Tokyo Shuttle dari Narita International Airport ke Tokyo

Aku melompat dari pintu depan dan tak lama kemudian wajah-wajah putih bermata sipit  memperhatikan dengan seksama kehadiranku. Senang rasanya aku bisa berbaur dengan kaum menengah di dalam bus itu. Aku bersama seluruh penumpang akan bergerak menuju pusat kota Tokyo. Lalu aku sudah saja mendudukkan diri di baris ketiga dari belakang, sebelah kanan dekat dengan kaca jendela. Aku terbantu dengan keberadaan soket elektrik untuk menambah daya gawai pintarku, tetapi sayang Wi-Fi itu tak bisa kumanfaatkan.

Kotak transportasi dengan warna kombinasi sepadan hijau putih itu konsisten menyemburkan campuran emisi dan uap air dari knalpotnya di limit beku udara Narita. Warna nama kombinasi merah-hijau sangat mencolok untuk mengingat brand moda transportasi yang satu kepemilikan dengan perusahaan kereta api swasta raksasa di dua prefektur yaitu Chiba dan Tokyo. Keisei nama perusahaan transportasi itu.

Tokyo Shuttle” begitu nama bus itu, akan merayap selama satu jam menuju Distrik Chiyoda dimana Stasiun Tokyo berada. Menyusuri jalanan kota sejauh 65 Km, bus melewati  Keisei Narita Avenue.

Keisei Narita Avenue.
JR Bus Kanto melintas.
Willer Express Bus mengejar.

Antar ruas jalan tol itu berbataskan guard rail dan setiap ruasnya hanya bersusun dua jalur. Jalan tol antar distrik yang biasa saja. Sebagian pepohonan yang tampak gersang akibat dormancy  menjadi pemandangan yang sering dalam perjalanan ini, menyisakah jari jemari dahan yang menunjuki langit.

Sementara sutet-sutet raksasa berjarak konsisten mengangkangi tol, mengalirkan listrik antar kota dengan gagahnya. Masuk lebih jauh, perjalanan mulai mempertontonkan kanal-kanal lebar dan bersih terawat dengan beberapa apartemen rendah, sedang dan tinggi pada jarak yang tak bisa dibilang rapat.

Ketika sebagian besar penumpang terlelap dan tertelan laju bus itu, fikiranku semakin runyam. Aku tak bisa menikmati injakan halus pedal gas sang sopir yang berhasil menyirap semua penumpangnya itu.

Apakah nanti akan semudah membalikkan telapak tangan saat mencari kereta ke Nakano?”.

“Bagaimana mencari tombol untuk membeli one day pass di stasiun nanti?”.

Bisakah aku menahan hawa dingin mencekat ini di luar sana?”

Aku tenggelam dalam kegelisahanku sendiri sepanjang perjalanan. Tak mampu menikmati dengan sepenuh hati pemandangan indah di luar sana. Padahal, bukannya selama ini aku merindukan Jepang. Duh….

Semakin pendek jarak dengan pusat kota, pemandangan berganti. Kanal-kanal yang masih saja bersih di jejali dengan bangunan-bangunan apartemen dan perkantoran yang berbaris rapat menongkrongi sepanjang kanal. Tapi tetap saja, semua tampak rapi, bersih dan teratur. Sungguh beradab bangsa itu.

Aku tiba di Stasiun Tokyo dan diturunkan di halte bus berbentuk persegi panjang dengan 5 kaki yang diletakkan pada dua sisinya saja, di pinggir Sotobori-dori Avenue tepat di depan Tekko Building. Aku tak pernah menemukan petunjuk pasti menuju gerbang stasiun itu.

Bahkan belum juga mencari petunjuk pun, aku sudah bersusah payah melawan udara musim dingin Jepang. Menjadi semakin heran kenapa penduduk setempat berlalu lalang begitu saja dengan selapis baju kantoran, tanpa sarung tangan, tanpa penutu kepala dan telinga. Berbeda denganku yang sudah berjaket lapis dua dengan tambahan t-shirt di lapisan pertama bajuku, winter gloves dan earmuffs. Masih saja aku bergetar melawan suhu beku itu.

Aku terus menyusuri jalan tanpa petunjuk latin itu. Hingga kutemukan tulisan latin pertama semenjak aku turun dari JR Bus Kanto. “Tokyo Station”, pelan kubaca signboard besar di atas bangunan stasiun. “TOKYO STATION Yaesu North Entrance”.

Mari menuju Nakano.

Kufikir lebih baik aku segera memasuki stasiun dan mencari kehangatan daripada  membeku di luaran sana.

Saatnya berfikir untuk menuju Nakano.