Tunggu Aku Swarnadwipa!Transportasi Umum dari Jakarta ke Bandar Lampung

Malam tadi aku baru saja merapat ke ibu kota pasca menunaikan momen sakral umat muslim….Yupz, mudik Ied Mubarak.

Usai berbasuh dengan air hangat demi mengendorkan otot betis setelah delapan belas jam tanpa henti menginjak pedal, aku tak lekas jua memejamkan mata. Sisa cuti yang masih lima hari tetiba membuatku insomnia.

Apa kata jagat jika aku hanya berdiam di rumah selama itu?.

”Tidak bisa dibenarkan”, hatiku mulai berontak. Aku terus berfikir keras menenangkan rasa.

Malam itu, aku jadi terngiang lagi celoteh lama kantor, sewaktu rekan marketing berencana melawat ke Pahawang, tetapi tetap saja belum terealisasi hingga kini. Begitulah segenap rencana para rekan, pernah pula berencana mengeksplor Danau Toba sejak bertahun-tahun lalu tetapi hingga kini tak pernah terealisasi, bak sebuah kutukan. Beruntung aku memecahkan kutukan itu dengan nekat melawat sendirian ke Samosir pada 2018 silam.

Mungkin aku harus melakukannya sekali lagi”, aku tersenyum sinis….Oh, Donny yang jahat.

Saatnya untuk kedua kali, aku merenggut mimpi rekan-rekanku lagi. Menjelang pergantian hari, aku mengambil keputusan bulat untuk melawat ke Pahawang yang terletak di Provinsi Lampung.

Kapan, Don?…”aku mengajukan pertanyaan ke diriku sendiri.

Besok pagi….Ya, besok pagi”, aku menjawab pertanyaanku sendiri.

—-****—-

Aku kesiangan….

Subuh masih berhasil kutunaikan beberapa menit lewat dari jam enam pagi….Shalat Subuh macam apa itu….Huh, dasar Donny!

Ini akibat aku tak bersiap packing malam tadi. Kini dengan tergesa, aku menyambar beberapa perlengkapan dan peralatan standar untuk melakukan perjalanan pendek lima hari. Tiga helai t-shirt dan dua helai celana panjang adalah perlengkapan terprioritas yang pertama kusambar.

Tepat jam lima, aku sudah meninggalkan rumah demi menangkap angkutan kota  menuju jalan raya utama yang dilalui bus umum menuju Merak. Seperempat jam sebelum pukul tujuh, bus berkelir putih tampak lamat hadir dari kejauhan.  Kuperhatikan dengan seksama, kata “Merak” di bagian atas kaca depan bus otomatis membuatku merapat ke trotoar dan segera bersiap diri untuk menaikinya.

Benar saja, kondektur itu menongolkan muka dari pintu depan begitu aku menghentikan bus dari kejauhan. Aku melompat masuk melalui pintu depan ketika bus masih melaju perlahan. Duduk di bangku tengah, senyumku lebar mengembang, merasa bahagia karena petualangan di masa cutiku masih jauh dari usai.

Menyerahkan Rp. 38.000 sebagai ongkos, aku bersiap diri untuk melaju menuju Pelabuhan Merak yang berjarak seratus dua puluh kilometer. Telah beberapa kali menempuh perjalanan melalui Jalan Tol Jakarta-Merak menutup keinginan hati untuk menikmati perjalanan yang berdurasi tak kurang dari tiga jam itu….Aku memilih terlelap, meredam ulang segenap otot yang fatigue dari kesibukan mudik dan kurangnya tidur malam.

Menjelang pukul sepuluh, bus perlahan merapat ke Pelabuhan Merak. Sebetulnya aku tak asing dengan pelabuhan tersebut. Waktu kuliah dulu, aku pernah menjajal pelabuhan ini menuju Lampung demi mengikuti rapat kerja sebuah organisasi kemahasiswaan. Sedangkan lawatan yang kedua, aku kembali melewati Bandar Lampung saat memasarkan ikan air tawar menuju Martapura.

Akhirnya tiba di Pelabuhan Merak.

Patuh pada peraturan tak tertulis kaum backpacker, aku mengindahkan koridor terminal kapal kelas eksekutif. Dengan mantap, aku melintas di sepanjang koridor pejalan kaki menju terminal kapal kelas reguler.

Sejauh mata memandang, ternyata sepanjang jalan menuju koridor belumlah berubah, deretan warung makan dan jajanan rapat mengisi salah satu sisinya.

Di ujung  jalan adalah muka koridor, lorong beratap itu telah disterilkan dari kegiatan komersial. Tampak di beberapa titik terdapat informasi yang menjelaskan bahwa setiap penumpang harus segera menyiapkan identitas dan saldo uang elektronik.

Rupanya,prosedur ticketing  sudah berubah”, aku membatin. Dahulu pembelian tiket bisa dilakukan menggunakan uang tunai secara langsung di konter.

Sepuluh menit melangkah dari titik drop-off bus, aku tiba di loket penjualan. Keberadaan loket khusus pembelian online menunjukkan bahwa tiket kapal menuju Lampung bisa dibeli secara online.

Aku yang tak berbekal pengetahuan apapun, memutuskan untuk mengambil sebuah antrian di loket pembelian tiket reguler.

Pengurus pelabuhan menyediakan delapan loket untuk mengurai kepadatan penumpang. Aku sendiri mengantri di loket B untuk mendapatkan tiket menyeberang Selat Sunda seharga Rp. 15.000. Karena tak menyiapkan uang elektronik aku terlebih dahulu harus membeli sebuah kartu uang elektronik keluaran salah satu bank milik pemerintah.

Menggenggam selembar tiket pemberangkatan, aku bergegas menuju ke kapal untuk mengejar pemberangkatan tercepat. Kini aku menelusuri koridor dalam bangunan pelabuhan. Memperhatikan seisi interior, tampak nyata bahwa Pelabuhan Merak telah mengalami reformasi pelayanan yang menakjubkan.

Tampak posko medik dikelola lebih professional dan fasilitas umum disediakan dengan cukup baik, keberadaan charging station adalah salah satunya. Automatic fare collection gate juga sudah disediakan layaknya gerbang-gerbang yang sama di stasiun-stasiun MRT ibu kota.

Ketergesaan membuatku tak sempat menyicip ruang tunggu berpendingin yang nyaman, sementara pengumuman untuk memasuki kapal yang disampaikan oleh operator melalui pengeras suara terus memenuhi langit-langit ruangan. Aku harus segera memasuki kapal yang sudah bersandar.

Keluar dari area ruang tunggu, aku kembali melewati koridor terbuka dengan kanopi, melewati pemeriksaan tiket terakhir sebelum akhirnya memasuki kapal.

Kapal Roll-on Roll-off (Ro-Ro) putih bernama PORTLINK V tampak membuka lambungnya untuk memasukkan berbagai jenis kendaraan. Sedangkan para penumpang diarahkan melalui sebuah jembatan menuju main deck sisi kanan.

Usai menyeberang, aku tak memilih duduk di ruang utama yang sejuk berpendingin dengan deret kursi yang empuk nan lebar. Aku ingin membaur saja bersama penumpang yang duduk mengampar di selasar demi menikmati panorama yang siap tersaji dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni.

Tepat pukul sebelas, PORTLINK V mengangkat sauh dan memulai pelayaran. Saatnya untuk terjaga dan menangkap keindahan lautan di sejauh mata memandang. Benar adanya, gugusan pulau sepanjang pelayaran membuat indah perjalanan.

Sepanjang perjalanan aku bercakap dengan keluarga kecil yang hendak pulang kampung menikmati libur Iedul Fitri. Sang suami yang asli Bandung dan istrinya asli Lampung berdarah Jawa tampak sabar menjaga kedua anaknya di geladak. Kelucuan sepasang anak itu tentu menjadi penghibur selama perjalanan.

Yuk disiplin mengantri.
Tahu gitu bawa begituan dari rumah….Buanyak di rumah mah.
Ruang tunggu Pelabuhan Merak.
Bersiap berlayar.
Keren juga ya ruang penumpangnya.
Mobilpun turun menyeberang.
Tuutttt….tuutttt…..ayuk berlayar.
Salah satu pulau yang tampak selama pelayaran.

Kondisiku masih saja segar setelah menempuh perjalanan laut selama satu jam empat puluh lima menit. Merapat di pelabuhan Bakauheni, PORTLINK V yang kunaiki harus berbagi sisi labuh dengan KMP Batumandi bersandar dengan megahnya.

Saatnya PORTLINK V melepas sauh dan mengantarkan penumpangnya menuju koridor terbuka berkanopi biru, memanjang, mengarah ke bangunan utama Pelabuhan Bakauheni.

Lalu apa yang kulakukan setiba di pelabuhan itu?

Ya, makan siang lah….Aku kelaparan….Wkwkwk

Memasuki bangunan pelabuhan, aku mencari keberadaan warung makan yang bisa mengusir kelaparan yang kini sungguh kurasa. Aku menemukan sebuah warung dengan menu masakan Padang lalu menebus seporsi nasi rendang seharga dua puluh lima ribu rupiah.

Secara interior dan eksterior, Pelabuhan Bakauheni tak kalah keren jika dibandingkan dengan Pelabuhan Merak, setiap sisinya sudah mendapat sentuhan modernisasi. Aku sungguh menikmati masa tiga puluh menit di bangunan pelabuhan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan darat menuju Bandar Lampung.

Di halaman pelabuhan, telah mengantri deretan bus berukuran kecil yang menjemput calon penumpangnya. Teriakan para kondektur itu begitu memekakkan telinga, kencang dan lugas. Seorang dari mereka tampaknya tahu gelagatku yang sedang menyapukan mata pada deretan bus itu untuk mencari bus jurusan Rajabasa.

Aku tak menghindari kedatangan salah satu kondektur bus. Memberikan informasi bahwa ongkos menuju Rajabasa adalah Rp. 35.000 maka tanpa pikir panjang, aku segera memasuki bus yang ditunjuknya, bus kuning berukuran kecil dengan identitas PO. Nusantara.

Kini aku bersiap melakukan perjalanan panjang kembali dengan jarak sejauh hampir seratus kilometer.  Dalam waktu normal, jarak sejauh itu seharusnya bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam  melalui Jalan Tol Kayu Agung-Bakauheni.

Akan tetapi di tengah perjalanan, bus Nusantara memilih keluar dari jalur bebas hambatan melalui gerbang tol Sidomulyo. Perlahan bus merapat dan melaju menyejajari garis pantai di daerah Tarahan. Selanjutnya bus konsiten menyisir Jalan lintas Sumatera. Ini berarti, enam puluh persen perjalanan ditempuh melalui jalur reguler non tol.

Perjalanan non-tol inilah yang kemudian menghadirkan pemandangan pantai yang menarik. Sebut saja Pantai Pasir Putih Lampung yang ramai pengunjung.

Aku terus menikmati perjalanan darat tersebut hingga tiba di Terminal Rajabasa dalam total waktu tempuh tiga setengah jam.

Alhamdulillah, merapat juga di Pelabuhan Bakauheni.
Koridor penumpang di pelabuhan Bakauheni.
Nah ntuh dia….Bus menuju Terminal Rajabasa.
Jam lima sore tiba di Terminal Rajabasa.
Dipandang-pandang….Dilihat-lihat…..Tjakep juga ye si Rajabasa nih.

Awalnya aku begitu gelisah ketika akan menginjakkan kaki di terminal bus kenamaan itu. Sejarah premanisme pernah melekat di Terminal Rajabasa. Tetapi begitu tiba, kegelisahan itu pun ternyata enggan unjuk gigi. Aku menemukan kenyamanan dan keamanan selama berjalan di setiap sisi terminal.

Nah, kenyamanan dan keamanan kayak gini nih yang bikin gue demen….Mantabz, Bandar Lampung.

Hari sudah sore….Sebentar lagi gelap….Yuks, kita ke hotel aja!

Kisah Selanjutnya—->

Nonton Bola di Way Kambas

<—-Kisah Sebelumnya

Seporsi soto mie seharga tiga belas ribu rupiah yang terlahap di sebuah kedai di sekitar arena atraksi menjadi penawar lapar setelah menempuh perjalanan sejauh sembilan puluh kilometer dari Bandar Lampung menggunakan sepeda motor sewaan. Genap tiga jam lamanya perjalanan itu, mengendapkan segenap rekam alam di salah satu ruang memori kepalaku.

Beberapa menit lalu aku serasa kembali pulang, akibat percakapan berbahasa Jawa dengan seorang petugas parkir di area parkir motor Way Kambas.

Pépétké kiwo aé mas”, celetuk petugas parkir bercelana pendek dan bertelanjang dada itu.

Sontak aku mesam-mesem menahan tawa.

Nggih pak sekedap, kulo pépétké mriku”, jawabku singkat.

Walah, ini mah kayak piknik ke Sragen aja”, batinku masih saja meyakinkan diri bahwa aku sedang berada di ujung selatan Swarnadwipa.

Membayar parkir sebesar lima ribu rupiah, aku meninggalkan area parkir dan mata mulai menyapu segenap sisi jalan untuk berburu informasi mengenai wisata Way Kambas yang sudah ada di hadapan. Sungguh tak kusangka, tempat wisata yang dahulu selalu kuhafal di buku pelajaran saja.

Tentu aku memilih menuju ke sisi jalan yang lebih ramai. Melewati sebuah aula dan mushola, langkah cepat membawaku menuju ke sebuah playground yang dipenuhi oleh para pengunjung. Di sebuah titik, tampak antrian tak teratur, memanjang dari bilik triplek bercat hijau. Hal tersebut memunculkan rasa penasaran dan berhasil menarik minatku untuk mendekat.

Standar Operasional Prosedur Tunggang Gajah. Jam operasional 09:00-12:00 dan 14:00-16:00. Umur maksimal 58 tahun. Dilarang memberikan makan dan minum pada gajah. Tiket Rp. 20.000”, begitulah informasi yang berhasil kutangkap dari deretan kalimat di depan bilik.

Selama masa libur Idul Fitri tidak melayani Jungle Track dan Safari Gajah”, Oh, kedua atraksi itu berarti tak bisa kunikmati. Tetapi tak menjadi soal, masih banyak atraksi lain yang bisa kunikmati di Pusat Konservai Gajah, Taman Nasional Way Kambas.

Meninggalkan bilik persegi mini itu, aku kini berdiri mengamati di salah satu sisi tangga yang digunakan untuk menaiki gajah. Para pengunjung yang sudah membeli tiket tampak mengantri di sisi tangga yang lain demi menunggu giliran menunggang gajah yang tentu akan ditemani oleh seorang mahout1*) untuk menjamin keamanan.

Dua ekor gajah yang berkeliling taman tentulah menjadi actor utamanya siang itu. Segenap pandang tertuju padanya. Tampak diatas punggungnya seorang ayah waspada menjaga ketiga anaknya yang bersamaan menunggang gajah yang sama. Sementara kedua gajah itu tampak nyaman saja melakukan tugasnya sembari menguyah rumput jenis “gajahan” tiada bosan.

Sementara anak-anak lain yang tak mendapat kesempatan menunggang gajah lebih memilih berkhusyu’ria menikmati berbagai wahana permainan sederhana di playground, seperti prosotan yang berpangkalkan patung bledhug*2), ayunan dan titian gantung rendah.

Khusus anak-anak umur 6-12 tahun”, begitu bunyi papan kayu yang menggantung di sebuah pokok*3). Mewarnai lukisan berbayar dan para pedagang balon tampak menguasau beberapa titik playground.

Area parkir. Kanan: parkir mobil. Kiri: parkir sepeda motor.
Menunggang gajah di sekitar playground.
Playgroundnya lucu ya….Wkwkwk.

Sementara itu, di setiap sisi playground yang berbatasan dengan jalan, tampak diakuisisi oleh kedai-kedai street food dengan harga jajanan yang terjangkau.  Sepotong es krim saja hanya dijual seharga lima ribu di area ini. Membuatku tergugah mencicipnya sepotong demi meredakan gerah badan yang beberapa waktu lalu berkendara cukup lama menembus panas surya dari Bandar Lampung.

Tetapi, setelah mengetahui bahwa jadwal atraksi gajah masih cukup lama, membuatku memutuskan untuk berkeliling ke spot lain di Way Kambas. Aku menuju ke timur playground, melintas Kantor Pusat Latihan Gajah dan gedung Visitor Centre, hingga sampai di dua kolam besar, yaitu Kolam Minum Gajah di utara jalan dan Kolam Mandi Gajah di selatannya. Sementara di sekitar kolam ditempatkan rumah-rumah para mahout dan terdapat bangunan besar yang lebih menonjol dari bangunan lain yaitu Mahout House.

Aku memilih duduk di bawah gazebo demi melihat gajah-gajah yang dilepas di hamparan luas padang rumput di sebelah timur Kolam Mandi Gajah. Tampak tujuh gajah berjalan bebas di sana….tetap sambil menguyah rumput jenis gajahan yang tampaknya sengaja di taruh di beberapa titik oleh para mahout. Aku hanya berfikir bahwa gajah-gajah itu tidak boleh dibiarkan lapar, daripada terjadi masalah yang lebih serius.

Sewaktu kemudian, seorang mahout turun dari bilik pantau di tengah padang rumput dan mendekati seekor gajah. Gajah itu berukuran paling besar dari yang lainnya. Entah bicara apa dengan si gajah, mahout itu bisa naik ke punggungnya. Perlahan dia mengarahkan gajah itu untuk minum di sebuah bak beton berukuran panjang, lalu si gajah perlahan menuruni kolam mandi dan sang mahout mulai melakukan pertunjukan memandikan gajah. Si gajah berendam dengan santainya dihadapan para pengunjung yang perlahan-lahan memenuhi sisi-sisi kolam.

Wah, beruntungnya diriku bisa menyaksikan pertunjukan itu walau sebetulnya ini hanya keberuntungan yang tak terduga”, hatiku girang.

Pertunjukan mandi gajah ini beralangsung kilat, tak lebih dari seperempat jam. Lalu, entah dibawa kmanakah si gajah itu oleh mahoutnya.

Kantor Pusat Latihan Gajah.
Visitor Centre.
Mahout House.
Gajah di alam bebas.
Pertunjukan memandikan gajah.

Sudahlah…Aku menyempatkan berdzuhur di mushola untuk kemudian bersiap diri untuk menonton acara pemungkas…Yups,  Atraksi Gajah.

Saatnya  dengan mata kepala sendiri,melihat bagaimana keseruan sekawanan gajah menendang bola”, Hahaha….Hatiku tertawa terpingkal.

Buset, jauh-jauh ke Lampung hanya buat nonton gajah nendang bola”, gilee emang aku nih.

—-****—-

Soto mie bening itu menjadi makanan ternikmat yang kudapat  di “sarang gajah”. Tetap saja….Asal Jawa, si ibu penjualnya. Baru saja melintas di depan kedai, dia menyapa,

Pinarak, Mas. Sotonipun eco lho, Mas…..”, Walah……

Kini….Aku telah membayar  menu itu, kemudian bergegas menuju loket penjualan tiket. Membeli tiket seharga dua puluh ribu rupiah dan membayarnya melalui lubang kusen jendela bagian bawah, aku mendapatkan selembar tiket. Menjadi pembeli pertama membuatku leluasa memilih tempat duduk di tribun tunggal. Kuputuskan duduk di bagian tengah tribun demi bisa melihat pemandangan keseluruhan arena dengan leluasa.

Yuk atraksi sudah dimulai….

Empat ekor gajah ber-mahout yang saling bergandengan (belalai seekor gajah melilit ekor gajah lain di depannya), tampak memasuki arena setelah dipanggil pemandu atraksi yang berdiri memegang mikrofon di salah satu pojok arena. Seingatku gajah termuda bernama Pangeran .

Diajak berkeliling arena, keempatnya memberikan salam hormat kepada penonton dan para gajah membuka atraksi dengan upacara bendera dimana salah satu ekor gajah berukuran paling kecil berperan sebagai pengibar bendera….Wkwkwk, gokil.

Empat gajah terlatih itu kemudian melakukan atraksi pertama dengan berdiri di atas sebuah tiang beton pendek. Wah….Hebat juga….Gajah segede itu bisa muat berdiri di tonjolan beton yang sempit. Dan atraksi utama gajah di beton itu tentunya adalah duduk berkursikan kursi beton,

Gajah-gajah lucu ini juga bisa duduk berjegang di arena, belajar menghitung, berdiri dengan dua kaki, bermain holahop, serta mengangkat sang mahout dengan belailainya.

Wah jian….Pangeran ki ra nggatekke”, celetuk pemandu atraksi ketika Pangeran salah menjawab sebuah operasi pengurangan. Membuatku terpingkal tak kepalang.

Hal lain yang menggemaskan adalah kelucuan gajah ini menerima saweran  penonton usai bergoyang diiringi musik dangdut. Lembaran dua dan lima ribuan diterima dengan belalainya dan diberikannya kepada sang mahout.

Atraksi ini diakhiri dengan pertunjukan idaman yaitu gajah bermain sepak bola. Akhirnya impian masa kecilku terpenuhi….Alhamdulillah.

Aku dan penonton lain di tribun bersiap menikmati atraksi.
Tuh kan….Kek brand sarung nyang ituh.
Gajah juga bisa begituan rupanya. Ga cuma anjing ajah….Huhuhu.
Yuk, saatnya menerima saweran.

Genap satu jam pertunjukan itu berlangsung, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku memutuskan untuk segera meninggalkan Pusat Konservasi Gajah, Taman Nasional Way Kambas demi menuju Bandar Lampung.

Aku khawatir kesorean di jalan karena harus berkendara motor….

Terimakasih para gajah yang sudah menghiburku.

Sehat-sehat selalu ya, Jah….

———-

Keterangan kata:

Mahout1*) = Pelatih sekaligus pawang  gajah.

Bledhug*2) = Anak gajah.

Pokok*3) = Pohon.

Trip ke Pulau Pahawang, Lampung

PAHAWANG….Berasal dari kata dasar HAWANG yang merupakan nama seorang Tiongkok yang datang ke pulau ini pada Abad ke-18. HAWANG seterusnya berketurunan dan kemudian berakulturasi dengan pendatang lain dari penjuru Nusantara untuk menempati dan memakmurkan PAHAWANG.

Kedatanganku ke Lampung kali ini memang karena Pahawang. “Dia” membuat tidurku tak pernah nyenyak sebelum  Aku benar-benar menjejakkan kaki kesana.

Kaki baru juga diselonjorin untuk mengusir lelah setelah mudik lebaran dari Solo, bahkan belum genap 24 jam beristirahat….Aku langsung mengisi backpackku dan berangkat ke Lampung untuk segera membunuh rasa penasaranku akan Pahawang.

Berbagi dengan budget mudik lebaran, Aku memutuskan untuk mengunjugi Pahawang dalam One Day Trip saja. Biaya perahu dan sewa penginapan di Pulau Pahawang yang relatif mahal, mengalahkan egoku untuk bermalam di Pahawang.

Dan untuk menghemat pengeluaran, jalan terbaik adalah bergabung dalam open trip. Berhubung Aku memiliki teman kantor asal Lampung, akhirnya Aku dihubungkan dengan Aero Travelindo Utama yang merupakan salah satu dari sekian banyak penyelenggara open trip disana.

Inti dari open trip itu kan menanggung biaya trip yang mahal dengan cara patungan.

Tak perlu berfikir panjang, Aku segera mentransfer Down Payment daribiaya One Day Trip Pahawang. Oh ya, biaya keseluruhannya adalah Rp. 175.000/pax include lunch.

Memulai trip ke Pahawang, Aku menggeber sepeda motorku menuju meeting point yang ditetapkan yaitu Dermaga 4 Pelabuhan Ketapang.

Sesuai perkataan driver ojek online sehari sebelumnya, jalur yang kulewati memang sangat ramai dengan lalu lalang para anggota TNI-AL yang berkejaran dengan waktu masuk kerja mereka.

Keberadaan mereka di jalanan saat kondisi masih gelap membuatku merasa sangat nyaman. Berkendara perlahan Aku berusaha menikmati suasana Jalan Raya Way Ratay sebagai akses utama menuju Dermaga 4 Ketapang.

Perlahan Sang Surya mulai menyibak gelapnya pagi, perlahan juga sepeda motorku melaju tepat di garis pantai untuk menyuguhkan kehadiran riuhnya suara laut di sisi kiri perjalananku.

Perlahan Aku melewati setiap pintu Dermaga Ketapang dari pintu Dermaga 1, hingga akhirnya pintu Dermaga 4 berhasil kujejaki.

Memarkirkan sepeda motorku di Dermaga dengan selembar puluhan ribu, kemudian Aku hinggap di menu lontong sayur sekitar dermaga. Dengan membayar Rp. 12.000, perutku sudah merasa siap untuk segera berlayar.

Dering telfon dari penyelenggara open trip memanduku menuju ke kantor mereka di sekitar Dermaga 4 untuk melunasi pembayaran dan mengambil pelampung dan snorkel.

Tak sabar memeluk Pahawang

Tepat jam 9 perahu memulai perjalanannya, perlahan keindahan perkampungan di pesisir itu terpampang jelas ketika Aku menjauhi dermaga. Perkampungan dibawah bukit dengan siraman cahaya kuning “Sang Surya” pagi dikombinasikan dengan beberapa titik kepulan asap tipis putih hasil aktivitas warga mampu membuatku duduk terpana di ujung geladak belakang.

Punggung-punggung bukit itu menjadi pemandangan sepanjang berlayar.
Berkejaran dengan perahu cepat menuju Pahawang.

Sepanjang waktu berlayar, Aku terus diliputi penasaran.  Hal ini dikarenakan penyelenggara tak pernah memberikan briefing sebelum perjalanan dimulai. Apakah yang akan dilakukan pertama kali dalam trip ini?.

Perlu menunggu 1 jam 15 menit, Aku baru mengetahui bahwa aktivitas snorkeling lah yang menjadi pembuka trip ini. Untuk menemukan lokasi snorkeling, pengelola tempat wisata membuatkan sebuah rumah apung untuk bersandar setiap perahu yang membawa wisatawan.

Sebentar lagi bersandar

Aku lebih memilih melompat langsung dari perahu ketika para pelancong lain mengantri untuk menuju rumah apung itu. Menikmati pemandangan karang di bawah perairan itu membuatku tertegun dengan kepadatan karang dibawahnya. Perlahan kuumpankan biskuit kering ditanganku untuk mengamati lebih dekat para penghuni karang yang lucu dan imut.

Sedikit sedih juga, ketika melihat beberapa wisatawan yang tak faham bagaimana seharusnya menikmati wisata karang….seakan tak peduli, beberapa mereka menginjak karang untuk menjadikannya tumpuan berdiri….paraaaaahhhhh.

”Selamat Datang di Pahawang”dari atas rumah apung.

Aku harus sedikit lebih cepat menginterupsi keasyikanku menikmati karang, karena Aku tahu ubur-ubur menyapaku dengan sengatan pedihnya. Terpaksa Aku naik ke perahu untuk mengurangi penyebaran racun ubur-ubur itu di leherku.

Menunggu yang lain selesai…..

1,5 jam melakukan snorkeling membuatku tahu bahwa agenda berikutnya pasti makan siang….lapar ampun.

Perlahan menjauhi tempat snorkeling, Aku menuju ke Pulau Pahawang. Melewati gerbang kedatangan, Aku langsung menuju ke bawah rimbunan pohon kelapa untuk menyantap bawal laut bakar beserta sayur asem yang baru keluar dari tungku.

Tiba di pulau Pahawang.
Ludes dalam sekejap.

Aku pun tak membuang waktu percuma dengan berkeliling pulau untuk menikmati kenyamanan Pahawang.

Memaksimalkan 1,5 jam untuk eksplorasi Pahawang.

Tepat jam 13:30, Aku meninggalkan pulau Pahawang dan berlayar menuju ke Taman Nemo untuk melihat aktivitas ikan badut.

Sedikit koloni anemon laut yang menjadi tempat tinggal ikan badut terlihat di taman ini. Ikan badut yang berhabitat disini juga mayoritas masih berukuran kecil. Sepertinya taman ini sedang dikembangkan untuk menjadi habitat ikan badut di masa depan.

Di bagian akhir,….

Trip ini ditutup dengan mengunjungi Pulau Kelagian pada jam 15:30. Kebanyakan wisatawan melakukan ibadah shalat, merebahkan diri di deretan saung sewaan, bermain sepak bola di lembutnya pasir putih atau menikmati kelapa muda langsung dari batoknya di pulau ini.

Pulau Kelagian yang dikelola oleh TNI AL
Lembutnya pasir putih yang melenakan.

Tepat pukul 16:00 One Day Trip Pahawang ini benar-benar berakhir. Kembali ke Dermaga 4 untuk kemudian balik ke hotel dan mempersiapkan diri untuk merelaksasi diri di Teropong Kota Bukit Sindy yang kutetapkan sebagai destinasi wisata malamku berikutnya di Bandar Lampung.

The trip was ended.

Kisah Selanjutnya—->

Bersepeda Motor ke Taman Nasional Way Kambas….Amankah?

<—-Kisah Sebelumnya

WAY KAMBAS….Diambil dari nama sungai yang mengalir di dalam area Taman Nasional itu sendiri. Taman Nasional seluas 125 ribu hektar ini merupakan rumah bagi program konservasi beberapa hewan langka seperti gajah, badak dan harimau sumatera

Hanya saja ketika Aku bertanya kepada salah satu petugas di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Way Kambas, Pusat Konservasi Badak dan Harimau Sumatera belumlah dibuka untuk umum.

Beberapa jam sebelum kedatanganku di TNWK………………….??????

Hari itu adalah hari keduaku dalam eksplorasi Lampung. Pada malam hari sebelumnya, Aku sibuk mencari informasi tentang keamanan menggunakan sepeda motor menuju Way Kambas dengan bertanya kepada empat temanku yang asli Lampung. Dari keempatnya, tiga diantara temanku meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja sedangkan seorang lagi lebih ragu jika aku bermotor ke Way Kambas karena Aku bukan asli orang Lampung…..takut begal lah intinya….seakan otakku sudah tercemar media yang sering mengabarkan hal itu…..”tentang Lampung dan tentang begal motor”.

Simple saja akhirnya….karena pendapat mereka tiga berbanding satu, Aku putuskan untuk berangkat ke Way Kambas keesokan harinya menggunakan sepeda motor sewaan.

Perjalanan dimulai,

Berangkat dari Redoorz @ Jalan Pangeran Diponegoro di daerah Teluk Betung, Bandar Lampung tepat pukul 07:25. Menyusuri jalanan kota Bandar Lampung selama 35 menit akhirnya Aku benar-benar meninggalkan Kota melalui gerbang akhirnya:

Gerbang “Selamat  Jalan Bandar Lampung” di Jalan Lintas Barat Sumatera.

Aku mulai menyusuri jalanan yang banyak dilewati bus antar kota dan truk-truk bermuatan logistik. Jalur cepat ini mengharuskanku menarik gas sepeda motorku supaya tidak diklakson terus-menerus dari belakang.

Pada menit ke-40, Aku tiba di keramaian warga lokal. Aku mencari papan alamat disekitar, baru Kutahu bahwa ini adalah pasar Natar.

Pasar Natar….nadi ekonomi diantara Bandar Lampung dan Metro.

Melanjutkan perjalananku kembali, di menit ke-55, Aku sampai di depan Bandara Internasional Radin Inten.

Bandara ini tepat sekali berada di pinggiran Jalan Lintas Barat Sumatera.

Tertegun sejenak dan duduk diatas sepeda motor yang kumatikan, Aku mengamati sebentar aktivitas di sekitar Bandara. Sengaja kuluangkan waktu, karena Aku belum pernah mencicipi sama sekali Bandara ini. Sayang kedatanganku ke propinsi paling selatan Sumatera ini menggunakan jalur darat yang dikombinasikan dengan jalur laut Merak-Bakauheni.

Perjalananku di sepanjang Jalan Lintas Barat Sumatera ini berkejaran dengan bus ukuran tiga perempat.

ayolah bang sopir, Kita balapan.

Sebetulnya Aku bisa saja naik bus ini menuju Metro lalu berganti lagi dengan bus lain menuju Way Jepara (daerah terdekat dari Way Kambas yang terakses dengan angkutan umum). Dari Way Jepara bisa berlanjut dengan ojek menuju Way Kambas.

Atau bisa juga menggunakan Bus DAMRI, yang menurut info terkini yang kudapat, hanya berangkat sekali setiap hari dari Terminal Rajabasa di Bandar Lampung pada pukul 8 pagi dan berhenti tepat di Pusat Latihan Gajah, Way Kambas.

Tapi Aku lebih memilih menggunakan motor sewaan seharga Rp. 150.000/hari karena sepulang dari Way Kambas, Aku bisa leluasa mengeksplore kota Metro. Selain itu, Aku lebih bisa mendeteksi secara akurat jalur yang akan Kulewati menuju Way Kambas.

Menit ke-65, Aku tiba di sebuah pertigaan besar yang  kedua percabangannya sama-sama menuju ke Metro.

Tugu Punduk (sebutan untuk keris asli Lampung)….Pilih lurus atau ke kanan?

Aku lebih memilih memakai jalur alternatif ke kanan. Menurut google maps, jalur ini lebih cepat dan tidak macet.

Benar bro…kagak macet….swear

tapi sepi minta ampun…..Jalan Raya Kota Metro memacu detak jantungku….mulai sedikit jiper.

Setelah melewati hamparan kebun karet itu, Aku selalu mengikuti lekukan jalanan dan kanal disisi kanannya.

kanal disisi kanan jalan Raya Kota Metro.

Senangnya hati berhasil melewati kesepian itu ketika menembus gerbang awal Kota Metro

Menit ke-90, Selamat Datang Kota Metro.

Kembali menemukan keramaian, kuputuskan untuk memenuhi tangki bahan bakarku sebelum Aku terjebak dalam kesepian kembali.

Tugu Pos Polisi ini adalah landmark pertama yang kulewati ketika memasuki pusat Kota Metro.

Menit ke-115….bye-bye keramaian…

Aku meninggalkan Kota Metro di Jalan AH Nasution
Gerbang “Selamat Datang Kabupaten Lampung Timur “bersebelahan dengan Gerbang “Selamat Jalan Kota Metro”.

Terjebak dalam kemacetan panjang, Aku penasaran, ada apakah gerangan?. Mecoba merangsek ke depan dengan Honda Beat sewaanku menerobos jalan tanah di pinggiran aspal jalan raya, akhirnya kutemukan jawabnya….Bus penumpang besar mogor di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar, mencoba didorong banyak penumpang dengan pengawasan para polisi lalu lintas.

Menit 120. Welcome Pasar Pekalongan !….pasti disini banyak orang keturunan Jawa….namanya aja begituh.

Pasar Pekalongan di jalan AH Nasution

Menit ke-130, Aku kembali dihadapkan pada dua pilihan….dirimu atau dirinya?

Aku lebih memilih Dia…..#apaansih.

Ambil belokan ke kanan menuju Jalan Raya Batanghari Nuban
Taman Maskot tepat di tengah pertigaan itu.
Beginilah suasana Jalan Raya Batanghari Nuban

Halusnya aspal Jalan raya ini akan berlanjut hingga Jalan Raya Sukadana….tapi ya begitu, Akulah si pemilik jalan raya….sepi brur.

Pada menit ke-150, tibalah diperempatan ini:

Perempatan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Lintas Timur Sumatra

Muara jalan ini sebetulnya sama:

Ke Kanan ke Way Jepara dan Kamu akan menelusuri Jalan Lintas Timur Sumatera.

Atau bisa juga lurus, Ke Way Jepara juga sih….tapi Kamu akan melewati perkampungan warga dan akan tembus kembali ke Jalan Lintas Timur Sumatera.

Tentu kupilih yang lurus, supaya aku bisa melihat aktivitas para warga Sukadana.

Mencapai Pusat Perbelanjaan Sukadana di menit ke-160

Tak berselang lama, Kamu akan melewati landmark ini:

Tugu Kota Sukadana sebagai kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Timur.

Tugu kota Sukadana ini menampilkan sosok pejuang kemerdekaan dari Kecamatan Sukadana yaitu Kolonel Arifin.

Dari tugu ini luruslah hingga bertemu perempatan di dekat Kantor Kecamatan Sukadana, lalu segeralah berbelok kekiri

Menuju Jalan Minak Rio Ujung setelah belok kiri

Pada menit ke-170, Aku memasuki Jalan Lintas Timur Sumatera setelah melewati landmark ini:

Taman Banding menampilkan patung pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Hanafiah

Boleh kubilang aspal jalanan Lintas Timur Sumatera di Lampung Timur ini sangat mulus.

Jalan Lintas Timur Sumatera kayak aspal sirkuit motogp ya….
Tugu Selamat Jalan Kecamatan Sukadana kulewati di menit ke-175

Aku berganti memasuki Kecamatan Way Jepara. Dan yang kutunggu tiba……ya, Aku ingin melihat bagaimana aktivitas pasar Tridatu. Pasar yang terkenal di dunia maya karena sering disebut para traveler ketika menuju ke Way Kambas.

Pasar Tridatu di menit ke-180.

Aku tak akan berbelok kekiri dari pasar ini untuk menuju ke Way Kambas. Aku lebih memilih lurus untuk menambah kembali referensiku dan kubagikan ke kalian.

Ya….Aku lebih memilih menuju Pasar Gunung Terang (sayang Aku lupa membuatkan fotonya untuk kalian) yang berjarak 5 menit berkendara motor lalu baru berbelok ke kiri.

Belokan setelah Pasar Gunung Terang, masuk gerbang Desa Labuhan Ratu VI

Semakin dekat dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, Aku memasuki desa Labuhan Ratu VI

Jalanan sepanjang Desa Labuhan Ratu VI
Rest Area Labuhan Ratu di ujung desa

Rest area ini banyak digunakan para wisatawan yang akan menuju atau bahkan telah usai dari wisata PLG Way Kambas.

Karena rest area ini tepat berada dipertigaan di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, maka aku mengikuti petunjuk arah dengan berbelok ke kanan.

Perhatikan tanda panah….belok ke kanan menyusuri jalanan yang membelah Taman Nasional Way Kambas
Jalan sepanjang Taman Nasional Way Kambas

Disepanjang jalan TNWK, Aku sesekali menemukan mobil para wisatawan berhenti untuk sekedar memberi makan kepada sekawanan monyet liar yang sering melintas jalanan.

Akhirnya penantianku tiba….MENIT KE 205 Aku tiba di gerbang Pusat Latihan Gajah, Taman Nasional Way Kambas.

Bahagia banget sampai di Gerbang Pusat Latihan Gajah Way Kambas.

AMANKAH perjalananku?…..Boleh kusimpulkan sangat aman dan tak ada nuansa kriminalitas disini. Hanya pesan dari para temanku yang asli Lampung….Jangan pulang melebihi jam 6 sore.

Bahkan Aku meninggalkan TNWK tepat pukul 14:00

Jadi sudah pernahkan Kamu melihat gajah liar?

Atau lihat gajah mandi?….porno ih

Atau lihat gajah main bola?….atau main holahop?

Makanya dong ke Way Kambas………

Kisah Selanjutnya—->