Inspirasi Menulis dari Tribhuvan International Airport.

Waktu begitu cepat. Sore kemarin aku masih mengeksplore area Basantapur. Tetapi kini sudah pukul empat pagi. Aku sudah saja mengguyur diri di bawah hangatnya shower Shangrila Butique Hotel. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, aku segera menuju resepsionis untuk check-out dan selangkah kemudian aku sudah turun di jalanan Thamel. Gelap, kosong dan penuh kekhawatiran.

Aku terus menyusuri jalanan dan berharap segera menemukan taksi, sementara dari arah belakang yang gelap terdengar suara derap langkah beberapa orang diiringi nyanyian Nepal yang membuat jantungku berdegup lebih kencang.  Kuberanikan diri menoleh ke belakang, lima pemuda tanggung melangkah cepat menyusulku. Sepertinya aku tak bisa lebih cepat lagi karena backpack membebaniku di punggung. Aku seakan pasrah jika terjadi sesuatu saat mereka benar-banar telah menyusulku.

Plakk”, tangan salah satu dari mereka menepuk pundak kananku kencang. “Ah, alamat”, batinku cepat merespon.

Good morning, Brother. Are you happy in Nepal?”, dia berucap sambil mengiringi langkahku yang terlanjur melambat ketakutan.

Hi….Yeaaa, nice country”, aku berkata lebih keras dari biasanya untuk menunjukkan keberanian saja.

Good….Be careful, bro”, dia melewatiku dengan cepat sementara keempat teman lainnya menatapku dengan senyum ringan dan serempak berucap “Hi”.

Oh, Tuhan terimakasih engkau masih mengirimkan orang-orang baik untuk menyapaku di gelapnya pagi.

Sampai pada sebuah perempatan, tampak deretan taksi mengantri untuk mengangkut penumpang. Taksi terdepan memancarkan lampu tembak ke arahku dan aku mengangkat tangan sebagai jawaban bahwa aku akan menggunakan jasanya.

Airport, Sir….How much?”, aku bertanya singkat.

Seven hundreds Rupee”, jawabnya sambil meraih backpackku yang menutup niatku untuk menawar.

“Ok”, tak ada jawaban lain yang bisa kulontarkan.

Taksi dengan cepat melaju kencang tanpa penghalang di Pashupati Road yang tentu masih senyap. Tak sampai 20 menit, taksi perlahan merapat ke Tribhuvan International Airport.

Pukul setengah enam pagi, airport masih tutup dan senyap.

Tak banyak yang bisa kulakukan, aku hanya menunggu di meja milik polisi bandara yang tampak kosong sambil terus menatap international gate dan berharap pintu itu segera dibuka karena udara sangat dingin diluar.

Perlahan penumpang berdatangan.

Orang Indonesia, mas?”, celetukan itu berasal dari arah belakang.  Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada siapapun di sampingku. Suara itu jelas menanyakanku. Aku menoleh kebelakang dan terlihat seorang perempuan berusia 30 an tersenyum ke arahku.

Loh, kok ibu tahu saya dari Indonesia?”, sahutku membalas senyumnya.

Itu mas”, Si ibu menunjuk salah satu kantong backpack yang tak tertutup sempurna dan sedikit menyingkap bendera merah putih yang sempat kukenakan  empat hari lalu di Sarangkot.

Alhasil kami saling bercakap sembari menunggu gate dibuka. Ternyata beliau ini adalah lulusan kampus ternama di Indonesia dan pekerja senior pada perusahaan eksplorasi minyak di Bangladesh. Setelah berwisata ke Nepal, dia akan kembali ke tanah air melalui New Delhi.

Sepesawat denganku ke New Delhi, dia bersambung terbang bersama Singapore Airlines yang transit di Singapura. Sementara aku akan mengeksplorasi New Delhi dan Agra terlebih dahulu.

Gate sudah dibuka, aku segera menuju konter check-in. Sedikit agak lama berproses, aku menguping bisikan antar mereka dan terucap kata internet connection.  Pantas proses online check-in ku gagal semalam.

Pertama kali terbang bersama Jet Airways.

Kemudian di deret lain konter imigrasi, kulihat Si Ibu berbincang hangat dengan petugas imigrasi. Bahasa Inggrisnya sangat fasih. Dia sempat menjelaskan kepadaku di waiting room bahwa petugas imigrasi di Asia cenderung lebih luwes daripada petugas di Eropa dan Amerika. Tentu aku mengamini itu.

Waiting Room Tribhuvan International Airport.
Si ibu mentraktirku secangkir chiya hingga pesawat tiba.

Boleh dibilang, Si Ibu yang tak mau disebutkan namanya inilah yang menginspirasiku untuk menulis dan membagikan setiap pengalaman perjalanan yang kulakukan sehingga bisa mensupport setiap traveler dengan informasi. Si Ibu sendiri tak pernah kesampaian menulis karena kesibukannya yang teramat sangat, padahal dia memiliki kisah-kisah yang luar biasa. Salah satunya ketika dia bisa selamat dari badai gurun yang menghantamnya di Kuwait.

Jet Airways bernomor terbang 9W 0263 telah siap. Aku keluar dari waiting room menuju parking lot. Ada satu keunikan yang tak pernah kualami sebelumnya, yaitu ketika ada pemerikasaan cabin baggage setiap penumpang di area extension tepat di depan pintu pesawat. Pengalaman yang menggelikan dan menyenangkan.

OK, saatnya terbang.

Sampai jumpa lagi Nepal. Selamat datang India.

Selamat Tinggal Basantapur

Melangkah meninggalkan Kumari Ghar, aku masih berfikir. Apabila Sang Kumar nanti telah pensiun, bagaimana dia bermasyarakat setelah selama belasan tahun hanya sekali setiap tahun keluar dari tempat tinggalnya, bagaimana dia bekerja hingga lelaki mana yang beruntung memiliki Sang Kumari itu….Ah sudahlah.

Langkahku sampai pada sebuah plaza nan luas. Bangunan putih memanjang berarsitektur Eropa mengapit pelataran luas itu di kiri dan kanan, sementara ditengahnya para pedagang souvenir meletakkan lapak-lapaknya.

Basantapur Dabali adalah landmark bersejarah yang wajib dikunjungi.

Memainkan peran sebagai  jantungnya Kathmandu, Basantapur memang menjadi tempat bertemunya khalayak dari berbagai penjuru untuk berpolitik dan berdagang sejak zaman Nepal masih berbentuk kerajaan. Oleh karenanya Basantapur selalu ramai hingga kini.

Untuk kamu millennial, Basantapur menyediakan banyak cafe modern untuk sekedar berhang out. Teh khas Himalaya pun mudah ditemukan di area ini. Kamu bisa merasakan nikmatnya Chiya (teh bercampur susu) di dinginnya udara Kathmandu.

Berburu Himalayan Tea di salah satu kedai.

Freak Street menjadi jalur yang terlihat cukup sibuk dengan keberadaan plaza ikonik ini. Pesona Basantapur Dabali menghinoptis siapa saja untuk bertahan berlama-lama menikmatinya. Tapi surya sudah jauh tergelincir, sudah saatnya aku meninggalkan Basantapur untuk kembali menuju Thamel.

Sinha Swan Khala, lembaga keagamaan yang cukup ramai di Freak Street.

Menikmati Kathmandu tak bisa dilakukan dengan menunggang taksi, pastikan kamu terus melangkah dan menikmati keotentikan budaya dan arsitekur Newar yang ada di setiap sisi kota.

Kini aku sudah kembali di jalanan Layaku Marg. “Layaku” adalah kata lain untuk “Durbar Square”, sedangkan “Durbar Square” sendiri berarti “Alun-alun Istana”. Memang benar apa adanya, Layaku Marg ini membelah Basantapur dan menempatkan istana Kerajaan Malla di salah satu sisinya.

Layaku Marg menuju ke area Bishal Bazaar.

Bishal Bazaar atau Vishal Bazaar merupakan area berbelanja yang dahulu cukup terkenal di Kathmandu. Ditandai dengan keberadaan mall tua dan China Market . Bishal Bazaar mungkin menjadi tempat yang tepat bagi para penggemar pernak-pernik perhiasan.

Area Basantapur dan Bishal Bazaar dibatasi oleh Jalan Sukra Path yang berawal dari Juddha Statue, sebuah patung di bundaran perempatan untuk menghormati Raja Nepal Juddha Shamsher Jang Bahadur Rana yang berperan besar dalam membangun negerinya dari kerusakan cukup parah akibat gempa Nepal pada tahun 1934.

Juddha Statue.
Salah satu sisi Sukra Path.

Sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan hingga ke Thamel, aku berusaha menikmati sibuknya aktivitas penduduk lokal dengan  memasuki sebuah resto di bilangan Sukra Path

Vegetable Chow mien seharga Rp. 15.000.

Sore itu adalah petang terakhirku menikmati kota Kathmandu karena keesokan harinya aku akan terbang menggunakan Jet Airways 9W 0263 menuju ibukota India. Mungkin malam nanti aku tak akan banyak keluyuran karena harus bersiap diri untuk berangkat ke Tribhuvan International Airport di gelapnya pagi.

Aku sampai di Thamel dan segera melakukan check-in online, malam nanti aku hanya keluar sebentar untuk menikmati santap malam saja.

Duh…cantiknya perempuan dalam iklan shampoo itu.

Goyang Bollywood di Jalanan Thamel

Aku ditempatkan di kamar lantai pertama dibalik sebelah kanan meja resepsionis Shangrila Boutiqe Hotel. Menaruh backpack 45 liter dan melepas ikat sepatu boots maka selang beberapa waktu, kubiarkan air hangat lama menyiram tubuh lelahku pasca hampir setengah hari berjibaku pada perjalanan darat meninggalkan Pokhara.

Tak ingin terjebak kejenuhan di dalam kamar, aku mulai menaiki tangga berkarpet merah menuju atap hotel. Di atas, seorang pemuda berdiri di meja kasir menyapa ringan dan menawarkan menu spesial restoran. Tak ada menu spesial yang kupesan, aku hanya akan menghabiskan senja dengan secangkir teh hangat dan menikmati pesona Thamel dari atas.

Restoran Shangrila Boutique Hotel.

Hingga kemudian hasrat petualanganku menggoda. Rasanya akan merugi jika tak merapat ke jalan dan menikmati suasana secara langsung. Thamel sungguh istimewa. Betapa tidak, jalanannya tiap malam dipersembahkan khusus untuk para tamu negara itu. Setiap ujung jalan dijaga oleh polisi yang tak akan membiarkan satu pun kendaraan bermotor lolos melintas masuk. Thamel selalu ramai ditumpahi para pelancong untuk menghabiskan malam Kathmandu.

Aku mulai ke jalanan.
Suasana sore menjelang gelap.

Tetap berdebu….Aku menelusuri jalanan yang dibatasi dengan kios-kios pashmina, souvenir, restoran, money changer, hotel ataupun kantor agen pariwisata di kiri-kanannya. Tips buat kamu…Jika tak berminat membeli pashmina, maka jangan berusaha menawarnya, penjual akan mengajakmu bertransaksi di dalam kios dan mereka adalah para negosiator ulung dan kupastikan kamu akan keluar dengan menenteng salah satu dari dagangan mereka.

Kios-kios penggoda kantong.
Khas bendera warna-warni seperti pada kuil mereka.

Sedikit kesulitan mencarinya karena sengaja menghindari menu restoran. Aku berjibaku mencari sebuah kedai untuk bersantap malam. Keluar masuk gang hingga akhirnya menemukannya, benar-benar jauh masuk ke dalam gang. Beruntung kedai kecil itu menyediakan momo.  Menyempurnakannya, aku memesan segelas kecil honey lemon tercampur potongan memanjang ginger yang membuatku terasa hangat.

Momo khas Nepal.

Kembali ke jalanan setelah hampir satu jam duduk di kedai itu. Menelusuri  jalanan yang berbeda, aku terhenti seketika di sebuah perempatan dan menoleh ke kanan. Sebuah kerumunan dengan musik menghentak-hentak di bilangan Chaksibari Marg. Setelah mendekatinya , ternyata sekelompok dancer sedang berlatih tarian Bollywood. Asik juga melihat secara langsung tarian itu secara langsung. Untuk tak ada pohon, bisa-bisa aku ikut menari mengelilinginya.

Mereka berlatih untuk sebuah film.

Semakin dingin, aku meninggalkan kerumunan  dan segera menuju ke hotel. Tapi yang namanya daerah wisata, para penggoda kembali menghentikan langkah. Kali ini seorang pemuda memanggil dan menawariku untuk menghabiskan malam dengan hangat di sebuah bar. “You can enjoy our band performance”, ungkapnya. Aku yang seumur hidup tak pernah memasuki bar kini mulai tergoda, “Oke lah, tak ada salahnya”, batinku.

Alhasil, aku mulai menaiki tangga Sisha Bar & Restaurant. Benar adanya, sebuah band lokal beranggota 4 pemuda millennial dengan 1 vokalis perempuan sedang melantunkan pop lokal yang membuatku bersemangat untuk segera duduk dan menikmati pertunjukan itu. Hingga aku menghabiskan dua porsi besar hot lemon with honey saking khusu’nya.

Malam yang indah dan tak terlupakan di Thamel

Salah Bangku di Tourist Bus Pokhara-Kathmandu.

Mr. Tirtha masih saja menemaniku berbincang, kami berdua berdiri bersandar di taksi mungilnya sembari mengamati kesibukan di sekitar Tourist Bus Park. Beberapa pedagang asongan silih berganti naik turun di seluruh bus berukuran tiga perempat menawarkan dagangannya.

Sewaktu kemudian, Mr. Tirtha  merentangkan tangannya lebar dan kami berpeluk ringan sebagai pengganti ucapan “terimakasih dan sampai jumpa”. Aku sengaja memasuki bus setengah jam sebelum keberangkatan. Akan lebih baik karena Mr. Tirtha bisa dengan segera melanjutkan mencari nafkah dengan taksinya.

Si kondektur menunjukkanku tempat dimana aku harus duduk. Baris kedua dibelakang sopir yang dibatasi sekat kaca. Kini pemandangan menjadi tegang, ketika sepasang suami istri India beradu mulut dengan si kondektur. Sejoli itu merasa dirugikan karena agen tiket di Kathmandu menjanjikan bangku paling depan buat mereka. Si kondektur dengan santainya balik menggertak, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Seketika suasana hening. Aku baru sadar, sejoli itu mengincar bangkuku….Hahaha, padahal jika disuruh tuker aku juga tak menolak. Ada-ada saja.

Europeans di depan itu seru bermain kartu sepanjang perjalanan.

Tiga setengah jam setelah keberangkatan pukul 7 pagi, bus berhenti untuk breakfast break selama 20 menit setelah sejam sebelumnya bus sudah sekali melakukan 15 menit toilet break. Sarapan yang diberikan Mr. Raj di pagi hari nampaknya cukup efektif bagiku untuk tak mengeluarkan budget konsumsi apapun kali ini. Yuk, kuperlihatkan bagaimana restoran tempatku berhenti:

Makan prasmanan aja ya!
Itu tarifnya.
Kopyah yang dipakai kasir itu bernama Dhaka Topi.
Ah masih kenyang….Ngopi aja lah.

Aku baru merasa kelaparan pada lunch break pukul 13:30,  menikmati se-thali (piring lebar khas India) makanan yang kuambil dari meja prasmanan seharga  Rp. 52.000 dan sebuah free-orange juice yang diberikan pada semua penumpang sejak pemberangkatan di Pokhara.

Lumayan free….  
Aku naik yang warna putih.

Jarum jam menunjuk pukul 15:34. Toilet break terakhir kali ini menjadi bagian paling berkesan.  Kumanfaatkan waktu dengan menelusuri area di sekitar tempat peristirahatan. Aku bergerak menuju tepian jalan dan menikmati panorama lembah dan jurang dibawahnya.

Kebanyakan truk di Nepal adalah Tata Motor.

Tergeletik dengan kehidupan di pinggiran jalan, aku memasuki sebuah gang kecil dan melihat sekelumit aktivitas warga lokal yang hidup di pinggiran jalan. Mengamati sebuah spanduk yang tertempel di sebuah sisi tembok beton, aku mencoba sedikit membuka kulit luar perpolitikan di Nepal.

Nepal adalah negara berbentuk republik parlementer yang memiliki empat partai politik utama. Communist Party of Nepal (CPN) menjadi partai pemenang di Nepal yang menempatkan dua tokoh pentingnya yaitu Khadga Prasad Sharma Oli sebagai Perdana Menteri dan Bidhya Devi Bhandari sebagai  Presiden negara tersebut.

Itu dia lambang CPN.

Kembali berada di bangku bus, perjalanan kali ini mengalami kemacetan luar biasa ketika menuruni bukit terakhir menjelang perbatasan Kathmandu. Layaknya kemacetan di Cianjur saat weekend tiba.

Bus merapat di Kanti Path pada pukul 17:08. Kelelahan yang teramat sangat membujukku untuk segera menemukan Shangrila Boutique Hotel di area Thamel. Aku menelusuri banyak gang-gang sempit dan menanyakan kepada penduduk lokal untuk menemukan lokasinya. Hanya berjalan selama 20 menit, akhirnya penginapan itu kutemukan.

Kuserahkan Rp. 280.000 sebagai tarif menginap per malam. Kali ini aku akan bermalam 2 petang di Kathmandu untuk menikmati wisata kota.

Tourist Bus dari Kathmandu ke Pokhara

Antrian bus di Kanti Path Road.

Cukup dengan Rp. 40.000 untuk menunggang taksi selama 10 menit dari Thamel ke Kanti Path Road. Jika tak takut tersasar, kamu juga boleh menempuhnya selama 20-25 menit dengan berjalan kaki.

Imajinasiku mengatakan bahwa bus yang sedang kukejar ini akan standby di sebuah kantor travel agent. Tetapi kenyataannya jauh diluar perandaian. Semua bus dari berbagai travel agent berbaris menyemut di sepanjang Kanti Path Road.

48 menit menjelang keberangkatan, kusempatkan bersarapan ringan karena ini adalah perjalanan panjang yang aku sendiri tak tahu bagaimana manajemen waktu perjalanannya.

BG’s Coffee Shop yang sudah buka di sisi Kanti Path Road.
Bisa juga sarapan di trotoar, gaes….Duh, anak sholeh bantu bapaknya jualan.

Tiket sendiri sudah kupesan via email dari Jakarta seharga Rp. 92.000, hanya saja pembayaran dilakukan di lokasi keberangkatan. Transaksi aneh yang kujumpai pertama kali di luar negeri. Kini masalahnya hanya satu, aku harus dioper ke bus lain karena menurut si penjual tiket, bus yang kupesan sudah fullseat (sepertinya ini memang strategi mereka, menjaring penumpang via email terlebih dahulu dan perihal akan ditempatkan di bus yang mana, itu urusan belakangan….Hahaha, cerdas).

Hebatnya lagi, Aku hanya diberikan selembar tiket lalu diminta untuk mencari bus secara mandiri di sepanjang Kanti Path Road berdasar plat nomor yang tertera di tiket. Penuh percaya diri kuiyakan perintah itu. Hanya saja, baru saja berjalan 5 menit mencarinya, aku mulai kewalahan….Ya puyeng lah!….Numerik Nepal kan berbeda dengan numerik latin!.

Parah….Kini setengah jam menuju keberangkatan mulai dihitung mundur. Tak berbekal akses komunikasi apapun, aku kembali lagi ke titik awal pencarian untuk bertanya kepada si penjual tiket yang nampaknya merangkap jabatan sebagai koordinator bus. Kelimpungan dibuatnya karena aku tak menemukan batang hidungnya. Kutunjukkan tiketku kepada beberapa orang di sekitar, mereka hanya manyahut “wait!….wait!”. Berusaha menyamarkan kepanikan dengan 15 menit tersisa menuju waktu keberangkatan, mataku lekat mengawasi satu persatu kerumunan orang untuk menemukan orang yang kucari. Yes, aku mengenali warna hijau penutup kepalanya dan kalungan handphone poliponik di lehernya. Kuhampiri dan memintanya menolongku menemukan armada yang termaksud dalam tiket….Beuh, dia hanya berucap singkat “Looking for the light green bus….Row number three from the front”. Melihatnya sibuk dan tak mungkin menemaniku mencari, aku segera berlari menuju barisan terdepan.

Akhirnya armada hijau muda bertolak tepat pukul 7. Berbekal seliter free-mineral water, aku terduduk di kursi paling belakang bersama mahasiswa asal Korea yang kemudian akan bercakap akrab sepanjang 8,5 jam perjalanan menuju Phokara.

Interior bus.

Sepanjang perjalanan, bus akan berhenti empat kali.

Dua kali untuk toilet break selama 15 menit yaitu break stop ke-1 pada jam 9:30 dan break stop ke-4 pada jam 14:30.

Selain toilet break, bus juga akan 2 kali berhenti untuk makan masing-masing berdurasi 20 menit. Break stop ke-2 untuk sarapan pada jam 10:30 dan break stop ke-3 untuk makan siang pada jam 13:30. Aku sedikit memperhatikan meja kasir rumah makan, terlihat bahwa sedikit banyaknya makanan yang diambil, penumpang secara merata membayar Rp. 53.000.

Duh imoetnya….
Harus cepat kalau ga mau ditinggal bus.
Bahkan aku tak sempat menguyahnya…..Masuk mulut langsung telan.

Selama perjalanan pula, aku sungguh terpesona ketika tersuguh pemandangan dari sisi kanan. Dedaunan yang memutih karena tertutup tebalnya debu jalanan, papan-papan iklan raksasa yang terpanjang di tengah pesawahan, jembatan-jembatan gantung penghubung antar bukit, kegiatan rafting di sepanjang sungai dan ramainya wisata Chandragiri Cable Car. Bahkan aku bisa dibuat tersenyum dengan tingkah warga yang berjemur di tengah hawa dingin 9°C sembari bermain karambol atau beberapa dari mereka mengelilingi api yang dinyalakan di pelataran rumah.

Debu….Lihatlah !
Sawah pun menjadi lahan komersil.
Punya tetangga ga tuh?….

Perlahan bus menaiki, menuruni dan mengelilingi pegunungan dengan jurang di sebelah kanan. Aku tak terlalu khawatir karena bus berjalan pelan. Satu hal yang kemudian membuatku tersadar bahwa kebanyakan mobil, truk dan bus di Nepal berasal dari pabrikan Tata Motor, India.

Lihatlah truk di area pertambangan di sepanjang Kathmandu-Pokhara.

Kupikir moda bertuliskan Tourist Bus ini tak akan mengambil penumpang di jalanan, ternyata dua kali kondektur ciliknya menaikkan penumpang, hanya saja tak sampai ada yang berdiri.

Perjalanan sempat terhenti karena terjadi kebocoran roda pada 15 menit sebelum mencapai Pokhara. Kondektur belasan tahun itu pontang-panting untuk mengganti roda, beruntung 3 sopir taksi datang membantu. Dalam kondisi seperti ini, aku masih sempat saja bertransaksi di sebuah pasar tumpah untuk mendapatkan sekantong jeruk seharga Rp. 13.000. Tetapi perbaikan yang terlalu lama dan tak kunjung usai, akhirnya aku dioper ke bus lain.

Taksi jadoel tapi ekslusif.

Di Pokhara, bus akan berhenti di Tourist Bus Park dengan pemandangan pegunungan Himalaya di belakangnya…..cuannteeekkkkk luar biasa.

Tak mengindahkan serbuan para sopir taksi, aku bergegas menuju sebuah kantor travel agent tak jauh dari tempatku turun. Yup…Aku berinisiatif untuk langsung memesan tiket balik menuju Kathmandu karena nantinya aku akan terbang ke New Delhi melalui Tribhuvan International Airport. Travel agent ini menawarkan tiga jenis harga tiket yang berkisar dari dari Rp. 80.000 hingga Rp. 105.000 tergantung dari kualitas bus. Tak ambil pikir panjang, aku memilih harga termurah.

Tourist Bus Park.

Yuk Explore Pokhara!

Lihat video terkait artikel ini disini: https://youtu.be/sSDNtAYx0tQ

Manis Pedas Asam Panipuri di Swayambhunath Stupa.

Destinasi pertama di Nepal.

Resepsionis: “Mr. Donny Suryanto from Indonesia?”, menyapaku ketika merapat ke mejanya.

Aku: “How do you know me?”.

Resepsionis: “Yes Sir, we are waiting for you. Our last room which we have. And you have kept it via Booking.com.

Aku: “yeaa wright….Hahaha, excellent.”, bersamaan menandatangani berkas beriring senyum.

Aku memasuki kamar Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000. Berencana singgah semalam di Kathmandu. Dan di keesokan pagi, aku berangkat menuju Pokhara untuk menikmati Himalaya.

Sempitnya waktu memaksaku untuk bergegas cepat. Mengurungkan niat berbasuh dan segera mengambil folding bag untuk kemudian kuisi dengan barang-barang penting, lalu menuju Swayambhunath Stupa.

Kini aku menyusuri jalanan sempit Thamel dengan hisapan debu yang  tak terelakkan di setiap langkah. Bau khas debu tersamar dengan bau wangi menyengat dupa yang perlahan memendek terlahap bara kecil di beberapa kios penjual pashmina.

Kuhampiri pengemudi yang sedang mengelap taksi mungilnya dari debu, kemudian memulai transaksi menuju Swayambhunath Stupa yang 3 km jauhnya dari tempatku menginap. Aku sengaja mengurungkan niat untuk menempuhnya dengan berjalan kaki karena khawatir hari kian sore.

Deretan stupa di Swayambhunath.

Rp. 50.000 adalah kata sepakatku dengannya. Selama perjalanan, irama pop Nepal yang aku sendiri tak pernah faham maknanya membuat kepalaku mengangguk-angguk mengikuti alunannya. Sesekali si driver merangkap si pemilik taxi menatapku penuh senyum dan akhirnya kita mengangguk-angguk bersama.

Si pengemudi taxi menyarankanku untuk turun di gerbang atas kuil saja. Perlu waktu lama katanya jika aku harus menapak dari gerbang bawah. Setelah mengiyakan sarannya, perlahan taxi mungil itu melaju melingkar mengikuti kontur bukit Swayambhu dan menurunkan tepat di gerbang depan.

Menjelajah di sela-sela stupa.

Penjaga gerbang: “Where are you come from?.”

Aku: “Indonesia, Sir

Penjaga gerbang: “Oh, I know….I know….Jokowi”.

Aku: “Hahaha great….You know that.

Penjaga gerbang: “He is very famous here”, ucapnya sembari merobek tiket masukku seharga Rp. 25.000.

Stupa utama Swayambhunath.
Lihat mata Buddha yang tajam itu !

Benar adanya, sesuai julukannya “Monkey Temple” maka area di sekitar stupa ini banyak dijumpai monyet yang riuh menyambut kedatangan pelawat di pelataran depan. Melintasi kolam perdamaian penuh koin yang dilempar oleh para pelawat. Konon mereka percaya do’anya akan terkabul jika melemparkan koin tersebut. Aku terus berlanjut menapaki tangga menuju tempat peribadatan utama di puncak bukit.

Putarlah maka do’amu akan terkabul.

Para jemaat bergantian datang dan memutar prayer wheels satu persatu….tentu mereka berharap Buddha mengabulkan permintaannya.

Di sekeliling stupa para penjual souvenir menawarkan barang dagangannya kepada para pelawat. Souvenir berbahan logam yang kusam terpapar debu tak menyurutkan niat para pelawat untuk membeli dan memilikinya.

Banyak titipan nih….

Melewati setiap alur di sekitar stupa, anjing sebagai satwa penjaga tampak lulut dan sebagian diantaranya tertidur pulas di sembarang tempat. Sementara ribuan bendera do’a warna-warni berjajar rapi pada sebuah tali yang berpusat pada stupa dan terbentang ke berbagai penjuru.

Menggemaskan.

Sementara di tepian lain, tersuguh sunset yang menyiram kota dengan spektrum kuning emas kemerahan. Perpaduan nuansa religi dan keindahan alam yang sangat memanjakan mata.

Kek Bandung dilihat dari Bukit Bintang kan?.

Keluar di gerbang yang sama, aku meluangkan waktu untuk menuruni jalanan, melihat aktivitas pedagang kaki lima. Langkahku terhenti pada kesibukan sepasang suami istri penjual panipuri. Lalu aku menebusnya seporsi dengan harga Rp. 12.000 dam mulai menikmati jajanan kaki lima Nepal untuk pertama kalinya. Rasa pedas bercampur asam manis dengan aroma kuat kari membuatku sedikit lambat menelan setiap potong panipuri yang kubeli. Pada akhirnya sejoli penjual itu menertawakanku ketika mengunyah jajanan itu sambil melotot.

Wajib menyicipi jajanan kaki lima.

Selepas menikmati jajanan ala rakyat Asia Selatan yang terkenal tersebut, aku menghentikan sebuah taxi yang baru saja menurunkan penumpang. Saatnya menuju penginapan, mandi dan bersiap diri menikmati dinner di malam pertamaku di Nepal.

Bye Swayambhunath….Bersiap menuju Pokhara esok hari.

Transportasi Lawas dari Tribhuvan International ke Thamel

Faktur pembuatan Visa on Arrival Nepal

Thai Airways TG 319 terparkir sempurna di parking lot Tribhuvan International Airport tepat pada pukul 14:08. Tak ada juluran aerobridge menyambut, satu persatu pelawat menuruni tangga di kedua sisi pintu pesawat.

Aveseq: “Hi, Sir….Please, directly stepping to airport building!”, sembari melangkah mendekat dengan menggenggam handy talky dan tangannya jelas menunjuk mukaku….Sangar dengan tubuh tegap gelap dan kumis tebalnya.

Nota pre-paid taxi Tribhuvan-Thamel.

Aku: “OK Sir….I’m sorry”, tanpa pikir panjang kumasukkan Motorola E4 hitam ke kantong kanan celana coklat Emba yang kukenakan.

Akhirnya aku gagal memasukkan gambar wajah beserta Thai Airways TG 319 dalam satu frame karenanya. Lalu aku mulai menyelip dalam iringan penumpang yang menyemut memasuki terminal.

Duh….musiknya jossss.

Kedua tanganku erat menggenggam shoulder harnesses backpack dan muka mendongak menoleh ke kanan-kiri memperhatikan dengan lekat interior Tribhuvan yang sekejap berasa melintas dalam ruangan sebuah kuil. Tembok bermotif bata merah coklat dengan beberapa hiasan ukir tersebar di setiap sudut ruangan. Kemudian aku disambut dengan sederet mesin aplikasi Visa on Arrival di sisi kiri. Tanpa perintah apapun, aku faham dan segera mengambil antrian di mesin sebelah tengah.

Dalam antrian, aku tergelitik dengan tingkah laku seorang anak yang sedang melakukan input data visa untuk ibunya yang berpostur pendek. Diperintahnya si Ibu untuk mendekat.

Suasana Ring Road menuju Thamel.

Cekrek 01….Jidatnya saja yang terfoto….Gagal.

Kemudian disuruhnya si Ibu untuk berjinjit.

Cekrek 02….Fotonya 100% muka….Gagal deui ahhh.

Sedetik kemudian si Ibu sambil menatapku penuh senyum, berdiri di atas kardus kecil yang beberapa waktu lalu masih ditentengnya.

Cekrek 03….Yeaaaa….Berhasil.

Mirip jalanan di India ya?

Aku segera menuju konter pembayaran setelah berhasil mencetak form aplikasi VoA. Tak perlu lama mengantri, aku mendapatkan visaku setelah menyerahkan Rp. 337.500 kepada staff perempuan bertubuh tambun berkain sari biru dan berumur setengah baya. “Oh, Indonesia. Welcome to Nepal and enjoy your trip.”, sapanya mengakhiri transaksi imigrasi kami.

Kini aku semakin dekat dengan pintu exit di arrival hall. Sebelum benar-benar keluar, aku melangkah pelan sekali untuk membaca segenap informasi di seluruh selasar. Sekejap aku cepat merapat ke papan informasi yang menampilkan harga transportasi menuju ke beberapa area di Kathmandu. Akhirnya lega mendapati tulisan “Thamel” yang menjadi tujuanku berikutnya. Hanya berharga Rp. 87.000 untuuk menaiki sebuah minivan merah kusam yang mampu menampung 4 penumpang dan bangku baris terakhir dilepas dan dirubah sebagai bagasi.

Debunya ruarrrr biasa.

Penjual tiket: “Where will you go?”, menanyaiku sambil memegang segepok nota transaksi berwarna merah.

Aku: “Thamel, Sir”.

Penjual tiket: “Do you want private booking or shared booking?“.

Aku: “Is there someone who ready for join with me?”.

Penjual tiket: “Come!….Come!”, menyuruhku untuk mengikutinya keluar pintu bandara.

Perlombaan para jasa wisata di area Thamel.

Sesaat kemudian, akhirnya aku memasuki sebuah mobil lawas mirip Suzuki carry keluaran tahun 80-an. Mobil itu melaju pelan meninggalkan Tribhuvan lalu menyusuri jalanan penuh debu. Ya, hanya debu yang kuingat pertama kali ketika harus bercerita mengenai “Negeri Seribu Kuil” ini.

Di sebuah perempatan, mobil berhenti dan memasukkan laki-laki berpakaian necis ala film Bollywood dan beraksen english luar biasa. Menawarkan segala rupa paket wisata, mulai dari hiking, rafting, trekking dan cannoing. Sudah menjadi rahasia umum bahwa warga Nepal berlomba-lomba mengais rezeqi dari keunggulan pariwisata mereka yang tersohor berkat keindahan pegunungan Himalaya.  Aku berujar kepadanya bahwa semua paket wisata yang akan kujalani selama di negerinya sudah kubeli dari Jakarta via online. Padahal nyatanya tak pernah ada paket wisata apapun yang kusiapkan. Aku lebih memilih melangkah menyusuri kata hati dan kaki saja dalam eksplorasi Kathmadu dan Pokhara.

Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000.

Melewati jalur Ring Road, aku terus tertegun dengan pemandangan jalanan yang sepintas mirip Indonesia tempoe doeloe. Thamel yang hanya berjarak 6 km dari Tribhuvan akhirnya tertempuh dalam 25 menit.

Kini aku memasuki area turis terkenal di Kathmandu. Diturunkan di sebuah gang dan driver taxi menunjukkanku ke arah mana harus melangkah menuju penginapan yang telah kupesan.

Welcome Thamel !