Berwisata ke Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

Rasa penasaran terbayar tepat saat langkah pertamaku menuruni bus di salah satu platform terminal bus Bandar Seri Begawan. Tak kuduga, petualanganku berkeliling Asia Tenggara mengantarkanku ke negeri Hassanal Bolkiah.

Unik….Terminal berada di lantai bawah Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

Selangkah kemudian, Aku sudah berada di dalam Warung Makan Afmal di sisi terminal untuk menikmati seporsi bakso. Butuh sesuatu yang segar di mulut untuk menghilangkan kekusutan pasca bermalam tanpa mandi pagi di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Kesegaran bakso yang kupesan semakin bermakna ketika terjadi obrolan ringan dengan si empunya warung makan yang asli Purworejo, Jawa Tengah….Wah tetangga sendiri ternyata.

Selepas kenyang, Aku bergegas untuk keluar dari area terminal melalui  Lorong Bebatik menuju sebuah jalan besar (Jalan Mc Arthur). Tepat disisi lain Jalan Mc Arthur, Kamu akan menemukan Brunei River yang sangat bersih. Dan tepat di tengah Brunei River, berdiri sebuah perkampungan terkenal di seantero Brunei. Namanya Kampung Ayer.

Setiap petunjuk jalan selalu dilengkapi aksara Arab.
Tepat di tepi Brunei River

Aku terus mengamati lalu lalang perahu bermesin yang membelah lebarnya Brunei River. Tidak ada cara lain memang untuk menuju Kampung Ayer, Aku harus menaiki perahu-perahu kecil itu.

Bergegas menuju pinggiran Brunei River, Aku menantikan kedatangan sebuah perahu yang menuju ke tepi. Begitu bersandar, bersamaku perahu itu langsung terisi dengan 2 turis lainnya. Perahu ini sangat cepat bergerak dan tak pernah menunggu lama di tepian sungai.

Yang perlu kamu tahu bahwa setiap dolar Singapura bisa digunakan sebagai alat bayar di Brunei Darussalam dengan nilai yang sama dengan Dolar Brunei. Jadi 1 Dolar Brunei nilainya sama dengan 1 Dolar Singapura. Hanya terkadang di beberapa transaksi, warga Brunei hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas dan menolak menggunakan koin Dolar Singapura. Tetapi ada juga di beberapa transaksi, koin ini bisa berfungsi.

Dengan koin 1 Dolar Singapura, Aku akhirnya tiba di Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. Galeri ini terletak di bagian paling depan perkampungan. Free entrance membuatku begitu sumringah ketika mengisi buku tamu di bagian reception. Sapaan hangat sepasang resepsionis berbahasa Melayu membuatku seakan berada di kampung sendiri….Kampung Rambutan….eeaaaa.

Itu dia Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
Mendapatkan Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Brunei hingga akhir abad ke-19. Oleh karenanya, para sultan Brunei mendirikan istananya di sini. Peran lain sebagai pelabuhan penting di Brunei menjadikan Kampung Ayer sebagai pusat administrasi atas aktivitas komersial di Brunei. Setiap penandatanganan perjanjian penting pemerintah dengan  pihak lain dilakukan disini.

Daya tarik Kampung Ayer sebagai pusat pemerintahan menjadikan 50% warga Brunei tinggal didalamnya pada tahun 1900-an.

Keris Brunei dengan 9 lekukan sebagai simbol kekuasaan

Di pintu keluar, Aku mulai tertelisik dengan rapinya jajaran rumah di perkampungan. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memasuki bagian dalam perkampungan. Bersua dengan para penghuni membuatku enggan untuk cepat-cepat meninggalkan Kampung Ayer.

Yuk….Masuk ke dalam kampung itu !
Lucunya anak-anak sekolah itu dengan seragam Melayu.
Airnya bisa jernih begitu ya?

Tapi Aku segera tersadar bahwa Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam nanti. Pencarian penginapan secara online yang kulakukan tak pernah membuahkan hasil. Ini terjadi mungkin karena pariwisata Brunei Darussalam yang belum tersohor di kawasan Asia Tenggara.

Kuputuskan untuk menepi dengan menunggu perahu di boat shelter. Tak menunggu waktu lama sebuah perahu menjemputku. Bersama seorang Bapak dan anaknya yang merupakan warga Kampung Ayer, Aku menuju ke tepi. Sepertinya sang Bapak mempunyai agenda penting, terlihat dari caranya berpakaian khas Melayu yang sangat rapi dan klimis.

Dia: “Asal mana, Adek?”, Dia menyapaku pertama kali dengan senyum.

Aku: “Saya dari Indonesia, Pak”. Kubalas senyum dan kuajak berjabat tangan.

Dia: “Indonesia bagian mana?”

Aku: “Jakarta, pak”.

Dia: “Kerja apa disini?”

Aku: “Oh, Saya melawat (berwisata) Pak di Brunei”.

Dia: “Brunei kan sepi, Adek. Kok melawatnya ke Brunei?”

Aku: “Oh, Brunei religius ya Pak. Saya sengaja ke Brunei Pak karena berniat keliling Asia Tenggara. Senang bisa ke negeri Bapak”.

Dia: “Wah, bagus ya keliling Asia Tenggara. Adek, ga usah bayar ya perahunya. Ini sudah Saya bayar”, Dia memberikan 3 lembar Dolar Brunei ke pengemudi perahu.

Aku: “Terimakasih ya Pak, Senang bertemu dengan Bapak”, sambil pura-pura tersipu malu padahal senang banget naik perahu gratisan.

Sekelumit percakapan dengan warga lokal sebelum akhirnya Aku bersandar di tepi.

Boat shelter dekat Pasar Tamu Kianggeh

Yuk….Cari dormitory !.

Brunei Darussalam Tanpa Itinerary (part 2)

10 Mei 2015

Perjalanan pulang dari Masjid Jame Asr Hassanil Bolkiah menempuh jarak 4km dan memakan waktu 1 jam.

Sebelum Gw putuskan jalan, sebetulnya Gw sempat nemuin bus, ketika Gw Tanya orang setempat, bus gratis itu menuju ke arah BSB Bus Terminal. Gw pede aja naik dari depan Masjid dan duduk di belakang sopir bus, gw ajak ngobrol aja dan ternyata dia orang Surabaya….walah…….Gw tanya apakah benar bus ini menuju BSB Bus Terminal……eh ternyata engga. Katanya kalau naik bus ini, Gw bakal tambah jauh dari terminal dan dia saranin Gw untuk naik taxi. Akhirnya gw diturunkan di halte depan sebuah rumah sakit.

Dari situ Gw berusaha cari taxi….tapi nungguin 30 menit kok ga lihat satupun taxi lewat. Gw tanya aja ke Bapak-Bapak yang duduk di parkiran komplek ruko. Lagi-lagi orang Brebes ternyata….mantabbb….katanya taxi di Brunei kalau sudah lewat jam 17 harus pesan lewat telpon….haseekkk….mana Gw ga pernah beli SIM Card negara setempat kalau jalan-jalan (lha wong ngandalin kompas sama peta…gratis).

Akhirnya Gw putuskan jalan kaki….siap-siap pegel aja nih. Gw hanya berpatokan jalan ke arah tenggara. Si Erza kelihatan aktif bertanya ke setiap orang yang bisa dia tanya. Nanya ke security….ke orang yang lewat dijalan….semua ditanya….hahaha.

Jalanan di Brunei jam 18-an memang sepi tetapi semua terlihat aman….menurut kabar berita, Sultan menjamin keamanan orang yang berkunjung ke Brunei….keren.

Kita sempat kedodoran dan duduk lesehan di trotoar depan balai bomba Bandar Seri Begawan (Pemadam kebakarannya Bandar Seri Begawan). Karena tepat di pertigaan lampu merah, jadinya banyak pengemudi mobil yang aneh ngelihatin kita….wkwkwk.

Cukup rehat 15 menit….Gw lanjut jalan. Setelah hampir 1 jam berjalan, Gw sudah deket ama hostel….jam 19:30 banyak ruko yang sudah pada tutup….tetapi terlihat ada Mc. D yang masih buka. Gw masuk buat cari minum sama manfaatin WiFi untuk berkabar ke tanah air.

Akhirmya sampai di dormitory.

Ini beberapa foto K.H Soon Resthouse :

KH Soon1

Si Erza lagi siap-siap berangkat

KH Soon2Koridor di K.H Soon Resthouse

Breakfast

Gw kembali lagi menuju Pasar Tamu Kianggeh karena memang dekat dormitory. Ya namanya pasar pasti makanannya bakalan murah.

breakfast pasar tamu kianggehTepat….1,5 dollar Brunei cukup buat makan ini

 

Istana Nurul Iman

Setelah breakfast, Gw menuju BSB Bus Terminal untuk cari bus no. 42 menuju Istana Nurul Iman. Cukup bayar 1 dollar dan memakan waktu 15 menit perjalanan.

Sesampai di Istana Nurul Iman, Gw menuju pos jaga dan beranikan diri tanya ke tentara penjaga Istana di pos jaga. Kata dia, kita ga boleh masuk dan akhirnya Gw minta izin foto-foto di depan gerbang saja. Dia mempersilahkan dengan sopan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gagal ke Tasek Lama Recreational Park

30 menit ambil foto di Istana Nurul Iman, Gw bermaksud segera menuju Tasek Lama Recreational Park….Gw kembali ke BSB bus terminal.

Dari BSB Bus Terminal Gw naik bus no 36.

Selama perjalanan Gw galau….antara tetap ke Taman Tasek Lama atau langsung menuju ke Bandara saja. Dengan pertimbangan lamanya waktu tunggu bus di Brunei, Gw fikir setelah selesai dari Taman Tasek Lama belum tentu Gw dapat Bus dengan cepat. Daripada Gw ketinggalan pesawat ke Jakarta lebih baik Gw putuskan batal ke Taman Tasek Lama dan langsung menuju airport dan killing time disana saja. Waktu boarding Gw mepet banget….jam 15 harus boarding gaes.

Gw bilang ke sopir bus keturunan Pakistan yang lancar berbahasa Jawa untuk menuju ke airport saja. Gw harus bilang ke dia begitu, karena pas berangkat tadi Gw minta diturunin di jalan terdekat dengan Taman Tasek Lama.

Akhirnya tiba di bandara:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngadem disini saja……

masjid bandara

Dzuhur….masjid airport adalah bangunan terpisah dari airportnya….bersebelahan

Menjelang check-in si Erza kembali ke dormitory karena dia masih sehari lagi di Brunei dan akan lanjut ke Philippines.

Okay, perjalanan mendekati titik akhir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Air Asianya full seat… ternyata banyak turis dari KL datang ke Brunei hanya dua hari, Sabtu dan Minggu….karena mungkin jaraknya yang dekat.

Yang perlu kamu ketahui, pengecekan berat dan ukuran tas Air Asia di bandara ini sangat ketat. Tas harus diukur dan ditimbang satu-satu. Jika berlebih atau ukuran tas terlalu besar untuk masuk bagasi kabin, siap-siap aja keluar cost untuk masukin tas di bagasi lambung pesawat.

So…..Gw terbang lagi ke Jakarta transit KL….besok senin musti gawe lagi..