”. Dia mulai mendekat ke layar, kemudian gesit memencet-mencet tombol hingga tiba pada menu akhir ekseskusi. “You need to insert 3.000 Won to this machine!

Aku: “Oh , Ok, I see”….aku memasukkannya dan dia mulai memencet tombol eksekusi terakhir.

T-Money itu keluar dari mesin dengan packingan rapi  berwarna putih. Lelaki itu mengambilnya dan menyerahkan kepadaku.

Kemasan T-Money.
Ini dia wujud T-Money.

So now, you can explore Seoul by this. Come on we go to platform. Where is your destination?”, dia mulai megajakku melangkah

Hongik University Station, Sir”, aku mencoba mengimbangi kecepatan langkahnya.

Oh, do you study there?”.

Oh, No Sir, I am just traveling now. What is your name, Sir?

In Chul Park. Call me Park”, dia mengulurkan tangan

Donny, Sir”, aku menjabat tangannya.

Kini aku memiliki teman berbincang selama perjalanan menuju Kimchee Guesthouse Sinchon.

Thank you very much Mr. Park….

Menunggu Pagi di Seoul Express Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku.

Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya.

Arrival Gate Seoul Express Bus Terminal.

Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal.

Selamat Datang Seoul….Engkau akan menjadi kota terakhir dalam petualangan awal tahun itu.

Seturun dari bus, setiap penumpang bergegas menuju bangunan terminal demi menghinda hawa dingin kota. Sejenak arrival hall berubah ramai, beberapa toko penjaja makanan ringan dan kopi yang masih buka menjadi serbuan sebagian penumpang. Sementara sebagian yang lain memilih angkat kaki dari terminal, mengandalkan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke titik akhir masing-masing.

Mencari tempat untuk tidur.

Aku berdiri terdiam, mengawasi lokasi sekitar, mencari tempat bermalam yang nyaman. Aku sudah faham bahwa MRT akan mulai beroperasi pagi nanti, sekitaran setengah enam. Jadi aku tak perlu berepot-repot memaksa diri menuju bangunan stasiun.

Tuah keberuntungan itu datang, dipojok kiri sana terlihat dua kolom bangku panjang, masing-masing besekat tiga tanpa sandaran dengan besi pembatas antar sekat. Membuatnya tak mungkin menjadi tempat tidur darurat dini hari itu. Kutaruh backpack di pojok bangku dan aku mulai duduk menghabiskan sisa malam.

Menunggu benar-benar sepi untuk mengakuisisi bangku.

Seiring bergulirnya jarum jam, para penumpang yang sedari tadi menikmati kopi panas dan makanan ringan mulai hengkang, menyisakan sepi. Beruntung toko-toko itu tak menutup diri walau si empunya pasti tertidur di lantai sambil menunggui dagangannya. Setidaknya aku tak merasa sendiri.

Bangungan terminal ini sungguh manusiawi. Bersih, terang dan aman walaupun aku tetap mengeluhkannya karena tetap saja tak kuasa menahan hawa beku dari luar sana. Hawa itu masuk menembus jendela-jendela kaca, membuatku tak sanggup memejamkan mata sama sekali.

Di tengah kesenyapan, aku beranjak bangkit, mencoba mendekati kios-kios makanan itu. Mengamati beberapa kaleng minuman yang mungkin bisa menemaniku malam itu. Aku sedang khusyu’ memilihnya ketika tiba-tiba sekerumun penumpang berjejal memasuki bangunan terminal. Sebuah armada bus antar kota tampak menyalakan lampu hazard sembari memuntahkan seluruh muatannya.

Nona Cantik: “Hello, how do I get to downtown?

Aku: “If you want to go there now, you have to take a taxi, Ms. MRT isn’t operating yet now”, buseet, guwe yang orang asing aja lebih tahu.

Nona Cantik: “Oh. Is’n operating yet?”, aroma nafasnya tercium wangi Soju.

Aku: “Yes absolutely, you can go by taxi or waiting here until morning”, berharap dia bisa menemaniku di terminal

Nona Cantik: “Oke..Oke”, dia tampak menuju ke sisi dinding terminal….”Oppaaaa…….@#$%^&*!?><”. Ah dia malah menelpon kekasihnya. Musnah sudah harapan.

Aku kembali ke jajaran minuman kaleng, mengambil salah satunya dan menebusnya dengan 800 Won.

Minum kopi manis dulu lah…..

Dalam sekejap, bangunan terminal kembali sepi. Aku terduduk lagi di bangku. Kali ini seorang sopir bus antar kota sudah duduk di barisan bangku sebelah, bersandar pada tembok dan tidur dengan lelapnya.

Sedangkan aku yang sangat terganggu dengan hawa beku, berusaha terus bergerak hingga pagi. Beruntung aku menyempatkan tidur dalam bus selama dua setengah jam dalam perjalanan malam tadi.

Ayolah Seoul, segeralah datang matahari pagi!….

Kisah Selanjutnya—->

Menjemur di Bus dari Busan ke Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Jeda tipis antara ketibaanku dan keberangkatan bus berbuah manis, menjadikanku tak terlalu lama menunggunya berangkat. Beberapa menit lalu, aku telah menanyakan demi mencari bus yang akan kunaiki kepada salah seorang pengemudi di Busan Central Bus Terminal. Telunjuk jarinya jelas mengarah pada armada berwarna putih dengan kelir merah. Aku pun bergegas menuju bus itu dan bertanya pada pengemudinya yang duduk di depan bus yang terparkir.

Yes, this bus”, ungkapnya ketika aku menunjukkan tiket.

Tiket yang sudah kubeli sedari pagi seharga 23.000 Won.

Dia mengizinkanku untuk lebih awal menaiki bus yang mesinnya menyala langsam tetapi masih terparkir rapi di platform. Bangku bus itu berformasi dua kolom di setiap sisi dan aku mengakuisisi bangku sedikit di belakang. Dengan berada di dalam bus, selain mendapatkan ketenangan karena tak bakal tertinggal, aku juga mendapatkan udara hangat yang membuat nyaman.

Satu demi satu penumpang lokal berdatangan dan berusaha mencari tempat duduknya masing-masing. Hingga satu menit menjelang kebarangkatan, kursi bus itu tak kunjung penuh. Pengemudi datang dan mulai memeriksa setiap penumpang dengan lembar manifest di tangan kirinya. Setelah menandai semua list dalam manifest, maka pengemudi itupun turun, melapor kepada petugas di terminal, lalu mulai menempati posisi duduk di belakang kemudi. Bus itu siap memulai perjalanan jauh dengan kondisi lebih dari separuh bangku dibiarkan kosong.

Kini bus perlahan menjauh dari Busan Central Bus Terminal dan mulai memamerkan area-area baru yang belum pernah kujelajah sebelumnya. Bus itu memasuki jalur bebas hambatan dengan memamerkan siluet perbukitan-perbukitan indah Korea Selatan. Tak jarang bus memasuki terowongan-terowongan pembelah bukit. Jalanan tampak lengang di malam hari, hanya menampilkan pelita-pelita malam di sepanjang kontur perbukitan Korea. Luar biasa indah.

Para penumpang telah tertidur sedari tadi, sementara aku sebagai orang asing, lebih memilih menikmati pertunjukan malam sembari menikmati beberapa potong roti yang kubeli dari sebuah minimarket di Busan Central Bus Terminal. Yups, aku tak sempat menimati makan malam dengan layak, karena dikejar waktu demi menangkap keberangkatan bus sedari sore tadi.

Tak terasa aku telah begitu lama menikmati pemandangan jalanan, hingga akhirnya pengemudi melakukan break time di Sunsan Service Area di dekat Kota Gumi, Provinsi Gyeongsangbuk. Segenap penumpang turun untuk sekedar menikmati secangkir kopi panas atau paling tidak pergi sejenak menuju toilet. Sedangkan aku hanya memutuskan berkeliling di sekitar rest area sembari menunggu pengemudi menuntaskan makan malam.

Sunsan Service Area, tempat bus melakukan break time.
Bus yang kunaiki (foto diambil setiba di Seoul Express Bus Terminal).

Kegilaan itu datang….

Dua puluh menit kemudian bus siap berangkat, segenap penumpang kembali menempati posisi duduknya masing-masing. Aku segera menuju bus dan kembali duduk di bangkuku. Usai pengemudi menghitung penumpang, bus kembali melaju menuju Seoul.

Aku teringat bahwa di dalam backpack masih terdapat dua t-shirt dan sepasang kaos kaki yang belum sempurna kering. Melihat suasana sepi dalam bus dengan penumpang yang terlelap dalam mimpi, aku mengeluarkan t-shirt dan kaos kaki itu untuk kemudian membentangkannya di sandaran jok depan, aku sengaja melakukannya untuk membuatnya kering. “Ah, mumpung yang lain sedang tidur…”, batinku tertawa geli.

Selanjutnya akupun mulai memejamkan mata untuk beristirahat, karena setiba di Seoul, aku akan menginap dan harus terjaga di Seoul Express Bus Terminal untuk kemudian langsung melakukan eksplorasi Seoul di pagi harinya. Aku harus menghemat energi untuk itu….

Mata mulai kupejamkan, bus masih akan tiba dua jam lagi….

Kisah Selanjutnya—->

Bersih dan Modern….Gaya dari Kimchee Busan Guesthouse

<—-Kisah Sebelumnya

Tentu Aku tak pernah tahu kenapa guesthouse ini diberi nama Kimchee. Yang hanya Ku tahu, kimchee atau kimchi adalah makanan khas Korea yang terbuat dari sayuran yang difermentasi dengan aneka macam bumbu yang pada akhirnya berasa pedas dan asam. Mungkin guesthouse ini akan menjadi tempat berkumpulnya para pengelana dari beraneka macam bangsa dengan tujuan sama yaitu menikmati keunikan Korea…..halah, ngawur nih statement.

Dorm atau dormitory sudah menjadi pilihan umum kaum backpacker dalam berkelana. Selain menawarkan keamanan budget, dorm juga menawarkan satu opsi untuk membuat jaringan antar backpacker yang beragam kewarganegaraannya. Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena di setiap dorm room akan diisi 12-16 backpacker untuk tidur bersama….hushhh, di ranjangnya masing-masing maksud Saya.

Kali ini pilihanku jatuh pada Kimchee Busan Guesthouse sebagai tempat bernaung selama berpetualang di Busan. Tiga hal yang menjadi concern penting dalam memilihnya adalah harga, lokasi dan feedback ratenya yang bagus.

Aku sudah memesannya 4 bulan sebelum keberangkatan, sehingga kupastikan Aku mendapatkan harga terbaik. Guesthouse seharga Rp. 180.000 (KRW 15.000) terletak di jalan Hwangnyeong-daero. Berjarak sekitar 270 meter dari Stasiun MRT Beomnaegol sehingga guesthouse ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kedatanganku di guesthouse disambut hangat dengan resepsionis cantik. Setelah menyerahkan passport dan Won, Aku mendapatkan access card menuju dorm room.

Si resepsionis cantik
Ruang resepsionis

Untuk ukuran guesthouse tentu menjadi hal yang luar biasa karena ketersediaan lift di dalamnya. Tak seperti banyak dorm yang pernah kusinggahi dimana Aku harus menyiapkan otot kaki untuk menaiki puluhan anak tangga sebelum menuju ke kamar.

akses lift menuju dorm room

Memasuki kamar, kelelahan itu terbayar dengan leganya ruangan dorm yang terdiri dari 10 bed dengan masing-masing loker yang telah disediakan disebelah bed.

Dorm room

Di guesthouse inilah, Aku pertama kalinya menghirup segarnya aroma Soju –minuman khas Korea-. Walaupun Aku tak meminumnya, setidaknya Aku tahu aroma dan wujudnya serta bagaimana cara meminum Soju dari teman-teman sekamarku.

Keisenganku yang lain adalah menggunakan hair dryer yang disediakan di shared bathroom untuk mengeringkan kaos kaki basahku. Sudah menjadi kebiasaan, Aku hanya membawa 2 pasang kaos kaki, tak peduli seberapa panjang perjalananku. Setiap dua hari Aku akan mencuci kaos kaki yang kugunakan dan kukeringkan dengan cara apapun.

Hal baik lain dari guesthouse ini adalah menyediakan container untuk menyimpan backpack dan barang-barang lain yang dititipkan oleh penginap. Biasanya penginap akan meyimpan backpacknya ketika mereka datang lebih awal dari waktu check-in atau akan meninggalkan kota ketika jam keberangkatan mereka masih jauh dari waktu check-out.

Aku pun menitipkan backpackku karena keberangkatanku ke Seoul menggunakan bus terjadwal pukul 8pm sedangkan Aku waktu check-out ku pukul 12pm

Guesthouse juga menyediakan rak dan kulkas untuk menyimpan makanan para penginap….awas, jangan ambil makanan orang ya….hehehe. Biasanya penginap yang sedikit lebih lama tinggal di guesthouse akan menyimpan makanannya disini. Wah kalau Aku dipastikan ga pernah menggunakan fasilitas ini.

Kimchee snack and Bar

Tentu Kamu memiliki selera tersendiri dalam memilih penginapan…..yang penting tujuan kita sama, guys….jalan-jalan. That’s it.

Kisah Selanjutnya—->

Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

<—-Kisah Sebelumnya

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Kisah Selanjutnya—->