Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

<—-Kisah Sebelumnya

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Kisah Selanjutnya—->

Ketatnya Imigrasi Busan

1  Januari 2017,

Girang banget 18 Juni 2016 dapet tiket murah Air Busan (Osaka-Busan) seharga 800K untuk departure 1 Januari 2017. Air Busan sendiri adalah maskapai ke-16 yang pernah gw coba. Dan kini waktunya tiba untuk menunggangnya menuju Korea Selatan.

Hari H, Sebetulnya sempat rada galau saat menunggu di Air Busan gate, Kansai International Airport.

Masak iya sudah ke Jepang, ndak bisa masuk Korsel…pikirku menangkan diri…hahahaha.

OK, gw boarding…….

Setelah penerbangan satu setengah jam, gw masuk Gimhae International Airport di Terminal 1.

2018-02-05_20.38.11

Bagus juga interior Air Busan.

Setelah mengantri di konter imigrasi…..drama dimulai.

Gw ambil antrian imigrasi paling kiri, turis China didepan gw lancar banget melewati staff imigrasi, kayaknya gw juga bakal lancar.

Ternyata……..tidak sama sekali….hihihi

Imigrasi   :     “Apakah Anda pernah berkunjung ke Korea Selatan sebelumnya?”

Gw            :     “Belum, Pak. Inilah pertama kalinya“

Imigrasi   :     “Ke negara mana Anda berkunjung sebelum ke Korea Selatan?”

Gw            :     “Malaysia, Taiwan dan Jepang, Pak”

Dia mulai mengawasi Gw dengan tatapan curiga.

Imigrasi   :     “Negara lain mana yang pernah Anda kunjungi?….Tulis!”, dia menyodorkan kertas dan pulpen.

Gw mulai menulis satu-persatu hingga tersalin sebelas baris tambahan nama negara yang pernah kusinggahi.

Tapi reaksinya sungguh di luar dugaan, dia hanya geleng-geleng kepala. Gw tak kalah berinisiatif ketika dia bersikap demikian. Dari dalam backpack, gw keluarkan passport lama yang telah terpotong salah satu covernya, “Anda bisa memeriksanya di sini, Pak”.

Imigrasi                      :     ”Saya tidak perlu ini”, dia mendorong passport lama itu dengan telunjuk jarinya ke arah gw sebagai pertanda dia tidak mau melihatnya

Alamaaattttttttt……….dag dig dug dimulai…..kenceng pulak.

Imigrasi   :     ”I don’t believe you….keluarkan dompet”

Walah….. gw jongkok ngerogoh tas bagian dalam dengan sedikit panik…….

yups, dapet……hmmmm, mana dompet udah pada sobek…..kayak pasrah

Dia geleng-geleng cuman nemuin 120.000 Won (1.300K). Kemudian dia menutup antrian dg tanda CLOSE. Turis yang antri dibelakang gw, diminta pindah ke antrian sebelah.

Walah…………Piye iki.

Imigrasi   :     ”No ATM….No Credit Card….Uang dikit….kamu ga bisa tinggal disini”

Deportasi………..gw udah memvonis diri begitu seketika.

Imigrasi   :     ”Kerja apa kamu?”

Gw            :     ”Sales and Marketing

Imigrasi   :     “Mana Business Card?”

Gw            :     ”Kaga bawa”

Imigrasi   :     ”KTP mana?”

Gw            :     ”Kaga Bawa juga”.

Dia mulai mengusap-usap kening dan matanya, ga percaya ketemu turis kayak gw……..sambil menutup paspor gw….dia manggil temannya

Gw ga tau dia ngomong apa…tapi dia geleng-geleng kepala terus. Temannya sekali-kali ngeliat gw kayak tersangka….asem tenan.

Gw mencoba tenang, dan merasa harus melakukan klarifikasi sebelum dia memutuskan apapun.

OK, dia selesai bicara sama temannya dan duduk kembali di konter imigrasi.

Gw            :     ”Saya punya tiket pulang Air Asia 5 Januari 2017 dari Incheon International Airport. Saya akan menginap di Kimchee Guesthouse Busan dan Seoul…..this is my itinerary and my budgeting (gw serahin semua itinerary dan kebutuhan biaya yang memang selalu gw susun setiap backpackeran ke negara orang)”

Imigrasi sambil menempelkan telunjuk ke mulutnya….sssttttt…….minta gw jangan banyak ngomong.

Tapi sepertinya dia mau membaca itinerary gw beserta rincian biayanya.

Gw            :     ”(Sambil memelas)….Please Sir, I am backpacker…..just for sightseeing Korea….No More….Please…..I will go Home….believe me!

Imigrasi kayaknya mulai kasian ama gw, lalu membolak-balik semua stempel imigrasi di Paspor baru dan paspor lama gw.

Imigrasi    :    ”OK, You can….you can.”

Cetokkkkk…….setempel nangkring tuh di passport gw…..indah banget momen ituh.

Hadeuuhhh…legaaaaa bangettt.

Pelajaran berharga buat gw……lain kali ga boleh gila….

Habis peristiwa itu, gw selalu bawa Business Card, ID Card, Credit Card (walo limit kecil) dan ATM (meski isi minim) setiap jalan ke negara orang.

Setelahnya gw sangat terbantu dengan kartu-kartu sakti itu setelah menghadapi random checking serupa di Woodlands Checkpoint, Singapura Juli 2017.

Okeeee…(tersenyun bahagia), akhirnya gw makan siang sambil nunggu teman-teman gw landing dari Osaka.

2018-02-05_20.08.25

Wkwkwkwk…..jatah di pesawat buat makan siang….dasar pelit.