Makan Malam di Ameya Yokocho, Taitō

Platform Stasiun Shibuya.

Aku sudah berdiri lagi di platform kereta, tepatnya di Stasiun Shibuya, dalam ruas Yamanote Line, tepat pada pukul 15:48. Matahari telah undur diri di cakrawala kota dan membuat suhu terdegradasi ke titik 3o C. Lantas udara yang telah menjelang beku itu dengan mudah menembus tebalnya gloves hitam di kedua telapak tanganku. Tapi akan menjadi preseden memalukan apabila aku harus menyerah dan memilih meringkuk di peraduan Yadoya Guesthouse.

Aku sudah bersiap diri menjelajah Distrik Kota Istimewa Taitō. Dua belas kilometer di timur laut Distrik Khusus Shibuya, berjarak tempuh tiga puluh menit.

Ameya Yokocho adalah alasan utamaku singgah menuju Stasiun Ueno. Adalah pasar serba ada, serba murah dan serba discount. Konon jika hendak makan malam murah, maka para traveler berbondong menuju ke exs-pasar gelap yang sudah ada sejak Perang Dunia II itu.

Aku tiba di Stasiun Ueno tepat pukul 17:35. Keluar di Hirokoji Exit, pintu keluar terbesar di selatan bangunan stasiun. Pintu keluar ini memiliki halaman luas dan tepat menghadap Chuo-dori Avenue, berseberangan dengan Ueno Marui Department Store (OIOI), pusat fashion kenamaan  di Distrik Kota Istimewa Taitō yang menjulang tinggi dengan sembilan lantai.

Gelap mulai mengakuisisi hari ketika aku memulai langkah menuju ke Ameya Yokocho. Lebih ringkas dipanggil Ameyoko atau Ameyoko Market. Belum tiba pun aku membayangkan bahwa pasar itu sudah mulai ramai dan bertebar aroma masakan. Menjadikan perut keroncongan sepanjang jalan.

Aku menyusuri jalanan di bawah jalur layang kereta, mengarah ke selatan. Jarak pasar itu berkisar dua ratus meter, hanya lima menit dari Hirokoji Exit.

Tibalah langkahku di sebuah pertigaan yang di salah satu jalannya berdiri gerbang Ameyoko Market. Aku menghadap ke dua buah percabangan jalan yang keduanya adalah bagian dari jalur pasar itu. Tapi aku salah mengira. Bukan aroma harum makanan yang kucium, tetapi justru bau amis ikan laut yang pertama kali menusuk hidung dalam-dalam. Sudah barang tentu aku menghiraukannya karena perhatianku tertuju ke keramaian di dalam sana.

Gerbang Ameya Yokocho.
Gerbang Ameya Yokocho.
Bagian dalam Ameya Yokocho.

Tak kusangka, akan keberadaan beberapa restoran khas Turki dan beberapa gerai kebab di sana. Kufikir tak kan susah menemukan makanan halal untuk para traveler muslim di sini. Sementara di sepanjang jalan berikutnya, beberapa gerai yang menjual ikan laut diselingi oleh gerai fashion, souvenir, minimarket, peralatan olahraga serta beranekaragam gerai –gerai lain.

Kufikir aku tak akan menganggarkan untuk membeli barang apapun yang diperjualbelikan di pasar ini, kecuali makan malam.  Aku terus menyisir setiap jengkal Ameyoko Market hingga akhirnya tertarik pada tampilan gambar semangkuk chicken ramen. Bukan isi di dalam mangkuknya, tetapi harga yang tercantum di bawahnya, 399 Yen, itu berkisar Rp. 50.000.

Tak faham akan namanya, aku tak kurang akal. Kuambil telepon pintar dan kutangkap gambarnya. Bergegaslah aku menuju ke dalam rumah makan itu. Aku mulai mengamati sekitar, desain meja memanjang dan melingkar oval di tengahnya dengan beberapa meja di setiap sisi dinding yang sudah dipenuhi warga lokal. Mereka begitu berisik menyeruput mie di mejanya. Aku menuju ke pelayan wanita dan menunjukkan gambar di telepon pintar. Berteriaklan pelayan itu ke bagian dapur sembari menyebut nama menu yang kutunjukkan lalu dia menunjuk pada sebuah bangku kosong. Aku faham, itulah meja makanku. Aku duduk di sebuah meja di sisi dinding dan menunggu menu dihidangkan.

Salah satu rumah makan di Ameya Yokocho.

Sementara teko berisi air putih dengan es batu di dalamnya mulai kutuang.  Aku terus memperhatikan perilaku pengunjung rumah makan itu. Begitu mereka memasuki ruangan, maka mereka akan melepaskan jaket pada hanger di pojok ruangan, lalu duduk di meja makan, memesan dan menyantap makanannya dengan cepat. Semua serba teratur.

Tak lama pelayan menyajikan menu yang kupesan dan aku mulai menyantapnya. Menurut referensi yang kubaca, orang jepang akan meyeruput mie yang dipesannya dengan bunyi yang cukup untuk di dengar demi menunjukkan bahwa mie itu enak dan sebagai isyarat untuk menghormati sang koki. Maka akupun beradegan sama walau sedikit kerepotan dan membuat kuah mie ku berlepotan ke meja makan. Itu belum cukup membuatku malu, karena air teko di meja benar-benar habis tak bersisa, entah berapa kali aku menuangnya di gelas kecilku. Pelayan perempuan yang sedari tadi memperhatikanku pun menutup senyum dengan tangannya sambil sebentar-sebentar berbisik dengan pelayan yang lain. Dia tentu tahu bahwa aku seorang pengelana yang berbeda kulit dengan bangsanya.

Walhasil, aku pun membayar makanan itu dengan senyum lebar kepadanya, karena dia tak kunjung menutup senyumnya ketika menatapku.

Hirokoji Exit Stasiun Ueno.
Bagian dalam Stasiun Ueno.
Platform Stasiun Ueno.

Aku selesai bersantap malam pada jam 17:45, dan bergegas meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō.

Aura Patung Hachiko, Lima Kali Shibuya Crossing

Masih ingat?…..

Ketika mobil hitam milik D.K sedang mengejar Sean Boswell  yang melaju cepat dengan mobil balap warna merahnya dan rombongan balap itu dipimpin oleh Han Lue di depan yang dengan maskulin meliak-liuk dengan mobil balap ceper kuningnya. Dalam aksi kejar-kejaran itu, ada sebuah momen ketika ketiga mobil balap itu terpaksa melintas di sebuah simpang lima yang penuh dengan para penyeberang jalan. Adegan itu begitu mendebarkan tetapi terlihat sangat fantastis dari kamera atas. Tak salah lagi, itulah sepenggal scene dalam film “The Fast and the Furious: Tokyo Drift”. Dan simpang lima yang dimaksud terkenal dengan nama Shibuya Crossing.

Nah, kalau ini kisah yang berbeda lagi…..

Pernahkah kamu menonton sebuah film yang diangkat dari true story dan menceritakan seekor anjing bernama Hachi beserta tuannya Parker Wilson yang diperankan oleh aktor kawakan Richard Gere?.

Dalam film itu dikisahkan Hachi yang begitu setia dan setiap hari mengantar Wilson menuju stasiun untuk berangkat mengajar lalu menunggu kepulangannya di depan stasiun yang sama saat sore tiba. Begitulah kegiatan harian Hachi. Hingga pada suatu saat, Wilson meninggal di kampus karena serangan jantung dan tidak akan pernah bertemu Hachi kembali. Tetapi karena kesetiaannya, Hachi hingga akhir hayat tetap menunggu majikannya yang tak pernah lagi datang di depan stasiun. Anjing yang melegenda ini adalah kisah nyata yang menjadi asal usul Patung Hachiko yang lokasinya berada di dekat Stasiun Shibuya dan hanya berjarak seratus meter di sebelah selatan Shibuya Crossing.

Kedua film itulah yang sebetulnya menjadi dasar dan alasan bagiku untuk menempatkan Shibuya Crossing dan Patung Hachiko sebagai tujuan pertama di Toyo.

Siang itu udara semakin mendingin, perlahan turun dari 4o Celcius, waktu menunjukkan pukul 13:45 saat aku sudah berada di north entrance gate Stasiun Nakano. Tak lama, kereta Chuo-Sobu Line itu tiba. Siang menjelang sore, penumpang masih sepi, mungkin memang belum saatnya jam pulang kantor. Aku mengambil duduk di sisi gerbong sebelah kiri dan merasakan hangatnya udara dalam gerbong.  Aku baru sadar ketika merasakan hawa panas menyembur dari bawah bangku dan menerpa bagian bawah kaki ketika duduk. Rupanya kereta di Jepang menaruh mesin pemanas di bagian bawah bangku.

Sisi dalam Stasiun Shibuya.
Gerbang Stasiun Shibuya yang berhadapan langsung dengan Hachiko Square.

Hanya lima menit menuju tenggara, aku menuruni gerbong Chuo-Sobu Line untuk berganti  ke gerbong Yamanote Line. Kini kereta bergerak ke selatan sejauh empat kilometer dan memerlukan waktu tempuh sepuluh menit serta dalam kondisi penumpang yang semakin padat. Maklum Yamanote Line merupakan jalur kereta tersibuk di pusat kota Tokyo.

Aku tiba di Stasiun Shibuya pada pukul 14:00 dan mengambil arah ke Hachiko Exit Gate di sebelah utara bangunan stasiun. Langkah kakiku saat keluar dari gerbang stasiun seketika disambut oleh penampakan Hachiko Square yang sudah penuh dengan pengunjung. Sebagian duduk di setiap sisi plaza dan sebagian besarnya mengelilingi patung binatang loyal itu untuk mengantri berfoto. Taka da yang spesial dari patungnya, mungkin kisah hidup Hachiko lah yang membuat patung itu serasa hidup dan menjadi pusat perhatian.

Aku tak lama menikmati keramaian di Hachiko Square. Karena tak sabaran ingin merasakan sensasi menyeberang di Shibuya Crossing. Aku melangkah seratus meter  ke utara dan mulai berdiri di simpang lima ternama itu. Aku hanya bisa tersenyum sendiri ketika melihat kelakuan para turis di saat menyeberang. Ada yang berfoto ria di tengah simpang lima itu, ada yang berlari dan memanjat tiang rambu-rambu untuk mengambil foto dari ketinggian dan ada juga yang memuat vlog selama lampu hijau masih menyala. Dan saat bunyi tut-tut-tut berseru nyaring bersusulan sebagai pertanda lampu rambu akan berganti menjadi merah, maka para turis dan pejalan kaki lokal berlarian menuju ke tepian dan sekejap menyisakan hening sesaat, kemudian disusul oleh bunyi klakson dan deru mesin kendaraan yang berebut melintas simpang lima itu menuju ke segala arah.

Chūken Hachikō, andai masih hidup, dia sudah berumur 97 tahun.
Yuhuuu….Shibuya Crossing.
Tsutaya adalah toko buku kenamaan di Jepang. I’m @ Shibuya Crossing.
Simpang Lima yang konon mampu menyeberangkan 50.000 pejalan kaki selama 30 menit.

Aku yang masih tak percaya bisa berada di situ pun tertular keanehan akut mereka. Karena ini simpang lima maka genap lima kali pula, aku menyeberang bolak-balik dari satu sisi ke sisi yang lain di Shibuya Crossing. Oh Tuhan, inikah sebuah siang yang membuatku menjadi gila karena terpapar aroma kehidupan Tokyo?.

Berkenalan dengan Janessa di Yadoya Guesthouse

Bangunan Stasiun Nakano memiliki dua tingkat di atas tanah dengan delapan platform. Bagian selasar depan stasiun dijulurkan dengan kanopi  berbahan Alumunium Composite Panel hingga tepat di gerbang depan Nakano Sun Mall.  Ketika tiba di sana, aku keluar di pintu utara dengan halaman beraspal yang sangat luas dan dihiasi oleh aktivitas makan siang para merpati.

Sementara hari sudah menuju sore, tetapi tetap saja dingin walau jarum jam sudah menunjuk pukul 13:40. Aku hanya berfikir untuk segera menuju hotel, menaruh backpack dan memulai petualangan perdanaku di Tokyo.

Aku memintas jalan sejajar sebelah kanan gerbang utara stasiun. Memelipir di kaki-kaki angkuh Sumitomo Mitsui Trust Bank. Hanya deretan mural art pada julangan pagar beton pembatas jalur kereta yang mampu memberikan mood booster siang itu..

Tak lama kemudian, aku mulai memasuki gang-gang sempit selebar tiga meter menuju ke utara. Pagi itu, setiap jalanan yang kulewati terlihat sepi, hiruk pikuk sangat tak kentara di sepanjang gang yang kulalui di Distrik Nakano. Mungkin saja karena penduduk Nakano yang hanya berjumlah tiga ratus ribuan penduduk. Ah, aku sok tau perihal populasi.

Pun restoran yang menjamur di sepanjang gang, masih tertutup rapat, nantinya aku akan menemui  kemeriahan restoran itu saat malam tiba. Malam dimana di setiap rumah makan itu akan berdiri seorang laki-laki yang mempersilahkan setiap orang untuk masuk ke dalamnya. Di memori kepala, aku masih mengingat beberapa nama retoran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aku sangat terkesan selama tinggal di Distrik Nakano. Izakaya, Tsuyamaru, Gyu No Simonya, Hakata Mangetsu dan Ikkenme Sakaba adalah beberapa nama restoran disana. Apakah aku mencicipi masakan mereka?. Tidak jawabnya, kuperjelas lagi “TIDAK”. Karena sehari-hari di Nakano, setiap menginjak waktu untuk memenuhi kebutuhan perut, aku hanya sanggup membeli dua potong onigiri di sebuah FamilyMart langganan di bilangan Fureai Road.

Olala….Tiba di Yadoya Guesthouse.
Pembatas dingin dengan udara luar ada pada tirai plastik itu.
Tempat bersama untuk menyimpan makanan.

Hi, Where are you come from?”, tanyaku pada resepsionis dormitory. Aku tak mau hanya menikmati kecantikannya dengan diam. Lebih baik aku memulai pembicaraan.

Hi Donny, I’m Janessa from Portugal”, tentu dia tahu namaku, karena dia sedang mengecek nomor pasporku sebelum memberikan bunk bed tempatku tidur di Yadoya Guesthouse.

Hi Janessa, I’m very surprised because the receptionist is not Japanese, but you”, aku mulai melempar senyum perkenalan.

Yeaaa, I’m working here. It’s nice country”, senyumnya tampak bahagia.

Donny, your bunk bed is at fourth level. So enjoy to burning your calorie by walking on stairs there”, Janessa menambahkan sambil sedikit bercanda.

Okay, Janessa. It’s no matter. I’m strong backpacker”, Aku menutup percakapan itu.

Yadoya Guesthouse begitu banyak meninggalkan kesan. Banyak kekonyolan di dalamnya yang membuatku kadang tertawa ketika mengingatnya. Beberapa diantaranya adalah saat suatu malam aku harus berbasuh dengan air sedingin es karena tak kunjung menemukan letak tombol pemanas, atau sebuah pagi di saat aku menemukan dua sejoli asal Eropa tertidur berdekapan mesra dalam sebuah kotak kecil bunk bed dengan selimut tebalnya atau saat dimana pada tengah malam aku susah setengah mati memejamkan mata karena kasurku serasa ikut membeku. Mungkin memang dormitory seharga 2,000 Yen per malam tak cocok untuk tinggal di Jepang saat musim dingin.

Anak tangga pertama.
Aku ke Jepang tak pernah membeli kuota dan SIM card lokal. WiFi penginapan selalu kuandalkan untuk berkirim kabar.
Menuju kamar di lantai empat.
Nanjak trooosss.

Dari enam belas bunk bed dalam kamar itu, aku bertemu tetangga dekat yaitu seorang solo backpacker asal Brunei Darussalam, berparas manis dalam balutan jilbabnya. Ya, aku tahu asalnya karena menemukan gambar bulan sabit dengan kedua tangan menengadah yang menjadi lambang negaranya tertempel jelas di bagian atas backpack.

Apapun yang kurasakan, Distrik Nakano tetap memberikan kesan yang mendalam dalam petualanganku mengenal Tokyo dan Yadoya Guesthouse menjadi rumah kesekian dalam bagian perjalananku.

Berburu Tokunai Pass: Chou Line dari Tokyo ke Nakano

Tiba di Stasiun Tokyo.

Seperti biasa, mengabadikan diri di depan spot-spot penting di negara orang adalah kebiasaan wajar. Maka sebelum memasuki Stasiun Tokyo, aku menyempatkan diri berpose di depan gerbangnya. Tepatnya di depan “Yaeshu North Entrance”.

Jika kamu ke Tokyo. Kamu akan jarang bertemu orang diatas permukaan, Donny. Tapi begitu masuk ke stasiun bawah tanah maka penduduk Tokyo bak lebah didalamnya. Coba deh buktikan Donny kalau kamu ga percya!”, itulah perkataan teman sekantor yang pernah berangkat ke Tokyo. Tercengang aku waktu itu.

Kini aku sudah di Tokyo dan berharap bisa membuktikannya. Ternyata, perihal di permukaan yang akan jarang bertemu orang….Itu jelas salah. Tokyo tetap saja kota sibuk di dunia dengan tingginya mobilitas penduduk di atasnya. Lalu, “sarang lebah bawah tanah”….Ya, itu benar. Bahkan sebelum aku tiba di ruangan paling bawah pun, stasiun Tokyo sudah penuh manusia. Luar biasa.

Ketika memasuki bangunan stasiun, aku lebih memilih berdiri menempel di sebuah tiang besar dan merekam hilir mudik penumpang kereta yang sangat rapat sekali…..Super sibuk. Mungkin aku menjadi manusia tersantai pagi itu di seantero stasiun Tokyo karena masih saja sempat berdiri berlama-lama merekam aktivitas di dalamnya.

Kini saatnya berburu tiket kereta. Aku sudah meniatkan diri untuk mendapatkan one day pass supaya bisa berkeliling Tokyo sepuasnya hingga tengah malam. Mengantrilah diriku di sebuah ticketing vending machine. Dalam antrian, aku terus memperhatikan lekat bagaimana setiap orang megoperasikan mesin itu. Akan tetapi, ketika giliranku tiba pun, aku tetap tak paham. Semua layar penuh dengan tombol dan angka yang merepresentasikan harga tiket. Entahlah itu tujuan kemana. Kutengok ke belakang, para pengantri semakin sebal karena aku terlalu lama mencari tiket. Aku menyerah, aku mudur dan mempersilahkan penumpang lainnya yang terlihat sangat terburu waktu. Aku terus berdiri agak jauh dari ticketing vending machine dan memperhatikan mereka menggunakannya. Tetap saja bingung…. karena mereka memilih menggunakan aksara kanji.

Akihirnya kuputuskan mencari sisi lain stasiun yang lebih sepi. Aku menemukanya di selasar kiri. Ticketing vending machine itu kosong melompong. Kudekati pelan, tenang dan kuperhatikan dengan seksama setiap tombolnya. Akhirnya kutemukan tombol “ENG” yang akan menuntunku menggunakan bahasa internasional. Tapi tak langsung kutemukan kata “One Day Pass”.

Aku terus mencari di direktori “Discount Card” lalu muncullah kata “Tokunai Pass”. Beruntung, aku pernah membaca sebuah artikel tentang perkeretaapian Jepang sebelum berangkat berpetualang. Dalam artikel itu disebutkan bahawa One Day Passnya Jepang bernama Tokunai Pass. Begitu girangnya aku memecahkan permasalahan itu. Oh, ternyata gampang minta ampun, aku saja yang ndeso. Aku menekannya dan setelah membayar senilai 750 Yen (Rp. 97.500).

Wujud Tokunai Pass.
Ini mungkin receiptnya.

Yang kutahu, Tokunai Pass bisa  didapatkan di seluruh stasiun JR Line. Dan bisa digunakan untuk menaiki seluruh kereta JR Line lokal (dalam kota Tokyo) yang relnya terletak di atas permukaan tanah. Jadi tidak bisa digunakan untuk Tokyo Subway bawah tanah.

Begitu mendapatkan tiket, aku langsung menuju platform ke arah Nakano.

Nakano berada di timur Tokyo dengan jarak 15 Km dan waktu tempuh menggunakan kereta berkisar 20 menit. Aku sengaja mencari tempat menginap yang sedikit jauh dari pusat kota karena harganya yang murah.

Platform menuju Nakano.
Tiba di Stasiun Nakano.

Aku menaiku Chuo Line menuju Nakano. Pukul 13:30, aku tiba di Stasiun Nakano. Dan bersiap berjalan kaki menuju Yadoya Guesthouse.

Tokyo Shuttle dari Narita International Airport ke Tokyo

Aku melompat dari pintu depan dan tak lama kemudian wajah-wajah putih bermata sipit  memperhatikan dengan seksama kehadiranku. Senang rasanya aku bisa berbaur dengan kaum menengah di dalam bus itu. Aku bersama seluruh penumpang akan bergerak menuju pusat kota Tokyo. Lalu aku sudah saja mendudukkan diri di baris ketiga dari belakang, sebelah kanan dekat dengan kaca jendela. Aku terbantu dengan keberadaan soket elektrik untuk menambah daya gawai pintarku, tetapi sayang Wi-Fi itu tak bisa kumanfaatkan.

Kotak transportasi dengan warna kombinasi sepadan hijau putih itu konsisten menyemburkan campuran emisi dan uap air dari knalpotnya di limit beku udara Narita. Warna nama kombinasi merah-hijau sangat mencolok untuk mengingat brand moda transportasi yang satu kepemilikan dengan perusahaan kereta api swasta raksasa di dua prefektur yaitu Chiba dan Tokyo. Keisei nama perusahaan transportasi itu.

Tokyo Shuttle” begitu nama bus itu, akan merayap selama satu jam menuju Distrik Chiyoda dimana Stasiun Tokyo berada. Menyusuri jalanan kota sejauh 65 Km, bus melewati  Keisei Narita Avenue.

Keisei Narita Avenue.
JR Bus Kanto melintas.
Willer Express Bus mengejar.

Antar ruas jalan tol itu berbataskan guard rail dan setiap ruasnya hanya bersusun dua jalur. Jalan tol antar distrik yang biasa saja. Sebagian pepohonan yang tampak gersang akibat dormancy  menjadi pemandangan yang sering dalam perjalanan ini, menyisakah jari jemari dahan yang menunjuki langit.

Sementara sutet-sutet raksasa berjarak konsisten mengangkangi tol, mengalirkan listrik antar kota dengan gagahnya. Masuk lebih jauh, perjalanan mulai mempertontonkan kanal-kanal lebar dan bersih terawat dengan beberapa apartemen rendah, sedang dan tinggi pada jarak yang tak bisa dibilang rapat.

Ketika sebagian besar penumpang terlelap dan tertelan laju bus itu, fikiranku semakin runyam. Aku tak bisa menikmati injakan halus pedal gas sang sopir yang berhasil menyirap semua penumpangnya itu.

Apakah nanti akan semudah membalikkan telapak tangan saat mencari kereta ke Nakano?”.

“Bagaimana mencari tombol untuk membeli one day pass di stasiun nanti?”.

Bisakah aku menahan hawa dingin mencekat ini di luar sana?”

Aku tenggelam dalam kegelisahanku sendiri sepanjang perjalanan. Tak mampu menikmati dengan sepenuh hati pemandangan indah di luar sana. Padahal, bukannya selama ini aku merindukan Jepang. Duh….

Semakin pendek jarak dengan pusat kota, pemandangan berganti. Kanal-kanal yang masih saja bersih di jejali dengan bangunan-bangunan apartemen dan perkantoran yang berbaris rapat menongkrongi sepanjang kanal. Tapi tetap saja, semua tampak rapi, bersih dan teratur. Sungguh beradab bangsa itu.

Aku tiba di Stasiun Tokyo dan diturunkan di halte bus berbentuk persegi panjang dengan 5 kaki yang diletakkan pada dua sisinya saja, di pinggir Sotobori-dori Avenue tepat di depan Tekko Building. Aku tak pernah menemukan petunjuk pasti menuju gerbang stasiun itu.

Bahkan belum juga mencari petunjuk pun, aku sudah bersusah payah melawan udara musim dingin Jepang. Menjadi semakin heran kenapa penduduk setempat berlalu lalang begitu saja dengan selapis baju kantoran, tanpa sarung tangan, tanpa penutu kepala dan telinga. Berbeda denganku yang sudah berjaket lapis dua dengan tambahan t-shirt di lapisan pertama bajuku, winter gloves dan earmuffs. Masih saja aku bergetar melawan suhu beku itu.

Aku terus menyusuri jalan tanpa petunjuk latin itu. Hingga kutemukan tulisan latin pertama semenjak aku turun dari JR Bus Kanto. “Tokyo Station”, pelan kubaca signboard besar di atas bangunan stasiun. “TOKYO STATION Yaesu North Entrance”.

Mari menuju Nakano.

Kufikir lebih baik aku segera memasuki stasiun dan mencari kehangatan daripada  membeku di luaran sana.

Saatnya berfikir untuk menuju Nakano.

I am Waiting for You: Narita International Airport

Ketika “Si Ayu Maeda” berdiri dan mengangkat mikrofon, itulah momen bahagia bagiku. Aku tahu, dia akan memberitahukan bahwa Vanilla Air JW 130 segera mendarat di Narita International Airport. Bagaimana tak bahagia, Jepang yang sedari dulu hanyalah angan dan menjadi sesuatu yang tak terpikirkan tergapai, akhirnya berlabuh juga aku di gerbangnya. Hasrat akan Jepang juga disebabkan oleh kebodohanku sendiri yang menyiksa diri dengan tak segera mengunjungi negeri itu setelah memahami ritme dan kebiasaan dunia backpacker. Aku lebih berego untuk menyisir Asia Tenggara selama 3 tahun, bahkan edisi perdana ke Asia Timur pun lebih memilih Hong Kong, China dan Macau sebagai tujuan perdana. Jepang sengaja menjadi dessert petualanganku di Asia Timur. Ya benar….Negeri itu menjadi puncaknya bersama Korea Selatan. Menjadikan kisah kali ini terasa spesial.

Melekatnya aerobridge di pintu pesawat menjadi penanda langkah pertamaku menjejak Jepang. Terminal 3 Narita International  Airport menyambut hangat walau kutahu suhu di luar ruangan mencapai 2o Celcius….”Mudah-mudahan darah tak mengalir dari hidungku”, gumam pertamaku ketika menyusuri garbarata.

Nervous dan takut, itulah yang kurasa ketika menyusuri arrival hall menuju konter imigrasi. “Bagaimana jika mereka memeriksa jumlah uang yang kubawa?”, “Bagaimana jika mereka menolakku masuk ke kota?”….Kecamuk amatiran itu masih saja menghantui. Maklum, bagiku Jepang serasa beda kasta.

Is this your filst time in visiting Japan?”, wajahnya datar tapi tak sangar menyidikku.

Yes, Sir”.

How long will you  stay in Japan?”, pertanyaan standar.

4 days, Sir

Hoooohhh….Just foul days. Very sholt time”, dia masih membolak-balik detail pasporku, melihat rekam jejak petualanganku.

Ale you alone?”, mulai menaruh paspor di sebelah kanan tangannya dan fokus bercakap denganku.

Duh alamat….Jangan sampai dia nanyain uang sakuku”, aku membatin pucat.

Okay, what will you do in Japan?” mulai menginterogasi.

!@#$%….^&*()?…..,”:}{[]/”, tanganku bergerak kesana kemari sembari bercerita panjang lebar tentang semua rencanaku. Aku menjadi tak khawatir sedikitpun karena akulah pembuat itinerary yang bisa diandalkan…..Yup, itinerary yang kelewat ngirit.

Good….Good….Good, nice toulist”, sekelumit sunggingan senyum sempat kulihat walau dia segera menyembunyikan. Petugas imigrasi memang begitu, pasang tampang galak adalah prosedur pertama.

Do you bling your itinelaly?”, pertahanan terakhirnya, sepertinya aku akan dengan mudah menjebolnya.

This is, Sir”, dengan muka cerah, aku menyerahkan enam lembar itinerary, lengkap dengan detail waktu, tempat yang akan kukunjungi, biaya yang akan dikeluarkan, dan alamat setiap destinasi ada di dalamnya. Dia sudah kukalahkan dengan telak.

Hoooohh….You will go to Osaka too”, manggut-manggut tapi masih saja membaca lembar demi lembar.

Yes, Sir. That’s nice city to visit”.

Yes…yes..yes….Good, welcome to Japan”, dia membuka kembali pasporku dan menaruh arrival stamp di atas visa waiver mungil berwarna pink itu.

Yesssssss….Aku masuk Jepang.

Uppsss….Pemeriksaan belum selesai rupanya.

Stop, please!”, lelaki paruh baya berjaket hitam dengan resleting yang dibiarkan terbuka sehingga terlihat jelas sweater abu-abu tebalnya menghadang langkahku.

Put your bag….Thele!”, dia menunjuk tempat menaruh tas sembari menenteng dua hand-held metal detector di kedua tangannya. Tanpa basa-basi dia menyapu backpackku dengan alat itu dengan tangan kanannya dan kemudian sapuan tangan kirinya menyusul.

Hand-held  metal detector pun berlapis begitu”, gumamku mengagumi ketatnya Narita.

Can me inspect you?”, dia menunjukkan selembar kertas bergambar rangkaian standar pemeriksaan seluruh anggota tubuh dengan cara meraba.

Yes, sure!”, aku melepas winter jacket bekas asal Pasar Baru itu.

Hooohh…you don’t need to take youl jacket off…..Hoooohh…..Do you using t-shilt? Sulely? This is Japan, you will fleeze with your t-shilt…..Hahaha”, dia terkekeh ramah.

Kurentangkan tangan dan dia mulai memeriksa. Oh, sopannya orang itu, untuk memeriksa begitu saja minta izin. Nilai sosial pertama yang kudapat dari Jepang di kunjunganku.

Tapiii…….

Aku mulai bingung dengan semua sistem transportasi negeri itu. Banyak sekali tersedia jenis kereta menuju kota. Mulai dari Narita SKY ACCESS Line, Keisei Main Line atau JR Sobu Line train, namun aku tak pernah tahu dia akan melewati jalur mana menuju Tokyo. Tombol-tombol Ticketing Vending Machine tak mudah kupahami, tak seperti biasanya aku begitu. Aku serasa tertelan kecanggihan negeri itu.

Tarif kereta menuju pusat kota.
Salah satu Ticketing Vending Machine.

Sudahlah….Aku duduk menenangkan diri dahulu di sebuah sofa empuk warna cerah yang diletakkan di sepanjang sisi dari koridor arrival hall yang alasnya didesain seperti lintasan lomba lari. Pintar, menegaskan itu adalah jalur untuk orang berjalan di dalam terminal bandara. Sembari duduk, sedih aku melihat harga makanan di sepanjang food court Narita, mahal minta ampun.

Onigiri….ya….Onigiri, itu yang termurah. Aku harus mencarinya di minimarket”, perut laparku tiba-tiba beride. Aku mulai menapaki “lintasan lari itu” dan dengan cepatnya menemukan gerai Lawson di subuah pojok koridor.

Dasar memalukan!”, aku mengutuki diri sendiri ketika diminta mundur melingkar mengikuti jalur antrian yang sungguh tak kuperhatikan.  Seorang ibu pengantri terdepan tersenyum melihatku mundur melingkar melewati sela-sela rak minimarket.

Aku keluar Lawson dengan sebuah kemenangan karena menemukan makanan murah pertamaku di Jepang. Kuberanikan diri untuk duduk di sebuah meja makan di sekitar food court Narita untuk menyantapnya.

Dua potong onigiri seharga 248 Yen (Rp. 32.000) untuk makan siang waktu itu.
Kenapa ya waktu itu aku memfoto tempat sampah segala….Hadeuh!.

Bus…Ya, bus….Tak usah kau pikirkan kereta termurah ke kota. Bus tetaplah transportasi terhemat di seluruh belahan dunia”, aku terus melihat sekitar mencari konter tiket bus sembari menyelesaikan potongan terakhir onigiriku.

Tak sulit, aku melihat mejanya di ujung kiri depan dari tempatku terduduk. Aku segera menghampiri nona muda penjaga konter dan tak ragu meminta selembar tiket menuju Tokyo.

Youl bus will depalt on 5 minutes…Hully up”, ucapnya ringan ketika menerima Yen dariku. “Sial, cepat amat”, batinku menyembunyikan ketegangan. Aku tak mau berdebat apakah tiketku akan hangus ketika aku tertinggal bus itu, karena jam keberangkatan yang tercantum di LCD meja konter memang jam 11:30.

Tiket airport bus menuju pusat kota seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000).

Dengan cepat aku fokus mencari tanda atau logo bus. Aku menemukan gambar bus itu dan berlari kearahnya. Tak sadar, aku tak memakai winter jacket dan ketika tiba di pintu menuju shelter bus, aku terhenyak. “Gilaaaa” batinku menjerit, udara 2o C itu menembus tulangku tanpa ampun. Sejenak aku tak bisa bernafas. Tergopoh aku kembali memasuki ruangan dan banyak orang memasang muka aneh melihatku. “Please, Donny….Ini bukan daerah  tropis lagi, bodoh”, aku menghela nafas, sejak tadi aku masih berefleks bahwa udara di luar masih sama dengan udara Kuala Lumpur yang tiga hari lalu kukunjungi. Kupakai cepat jaketku dan kutatap dari jauh sopir bus itu yang berdiri di pintu bus belakang. Dia melihat jam tangannya dan menoleh kesana kemari menunggu seseorang. Aku berlari kearahnya. “Come on, Sil….I am waiting fol you”, ucapnya singkat sambil menunjuk pintu depan. Aku melompat di pintu depan dan bersiap menuju Tokyo. Seharusnya aku tak perlu panik, sepertinya dia diberitahu petugas konter bahwa masih ada satu penumpang yang akan menaiki busnya….Dasar ndeso.

Anyway….Welcome Tokyo.

Namanya Maeda….Vanilla Air JW 130 dari Kaohsiung (KHH) ke Tokyo (NRT)

Jalur pernerbangan Vanilla Air JW 130 (sumber: https://www.radarbox.com/).

Pramugari ayu berbalut seragam biru dengan bunga di selipan telinga kanannya itu terlihat paling muda….Juga paling cantik.  Senyumnya juga paling ceria.  Berambut pendek  kecoklatan sepanjang bahu tetapi sedikit lebih panjang di potongan sisi kirinya dan sudah barang tentu, paras oriental menjadi penyempurna keelokannya.

Namanya Maeda….

Entah, kalau dirunut, dia terletak di silsilah yang mana dengan Tadashi Maeda, seorang Laksamana Muda yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Nama Maeda disejarahkan sebagai sebuah Klan Samurai di Jepang. Memiliki sifat jujur, berani, setia dan memegang teguh komitmen pada kebenaran.

Berburu Yen di Kaohsiung International Airport.
Bersiap check-in.
Yes, boarding pass ditangan.
Menuju gate setelah diinterogasi cukup lama di imigrasi.

Pagi itu, dia menjadi yang tersibuk di atas Laut China Timur. Seorang keluarga asal Tiongkok terlalu keras kepala mengakuisisi deret bangku demi berkumpulnya satu keluarga kecil dalam penerbangan Vanilla Air kali ini. “Si Ayu” Maeda terus membujuknya untuk duduk sesuai nomor yang tertera dalam boarding pass. Ternyata suara lembutnya tak pernah berhasil membujuk keluarga itu untuk berpisah hingga separuh waktu penerbangan. Bahkan Maeda merayunya hingga berjongkok di depan penumpang itu.

Entah kenapa sampai sekarang pun aku masih teringat dengan si Maeda ini,

Maeda menjadi sebuah bonus dari penetapan pilihan pada maskapai yang sebenarnya aku tak mengenal baik sebelumnya. Pencarianku pada situs penyaring penerbangan berdasarkan beberapa kategori, memilihkanku pada maskapai pengakuisisi Air Asia Jepang ini. Di kemudian hari, tiket seharga Rp. 800.000 itu menerbangkanku dari Kaohsiung di Taiwan menuju Tokyo.

Bahkan waktu-waktuku sebelum bertemu Maeda ini tak seindah yang kubayangkan. Aku memaksakan diri tidur semalaman di Kaohiung International Airport di sebuah selasar Departure Hall.

Bangun pagi….Bahkan masih terkantuk pun, karena terbawa obrolan dengan penumpang lain hingga lewat tengah malam, aku bersungut-sungut menuju meja check-in setelah menukarkan sisa New Taiwan Dollarku dengan Yen.  Konter check-in bernomor D18 dengan LCD bercantum nama maskapai menyelesaikan proses itu dengan cepat.

Gate 30, tempat menunggu Vanilla Air JW 130 datang.
Boarding yang membahagiakan.
Cari bangku bernomor 27D.

Masalah lain muncul,

Di meja imigrasi, terjadi agenda klarifikasi segala yang membuatku dipisahkan dari antrian dan di dudukkan pada sebuah bangku di ujung deretan konter.

Why do your visa look like this”, Visa Waiverku dicurigai.

It’s a new waiver visa for Indonesian e-passport holder,Mam”

Wait, let me check to my boss!”.

Wanita muda itu tergopoh meninggalkanku menuju sebuah ruangan. Aku masih tenang saja menantinya kembali, hingga 15 menit lamanya.

Ahh…Aku pasti lolos”, batinku.

Ok, sir, It’s valid”, celotehnya membuyarkan beku mukaku yang sedang mengamati sebuah pojok bangunan terminal.

Setelahnya, dia melepasku untuk memasuki sebuah koridor berplafon lengkung dangan pohon-pohon artifisial di sisi kiri menuju ke gate nomor tiga puluh.

Itu dia “Si Ayu” Maeda.
Disembarkation Card dan Customs Declaration untuk memasuki Jepang.

Lalu bagaimana dengan keluarga Tiongkok yang sedari tadi dibujuk “Si Ayu” Maeda?

Bersyukur, pimpinan pramugari turun tangan membantunya dan berhasil memisahkan keluarga kecil itu sesuai prosedur penerbangan.

Mengesankan! Vanilla Air menjadi maskapai  nomor empat belas dari dua puluh delapan jenis maskapai yang telah kunaiki. Bersyukur tentunya bisa menikmati jasa penerbangan milik anak perusahaan ANA (All Nippon Airways) ini.

Pagi itu pilot menjelaskan ada sedikit badai yang berasal dari Laut Filipina, tapi syukurlah, turbulensi itu tak berlangsung lama dalam perjalanan. Pernebangan menggunakan Airbus A320, sejauh 2.500 Km, berselang tiga jam dengan ketinggian 37.000 feet ini sungguh menyenangkan. Mungkin saja, karena ini adalah titik kulminasiku dalam menjelajah Asia. Siapa sih yang tak berhasrat mengunjungi Negeri Matahari Terbit itu.

Pukul sebelas lebih beberapa menit akhirnya aku tiba Narita International Airport.

Yuk berpetualang di Tokyo!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Kaohsiung ke Tokyo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832