Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Sudah pernah coba beli tiket di 12Go ndak?. Sekali-kali boleh kamu coba deh. Berikut linknya: https://12go.asia/?z=3283832

Jet Airways 9W 256 from Mumbai to Colombo (BOM-CMB)

My third-flight and also my last flight with Jet Airways were deliberately priority to be written. Remembering every Jet Airways flights that are very important in completing my exploration in South Asia region.

Early morning flight (2:05 p.m.) which was departed from Chhatrapati Shivaji International Airport in Mumbai made me lack of sleep time since checked-in until landing (04: 35).

Entering airport, I immediately sought a pray room. Entering prayer room, I was greeted by a man who was wearing an ihram cloth (Ihram cloth is specific cloth for hajj or umrah in Mecca) among a group of umrah tour which were praying together. His hospitality smile welcomed me after ablutions.

He : “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?

Me: “Hi sir …. from Indonesia“. I threw a smile to him.

He: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia“. He smiled again.

Me: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. I shaked his hand

He: “Where will you go?

Me: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

He: Suddenly hugging me … ” Really, How about my country? nice?

Me: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

He: smile again and patted my shoulder.

I also found some Indians praying at some airport corridors.

Dinner at that night were some authentic Indian street fried foods which I got from the last rupee after exploring Mumbai”

A thing that I always do when traveling is to exchange my last local moneys into USD before leaving a country which I visited and then spending last coins which can’t be exchanged to buy a menu for next meal. In fact, sometimes I will eat it in next country.

Last 2 hours waiting time was used to charge all my electronic devices which low battery after I use it in exploring Mumbai.

Airport information calls which don’t use Indian-English accent at all make me feeling like at European airports (It’s still dream….I’ve never set foot in Europe). Yeah cool.…all information calls at this airport is accented with native english .

It was really nice to see my plane leaned on gate 85D, a sign that I would set foot in Colombo soon.

My plane just arrived and was unloading

1 hour later boarding process started.…

through aviobridge I finally caught my third flight with Jet Airways.

Online checking-in that I did 24 hours before flight made me free to choose a window seat. This position is always my choose at every flight to easy documenting every moment during flight.

boarding process before I really fell asleep.

Trying to still awake by reading “Jet Wings”, I hoped cabin crews would immediately distribute in-fligt meal.

this is Jet Airways’ inflight magazine.

Even when I fell asleep, inflight meal never came. Apparently, there wasn’t food on this flight. Or whether I missed it. Because I really fell asleep very hard. Because less sleep during Mumbai exploration.

I was awakened by flight attendants to immediately establish my seat, signaling that I would land in Colombo soon.

I deftly set up my Canon EOS M10 and turned it on. I would catch some city view when plane prepared to touch down at Bandaranaike International Airport.

I was stunned by a row of lights that were patterned straight and neat. There wasn’t doubt that it must be a beach that would ll be my destination in Colombo.

View along the famous Galle Face beach.

10 minutes later, Jet Airways actually landed in Colombo. Hmmmh… couldn’t wait to get down soon.

Bandaranaike International Airport could be seen from plane’s window.

My arrival was at 4:35 a.m., I had to wait until morning to catch first airport bus which would go to downtown.

Jet Airways was in unloading process at Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….kindly welcomed me, please….hehehe.

Jet Airways 9W 256 dari Mumbai ke Colombo (BOM-CMB)

Penerbangan ke-3 sekaligus penerbangan terakhir bersama Jet Airways ini sengaja kudahulukan untuk ditulis. Mengenang setiap penerbangan Jet Airways yang sangat berjasa dalam menuntaskan penjelajahanku di kawasan Asia Selatan.

Penerbangan dini hari (jam 02:05) yang bertolak dari Chhatrapati Shivaji International Airport di Mumbai membuatku kekurangan waktu tidur dari mulai check-in hingga landing (jam 04:35).

Memasuki airport, Aku segera mencari pray room untuk bersembahyang. Memasuki mushala, Aku disapa oleh seorang Bapak yang mengenakan kain ihram bersama sekelompok rombongan yang sedang shalat bersama. Senyum keramahannya menyambutku seusai berwudhu.

Dia: “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?”

Saya: “Hi Sir….from Indonesia”. Sembari kulempar senyum.

Dia: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia”. Dia kembali tersenyum

Saya: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. Kujabat tangannya

Dia: “Where will you go?

Saya: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

Dia: Tiba-tiba memelukku….”Really, How about my country? nice?

Saya: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

Dia: Kembali senyum dan menepuk-nepuk pundakku.

Aku juga menemukan beberapa orang India bersembahyang di beberapa selasar airport.

Makan malam waktu itu bermenu “beberapa gorengan jalanan asli India yang kudapat dari recehan rupee terakhir pasca menjelajah Mumbai”

Trik yang selalu kulakukan saat traveling adalah menukar kembali kelebihan uang lokal dengan USD sebelum meninggalkan negara yang kukunjungi lalu membelanjakan uang receh yang tak bisa ditukar dengan seporsi menu untuk waktu makan selanjutnya. Bahkan terkadang makanan itu akan kumakan di negara selanjutnya….Gokil bued….Ngirit minta ampun.

2 jam waktu tunggu tersisa kumanfaatkan untuk mengisi daya semua alat elektronikku yang lowbatt setelah kugunakan dalam menjelajah Mumbai.

Panggilan informasi bandara yang tidak sama sekali berlogat Indian English membuat Aku merasa berada di bandara-bandara Eropa (Ngaco….padahal belum pernah menginjakkan kaki di Eropa). Iya keren lho….panggilan informasi di airport ini beraksen native english.

Seneng banget melihat pesawatku merapat ke gate 85D, pertanda Aku akan segera menginjakkan kaki di Colombo.

Pesawatku baru sampai dan sedang proses unloading

1 jam kemudian boarding process pun dimulai…..

melalui aviobridge akhirnya Aku menangkap penerbangan ketigaku bersama Jet Airways.

Online check-in yang kulakukan 24 jam sebelum penerbangan membuatku leluasa memilih window seat. Posisi ini yang memang selalu kuincar setiap terbang untuk bisa mendokumentasikan setiap momen selama pernerbangan berlangsung.

boarding process sebelum Aku benar-benar terlelap tidur.

Mencoba menahan mata dengan mambaca “Jet Wings” berharap para awak kabin segera membagikan in-fligt meal.

inilah infligt magazine nya Jet Airways.

Bahkan hingga Aku terlelap menu itu tak pernah datang. Ternyata memang tak ada makanan dalam penerbangan kali ini. Atau entah Aku melewatkannya. Karena Aku benar-benar terlelap sangat nyenyak. Akibat kurang tidur selama eksplorasi Mumbai.

Dibangunkan oleh pramugari untuk segera menegakkan tempat duduk, menandakan Aku akan segera mendarat di Colombo.

Dengan cekatan Aku segera men-setting Canon EOS M10 ku dan menyalakannya. Aku akan menangkap beberapa view kota disaat pesawat bersiap touch down di Bandaranaike International Airport.

Aku tertegun dengan deretan cahaya lampu yang terpola lurus dan rapi. Tak salah lagi itu pasti pantai yang akan menjadi destinasiku di Colombo.

View sepanjang pantai Galle Face yang sangat terkenal itu.

10 menit kemudian Jet Airways benar-benar mendarat di Colombo. Aduh…ga sabar untuk segera turun.

Bandaranaike International Airport terlihat dari jendela pesawat.

Kedatanganku pada pukul 04:35 dini hari, membuatku harus menunggu hingga pagi untuk menangkap airport bus pertama yang akan menuju pusat kota Colombo.

Jet Airways sedang unloading process di Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….sambutlah diriku dengan ramah ya….hehehe.

Overnight at Shahjalal International Airport, Dhaka

Bangladesh is a dream come true. I visited it while many tourists skip this destination because it is considered unsafe to visit

This country is often chaotic when there is even a little political friction. So it was very certain when I visited it two days after election, it was very easy to meet a fully armed soldiers everywhere.

But I don’t want to discuss Dhaka tourism now. As usual, before entering an other country, I will introduce how about its gate. I deliberately made Shahjalal International Airport as one of my places to stay during the 17 days of my backpacking journey.

The airport is very small on size as a capital city airport. After finished process in immigration counter, I was immediately confronted with a not-so-large waiting room.

Fine …. “I will enjoy for 12 hours around it”.

Thirsty … Where is free water station? Yes, I found it on the left of immigration counter.

Want to praying?

Asking to an airport policewoman after couldn’t find the sign, finally I found the mosque on up stair (second floor).

How about the bed?

Relax guys, you can safely sleep here because you will be accompanied by airport police. The triple chair is comfortable enough to just sleep until tomorrow morning. Prepare a thick jacket because the airport air conditioner is very cold. … Shivering all night made me sleepy on next day.

Don’t shocked if mosquitoes greet you …. don’t be stingy to give a little blood so they also feel good … hihihi

Actually in the waiting room which is directly adjacent to the immigration counter there is a sign that it is forbidden to take photos … I just take some pictures for writing purposes.

Want to shopping?

Yes, You can … near the waiting room there are 4 duty free shops. Eiitt … It is forbidden for me, just saw it from a distance.

Want to exchange money?

There are 3 money changers on the left side of immigration counter. Exchange your money enough ! because my last local money about 300 Taka can’t be exchanged again in the money changer … Finally I used it for bought some food for lunch on the plane later when I was flying to Mumbai.

Want to eating?

There is only one restaurant at this airport. It is in front of the money changer. The fried rice price is 470 Taka or around USD 6,30 made me not interested to ate in it … sorry, I couldn’t get a restaurant picture….hihihi.

I also found a flight transfer desk in a separate room behind the money changer, this counter was managed by Biman Bangladesh Airlines. So flights with any airlines, the transfers will be processed of by them.

Toilet?

The toilet design is simple but quite clean in my opinion. If you want to be comfortable … You better use it in early morning when the toilet is still fragrant …. hihihi … because I always do like that every stay in airport.

About them?

I interacted with a man who wanted to work in Malaysia as a security. Also a man who landed from working in Kuwait, or just helped illiterate young man to show where was his gate to fly

Their hospitality left an impression, unforgettable and touching my heart. I want to come back to their warmth someday.

And finally my stay was ended when Jet Airways called me to fly to Mumbai:

Thanks Shahjalal….Nice Dhaka….Beauty Bangladesh.

Jet Airways 9W275 dari Dhaka ke Mumbai (DAC-BOM)

Jet Airways adalah airlines ke-19 yang pernah kunaiki selama menjadi backpacker. Maskapai biru kuning ini adalah maskapai terbesar kedua India dan sebagian kepemilikannya dipegang oleh Etihad Airways dari Uni Emirates Arab (UEA). Dan penerbangan Jet Airways ini adalah kali kedua Aku menggunakannya. Penerbangan perdanaku bersama Jet Airways adalah saat terbang dari Kathmandu, Nepal ke New Delhi, India pada 4 Januari 2018.

Jet Airways 9W275 ini adalah penerbangan terjadwal Rabu, 2 Januari 2019. Ticket Kuissued 7 bulan sebelumnya, tepatnya pada 26 Mei 2018. 

MUMBAI….adalah daya tarik yang membiusku untuk rela menyinggahinya sebelum menuju Colombo, Sri Lanka. Aku selama ini tak pernah percaya akan berita “miring” tentang India….Buatku, tanah Mahabharata ini memiliki sisi eksotisme tersendiri yang selalu tak terlupa. Eksotisme yang bisa diukir di hati dan mencemar otak ketika meninggalkan negeri ini.

Kembali ke penerbangan Jet Airways,

Setelah melewati konter imigrasi Shahjalal International Airport, Dhaka-Bangladesh, Aku hanya perlu melewati sebuah hall kecil tempat para penumpang menunggu sebelum masuk ke Gate.

menuju gate 11

Sebelum masuk ruang tunggu, Aku dihadang oleh X-ray checking di depan gate:

mengular

Nah ini uniknya Jet Airways, setelah melewati x-ray checking, cabin baggage penumpang masih harus dibuka dan diperiksa kembali. Terasa sangat ketat. Mengingatkanku akan pemeriksaan cabin baggage di depan pintu pesawat Jet Airways saat meninggalkan Kathmandu menuju New Delhi pada Januari 2018 silam…..lucu ajah….hihihi

ituh tuh….meja pemeriksaan cabin baggage

setelah lolos pemeriksaan cabin baggage maka penumpang baru bisa duduk manis di ruang tunggu gate 11:


Unik banget kelakuan para penumpang India dan Bangladesh…

Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Aku mulai boarding.

Ngintip bagian depan pesawat….menjadi ritualku sebelum terbang.

Boarding melalui aviobridge dan mencari tempat dudukku di bangku nomor 37F….mayan deket jendela.

inilah penampakan interior Jet Airways Boeing 737-900 ER

Mau lihat penampakanku yang tak mandi sejak 24 jam sebelum terbang. Nih…hahahaha bau:

Penerbangan ini berlangsung selama 3 jam 25 menit. Selama penerbangan, Aku disuguhi Non Vegetarian Meal. Aku ditawari pramugara veg or non veg di pesawat karena lupa memilih makanan saat issued tiket.  Setelah kubuka isinya nasi beserta ayam kari khas India….maknyus.

Paras pramugari pramugara muda nan elok khas India menjadi pemandangan yang membumbui penerbanganku kali ini.

cantik ga?

Di awal penerbangan meninggalkan Dhaka, pemandangan diluar jendela pesawat terkesan biasa.  Aku hanya khusyu’ membaca JetWings yang merupakan inflight magazinenya Jet Airways.

Tetapi memulai masuk ke 2,5 jam penerbangan, Aku disuguhkan pemandangan indah nan memikat mata

pegunungan berbatu …dekeeet bingit….seram tapi indah.

         entah itu sungai apa….mengular dan mengkilat indah

Satu jam kemudian pesawat sudah berada di atas kota Mumbai.

Kota Mumbai dari atas

rumah penduduk yang berjubel

Ahirnya setelah 3,5 jam Aku mendarat di Chhatrapati Shivaji International Airport, Mumbai. Oh iya…Bandara ini adalah main hubnya Jet Airways gaes….

Akhirnya Aku menginjakkan kaki di India…..Mau lihat Mumbai ga gaes?….

Menginap di Shahjalal International Airport, Dhaka

Bangladesh adalah mimpi menjadi nyata. Aku menginjakkan kaki disana ditengah realita bahwa banyak turis melewatkan destinasi ini karena dianggap tak aman untuk dikunjungi.

Negara ini memang sering chaos ketika ada sedikit gesekan politik sekalipun, tak hayal ketika Aku mengunjunginya dua hari setelah election, sangat mudah kutemui aparat bersenjata lengkap dimana-mana.

Tapi Aku belum mau membahas wisata Dhaka. Seperti biasa, Sebelum masuk rumah orang maka Aku akan perkenalkan bagaimana gerbangnya. Aku sengaja menjadikan Shahjalal International Airport sebagai salah satu tempat menginapku sepanjang 17 hari pengembaraanku mencari kitab suci….#keksungokong

Bandara ini sangat sederhana untuk ukuran bandara ibu kota. Begitu masuk konter imigrasi, Aku langsung dihadapkan pada ruang tunggu yang tak begitu luas.

Fine….Guweh akan berwisata selama 12 jam di sekitaran situ.

Haus…Free water station mana? Yes, Aku menemukannya di kiri konter imigrasi.

Mau Shalat?

Berbekal nanya ke polisi bandara setelah tak kunjung menemukan tanda, Aku menemukan mushalla setelah naik satu lantai.

Bagaimana dengan tempat tidurnya?

Tenang gaes, Kamu akan aman tidur disini karena akan ditemani para polisi bandara. Kursi triple cukup  nyaman untuk sekedar merebah hingga esok pagi. Siapkan jaket tebal karena AC airportnya muantab.…Menggigil semalaman membuatku ngantuk berat di keesokan harinya.

Jangan baper jika sedikit mosquito menyapa kalian….jangan pelit kasih sedikit darah supaya mereka juga nyenyak….hihihi

Sebetulnya di ruang tunggu yang berbatasan langsung dengan konter imigrasi ini ada tanda dilarang mengambil foto….Aku hanya mengabadikan seperlunya untuk keperluan tulisan ini…..buandelll

Mau Belanja?

Boleh…tepat di sebelah ruang tunggu terdapat 4 duty free shop. Eiitt….verboden baut guweh, cukup liat dari kejauhan aja.

Mau tuker uang ?

Ada 3 money changer di sebelah kiri konter imigrasi. Tukarlah uang secukupnya karena ketika uangku sisa 300 Taka tak bisa di tukar lagi….Kubelikan saja makanan untuk lunch di pesawat nanti saat terbang ke Mumbai.

Mau Makan?

Hanya ada satu restoran di bandara ini tepat di seberang depan kanan money changer. Harga nasi gorengnya 470 Taka atau sekitar Rp. 85.000 membuatku takkan pernah bisa mengambil foto penampakan dalam restoran….maaf ya….hihihi.

Aku juga menemukan flight transfer desk di ruangan terpisah di belakang money changer, konter ini dikelola oleh Biman Bangladesh Airlines. Jadi penerbangan dengan airlines apapun, transfernya akan diurusin oleh mereka.

Toilet?

Desain toilet sederhana tapi cukup bersih menurutku. Kalau mau nyaman….ya nongkronglah di pagi subuh saat toilet masih wangi….hihihi….karena guweh juga selalu begitu.

Tentang Mereka?

Aku berinteraksi dengan seorang Bapak yang hendak bekerja ke Malaysia untuk sekedar menjadi security. Juga seorang Bapak yang baru pulang kerja dari Kuwait, atau sekedar membantu anak muda buta huruf untuk menunjukkan dimana gatenya untuk terbang

Keramahan mereka meninggalkan kesan, tak terlupakan dan menyentuh hati. Ingin rasanya kembali lagi ke kehangatan mereka suatu saat.

Dan akhirnya masa inapku berakhir saat Jet Airways memanggiku untuk terbang ke Mumbai:

Thanks Shahjalal….Nice Dhaka….Beauty Bangladesh.