Salah Bangku di Tourist Bus Pokhara-Kathmandu.

Mr. Tirtha masih saja menemaniku berbincang, kami berdua berdiri bersandar di taksi mungilnya sembari mengamati kesibukan di sekitar Tourist Bus Park. Beberapa pedagang asongan silih berganti naik turun di seluruh bus berukuran tiga perempat menawarkan dagangannya.

Sewaktu kemudian, Mr. Tirtha  merentangkan tangannya lebar dan kami berpeluk ringan sebagai pengganti ucapan “terimakasih dan sampai jumpa”. Aku sengaja memasuki bus setengah jam sebelum keberangkatan. Akan lebih baik karena Mr. Tirtha bisa dengan segera melanjutkan mencari nafkah dengan taksinya.

Si kondektur menunjukkanku tempat dimana aku harus duduk. Baris kedua dibelakang sopir yang dibatasi sekat kaca. Kini pemandangan menjadi tegang, ketika sepasang suami istri India beradu mulut dengan si kondektur. Sejoli itu merasa dirugikan karena agen tiket di Kathmandu menjanjikan bangku paling depan buat mereka. Si kondektur dengan santainya balik menggertak, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Seketika suasana hening. Aku baru sadar, sejoli itu mengincar bangkuku….Hahaha, padahal jika disuruh tuker aku juga tak menolak. Ada-ada saja.

Europeans di depan itu seru bermain kartu sepanjang perjalanan.

Tiga setengah jam setelah keberangkatan pukul 7 pagi, bus berhenti untuk breakfast break selama 20 menit setelah sejam sebelumnya bus sudah sekali melakukan 15 menit toilet break. Sarapan yang diberikan Mr. Raj di pagi hari nampaknya cukup efektif bagiku untuk tak mengeluarkan budget konsumsi apapun kali ini. Yuk, kuperlihatkan bagaimana restoran tempatku berhenti:

Makan prasmanan aja ya!
Itu tarifnya.
Kopyah yang dipakai kasir itu bernama Dhaka Topi.
Ah masih kenyang….Ngopi aja lah.

Aku baru merasa kelaparan pada lunch break pukul 13:30,  menikmati se-thali (piring lebar khas India) makanan yang kuambil dari meja prasmanan seharga  Rp. 52.000 dan sebuah free-orange juice yang diberikan pada semua penumpang sejak pemberangkatan di Pokhara.

Lumayan free….  
Aku naik yang warna putih.

Jarum jam menunjuk pukul 15:34. Toilet break terakhir kali ini menjadi bagian paling berkesan.  Kumanfaatkan waktu dengan menelusuri area di sekitar tempat peristirahatan. Aku bergerak menuju tepian jalan dan menikmati panorama lembah dan jurang dibawahnya.

Kebanyakan truk di Nepal adalah Tata Motor.

Tergeletik dengan kehidupan di pinggiran jalan, aku memasuki sebuah gang kecil dan melihat sekelumit aktivitas warga lokal yang hidup di pinggiran jalan. Mengamati sebuah spanduk yang tertempel di sebuah sisi tembok beton, aku mencoba sedikit membuka kulit luar perpolitikan di Nepal.

Nepal adalah negara berbentuk republik parlementer yang memiliki empat partai politik utama. Communist Party of Nepal (CPN) menjadi partai pemenang di Nepal yang menempatkan dua tokoh pentingnya yaitu Khadga Prasad Sharma Oli sebagai Perdana Menteri dan Bidhya Devi Bhandari sebagai  Presiden negara tersebut.

Itu dia lambang CPN.

Kembali berada di bangku bus, perjalanan kali ini mengalami kemacetan luar biasa ketika menuruni bukit terakhir menjelang perbatasan Kathmandu. Layaknya kemacetan di Cianjur saat weekend tiba.

Bus merapat di Kanti Path pada pukul 17:08. Kelelahan yang teramat sangat membujukku untuk segera menemukan Shangrila Boutique Hotel di area Thamel. Aku menelusuri banyak gang-gang sempit dan menanyakan kepada penduduk lokal untuk menemukan lokasinya. Hanya berjalan selama 20 menit, akhirnya penginapan itu kutemukan.

Kuserahkan Rp. 280.000 sebagai tarif menginap per malam. Kali ini aku akan bermalam 2 petang di Kathmandu untuk menikmati wisata kota.

Himalayan Coffee dan Nepali Thali

Sebelum benar-benar tuntas menuruni Bukit Anadu, aku terhenti pada sebuah kedai.  Kedai kelontong yang menjual beberapa snack, air mineral, juga minuman beralkohol ringan. Kedai mungil beraroma harum kopi  yang dihasilkan dari tungku roasting di sebelah kanannya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_181723470.jpg
Somersby berkadar 5%….Terkenal di Pokhara. Aku mah air putih aja….murahhhhh.

Himalayan coffee bean”, tutur si penjual ketika aku memperhatikan caranya me-roasting kopi. Buat beberapa orang, passion memang segalanya. Seperti pria ini, dia rela melepas kewarganegaraan Jepang dan memilih berganti menjadi Nepalese demi cintanya pada kopi Himalaya.

I take it”, aku menunjuk kemasan 250 gram untuk kuseduh di Jakarta.

—-****—-

Mr. Tirtha, your country is unique. Some Nepalese faces are like Indians, sometimes I find them similar to Chinese”, ucapku ketika Mr. Tirtha mulai menginjak pedal gas taksinya menjauhi bukit.

Yess….Nepal is flanked by India in south and China in north. So some Nepalese have mixed marriages”, tutur beserta senyum ramahnya menjawab pertanyaan.

Kami bergerak ke timur laut dengan memutari Phewa Lake untuk kembali ke hotel yang berjarak 6 km. Setiba di New Pokhara Lodge, aku mengucapkan terimakasih kepada Mr. Tirtha yang sejak jam 4 pagi menemaniku dalam eksplorasi Pokhara. Kuserahkan Rp. 600.000 sebagai biaya jasanya, itu artinya aku hanya perlu mengeluarkan budget transportasi sebesar Rp. 150.000 karena aku memborongnya bersama trio backpacker sehotel.

Belum hilang juga nuansa perayaan tahun baru di Lakeside Road, aku kembali menjelajah pinggiran Phewa Lake setelah berbasuh dan meluruskan kaki. Kali ini, aku kelaparan dan harus makan besar. Masih ada janji pada diri pasca percakapan sepanjang hari dengan Mr. Tirtha. Ya….Aku akan mencicipi Nepali Thali.

Jajanan kaki lima sepertinya tak akan mampu meredam kelaparanku, aku bergegas memasuki sebuah resto. Terduduklah diriku di bagian dalam untuk mendapatkan udara hangat, lalu disambut oleh pelayan perempun berparas manis. Tak perlu lama memilih. “Nepali Vegetarian Thali and orange juice”, pintaku setelah melihat menu yang kubaca. Makanan khas Nepal seharga Rp. 40.000 dan juice seharga Rp. 23.000 menjadi penutup hariku malam itu.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\16. India\WA\IMG-20180102-WA0004.jpg
@Bellas Garden Restaurant.

—-****—-

Malam berganti pagi, aku menyeruput teh panas dan menghabiskan menu sarapan di pelataran hotel. Kemudian kembali ke kamar dan memanggul backpack biruku untuk bersiap pamit pada Mr. Raj. Kujabat tangan keriputnya dan kutepuk berulang kali lengan atasnya.

Aku:  “Thank you Mr. Raj for your kindness and hope to see you again next time”.

Mr. Raj: “Be careful, Donny. Thank you for stopping by in New Pokhara Lodge”.

Aku tahu Mr. Raj masih memaksakan dirinya bekerja karena anak terakhirnya masih berkuliah di Kathmandu University. Karena perkerjaannya pula, dia masih terlihat bugar.

Kali ini Mr. Tirtha datang untuk terakhir kalinya memberikan jasa taksi kepadaku. Kami berdua menuju Tourist Bus Park, mengantarkanku menuju Kathmandu.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\16. India\WA\IMG-20171231-WA0017.jpg
Bisa ga sih bertampang parlente dikit….Hadeuh, Donny!

Kuncir Kuda di Shanti Stupa

 “Prepare your leg to climb Anadu Hill !”, tutur Mr. Tirtha sambil mengepalkan tangan kanannya ke depan.

Ya, aku tahu. Di bagian akhir kali ini, aku harus menaklukkan ratusan anak tangga untuk menikmati keindahan pagoda berusia 47 tahun, satu dari delapan puluh pagoda perdamaian yang tersebar di seluruh penjuru bumi.

Menanjak ke barat laut, mesin taksi mungil itu menggerung hampir 20 menit untuk menuntaskan perjalanan sejauh 3,5 km. Tiba di area parkir, Mr. Tirtha menunjukkan darimana aku harus mulai menanjak.

Perlu waktu lama untuk menaklukkan seluruh anak tangga. Terengah….Aku sejenak menyandari pagar tangga di tengah perjalanan. Pelan menenggak air mineral tersisa, aku beristirahat sejenak sembari menikmati wajah-wajah ayu gadis Nepal yang terus melintas. Para gadis Nepal berperawakan langsing yang gemar memiliki rambut hitam panjang teurai, berkulit cokelat dan berwajah khas Asia Selatan. Akan beruntung jika kamu menemukan yang bermata sipit….cantik otentik….Aduhai.

Seperti kilat, aku tergagap ketika seorang gadis Nipon melewatiku dan melempar senyum sembari berucap singkat “Hi”. Otomatis bibirku menyungging senyum kepadanya sambil mengawasinya lekat. Aku masih terbengong ketika dia menanjak semakin jauh. “Siapa dan Kenapa?”, batinku terus bertanya.

Oh, astaga…..Itu si cantik berkuncir kuda bermarga Kawaguchi yang duduk di sisi kiriku dalam penerbangan Thai Airways TG 319”, ingatanku menyadarkan lamunan. Dia sudah menghilang di tikungan. Aku bertekad mencarinya di atas nanti.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_175219546.jpg
Patung buatan 5 November 2001.

Mulai memasuki  pelataran nan luas dan disambut oleh patung Mr. Meen Bahadur Gurung, Deputi Menteri Pertahanan Nepal yang telah berjasa dalam pengembangan stupa.

Jalan setapak menuju stupa.

World Peace Pagoda dikenal dengan nama lain Shanti Stupa. Shanti adalah bahasa Sansekerta yang berarti perdamaian. Jadi pada dasarnya ini adalah monumen perdamaian yang didirikan berwujud stupa. Stupa ini dibagun oleh sebuah ordo Buddhist dari Jepang bernama Nipponzan-Myohoji.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_175609084.jpg
Berdiri di ketinggian 1.110 m dpl.
Ruangan di belakang stupa.

Pelataran depan begitu hening, hanya terdengar satu jenis dengung yang dibunyikan oleh seorang biksu dalam sebuah ruangan. Hening dan sakral. Sementara di sisi jauh tertampil tepian selatan dari Phewa Lake dan lekukan Himalaya yang luar biasa memikat.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174802127.jpg
Pokhara dari atas bukit.
Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174751420.jpg
Phewa Lake dan Himalaya….Aset Pokhara.

Jantung terasa berhenti ketika helikopter berwarana merah mendadak menukik tajam jatuh ke danau. Baru kali ini melihat helikopter jatuh menghujam dengan tajamnya.

Nafasku yang mendadak berhenti, akhirnya mampu menarik udara kembali dengan cepat ketika helikopter itu mampu mensejajarkan moncongnya dengan permukaan danau. Astaga….Itu hanya permainan adrenalin berbayar, pastas saja pengunjung di sekitarku mengacuhkannya….Ndeso kamu, Donny.

Helikopter pembohong.

Mataku menyusuri segenap arah mencari keberadaan Kawaguchi. Berdebar berharap menemukannya. 15 menit sudah…..Tak kunjung pula aku melihat batang hidungnya. Mungkin dia sudah keburu pulang, hilang sudah kesempatan untuk meminta maaf karena aku tak mengingatnya dengan baik….Sudahlah.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174943517.jpg
Senyum palsu dibalik kekecewaan.

Sudah sore, saatnya pulang ke hotel.

Lihat suasana Shanti Stupa di sini: https://youtu.be/wSOfTsqJjX8

Mengintip Devi’s Fall di Gupteshwor Mahadev Cave

Bunyi klakson membuatku menoleh ke kiri ketika baru saja beranjak keluar dari sebuah kedai mie di Tashiling. Ya, suara cempreng itu berasal dari taksi Mr. Tirtha yang entah sejak kapan sudah terparkir di bawah sebuah pohon tepat di arah keluar area Tashiling.

I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water debit is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from the cave”, tutur Mr. Tirtha sembari memutar setirnya ke kiri memasuki jalan Shital Path. Aku mengiyakan saja informasi itu.

Devi’s Fall sering dijuluk David’s Fall sejak berpuluh-puluh tahun lalu ketika seorang Swiss tenggelam termakan arus di air terjun ini.

OK….We are arriving”, seloroh Mr. Tirtha sambil menjentikkan jari ketika baru saja berbelok ke kanan mengikuti arus jalanan Siddhartha Rajmag.

Aku mulai memasuki gapura Gupteshwor Mahadev Cave yang di puncaknya didudukkan Dewa Siwa yang gagah bersila menggenggam trisula. Melewatinya, untuk kemudian menelusuri jalur masuk beratap terpal dengan deretan kios souvenir di kiri-kanan. Kemudian aku disambut dengan kehadiran patung Dewa Wisnu yang tertidur di sebelah bangunan utama.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_165707863_HDR.jpg
Balkon utama.

Saatnya menuju ke bagian balkon beton untuk membeli selembar tiket seharga Rp. 13.500. Sebelum menuruni tangga menuju mulut goa, sejenak aku memperhatikan detail dinding tangga yang dengan jarak teratur menampilkan pahatan Dewa-Dewi yang mungkin secara implisit menampilkan sebuah lakon tertentu.

Tangga menuju mulut goa.

Perbedaan suhu sudah mulai terasa pada pijakan pertama di mulut goa. Kini aku bersiap menelusuri goa terpanjang di Nepal.

Cow Shed”, aku tertegun memperhatikan sebuah kandang sapi berpagar besi biru. Bertanyalah aku kepada orang lokal yang sedang berbincang di depannya. Katanya singkat bahwa sapi ini melindungi Dewa Siwa. Aku mengangguk seakan faham.

Menuruni tangga melalui sisi kanan kandang aku merasa tarikan nafas semakin berat. Ruang sempit gelap lembab membuatnya demikian. Kemudian cahaya terang kembali kujumpai pada sebuah kuil yang didedikasikan untuk memuliakan Dewa Siwa.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_170114903_HDR.jpg
Dasar Donny….Kamu mencuri gambar….Kan “No Camera”….Parah.

Konon goa ini ditemukan pada abad ke-16 dengan kondisi mulut goa tertutup rerumputan. Orang lokal menamai goa ini Bhalu Dulo. Ketika ditemukan, sudah terdapat ukiran beberapa Dewa Dewi Hindu seperti Mahadev, Parvati, Nageshwor dan Saraswati.

Kini tangga menuju ka dasar goa semakin tajam dan licin. Air terus menetes dari stalagtit yang terhampar merata di atap goa. Sedikitnya lampu penerangan membuat perjalanan ke bawah menjadi sangat pelan.

Hati-hati ya…..

Akhirnya penampakan dasar goa terpampang menakjubkan. Ruangan yang sangat luas berada di bawah tanah. Kemudian di salah satu sisi tertampil sebuah celah alami yang menjadi satu-satunya lubang untuk menikmati keindahan Devi’s Fall.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_170803449_HDR.jpg
Itu Devi’s Fall….Keren kan ya?.

Lihat situasi Gupteshwor Mahadev Cave disini:

https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

Karya alam milik Tuhan yang luar biasa….

Semangkuk Mie di Tashiling Tibetan Refugee Camp

Aku sudah faham sebelum Mr. Tirtha memberitahuku bahwa destinasi berikutnya adalah Tashiling, pemukiman para pengungsi Tibet di Pokhara. Nepal sendiri memberikan akses migrasi ini karena sejak zaman dahulu, Tibet dan Nepal telah memiliki hubungan kerjasama yang erat dalam bidang ekonomi, diplomasi dan budaya. Kedua belah pihak pernah berulangkali dalam sejarah menandatangi berbagai perjanjian kerjasama sebagai dua bangsa yang saling berdaulat.

Bertolak dari International Mountain Museum, taksi kini merapat ke timur dan berlari sejauh 3,5 km. Kali ini Mr. Tirtha yang berganti menginterupsi perjalanan, dia berhenti di sebuah apotek untuk membeli seracik obat. Dia bertutur dengan tabah, bahwa ayah kandungnya mengalami gangguan liver yang mengharuskannya menyisihkan penghasilan dari menyopir taksi untuk pengobatan sang ayah.

Namaska”, teriaknya pada teman-teman seprofesinya di jalanan. Dia sedikit menjelaskan bahwa Namaska adalah sapaan yang mirip dengan “Namaste”. 

Kemudian, dia menegaskan bahwa pariwisata bak emas buat negaranya. Jadi banyak orang seusianya berjuang memiliki sebuah mobil kecil untuk dipekerjakan menjadi sebuah taksi. Dan english adalah kunci bagi mereka untuk menggaet wisatawan….”Maaf Mr Tirtha, kalau di Jakarta, aku lebih memilih menjadi salesman dengan komisinya”….Hahaha, dia tertawa lebar.

15 menit kemudian, taksi keluar dari jalan utama Siddhartha Rajmarg. Berhenti di sebuah jalanan tanah. “Welcome to Tashiling”, Ucap Mr. Tirtha.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_155437418_HDR.jpg
Pemandangan Tashiling dari dropping point.

Langkahku langsung tertuju pada deretan kios penjual souvenir. Yesss….Disitulah para Tibetan mengais rezeqi untuk menyambung hidup di pengungsian. Dalam perjalanan pulang nanti, Mr. Tirtha menyayangkan para Tibetan yang bermigrasi ini karena saat ini Tiongkok sudah lebih memperhatikan kesejahteraan Tibet.

Si bapak yang begitu ramah menjelaskan berbagai makna dari barang dagangannya.

Memasuki perkampungan berusia 56 tahun ini, aku bisa mengintip sedikit budaya Tibet. Cara mereka berpakaian dan beribadah adalah hal yang gampang ditangkap dalam kunjungan singkat ini. Keramahan penduduk berbadan mungil dengan kulit sawo matang dan bermata sipit menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Menurut pengakuan dari salah satu mereka, ada sekitar 700 pengungsi Tibet di kampung ini. Bahkan di masa-masa awal pengungsian terdapat hampir 2.000 warga.

Tashiling sendiri hanya merupakan salah satu dari 12 kamp pengungsian di seluruh penjuru Nepal. Seperti diketahui bahwa semenjak perlawanan Dalai Lama, banyak warga Tibet yang bermigrasi ke Nepal pada tahun 1959-1961.

Puas melihat muka Tashiling, aku menyempatkan diri untuk duduk di sebuah kedai makan milik mereka. Kupesan semangkuk mie sebagai menu makan siang. Menu sederhana seharga RP. 20.000 yang membuatku siap untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_162806742_HDR.jpg
Enak euy….Ada minyak babinya engga ya?….Hahaha.

Yuk, jalan lageeeeeeh….

Sayatan Hati di International Mountain Museum.

Mr. Raj dengan baiknya menyuguhkan hidangan spesial untukku. Telur dengan dua mata sapi disajikan bebarengan dengan satu buah pisang, dua lapis toast berselai manga dan secangkir teh panas khas Nepal. Sementara Mr. Tirtha tampak pamit dan beranjak pulang demi menikmati sarapan buatan istri di kediamannya sendiri untuk kemudian dia akan kembali lagi menjemputku dan berkeliling Pokhara hingga sore.

Jam 11 tepat, dia datang. Kemudian dengan segarnya kami bercanda sejenak di lobby sembari menunggu trio backpacker lain muncul. Satu hal yang kusimpan dari percakapan kami berdua bahwa aku harus menjajal makanan khas Nepal berjuluk Nepali Thali.

Yups, waktunya berangkat….

Perjalanan 3 km menuju tenggara kali ini hanya terinterupsi satu kali ketika Mr. Tirtha berhenti menungguiku untuk menukar dolar di sebuah money changer kecil di tepian Phewa Lake.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_151846723_HDR.jpg
15 menit kemudian tiba.

Aku mulai memasuki pelataran dengan alas tanah berpasir. Debu menyeruak ke segala arah ketika kendaraan melaluinya. Kemudian di sebuah ticket counter yang berwujud bangunan kecil bermotif batu kali, aku mendapatkan tiket masuk seharga Rp 55.000.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_152021714_HDR.jpg
Ambil antrian….

Perlu melewati jalur khusus pejalan kaki untuk mencapai bangunan utama musium. Jalur yang dibatasi oleh deretan pepohonan yang menjulang tinggi tapi tak begitu rindang.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_152013349_HDR.jpg
Yuk jalan kaki.

Tiba di pelataran depan, sebuah monumen kecil menyambut. Monumen yang didedikasikan untuk para pendaki Himalaya yang tak pernah turun lagi karena telah merelakan jiwanya bersemayam dalam selimut salju Himalaya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_140118842_HDR.jpg
Mereka disebut mountaineers.
Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_140412276_HDR.jpg
Minggir….ngehalangin jalan lo….

Menaiki tangga untuk mencapai gerbang depan museum, kemudian aku disambut dengan x-ray gate sederhana. Di selasar awal, museum menampilkan foto-foto puncak pegunungan berlapis es di dunia. Ditampilkan pula pakaian khas negara-negara yang bersangkutan.

Slovenia dengan beberapa gunung ber-esnya yaitu Triglav (2.864 m dpl), Stol (2.236 m dpl), Prisojnik (2.547 m dpl) dan Porezen (1.630 m dpl) beserta pakaian Gorenjska.

Memasuki koridor berikutnya, museum memperkenalkan keanekaragaman etnis di seantero Nepal. Nama suku beserta pakaian khasnya ditampilkan dengan apik.  Perlu diketahui bahwa negara yang luasnya tak lebih dari 8% luas daratan NKRI ini memiliki 126 etnis didalamnya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_144106128_HDR.jpg
Etnis Thakali dari Distrik Mustang, Zona Dhaulagiri.

Masuk ke selasar tengah, museum menampilkan nama-nama puncak pegunungan Himalaya. Pegunungan Himalaya sendiri menyediakan 18 puncak utama yang menantang para pendaki dari seluruh dunia untuk menanjakinya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_144414344_HDR.jpg
Puncak Makalu (8.464 m dpl) dan Lhotse (8.516 m dpl).

Akhirnya di bagian akhir, museum mempersembahkan kisah-kisah heroik penaklukan Himalaya oleh para pendaki kelas wahid. Di bagian ini juga, dipaparkan sejumlah tragedi yang dialami mereka dengan berbagai misi pendakiannya masing-masing. Sangat mengharukan dan menyayat hati.

Kunjugan di museum kuakhiri dengan menyusuri lantai dua menuju exit gate museum. Inilah destinasi di Pokhara yang membuka mata tentang Nepal dan Himalaya.

Silahkan mampir ya kalau berkunjung ke Pokhara.

Jalebi Keluaran Purano Bazaar

Hari masih cukup pagi ketika aku mulai meninggalkan Bindhyabasini Temple. Kembali menunggangi taksi sewa harian milik Mr. Tirtha, aku beserta trio backpacker sehotel mulai menyusuri Jalan Pokhara-Baglung menuju ke arah selatan. Mr. Tirtha berencana membawaku ke sebuah pasar tua yang berusia lebih dari 250 tahun. Tuturnya, pasar tua itu bernama Purano Bazaar, tetapi khalayak sering mengujarnya Old Bazaar.

Jalanan menuju ke Old Bazaar.

Benar tutur Mr. Tirtha bahwa kuil dan pasar ini saling berdekatan. Hanya berjarak 1,5 km dengan 5 menit waktu tempuh. Sampai dengan cepatnya, Mr. Tirtha menurunkanku di salah satu sisi pasar dan dia melemparkan telunjuknya pada salah satu sudut sebagai pertanda aku harus menemuinya di sana ketika eksplorasiku di Purano Bazaar usai. Dia ingin menikmati suasana dengan caranya sendiri. Yang aku tahu, dirinya belum terpapar aroma kopi sedari pagi buta,.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_100636468_HDR.jpg
Mulai menjelajah pasar.

Perut yang mulai berasa lapar, secara otomatis menuntunku menyusuri selasar pasar untuk menemukan jajanan kaki lima sebagai pengganjalnya. Tak lama, kepulan asap putih yang keluar dari tiga tungku menarik perhatianku.

Namaste”, ucap pedagang tua yang sedang sibuk menggoreng. Sebelum menjawab, hatiku tertawa ketika pertama kalinya seumur hidup melihat penampakan Jalebi. Benar, itu adalah salah satu jenis jajanan jalanan khas India yang ku kenal ketika Saroo dan Guddu tak kesampaian mencicipi jajanan itu karena uang dari hasil mencuri batu bara di gerbong kereta tambang hanya cukup untuk menebus beberapa kantong susu untuk keluarga miskinnya di Ganesh Talai. Kejadian mengharukan dalam adegan film bertajuk Lion. Semenjak itu aku bertekad mencicipi Jalebi di India, walau akhirnya tercicip lebih cepat di Nepal.

Pedagang tua yang awalnya terbengong mengamatiku berbicara English untuk membeli makanannya tiba-tiba tertawa dan mengangkat tangannya sambil mengernyitkan dahi. Lalu pemuda berjaket biru yang sedang menikmati makanannya beranjak dari bangku dan dengan englishnya yang fasih membantu si bapak tua itu melayaniku….Great.

Yuk….Icip jalebi !.

Kembali turun ke selasar pasar, sembari mengunyah jajanan, aku menikmati klasiknya arsitektur Newar yang dinampakkan oleh bangunan-bangunan tua itu. Setiap bangunan selalu menonjolkan kekuatan visual bata merah yang terpadu dengan ukiran-ukiran khas pada kayu bangunan.

Salah satu bangunan.

Konon, bangsa Newar yang berasal dari Bhaktapur di timur jauh Pokhara adalah para pedagang ulung. Singkat cerita Raja Kaski mengundangnya untuk berdagang di Pokhara pada tahun 1752. Dan pada masa itu Pokhara sudah membangun aktivitas perdagangan juga dengan Tibet. Fikiranku mengamini, karena ada perkampungan Tibet di Pokhara….Nanti ya kita kunjungi.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_100503369_HDR.jpg
Sepatuku keren ga?….#pamer.

Keindahan pasar sangat terasa karena masih lengangnya aktivitas pagi itu. Penampakan Himalaya masih saja menjadi idola di ujung jalan. Dua destinasi bonus yang disuguhkan dengan baik oleh Mr. Tirtha, seorang Nepal berperawakan kurus tinggi, berkulit coklat khas Asia Selatan tapi memiliki mata sipit bak orang Tiongkok.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_100620328_HDR.jpg
Nice view, kan ?.

Ayook kita sarapan dulu ke hotel…..

Lihat suasana Purano Bazaar di sini: https://youtu.be/wVmGgYnTs-M

Aura Dewi Bhagwati di Bindhyabasini Temple

Usai sudah mata telanjangku menikmati pemandangan Himalaya yang memukau. Dua jam berada di Sarangkot dan menyaksikan drama alam yang bermula saat sinar fajar pertama memancar hingga kemudian pergi tersingkap siang.

Kamu boleh membaca seksama petualanganku di Sarangkot pada kisah yang telah lebih dahulu kutulis.  

Disini:

Menembus Pagi Mejemput Fajar di Sarangkot, Nepal

Aku berpamitan pada Nyonya Celesse, perempuan Belgia yang masih saja berbekas paras ayunya. Mungkin dia berprofesi sebagai foto model semasa muda. Nyonya Calesse yang berambut pirang sepundak, berjaket merah dengan syal putih masih memilih duduk manis di Sarangkot menyaksikan hamparan Phewa Lake yang biru mengkilat dihantam sinar surya.

Parkiran di bawah bukit.

Sementara di kaki bukit, tepatnya di parkiran mobil, telah menunggu 3 backpacker lain yang sejak pagi buta menuju ke tempat ini bersamaku.

—-****—-

Aku: ” So, we returned to the hotel for breakfast and taking a bath”, ucapku di bangku depan pada Mr. Tirtha si Pengemudi taxi.

Mr. Tirtha: “Sure, but before it, can I take you to two places which are located along with our way back? ”, senyumnya menyimpan misteri dan kejutan.

Aku: “Oh, yeah….Is it one of International Mountain Museum, Tashi Ling, Gupteshwor Mahadev Cave or Shanti Stupa?”, kufikir masih ada waktu kesana setelah sarapan.

Mr. Tirtha: “Oh No, Hahaha….That are different places …. 2 places are close together, sir”, sengaja membuat penasaran.

Aku: “Oh yeah….Nice to hear that. How about you, friend?“, tanyaku ke trio backpacker di jok belakang meminta persetujuan.

Akhirnya kami sepakat menuju ke tempat yang dimaksud.

—-****—-

Bangunan utama kuil.

Menuju timur, taksi merangsek pelan menyusuri Sarangkot Road. Menempuhnya selama 20 menit, aku tiba di sebuah pertigaan. Berpapasan dengan bus sekolah yang sepertinya seragam berwarna kuning di seluruh benua, kemudian perjalanan berlanjut  dengan menyibak pelan kerumunan pesepeda dan pemotor hingga akhirnya taksi terparkir di sebuah tepian tanah trotoar.

Trisula pemberian Dewa Siwa untuk Dewi Bhagwati.

Pelawat tak dipungut biaya apapun ketika bergantian memasuki area kuil melalui tangga di salah satu sisi turap. Selesai menaiki tangga, pelataran kuil yang luas terpampang di depan. Beberapa jemaat mulai mengantri untuk beritual ke stupa putih di sebelah kiri, sementara yang lain memberikan sesajen di sebuah patung sapi yang menghadap ke sebuah bangunan kuil. Dan tepat di pusat pelataran berdiri bangunan utama dengan tiga tingkat atap yang tak kalah ramai dengan jemaat. Di bangunan inilah patung Dewi Bhagwati berada.

Sebuah tugu di pelataran.

Dewi Bhagwati sendiri dipercaya sebagai Pelindung Pokhara yang disucikan dalam kuil. Jemaat secara rutin memberikan persembahan kepada Sang Dewi dengan menyembelih berbagai hewan ternak. Dan rakyat Pokhara perlu berterimakasih karena raja mereka Siddhi Narayan Shah telah berjasa membangun kuil ini pada abad ke-17.

Suhu yang mulai menghangat memanjakan siapa saja untuk berlama-lama duduk di pinggiran turap berketinggian 900 meter diatas permukaan laut. Lalu sembari menghirup udara segar, aku menikmati perumahan penduduk berlatar biru Himalaya.

Cakeppp…..

Lihat situasi di Bindhyabasini Temple disini:

https://www.youtube.com/watch?v=SFWKsmibJ_w

Ayo kita ketempat berikutnya….Ikuti aku, ya!

7 Destinasi Wisata di Pokhara

Mengunjungi Nepal identik dengan mengunjungi Himalaya. Dan seluruh pelancong tahu bahwa gerbang Himalaya itu ada di Pokhara. Sudah lama kota berjuluk “Permata Himalaya” ini membuka diri untuk mempertontonkan keelokannya ke penjuru dunia.

Hal inilah yang menempatkan Pokhara menjadi top list dalam kunjunganku di kawasan Asia Selatan. Bukan Kathmandu, tapi kota terbesar kedua Nepal yang terletak di barat laut lembah Pokhara inilah yang membuatku bergegas sejenak meninggalkan ibukota Nepal walaupun baru sehari tiba.

Berikut tujuh destinasi wisata yang kukunjungi di Pokhara:

1 Sarangkot.

Menjadi titik pandang terdekat untuk menikmati pegunungan Himalaya menempatkan Sarangkot sebagai gtempat istimewa untuk dikunjungi para pelancong yang tak memiliki banyak waktu untuk mendaki pegunungan tersohor itu.

Datanglah di awal pagi  dan duduklah di viewpoint mendahului fajar. Nikmati gradasi warna yang menyiram lapisan es di puncak Machhapuchhare. Niscaya warna keemasannya akan membuatmu terpesona.

2. Bindhyabasini Temple

Menuruni Sarangkot berlatar Phewa Lake yang ikonik, aku segera menuju ke sebuah kuil Hindu tempat pemujaan Dewi Bhagwati yang terletak 7 km di sebelah timur Sarangkot. Tepat jam 08:14 kuil sudah begitu ramai dengan lalu lalang pelawat dan juga jemaat yang datang untuk bersembahyang.

Letak kuil yang berada di sebuah bukit membuatku dengan leluasa memandangi rapatnya perumahan penduduk yang berlatar pegunungan Himalaya yang membiru dengan warna putih di puncaknya.

3. Old Bazaar/Purano Bazaar

Kini aku bergerak 2 km ke arah selatan menuruni jalanan menuju sebuah tempat perniagaan yang sudah ada sejak abad ke-18. Pasar dengan dominasi arsitekur Newar bermotif bata merah dengan belahan jalur yang hanya cukup bagi dua kendaraan yang saling berpapasan.

Pukul 09:15…Masih terlalu pagi buat masyarakat Pokhara untuk berdagang. Sejauh mata memandang, memoriku dimanjakan dengan pemandangan jalanan pasar yang dihapit oleh bangunan klasik di kiri- kanan kemudia di ujung jalan sana dibendung dengan wajah Himalaya yang keelokannya abadi.

Saking lengangnya pasar, menikmati Jalebi di tengah jalanan pasar pun tak ada yang mengganggu.

4. International Mountain Museum

Sekembali dari hotel untuk menyantap sarapan. Kemudian, aku melanjutkan bertamu ke sebuah museum yang didedikasikan bagi para pendaki Himalaya yang tak pernah lagi turun dengan selamat.

Dengan membayar Rp. 55.000, aku disuguhi galeri yang menampilkan sederet foto puncak bersalju di seantero dunia disusul dengan kekhasan berbagai etnis penghuni Nepal, kemudian ditutup dengan beberapa kisah heroik para pendaki Himalaya.

5. Tashiling Tibetan Refugee Camp.

Bagi yang belum sempat mengunjugi Tibet, maka rasakan nuansanya dengan mengunjungi para Tibetan di Tashiling. Perkampungan ini ditinggali oleh pengungsi Tibet yang bermigrasi karena intrik politik.

Mereka menyambung hidup dengan cara berdagang di tempat tinggalnya yang baru. Banyak para pelancong yang berbelanja souvenir di tempat ini. Aku sendiri menyempatkan menyantap makan siang dengan menu semangkuk mie seharga Rp. 20.000 di salah satu kedai makan milik mereka.

6. Gupteshwor Mahadev Cave.

Berjarak selemparan batu dari Tashi Ling, goa yang terletak persis di tepian jalan Siddhartha Rajmarg ini berbiaya masuk Rp. 14.000. Melingkar menuruni tangga dengan bangunan utama berwarna merah, aku sampai pada mulut goa. Berlanjut menyusuri liukan lorong-lorong sempit nan lembab yang berujung pada ruangan utama gua dengan pemandangan derasnya air terjun yang terintip dari guratan celah memanjang di salah satu sisi….Indah sekali.

7. World Peace Pagoda

Menjelang sore, aku tiba di destinasi terakhirku. Dengan nama lain Shanti Stupa, pagoda putih bersih ini harus ditanjaki dengan susah payah di Bukit Anadu. Sebuag situs peribadatan peninggalan jepang perlambang perdamaian yang menjunjung kesunyian. Tak diperkenankan berisik sedikitpun adalah norma yang harus ditaati selama berkunjung.

Hiasan alam berupa Pegunungan Himalaya beralas Phewa Lake dalam satu sisi pandang menjadi semakin sempurna dengan penampakan kota Pokhara bak maket terlihat dari atas.

Jadi, jika kamu berkunjung ke Pokhara pastikan mengunjungi tempat-tempat keren ini ya.

Berganti Tahun di Tepian Phewa Lake

Mengakhiri transaksi dan menggenggam tiket bus Pokhara-Kathmandu, aku berniat cepat menuju penginapan. Jarum jam serasa bergerak cepat dan gelap perlahan pasti menyelimuti kota, hingga kemudian aku menyatakan setuju pada sopir taksi untuk mengantarkanku ke New Pokhara Lodge.

Taksi putih mungil lincah membelah patahan-patahan gang kecil. Sekali dia tampak kebingungan hingga memaksanya turun dan bertanya kepada sosok muda yang sedang terlena pada secangkir kopi dan sebungkus sigaret. Kemudian tunjukan tangan sang pemuda membuat si sopir mengangguk faham.

—-****—-

Aku terduduk dan mengamati pecahan uang kertas berbagai bangsa yang tersusun rapi  menjadi galeri lobby. Salah satunya adalah pecahan bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Lobby New Pokhara Lodge

Selang beberapa waktu, muncul pria setengah baya yang tampak telah melambat gerakannya tetapi berusaha untuk tetap tersenyum. Selanjutnya aku mengenalnya sebagai Mr. Raj, penanggung jawab hotel yang sangat baik dalam memberikan pelayanan untuk para tamunya di New Pokhara Lodge.

Aku ditempatkan di lantai dua di hotel berbentuk letter-U, berlantai tiga dan berwarna oranye itu. Ruang inap yang kutebus dengan harga sebesar Rp.108.000 kini menjadi basecampku selama berkelana di Pokhara.

—-****—-

Mr. Raj menasehatiku singkat,  “Don’t worry about your security in New Year Celebration!. Don’t drink too much and back soon!….Enjoy your night and Happy New Year”.

Suasana Lakeside Road.

Berjalan kaki sejauh 650 meter menuju tepian Phewa Lake , aku menelusuri jalur kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Hanya dua menit hingga tiba di keramaian Lakeside Road. Tampak panggung yang tak lebih baik dari panggung Kelurahan Ciracas telah disiapkan di tepian danau.

Aroma kuliner kaki lima ditengah riuhnya rombongan muda mudi Nepal menjadi paduan sempurna di dinginnya Pokhara. Suhu 8o C perlahan mengintimidasi  lambung. Dan rasanya tak sanggup jika harus makan dan duduk berlama-lama di trotoar, suhu dingin malam telah membuat tangan dan mukaku yang tak berpelindung menjadi kaku. Pada akhirnya, langkah kaki mengantarkanku memasuki AM/PM Organic Cafe. Secangkir Masala tea beserta vegetarian fried race menjadi penghangat tubuh menjelang tengah malam yang sedang ditunggu manusia sejagat.

Menunggu pesanan datang.

Makanan yang sudah habis tak bersisa, cangkir teh yang telah mengering dan pelayan yang terus memperhatikan, membuatku tak enak hati. Firasatku mengatakan untuk segera keluar dari cafe karena tentu si empunya berharap meja yang kini kutempati bisa segera dijualnya ke pengunjung lain.

Kini aku berusaha menyelinap ke kerumunan untuk menghindari hembusan angin dingin dari arah danau. Perawakan dan gurat muka yang mirip Nepali membuatku terlihat seperti penduduk lokal yang semuanya berdiri mengelilingi panggung.

Artis lokal silih berganti memberikan performance terbaiknya, anak-anak usia sekolah dasar tak mau kalah dengan tariannya, kesemuanya dipandu oleh MC berperawakan ideal, berambut klimis tanpa kumis dan berparas layak aktor Bollywood.

Panggung sekecil itu ditengah banyaknya penonton.

Malam itu, warga Pokhara serasa menjadi manusia paling bahagia di dunia sedangkan aku merasa kembali ke era 1986 dimana aku masih menjadi siswa kelas satu SD di Semarang kala itu.

Aku tak yakin akan ada riuh gempita pesta kembang api. Keyakinan itu membuatku perlahan mengundurkan diri dari kerumunan. Berjalan pelan dan terngiang petuah Mr. Raj yang memperingatkanku akan kemungkinan yang bisa terjadi karena memang banyak pemuda yang terlalu banyak minum di jalanan.

Belum juga menikung menuju sebuah gang, kerumunan mulai keras berhitung mundur bersambung luncuran kembang api ke udara dan meledak tepat di pusat Phewa Lake. Momen yang kutunggu hingga hampir diputus-asakan oleh dingin. Aku berbalik badan dan menikmati suasana itu. Danau yang semula gelap dan tampak hitam saja, kini airnya memantulkan spektrum cahaya kembang api yang bergantian meledak di atasnya.

Kekaguman yang bahkan tak kudapatkan pada momen yang sama setahun lalu di Osaka. Keindahan yang membuatku lupa mengabadikan momen itu sendiri. Tapi tak apa lah, otakku masih merekamnya dengan baik hingga kini.

Lihat situasi menjelang tahun baru di tepi Phewa Lake:

https://www.youtube.com/watch?v=0K87N2E0imk

Malam yang sempurna.