Traveler Bed Space For Male: “Nepalese….Nepalese?”

Baniyas Square….Tampak Dubai Bus bernomor 77 dan Mahboubi Medical Centre yang tinggi menjulang.

Pagi itu jalanan masih lengang. Namun kondisi itu tak serta merta mencuatkan takut dalam hati . Aku diturunkan oleh Dubai Bus Nomor 77 di sebuah alun-alun, Baniyas Square namanya, alun-alun yang terbentuk dari persilangan dua jalan protokol yaitu Al Maktoum Hospital Road dan Al Musalla Road. Dengan berdiri di tempat itu, berarti aku sudah berada di tepian barat Distrik Deira. Dan ketika menginjakkan kaki di Baniyas Square, tengara penting yang menarik perhatianku adalah Mahboubi Medical Centre yang tertampil dalam warna coklat dengan kelir hijau.

Langkah kaki mulai kuayun dengan mengitari zebra cross yang terlukis melingkari perempatan besar. Walaupun jalanan terlihat kosong, aku tak cukup nyali untuk mengompas jalur. Khawatir dihakimi peraturan lalu lintas yang kerap kali menyuguhkan denda, apalagi kuperhatikan ada beberapa unit CCTV yang mengintai ke arah perempatan. Menjadikanku harus sering berhenti menunggu nyala lampu hijau walaupun sebetulnya jalanan kosong melompong.

Usai menaklukkan perempatan, aku menyusuri tepian Al Musalla Road yang sunyi. Al Musalla Road sendiri merupakaan jalan dengan trotoar pembatas kecil di kedua ruasnya. Dalam langkah, sesekali aku berpapasan dengan warga lokal berumur yang sedang menikmati jogging pagi. Tak ragu mereka melemparkan senyum kepadaku, membuatku semakin berani melawan kelengangan kota.

Selanjutnya aku tiba di sebuah taman yang cukup lebar, kondisinya juga masih sunyi, Naif Park namanya. Aku terduduk di bangku beton tepat di depan taman itu. Menaruh backpack dan menyempatkan diri untuk menghirup panjang kesegaran udara pagi dan sejenak melepas pegal badan di bangku itu. Hanya saja rehatku terganggu oleh serakan poster mini seukuran kartu nama yang menawarkan jasa pijat dengan foto-foto seksi wanita Kerala….”Jangan-jangan pijat plus-plus ini mah”, batinku berprasangka buruk sembari melihat tajam foto-foto itu….Astagfirullah.

Tenaga telah terisi ulang, langkahku berlanjut dengan merubah haluan menuju timur, menyisir jalanan lain, yaitu Naif Road yang tak kalah lebar dengan Al Musalla Road. Hanya saja pembatas kedua ruas kini berganti menjadi jalur tanaman hias yang menghias sepanjang jalan.

Aku sengaja mengompas jalan supaya tiba lebih cepat di penginapan. Oleh karenanya usai melangkah sejauh tiga ratus meter di Naif Road maka aku memotong jalur dengan memasuki sebuah gang kecil demi menuju ke utara. Maka menyeliplah aku diantara bangunan-bangunan ruko dan rukan sekian lantai di salah satu sentra ekonomi milik Distrik Deira.

Melintas di Al Musalla Road.
Masih di Al Musalla Road.
Kacau…..Banyak nemu beginian di trotoar dan bangku taman.
Suasanan Naif Park.
Memasuki Naif Street.

Strategiku untuk mencapai penginapan sangatlah mudah. Aku hanya perlu mencocokkan titik penginapan yang dijelaskan pada cetakan surat konfirmasi pemesanan kamar dengan titik biru yang terus bergerak pada layar GPS telepon pintar yang terus kuamati sedari awal.

Singkat cerita, setelah meliak-liuk di beberapa jalan tembus, akhirnya aku tiba tepat di titik yang dimaksud. Di salah satu titik perempatan berukuran sedang, aku berdiri termangu, mengamati lekat-lekat sebuah toko peralatan elektronik dengan dinding kaca yang masih tertutup rapat, tidak ada pertanda adanya penginapan sama sekali.

Aku yang memiliki waktu bicara gratis tiga menit dari SIM Card Du Mobile akhirnya mencoba menelpon nomor penginapan yang tertera di surat konfimasi pemesanan.

“tut tut tut tut….”, begitulah bunyinya…..

Instingku mengatakan bahwa aku telah kehilangan jejak….Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja…..

“Plaaakkkk….”, sebuah tepukan keras mendarat di pundak kananku.

“Nepalese….Nepalese?”, lelaki muda bertubuh kurus tinggi dan berbadan gelap menengadahkan  telapak tangan yang kelima jarinya menunjuk ke mukaku.

“Nup….Nup…Indonesia”, aku menjawab tidak antusias.

“You like Nepalese, bro”, dia melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya.

“Oh, thanks….”, aku menjawab sekenanya.

Lelaki muda itu pun angkat kaki dari hadapan dan aku kembali masuk dalam kebingungan…..

Do something, Donny….Do something!”, aku memarahi diriku sendiri

Dubai Bus No 77: Menjemput Masalah di Baniyas Square

Tetiba terbangun….

Aku tetiba terbangun dari tidur, jam biologisku mengatakan bahwa sudah saatnya untuk melaksanakan Shalat Subuh. Masih mengucek mata, aku memperhatikan sekitar, mencari tengara yang bisa mengarahkanku menuju musholla.

Aku mendapatkan tengara itu di dekat escalator, maka dengan sigap aku menujunya. Dengan mudah aku menemukan Prayer Room itu di lantai atas.

Entah kenapa, Shalat Subuh itu berlangsung sangat khusyu’. Entah karena imamnya memang seorang Arab dengan lafal Al Qur’an yang bagus atau karena rasa bersyukurku kepada Sang Kuasa yang telah mengantarkan pada titik petualangan hinga sejauh ini.

Usai shalat, tanpa membuang waktu, aku keluar dari Terminal 1 dan menuju halte bus yang berlokasi tepat di depan pintu masuk bangunan bandara. Halte itu sudah penuh dengan calon penumpang ketika aku tiba. Membuatku mengalah untuk berdiri sembari menunggu kedatangan bus. Kali ini aku menyasar bus bernomor 77.

Mencari bus menuju pusat kota.
Suasana pagi di depan bangunan bandara.

Tak lama menunggu, bus itu pun datang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika aku hendak menaiki bus itu. “Apa iya, kota semodern Dubai akan menerima pembayaran cash di atas bus?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Untuk mengusir keraguan itu maka aku bertanya kepada seseorang di halte bus.

“You must buy Nol Card at Dubai Metro station. Go to the top floor, Sir!”, dia menunjukkan jarinya ke lantai atas bangunan terminal bandara.

Mengucapkan terimakasih atas petunjuknya, maka aku segera beranjak dari halte bus demi menuju Airport T1 Station di lantai atas.

Menemukannya dengan mudah maka aku segera mengantri di loket Dubai Metro. Tak berselang lama, akhirnya aku mendapatkan Nol Card seharga 25 Dirham. Kini aku bersiap menuju ke pusat kota menggunakan kartu transportasi itu.

Kembali ke halte, aku akhirnya mendapatkan kembali Dubai Bus Nomor 77. Aku memasuki melalui pintu tunggal di bagian tengah dan mentap Nol Card di fare machine. Aku melihat kartuku berkurang 3 Dirham dan tujuanku adalah Baniyas Square Station yang berlokasi di Distrik Deira.

Sangkala sudah tergelincir jauh dari pukul enam pagi ketika bus yang kunaiki mulai merangsek melalui Airport Road, lalu berlanjut ke Al Maktoum Road untuk menuju tujuan akhir.

Sepanjang perjalanan, suasana masih gelap, tak sedikit pertokoan yang masih menyalakan lampu, begitu pula dengan kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan kota masih menyorotkan lampu di sepanjang jalan.

Perjalananku memasuki pusat kota Dubai boleh dibilang tak terlalu jauh, hanya berjarak tak lebih dari enam kilometer dan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua puluh menit.

Berburu Nol Card.
Interior Dubai Bus Nomor 77.
Penampakan Mall Al Ghurair Centre (merah) dan  Al Masraf Building (menjulang di kejauhan) dari Al Rigga Road.
Dubai Bus Nomor 77.
Gerbang Baniyas Square Station.
Salah satu sisi Baniyas Square.

Lewat pukul tujuh pagi, akhirnya bus tiba di Baniyas Square. Baniyas Square sendiri adalah alun-alun utama di Distrik Deira yang merupakan salah satu pusat sejarah kota megapolitan Dubai.

Aku harus segera menemukan penginapan yang sudah kupesan melalu e-commerce penginapan ternama secara daring.

Tak pernah kusangka, di sinilah masalah besar akan datang menderaku……

Dubai International Airport: Nafas Panjang di Kota Terpadat UEA

Desing mesin SriLankan Airlines UL 225 perlahan berkurang usai roda-roda raksasanya menyentuh landas pacu Dubai International Airport. Melakukan taxiing selama beberapa waktu akhirnya selongsong terbang itu merapat dan berhenti di salah satu titik apron bandara. Aerobridge segera dijulurkan ke pintu depan pesawat untuk mengakomodasi proses unloading segenap penumpang.

Aku pun bergegas keluar dari pesawat dan sejenak berhenti di tengah aerobridge, menghela nafas panjang dan masih tak percaya untuk pertama kalinya menginjak satu kawasan baru dalam sejarah petualanganku….Timur Tengah. Dan kini aku berada di kota terpadat di seantero Uni Emirat Arab, yupz….Dubai.

Perlahan aku menapaki Concourse D yang merupakan bagian dari Terminal 1….

Karena setiap keberangkatan dan kedatangan di Terminal 1 selalu dikonsentrasikan di Concourse D dan karena Concourse D ini merupakan bangunan terpisah dari Terminal 1 maka keduanya dihubungkan oleh Automated People Mover (APM) , singkat saja dengan istilah Terminal 1 APM.

Aku melewati koridor kedatangan yang tampak modern dengan dinding kaca keseluruhan di sisi kanan. Beberapa travelator disediakan untuk mempercepat langkah penumpang menuju Terminal 1 APM. Sedangkan jalur buggy cars di koridor kedatangan ditandai dengan jalur ubin berwarna hitam.

Concourse D-Dubai International Airport.
Koridor kedatangan.
Terminal 1 APM platform.

Dalam 20 menit aku tiba di platform Terminal 1 APM. Tampak petugas dnata perempuan berkebangsaan Philippina mengarahkan setiap penumpang menuju gerbong Terminal 1 APM yang telah datang. dnata sendiri adalah penyedia layanan udara terbesar di dunia yang memberikan penanganan darat di Dubai International Airport.

Karena aku harus mengambil beberapa gambar di Concourse D maka untuk berpindah ke Terminal 1, aku menunggu kedatangan Terminal 1 APM di kesempatan kedua.

Kereta itu pun tiba….

Aku bergegas memasukinya dengan mengikuti arahan dari staff dnata yang bertugas. Mengambil gerbong terdepan maka aku pun meluncur ke Terminal 1 untuk menyelesaikan urusan keimigrasian. Dan dalam sepuluh menit aku tiba di bangunan Terminal 1.

Kini aku dihadapkan pada deretan konter imigrasi yang memanjang memenuhi salah satu sisi ruangan. Dengan konter sebanyak itu, bisa dibayangkan berapa banyak pendaratan pesawat di bandara ini. Peran Dubai International Airport sebagai mainhub di Kawasan Timur Tengah memang tidak bisa diragukan lagi.

Beberapa waktu menunggu di antrian, tiba giliranku untuk menghadap ke petugas imigrasi yang mengenakan gamis dan ghutra berwarna putih bersih.

“Donny Suryanto from Indonesia”, ucapnya ketika mencocokkan passport dan dokumen keimigrasian di komputernya.

“Yes, Sir. I’m Donny from Indonesia”, jawabku tegas.

“Welcome to Dubai, Donny….Come!…Come!”, dia menunjukkan jalurku keluar dari area imigrasi.

Bombardier Innovia APM 300 buatan Jerman.
Menuju konter imigrasi.
Conveyor belt area.
Arrival hall.
Arrival hall.
Yuks, cari tempat tidur…..Wkwkwkwk.

Semudah itu aku melewati konter imigrasi. Kabar baiknya, petugas imigrasi itu memberikanku Tourist SIM Pack secara cuma-cuma. Mungkin ini sebagai bentuk promosi dari Du Mobile supaya para wisatawan membeli kuota dari penyedia jasa telekomunikasi tersebut.

Dengan mendapatkan SIM Card dengan kuota 20MB tersebut, aku tak perlu membeli kuota karena aku bisa melacak posisiku menggunakan GPS ketika berada di tengah kota nanti.

Langkahku pun berlanjut dengan meninggalkan area conveyor belt karena memang tak ada bagasi yang perlu kutunggu. Akhirnya aku pun menginjakkan kaki di Arrival Hall. Langkah pertama yang kulakukan adalah menukar beberapa Dollar Amerika dalam bentuk Dirham di konter Travelex. Seingatku aku hanya menukar uang sebesar 122 Dollar Amerika untuk mendapatkan 439 Dirham. Jumlah yang lebih dari cukup untuk berpetualang ala backpacker di Dubai.

Setelah mendapatkan Dirham yang cukup untuk keperluan eksplorasi, akhirnya aku mengambil tempat duduk di Arrival Hall untuk memejamkan mata sejenak karena masih ada waktu tiga jam menjelang fajar.

e-Visa UAE: Gagal di VFS Global, Sukses di DUBAIVISA

Saking lelahnya, aku pun tertidur di depan layar LCD TV di depan bangku bernomor 56G yang kududuki. Itulah penggalan cerita ketika aku terbang bersama SriLankan Airline bernomor terbang UL 225. Aku begitu menikmati penerbangan selama hampir lima jam dengan jarak lebih dari 3.000 km.

Aku bersiap memasuki Dubai dengan kepuasan tersendiri ketika mendarat. Bagaimana tidak? perjalanan menuju Dubai ini terjadi dibalik usaha yang keras untuk mendapatkan e-Visa Uni Emirat Arab.

Penerbanganku ke Dubai memang berjalan lancar tetapi sebetulnya banyak hal yang sebetulnya tak mulus berlangsung jauh sebelum penerbangan itu dilakukan. Akibat menggunakan SriLankan Airlines, aku akhirnya tak bisa mengurus visa di VFS Global Kuningan. Karena agensi ini hanya melayani pembuatan e-Visa Uni Emirate Arab untuk pemilik tiket Emirates Airline dan Etihad Airways.

Singkat cerita….

Aku mendatangi agensi itu di Kuningan City tepat satu bulan sebelum petualangan ke Kawasan Timur Tengah dimulai. Karena aturan agensi, setibanya di sana, aku diharuskan menitipkan laptop di sebuah konter di depan kantor VFS Global dengan biaya penitipan sebesar Rp. 50.000.

Berhasil memasuki kantornya maka bertanyalah aku kepada resepsionis yang sedang bertugas.

“Maaf, Mas….Kami tidak melayani pembuatan e-Visa untuk penerbangan menggunakan SriLankan Airlines, kami hanya melayani untuk penerbangan Etihad dan Emirates, Mas. Mohon maaf ya, Mas”

Aku melangkah gontai meninggalkan gedung itu. Dalam setiap langkah, aku telah merasa bahwa perjalananku menuju Dubai akan gagal. Aku pun telah berpikir untuk melewatkan Dubai begitu saja dan berniat untuk langsung menjadwal ulang penerbangan dan bermaksud langsung terbang ke Muscat saja seusai mendarat di Dubai. Itu artinya, aku harus mempercepat penerbangan Swiss Air dari Dubai menuju Muscat yang telah kupesan sembilan bulan sebelum keberangkatan.

Sirna sudah asa untuk mengunjungi gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa dan Palm Jumeirah.

Seminggu berikutnya…..

Ketika hendak menjadwal ulang penerbangan, pada suat malam, aku mencoba berselancar di internet untuk mencari agensi yang bisa membuatkan e-Visa UEA. Memang tidak ada agensi lokal yang memiliki otoritas untuk itu. Tetapi aku akhirnya menemukan agensi di UEA yang bisa membuatkan e-Visa.

Dari sekian banyak agensi yang menawarkan jasa itu, akhirnya aku berjodoh dengan DUBAIVISA. Melalui laman agensi itu, aku bertukar pesan dengan Mr. Salman Hyder. Setelah beberapa arahan darinya dan membaca testimoni pelanggan untuk agensi ini maka aku berani mempercayakan pembuatan e-Visa kepadanya.

Membayar jasa pebuatan sebesar 115 Dollar Amerika akhirnya aku mendapatkan e-Visa UEA dalam 29 jam. e-Visa itu aku unduh dari email yang dikirimkan oleh Mr. Salman Hyder. Dan setelah aku cek validitas e-Visa tersebut di laman resmi imigrasi pemerintah UEA, ternyata e-Visa itu memang dokumen keimigrasian yang valid. Walau sedikit mahal, tapi aku cukup bahagia karena asaku menuju Dubai akhirnya terjaga.

Mengajukan Aplikasi pada 7 Desember 2019
Biaya pembuatan e-Visa UEA.
e-Visa disetujui.
Yaaaiyy….Akhirnya berangkatlah diriku ke Dubai.

Apakah rugi membayar 115 Dollar Amerika?

Aku rasa tidak, toh jika kembali berhitung, harga tiket SriLankan Airlines menuju Dubai ditambahkan biaya pembuatan e-Visa tersebut ternyata masih tetap jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan menggunakan penerbangan Emirates Airline ataupun Etihad Airways dengan pembuatan e-Visa gratis di VFS Global.

Tapi tetap saja, memilih penerbangan apapun adalah pilihan, tergantung budget masing-masing ya.

Yuk, ikuti petualanganku di Dubai….