Traveler Bed Space For Male: Toko Elektronik Berdinding Kaca Tanpa Aktivitas

Sedari sebelumnya, di salah satu pojok perempatan, tepat di depan toko eletronik berdinding kaca tanpa aktivitas dan masih tertutup rapat, aku terus mencari kata atau tanda “Traveler Bed Space For Male”. Itulah nama yang tertera di e-Conformation Letter yang kudapatkan atas pemesanan kamar di salah satu e-commerce penginapan.

Tak mendapatkan tanda apapun, aku memutuskan untuk menetapkan radius pencarian hingga satu blok di sekitar toko elektronik itu. Aku belum akan mematikan harapan untuk mendapatkan kamar yang telah kupesan.

Bergeraklah diriku ke utara. Di salah satu gang aku melihat ada sebuah gedung tunggal yang tampaknya berfungsi sebagai apartemen, berwarna coklat dan tidak terlalu tinggi. Tampak para penghuni berlalu lalang walaupun tak terlalu banyak. Aku memutuskan masuk ke dalam lobby yang tak berpenjaga.

“Good morning, Sir. Can you help me? Do you know this place?”, aku menunjukkan e-confirmation letter yang kupegang sedari tadi kepadanya.

“I’m not sure about this place. I think I don’t know this place, Sir”, dia membaca lembaran yang kuberikan sembari menggaruk-garuk kepalanya sebagai pertanda dia kebingungan.

Aku pun meninggalkan Gedung itu setelah lelaki paruh baya itu meluncur ke atas menggunakan lift berukuran kecil.

Aku gagal di percobaan pertama.

Kasihan banget tuh orang….Kehilangan kamar.
Cari kemana ya?….Ya Allah.

Untuk selanjutnya langkahku tiba di ujung blok. Masih tak nampak tanda-tanda yang kucari, aku memutuskan mengikuti kontur blok menuju timur. Hingga aku tiba di sebuah tailor shop dengan dua pekerja yang tampak sibuk menjahit sebuah gamis. Tanpa pikir panjang, kuketuklah pintu toko jahit itu. Maka tergopohlah seorang dari mereka ke arah pintu setelah melihat keberadaanku.

Masih menanyakan dengan cara yang sama aku mencoba bercakap dengannya. Aku merasa kali ini percakapan hanya berjalan searah. Lelaki berperawakan Asia Selatan itu, Bangladesh tebakanku, hanya menunjukkan jarinya pada nama peninginapan di e-confirmation letter yang kutunjukkan kepadanya.

Traveler Bed Space For Male….Uhmmm….Uhmmmmm”, dia menatapku setelah membaca, kemudian membuang pandangannya lagi pada surat konfirmasi yang kupegang. Kali ini telunjuknya menunjuk pada alamat penginapan yang kupesan.

Maka setelahnya, dia melambai-lambaikan tangan kanannya, pertanda dia menyerah tanpa mampu sepatah katapun mengucapkan kata-kata,

Percobaan kedua pun sama….Mengalami kegagalan.

Langkahku kini tiba di ujung blok yang lain. Konturnya memaksaku menuju ke selatan. Di sisi itu aku sudah kehilangan akal sehat, aku tetiba memasuki sebuah flat empat lantai dengan desain melebar di sepanjang jalan.  Ada spanduk besar di atasnya dengan bacaan singkat “ To Let”, entah kenapa banyak bangunan di Distrik Deira yang menyertakan kata itu.

Tak menemukan siapapun di lantai pertama, aku melangkah ke lantai kedua. Hanya sepi yang kudapat di lantai kedua, membuatku terus menanjak hingga lantai ketiga. Bahkan sampai lantai keempat pun, tak ada siapa-siapa yang kutemukan. Aku hanya mendengar suara-suara penghuni di kamarnya masing-masing.

“Mungkin masih terlalu pagi”, bagitulah alasan yang kubuat sendiri untuk para penghuni yang masih enggan keluar kamar.

Melangkah gontai mengantarkanku tiba di ujung terakhir blok yang akan kulewati. Di blok sebelah selatan itu aku dihadapkan pada sebuah hotel bintang tiga, Al Farij Hotel namanya. Wajahku berubah sumringah, aku hanya berharap dengan bertanya kepada siapapun yang bekerja di bidang perhotelan akan memberikan titik terang atas keberadaan kamar yang kupesan.

Sebagai langkah pertama, aku bertanya kepada security yang bertugas. Maka bertemulah aku dengan petugas keamanan asal Philippina di depan hotel.

“The address is good….This is a same street with this hotel….Uhmmm. But, I never know about this hotel”, begitulah dia berbicara sambil tetap mengarahkan pandangannnya ke surat konformasi yang kuberikan.

Masih berusaha untuk membantu, dia membawaku ke dalam lobby hotel, berharap teman resepsionisnya yang juga asal Philippina bisa menbantuku.

“Oh, I’m sorry, Sir. I don’t know about this hotel before”, dia bicara sembari menatapku penuh kesedihan. Mungkin perempuan muda itu berempati kepadaku yang sama-sama berasal dari Asia Tenggara.

Aku merasa harapanku telah sirna. Aku pun memutuskan untuk memesan kamar di Al Farij Hotel yang sekarang aku sedang berada di lobbynya.

“How much the cheaper room in this hotel, Ms?”, aku bertanya kepada resepsionis muda itu.

“The remain room which we have is about 225 Dirham in rate, Sir”, perempuan itu menjelaskan.

“Oh, Okay”….Bukan, aku bukan menerima harga itu. Melainkan menolaknya dan memutuskan untuk pergi dari hotel itu. Harga itu terlalu mahal bagiku.

Mengucapkan terimakasih kepada resepsionis muda dan security tersebut, aku kembali melangkah. Kali ini aku jelas menuju ke titik semula. Itu artinya, hingga kembali ke titik awal, aku tak menemukan dimana penginapan yang telah kupesan.

Aku kembali menatap lekat toko elektronik berdinding kaca tanpa akivitas yang masih saja tak memberikan pentunjuk.

Ketika berdiri termangu, mendekatlah seorang Asia Tenggara. Dia menatap wajaku lekat-lekat sebelum memulai percakapan. Ya Tuhan, kini aku mendengar Bahasa Tagalog melintas di telingaku. Aku menunggu lelaki itu hingga akhir kata yang dia ucapkan. Lalu aku membalasnya,

“I’m sorry, brother. I don’t understand Tagalog. I’m from Indonesia”, aku bicara padanya dengan rasa sedih. Sepertinya dia juga sedang mencari sesuatu.

“Come on….Think something, Donny!”, naluriku kembali menyela untuk tak terlalu lama larut dalam kebingungan.

Aku kembali melangkah, kali ini menuju ke blok lain yang berada di sebelah barat.

Menjelajah sisi demi sisi, jengkal demi jengkal, gang demi gang, aku tak kunjung menemukan petunjuk. Hingga aku bertemu dengan dua pemuda yang sedang duduk di tepi trotoar dengan segelas kopi di masing-masing tangannya. Maka kuputuskan bertanya untuk terakhir kali kepada mereka.

Kedua pemuda itu melihat e-confirmation letterku dengan seksama. Mereka detail melihat informasi demi informasi yang tertera. Bukan nama atau alamat penginapan yang dia sasar. Melainkan koordinat dari letak penginapan itu.

Berburu koordinat di layar telepon pintar, mereka akhirnya mereka menemukan lokasinya. Aku dengan sigap memfoto koordinat yang tertampil di layar telepon pintar itu.

“Yesss”, hatiku berteriak girang setelah mendapat informasi itu.

“Hi, by the way, Where are both of you coming from?”, pertanyaan terakhir terlontar dari bibirku.

“We are Russian but lived in Dubai since we were kids”, salah satu mereka menjawab setelah menyeruput kopi di cangkir kertasnya.

Mencoba di blok lain.
Dikiranya sudah dapat….Ternyata prankkkk.

“Oh, yaaah….I myself come from Indonesia. Thanks you, brother”, aku memperkenalkan sekaligus undur diri dari hadapan mereka berdua.

Kini aku melangkah untuk menemukan koordinat itu, tak jauh, aku hanya menempuh langkah dalam lima menit dan akhirnya aku menemukan titik penginapan itu.

Ya, titik yang sama dengan titik semula dimana aku mengalami kebingungan….Sebuah toko elektronik berdinding kaca tanpa aktivitas.

“You are in big trouble, Donny….Big trouble”, aku menyumpahi diriku sendiri.

Traveler Bed Space For Male: “Nepalese….Nepalese?”

Baniyas Square….Tampak Dubai Bus bernomor 77 dan Mahboubi Medical Centre yang tinggi menjulang.

Pagi itu jalanan masih lengang. Namun kondisi itu tak serta merta mencuatkan takut dalam hati . Aku diturunkan oleh Dubai Bus Nomor 77 di sebuah alun-alun, Baniyas Square namanya, alun-alun yang terbentuk dari persilangan dua jalan protokol yaitu Al Maktoum Hospital Road dan Al Musalla Road. Dengan berdiri di tempat itu, berarti aku sudah berada di tepian barat Distrik Deira. Dan ketika menginjakkan kaki di Baniyas Square, tengara penting yang menarik perhatianku adalah Mahboubi Medical Centre yang tertampil dalam warna coklat dengan kelir hijau.

Langkah kaki mulai kuayun dengan mengitari zebra cross yang terlukis melingkari perempatan besar. Walaupun jalanan terlihat kosong, aku tak cukup nyali untuk mengompas jalur. Khawatir dihakimi peraturan lalu lintas yang kerap kali menyuguhkan denda, apalagi kuperhatikan ada beberapa unit CCTV yang mengintai ke arah perempatan. Menjadikanku harus sering berhenti menunggu nyala lampu hijau walaupun sebetulnya jalanan kosong melompong.

Usai menaklukkan perempatan, aku menyusuri tepian Al Musalla Road yang sunyi. Al Musalla Road sendiri merupakaan jalan dengan trotoar pembatas kecil di kedua ruasnya. Dalam langkah, sesekali aku berpapasan dengan warga lokal berumur yang sedang menikmati jogging pagi. Tak ragu mereka melemparkan senyum kepadaku, membuatku semakin berani melawan kelengangan kota.

Selanjutnya aku tiba di sebuah taman yang cukup lebar, kondisinya juga masih sunyi, Naif Park namanya. Aku terduduk di bangku beton tepat di depan taman itu. Menaruh backpack dan menyempatkan diri untuk menghirup panjang kesegaran udara pagi dan sejenak melepas pegal badan di bangku itu. Hanya saja rehatku terganggu oleh serakan poster mini seukuran kartu nama yang menawarkan jasa pijat dengan foto-foto seksi wanita Kerala….”Jangan-jangan pijat plus-plus ini mah”, batinku berprasangka buruk sembari melihat tajam foto-foto itu….Astagfirullah.

Tenaga telah terisi ulang, langkahku berlanjut dengan merubah haluan menuju timur, menyisir jalanan lain, yaitu Naif Road yang tak kalah lebar dengan Al Musalla Road. Hanya saja pembatas kedua ruas kini berganti menjadi jalur tanaman hias yang menghias sepanjang jalan.

Aku sengaja mengompas jalan supaya tiba lebih cepat di penginapan. Oleh karenanya usai melangkah sejauh tiga ratus meter di Naif Road maka aku memotong jalur dengan memasuki sebuah gang kecil demi menuju ke utara. Maka menyeliplah aku diantara bangunan-bangunan ruko dan rukan sekian lantai di salah satu sentra ekonomi milik Distrik Deira.

Melintas di Al Musalla Road.
Masih di Al Musalla Road.
Kacau…..Banyak nemu beginian di trotoar dan bangku taman.
Suasanan Naif Park.
Memasuki Naif Street.

Strategiku untuk mencapai penginapan sangatlah mudah. Aku hanya perlu mencocokkan titik penginapan yang dijelaskan pada cetakan surat konfirmasi pemesanan kamar dengan titik biru yang terus bergerak pada layar GPS telepon pintar yang terus kuamati sedari awal.

Singkat cerita, setelah meliak-liuk di beberapa jalan tembus, akhirnya aku tiba tepat di titik yang dimaksud. Di salah satu titik perempatan berukuran sedang, aku berdiri termangu, mengamati lekat-lekat sebuah toko peralatan elektronik dengan dinding kaca yang masih tertutup rapat, tidak ada pertanda adanya penginapan sama sekali.

Aku yang memiliki waktu bicara gratis tiga menit dari SIM Card Du Mobile akhirnya mencoba menelpon nomor penginapan yang tertera di surat konfimasi pemesanan.

“tut tut tut tut….”, begitulah bunyinya…..

Instingku mengatakan bahwa aku telah kehilangan jejak….Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja…..

“Plaaakkkk….”, sebuah tepukan keras mendarat di pundak kananku.

“Nepalese….Nepalese?”, lelaki muda bertubuh kurus tinggi dan berbadan gelap menengadahkan  telapak tangan yang kelima jarinya menunjuk ke mukaku.

“Nup….Nup…Indonesia”, aku menjawab tidak antusias.

“You like Nepalese, bro”, dia melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya.

“Oh, thanks….”, aku menjawab sekenanya.

Lelaki muda itu pun angkat kaki dari hadapan dan aku kembali masuk dalam kebingungan…..

Do something, Donny….Do something!”, aku memarahi diriku sendiri