Transportasi Lawas dari Tribhuvan International ke Thamel

Faktur pembuatan Visa on Arrival Nepal

Thai Airways TG 319 terparkir sempurna di parking lot Tribhuvan International Airport tepat pada pukul 14:08. Tak ada juluran aerobridge menyambut, satu persatu pelawat menuruni tangga di kedua sisi pintu pesawat.

Aveseq: “Hi, Sir….Please, directly stepping to airport building!”, sembari melangkah mendekat dengan menggenggam handy talky dan tangannya jelas menunjuk mukaku….Sangar dengan tubuh tegap gelap dan kumis tebalnya.

Nota pre-paid taxi Tribhuvan-Thamel.

Aku: “OK Sir….I’m sorry”, tanpa pikir panjang kumasukkan Motorola E4 hitam ke kantong kanan celana coklat Emba yang kukenakan.

Akhirnya aku gagal memasukkan gambar wajah beserta Thai Airways TG 319 dalam satu frame karenanya. Lalu aku mulai menyelip dalam iringan penumpang yang menyemut memasuki terminal.

Duh….musiknya jossss.

Kedua tanganku erat menggenggam shoulder harnesses backpack dan muka mendongak menoleh ke kanan-kiri memperhatikan dengan lekat interior Tribhuvan yang sekejap berasa melintas dalam ruangan sebuah kuil. Tembok bermotif bata merah coklat dengan beberapa hiasan ukir tersebar di setiap sudut ruangan. Kemudian aku disambut dengan sederet mesin aplikasi Visa on Arrival di sisi kiri. Tanpa perintah apapun, aku faham dan segera mengambil antrian di mesin sebelah tengah.

Dalam antrian, aku tergelitik dengan tingkah laku seorang anak yang sedang melakukan input data visa untuk ibunya yang berpostur pendek. Diperintahnya si Ibu untuk mendekat.

Suasana Ring Road menuju Thamel.

Cekrek 01….Jidatnya saja yang terfoto….Gagal.

Kemudian disuruhnya si Ibu untuk berjinjit.

Cekrek 02….Fotonya 100% muka….Gagal deui ahhh.

Sedetik kemudian si Ibu sambil menatapku penuh senyum, berdiri di atas kardus kecil yang beberapa waktu lalu masih ditentengnya.

Cekrek 03….Yeaaaa….Berhasil.

Mirip jalanan di India ya?

Aku segera menuju konter pembayaran setelah berhasil mencetak form aplikasi VoA. Tak perlu lama mengantri, aku mendapatkan visaku setelah menyerahkan Rp. 337.500 kepada staff perempuan bertubuh tambun berkain sari biru dan berumur setengah baya. “Oh, Indonesia. Welcome to Nepal and enjoy your trip.”, sapanya mengakhiri transaksi imigrasi kami.

Kini aku semakin dekat dengan pintu exit di arrival hall. Sebelum benar-benar keluar, aku melangkah pelan sekali untuk membaca segenap informasi di seluruh selasar. Sekejap aku cepat merapat ke papan informasi yang menampilkan harga transportasi menuju ke beberapa area di Kathmandu. Akhirnya lega mendapati tulisan “Thamel” yang menjadi tujuanku berikutnya. Hanya berharga Rp. 87.000 untuuk menaiki sebuah minivan merah kusam yang mampu menampung 4 penumpang dan bangku baris terakhir dilepas dan dirubah sebagai bagasi.

Debunya ruarrrr biasa.

Penjual tiket: “Where will you go?”, menanyaiku sambil memegang segepok nota transaksi berwarna merah.

Aku: “Thamel, Sir”.

Penjual tiket: “Do you want private booking or shared booking?“.

Aku: “Is there someone who ready for join with me?”.

Penjual tiket: “Come!….Come!”, menyuruhku untuk mengikutinya keluar pintu bandara.

Perlombaan para jasa wisata di area Thamel.

Sesaat kemudian, akhirnya aku memasuki sebuah mobil lawas mirip Suzuki carry keluaran tahun 80-an. Mobil itu melaju pelan meninggalkan Tribhuvan lalu menyusuri jalanan penuh debu. Ya, hanya debu yang kuingat pertama kali ketika harus bercerita mengenai “Negeri Seribu Kuil” ini.

Di sebuah perempatan, mobil berhenti dan memasukkan laki-laki berpakaian necis ala film Bollywood dan beraksen english luar biasa. Menawarkan segala rupa paket wisata, mulai dari hiking, rafting, trekking dan cannoing. Sudah menjadi rahasia umum bahwa warga Nepal berlomba-lomba mengais rezeqi dari keunggulan pariwisata mereka yang tersohor berkat keindahan pegunungan Himalaya.  Aku berujar kepadanya bahwa semua paket wisata yang akan kujalani selama di negerinya sudah kubeli dari Jakarta via online. Padahal nyatanya tak pernah ada paket wisata apapun yang kusiapkan. Aku lebih memilih melangkah menyusuri kata hati dan kaki saja dalam eksplorasi Kathmadu dan Pokhara.

Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000.

Melewati jalur Ring Road, aku terus tertegun dengan pemandangan jalanan yang sepintas mirip Indonesia tempoe doeloe. Thamel yang hanya berjarak 6 km dari Tribhuvan akhirnya tertempuh dalam 25 menit.

Kini aku memasuki area turis terkenal di Kathmandu. Diturunkan di sebuah gang dan driver taxi menunjukkanku ke arah mana harus melangkah menuju penginapan yang telah kupesan.

Welcome Thamel !