Kecantikan Dewi Hidup di Kumari Ghar

Adalah Raja Prithvi Narayan Shah yang pertama kali menggunakan bendera dua segitiga ketika berhasil mempersatukan semua kerajaan di Nepal pada 1768. Ya, dua segitiga pada bendera nasional Nepal itu melambangkan dua dinasti besar yang pernah ada di Negeri Seribu Dewa yaitu Dinasti Shah dan Dinasti Rana.

Aku menemukannya dimana-mana.

Please, come!….Please, come!” seorang pria menyuruhku memasuki sebuah bangunan mengkilat merah bata. Para turis Eropa beserta tour guidenya yang sepertinya telah tahu alasan mengapa mendatangi tempat ini tampak berbondong memasuki gerbang. Aku yang belum menyimpan informasi apapun, hanya mengandalkan senyuman bersahaja dari pria itu. Sebentar kemudian aku sudah di dalam.

Pria berjaket abu-abu yang berjasa menemukanku pada seorang Dewi.

Pria lain di dalam menyambutku, “Welcome to Kumari Ghar…The house of Kumari”. Kumari adalah Dewa hidup dalam mitologi Hindu bahkan Buddha. Kumari sendiri adalah istilah Sansekerta yang berarti “Putri (princess)”. Kumari dipilih oleh kepala Pandita dan dianggap sebagai reinkarnasi dari Dewi Taleju, Sang Dewi Penjaga Kota.

Mencincang daging kerbau untuk persembahan esok hari.

Aku terus menguping penjelasan tour guide kepada para pelancong Eropa itu. Konon raja terakhir Malla sering  bertemu secara rahasia dengan Dewi Taleju yang diminta untuk melindungi kerajaan. Istrinya yang curiga, pada suatu malam membututi sang Raja ketika hendak bertemu Sang Dewi. Sontak Sang Dewi murka karena keberadaannya terungkap. Tetapi Sang Dewi masih berbaik hati untuk tetap bersedia melindungi kerajaan, tetapi dengan satu syarat yaitu disediakannya seorang gadis sebagai reinkarnasi darinya. Nah, gadis inilah yang akan kulihat kali ini.

Salah satu sisi Kumari Ghar yang telah berusia 263 tahun.

Semua mata mengarah pada tiga jendela hitam di lantai teratas Kumari Ghar. Dari situlah Kumari akan dipertontonkan secara kilat. Para lelaki tegap tampak mulai menyebar ke segala sudut dan matanya tak berkedip mengawasi kami. Wajah mereka menyapu suluruh turis di pelataran, mereka berjaga jangan sampai ada sorotan video atau tangkapan kamera yang mengarah ke Kumari saat dipertontonkan nanti.

Gelisah untuk segera melihatnya.

Saatnya tiba, semua hening melihat jendela yang perlahan dibuka. Kumari belum juga keluar, aku tak berkedip karena khawatir kehilangan penampakannya yang akan singkat. Para pengawas di bawah berteriak lantang kepada pengawas di atas, entah apa yang dilaporkannya. Mungkin kondisi sudah siap untuk Kumari muncul di jendela.

Dua perempuan mengecek kembali kondisi di bawah dari atas. Sewaktu kemudian, mereka memberikan kode ke arah dalam. Sekejap kemudian, gadis cantik berbusana serba merah, bermahkota lembaran emas dengan mata ketiga di keningnya muncul di lubang jendela. Hanya sebentar, tak sampai setengah menit.

Wooouwww”, ucapan seragam yang terlontar dari para pelancong dan kemudian meraka sibuk berbisik dengan temannya masing dengan bahasa bangsanya. Sementara aku masih saja memandangi jendela yang sudah tertutup sejak tadi sambil tersenyum. Gila rasanya bisa bertemu dengan seorang Dewi yang benar-benar hidup…..Hahaha.

Seperti inilah penampakan Kumari.

Mengikuti kepercayaan, Kumari akan selesai menjadi reinkarnasi Dewi Taleju ketika mengalami menstruasi dan akan digantikan oleh Kumari baru. Kumari akan dipilih sejak berusia tiga tahun dengan persyaratan yang sangat ketat seperti tidak boleh ada bekas luka, tidak takut pada pria bertopeng yang menari di atas darah kerbau yang disembelih, tidak akan menginjak tanah selama menjadi Kumari dan hanya keluar sekali setahun dalam acara acara Bhoto Jatra yaitu festival perayaan musum hujan  sekaligus panen.

Magis ya budaya Nepal ini….Luar biasa.

Madira di Hanuman Dhoka Durbar Square

Masih pagi….Tak ragu, aku menukar Rp. 125.000 dengan tiket putih-kemerah jambuan sebagai akses menikmati sejarah Hanuman Dhoka Durbar Square.

Menapaki jalanan Layaku Marg yang keabuan berlapis andesit serta debu tipis yang dilemparkan oleh sapu lidi para petugas kebersihan, aku telah bersiap memasuki Nepal tempoe doeloe yang masih berbentuk kerajaan.

Kuil untuk menyembah “Dewi Ilmu Pengetahuan” kulewati dengan cepat untuk kemudian ku jumpai kerumunan warga yang sibuk membakar dupa, menabur bunga dan kemudian menyatukan kedua telapak tangannya di dada meghadap patung hitam enam lengan yang dipercaya sebagai perwujudan Dewa Siwa Sang Pemusnah.

Saraswati Temple.

Sementara para pedagang dupa di pelataran Indorapur Mandir membuat area itu menjadi sangat ramai dibanding area lain di Kathmandu Durbar Square. Selaras padu dengan kesibukan ratusan merpati dalam menyantap sarapan pemberian para pelancong yang sudah datang lebih dulu

Kaal Bhairav bermahkota emas perwujudan Dewa Siwa.

Lapis-lapis atap segenap kuil tampak sama dan membawaku pada nuansa rekaan Majapahit di perfilman tanah air. Atmosfer Ksatria Hindu yang sangat kental di pagi itu, mampu melemparku sejenak dari dunia yang fanatik dengan teknologi.

Biji jagung yang dijual untuk merpati.

Istana Kerajaan Malla yang kemudian dilanjutgunakan oleh Dinasti Shah adalah icon penting  di Kathmandu Durbar Square. Oleh karena dijaga patung Dewa Hanuman di gerbang depan, UNESCO World Heritage Sites ini dikenal dengan sebutan Hanuman Dhoka Durbar Square. Beberapa khalayak menyebutnya Basantapur Durbar Khsetra karena istana ini terletak di area Basantapur.

Itu gerbangnya.

Selepas gerbang maka pelataran istana nan luas menyambut. Dikenal dengan sebutan Nasal Chowk. Nasal berarti tarian, merujuk pada Dewa Siwa yang menari Tandava Nataraja  ketika menghancurkan semesta yang sudah usang. Pelataran yang mirip dengan plaza ini dikepung oleh bangunan-bangunan istana di keempat sisinya.

Bangunan putih di sisi barat istana.

Sementara di sisi selatan pelataran terpampang papan nama proyek yang didanai oleh Kementrian Perdagangan Republik Rakyat China untuk merenovasi istana yang mengalami kerusakan hebat pasca gempa tektonik yang dihasilkan dari tumbukan lempeng India dan Eurasia di Himalaya pada 2015.

Basantapur Tower Sembilan tingkat yang telah runtuh.
Ruang yang didalamnya terdapat patung Dewa Siwa yang sedang menari.
Sun Dial, penunjuk waktu sebelum ditemukannya jam.

Lalu, di sisi utara terpampang bentuk arsitektur Newar dengan jendela hijau mencolok. Berjuluk Sisha Baithak yang berfungsi sebagai ruang audiensi kerjaan. Di lantai bawah bangunan itu, terpampang deretan foto para raja. Dan dua polisi penjaga istana nampak mondar-mandir dengan senapan laras panjangnya di sekitar bangunan ini.

Dari kiri adalah King Rana Bahadur Shah (Raja Nepal ketiga) dan anaknya King Girbanayuddha Bikram Shah (Raja keempat-foto kanan)
Bersama Guard Police di Sisha Baithak sebelum meninggalkan istana.

Aku meninggalkan istana sembari melempar kata terimakasih dan sampai jumpa kepada Guard Police itu. Sontak temannya yang baru tiba berucap kepadanya dalam bahasa Nepal, kutebak berbunyi “Darimana dia berasal?”, karena polisi yang kuajak berfoto berujar singkat “Indonesia”.

Satu tips ketika berada di kawasan Kathmandu Durbar Square adalah coba pahami satu-persatu bangunan yang kamu lewati, karena setiap bangunan disana memiliki fungsi dan nilai historis yang mengagumkan.

Kembali aku menemukan bangunan unik. Sebuah kuil bertahtakan Shwet Bhairav yang diyakini sebagai perwujudan paling kuat dari Dewa Siwa. Disembunyikan dalam tirai kayu dan menunggu Indrajatra Festival untuk menampakkan diri secara penuh kepada penduduk Newar. Saat festival tiba, dari mulutnya akan di pancurkan Madira (alkohol) sebagai bentuk berkah bagi manusia.

Shwet Bhairav.

Beranjak siang….Matahari kini mulai mampu menembus setiap celah alun-alun, menghangatkan tubuhku yang sedari pagi terpapar hawa dingin. Saatnya meneruskan langkah menuju destinasi berikutnya.

Selanjutnya akan kutunjukkan kecantikan paras seorang Dewi dalam mitologi Hindu dan Buddha di Nepal.

Yuks….Ikuti aku!

Indra Chowk sebelum Kathmandu Durbar Square

Bersiap sarapan.

Tak seperti biasanya, santapan pagi sedikit mewah telah disiapkan di lantai teratas Shangrila Boutique Hotel. Nasi goreng bertabur potongan dadu daging kerbau, dua potong sosis dan selembar telur mata sapi. Masih pula disiapkan dua lapis toast berselai selembar keju. Kemudian ditutup dengan secangkir kopi hitam panas.

Perut kenyang dan aku siap memasuki kejayaan Nepal masa lalu yang akan tersirat pada tiap jengkal area di Kathmandu Durbar Square, satu diantara tiga Durbar Square terkenal di Nepal. “Durbar” sendiri berarti “istana”, sementara “square” berarti “alun-alun”. Jadi sebenarnya Durbar Square adalah alun-alun istana pada umumnya.

Membilang di Amrit Marg, hangatnya mentari pagi meringankan langkah ketika harus menembus suhu 9 derajat yang masih saja enggan beranjak naik. Sementara batuk telah menghuni tenggorokan sejak sehari lalu akibat debu yang terus terhisap tak terkendali. “Tak apa, besok aku terbang menuju New Delhi, pasti udara akan lebih bersih disana”, batinku menenangkan diri. Keyakinan itu membuat Ambroxol yang kubawa dari Jakarta masih saja utuh.

Kini aku mulai memasuki sejumlah tikungan rumit sempit. Jalanan berlapis andesit dengan deret ruko penghadang surya dan bertabur signboard tak beraturan. Bahkan di bilangan Jyatha Marg diperparah dengan untaian kabel listrik yang bersimpul sangat kusut.

Petugas PLN Nepal pasti mahir menangani kerusakan listrik.
Penjual bunga Gemitir di tepian Chandraman Singh Marg.

Tiba saatnya melangkah di perempatan terakhir sebelum memasuki area terkenal Indra Chowk. Waktu sudah jam 10 pagi tetapi pertokoan di sepanjang Chandraman Singh Marg masih saja tutup. Sementara itu, sepeda motor yang berlalu-lalang tercacah dalam hitungan jari..

Pengayuh becak yang beranjak mengais rezeqi.
Mencicip kacang rebus.

Beberapa dasa langkah, area yang kusasar ada di depan mata, simpang lima dengan kesibukan sangat tinggi. Gemuruh perniagaan pagi yang membuatku tertegun mengamatinya di suatu sisi. Inilah Indra Chowk, area yang selama berabad-abad telah menjadi sentra perdagangan tersohor di distrik Kathmandu. Siapa saja yang ingin berburu pakaian khas Nepal, souvenir untuk dibawa pulang ataupun merasakan aneka makanan lokal, maka datanglah kesini!

Pangkalan becak di Indra Chowk.

Memasuki area simpang lima dari sisi utara melalui Chandraman Singh Marg, aku bisa melihat keempat jalan lain sebagai penyusun simpang yaitu Siddhidas Marg (dari Timur Laut), Watu Marg, Sukra Path, dan Siddhidas Marg (dari Barat Daya). Kelimanya bermuara pada lingkaran luas dengan pemandangan ikonik kuil Aakash Bhairav.

Aakash Bhairav yang bersejarah menjadi istana raja pertama Nepal.

Melangkah kembali, menjauhi kebisingan Indra Chowk sembari mencangking Dhaka Topi yang kubeli ketengan, jalanan yang tak begitu ramai kembali menyambut.

Abege di  Siddhidas Marg….Manis ya?….Hahaha.

Di jalan inilah terdapat satu spot menarik. Khalayak mengenalnya sebagai Makhan Tole. Spot kesenian terkenal di Kathmandu. Karya seni rupa banyak dijumpai disini dan tentu banyak pelancong yang memburunya.

Gerbang Makhan Tole.

Dari Makhan Tole, hanya memerlukan 5 menit berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square.

Akhirnya aku sampai juga.

Yuk kita eksplore apa saja yang ada di Kathmandu Durbar Square ini…….

Goyang Bollywood di Jalanan Thamel

Aku ditempatkan di kamar lantai pertama dibalik sebelah kanan meja resepsionis Shangrila Boutiqe Hotel. Menaruh backpack 45 liter dan melepas ikat sepatu boots maka selang beberapa waktu, kubiarkan air hangat lama menyiram tubuh lelahku pasca hampir setengah hari berjibaku pada perjalanan darat meninggalkan Pokhara.

Tak ingin terjebak kejenuhan di dalam kamar, aku mulai menaiki tangga berkarpet merah menuju atap hotel. Di atas, seorang pemuda berdiri di meja kasir menyapa ringan dan menawarkan menu spesial restoran. Tak ada menu spesial yang kupesan, aku hanya akan menghabiskan senja dengan secangkir teh hangat dan menikmati pesona Thamel dari atas.

Restoran Shangrila Boutique Hotel.

Hingga kemudian hasrat petualanganku menggoda. Rasanya akan merugi jika tak merapat ke jalan dan menikmati suasana secara langsung. Thamel sungguh istimewa. Betapa tidak, jalanannya tiap malam dipersembahkan khusus untuk para tamu negara itu. Setiap ujung jalan dijaga oleh polisi yang tak akan membiarkan satu pun kendaraan bermotor lolos melintas masuk. Thamel selalu ramai ditumpahi para pelancong untuk menghabiskan malam Kathmandu.

Aku mulai ke jalanan.
Suasana sore menjelang gelap.

Tetap berdebu….Aku menelusuri jalanan yang dibatasi dengan kios-kios pashmina, souvenir, restoran, money changer, hotel ataupun kantor agen pariwisata di kiri-kanannya. Tips buat kamu…Jika tak berminat membeli pashmina, maka jangan berusaha menawarnya, penjual akan mengajakmu bertransaksi di dalam kios dan mereka adalah para negosiator ulung dan kupastikan kamu akan keluar dengan menenteng salah satu dari dagangan mereka.

Kios-kios penggoda kantong.
Khas bendera warna-warni seperti pada kuil mereka.

Sedikit kesulitan mencarinya karena sengaja menghindari menu restoran. Aku berjibaku mencari sebuah kedai untuk bersantap malam. Keluar masuk gang hingga akhirnya menemukannya, benar-benar jauh masuk ke dalam gang. Beruntung kedai kecil itu menyediakan momo.  Menyempurnakannya, aku memesan segelas kecil honey lemon tercampur potongan memanjang ginger yang membuatku terasa hangat.

Momo khas Nepal.

Kembali ke jalanan setelah hampir satu jam duduk di kedai itu. Menelusuri  jalanan yang berbeda, aku terhenti seketika di sebuah perempatan dan menoleh ke kanan. Sebuah kerumunan dengan musik menghentak-hentak di bilangan Chaksibari Marg. Setelah mendekatinya , ternyata sekelompok dancer sedang berlatih tarian Bollywood. Asik juga melihat secara langsung tarian itu secara langsung. Untuk tak ada pohon, bisa-bisa aku ikut menari mengelilinginya.

Mereka berlatih untuk sebuah film.

Semakin dingin, aku meninggalkan kerumunan  dan segera menuju ke hotel. Tapi yang namanya daerah wisata, para penggoda kembali menghentikan langkah. Kali ini seorang pemuda memanggil dan menawariku untuk menghabiskan malam dengan hangat di sebuah bar. “You can enjoy our band performance”, ungkapnya. Aku yang seumur hidup tak pernah memasuki bar kini mulai tergoda, “Oke lah, tak ada salahnya”, batinku.

Alhasil, aku mulai menaiki tangga Sisha Bar & Restaurant. Benar adanya, sebuah band lokal beranggota 4 pemuda millennial dengan 1 vokalis perempuan sedang melantunkan pop lokal yang membuatku bersemangat untuk segera duduk dan menikmati pertunjukan itu. Hingga aku menghabiskan dua porsi besar hot lemon with honey saking khusu’nya.

Malam yang indah dan tak terlupakan di Thamel

Salah Bangku di Tourist Bus Pokhara-Kathmandu.

Mr. Tirtha masih saja menemaniku berbincang, kami berdua berdiri bersandar di taksi mungilnya sembari mengamati kesibukan di sekitar Tourist Bus Park. Beberapa pedagang asongan silih berganti naik turun di seluruh bus berukuran tiga perempat menawarkan dagangannya.

Sewaktu kemudian, Mr. Tirtha  merentangkan tangannya lebar dan kami berpeluk ringan sebagai pengganti ucapan “terimakasih dan sampai jumpa”. Aku sengaja memasuki bus setengah jam sebelum keberangkatan. Akan lebih baik karena Mr. Tirtha bisa dengan segera melanjutkan mencari nafkah dengan taksinya.

Si kondektur menunjukkanku tempat dimana aku harus duduk. Baris kedua dibelakang sopir yang dibatasi sekat kaca. Kini pemandangan menjadi tegang, ketika sepasang suami istri India beradu mulut dengan si kondektur. Sejoli itu merasa dirugikan karena agen tiket di Kathmandu menjanjikan bangku paling depan buat mereka. Si kondektur dengan santainya balik menggertak, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Seketika suasana hening. Aku baru sadar, sejoli itu mengincar bangkuku….Hahaha, padahal jika disuruh tuker aku juga tak menolak. Ada-ada saja.

Europeans di depan itu seru bermain kartu sepanjang perjalanan.

Tiga setengah jam setelah keberangkatan pukul 7 pagi, bus berhenti untuk breakfast break selama 20 menit setelah sejam sebelumnya bus sudah sekali melakukan 15 menit toilet break. Sarapan yang diberikan Mr. Raj di pagi hari nampaknya cukup efektif bagiku untuk tak mengeluarkan budget konsumsi apapun kali ini. Yuk, kuperlihatkan bagaimana restoran tempatku berhenti:

Makan prasmanan aja ya!
Itu tarifnya.
Kopyah yang dipakai kasir itu bernama Dhaka Topi.
Ah masih kenyang….Ngopi aja lah.

Aku baru merasa kelaparan pada lunch break pukul 13:30,  menikmati se-thali (piring lebar khas India) makanan yang kuambil dari meja prasmanan seharga  Rp. 52.000 dan sebuah free-orange juice yang diberikan pada semua penumpang sejak pemberangkatan di Pokhara.

Lumayan free….  
Aku naik yang warna putih.

Jarum jam menunjuk pukul 15:34. Toilet break terakhir kali ini menjadi bagian paling berkesan.  Kumanfaatkan waktu dengan menelusuri area di sekitar tempat peristirahatan. Aku bergerak menuju tepian jalan dan menikmati panorama lembah dan jurang dibawahnya.

Kebanyakan truk di Nepal adalah Tata Motor.

Tergeletik dengan kehidupan di pinggiran jalan, aku memasuki sebuah gang kecil dan melihat sekelumit aktivitas warga lokal yang hidup di pinggiran jalan. Mengamati sebuah spanduk yang tertempel di sebuah sisi tembok beton, aku mencoba sedikit membuka kulit luar perpolitikan di Nepal.

Nepal adalah negara berbentuk republik parlementer yang memiliki empat partai politik utama. Communist Party of Nepal (CPN) menjadi partai pemenang di Nepal yang menempatkan dua tokoh pentingnya yaitu Khadga Prasad Sharma Oli sebagai Perdana Menteri dan Bidhya Devi Bhandari sebagai  Presiden negara tersebut.

Itu dia lambang CPN.

Kembali berada di bangku bus, perjalanan kali ini mengalami kemacetan luar biasa ketika menuruni bukit terakhir menjelang perbatasan Kathmandu. Layaknya kemacetan di Cianjur saat weekend tiba.

Bus merapat di Kanti Path pada pukul 17:08. Kelelahan yang teramat sangat membujukku untuk segera menemukan Shangrila Boutique Hotel di area Thamel. Aku menelusuri banyak gang-gang sempit dan menanyakan kepada penduduk lokal untuk menemukan lokasinya. Hanya berjalan selama 20 menit, akhirnya penginapan itu kutemukan.

Kuserahkan Rp. 280.000 sebagai tarif menginap per malam. Kali ini aku akan bermalam 2 petang di Kathmandu untuk menikmati wisata kota.

Manis Pedas Asam Panipuri di Swayambhunath Stupa.

Destinasi pertama di Nepal.

Resepsionis: “Mr. Donny Suryanto from Indonesia?”, menyapaku ketika merapat ke mejanya.

Aku: “How do you know me?”.

Resepsionis: “Yes Sir, we are waiting for you. Our last room which we have. And you have kept it via Booking.com.

Aku: “yeaa wright….Hahaha, excellent.”, bersamaan menandatangani berkas beriring senyum.

Aku memasuki kamar Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000. Berencana singgah semalam di Kathmandu. Dan di keesokan pagi, aku berangkat menuju Pokhara untuk menikmati Himalaya.

Sempitnya waktu memaksaku untuk bergegas cepat. Mengurungkan niat berbasuh dan segera mengambil folding bag untuk kemudian kuisi dengan barang-barang penting, lalu menuju Swayambhunath Stupa.

Kini aku menyusuri jalanan sempit Thamel dengan hisapan debu yang  tak terelakkan di setiap langkah. Bau khas debu tersamar dengan bau wangi menyengat dupa yang perlahan memendek terlahap bara kecil di beberapa kios penjual pashmina.

Kuhampiri pengemudi yang sedang mengelap taksi mungilnya dari debu, kemudian memulai transaksi menuju Swayambhunath Stupa yang 3 km jauhnya dari tempatku menginap. Aku sengaja mengurungkan niat untuk menempuhnya dengan berjalan kaki karena khawatir hari kian sore.

Deretan stupa di Swayambhunath.

Rp. 50.000 adalah kata sepakatku dengannya. Selama perjalanan, irama pop Nepal yang aku sendiri tak pernah faham maknanya membuat kepalaku mengangguk-angguk mengikuti alunannya. Sesekali si driver merangkap si pemilik taxi menatapku penuh senyum dan akhirnya kita mengangguk-angguk bersama.

Si pengemudi taxi menyarankanku untuk turun di gerbang atas kuil saja. Perlu waktu lama katanya jika aku harus menapak dari gerbang bawah. Setelah mengiyakan sarannya, perlahan taxi mungil itu melaju melingkar mengikuti kontur bukit Swayambhu dan menurunkan tepat di gerbang depan.

Menjelajah di sela-sela stupa.

Penjaga gerbang: “Where are you come from?.”

Aku: “Indonesia, Sir

Penjaga gerbang: “Oh, I know….I know….Jokowi”.

Aku: “Hahaha great….You know that.

Penjaga gerbang: “He is very famous here”, ucapnya sembari merobek tiket masukku seharga Rp. 25.000.

Stupa utama Swayambhunath.
Lihat mata Buddha yang tajam itu !

Benar adanya, sesuai julukannya “Monkey Temple” maka area di sekitar stupa ini banyak dijumpai monyet yang riuh menyambut kedatangan pelawat di pelataran depan. Melintasi kolam perdamaian penuh koin yang dilempar oleh para pelawat. Konon mereka percaya do’anya akan terkabul jika melemparkan koin tersebut. Aku terus berlanjut menapaki tangga menuju tempat peribadatan utama di puncak bukit.

Putarlah maka do’amu akan terkabul.

Para jemaat bergantian datang dan memutar prayer wheels satu persatu….tentu mereka berharap Buddha mengabulkan permintaannya.

Di sekeliling stupa para penjual souvenir menawarkan barang dagangannya kepada para pelawat. Souvenir berbahan logam yang kusam terpapar debu tak menyurutkan niat para pelawat untuk membeli dan memilikinya.

Banyak titipan nih….

Melewati setiap alur di sekitar stupa, anjing sebagai satwa penjaga tampak lulut dan sebagian diantaranya tertidur pulas di sembarang tempat. Sementara ribuan bendera do’a warna-warni berjajar rapi pada sebuah tali yang berpusat pada stupa dan terbentang ke berbagai penjuru.

Menggemaskan.

Sementara di tepian lain, tersuguh sunset yang menyiram kota dengan spektrum kuning emas kemerahan. Perpaduan nuansa religi dan keindahan alam yang sangat memanjakan mata.

Kek Bandung dilihat dari Bukit Bintang kan?.

Keluar di gerbang yang sama, aku meluangkan waktu untuk menuruni jalanan, melihat aktivitas pedagang kaki lima. Langkahku terhenti pada kesibukan sepasang suami istri penjual panipuri. Lalu aku menebusnya seporsi dengan harga Rp. 12.000 dam mulai menikmati jajanan kaki lima Nepal untuk pertama kalinya. Rasa pedas bercampur asam manis dengan aroma kuat kari membuatku sedikit lambat menelan setiap potong panipuri yang kubeli. Pada akhirnya sejoli penjual itu menertawakanku ketika mengunyah jajanan itu sambil melotot.

Wajib menyicipi jajanan kaki lima.

Selepas menikmati jajanan ala rakyat Asia Selatan yang terkenal tersebut, aku menghentikan sebuah taxi yang baru saja menurunkan penumpang. Saatnya menuju penginapan, mandi dan bersiap diri menikmati dinner di malam pertamaku di Nepal.

Bye Swayambhunath….Bersiap menuju Pokhara esok hari.

Transportasi Lawas dari Tribhuvan International ke Thamel

Faktur pembuatan Visa on Arrival Nepal

Thai Airways TG 319 terparkir sempurna di parking lot Tribhuvan International Airport tepat pada pukul 14:08. Tak ada juluran aerobridge menyambut, satu persatu pelawat menuruni tangga di kedua sisi pintu pesawat.

Aveseq: “Hi, Sir….Please, directly stepping to airport building!”, sembari melangkah mendekat dengan menggenggam handy talky dan tangannya jelas menunjuk mukaku….Sangar dengan tubuh tegap gelap dan kumis tebalnya.

Nota pre-paid taxi Tribhuvan-Thamel.

Aku: “OK Sir….I’m sorry”, tanpa pikir panjang kumasukkan Motorola E4 hitam ke kantong kanan celana coklat Emba yang kukenakan.

Akhirnya aku gagal memasukkan gambar wajah beserta Thai Airways TG 319 dalam satu frame karenanya. Lalu aku mulai menyelip dalam iringan penumpang yang menyemut memasuki terminal.

Duh….musiknya jossss.

Kedua tanganku erat menggenggam shoulder harnesses backpack dan muka mendongak menoleh ke kanan-kiri memperhatikan dengan lekat interior Tribhuvan yang sekejap berasa melintas dalam ruangan sebuah kuil. Tembok bermotif bata merah coklat dengan beberapa hiasan ukir tersebar di setiap sudut ruangan. Kemudian aku disambut dengan sederet mesin aplikasi Visa on Arrival di sisi kiri. Tanpa perintah apapun, aku faham dan segera mengambil antrian di mesin sebelah tengah.

Dalam antrian, aku tergelitik dengan tingkah laku seorang anak yang sedang melakukan input data visa untuk ibunya yang berpostur pendek. Diperintahnya si Ibu untuk mendekat.

Suasana Ring Road menuju Thamel.

Cekrek 01….Jidatnya saja yang terfoto….Gagal.

Kemudian disuruhnya si Ibu untuk berjinjit.

Cekrek 02….Fotonya 100% muka….Gagal deui ahhh.

Sedetik kemudian si Ibu sambil menatapku penuh senyum, berdiri di atas kardus kecil yang beberapa waktu lalu masih ditentengnya.

Cekrek 03….Yeaaaa….Berhasil.

Mirip jalanan di India ya?

Aku segera menuju konter pembayaran setelah berhasil mencetak form aplikasi VoA. Tak perlu lama mengantri, aku mendapatkan visaku setelah menyerahkan Rp. 337.500 kepada staff perempuan bertubuh tambun berkain sari biru dan berumur setengah baya. “Oh, Indonesia. Welcome to Nepal and enjoy your trip.”, sapanya mengakhiri transaksi imigrasi kami.

Kini aku semakin dekat dengan pintu exit di arrival hall. Sebelum benar-benar keluar, aku melangkah pelan sekali untuk membaca segenap informasi di seluruh selasar. Sekejap aku cepat merapat ke papan informasi yang menampilkan harga transportasi menuju ke beberapa area di Kathmandu. Akhirnya lega mendapati tulisan “Thamel” yang menjadi tujuanku berikutnya. Hanya berharga Rp. 87.000 untuuk menaiki sebuah minivan merah kusam yang mampu menampung 4 penumpang dan bangku baris terakhir dilepas dan dirubah sebagai bagasi.

Debunya ruarrrr biasa.

Penjual tiket: “Where will you go?”, menanyaiku sambil memegang segepok nota transaksi berwarna merah.

Aku: “Thamel, Sir”.

Penjual tiket: “Do you want private booking or shared booking?“.

Aku: “Is there someone who ready for join with me?”.

Penjual tiket: “Come!….Come!”, menyuruhku untuk mengikutinya keluar pintu bandara.

Perlombaan para jasa wisata di area Thamel.

Sesaat kemudian, akhirnya aku memasuki sebuah mobil lawas mirip Suzuki carry keluaran tahun 80-an. Mobil itu melaju pelan meninggalkan Tribhuvan lalu menyusuri jalanan penuh debu. Ya, hanya debu yang kuingat pertama kali ketika harus bercerita mengenai “Negeri Seribu Kuil” ini.

Di sebuah perempatan, mobil berhenti dan memasukkan laki-laki berpakaian necis ala film Bollywood dan beraksen english luar biasa. Menawarkan segala rupa paket wisata, mulai dari hiking, rafting, trekking dan cannoing. Sudah menjadi rahasia umum bahwa warga Nepal berlomba-lomba mengais rezeqi dari keunggulan pariwisata mereka yang tersohor berkat keindahan pegunungan Himalaya.  Aku berujar kepadanya bahwa semua paket wisata yang akan kujalani selama di negerinya sudah kubeli dari Jakarta via online. Padahal nyatanya tak pernah ada paket wisata apapun yang kusiapkan. Aku lebih memilih melangkah menyusuri kata hati dan kaki saja dalam eksplorasi Kathmadu dan Pokhara.

Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000.

Melewati jalur Ring Road, aku terus tertegun dengan pemandangan jalanan yang sepintas mirip Indonesia tempoe doeloe. Thamel yang hanya berjarak 6 km dari Tribhuvan akhirnya tertempuh dalam 25 menit.

Kini aku memasuki area turis terkenal di Kathmandu. Diturunkan di sebuah gang dan driver taxi menunjukkanku ke arah mana harus melangkah menuju penginapan yang telah kupesan.

Welcome Thamel !

Selimut Putih Himalaya dari TG 319

Jalur terbang Thai Airways TG 0319 Bangkok-Kathmandu.

Selepas Subuhan, aku bergegas mencari keberadaan flight information board untuk memastikan apakah connecting flightku akan tepat waktu atau mungkin delay. Aku menemukannya di koridor utama transit hall.

Penerbangan sesuai jadwal….Nice.
Boarding pass yang telah kupegang sejak meninggalkan Soetta.

Sebagai penganut paham makan tepat waktu maka menjelang jam 6 pagi, aku sibuk berjibaku mencari makanan halal. Kini hanya halal yang akan menjadi syaratnya….Karena aku tak bisa memilih makanan harga kaki lima tentunya. Menjelajah lantai 3 Suvarnabhumi akhirnya aku hinggap di Silom Village.

Tak bisa menemukan logo “Halal”….Aku singgah di “Non-Pork” resto.
Menuku: fried rice chicken served with salted egg seharga Rp. 99.000

Sarapan pagi itu kututup dengan menyeruput secangkir teh hangat yang mampu mengusir angin dalam  tubuh setelah semalaman tidur kedinginan di koridor utama transit hall dan bersambung di mushola.

Lantas menujulah aku ke gate C10 untuk menunggu Thai Airways TG 319. Kali ini hanya perlu menaiki satu lantai lagi melalui escalator untuk mencapai gate.

Koridor menuju gate.
Itu dia barisan gate di Suvarnabhumi International Airport.

Sembari menunggu boarding time, lebih baik mengecharge handphone sebagai satu-satunya alat dokumentasi yang kubawa….Biasa, amatiran. Aku juga berusaha membaca kembali itinerary yang telah siap kugunakan untuk eksplorasi Kathmandu dan Pokhara.

Spot menarik di area departure hall.

Kebosananku akan lalu-lalang pesawat di runway Suvarnabhumi International Airport dipatahkan dengan kehadiran Thai Airways berjenis BOEING 777-200. Memperhatikan proses loading dengan seksama hingg tak terasa waktu boarding pun tiba tepat waktu.

Thai Airways TG 319 sedang mempersiapkan diri untuk segera terbang selama 3 jam 33 menit.

Memasuki kabin pesawat sekejap mata menjadi segar. Selain karena kecantikan para pramugari juga karena bangku pesawat yang memiliki seat cover penuh warna. Kabin pesawat terlihat bak permen warna-warni.

Kabin TG 0319.

Aku duduk disisi kanan kabin dan diapit 2 perempuan muda. Sebelah kanan berkebangsaan Tiongkok yang entah siapa namanya dan seorang gadis Jepang di sisi kiri yang kutahu namanya bermarga Kawaguchi….Sangat cantik dengan kuncir kudanya.

Duduk sembari sedikit menyesal karena kalah cepat memilih bangku pesawat pasca pemesanan tiket secara online. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan duduk di posisi istimewa bagi para photographer yaitu window seat. Karena penerbangan ini akan sangat dekat sekali dengan beberapa puncak pegunungan Himalaya yang akan memamerkan selimut saljunya.

Saat momen itu terjadi, hampir sebagian penumpang berdiri dan menoleh ke jendela sebelah kanan. Itu adalah posisi dimana aku duduk. Aku tak bisa mengambil gambar dengan baik dan lebih memilih untuk duduk tenang dan merekam sesi singkat penerbangan tepat di atas Himalaya itu dalam memori otakku. Masih terbanyang indah hingga tulisan ini terbit….Amazing flight.

Mulai mengisi immigration form yang diberikan oleh awak kabin.

Proses landing juga tak kalah memikat.  Pemandangan yang tersaji adalah deretan bangunan tempat tinggal penduduk Kathmandu yang didominasi bentuk kotak kecoklatan. Kini aku bersiap menginjakkan kaki di Tribhuvan International Airport yang telah menjadi gerbang wisata Nepal dalam beberapa dekade terakhir.

Avseq: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, Ujarnya melarangku mengambil foto selfie tepat di kaki Thai Airways.

Aku: “OK, Sir….I’m sorry”, menjawab dengan sedikit kesal….Hmmh.

Arrival hall yang tak terlalu mewah dan hanya dilengkapi dengan screening gate uzur membuatku tersenyum karena aku seakan berada di Indonesia era 80-an.

Mengajukan aplikasi Visa on Arrival dalam mesin penerbitan visa dan kemudian membayar Rp. 337.500 di sebuah konter yang dijaga oleh staff perempuan tua, akhirnya aku shah memasuki Nepal.

Ikuti petualanganku di Nepal yuk!

Cari tiket penerbangan dari Bangkok ke Kathmandu? Bisa beli kok melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

12 Jam Menginap di Suvarnabhumi International Airport.

Melalui aerogbridge, aku segera menuju transit hall untuk menunggu connecting flight Thai Airways berikutnya. Waktu menunjukkan pukul 23:15. Aku berusaha menemukan lokasi information centre untuk menanyakan tempat ternyaman beristirahat di Suvarnabhumi International Airport.

Aku: “Hi, Ms. Where is better place for rest and getting food?, Transit hall or departure hall?”

Staff: “I think you will be better staying in transit hall. Departure hall is very crowded than you think. Many food stall are in transit hall, so don’t worry”.

Aku: “Oh, okay Ms. Thank you”.

Akhirnya, sarannya menuntunku untuk segera memasuki transit hall. Melewati konter pemeriksaan tiket dan passport dengan lancar, kemudian aku mengakhirinya melalui x-ray screening dengan cepat.

Memasuki transit hall.

Aku akan bermalam selama  12 jam hingga pernerbangan Thai Airways TG 0319 menuju Kathmandu. Setiba di transit hall, aku segera mencari spot terbaik untuk memejamkan mata. Situasi yang masih ramai, tak memungkinkan bagiku menemukan deretan bangku kosong untuk selonjoran.

Akhirnya, menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk mengeksplore seluruh transit hall.

Tengah malam mulai berlalu, perlahan airport mulai kehilangan para pengunjungnya. Deretan bangku-bangku biru memanjang itupun nampak mulai kosong. Beberapa cleaning service terlihat mulai menyeka bangku-bangku itu dengan pewangi dan sterilizer. Mereka sepertinya tahu gelagatku untuk segera meniduri bangku-bangku yang tampak seperti springbed dalam penglihatanku.

Akhirnya menenukan bangku kosong.

Sungguh terlelap berbantal backpack hingga menjelang fajar. Perlahan suara geretan koper para penumpang penerbangan pagi mulai menginterupsi “mimpi Nepal”ku. Aku terbangun tetapi masih tak kuasa menahan kantuk. Kuputuskan untuk mencari mushola dan berharap bisa melanjutkan mimpi.

Electric Information Board
Ruangan mushola yang kosong dan menggoda.

Waktu subuh di Bangkok adalah jam 05:20. Sembari menunggunya tiba, dengan sigap aku mengambil spot tidur di ujung belakang mushola. Tetapi kali ini, aku harus meringkuk disebabkan dinginnya ruangan karena AC besar mushola.

Beberapa jam setelahnya, derap langkah para jama’ah  mulai sering terdengar memasuki ruangan. Waktu Subuh kian menjelang. Sudah tak lelap lagi, bersiaplah diriku mengerjakan Subuh berjama’ah.

Bahagia rasanya, bisa shalat bersama kaum muslim Bangkok pekerja Suvarnabhumi. Aku berbaur dengan security, staff imigrasi hingga para polisi bandara. Sehabis shalat aku sedikit bercakap dengan salah satu staff imigrasi. Satu yang kutangkap adalah kaum muslim Bangkok berjumlah sekitar 10% dari total penduduk Ibukota. Persentase itu berkisar di angka 800-900 ribu.

Subuh telah berlalu,  saatnya bersih-bersih di toilet lalu mencari sedikit kudapan untuk sarapan sebelum TG 0319 take off pada pukul 10:30 menuju ibukota Nepal.

Sarapan yukkkk…!

Bus dari Kathmandu ke Pokhara

31 Desember 2017,

Budget 300 rupee cukup untuk naik Taxi selama 10 menit dari Thamel ke Kantipath Rd. Kalau mau jalan ya 20-25 menit kalo ga pakai nyasar.

Bayangan gw busnya standby di kantor Rainbow Travel Agent. Lah, ternyata semua bus dari berbagai travel agent baris menyemut di sepanjang Kantipath Road.

Bus di Kantipath2

Semua bus mengantri di Kantipath Road

Kayak Gituh……

CafeMau Sarapan….budget backpacker?

Cafe breakfast2

Café yang buka di sisi kiri Kantipath Rd.

Nih ada….Tepat di tengah antrean Bus

Tiket sudah dipesan via email dari Jakarta seharga 700 rupee tapi bayar di tempat. Masalahnya cuman satu, kita dioper ke bus lain karena bus Rainbow sudah penuh (kayaknya mereka yang penting tangkap dulu customer, perkara ditaruh di bus mana, itu urusan belakangan…hahahah).

Hebatnya lagi, kita cuman dikasih tiket lalu suruh cari bus sendiri di sepanjang antrian Kantipath berdasar plat nomor. Ya puyeeng lah….angka Nepal kan beda dengan angka latin.

Setengah jam menuju keberangkatan jam 7. Balik lagi ke antrian belakang buat nanya si koordinator bus……yah, dia cuman bilang cari aja bus hijau muda nomor 3 dari depan, kagak mau nemenin…..hahahah, balik ke depan lagi donk!

Okay….Bus mulai jalan jam 7 tepat. Perjalanan ditempuh dalam 8,5 jam berbekal 1 liter air mineral gratis.

toilet nepal2

Ragu-ragu pas pertama mau masuk….woooww….ternyata bersih

Bus akan berhenti empat kali

Break stop 1. Jam 9:30 toilet break 15 menit dan

Break stop 4. Jam 14:30 toilet break 15 menit.

Rumah Makan Phokara2

Rumah makan sepanjang jalan Kathmandu-Pokhara

Break stop 2. Jam 10:30 breakfast dan

Break stop 3. Jam 13:30 lunch. 20 menit. Dikit banyak kayaknya musti bayar 400 rupee.

Selama perjalanan, kamu akan diperlihatkan berbagai hal yang khas di Nepal:

– Dedaunan sepanjang pepohonan berwarna putih karena debu

– Banyak papan iklan besar dipasang di tengah pesawahan

– Banyak jembatan gantung yang menghubungkan antar bukit melewati jurang.

– melewati wisata Chandragiri Cable Car

rafting sepanjang sungai yang dilewati jalur bus

– banyak warga berjemur matahari untuk mengurangi hawa dingin 5-11°C sambil main karambol atau mengelilingi api.

jalanan nepal2

Sepanjang jalan menakutkan tapi menakjubkan

Selama perjalanan bus akan naik turun mengelilingi pegunungan dengan sebelah kanan jurang jika bus dari Kathmandu. Tenang aja, Bus jalannya pelan dan aman. Kebanyakan mobil, truk dan bus disana adalah produksi Tata Motor dari India.

Gw fikir, bus sudah bertuliskan Tourist gak akan ambil penumpang di jalan, ternyata 2 kali kondektur ngambil orang lokal di tengah jalan, cuman aman sih, ga sampai ada yang berdiri.

Perjalanan sempat molor karena ban bocor 15 menit sebelum Pokhara. Kasian kondekturnya anak belasan tahun, pontang-panting ganti ban, beruntung para sopir taxi pada ngebantuin. Sempat pulak cari jeruk 100 rupee dapet sekantong platik. Karena terlalu lama akhirnya kita dioper ke bus lain.

tourist bus park2

Tourist Bus Park….begitu sampai langsung diserbu para sopir taxi

Di Pokhara Bus akan berhenti di Tourist Bus Park. Himalaya di belakang ituh loh…..cuannteeekkkkk.

Jika mau balik ke Kathmandu sebaiknya langsung cari travel agent untuk pesan tiket bus ke Kathmandu. Mereka akan menawarkan tiga jenis harga dari 600, 700 dan 800 rupee. Mungkin tergantung kualitas bus nya. Gw sih ambil yang 600 rupee. Biasa….. murah is the best.