Dōtonbori Canal: Hitung Mundur Tahun Baru yang Gagal

Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga.

Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan.

See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum.

Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol derajat Celcius. Muka terasa beku demi mengikuti ayunan langkah menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Untuk ketiga kalinya aku melewati Saka-suji Avenue.

Malam ini akan banyak orang mabuk di jalanan”, batinku mengingatkan logika untuk terus berhati-hati walaupun Jepang tergolong negara yang aman.

Enjoy Eco Cardku masih ampuh hingga malam itu untuk menelusuri lorong-lorong bawah tanah Kota Osaka. Kini aku sudah melaju bersama gerbong Osaka Metro Midosuji Line menuju Stasiun Namba. Aku sengaja menaruh Dōtonbori Canal sebagai destinasi terakhirku di Kota Osaka dan aku dengan cerdik menempatkannya di saat perayaan malam tahun baru.

Pasti disana bakal meriah”, batinku girang.

Gerbong kereta yang kunaiki tampak penuh. Sebagian diantaranya bukanlah wajah-wajah Jepang. Pasti mereka adalah para pelancong yang berniat sama denganku, menikmati malam pergantian tahun. Perjalananku menuju Stasiun Namba berlangsung sangat cepat karena dari Stasiun Dobutsuen-mae tak berselang satu stasiun pun menujunya. Aku tiba dalam sepuluh menit.

Keluar dari gerbang Stasiun Namba, aku berjalan kaki menelusuri Mido-suji Avenue. Terus mengarah ke utara. Perkiraanku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapai Dōtonbori Canal. Tetapi sudah dua puluh menit aku tak kunjung sampai.

Wah….Pasti aku nyasar”, mukaku mulai kecut.

Aku memberanikan diri bertanya kepada seorang polisi lalu lintas yang tampak sedang berjaga di salah satu sisi trotoar.

Sir, do you know where is this place?”, aku membuka gawai dan menunjukkan sebuah papan neon Glico bergambar lelaki berlari yang terkenal itu.

Dia tersenyum ramah dan mengangguk-angguk sambil berseloroh bersemangat “Oh…Thele….Thele”.

Thank you very much, Sir”, aku melambaikan tangan sembari melangkah meninggalkannya.

You ale welcome”, polisi itu kembali memperhatikan sekitar.

Sepuluh menit menelusuri balik jalur yang telah kutempuh tadi, aku melihat beberapa rombongan turis Eropa menuju ke salah satu arah. Aku yakin itulah tempat yang kutuju. Aku mengekor rombongan turis itu. Benar adanya, mereka juga menuju Dōtonbori Canal.

Aku di Dōtonbori Canal.
Papan neon Glico bergambar lelaki berlari.
Tengara terkenal di Osaka.

Dōtonbori Canal pukul sepuluh malam telah meriah. Badan kanal dipenuhi para turis, sementara restoran dan bar tampak penuh. Turis berduit tentu lebih memilih menunggu malam pergantian tahun dari restoran dan bar yang menawarkan udara hangat. Tetapi aku memutuskan menunggunya di tepian kanal, berkeliling kesana kemari, berusaha menikmati suasana walaupun terdistraksi dengan udara beku Osaka.

Satu jam berlalu ketika aku menyusuri setiap sisi di tepian kanal, kemudian aku berdiri mengambil tempat di bawah jembatan, bermaksud menemukan udara hangat . Tapi percuma, udara sudah turun di bawah nol derajat Celcius. Ketika aku tak sanggup menghadapi udara beku itu, aku bergegas menuju ke kedai penjual Takoyaki. Aku sengaja mengantri , menunggu pesanan, dan memakannya berlama-lama di depan kedai itu untuk mendapatkan paparan hawa hangat yang tersembur dari tungku kedai.

Nempel-nempel kompor mencari kehangatan.

Hampir setengah jam aku memanfaatkan situasi itu untuk memanipulasi suhu dingin. Hingga akhirnya aku mengusir diri karena antrian pembeli mulai ramai. Aku kembali ke kanal setengah jam sebelum hitung mundur tahun baru.

Ketika berjibaku kembali melawan dingin pada sebuah sisi kanal, aku mendengar sayup bahasa dan logat yang sangat kukenal.

Ngenteni kene wae cah, ra sah adoh adoh”, seloroh itu samar terdengar.

Aku menoleh ke belakang, empat pria dan dua diantaranya berambut gondrong sedang duduk di sisi kanal, memegang sebotol besar minuman beralkohol. Itu memang cara efektif melawan dingin. Aku jadi teringat dengan minuman beralkohol yang kumiliki karena salah beli di Narita International Airpot sehari lalu. Tapi aku belum menyerah, aku tak akan menenggaknya.

Aku terus menahan dingin yang semakin menjadi. Kedua tanganku mulai kebas. Tapi aku berusaha tetap tenang. Hingga akhirnya lima menit sebelum countdown tiba. Para turis mulai tumpah ruah ke sepanjang sisi kanal, restoran dan bar ditinggalkan. Semua berharap akan ada pertunjukan kembang api yang elegan. Hingga saatnya tiba, hitungan itu benar-benar dimulai.

Tennnn….Nineeee….Eightttt….”, hitungan semakin kencang

Threeee…..Twoooo….Oneeee…..Happyyyy Newwww Yeearrrr”, tapi semua sontak terdiam dalam tiga detik.

Suasana Dotonbori Canal tetap lengang, tak ada yang istimewa. Hingga lima belas menit kemudian tetap sama, lengang.

Ah, gagal total”, aku mulai kesal.

Turis lain pun mulai mengeluh.  Tak akan ada pertunjukan kembang api. Hingga akhirnya sepuluh pemuda Jepang berinisiatif mengakuisisi suasana dengan menaiki pagar jembatan. Mereka melepas pakaian dan menyisakan celana dalam dalam kondisi suhu yang sangat dingin.  Kemudian salah satu mereka mulai berteriak.

Threeee….Twoooo….Oneeee”, sambil melompat meliuk bak atlet lompat indah dengan kepala menghujam ke air terlebih dahulu.

Byurrrr….

Kemudian tingkah yang sama mulai dilakukan oleh temannya yang sudah bersiap dan berdiri di atas pagar jembatan. Berhitung dalam tiga hitungan mundur, meluncurlah dia ke dalam air. Dan pertunjukan itu terhenti hingga orang ke sepuluh. Setidaknya apa yang mereka lakukan bisa mengobati rasa kecewa seluruh pengunjung Dōtonbori Canal.

Pertunjukan loncat indah telah usai.

Menjelang pukul satu dini hari. Udara yang awalnya terasa lebih hangat karena kerumunan ratusan pengunjung akhirnya lindap. Suhu mendingin kembali dengan cepat karena para pengunjung mulai meninggalkan Dōtonbori Canal. Aku mulai pergi dari tempat itu menuju Stasiun Namba.

Beberapa menit kemudian, Osaka Metro mengantarkanku kembali ke Stasiun Dobutsuen-mae. Beruntung sekali Enjoy Eco Cardku (One Day Pass) masih berlaku walau sudah melewati batas masa pakai yaitu pukul 00:00. Mungkin ini menjadi bonus dari Osaka Metro untuk perayaan tahun baru.

Sampai Stasiun Dobutsuen-mae, lalu aku meninggalkannya dengan langkah cepat. Saka-suji Avenue sudah lengang, bahkan perjalananku diwarnai dengan insiden pengemudi mabuk yang menghentikan mobilnya di tengah jalanan hingga beberapa orang berusaha mendorongnya ke tepian. Di sebuah persimpangan aku berbelok bersamaan dengan selorohan “Helloooo….Happyyyy Newwww Yearrrr, Sirrrr”, orang itu mengendarai sepeda dengan tangan kanan menggenggam sebotol minuman beralkohol.

Happy New Year, Sir”, aku membalasnya untuk menunjukkan keramahan.

Hingga akhirnya langkahku tiba di Hotel Kaga. Aku merasa lega karena aku pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Resepsionis itu masih saja setia dengan tugasnya, menunggui mejanya dengan disiplin.

Are you happy, Sir?….Good luck for you in the new year”, dia tersenyum menyambutku.

Sure, Sir…I hope so for you”, aku membalasnya. “It’s time to sleep”.

Yeaa….Heve a good sleep, Sir

Aku meninggalkannya menuju ke lift, lift itu mengantarkanku hingga ke lantai tiga. Aku gontai melangkah menuju kamar. Memasuki kamar, melepas sepatu boots, menarik kasur lipat, dan tanpa mandi, aku langsung menghempaskan badan dan dengan cepat aku terlelap.

Sementara botol minuman beralkohol yang telah tertenggak satu teguk secara tak sengaja dua hari lalu itu berdiri anggun di meja kecil kamar. Yess, aku tak menyentuhnya saat malam tahun baru. Artinya, petualangan botol minuman beralkohol itu tamat dini hari itu. Karena menjelang siang nanti aku akan pergi meninggalkan Osaka dan menuju Busan.

Korea Selatan, Aku datang!

Channel No 63 Hotel Kaga

<—-Kisah Sebelumya

Malam nanti adalah malam tahun baru. Ini pertama kalinya aku akan menikmati pergantian tahun di luar negeri, Osaka tepatnya. Tak pelak aku telah meniatkan untuk menikmati bagaimana meriahnya malam Osaka saat New Year’s Eve Countdown.

Tapi ini baru pukul 17:00 ketika aku menyudahi menu makan siang yang sangat terlambat.  Aku meninggalkan restoran rumahan yang berdiri pada sebuah gang di Amerikamura, setelah menikmati sajian chicken ramennya.

Kini aku punya satu niatan yang harus kutunaikan….Yupz, TIDUR.

Aku tak bisa menyembunyikan lunglai badan setelah semalaman hanya tertidur di Kansai International Airport selama empat jam. Aku sendiri tak mau menghadiri hitung mundur Tahun Baru dalam keadaan tak segar nanti malam.

Sampai jumpa Amerikamura”,  batinku berseloroh ketika menapak keluar dari sebuah gang dan mulai menyisir Mido-suji Avenue menuju Stasiun Shinsaibashi. Hampir setengah enam sore ketika aku mulai menaiki gerbong Osaka Metro menuju Stasiun Dobutsuen-mae melalui Midosuji Line.

Dari Stasiun Dobutsuen-mae, aku melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Saka-suji Avenue untuk mencapai penginapan. Aku perlahan memasuki daerah Haginochaya dan tak lama kemudian tiba di Hotel Kaga.

Hello, Mr. Donny. So afternoon you arrive”, resepsionis laki-laki berkacamata itu menyapaku ringan lalu berdiri dari kursinya dan sigap mengambil backpack biruku.

Yes, Sir. Osaka is very interesting, so I will regret it if I come back to hotel too early”, aku menangkap backpack yang dia sodorkan.

I think I should sleep to prepare myself for New Year’s Eve tonight”

Yes, that’s a great idea, Sir”.

Aku meminta izin untuk segera memasuki kamar setelah dia memberikan kunci. Aku sudah membayar biaya penginapan tadi pagi saat menitipkan backpack. Kuayunkan langkah dengan cepat mengejar lift yang pintunya sudah terbuka karena ada orang yang menggunakannya, kemudian meluncur ke lantai tiga. Begitu tiba di kamar, aku segera menggantung winter jacket, melepas sepatu boots, menurunkan backpack, menarik kasur lipat dan menghempaskan tubuh ke atas kasur.

Kamar tunggal yang kupesan sebulan sebelum keberangkatan.
Kamar seharga 1.800 Yen (Rp. 256.000) per malam.

Zzzzz……..Zzzzz…..Zzzzz….Dengan cepat aku terlelap saking lelah badan dan mengantuknya mata.

Lewat sedikit dari jam setengah sembilan malam ketika aku otomatis terbangun. Seperti itulah aku, jika ada niatan bangun pada jam tertentu maka tanpa menyalakan alarm pun maka aku akan terbangun dengan sendirinya pada jam yang dimaksud. Jarang sekali meleset, mungkin ini sisa kebiasaanku di waktu kecil ketika sering bangun jauh sebelum shubuh untuk belajar. #sokdisiplin

Aku masih merasa malas untuk beranjak dari kasur dan terus ternyamankan dengan hangat ruang kamar. Terus membayangkan begitu tak nyamannya jika bepergian di luar sana yang suhunya hampir menginjak nol derajat Celcius. Kusambar remote TV di sampingku, aku baru sadar kalau sebelum tidur tadi aku telah menyalakan TV. Praktis TV lah yang menontonku di saat tidur, bukan aku yang menontonnya.

Mau nonton acara TV Jepang….Waspadalah….Waspadalah!

Tentu aku tak tahu apa yang diperbincangkan pada setiap acara Televisi Jepang. Yang kutahu itu hanya reality show tentang percintaan, kuis berhadiah atau menebak-nebak beberapa kasus dan kejadian dalam acara berita malam. Aku terus menjelajah lebih jauh hingga ke channel bernomor di atas 40. Beberapa  acara olahraga serta flora dan fauna mulai hadir. Kini channel menginjak angka 60. Aku terus menjelajah….

61….62….

Tiba-tiba aku terperanjat ketika memasuki CHANNEL NO. 63. Bagaimana tidak, itu adalah channel film dewasa tanpa sensor. Wuannnjiiirrrr, apalagi ini…..Aku mencoba untuk melewatkannya saja, berpindah ke channel berikutnya. Belum juga lama berpindah, entah kenapa tangan ini selalu penasaran memencet pintas ke CHANNEL NO. 63, lalu mencoba melawan berpindah ke channel lain lagi. Geblek….Kemudian berpindah lagi ke CHANNEL NO. 63…..Pertempuran “Hitam-Putih” tampak sengit di benakku. Hingga akhirnya tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.

Sudah saatnya aku pergi ke perayaan Tahun Baru bersama warga Osaka dan turis lainnya di luar sana. Aku telah membaca pengumuman di banyak stasiun siang tadi bahwa jam operasional Osaka Metro akan diperpanjang hingga lewat dini hari. Itu berita yang menggembirakan dan membuatku tak perlu membobol kantong untuk mencari taksi saat pulang nanti.

Kupakai kembali sepatu boots dan kukenakan kedua jaketku untuk melawan dingin. Masih ingat ketika aku tak sengaja menenggak alkohol di Narita International Airport?. Yups, minuman beralkohol itu masih ada dan hanya berkurang satu tenggakan saja kala itu. Aku memasukkan ke kantong winter jacket dan kufungsikan sebagai langkah antisipasi. Aku harus bersiap apabila suhu diluar nanti menjadi terlalu ekstrim di tengah malam….WHO KNOWS?….Tapi mudah-mudahan saja aku tak perlu menenggaknya lagi hingga petualangan di Osaka berakhir.

Uang Koin di Amerikamura

<—-Kisah Sebelumnya

Dari Stasiun Namba aku menaiki Osaka Metro di arus Midosuji Line, tak berselang satu stasiun pun, aku turun di Stasiun Shinsaibashi. Kemudian mulai mengambil langkah ke selatan menelusuri Mido-suji Avenue. Mido-suji Avenue sendiri berupa jalanan empat ruas yang diapit oleh jalur lambat di kiri-kanannya. Jalur lambat dan jalur cepatnya dibatasi oleh jajaran pepohonan rindang yang tertata rapi mengikuti kontur jalan.

Dalam tiga ratus meter ke depan, aku akan sampai di Amerikamura. Jaraknya yang cukup dekat dari Namba Parks membuatku tertarik untuk sekalian menyambangi tempat itu.

Amerikamura atau khalayak sana menyebutnya Amemura adalah perkampungan yang didesain ala Amerika sepanjang sembilan blok dan terletak persis di sisi timur Mido-suji Avenue, di Distrik Kota Chūō-ku tepatnya. Sebelah selatan perkampungan ini dibatasi oleh Dōtonbori Canal, sebelah utara dibatasi oleh Nagahori-dori Avenue sedangkan sebelah timur dibatasi oleh jalur Osaka Metro Yotsubashi Line. Amerikamura menempati lahan tak kurang dari enam belas hektar. Luas bukan?

Di depan New American Plaza.

Mengadopsi lifestyle bangsa Amerika, maka daerah ini sangat kental dengan brand Paman Sam. Memasuki sebuah gang, langkahku disambut oleh gerai Starbucks lalu gerai McDonald’s meyusul setelahnya. Toko-toko fashion dengan logo Levi’s, Ralph Lauren, Calvin Klein dan brand ternama lainnya sangat mudah ditemukan.

Gang di kawasan Amerikamura memiliki lebar tak lebih dari lima meter. Jalurnya yang sempit membuat arusnya dibuat satu arah. Tiang lampu jalan didesain bak karakter hidup yang ceking dan tinggi. Seni mural juga mudah ditemukan di setiap sisi Amerikamura. Sepanjang tepi trotoar dipasang bollard untuk melindungi pejalan kaki. Sedangkan persewaan sepeda bertebaran di berbagai titik.

Sepanjang kaki melangkah, Amerikamura memang didesain sebagai tempat berbelanja.  Toko fashion berjajar sangat rapat menjejali setiap sisi jalan berpadu dengan bar, minimarket, restoran dan tentunya penginapan.

Hampir satu jam berkeliling ke setiap sudut Amerikamura, aku mulai merasa lapar. Aroma menggoda makanan khas Asia Timur konsisten mencemari jalanan. Aku memutuskan untuk mulai mencari tempat makan. Beruntungnya, kebanyakan restoran di Amerikamura menampilkan harga menu andalannya di depan pintu. Jadi setiap pengunjung bisa memilih makanan yang sesuai dengan minatnya. Kalau aku, bukan perihal menu, aku menilik setiap menu yang terpampang hanya untuk melihat berapa harga terendahnya. Lama sekali mencari restoran untuk mendapatkan harga yang bersahabat dengan kantong.

Langkahku akhirnya terhenti pada sebuah restoran rumahan yang menawarkan menu hemat. Restoran ini dikelola oleh si empunya rumah dibantu oleh anak laki-lakinya yang tampak masih bersekolah dasar.

Aku duduk di bangku pojok berselang satu meja dengan perempuan kantoran berusia muda yang tampak bersemangat menyantap sajian mie di depannya. Aku memesan chicken ramen dan seperti biasa untuk minum, aku mengandalkan air putih yang disediakan dalam teko di setiap meja restoran. Dalam duduk, aku memperhatikan kelincahan anak itu dalam mengantarkan pesanan setelah bapaknya selesai mengolah menunya.

Tak lama setelah memesan, chicken ramenku pun datang. Aku menyantapnya sambil membunyikan serutupan mie di mangkok, tentu aku ingin menghormati dan menunjukkan bahwa chicken ramen si empunya restoran begitu nikmat. Chicken ramen itu habis tak kurang dari lima belas menit.

Nyammm….

Kini aku menampilkan kekonyolan berikutnya. Aku sengaja  membayar dengan uang koin. Karena  aku memang memiliki banyak uang koin yang terkumpul sedari petualanganku di Tokyo. Ketika si anak memberikan bill di nampan kecil, aku menumpahkan koin senilai 600 Yen (Rp. 81.000) di nampan itu. Si anak terlihat kerepotan dan gugup menghitungnya. Aku hanya tersenyum geli melihatnya ketika dia harus mengulang-ulang dalam menghitung koin itu. Perempuan kantoran di sebelah bangku pun tampak tertawa menutup mulut dengan tangannya.

Merasa menyerah menghitungnya, si anak melarikan nampan itu ke meja kasir dan menyerahkan kepada bapaknya untuk menghitung. Setelah selesai menghitung, si Bapak menuliskan sesuatu pada kertas bill dan si anak kembali menujuku. Oh, si Bapak menuliskan bahwa aku membayar kurang 12 Yen. Aku menggenapi kekurangan itu dan si anak tersenyum lebar menatapku. Aku membalas senyumnya dan mulai berkemas untuk meninggalkan restoran.

Kisah Selanjutnya—->

Bulu Angsa di Namba Parks

<—-Kisah Sebelumnya

Meninggalkan Osaka Castle melalui Uemachi-suji Avenue , aku menuju Stasiun Tanimachi 4-chome. Melewati deretan pohon red-maple yang tertanam di setiap sisi jalan, kemudian menuju pintu masuk stasiun yang terletak di kaki-kaki perkasa Osaka Museum of History.

Enjoy Eco Card (nama lain One Day Pass di Osaka) seharga 600 Yen (Rp. 82.000) membuatku nyaman dan mudah untuk keluar masuk stasiun tanpa harus hinggap di automatic vending machine ketika ingin menggunakan jasa Osaka Metro. Aku tinggal men-tap kartu itu di ticket collecting gate dan menikmati berkeliling Osaka sesuka hati.

Enjoy Eco Card.

Menaiki Tanimachi Line dan berpindah ke Sennichimae Line di Stasiun Tanimachi 9-chome maka perjalananku berhenti di Stasiun Namba setelah menempuh jarak tiga kilometer dan dalam waktu tempuh lima belas menit.

Tiba di Stasiun Namba yang berusia delapan puluh lima tahun, aku keluar menuju ke Namba City. Namba City merupakan pusat perbelanjaan yang sangat luas di daerah itu.

Menelusuri koridor demi koridor megah di Namba City membuatku tertarik untuk mampir dan melihat beberapa koleksi winter jacket milik UNIQLO store di salah satu sisi koridor megah. Kejadian menggelitik kembali menimpaku di sini. Ini akibat dari winter jacket murahan yang kukenakan. Winter jacket bekas keluaran Pasar Baru itu merontokkan bulu-bulu angsa lembut dari sisi bagian dalam ketika aku mencoba sebuah winter jacket milik UNIQLO di kamar pas. Sontak, setelah aku keluar dari kamar pas itu, seorang petugas wanita mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan bulu-bulu itu. Dia cuma tersenyum menatapku yang sedang meletakkan winter jacket ke tempat display semula. Padahal aku sudah berfikir tak akan mampu membelinya, tetap masih tetap saja nekat mencobanya….Dasar sok gaya. Bagaimana aku tak berpikir seribu kali untuk membelinya jika sepotong winter jacket di banderol dengan harga 12.900 Yen (Rp. 1.750.000).

Untuk melupakan insiden memalukan itu, aku bergegas meninggalka store itu dan bergegas menuju ke Namba Parks. Kali ini aku mulai terkagum karena akses menuju ke Namba Parks membuatku tetap berada di jalur indoor pejalan kaki, padahal Namba City dan Namba Parks berada dilokasi yang berbeda. Indoor corridor itu terus menuju ke selatan dan terkoneksi langsung dengan Namba Parks.

Setelah berjalan tak sampai dua ratus meter dari exit gate Stasiun Namba, akhirya aku tiba juga di Namba Parks. Taman keren itu didesain di bagian atas pusat perbelanjaan dengan kontur yang dibuat berundak-undak bak terasering. Seharusnya aku mengunjungi taman ini saat malam karena terlihat banyak lampu terpasang yang pastinya akan menyala di malam hari.

Salah satu sisi Namba Parks, taman di atas mall.

Namba Parks sendiri juga terintegrasi dengan kompleks perbelanjaan dan perkantoran yang terletak di Distrik Kota Naniwa. Di taman itu, aku hanya menyempatkan tiga puluh menit saja karena aku ingin segera mengunjungi Amerikamura untuk melihat area belanja dan hiburan dengan sudut pandang yang berbeda.

Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua siang, aku mulai meninggalkan Namba Parks melalui jalur semula saat aku mendatangi Namba Parks.

Kisah Selanjutnya—->

Tom Cruise dan Osaka Castle

<—-Kisah Sebelumnya

Kamu kenal “Si Ganteng” ini kan?…

Gambar itu adalah penggalan adegan film “ The Last Samurai”, ketika Kapten Nathan yang diperankan Tom Cruise bertarung secara terhormat bersama pemimpin para Samurai yaitu Katsumoto yang diperankan aktor kawakan Jepang Ken Watanabe melawan tentara Kaisar Meiji yang dilatih oleh Angkatan Darat Amerika. Latar belakang perang ini adalah “Modernisasi Vs Feodalisme”. Kaisar mengagungkan modernisasi dan Samurai mempertahankan tradisi.

Itulah sedikit dari banyak mozaik memilukan penyusun sejarah Jepang ketika bertransformasi dari negara konvensional menjadi negara modern. Satu mozaik itu adalah Perang Boshin, perang saudara yang meninggalkan bekas kerusakan dan terekam di dalam tempat bersejarah yang aku kunjungi ini.

Yups….Inilah Osakajo….Khalayak menyebutnya Kastil Osaka atau Osaka Castle.

—-****—-

Pukul 09:50, aku menjejakkan langkah di peron Stasiun Tanimachi 4-chome, kemudian keluar melintasi salah satu gerbangnya dimana Osaka Museum of History dan Hoenzaka iseki berdiri gagah  di pelatarannya. Langkahku terus tersambung di Uemachi-suji Avenue dengan hiasan pohon red maple  di kedua sisinya.

Sejarahnya yang kuat menjadikan Osaka Castle sebagai destinasi pertamaku di kota berjuluk “Manchester dari Timur”. Aku memang tak mau menunda dan kehilangan pandangan pertama pada istana raja yang berusia lebih dari empat abad itu. Jaraknya yang hanya enam kilometer dari Hotel Kaga tempatku menginap dan tersedianya jalur Osaka Metro menujunya membuatku begitu mudah mengakses destinasi itu.

Kamu berani kenalan ga?

Tak lama berjalan kaki, aku pun tiba di Osaka Castle, melalui Otemon Gate tepatnya. Otemon Gate sendiri berada di sisi timur istana, sedangkan di seberang barat disediakan Aoyamon Gate. Seperti layaknya istana zaman dahulu, tempat ini dikelilingi oleh kanal lebar sepanjang hampir seratus meter sebagai bentuk pertahanan.

Melewati sebuah jembatan, jalur pejalan kaki mulai mengarahkan setiap wisatawan memasuki sisi Otemon Gate. Diawali dengan pintu berbahan dua lembar baja menjulang. Setelahnya, terpampang dinding-dinding berbahan andesit halus yang beberapa diantaranya dibiarkan utuh dengan panjang dan lebar hampir lima meter.

Tak lama gerbang kedua menyambut. Gerbang dengan ukuran lebih besar dari yang pertama itu berjuluk Osakajo Tamon-yagura yang disusun dari kayu-kayu besar, utuh serta kokoh. Melewati gerbang kedua inilah, wisatawan secara otomatis memasuki area istana yang memiliki luas tak kurang dari enam hektar.

Dalam beberapa fragmen perjalanan, diceritakakan bahwa kastil ini pernah luluh lantak oleh api akibat Perang Boshin pada tahun 1868. Nah Perang Boshin sendiri sudah diilustrasikan oleh Tom Cruise pada preambule di awal.

Osakajo Tamon-yagura
Osakajo yang terbakar…..

Tibalah aku di pelataran selatan, sebut saja Osaka Castle Park. Disinilah para wisatawan berkumpul dan menikmati keanggunan kastil buatan Toyotomi Hideyoshi, sang pemimpin Jepang  Zaman Sengoku.  Aku menyempatkan diri berfoto dengan samurai tua di pelataran kastil. Bahkan untuk mengusir kesepian, aku sering iseng dengan berpose di belakang rombongan turis yang sedang berfoto. Nyengir kuda, melompat, melambaikan tangan atau apapun kulakukan. Terkadang membuat salah satu rombongan itu menunjukku sambil tertawa setelah melihat hasil foto di kamara digital mereka. Parah akut memang.

Genap satu jam menikmati Osaka Castle, aku memutuskan untuk duduk dan menikmati Ikayaki yang kubeli dari food truck yang berjejer rapi di timur pelataran. Setusuk Ikayaki disana dihargai dengan 300 Yen (Rp. 41.000). Eh, tahu kan Ikayaki?…. Itu lho, cumi bakar ukuran besar yang dibumbui mirin (bumbu khas Jepang).

Baju zirah milik samurai asli kan warnanya hitam.
Kalau punya duit, boleh ngemil. Kalau ga punya duit tapi kepengen, boleh juga, ga ada yang ngelarang.

Menuntaskan Ikayaki, atau tepat pukul 10:30, aku mulai meninggalkan area Osaka Castle dan berencana menuju ke Distrik Kota Naniwa.

Kemanakah gerangan?……….

Kisah Selanjutnya—->

Majalah Dewasa, Osaka Metro dan Osaka Castle

<—-Kisah sebelumnya

Seperempat jam menuju pukul sembilan….Aku meninggalkan Hotel Kaga di Distrik Kota Nishinari setelah menitipkan backpack di ruang resepsionis. Aku bergegas menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Tetapi terlebih dahulu, aku harus menjejalkan sesuatu ke perut sebelum tiba di stasiun itu. Sedari tengah malam tadi, ketika aku tiba di Osaka, belum sesuap pun aku makan.

Aku memutuskan mencari minimarket terdekat. Dalam langkah menuju stasiun, kutemukan sebuah FamilyMart di tepian Saka-suji Avenue. Aku tak akan mengunyah onigiri lagi sebagai sarapan. Aku sudah bosan sejak dua hari lalu rutin mengunyah makanan itu. Akhirnya aku memilih sebuah cup noodle dan segera mengambil antrian di depan kasir. Menunggu giliran, satu persatu pelanggan FamilyMart itu menyelesaikan kewajiban. Aku hanya reflek ikut maju ketika antrian di depan juga maju, tetapi sesungguhnya mataku tak pernah menatap ke depan.

Kasir : “Hello

Aku masih tak bergeming.

Kasir: “Helloo

Aku masih berfikir itu giliran pengantri di depanku

Kasir: “Helloooo….Sir. You…..Sir”.

Aku: “Oh it’s my turn, sorry

Kasir itu hanya senyam-senyum saja melihat mukaku yang memerah karena malu. Sial….Dia dan pengantri di belakangku kompak nyengar-nyengir karena memergoki aku memandangi sebuah sudut rak dengan banyak majalah dewasa yang tersusun rapi. Untung si kasir tidak menawariku untuk membeli majalah itu….Kan malu.

Yang beginian sudah biasa di Jepang….Duhhhh….

Selepas membayar, aku menuju ke sebuah dispenser. Menuang air panas ke cup noodles dan mengambil sebuah pojok minimarket untuk menyantapnya.

Kasir: “Helloooo Sir eat outside, please!”

Duhhhh….Sudah malu, kena usir lagi,. Padahal aku sedang menghindari hawa dingin di luar sana. Ujung-ujungnya, aku tetap saja menyantap cup noodles sambil berdiri di depan minimarket sembari berdingin ria….Nasibbb.

Sewaktu kemudian, cup noodles itu ludes hingga kuahnya pun tak bersisa. Aku melanjutkan langkah ke utara. Tiba di perempatan Abiko-suji Avenue, aku segera menuju bawah tanah melalui salah satu gate milik Stasiun Dobutsuen-mae yang berada di tepi selatan jalan besar itu.

Aku: “Hello, How can I get a One Day Pass, Sir”. Aku memastikan supaya tak kelamaan membelinya seperti kejadian dua hari lalu di Tokyo.

Petugas Keamanan: “Doko e ikitai desu ka?”, rupanya bapak ini tidak bisa berbahasa Inggris.

Aku: “Osaka Castle, Sir”.

Petugas Keamanan: “Hoooohhhhh….”. Dia belum ngerti juga

Aku: “Osakajo”.

Petugas itu lantas tersenyum mengangguk-angguk dan mengantarkanku melalui sebuah koridor lalu menunjuk ke automatic vending machine.

Arigatou Gozaimasu”, ucapku padanya. Padahal kalau mencari mesin beginian, aku juga bisa. Apakah One Day Pass dijual terpisah dari mesin, itu yang kumaksudkan…..Hmmh.

Sudahlah, aku mulai memencat-mencet tombol automatic vending machine itu. Aku bisa tersenyum lega karena mesin ini tak serumit seperti yang di Tokyo. Aku memasukkan selembar 1.000 Yen, memencet “ENGLISH” button, berlanjut ke “CARD” button dan akhirnya kutemukan “ONE DAY PASS” button seharga 600 Yen (Rp. 82.000).

Malam itu adalah malam tahun baru di luar negeri yang pertama buatku. Aku sengaja membeli One Day Pass karena akan pulang selepas tengah malam, setelah New Year’s Eve Countdown tentunya.

Kini aku bersiap menaiki Osaka Metro. Ini juga  pertama kalinya aku merasakan kereta bawah tanah di Jepang setelah sembilan kali berturut-turut hanya mencicipi kereta permukaan semenjak ketibaanku di Tokyo.

Aku mulai menyusuri Midosuji Line lalu berpindah ke Tanimhaci Line di Stasiun Tennoji. Melaju ke utara sejauh lima kilomater dan dalam lima belas menit, aku akhirnya tiba di Stasiun Tanimachi 4-chome di Distrik Kota Chuo.

Aku segera keluar melalui exit gate dimana gedung Osaka Museum of History dan landmark bersejarah Hoenzaka iseki berada. Dari situ, aku terus menelusuri Uemachi-suji Avenue menuju Osaka Castle yang hanya berjarak satu kilometer.

Osaka Museum of History.
Hoenzaka iseki, bangunan gudang dari Abad ke-5 di Jepang.
Itu pohon maple bukan sih?
Aku tiba di Otemon gate Osaka Castle

Mari kita eksplore Osakajo…..

Kisah Selanjutnya—->

Menuju Shin-Imamiya Station dari Kansai Airport Station

<—-Kisah Sebelumnya

Aku sudah menggenggam tiket senilai 1.060 Yen (Rp. 145.000) untuk menuju Stasiun Shin-Imamiya di Distrik Kota Naniwa. Sementara, waktu terus bergerak meninggalkan fajar. Aku masih berdiri di salah satu peron, menunggu kedatangan kereta JR Kansai Airport Rapid Service. Di peron lain terlihat sebuah kereta dengan design futuristik sudah terparkir menunggu jadwal keberangkatan.

Haruka Express Train menuju Kyoto. Harganya 3.400 Yen (Rp. 463.000) sekali jalan. Berminat?….

Tak lama kemudian, kereta bermodel konvensional perlahan tapi pasti melambatkan laju memasuki peron dari sisi timur laut. Dalam sekian detik, roda besinya mendecit mencengkeram jalur baja dan berhenti sempurna di depanku. Seorang petugas segera merapat di bagian gerbong terdepan dan berdiri mengawasi ke arah ujung belakang kereta. Setelah semua penumpang keluar, petugas itu melambaikan tangan kepadaku dan mengarahkanku untuk memasuki kereta. Mungkin sedari tadi dia mengamatiku sebagai orang asing yang berpenampilan sedikit berbeda dengan penumpang kebanyakan.

Aku mah naik yang begituan aja….Murah.

Aku memasuki gerbong pertama dan mengambil bangku tunggal sebelah kiri di dekat pintu. Lima belas menit lagi menuju pukul tujuh pagi, ketika JR Kansai Airport Rapid Service mulai melaju meninggalkan Stasiun Kansai Airport. Merangsek ke utara menuju pusat kota.

Tak lama kereta berjalan, pemandangan spektakuler pertama tertayang dari jendela gerbong. Hamparan luas Teluk Osaka berhiaskan semburat fajar menjadi pesona apik menyambut pagi pertamaku di Prefektur Osaka.

Genap empat kilometer, kereta melintas di jembatan baja yang mengangkangi teluk itu. Kemudian melintas di kolong-kolong flyover yang membentang di sepanjang pantai di Kawasan Rinku Town. Paduan tenangnya teluk, semburat fajar, aroma setengah gelap jalanan dan lampu-lampu kota yang belum enggan padam begitu memperindah irama perjalanan pagi itu.

Kawasan Rinku Town.

Pemandangan itu berhenti sejenak di Stasiun Rinku Town. Kereta harus menurunkan dan mengambil beberapa penumpang.

Meninggalkan Stasiun Rinku Town, kereta terus menjelajahi Nankai-Kuko Line. Nankai-Kuko Line sendiri adalah jalur kereta yang berawal dari Stasiun Kansai Airport di selatan dan akan berakhir di Stasiun Namba di utara dengan panjang keseluruhan hampir lima puluh kilometer.

Jauh meninggalkan Rinku Town, kali ini pemandangan berganti dengan hamparan lahan pertanian yang berlokasi di sekitar Kota Izumisano. Lahan-lahan pertanian itu berpadu dengan beberapa kompleks landing house berukuran mungil milik warga. Di beberapa titik mulai terlihat beberapa apartemen berukuran sedang. Sedangkan sungai-sungai kering tampak rapi dengan pagar pembatas di tepinya.

Hamparan lahan pertanian dan perumahan.

Dalam tiga puluh menit, kereta mulai memasuki kawasan urban yang padat bangunan, di Distrik Kota Nishi tepatnya. Tak tampak lagi lahan pertanian disana. Pemandangan hanya berisi perumahan, apartemen, perkantoran serta pusat-pusat kesehatan dan perbelanjaan.

Kali ini aku sendiri tak akan menuntaskan perjalanan hingga stop point terakhir yaitu Stasiun Namba. Aku akan berhenti di Stasiun Shin-Imamiya, berselang satu stasiun sebelum tiba di Stasiun Namba.

Aku turun di Stasiun Shin-Imamiya pada menit ke lima puluh dari perjalanan kereta JR Kansai Airport Rapid Service. Aku segera keluar meninggalkan Stasiun Shin-Imamiya di Abiko-suji Avenue. Kemudian berbelok ke kanan, menuju ke selatan untuk menelusuri gang selebar lima meter. Setelah berjalan sejauh tiga ratus meter aku tiba di Hotel Kaga.

Sepanjang berjalan menuju Hotel Kaga, aku melangkah dengan sangat percaya diri tanpa perlu bertanya kepada siapapun tentang letak hotel karena aku sangat memahami rute menuju kesana dari peta yang kubawa.

Aku memasuki Hotel Kaga yang berwarna dominan merah bata. Disambut oleh staff resepsionis pria yang ramah. Tetapi masih terlalu pagi untuk bisa melakukan check-in. Aku memang hanya bermaksud untuk menitip backpack saja dan segera mengeksplorasi Osaka hingga malam.

Tetapi untuk mempercepat proses check-in nanti, aku memutuskan untuk membayar di awal. Setelah menerima tanda bayar dan menaruh backpack di ruang respsionis, akhirnya aku pergi meninggalkan hotel seharga 1.800 Yen (Rp. 256.000) per malam itu dan langsung beranjak menuju Osaka Castle.

Kisah Berikutnya—->

Bermalam di Kansai International Airport (KIX)

<—-Kisah Sebelumnya

Tiba di Kansai International Airport (KIX), Osaka.

Aku menuruni Peach Aviation bernomor terbang MM6320 melalui tangga manual. Kemudian dibawa menggunakan Narita apron shuttle bus menuju bangunan Terminal 2. Akhirnya, aku tiba di Osaka dan menapaki bandara yang pernah memenangi Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

Karena ini adalah penerbangan domestik tentu aku tak perlu sibuk berurusan dengan pihak imigrasi. Aku menginjak lantai bangunan Terminal 2 tepat tengah malam. Kiranya akan lebih baik jika aku segera mencari tempat peraduan untuk memejamkan mata sejenak hingga 5 jam ke depan. Aku juga sudah merasa sangat letih karena sedari pagi saat check-out hingga sore berkeliling Tokyo dengan memanggul backpack seberat 6 Kg. Biaya transportasi yang mahal tak memungkinkanku untuk menaruh backpack di dormitory dahulu. Karena sudah barang tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk sekedar bolak-balik ke dormitory hanya untuk kegiatan remeh temeh, yaitu mengambil backpack saat ingin meninggalkan Tokyo. Alhasil, aku harus memanggul backpack kemanapun kaki melangkah higga aku tiba di Osaka.

Instingku sangat cepat untuk menemukan tempat tidur terbaik, aku kini berada di sebuah area di sisi barat bangunan Terminal 2 yang cukup tenang. Empat bangku gandeng tanpa sandaran lengan menjadi hadiah sempurna malam itu. Tak berfikir panjang, aku segera mengakuisisi salah satunya, menjadikan backpack sebagai bantal dan dengan cepat aku terlelap diatasnya.

Zzzzzz…..Selebihnya aku tak tahu apa yang terjadi di sekitar.

—-****—-

Greekkk…..praakkk…..Buughhh…..Kraackkk.

Aku tergelegap dan tersontak bangun. Dalam duduk dengan kepala pening, aku melihat jelas rombongan gadis-gadis tinggi cantik asal Tiongkok sudah duduk di depanku. Dua diantaranya memperhatikanku  yang sedang dalam kondisi kusut, kemudian melempar senyum. Sudah tak mungkin aku melanjutkan tidur di depan mereka. Sepertinya mereka baru saja mendarat dan entah dari mana.

Jarum jam masih bertengger di angka empat. Berarti aku sudah terlelap genap empat jam. Aku menenggak air mineral tersisa. Dan dalam sekejap gadis-gadis itu sudah sibuk dengan gawainya masing-masing.

Kukeluarkan segera toiletries pack dan kumasukkan jaket tebalku ke dalam backpack. Aku segera beranjak menuju ke toilet. Masuk ke toilet bandara saat pagi adalah strategi untuk menikmati toilet bersih karena biasanya cleaning service baru usai membersihkannya dan belum ada yang menggunakan.

Benar saja, akulah orang pertama yang memasuki toilet pagi itu. Luar biasa bersih, perihal kebersihan fasilitas umum di Jepang, tidak usah ditanya, mereka jagonya. Pagi itu, sungguh nyata, untuk pertama kalinya aku menggunakan toilet dengan control panel penuh tombol. Aku menaruh backpack di lantai toilet yang bersih dan memulai aktivitas pagi di dalamya. Sepertinya aku kelamaan karena keasyikan mencoba mengoperasikan semua jenis tombol di sebelah kloset toilet. Tak kurang dari sepuluh jenis tombol aku memencet-mencetnya, mulai dari tombol penyamar suara (flushing/sound button) hingga penghangat kloset (warm seat button). Tak kerasa, hampir 40 menit aku menguasai toilet itu.

Oalah, Donny….Jauh-jauh ke Jepang cuman buat nyobain toilet….Kasihan……

Menggunakan free shuttle bus menuju Terminal 1.

Usai menggosok gigi di depan wastafel. Aku mulai mempersiapkan diri untuk menuju kota. Aku segera mencari keberadaan stasiun kereta. Mengikuti petunjuk yang ada aku diarahkan pada sebuah free shuttle bus untuk berpindah ke Terminal 1, karena kereta ke tengah kota berada disana.

Aku menaiki free shuttle bus itu. Menempuh jarak sekitar 2 km dan tak sampai sepuluh menit aku tiba di Terminal 1 tepat pukul enam pagi. Aku mulai berburu tiket kereta.

Which train must I take to get the cheapest price to Shin-Imamiya Station, Ms?”, aku bertanya kepada petugas wanita yang duduk di bagian penjualan tiket.

JR Kansai Airport Rapid for 1.060 Yen (Rp. 145.000), Sir

Okay, I take that

Bersiap menuju Osaka.

Tak lama kemudian, JR Kansai Airport Rapid Train itu tiba. Aku segera memasuki salah satu gerbongnnya yang dominan silver dengan kelir biru, kemudian duduk di salah satu bangku tunggalnya. Tak sampai lima menit, kereta itu berangkat. Begitulah kereta Jepang, tak pernah telat dan selalu tepat waktu.

15 menit kemudian…..

Teluk Osaka (Osaka Bay).

Begitu terkejutnya diriku karena kereta itu melewati jembatan besi raksasa yang gagah mengangkangi laut. Seumur hidup, aku baru tahu kalau Kansai Internatioanl Airport (KIX) berlokasi di tengah laut, berjarak 5 Km dari daratan terdekat di kota Osaka. Bukankah ini pengalaman yang luar biasa?……

Kisah Selanjutnya—->

Peach Aviation MM6320 dari Tokyo ke Osaka: Maskapai ke-15

<—-Kisah Sebelumnya

Waktu keberangkatanku menuju tur Asia Timur Jilid-2 tinggal sehari lagi. Masih ada satu tahapan itinerary yang masih tercecer dan belum tuntas, yaitu buntunya mekanisme perpindahanku dari Tokyo ke Osaka. Tiga bulan lalu, aku telah menyia-nyiakan tiket bus murah dari Tokyo ke Osaka seharga 5.700 Yen (Rp. 775.000) hanya karena terus berfikir dan banyak mencari pilihan lain. Beberapa waktu kemudian Saat akhir pekan tiba, harga tariff bus itu meningkat hingga 9.700 Yen (1,2 juta). Sedangkan harga tiket Shinkansen  mencapai 14.000 Yen (Rp. 1,9 Juta).                                                                                                                   

Berarti selain bus, Shinkansen juga tak mungkin kupilih. Kereta peluru itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku. Mau tak mau, aku harus kembali mengobrak-abrik informasi tentang transportasi Jepang.

Aku mulai melacak perihal seberapa banyak maskapai komersial yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit. Sebelumnya, aku sudah memesan salah satu maskapai mereka untuk berpindah dari Kaohsiung (Taiwan) ke Tokyo, maskapai itu adalah Vanilla Air. Tetapi maskapai ini nyatanya mematok harga lumayan mahal untuk rute Tokyo ke Osaka, berkisar 10.130 Yen (Rp. 1,4 juta).

Dari persistensiku menjelajah dunia maya, sentuhan mouseku menemukan satu maskapai LCC (Low Cost Carrier) lain milik Jepang, yaitu Peach Aviation. Atrbut maskapai ini mengandalkan perpaduan warna orange dan pink, membentuk warna jingga pucat atau dikenal dengan nama peach. Aku mulai mencari rute. Akhirnya aku menemukan rute Tokyo-Osaka seharga 7.150 Yen (Rp. 970.000), harga yang sedikit lebih hemat daripada menggunakan bus, Shinkansen atau Vanilla Air.

—-****—-

Bersiap take-off bersama Peach Aviation MM6320.

Insiden delay dan tenggakan alkohol secara tak sengaja memang menjadi memori tak mengenakkan sebelum aku meninggalkan Tokyo. Tetapi, aku mulai sumringah ketika nomor penerbanganku disebut dalam pengumuman bandara. Aku mulai mengantri dalam barisan. Mulai terbayang keindahan Osaka Castle dalam setiap detik antrianku. Hingga tiba, boarding pass dan pasporku diperiksa oleh ground staff wanita yang masih sangat muda dan berbadan mungil.

I’m sorry, this is not your flight. Your flight will be depart 30 minutes later”.

Are you sure?”, jawabku separuh bertanya.

Yes, Sir. This flight is MM320 and your flight is MM6320, almost similar”.

Oh God, I’m sorry. This is my wrong”, aku menepok jidat sambil berusaha menyembunyikan rasa malu.

Aku kembali mundur dari antrian dan duduk di salah satu deretan kursi kosong yang sudah ditinggalkan para calon penumpang untuk memasuki pesawat. Aku masih saja mengamati antrian itu hingga orang terakhir memasuki pesawat. Kini aku kembali menunggu….

30 menit kemudian…..

Tak salah lagi, inilah penerbanganku, aku pastikan informasi nomor penerbangan di layar LCD baik-baik, lalu kucocokkan dengan nomor yang sama di boarding pass….Yup, benar ini MM6320. Aku segera memasuki antrian. Lalu di gerbang antrian, aku memberikan bording pass dan paspor untuk diperiksa oleh salah satu ground staff. Akhirnya, aku diizinkan untuk memasuki pesawat.

Dominasi kabin dengan warna peach menjadikan ruangan itu begitu ceria, sedikit mengurangi penatku dalam berjibaku menghadapi delay. Setiap awak kabin begitu sigap membantu penumpang memasukkan barang bawaan ke kompartemen bagasi. Beberapa kali, seorang pramugari tak ragu melepas sepatunya dan menaiki kursi untuk mendorong beberapa bagasi besar dan merapikan letaknya di kompartemen bagasi.

Seusai persiapan, Peach Aviation MM6320 mulai merayap menuju runway diiringi demonstrasi prosedur keamanan penerbangan oleh awak kabin. Beberapa saat kemudian Kapten Penerbangan meminta izin untuk melakukan take-off. Tak lama setelahnya, Airbus A320-100 itu melaju sekencang-kencangnya meninggalkan Narita International Airport dari Terminal 1.

Langit Tokyo sepertinya cerah malam itu. Aku tak merasakan turbulensi apapun selama 1 jam 35 menit penerbangan. Osaka adalah kota terbesar ketiga Jepang yang berjarak 500km di sebelah barat Tokyo. Sepanjang penerbangan sebagian besar penumpang lebih memilih memejamkan mata, tetapi aku tetap saja menyalakan lampu baca karena tertarik dengan banyaknya informasi pariwisata yang tertuang dalam inflight magazine Peach Aviation. Aku memotret satu demi satu lembar informasi pariwisata yang kubutuhkan selama di Osaka nanti. Rupanya aktivitasku itu diperhatikan oleh seorang pramugari dari belakang. Bahkan pada suatu waktu dia datang menghampiriku.

Berburu informasi di dalam pesawat.

Do you still reading, Sir?” .

Yes, Ms. I need some information from this magazine”.

Oh Ok, Sir. It doesn’t matter. I just make sure”.

Dia tersenyum dan kembali menduduki bangku pramugarinya di belakang. Bahkan setelahnya, kupastikan bahwa sepanjang penerbangan aku tak pernah memadamkan lampu baca itu. Pukul 23: 53, Kapten penerbangan mulai bicara dengan microphonenya untuk sekedar mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Kansai International Airport Terminal 2. Semua penumpang bergegas bangun, bersiap diri dan merapikan setiap tempat duduknya. Para awak kabin terus mondar-mandir memeriksa sesuai prosedur keamanan untuk proses landing.

Aku masih tak menahu perihal kondisi sesungguhnya di bawah sana karena aku duduk di aisle seat. Aku mampu merasakan ketika pesawat mulai merendah dan sesekali bergoyang untuk menstabilkan posisi. Hingga akhirnya hentakan halus roda pesawat memberitahukanku bahwa Peach Aviation sudah menyentuh runway Kansai International Airport, di Terminal 2 tepatnya.

Tidak ada aerobridge yang menyambut, semua penumpang harus menuruni tangga dan dijemput oleh Narita apron shuttle bus menuju bangunan terminal.

Tiba di Kansai International Airport Terminal 2 tepat tengah malam.

Malam itu, aku memtuskan untuk bermalam di Kansai International Airport Terminal 2 dan akan berangkat menuju ke tengah kota di keesokan hari.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Tokyo ke Osaka bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Narita International Airport Terminal 1: Alkohol….Oh, Alkohol

<—-Kisah Sebelumnya

Pintu masuk Narita International Airport Terminal 1

Membayar 1.000 Yen (Rp. 136.000) kepada pengemudi berdasi, menerima selembar tanda bayar, diakhiri dengan menduduki bangku paling belakang, kini aku bersiap menelusuri Higashi Kanto Expressway. Ini adalah jalanan yang sama ketika aku melewatnya untuk pertama kali sesaat setelah tiba di Tokyo beberapa hari lalu.

Menempuh jalur aspal sepanjang 70 kilometer dan dalam tempo satu jam, membuatku terlelap di sepanjang dua prefektur yang dilalui oleh JR Kanto Bus, yaitu Tokyo dan Chiba. Aku terbangun ketika bus telah sampai di Narita International Airport dan berhenti sejenak di Terminal 2 untuk menurunkan beberapa penumpangnya. Kini aku diserang kekhawatiran apabila bus telah melewati Terminal 1. Tetapi aku berusaha tetap tenang dan mengikuti arus bus.

Beruntungnya diriku ketika melihat nameboard Terminal 1 jauh di hadapan. Yups, ternyata stop pointku belum terlewat.

Tepat pukul 16:41, aku diturunkan di drop-off zone oleh pengemudi JR Bus Kanto, lalu bergegas memasuki salah satu pintu masuk Narita. Aku semakin percaya diri dengan keberadaan logo Peach Aviation di deretan logo para maskapai yang beroperasi di Terminal 1.

Aku sudah berada di terminal yang tepat”, batinku riang.

Tetapi tantangan lain hadir, aku masih berjarak lima jam dari jadwal keberangkatan. Konter self-check-in belum mengizinkanku mencetak boarding pass.

Baiklah, aku tunggu saja”, aku menyabarkan diri.

Dua setengah jam menunggu di sebuah kursi departure hall, akhirnya aku sukses melakukan proses selfcheck-in tepat pukul 19:25. Kugenggam selembar boarding pass lalu melangkah mantab menuju gate. Begitu tiba, ternyata gate masih saja belum siap.

Konter Peach Aviation.
World Sky Gate_Narita sebagai branding baru dari Narita International Airport.
Floor plan Narita International Airport Terminal 1..

Hingga akhirnya, aku memutuskan mencari minimarket untuk berburu makan malam. Aku menemukan keberadaan Lawson di salah satu koridor dan memasukinya tanpa pikir panjang. Dengan cepat aku mengambil satu kemasan onigiri seharga 248 Yen (Rp. 34.000) dan air mineral termurah seharga 103 Yen (Rp. 14.000) lalu membawanya ke kasir.

Selesai membayar, kulanjutkan langkah menuju observation deck, kemudian terduduk di salah satu kursinya untuk menikmati lalu lintas pesawat berbagai maskapai yang sibuk hilir mudik di Narita International Airport. Outdoor observation deck itu dihembus oleh angin musim dingin yang konsisten membekukan badan.

Walau tak nyaman karena dingin, aku tetap berusaha menikmati makan malam, tetap menduduki salah satu bangku observation deck dan terus terpesona dengan pasangan kegiatan take-off dan landing pesawat-pesawat berbadan besar.

Aku terus berusaha menampilkan senyum terbaik dalam menguyah onigiri, tak mau kalah dengan mimik bahagia para khalayak di sekitarku ketika menikmati harumnya sajian restoran yang mendiami sepanjang sisi observation deck.

Potongan terakhir onigiriku tuntas tak bersisa. Aku lantas membuka air mineral kemasan. Kubuka tutupnya dan tanpa ragu menenggaknya layaknya orang kehausan. Setenggak penuh air akhirnya meluncur mulus di tenggorokan. Tetapi mataku melotot karena hidungku tersengat aroma asing. Sensani hangat menyelimuti sepanjang tenggorokan. Dan akhirya, secara otomatis, aku terbatuk sejadi-jadinya.

Bukan air mineral murni !….Minuman bening itu jelas memuat kandungan alkohol di dalamnya. Akhirnya aku bisa merasakan sensasi alkohol walau secara tak sengaja….Duh, istighfar atau menikmati ya?….Wadaow.

Aku masih saja enggan membuang air kemasan beralkohol itu dan memasukkannya ke dalam backpack. Jika nantinya tak disita di screening gate, biar saja menjadikannya kenangan selama di Osaka.

Akhirnya, selepas puas menikmati lalu lintas bandara, aku segera menuju gate dan bersiap diri untuk terbang.HHmmhh… Begitu memasuki gate, informasi delay langsung menghampiri. Karena penasaran berat, aku menanyakan secara langsung ke ground staff wanita perihal kevalidan delay ini. Dia membenarkan bahwa Peach Aviation bernomor terbang MM6320 memang mengalami keterlambatan ketibaan di Narita dan aku harus menunggu kembali hingga satu jam ke depan.

Boarding pass yang cukup sederhana.
@Kids park, menunggu pesawat datang menjemput.

Kuhabiskan waktu tambahan selama  satu jam ke depan dengan memejamkan mata di ruang tunggu. Aku terduduk di sebelah Kids Park  dekat gate Terminal 1….

Kisah Selanjutnya—->