I am Waiting for You: Narita International Airport

Ketika “Si Ayu Maeda” berdiri dan mengangkat mikrofon, itulah momen bahagia bagiku. Aku tahu, dia akan memberitahukan bahwa Vanilla Air JW 130 segera mendarat di Narita International Airport. Bagaimana tak bahagia, Jepang yang sedari dulu hanyalah angan dan menjadi sesuatu yang tak terpikirkan tergapai, akhirnya berlabuh juga aku di gerbangnya. Hasrat akan Jepang juga disebabkan oleh kebodohanku sendiri yang menyiksa diri dengan tak segera mengunjungi negeri itu setelah memahami ritme dan kebiasaan dunia backpacker. Aku lebih berego untuk menyisir Asia Tenggara selama 3 tahun, bahkan edisi perdana ke Asia Timur pun lebih memilih Hong Kong, China dan Macau sebagai tujuan perdana. Jepang sengaja menjadi dessert petualanganku di Asia Timur. Ya benar….Negeri itu menjadi puncaknya bersama Korea Selatan. Menjadikan kisah kali ini terasa spesial.

Melekatnya aerobridge di pintu pesawat menjadi penanda langkah pertamaku menjejak Jepang. Terminal 3 Narita International  Airport menyambut hangat walau kutahu suhu di luar ruangan mencapai 2o Celcius….”Mudah-mudahan darah tak mengalir dari hidungku”, gumam pertamaku ketika menyusuri garbarata.

Nervous dan takut, itulah yang kurasa ketika menyusuri arrival hall menuju konter imigrasi. “Bagaimana jika mereka memeriksa jumlah uang yang kubawa?”, “Bagaimana jika mereka menolakku masuk ke kota?”….Kecamuk amatiran itu masih saja menghantui. Maklum, bagiku Jepang serasa beda kasta.

Is this your filst time in visiting Japan?”, wajahnya datar tapi tak sangar menyidikku.

Yes, Sir”.

How long will you  stay in Japan?”, pertanyaan standar.

4 days, Sir

Hoooohhh….Just foul days. Very sholt time”, dia masih membolak-balik detail pasporku, melihat rekam jejak petualanganku.

Ale you alone?”, mulai menaruh paspor di sebelah kanan tangannya dan fokus bercakap denganku.

Duh alamat….Jangan sampai dia nanyain uang sakuku”, aku membatin pucat.

Okay, what will you do in Japan?” mulai menginterogasi.

!@#$%….^&*()?…..,”:}{[]/”, tanganku bergerak kesana kemari sembari bercerita panjang lebar tentang semua rencanaku. Aku menjadi tak khawatir sedikitpun karena akulah pembuat itinerary yang bisa diandalkan…..Yup, itinerary yang kelewat ngirit.

Good….Good….Good, nice toulist”, sekelumit sunggingan senyum sempat kulihat walau dia segera menyembunyikan. Petugas imigrasi memang begitu, pasang tampang galak adalah prosedur pertama.

Do you bling your itinelaly?”, pertahanan terakhirnya, sepertinya aku akan dengan mudah menjebolnya.

This is, Sir”, dengan muka cerah, aku menyerahkan enam lembar itinerary, lengkap dengan detail waktu, tempat yang akan kukunjungi, biaya yang akan dikeluarkan, dan alamat setiap destinasi ada di dalamnya. Dia sudah kukalahkan dengan telak.

Hoooohh….You will go to Osaka too”, manggut-manggut tapi masih saja membaca lembar demi lembar.

Yes, Sir. That’s nice city to visit”.

Yes…yes..yes….Good, welcome to Japan”, dia membuka kembali pasporku dan menaruh arrival stamp di atas visa waiver mungil berwarna pink itu.

Yesssssss….Aku masuk Jepang.

Uppsss….Pemeriksaan belum selesai rupanya.

Stop, please!”, lelaki paruh baya berjaket hitam dengan resleting yang dibiarkan terbuka sehingga terlihat jelas sweater abu-abu tebalnya menghadang langkahku.

Put your bag….Thele!”, dia menunjuk tempat menaruh tas sembari menenteng dua hand-held metal detector di kedua tangannya. Tanpa basa-basi dia menyapu backpackku dengan alat itu dengan tangan kanannya dan kemudian sapuan tangan kirinya menyusul.

Hand-held  metal detector pun berlapis begitu”, gumamku mengagumi ketatnya Narita.

Can me inspect you?”, dia menunjukkan selembar kertas bergambar rangkaian standar pemeriksaan seluruh anggota tubuh dengan cara meraba.

Yes, sure!”, aku melepas winter jacket bekas asal Pasar Baru itu.

Hooohh…you don’t need to take youl jacket off…..Hoooohh…..Do you using t-shilt? Sulely? This is Japan, you will fleeze with your t-shilt…..Hahaha”, dia terkekeh ramah.

Kurentangkan tangan dan dia mulai memeriksa. Oh, sopannya orang itu, untuk memeriksa begitu saja minta izin. Nilai sosial pertama yang kudapat dari Jepang di kunjunganku.

Tapiii…….

Aku mulai bingung dengan semua sistem transportasi negeri itu. Banyak sekali tersedia jenis kereta menuju kota. Mulai dari Narita SKY ACCESS Line, Keisei Main Line atau JR Sobu Line train, namun aku tak pernah tahu dia akan melewati jalur mana menuju Tokyo. Tombol-tombol Ticketing Vending Machine tak mudah kupahami, tak seperti biasanya aku begitu. Aku serasa tertelan kecanggihan negeri itu.

Tarif kereta menuju pusat kota.
Salah satu Ticketing Vending Machine.

Sudahlah….Aku duduk menenangkan diri dahulu di sebuah sofa empuk warna cerah yang diletakkan di sepanjang sisi dari koridor arrival hall yang alasnya didesain seperti lintasan lomba lari. Pintar, menegaskan itu adalah jalur untuk orang berjalan di dalam terminal bandara. Sembari duduk, sedih aku melihat harga makanan di sepanjang food court Narita, mahal minta ampun.

Onigiri….ya….Onigiri, itu yang termurah. Aku harus mencarinya di minimarket”, perut laparku tiba-tiba beride. Aku mulai menapaki “lintasan lari itu” dan dengan cepatnya menemukan gerai Lawson di subuah pojok koridor.

Dasar memalukan!”, aku mengutuki diri sendiri ketika diminta mundur melingkar mengikuti jalur antrian yang sungguh tak kuperhatikan.  Seorang ibu pengantri terdepan tersenyum melihatku mundur melingkar melewati sela-sela rak minimarket.

Aku keluar Lawson dengan sebuah kemenangan karena menemukan makanan murah pertamaku di Jepang. Kuberanikan diri untuk duduk di sebuah meja makan di sekitar food court Narita untuk menyantapnya.

Dua potong onigiri seharga 248 Yen (Rp. 32.000) untuk makan siang waktu itu.
Kenapa ya waktu itu aku memfoto tempat sampah segala….Hadeuh!.

Bus…Ya, bus….Tak usah kau pikirkan kereta termurah ke kota. Bus tetaplah transportasi terhemat di seluruh belahan dunia”, aku terus melihat sekitar mencari konter tiket bus sembari menyelesaikan potongan terakhir onigiriku.

Tak sulit, aku melihat mejanya di ujung kiri depan dari tempatku terduduk. Aku segera menghampiri nona muda penjaga konter dan tak ragu meminta selembar tiket menuju Tokyo.

Youl bus will depalt on 5 minutes…Hully up”, ucapnya ringan ketika menerima Yen dariku. “Sial, cepat amat”, batinku menyembunyikan ketegangan. Aku tak mau berdebat apakah tiketku akan hangus ketika aku tertinggal bus itu, karena jam keberangkatan yang tercantum di LCD meja konter memang jam 11:30.

Tiket airport bus menuju pusat kota seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000).

Dengan cepat aku fokus mencari tanda atau logo bus. Aku menemukan gambar bus itu dan berlari kearahnya. Tak sadar, aku tak memakai winter jacket dan ketika tiba di pintu menuju shelter bus, aku terhenyak. “Gilaaaa” batinku menjerit, udara 2o C itu menembus tulangku tanpa ampun. Sejenak aku tak bisa bernafas. Tergopoh aku kembali memasuki ruangan dan banyak orang memasang muka aneh melihatku. “Please, Donny….Ini bukan daerah  tropis lagi, bodoh”, aku menghela nafas, sejak tadi aku masih berefleks bahwa udara di luar masih sama dengan udara Kuala Lumpur yang tiga hari lalu kukunjungi. Kupakai cepat jaketku dan kutatap dari jauh sopir bus itu yang berdiri di pintu bus belakang. Dia melihat jam tangannya dan menoleh kesana kemari menunggu seseorang. Aku berlari kearahnya. “Come on, Sil….I am waiting fol you”, ucapnya singkat sambil menunjuk pintu depan. Aku melompat di pintu depan dan bersiap menuju Tokyo. Seharusnya aku tak perlu panik, sepertinya dia diberitahu petugas konter bahwa masih ada satu penumpang yang akan menaiki busnya….Dasar ndeso.

Anyway….Welcome Tokyo.

Namanya Maeda….Vanilla Air JW 130 dari Kaohsiung (KHH) ke Tokyo (NRT)

Jalur pernerbangan Vanilla Air JW 130 (sumber: https://www.radarbox.com/).

Pramugari ayu berbalut seragam biru dengan bunga di selipan telinga kanannya itu terlihat paling muda….Juga paling cantik.  Senyumnya juga paling ceria.  Berambut pendek  kecoklatan sepanjang bahu tetapi sedikit lebih panjang di potongan sisi kirinya dan sudah barang tentu, paras oriental menjadi penyempurna keelokannya.

Namanya Maeda….

Entah, kalau dirunut, dia terletak di silsilah yang mana dengan Tadashi Maeda, seorang Laksamana Muda yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Nama Maeda disejarahkan sebagai sebuah Klan Samurai di Jepang. Memiliki sifat jujur, berani, setia dan memegang teguh komitmen pada kebenaran.

Berburu Yen di Kaohsiung International Airport.
Bersiap check-in.
Yes, boarding pass ditangan.
Menuju gate setelah diinterogasi cukup lama di imigrasi.

Pagi itu, dia menjadi yang tersibuk di atas Laut China Timur. Seorang keluarga asal Tiongkok terlalu keras kepala mengakuisisi deret bangku demi berkumpulnya satu keluarga kecil dalam penerbangan Vanilla Air kali ini. “Si Ayu” Maeda terus membujuknya untuk duduk sesuai nomor yang tertera dalam boarding pass. Ternyata suara lembutnya tak pernah berhasil membujuk keluarga itu untuk berpisah hingga separuh waktu penerbangan. Bahkan Maeda merayunya hingga berjongkok di depan penumpang itu.

Entah kenapa sampai sekarang pun aku masih teringat dengan si Maeda ini,

Maeda menjadi sebuah bonus dari penetapan pilihan pada maskapai yang sebenarnya aku tak mengenal baik sebelumnya. Pencarianku pada situs penyaring penerbangan berdasarkan beberapa kategori, memilihkanku pada maskapai pengakuisisi Air Asia Jepang ini. Di kemudian hari, tiket seharga Rp. 800.000 itu menerbangkanku dari Kaohsiung di Taiwan menuju Tokyo.

Bahkan waktu-waktuku sebelum bertemu Maeda ini tak seindah yang kubayangkan. Aku memaksakan diri tidur semalaman di Kaohiung International Airport di sebuah selasar Departure Hall.

Bangun pagi….Bahkan masih terkantuk pun, karena terbawa obrolan dengan penumpang lain hingga lewat tengah malam, aku bersungut-sungut menuju meja check-in setelah menukarkan sisa New Taiwan Dollarku dengan Yen.  Konter check-in bernomor D18 dengan LCD bercantum nama maskapai menyelesaikan proses itu dengan cepat.

Gate 30, tempat menunggu Vanilla Air JW 130 datang.
Boarding yang membahagiakan.
Cari bangku bernomor 27D.

Masalah lain muncul,

Di meja imigrasi, terjadi agenda klarifikasi segala yang membuatku dipisahkan dari antrian dan di dudukkan pada sebuah bangku di ujung deretan konter.

Why do your visa look like this”, Visa Waiverku dicurigai.

It’s a new waiver visa for Indonesian e-passport holder,Mam”

Wait, let me check to my boss!”.

Wanita muda itu tergopoh meninggalkanku menuju sebuah ruangan. Aku masih tenang saja menantinya kembali, hingga 15 menit lamanya.

Ahh…Aku pasti lolos”, batinku.

Ok, sir, It’s valid”, celotehnya membuyarkan beku mukaku yang sedang mengamati sebuah pojok bangunan terminal.

Setelahnya, dia melepasku untuk memasuki sebuah koridor berplafon lengkung dangan pohon-pohon artifisial di sisi kiri menuju ke gate nomor tiga puluh.

Itu dia “Si Ayu” Maeda.
Disembarkation Card dan Customs Declaration untuk memasuki Jepang.

Lalu bagaimana dengan keluarga Tiongkok yang sedari tadi dibujuk “Si Ayu” Maeda?

Bersyukur, pimpinan pramugari turun tangan membantunya dan berhasil memisahkan keluarga kecil itu sesuai prosedur penerbangan.

Mengesankan! Vanilla Air menjadi maskapai  nomor empat belas dari dua puluh delapan jenis maskapai yang telah kunaiki. Bersyukur tentunya bisa menikmati jasa penerbangan milik anak perusahaan ANA (All Nippon Airways) ini.

Pagi itu pilot menjelaskan ada sedikit badai yang berasal dari Laut Filipina, tapi syukurlah, turbulensi itu tak berlangsung lama dalam perjalanan. Pernebangan menggunakan Airbus A320, sejauh 2.500 Km, berselang tiga jam dengan ketinggian 37.000 feet ini sungguh menyenangkan. Mungkin saja, karena ini adalah titik kulminasiku dalam menjelajah Asia. Siapa sih yang tak berhasrat mengunjungi Negeri Matahari Terbit itu.

Pukul sebelas lebih beberapa menit akhirnya aku tiba Narita International Airport.

Yuk berpetualang di Tokyo!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Kaohsiung ke Tokyo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832