Menjemur di Bus dari Busan ke Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Jeda tipis antara ketibaanku dan keberangkatan bus berbuah manis, menjadikanku tak terlalu lama menunggunya berangkat. Beberapa menit lalu, aku telah menanyakan demi mencari bus yang akan kunaiki kepada salah seorang pengemudi di Busan Central Bus Terminal. Telunjuk jarinya jelas mengarah pada armada berwarna putih dengan kelir merah. Aku pun bergegas menuju bus itu dan bertanya pada pengemudinya yang duduk di depan bus yang terparkir.

Yes, this bus”, ungkapnya ketika aku menunjukkan tiket.

Tiket yang sudah kubeli sedari pagi seharga 23.000 Won.

Dia mengizinkanku untuk lebih awal menaiki bus yang mesinnya menyala langsam tetapi masih terparkir rapi di platform. Bangku bus itu berformasi dua kolom di setiap sisi dan aku mengakuisisi bangku sedikit di belakang. Dengan berada di dalam bus, selain mendapatkan ketenangan karena tak bakal tertinggal, aku juga mendapatkan udara hangat yang membuat nyaman.

Satu demi satu penumpang lokal berdatangan dan berusaha mencari tempat duduknya masing-masing. Hingga satu menit menjelang kebarangkatan, kursi bus itu tak kunjung penuh. Pengemudi datang dan mulai memeriksa setiap penumpang dengan lembar manifest di tangan kirinya. Setelah menandai semua list dalam manifest, maka pengemudi itupun turun, melapor kepada petugas di terminal, lalu mulai menempati posisi duduk di belakang kemudi. Bus itu siap memulai perjalanan jauh dengan kondisi lebih dari separuh bangku dibiarkan kosong.

Kini bus perlahan menjauh dari Busan Central Bus Terminal dan mulai memamerkan area-area baru yang belum pernah kujelajah sebelumnya. Bus itu memasuki jalur bebas hambatan dengan memamerkan siluet perbukitan-perbukitan indah Korea Selatan. Tak jarang bus memasuki terowongan-terowongan pembelah bukit. Jalanan tampak lengang di malam hari, hanya menampilkan pelita-pelita malam di sepanjang kontur perbukitan Korea. Luar biasa indah.

Para penumpang telah tertidur sedari tadi, sementara aku sebagai orang asing, lebih memilih menikmati pertunjukan malam sembari menikmati beberapa potong roti yang kubeli dari sebuah minimarket di Busan Central Bus Terminal. Yups, aku tak sempat menimati makan malam dengan layak, karena dikejar waktu demi menangkap keberangkatan bus sedari sore tadi.

Tak terasa aku telah begitu lama menikmati pemandangan jalanan, hingga akhirnya pengemudi melakukan break time di Sunsan Service Area di dekat Kota Gumi, Provinsi Gyeongsangbuk. Segenap penumpang turun untuk sekedar menikmati secangkir kopi panas atau paling tidak pergi sejenak menuju toilet. Sedangkan aku hanya memutuskan berkeliling di sekitar rest area sembari menunggu pengemudi menuntaskan makan malam.

Sunsan Service Area, tempat bus melakukan break time.
Bus yang kunaiki (foto diambil setiba di Seoul Express Bus Terminal).

Kegilaan itu datang….

Dua puluh menit kemudian bus siap berangkat, segenap penumpang kembali menempati posisi duduknya masing-masing. Aku segera menuju bus dan kembali duduk di bangkuku. Usai pengemudi menghitung penumpang, bus kembali melaju menuju Seoul.

Aku teringat bahwa di dalam backpack masih terdapat dua t-shirt dan sepasang kaos kaki yang belum sempurna kering. Melihat suasana sepi dalam bus dengan penumpang yang terlelap dalam mimpi, aku mengeluarkan t-shirt dan kaos kaki itu untuk kemudian membentangkannya di sandaran jok depan, aku sengaja melakukannya untuk membuatnya kering. “Ah, mumpung yang lain sedang tidur…”, batinku tertawa geli.

Selanjutnya akupun mulai memejamkan mata untuk beristirahat, karena setiba di Seoul, aku akan menginap dan harus terjaga di Seoul Express Bus Terminal untuk kemudian langsung melakukan eksplorasi Seoul di pagi harinya. Aku harus menghemat energi untuk itu….

Mata mulai kupejamkan, bus masih akan tiba dua jam lagi….

Kisah Selanjutnya—->

Menuju Stasiun Centum City: Memecahkan Peta Buta

<—Kisah Sebelumnya

Pukul 16:30, terduduk khawatir di bawah naungan halte bus mungil di bilangan Gijang-daero Avenue yang lengang, tatapanku terus menoleh ke kiri, menantikan kedatangan bus bernomor 181. Beberapa menit lalu aku telah tervonis tersesat. Berpetualang amatiran demi sekedar menemukan Haedong Yonggungsa Temple yang terletak di tepian Selat Korea.

Dua setengah jam waktuku terbuang sia-sia di jalanan timur luar Kota Busan. Sementara itu, ancaman lain datang, yaitu keterlambatan mengejar bus menuju Seoul yang akan berangkat malam nanti. Di tengah kepucat pasian mimik muka, bus itu akhirnya datang. Aku sudah melambai tangan ketika bus itu masih tampak lamat dari kejauhan. “Aku tak boleh terlewat dari bus itu, inilah kesempatan terbaikku untuk mengejar bus menuju Seoul”.

Kerlipan lampu sein bus itu mengisyaratkan bahwa sang pengemudi memahami bahwa aku adalah calon penumpangnya. Bus berhenti tepat di hadapan, aku melompat gesit dari pintu depan dan menyerahkan 1.200 Won (Rp. 15.000) di fare box. Lalu mengakuisisi salah satu bangku tengah yang tak bertuan.

Kini pendanganku menyapu seisi interior bus, mencari markah tujuan atau petunjuk apapun yang bisa memantau keberadaan bus. Mataku jeli meilhat sebuah manual route board di salah satu sisi kompartemen atas, sedangkan tepat di belakang sopir tertampil jelas sebaris layar LCD yang terus bergantian aksara Hangeul ketika bus melewati halte-halte di sepanjang Gijang-daero Avenue. “Yes….”, aku menemukannya tetapi aku tak bisa membacanya karena itu adalah aksara Hangeul secara keseluruhan. Aku terus menahan nafas, berusaha tenang. “Sekali lagi tersesat, aku akan lebih jauh, peluangku menangkap bus menuju Seoul akan sirna”, aku menunduk memejamkan mata. Membayangkan kengerian itu.

Kini aku memutuskan berdiri tepat di bawah manual route board, segenap penumpang terheran karena aku berdiri ketika bus tak pernah penuh. Aku tak memperdulikan tatapan-tatapan itu, aku sedang sibuk menyelamatkan nasibku sendiri.

Kutatap lekat-lekat peta jalur itu. Aksara Hangeul yang begitu kecil dan aku tak benar faham. “Yes, aku menemukannya”, batinku bersorak girang. Ada logo Humetro di salah satu markah peta. Itu berarti halte yang dimaksud terintegrasi dengan stasiun Humetro. Sedangkan peta Humetro selalu kupegang sepanjang perjalanan. Terlipat rapi di kantong belakang celanaku.

Berarti aku tinggal menghafal urutan alphabet Hangeul yang menyusun nama halte itu lalu mencocokkannya dengan  rangkaian alphabet yang sama yang akan tertampil di layar baris LCD di belakang pengemudi. Jika rangkaian nama itu muncul, maka aku akan turun di halte yang dimaksud. Ah, ternyata sisa-sisa kecerdasan di otakku masih ada.

Aku terus mengamati layar LCD dan terus mencocokkan setiap huruf dengan manual route board di kompartemen atas bus. Dengan begitu aku akan tahu, berapa halte lagi aku harus turun. Tekun dan teliti melakukan itu, membuatku berhasil turun di salah satu halte yang terletak di dekat stasiun Humetro, Stasiun Centum City tepatnya.

Turun di halte itu, aku segera menuju ruang bawah tanah Stasiun Centum City demi mencegat keberangkatan Humetro terdekat. Aku harus bergegas menuju Kimchee Busan Guesthouse untuk mengambil backpack yang kutitipkan di meja resepsionis semenjak check-out pagi tadi.

Aku berlari menuruni escalator berjalan mengejar Humetro yang telah berhenti beberapa detik lalu dan bersiap menutup pintu untuk pergi. “Yes….”, aku berhasil memasuki gerbong sebelum pintu Humetro itu benar-benar menutup. Kini aku sedikit tenang, tentu aku akan tiba di tujuan dengan cepat. “Ambil backpackmu dan bergegaslah menuju Busan Central Bus Terminal, Donny!”, batinku menegaskan sebuah perintah untuk diriku sendiri.

Kisah Selanjutnya—->