Berjumpa Petualang Ulung di Saint Francis Church

<—-Kisah Sebelumnya

Di jalur keluar Princess Street aku telah memutuskan untuk mengambil arah kanan demi melanjutkan eksplorasi.

Walau panas sudah tak semenyengat beberapa jam sebelumnya, tetapi tetap saja paparan surya tanpa jeda membuat badan bekeringat dan kulit samar terbakar. Namun hal tersebut tak membuatku berjalan terburu. Rasa ingin tahu sekitar mengalahkan segalanya.

Di sebuah sudut, bangunan klasik berwarna putih yang difungsikan sebagai Tourist Information Centre tampak dijejali wisatawan asing yang mungkin sedang berburu informasi mengenai Fort Kochi, sebagian besar dari mereka adalah turis asal Eropa.

Aku sendiri enggan untuk singgah di bangunan itu, lalu lebih memilih menapaki Bastian Street sisi timur. Identik dengan Princess Street, jalanan yang kulalui ini masih didominasi oleh bangunan-bangunan seperti hotel, cafe dan restoran, toko buku dan souvenir serta toko seni dan kerajinan tangan. Hanya satu yang membedakan, arus wisatawan tak lagi sepadat di Princess Street.

Tiba diujung jalan, bangunan besar yang berfungsi sebagai kantor India Post menyambutku. Tentu bukan bangunan itu yang menjadi tujuan eksplorasi berikutnya, melainkan sebuah bangunan peribadatan yang terletak persis di seberang timurnya.

Enggan memutar jalan, aku memasuki sebuah lapangan rumput dan kemudian menyusuri pagar tembok bangunan peribadatan sisi selatan hingga benar-benar sampai di gerbang depannya.

Inilah Saint Francis CSI Church, salah satu gereja Eropa tertua di India. CSI sendiri merupakan inisial dari Church of South India yang merupakan perkumpulan gereja protestan di India.

Sebelum memasuki bangunan gereja, aku tertegun pada sebuah prasasti dua bahasa yang menjelaskan detail tentang Saint Francis Church.

Bahwa Saint Francis Church adalah landmark utama di Fort Kochi yang dibangun pada abad ke-16. Sejarah yang dimiliki gereja ini sangat merepresentasikan sepak terjang kolonial dalam menanamkan pengaruh kekuatan Eropa di India, yang dimulai dari abad ke-15 hingga abad ke-20

Tulisan lainnya adalah:

Unni Rama Koil I, sang penguasa Kochi memberikan izin kepada Kapten Cabral asal Portugis untuk membangun sebuah benteng dan gereja di muara sungai

Masih di depan gereja….

Aku mengamati sebuah tugu berprasasti dengan ketinggian dua setengah meter yang didirikan tepat di pusat halaman. Tak mau menginjak rumput halaman, maka aku urung membaca prasasti kecil itu.

Kini saatnya masuk ke dalam gereja….

Memasuki pintu, aku dihadapkan pada deretan kursi tunggu memanjang saling berhadapan di sisi kiri kanan. Seorang petugas tampak memberikan penjelasan pelan bahwa setiap pengunjung harus melepas sepatunya sebelum masuk, melarang pengunjung mengambil video dan meminta pengunjung untuk mematikan telepon genggam.

Sebagai pengunjung yang baik tentu aku menghormati aturan itu. Karena toh aku hanyalah seorang penikmat perjalanan, tak perlu banyak komplain. Nikmati saja aturannya…..

Tetapi mendadak sebelum melangkah masuk, aku teringat sesuatu ketika berada di teras gereja. Dinding teras tampak dipenuhi oleh lembaran-lembaran batu prasasti yang pernah aku lihat di Museum Wayang di Kota Tua Jakarta….Sangat mirip.

Pagar gereja….Tebel beud, kan?
Saint Francis Church tampak depan.
Teras gereja.
Nah, stone inscription kek gini mirip-mirip obyek yang sama di Museum Wayang, gaes.

Nah….

Kejutan paling penting dalam eksplorasi ini ternyata kutemukan di dalam gereja….

Tanpa kusadari, langkah kakiku dalam menikmati interior gereja terhenti pada sebuah makam di sisi kanan ruangan. Setelah kubaca beberapa batu prasasti di sekitar makam, aku baru sadar bahwa itulah makam Sang Petualang ulung asal Portugis, yaitu Vasco da Gama sang penemu jalur laut dari Eropa ke India.

Aku juga tak akan pernah memahami jika tak mengunjungi makam ini. Diceritakan bahwa Vasco da Gama meninggal di Kochi karena terkena malaria pada tahun 1524, tepatnya pada pelayaran ketiganya ke India. Untuk kemudian jenasahnya dikebumikan di Saint Francis Church ini.

Tetapi kan Vasco da Gama adalah tokoh ternama di Portugal….Tentunya kisah kepahlawanannya mendapat tempat tersendiri di mata rakyat Portugis. Oleh karenanya, empat belas tahun setelah meninggal, jenazahnya dipindahkan ke Lisbon, ibukota Portugis.

Bagian dalam gereja.
Bertemu sang petualang sejati….Makam Vasco da Gama.
Bagian samping gereja.

Sungguh perjalanan yang menghadirkan kejutan….

Itulah kenapa aku mencintai petualangan.

Kisah Selanjutnya—->