Bersih dan Modern….Gaya dari Kimchee Busan Guesthouse

Tentu Aku tak pernah tahu kenapa guesthouse ini diberi nama Kimchee. Yang hanya Ku tahu, kimchee atau kimchi adalah makanan khas Korea yang terbuat dari sayuran yang difermentasi dengan aneka macam bumbu yang pada akhirnya berasa pedas dan asam. Mungkin guesthouse ini akan menjadi tempat berkumpulnya para pengelana dari beraneka macam bangsa dengan tujuan sama yaitu menikmati keunikan Korea…..halah, ngawur nih statement.

Dorm atau dormitory sudah menjadi pilihan umum kaum backpacker dalam berkelana. Selain menawarkan keamanan budget, dorm juga menawarkan satu opsi untuk membuat jaringan antar backpacker yang beragam kewarganegaraannya. Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena di setiap dorm room akan diisi 12-16 backpacker untuk tidur bersama….hushhh, di ranjangnya masing-masing maksud Saya.

Kali ini pilihanku jatuh pada Kimchee Busan Guesthouse sebagai tempat bernaung selama berpetualang di Busan. Tiga hal yang menjadi concern penting dalam memilihnya adalah harga, lokasi dan feedback ratenya yang bagus.

Aku sudah memesannya 4 bulan sebelum keberangkatan, sehingga kupastikan Aku mendapatkan harga terbaik. Guesthouse seharga Rp. 180.000 (KRW 15.000) terletak di jalan Hwangnyeong-daero. Berjarak sekitar 270 meter dari Stasiun MRT Beomnaegol sehingga guesthouse ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kedatanganku di guesthouse disambut hangat dengan resepsionis cantik. Setelah menyerahkan passport dan Won, Aku mendapatkan access card menuju dorm room.

Si resepsionis cantik
Ruang resepsionis

Untuk ukuran guesthouse tentu menjadi hal yang luar biasa karena ketersediaan lift di dalamnya. Tak seperti banyak dorm yang pernah kusinggahi dimana Aku harus menyiapkan otot kaki untuk menaiki puluhan anak tangga sebelum menuju ke kamar.

akses lift menuju dorm room

Memasuki kamar, kelelahan itu terbayar dengan leganya ruangan dorm yang terdiri dari 10 bed dengan masing-masing loker yang telah disediakan disebelah bed.

Dorm room

Di guesthouse inilah, Aku pertama kalinya menghirup segarnya aroma Soju –minuman khas Korea-. Walaupun Aku tak meminumnya, setidaknya Aku tahu aroma dan wujudnya serta bagaimana cara meminum Soju dari teman-teman sekamarku.

Keisenganku yang lain adalah menggunakan hair dryer yang disediakan di shared bathroom untuk mengeringkan kaos kaki basahku. Sudah menjadi kebiasaan, Aku hanya membawa 2 pasang kaos kaki, tak peduli seberapa panjang perjalananku. Setiap dua hari Aku akan mencuci kaos kaki yang kugunakan dan kukeringkan dengan cara apapun.

Hal baik lain dari guesthouse ini adalah menyediakan container untuk menyimpan backpack dan barang-barang lain yang dititipkan oleh penginap. Biasanya penginap akan meyimpan backpacknya ketika mereka datang lebih awal dari waktu check-in atau akan meninggalkan kota ketika jam keberangkatan mereka masih jauh dari waktu check-out.

Aku pun menitipkan backpackku karena keberangkatanku ke Seoul menggunakan bus terjadwal pukul 8pm sedangkan Aku waktu check-out ku pukul 12pm

Guesthouse juga menyediakan rak dan kulkas untuk menyimpan makanan para penginap….awas, jangan ambil makanan orang ya….hehehe. Biasanya penginap yang sedikit lebih lama tinggal di guesthouse akan menyimpan makanannya disini. Wah kalau Aku dipastikan ga pernah menggunakan fasilitas ini.

Kimchee snack and Bar

Tentu Kamu memiliki selera tersendiri dalam memilih penginapan…..yang penting tujuan kita sama, guys….jalan-jalan. That’s it.

Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Ketatnya Imigrasi Busan

1  Januari 2017,

Girang banget 18 Juni 2016 dapet tiket murah Air Busan (Osaka-Busan) seharga 800K untuk departure 1 Januari 2017. Air Busan sendiri adalah maskapai ke-16 yang pernah gw coba.

Sebulan kemudian, 3 teman yang akan pergi bersama mulai issued. Tanpa sadar ternyata berbeda jam penerbangan…..walahhhh.

Oke klo gitu….ga masalah, gw masuk Gimhae International Airport duluan.

Hari H, Sebetulnya sempat rada galau saat menunggu di Air Busan gate, Kansai International Airport.

Masak iya sudah ke Jepang, ndak bisa masuk Korsel…pikirku menangkan diri…hahahaha.

OK, gw boarding…….

2018-02-05_20.38.11

Bagus juga interior Air Busan.

Setelah 1,5 jam terbang…..drama dimulai.

Gw ambil antrian imigrasi paling kiri, turis China didepan gw lancar banget melewati staff imigrasi, kayaknya gw juga bakal lancar.

Ternyata……..tidak sama sekali….hihihi

Imigrasi   :     “Kamu pergi sama sapah?…”

Gw            :     “Sendiri “

Imigrasi   :     “Ada teman?”

Gw            :     “Ada….aku sebut nama donk…A,B,C”

Kayaknya dia mengawasi gw dengan aneh dan sepertinya dia ga bisa mengeja nama-nama itu.

Imigrasi   :     “Tulis……(menyodorkan kertas dan pulpen)”

Ya gw tulis donk…

Lalu dia ketak-ketik nama itu di komputernya……..

Imigrasi   :     ”tidak ada nama-nama ini di sini…..(sedikit marah sambil mencoret silang semua nama yang kutulis di kertas)”

Alamaaattttttttt……….dag dig dug dimulai…..kenceng pulak.

Gw            :     ”mereka tidak di Korea, tapi akan landing jam 14:30 nanti……”

Imigrasi   :     ”Tunjukkan tiket teman-temanmu?”

Gw            :     ”Kaga ada”

Tambah ga percaya tuh petugas………

Imigrasi   :     ”I don’t believe you….keluarkan dompet”

Walah….. gw jongkok ngerogoh tas bagian dalam dengan sedikit panik…….

yups, dapet……hmmmm, mana dompet udah pada sobek…..kayak pasrah

Dia geleng-geleng cuman nemuin 120.000 Won (1.400K). Kemudian dia menutup antrian dg tanda CLOSE. Turis yang antri dibelakang gw, diminta pindah ke antrian sebelah.

Walah…………Piye iki.

Imigrasi   :     ”No ATM….No Credit Card….Uang dikit….kamu ga bisa tinggal disini”

Deportasi………..gw udah memvonis diri begitu seketika.

Imigrasi   :     ”Kerja apa kamu?”

Gw            :     ”Sales and Marketing

Imigrasi   :     “Mana Business Card?”

Gw            :     ”Kaga bawa”

Imigrasi   :     ”KTP mana?”

Gw            :     ”Kaga Bawa juga”.

Dia mulai mengusap-usap kening dan matanya, ga percaya ketemu turis kayak gw……..sambil menutup paspor gw….dia manggil temannya

Gw ga tau dia ngomong apa…tapi dia geleng-geleng kepala terus. Temannya sekali-kali ngeliat gw kayak tersangka….asem tenan.

Gw mencoba tenang, dan merasa harus melakukan klarifikasi sebelum dia memutuskan apapun.

OK, dia selesai bicara sama temannya dan duduk kembali di konter imigrasi.

Gw            :     ”Saya punya tiket pulang Air Asia 5 Januari 2017 dari Incheon International Airport. Saya akan menginap di Kimchee Guesthouse Busan dan Seoul…..this is my itinerary and my budgeting (gw serahin semua itinerary dan kebutuhan biaya yang memang selalu gw susun setiap backpackeran ke negara orang)”

Imigrasi sambil menempelkan telunjuk ke mulutnya….sssttttt…….minta gw jangan banyak ngomong.

Tapi sepertinya dia mau membaca itinerary gw beserta rincian biayanya.

Gw            :     ”(Sambil memelas)….Please Sir, I am backpacker…..just for sightseeing Korea….No More….Please…..I will go Home….believe me!

Imigrasi kayaknya mulai kasian ama gw, lalu membolak-balik semua stempel imigrasi di Paspor baru dan paspor lama gw.

Imigrasi    :    ”OK, You can….you can.”

Cetokkkkk…….setempel nangkring tuh di passport gw…..indah banget momen ituh.

Hadeuuhhh…legaaaaa bangettt.

Pelajaran berharga buat gw……lain kali ga boleh gila….

Habis peristiwa itu, gw selalu bawa Business Card, ID Card, Credit Card (walo limit kecil) dan ATM (meski isi minim) setiap jalan ke negara orang.

Setelahnya gw sangat terbantu dengan kartu-kartu sakti itu setelah menghadapi random checking serupa di Woodlands Checkpoint, Singapura Juli 2017.

Okeeee…(tersenyun bahagia), akhirnya gw makan siang sambil nunggu teman-teman gw landing dari Osaka.

2018-02-05_20.08.25

Wkwkwkwk…..jatah di pesawat buat makan siang….dasar pelit.