Fort de Kock dan Perang Padri

Aku masih memandangi Rumah Kelahiran Bung Hatta itu dari trotoar Jalan Soekarno Hatta, Bukan tak rela meninggalkannya, tetapi aku terus berfikir bagaimana sebuah tim kerja membangun replika rumah itu dengan persisnya karena rumah aslinya sudahlah runtuh pada 1962 silam.

Melangkah kembali menuju arah semula datang, aku berbelok ke Jalan Pemuda setelah melewati Banto Trade Centre. Kaki ini masih kuat ketika dihadapkan pada jalan yang panjang meliuk, rela ku menyusurinya karena mata dimanjakan dengan bentangan sawah nan hijau dan arsitektur khas atap gonjong yang menghiasi bangunan-bangunan resmi milik pemerintah.

Atap gonjong di SDN 14 ATTS (Aur Tajungkang Tengah Sawah).
Taman Monumen BDB, simbol perlawanan rakyat menentang kolonialisme Belanda pada 15 Juni 1908.
Atap gonjong di RSUD Dr. Achmad Mochtar.

Sepertinya perjalananku akan memutar dan semakin mendaki, kakiku sudah tak sanggup lagi setelah lima hari sebelumnya selalu mengandalkannya untuk bereksplorasi di tanah Sumatera.

Sudah saatnya memanggil transportasi online untuk mencapai gerbang depan Fort De Kock. Tak sampai lima menit menunggangnya, aku menanjaki Bukit Jirek dan tiba di gerbang depan benteng.

Wekom in Fort De Kock”…..

Gerbang benteng.

Melewati gerbang, rumah makan Family Benteng Indah adalah penyambut pertama, lalu diteruskan oleh konter penjualan tiket. Walau aku mengunjungi Fort de Kock, namun wisata yang tertulis di dalam tiket adalah Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan harga tertera Rp. 15.000.

Konter penjualan tiket.

Setelah melewati titik pemeriksaan tiket, kios pedagang makanan berderet di sisi kanan. Lalu sebuah kandang merpati endemik China jenis Junai Mas diletakkan di ujungnya. Setelahnya, aku baru bisa melihat bentuk asli benteng itu.

Itu dia wujud benteng mungil Fort de Kock.

Benteng Fort De Kock didirikan oleh Kapten Bauer sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perang ini sendiri meletus di seperempat pertama Abad ke-19. Ketika itu Boan Hendrick Markus de Kock menjadi komandan Der Troepen sekaligus Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari sinilah nama “Fort de Kock” berasal.

Meriam kuno tahun 1800-an di empat sudut benteng.

Bangunan utama benteng yang tak lebih dari 400 meter persegi ini terlihat kecil tapi sangat kuat secara fisik dan strategi. Secara bentuk fisik, banteng ini memiliki ketebalan dinding yang bagus dan secara strategis, benteng ini tangguh karena terletak tepat di puncak bukit, memudahkan siapapun mengamati gerak-gerik musuh di sekitar.

Lihat bagaimana tebalnya dinding benteng.
Lantai dua atau atap banteng.

Aku mencoba terus membayangkan bagaimana hebatnya sepak terjang Tuanku Imam Bonjol dalam memimpin kaum Padri melawan Kolonialisme Belanda. Hingga Belanda harus membangun benteng ini untuk mengamankan kekuasaannya dari rongrongan pemimpin karismatik itu.

Taman dilihat dari atas banteng.

Sepeda Ontel ala Pavilion Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Perpaduan kuning, biru dan oranye itu sedikit ternoda dengan kelupasan cat dinding Banto Trade Centre. Tetapi bukan itu fokusnya, jabat tangan Ramlan Nurmatias dan Joko Widodo lah yang dari tadi membuatku terpana. Sepertinya Walikota dan orang nomor satu negeri ini telah sepakat perihal peletakan batu pertama proyek revitalisasi Pasar Ateh….Syukurlah, Bukittinggi sedang giat membangun rupanya.

Sementara itu, pelataran Banto Trade Centre menjadi area niagawan sayur mayur untuk menjajakan dagangan diatas gerobak dan motornya. Lalu jauh di depan sana, masih di bilangan Jalan Soekarno Hatta, plakat emas “Adipura Kencana” dijunjung oleh tiang tunggal berwarna putih. Menunjukkan bahwa kota ini diakui kebersihan oleh seantero negeri.

Sekitar dua kilometer sajalah, avku tiba di sebuah mulut gang. “Gg Komp Sabar” begitulah aksara dalam plat nama berwarna hijau yang ditegakkan berdempat dengan tiang hitam berukuran lebih besar dengan aksara putih tebal “Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Proklamator RI, Jl. Soekarno Hatta No. 37 Bukittinggi

Sebelas tahun Bung Hatta tinggal di rumah ini.

Adalah duplikasi arsitektur rumah aslinya yang apabila masih berdiri akan berusia 160 tahun. Sayang rumah itu telah runtuh di era 60-an, tetapi atas gagasan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, dibangun ulanglah rumah itu.

Dibangun mengikuti lekuk aslinya, sesuai yang tergambar di memoir dan berbagai dokumentasi milik keluarga. Secara umum rumah ini juga dapat menggambarkan situasi dan kehidupan masyarakat masa lalu dan khususnya keluarga besar Bung Hatta.

Bangunan Utama

Rumah khas Bukittingi ini terdiri atas bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur, kandang kuda, dan kolam ikan.

Bangunan utama sendiri terdiri dari dua lantai dan berada di bagian terdepan area rumah. Bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga dan kamar tidur ibu, paman, dan kakek Bung Hatta.

Berikut sekilas pandang bilik-bilik pada kedua lantai bangunan utama:

Lantai 1.

Foto keluarga Bung Hatta.
Meja pertemuan keluarga.
Sumur.
Meja makan keluarga.

Lantai 2.

Kamar orang tua Bung Hatta, di ruangan inilah Bung Hatta dilahirkan.
Meja makan tamu.

Pavilion

Di belakang bangunan utama, dibangunlah sebuah pavilion. Bangunan tembok putih itu digunakan untuk ruang dapur, kamar tidur Bung Hatta, kamar mandi, kandang kuda dan ruang bendi. Dari ruangan kamar itulah, Bung Hatta memulai pendidikannya di Europese Lageree School (ELS) Bukittinggi. Di dalam kamar itu pula tersimpan sepeda ontel yang disebut sering dipakai Bung Hatta sehari-hari diberikan orang tuanya sejak usia 8 tahun.

Kamar Bung Hatta di dekat lumbung padi. Disebut sebagai Ruang Bujang.

Dia tinggal bersama sang kakek, Syech Adurrachman yang dikenal pula sebagai Syech Batuhampar. Sang kakek sendiri berprofesi sebagai kontraktor pos partikelir itu.

Di akhir kunjungan aku penasaran dengan profil Ma’ Etek Ayub sebagai sosok yang banyak membantu Bung Hatta dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan beliau adalah Praktek “Dagang Waktu”. Kebingungan akan jenis pekerjaan tersebut, kuberanikan bertanya kepada seorang wanita tua yang bekerja merawat keseluruhan rumah itu.

Dapur.
Kandang kuda.
Bugi atau bendi sebagai kendaraan Bung Hatta kala sekolah.

Lumbung Padi

Selayaknya rumah-rumah zaman dahulu, saat bangsa ini masih mengalami kesulitan ekonomi. Lumbung padi adalah satu upaya untuk memastikan keterjaminan pangan keluarga.

Lumbung gedek penyimpan padi.

Usai tuntas menempuh pendidikan dasar, Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Janjang Ampek Puluah, Perwujudan Integrasi Zaman Kolonial

Beranjak dari Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, Aku bergerak turun menyusuri Jalan Istana, melintas Plaza Bukittinggi, menyapa Jam Gadang, menapak di Jalan Minangkabau kemudian masuk ke Jalan Cindua Mato.

Selangkah kemudian, aku memasuki Pasar Atas. Sebagian besar kios masih tertutup karena aku terlalu pagi menyambanginya. Tak ada yang bisa kuperbuat, hanya beberapa kios yang sedang bersiap membuka diri, ditandai dengan si empunya yang sibuk menata barang dagangan.

Senyap.

Kini aku sudah berada di gerbang dengan pemandangan leretan curam anak tangga, dua ekor harimau mengawal gerbang di kiri-kanannya, sementara di ujung bawah sudah terlihat sekelumit keramaian perniagaan, mungkin itulah yang disebut dengan Pasar Banto.

Aku menuruninya perlahan sambil mulut berkomat kamit menghitung bilangan….Benar ternyata,  empat puluh anak tangga. Leretan anak tangga inilah yang dikenal dengan nama Janjang Ampek Puluah. Konon empat puluh melambangkan jumlah anggota Niniak Mamak.

Tangga penghubung legendaris.

Sungguh cemerlang Louis Constant Westenenk, Si Asisten Residen Agam (Controleur Agam) yang berkolaborasi dengan Niniak Mamak (Lembaga Adat Minangkabau) dalam mencetuskan integrasi Pasar Atas-Pasar Bawah-Pasar Banto pada awal Abad XX. Kala itu Janjang menjadi fasilitas populer dalam konektivitas pasar. Daya fikir pemimpin pada masa itu, benar-benar diperas untuk menata kota Bukittinggi yang memiliki topografi berbukit dan tidak rata.

Aku tiba di gerbang bawah empat tiang bergaya Eropa dengan signboard besar “Janjang Ampek Puluah”. Toh, akhirya kuketahui bahwa gerbang bawah ini adalah bangunan baru, melengkapi gerbang bagian atas yang sudah lebih dahulu ada.

Gerbang bawah bergaya kolonial.
Gerbang Bawah tampak dari pertigaan Jalan Pemuda, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Soekarno Hatta.

Sementara di bagian samping dalam gerbang, terdapat prasasti yang berisi sejarah ringkas keberadaan janjang legendaris setinggi 5 meter dan lebar 4,6 meter yang dibangun pada masa lampau itu.  

Aku masih saja memandangi keanggunan fasilitas integrasi era kolonial ini, sementara warga tampak mulai berlalu lalang menaik turuni Janjang. Aku memang tak mau lekas meninggalkan area itu, tertegun memikirkan bagaimana perwujudan area ini ketika Janjang belum direalisasikan, mungkin tempatku berdiri itu masih berwujud perbukitan curam yang memisahkan ketiga aktivitas pasar.

Janjang Ampek Puluah hanyalah satu dari seian banyak Janjang di Bukittinggi. Rupaya Pemerintah Kolonial cukup serius dalam mengintegrsikan semua titik ekonomi kota kala itu. Perlu kamu ketahui bahwa masih ada Janjang Saribu, Janjang Koto Gadang dan Janjang Pasanggrahan di kota bernama lama Fort de Kock itu.

Di sisi luar gerbang, lalu lalang angkutan kota mulai mendenyutkan nadi kota. Penampakan angkuh Banto Trade Centre semakin menunjukkan bahwa daerah di sekitarnya dapat diandalkan sebagai mesin penggerak ekonomi kota.

Okay lanjut yuk….Kalau berjalan lurus kedepan, ada apa lagi ya?

Taman Monumen Proklamator Bung Hatta dan Kisahnya yang Bersahaja

Satu jam sudah aku mengupas kisah heroik di Tugu Pahlawan Tak Dikenal. Kini aku akan belajar sejarah lainnya di taman yang berbeda. Letaknya tepat di seberang timur tugu hitam berbentuk naga itu. Hanya perlu menyeberang sejenak Jalan Istana.

Dari etalase signboard di gerbang depan taman, rupanya Sumatera Barat sedang bersiap diri untuk menggelar seri balap milik Union Cycliste International (Persatuan Balap Sepeda Internasional) seminggu kedepan.

Tour de Singkarak ke-9, balap sepeda ranking lima dunia.

Menaiki dua puluh dua anak tangga berwarna gelap, aku mencapai pelataran taman. Dinamakan Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, taman ini menampilkan patung utuh Mohammad Hatta berbaju safari empat saku yang dengan kharismanya melambaikan tangan kanan ke arah pertigaan Jalan Istana, Jalan H. Agus Salim dan Jalan Sudirman.

Gerbang depan taman.

Jika tadi aku berada di bawah permukaan jalan ketika berada di Tugu Pahlawan Tak Dikenal, kini aku berada tinggi di atas permukaan jalanan ketika menyambangi Taman Monumen Proklamator Bung Hatta. Dua hari mengeksplorasi kota, mulai tersadar bahwa aku terkadang sebentar di bawah, lalu tiba-tiba berada di ketinggian. Bukan Bukittinggi namanya jika tidak demikian.

Bertatap muka dengan Bung Hatta.

Tampak di belakang patung terdapat tiga halaman dinding yang mengisahkan perjuangan tokoh yang memiliki nama asli Mohammad Ibn ‘Atta ini.

Dihalaman pertama, tampak kehidupan Bung Hatta di rumah sederhananya, kisah saat Hatta mengaji di Batuampar hingga melanjutkan sekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Di halaman dinding kedua, diceritakan suatu masa ketika Hatta memimpin Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda saat beliau bersekolah.

Halaman pertama dan kedua di sisi kanan patung Mohammad Hatta.

Halaman dinding ketiga adalah masa masa indah ketika Hatta berhasil memprokalamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945 hingga perjuangan dari meja perundingan satu ke meja perundingan yang lain demi pengakuan dunia atas kemerdekaan yang diproklamasikannya.

Dan layaknya sebuah skenario normal, halaman dinding keempat adalah masa pensiun Hatta dari dunia politik hingga masa dimana beliau mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto.

Halaman ketiga dan keempat.

Jalanan telah tampak ramai dengan aktivitas, satu per satu warga yang sedang berolahraga tampak mengunjungi taman ini untuk sekedar melakukan pendinginan pasca berjogging, duduk bersantai di bangku taman dan berfoto dengan sosok Bung Hatta yang menjadi tokoh primadona kota mungil Bukittinggi.

Taman masih tampak basah sisa hujan deras semalaman.

Cukup tiga puluh menit bagiku untuk mengunjungi taman ini. Aku akan melanjutkan kembali eksplorasi Bukittinggi dengan mengunjungi Janjang Ampek Puluah, sebuah tangga penghubung antar pasar yang cukup tersohor dalam pariwisata kota ini.

Suasana Jalan Sudirman yang mulai sesak dengan kendaraan.

Yuk….Lanjut jalan kaki lagi…..

Menentang Pajak Kolonial Versi Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hanya ada Noah yang mendengkur tergelepar karena efek residual dari mabuk semalam di De Kock Cafe lantai 1. Aku berusaha tetap senyap untuk berguyur di shower ujung kamar. Bahkan hingga aku telah siap berkelana pun, dengkurnya tak berubah nada sama sekali.

Cafe bawah tetap terbuka lebar tanpa penjaga saat aku meninggalkan penginapan dengan kondisi setengah gelap, sepi dan dingin yang masih menusuk.

Menyusuri jalanan yang sama ketika petang kemarin berburu pesona Jam Gadang, hanya saja, kali ini hanya aku seorang diri yang terlihat sangat tergesa dalam sunyinya pagi.

Bank Nagari dan Novotel kembali kusalip begitu saja tanpa ekspresi, aku sudah melihatnya sore kemarin. Begitupun, kulewati Jam Gadang tanpa impresi. Sama, mungkin karena aku telah merenggut pesonanya sehari lalu. Aku hanya berfikir untuk segera mendaratkan langkah di sebuah taman kota.

Bank Nagari Cabang Bukittinggi.

Namun, sebelum memasuki taman, aku sedikit tertarik dengan pesona bangunan besar berwarna kuning emas. Adalah Balai Sidang Bung Hatta yang menjadi Convention Center andalan di Kota Bukittinggi.

Balai Sidang Bung Hatta.

Pukul 07:10, aku mulai memasuki taman itu, berada menjorok di bawah permukaan Jalan Istana yang ada di baratnya. Sedangkan gedung tinggi abu-abu milik Bank BNI Bukittinggi membatasi pandangan mata di timurnya.

Foto diambil dari sisi selatan.

Focal point dari taman terletak pada tugu hitam artistik di lingkaran tengahnya. Itulah Tugu Pahlawan Tak Dikenal yang didesain oleh seniman pahat asal Kota Padang Panjang, Hoerijah Adam. Nama Hoerijah Adam sendiri kemudian diabadikan menjadi nama Bengkel Bari di Taman Ismail Marzuki paska kecelakaan pesawat Merpati Nusantara jenis Vickers Viscount yang ditungganginya di Samudra Hindia.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Perlawanan itu sendiri terjadi karena penolakan penerapan pajak pendapatan sebesar 2% untuk kaum pribumi atas segala bentuk usaha perdagangan yang dilakukan.

Tugu berbentuk lingkar ular naga.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963 yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staff ABRI. Dan dua tahun kemudian tugu ini diresmikan.

Pada satu sisi monumen, diletakkan kutipan lantang seorang sastrawan terkenal yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, tak lain adalah Muhammad Yamin:

Mati Luhur Tak Berkubur

Memutuskan Jiwa Meninggalkan Nama

Menjadi Awan Di Angkasa

Menjadi Buih Di Lautan

Semerbak Harumnya Di Udara

Ternyata, Bukittinggi menyimpan banyak sejarah perjuangan bangsa yang baru kuketahui setelah mengunjunginya.

Asyik ya….Jalan-jalan sembari mengenal sejarah bangsa.

Mengaji Ala Bacpacker di Masjid Raya Bukittinggi

Seketika aku tersadar bahwa aku belum menunaikan kewajiban Shalat Maghrib. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul  19:10 dan suara shalawatan telah menghilang sejak tadi. Lalu waktu memaksaku untuk segera beranjak dari pelataran Plaza Bukittinggi.

Menyusuri Jalan Cinduo Mato, aku sudah tak menemukan keramaian seperti yang kubayangkan. Sebagian besar ruko di kiri-kanan jalan sudah mulai menutup pintu. Hanya beberapa yang bertahan karena masih harus melayani pelalu-lalang tersisa di jalanan.

Aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi. Bangunan delapan jendela lengkung di lantai kedua. Tepat terletak di sisi jalan dan ditandai dengan satu buah menara berpendar kehijauan di salah satu sudut depannya.

Halaman depan Masjid Raya Bukittinggi.

Memasuki area teras, satu hal yang menarik perhatian adalah disediakannya tempat duduk beton untuk kaum perempuan di sisi kiri, sedangkan para pria diletakkan di sayap kanan. Pemisahan dimulai semenjak memasuki teras.

Tempat duduk kaum hawa dibalik pagar beton.

Aku menunaikan kewajiban Shalat Maghrib di gelaran karpet merah, sedangkan jamaáh lain tengah khusyu’ mendengarkan tausiyah pemuka agama yang berkhutbah dari sebelah mimbar. Kutenangkan fikiran, duduk bersimpuh dan menyirami kerasnya hati dengan nasehat-nasehat surgawi, sesuatu yang jarang lagi kuikuti.

Ceramah sang ustadz yang kuikuti hingga tuntas.

Aku keluar bersama jama’ah, Kaum Adam dan Hawa teratur keluar pada jalurnya. Pasangan suami-istri satu persatu meninggalkan masjid dengan berbonceng motor, beberapanya menaiki sepeda kayuh. Sementara para pemuda tampak memasuki gang-gang sempit menuju peraduannya masing-masing.

Ujung jalan Canduo Mato berangsur sepi. Rona terang deretan ruko mulai ditinggalkan pengunjung. Beberapa empu toko masih bersabar menunggu pembeli tersisa yang akan datang.

Berburu keramaian, aku memintas di Jalan Minangkabau lalu memasuki Jalan Ahmad Yani. Aku benar-benar menemukannya. Parking lot di sepanjang halaman pertokoan masih berjejal kendaraan roda empat, membuatku semakin bersemangat untuk menunda pulang ke penginapan.

Jalan Ahmad Yani di ujung selatan.

Aku terus melangkah melewati sebuah pertigaan yang dipotong Jalan Ahmad Karim dari kiri selatan. Berlanjut menemukan warung-warung tenda yang berjajar memanjang di salah satu sisi jalan dengan pemandangan Jembatan Limpapeh yang menyala penuh rona.

Deretan kuliner kaki lama di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Ahhhh….Sate Padang ajalah yang cuma Rp. 15.000.

Aroma sate yang semenit lalu tuntas terkunyah pengecap dengan sekejap mengusir kantuk yang menggelayuti kelopak mata sejak sesi nasehat surgawi sang ustadz di Masjid Raya Bukittinggi.

Berlanjut dengan menggusur bangku bakso ke penyeduh kopi keliling, waktuku perlahan terhempas bersamaan dengan semakin sirnanya lalu lalang kuda-kuda besi berplat BA.

Derajat suhu malam itu cepat sekali berkurang, aku yang tak berjaket sungguh merasakan dinginnya udara Bukittinggi, memaksaku segera undur diri dan melangkah pelan menuju penginapan. Esok hari aku akan terjaga lebih dini dan berkeliing kota sedari pagi.

Memasuki lantai satu penginapan, Noah, Si Insinyur Amerika itu melambaikan tangan kanannya dan menyapaku dengan senyum lebar. Sebotol beer besar ada di tangan kirinya. “I will sleep early”, ucapku kepadanya. Dia menaikkan jempol kanannya sambil berucap pendek “See you tomorrow”.

Good night Bukittinggi.

Singgah di De Kock Hotel, Berburu ke Jam Gadang

Pengemudi: “Don, turun di sini saja ya. Mobil mau ambil arah kanan, nanti tambah jauh”.

Aku: “Oh Okay, Uda. Sini aja gapapa”.

Diturunkan Annanta Travel di Jalan Veteran, aku sejenak duduk meregangkan kekakuan otot setelah duduk di jok belakang selama 8 jam.  Patung putih Tuanku Imam Bonjol diatas kudanya menjadi pemandangan pertama yang menjamu kedatanganku di Bukittinggi. Pemimpin Perang Paderi itu menebar berkharisma, gagah tanpa suara.

Pertigaan Jalan Veteran, Jalan Pemuda (kiri) dan Jalan Ahmad Yani (kanan).

Setelah dua hari tersiram panas menyengat di Pekanbaru, kini aku menikmati sejuknya udara Bukittinggi. Kini aku leluasa berlama-lama mengarahkan kameraku kemanapun tanpa sengatan surya. Aku memang harus sesekali berhenti karena kontur jalanan kota yang naik turun, membuatku terengah-engah dengan beban backpack di punggung.

Memasuki Jalan Teuku Umar yang mulai menurun.

Dari kejauhan, aku terus bertatapan dengan gadis muda berambut pirang yang duduk menikmati sore di atas moge. Yang kuprediksi adalah dia tepat berada di depan De Kock Hotel tempatku menginap.

Benar adanya, tiba tepat dimana moge itu terparkir, aku dihadapkan pada lobby hotel yang berwujud sebuah cafe, perempuan muda itu menyusul dan bergegas menuju meja resepsionis. Sepertinya dia adalah staff hotel yang bertugas sore itu.

Aku akan tidur lantai dua dormitory sederhana itu.

Aku: “Hi. Were you in Samosir four days ago?, I think that we stayed at a similar hotel, Bagus Bay Homestay”.

Noah: “Oh really? Yes, I was in Samosir four days ago”.

Aku: “I’m Donny. I am an Indonesian traveler. What is your name?”.

Noah: “I’m Noah form California”.

Aku: “Are you on vacation, No? What do you do in America?”.

Noah: “Yes, I’m on vacation. I am an engineer at oil company. What is your job in Indonesia? “.

Aku: “Marketing”.

Noah: “What marketing?”.

Aku: “I work in field, meet customers, and sell products”.

Noah: “Oh, you aren’t marketing. You are a sales. How about your income? Good income? I work with good income but with high risk in America … hahahaha”.

Aku:” Yes, of course, I’m a salesman. I got a lot of money from my work”.

Itulah Noah, kenalan baruku di Bukittinggi. Kebetulan kita hanya berdua yang menghuni ruang dormitory dengan lima tempat tidur tunggal itu.

—-****—-

Aku duduk di lobby, sebotol Coca Cola berukuran sedang berhasil membekukan keringat setelah berjalan sejauh satu kilometer. Sore itu aku berniat menyambangi Jam Gadang yang hanya berjarak setengah kilometer di barat laut hotel.

Sekitar pukul 17:30, aku mulai beranjak dengan mejinjing kamera menuju kesana. Aku memilih berjalan kaki melewati Jalan Yos Sudarso yang cenderung datar dan menurun di Jalan Istana.

Bangunan tua Novotel.

Tepat di seberang Novotel adalah Plaza Bukittinggi. Aku hanya berdiri terdiam di pelataran plaza untuk menikmati keelokan Jam Gadang. Taman Sabai Nun Aluih yang berada di bawah menara jam itu tertutup lembarang seng proyek dengan rapat. Sedang ada renovasi taman rupanya.

Jam berusia 96 tahun yang didedikasikan untuk sekretaris Fort de Kock (Nama lama Bukittinggi).

Sesuai namanya “Gadang” yang dalam bahasa Minang berarti besar, menara jam ini berketinggian dua puluh enam meter dengan empat jam kembar berusia 128 tahun yang didatangkan langsung dari Rotterdam melalui Teluk Bayur.

Digerakkan mesin Brixlion yang kembarannya ada di Big Ben, London.

Di arsiteki oleh Radjo Mangkuto, Jam Gadang dibuat dengan 4 tingkatan. Tingkat bawah merupakan ruangan petugas, tingkat kedua berisi bandul pemberat jam. Mesin jam ditempatkan di tingkat ketiga dan tingkat paling atas sebagai puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan.

Bahagia rasanya, bisa melihat Jam Gadang yang sedari kecil, aku hanya mengenalnya lewat buku pelajaran Sekolah Dasar.

16 Destinasi Wisata di Bukittinggi

Berjalan kaki menyusuri Jalan Veteran, aku perlahan mendekati Hotel De Kock untuk melalukan check-in. Sejuk dan damai itulah gambaran awal di kepalaku mengenai Bukittinggi  ketika pertama kali tiba.

1. Jembatan Limpapeh

Setengah perjalanan menuju penginapan, aku sudah terpesona dengan sebuah jembatan gantung. Adalah Jembatan Limpapeh yang membentang diatas Jalan Ahmad Yani. Didirikan pada tahun 1992 dan berfungsi sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan Benteng Fort De Kock. Membentang sepanjang sembilan puluh meter dengan lebar kurang lebih tiga meter, menjadikan jembataan ini begitu gagah terlihat dari jalanan.

2. Jam Gadang

Sebotol coca cola menutup sesi check-in ku sekaligus sebagai penanda mula untuk penelusuranku sore itu di sekitaran Pasar Atas. Menelusuri Jalan Yos Sudarso yang naik turun, langkahku tiba di sebuah landmark fenomenal yang terkenal di seantero Indonesia.

Jam Gadang, landmark pemberian Ratu Wilhelmina itu tampak gagah menjulang. Lama untuk sekedar menunggu lampu aneka warna muncul dan menyirami seluruh bangunan jam raksasa itu sebagai penanda bergantinya sore ke malam.Karena ketersohorannya, Jam Gadang  telah ditetapkan sebagai Titik Nol Kilometer Kota Bukittinggi. Atapnya yang berbentuk gonjong atau atap yang biasa dipakai pada Rumah Gadang menjadikan karya arsitektur Eropa itu memiliki kekayaan adat lokal.

3. Plaza Bukittinggi

Renovasi besar pada Taman Sabai Nan Aluih, menjadikanku hanya mampu menikmati keindahan Jam Gadang dari pelataran sebuah mall yang letaknya berseberangan dengan jam besar itu.

Plaza Bukittinggi dalam beberapa kurun waktu terakhir telah menjadi mall terbaik di Bukittinggi. Brand Ramayana menjadi pemain utama yang menempati tujuh puluh persen dari kapasitas keseluruhan mall ini.

4. Masjid Raya Bukittinggi

Keasyikan menikmati keelokan Jam Gadang hampir saja membuatku kehilangan Shalat Maghrib. Aku mencoba menelusuri asal adzan beberapa puluh menit sebelumnya. Menuju ke utara, akhirnya aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi.

Masjid yang pada saat terjadinya gempa bumi tahun 2007 menjadi tempat perlindungan bagi warga yang mengungsi karena kerusakan yang diakibatkan oleh gempa besar itu.

5. Pasar Atas Bukittinggi

Jalan Cindua Mato menuju Pasar Atas

Masjid raya yang terletak tepat di pusat Pasar Atas inilah yang membuatku tertarik untuk sekalian menelusuri jalanan menuju ke Pasar Atas. Gelap yang terus melahap hari, membuat pemilik deretan ruko mulai menutup tokonya satu-persatu.

Pasar Atas adalah pasar yang menempatkan beberapa penjual Nasi Kapau, Es Ampiang Dadiah dan Kerupuk Sanjai yang menjadi kerupuk favorit untuk oleh-oleh bagi para pengunjung kota Bukittinggi.

Laparnya perut telah memaksa diriku untuk segera mencari menu santap malam. Makan malam di bawah Jembatan Limpapeh akhirnya menutup dua jam penjelajahan pada malam pertamaku di Bukittinggi

6. Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hari keduaku dimulai dengan beranjaknya diriku dari hotel pada pagi sepi. Bahkan aktivitas warga belum tampak. Sepi nan dingin tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi Tugu Pahlawan Tak Dikenal.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tahun 1905. Tugu dengan ornamen berbentuk lingkar ular naga besar dan diatasnya berdiri patung seorang pemuda memegang bendera.

7. Taman Monumen Proklamator Bung Hatta

Sementara di seberang depan tugu,  tampak sebuah taman dengan patung hitam Bung Hatta. Dikenal dengan nama Taman Proklamator Bung Hatta, taman ini didedikasikan untuk Mohammad Hatta, putera asli Bukittinggi yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno.

8. Janjang Ampek Puluah

Kembali menelusuri Jalan Cindua Mato yang kulewati semalam, aku menuju sebuah tangga penghubung antara Pasar Atas dan Pasar Bawah serta Pasar Banto. Sebuah tangga beton curam dengan empat puluh anak tangga berusia 112 tahun. Inilah perwujudan integrasi fasilitas publik versi tempoe doele. Pada waktu itu, Pemerintah Hindia Belanda dengan satuan kekuasaan setempat sepakat menghubungkan setiap pasar yang ada di Bukittinggi, salah satunya dengan pembuatan janjang atau anak tangga.

9 Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Keluar dari gapura bawah dan melewati Banto Trade Centre yang tampak tak terawat, aku menuju ke kediaman Bung Hatta semasa kecil. Walaupun sesungguhnya rumah ini hanya berupa bangunan rekonstruksi, akan tetapi penataan interior dan penampilan eksterior dibuat semirip mungkin dengan kondisi rumah aslinya yang telah runtuh. Jika kamu ingin mengetahui sejarah hidup di balik kegemilangan Bung Hatta dalam karir politiknya, maka datanglah ke tempat ini.

10. Fort De Kock

Selesai berkunjung di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, aku niatkan berjalan kaki menuju Benteng Fort de Kock melalui Jalan Pemuda yang lumayan panjang mendaki dan berkelok dari selatan ke utara. Tapi ternyata aku tak mampu lagi di pertengahan jalan, kupanggil tranportasi online untuk mengantarkanku tepat di gerbang depan Fort de Kock.

Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

11. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK)

Dari Fort de Kock, aku hanya perlu menyeberangi Jembatan Gantung Limpapeh menuju sebuah kebun binatang terkenal di Bukittinggi.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia dan satu-satunya di Sumatra Barat dengan koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatra.

12. Museum Rumah Adat Baanjuang

Semakin berkembangnya kebun binatang ini, maka pada tahun 1935 dibangunlah Rumah Adat Baanjuang di dalamnya.

Difungsikan sebagai museum, rumah adat ini didedikasikan untuk mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Minangkabau. Di dalamnya dipertunjukkan berbagai pakaian, perhiasan dan alat-alat kesenian khas Minang.

13. Museum Zoologi

Tak jauh….Di timur laut kebun binatang, terdapatlah Museum Zoologi berwarna hijau sengan harimau sumatera dan ikan mas sebagai ikon museum. Museum yang didirikan bersamaan dengan Museum sejenis di Bogor pada 1894. Dua ribu jenis binatang diawetkan dan dipamerkan di dalam museum ini.

14. Ngarai Sianok

Aku meninggalkan Fort de Kock dari pintu masuknya. Niatan berikutnya adalah bermain ke Ngarai Sianok. Sebuah lembah yang terbentuk dari patahan alami, memiliki dinding tegak lurus dengan sungai Sianok mengalir di tengahnya.Tetapi sangat disayangkan hujan turun begitu lebatnya. Selepas turun dari ojek online, aku serasa tak bardaya dan menunggu hujan reda. Dibawah pohon aku terus mengamati lembah siku-siku pada topografi area ini.

Cekungan dereta tebing itu seakin diperindah dengan alira air sungai tepat d bawah jurang-jurang tinggi.

15. Lobang Jepang

Hujan mulai menipis tapi tetap tak kunjung reda, mengakibatkan asa menikmati  ngarai lebih lama harus kuakhiri. Aku mendapatkan ojek online dengan pengendara wanita berjilban berumur setengah baya. Di bawah hujan yang mulai mengerimis aku menuju Taman Panorama.

Sebelum mengeksplore Taman Panorama aku sempatkan untuk menelusuri sebuah lobang pertahanan terpanjang di Asia. Lobang Jepang yang dibuat atas perintah Letnan Jenderal Moritake Tanabe, Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Sangat dalam, panjang dan mengagumkan.

16. Taman Panorama

Akhirnya kunjungan penutup jatuh di Taman Panorama, sebuah taman besar dengan dua buah pintu masuk di tepian Jalan Panorama. Dengan tiket seharga Rp. 15.000, aku bisa berusaha menikmati taman rindang ini pada detik-detik terakhirku di Bukittinggi.

Meninggalkan taman dan kembali ke hotel, aku bersiap menuju kantor travel untuk menuju Padang. Pukul 13:00 aku akhirnya benar-benar meninggalkan Kota Bukittinggi. Selamat tinggal Bukittinggi.

Jadi bagi kalian yang berniat ke Sumatera Barat….Berkunjunglah Ke Bukittinggi dan nikmati sejuknya udara kota.

Travel Annanta dari Pekanbaru ke Bukittinggi

<—-Kisah Sebelumnya

Begadang dengan sahabat sejati.

Malam paripurna di Pekanbaru menjadi sesi nostalgia dalam aroma durian dan gurihnya seporsi Malon (Manuk Londo) yang tampak montok di atas piring. Inilah pertemuan yang sengaja kupersiapkan bersama seorang pengusaha durian yang entah berapa lama tak bersua, sebelum meninggalkan Pekanbaru esok hari.

—-****—-

Pagi menyambut bebarengan dengan kunyahan toast buatan Toko Roti Ganda yang masih saja tersisa sedari kedatanganku di Kota Madani, tawar tapi masih cukup lezat disantap.

Dering smartphone yang kunanti akhirnya tiba.

Ini Donny ya?”, tegurnya singkat.

Annanta ya, Bang?”, singkat pula sapa balasku.

Iya, Don. Hotelnya ancer-ancernya apa ya?”, tanyanya mulai mendetail.

Bereflek cepat, aku berlari menuju meja resepsionis dan menyerahkan smartphone ke staff yang bertugas. Entah bagaimana staff itu menjelaskan kepada sang sopir. Yang kufaham, mereka bercakap dalam bahasa Minang.

Sepuluh menit kemudian, Toyota Kijang hitam berlabel “ANNANTA” menghentikan raung mesinnya di pelataran Hotel Sri Indrayani. Berucap terimakasih kepada staff resepsionis, aku beranjak meninggalkan lobby dan memasuki mobil travel di jok belakang sebelah kanan.

Snack dan air mineral yang disediakan pihak travel.

Emang ngerti Bahasa Jawa, Uda?”, penasaran karena sang sopir memutar lagu Didi Kempot yang tersimpan di flashdisk birunya.

Ah, ga begitu ngerti, Don. Enak aja didengernya”, katanya terbahak.

Ha ha ha”, tawaku lepas.

Aku menjadi penumpang pertama yang dijemputnya. Kunikmati saja setiap injakan pedal gas memasuki gang-gang sempit dan jalanan di beberapa perumahan untuk menjemput lima penumpang lain. Pada jemputan kedua, akhirnya aku menemukan pasangan sebelah bangku yaitu seorang nenek murah senyum yang hanya bisa berdialek Minang. Sedangkan, penumpang terakhir adalah seorang pemuda gempal yang didudukkan di jok terdepan sebelah pengemudi.

Suasana dalam travel.

Perjalanan sejauh 222 km ini akan ditempuh dalam selang waktu 7 jam dan melewati tepian Sungai Kampar yang tersohor itu. Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang bak trek pacu jalanan ala Sirkuit Monaco. Tavel Annanta ini begitu lincah meliuk-liuk diantara truk-truk barang bermuatan berat nan lambat. Si nenek di sebelah hanya sesekali tersenyum menghadapku menikmati balapan tunggal itu.

Memasuki Kota Payakumbuh, aku terus terjaga. Tak mau kehilangan momen singkat melewati sebuah scenic spot. Tak lain adalah Kelok Sembilan. Begitu terpesonanya aku ketika melintas jembatan layang sepanjang 2,5 km dan setinggi 58 meter itu. Tinggi, gagah dan mempesona siapa saja yang melintasnya.

Terpesona ketika Marshall Sastra dan David John Schaap mengupasnya dalam program TV “My Trip My Adventure”.

Perjalanan darat seharga Rp. 160.000 ini melewati 4 Kabupaten ( Kampar, Rokan Hulu, Lima Puluh Kota dan Tanah Datar) dan 3 Kota (Pekanbaru, Payakumbuh dan Bukittinggi) serta menyisakan keindahan alam yang menggoda mata.

Perjalanan yang hanya menyediakan sekali lunch break.  Toast tadi pagi sudah tak mampu lagi menahan rasa lapar, bahkan angin telah mengakuisisi lambung. Siang itu rendang hitam khas Minang menjadi teman santapku. Baru kali ini merasakan rendang di tanah asalnya.

Travel Annanta Si Kencang dari Sumatera.
Rumah Makan Uwan Labuak Bangku di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Hujan mulai turun ketika perjalanan memasuki Kota Bukittinggi melalui tepiah Kabupaten Tanah Datar. Aku mulai bersiap untuk turun, karena Travel Annanta bertujuan akhir di Padang. Aku diturunkan di Jalan Veteran, tepat di sebuah pertigaan dengan Monumen Tuanku Imam Bonjol yang berada di tengahnya.

Tiba di Bukittinggi.

Menjelang gelap, aku haru menuju ke Hotel De Kock.

Fort de Kock and Padri War

I was still staring at Bung Hatta Birth House from sidewalk of Soekarno Hatta Street, not willing to leave it, but I kept thinking about how a work team built a replica of that house precisely because the original house had collapsed in 1962 ago.

Stepping back towards the direction which I originally came, I turned onto Pemuda Street after passing through Banto Trade Center. My legs were still strong when faced with a swerving long road, I was willing to follow it because my eyes were spoiled with a stretch of green rice fields and typical “Gonjong” roof architecture which adorns official government buildings.

“Gonjong” roof in State Primary School 14 ATTS (Aur Tajungkang Tengah Sawah).
BDB Monument Park, a symbol of people resistance against Dutch colonialism on 15 June 1908.
“Gonjong” roof in Regional Public Hospital Dr. Achmad Mochtar.

Looked like my trip would rotate and increasingly climb, my legs were no longer able after five days before always rely on it to explore Sumatra Island.

It was time to called online transportation to reach Fort de Kock front gate. In less than five minutes of riding it, I climbed Jirek Hill and arrived at fort front gate.

Wekom in Fort De Kock”…..

Fort gate.

Past the gate, “Family Benteng Indah” restaurant was the first greeter, then forwarded by ticket sales counter. Even though, I visited Fort de Kock, the venue which was written on ticket was Wildlife Cultural Park Kinantan with its price listed about USD 1.1.

Ticket sales counter.

After passing ticket check point, food stalls stood in line on right side. Then a cage of an endemic Chinese pigeon type “Junai Mas” was placed at its end. After that, I could see original shape of the fort.

There it is the form of a small fortress “Fort de Kock”.

Fort Fort Kock was established by Captain Bauer as dome of Dutch East Indies Government in facing of people resistance in Padri War which was led by Tuanku Imam Bonjol. This war itself erupted in first quarter of 19th Century. At that time, Boan Hendrick Markus de Kock was the commander of Der Troepen and Deputy Governor General of Dutch East Indies Government. This is where the name “Fort de Kock” originated.

An ancient cannon from year 1800s at four corners of the fort.

The main building of the fort which is no more than 400 square meters looks small but is very strong physically and strategically. In physical form, this fort has a good wall thickness. And strategically, the fort is tough because it is located right at hill top, making it easy for anyone to observe all movements of enemy around.

See how thick the fort walls are.
Second floor or fort roof.

I tried to continue to imagine how great Tuanku Imam Bonjol actions in leading Padri people against Dutch Colonialism. Until Netherlands had to build this fort to secure its power from threat of this charismatic leader.

Park is seen from above fort.