Menjelajah Terminal Bersepadu Selatan

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang maghrib aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan pasca mengarungi perjalanan delapan setengah jam dari Kuala Terengganu menggunakan jasa Bus Arwana. Inilah terminal raksasa di selatan kota yang menggantikan peran Terminal Bus Puduraya yang terletak di tengah kota.

Malam itu, aku akan menginap di The Bed Station di daerah Pasar Seni, tapi aku tak perlu terburu waktu karena satu  bunk bed di penginapan itu sudah kuamankan melalui e-commerce penginapan ternama pada enam hari sebelum aku pergi meninggalkan rumah.

Ini bukan pertama kalinya aku menjejakkan langkah di Terminal Bersepadu Selatan. Pada Maret 2018, aku menyinggahinya untuk pertama kali ketika kembali dari Melaka. Sedangkan kunjungan kedua terjadi sembilan bulan kemudian ketika aku kembali dari Ipoh.

Tapi pada dua kunjungan terakhir, aku memang terburu waktu. Jadi kala itu pula, aku tak pernah ada niatan untuk mengenal sungguh-sungguh hub transportasi terbesar di Semenanjung Malaysia itu.

Tapi sore menjelang malam itu, alih-alih langsung melanjutkan perjalanan

Niatku kini berkembang….

Akhirnya menjelang malam itu, aku memutuskan untuk mengeksplore Terminal Bersepadu Selatan yang merupakan hub terintegrasi seluas 2 hektar bertinggikan enam lantai kebanggaan Negeri Jiran.­­

Sore itu, bus Arwana menurunkan setiap penumpangnya di balai ketibaan (arrival hall) lantai 2, tepatnya di sisi barat terminal. Begitu menuruni bus, aku dihadapkan pada lima escalator berjajar yang akan membawa setiap penumpang naik ke lantai 3. Kenapa demikian?….Karena di lantai 3 inilah letak titik konektivitas TBS dengan jalur transportasi umum lainnya.

Sementara penumpang yang memilih melanjutkan pulang menuju rumahnya masing-masing menggunakan kendaraan pribadi, tentunya kendaraan mereka sudah terparkir manis di lantai 4  hingga 6.

Memasuki pintu main lobby bangunan TBS lantai 3, aku langsung dihadapkan pada sebuah arrival lobby di sisi kanan pintu yang dipenuhi dengan barisan kursi. Sementara di depan arrival lobby juga terdapat TBS executive lounge bagi para penumpang berduit tentunya.

Sedangkan beberapa stand promosi perbankan tampak mengakuisisi beberapa sudut selasar, salah satu brand bank tersebut adalah PTPTN (Perbadanan Tabung Pendidikan Nasional) . LED Panduan & Informasi juga tak ketinggalan tertampil berisikan directory tentang lantai 1-6.

Selebihnya kios-kios terkait perjalanan seperti kedai peralatan telekomunikasi (DiGi salah satunya) dan minimarket (POINT dan 7-Eleven tampak di selasar) melengkapi keramaian selasar lantai 3.

Sisi barat terminal dimana platform ketibaan berada.
Platform ketibaan tampak dari lantai 3.
Arrival Lobby lantai 3.
Dua sisi gerbang pelepasan (departure gate).
Escalator menuju departure hall di lantai 2.
LED informasi pelepasan dan ketibaan.
Konter-konter penjualan tiket dilihat dari lantai 4.

Sebelum menuju ke pusat selasar, terdapat gerbang balai pelepasan yang dibagi dalam dua departure gate. Dua gerbang itulah yang akan mengantarkan penumpang menuju dua bagian departure hal l,  yaitu departure hall dengan platform 1-13 dan platform 14-16. Sedangkan tepat di sisi selatan departure lobby  terdapat pintu keluar menuju jembatan penghubung yang akan mengantarkan penumpang menuju jalur kereta komuter, LRT  Laluan Seremban dan kereta bandara (KLIA Transit). Selain kereta, tentu penumpang juga akan diarahkan untuk bisa menggunakan bus kota dan airport bus.

Berjalan hingga berada tepat di tengah ruangan lantai 3, terdapat dua papan LED raksasa untuk menampilkan jadwal berlepas (departure) dan ketibaan (arrival). Sedangkan di bawah dua LED tersebut, delapan belas  konter penjualan tampak berjajar mengakuisisi hampir separuh sisi selasar. Dan tepat di ujung awal konter penjualan tiket, tersedia enam mesin yang menjadi bagian dari pojok self service ticketing system. Dan akhirnya tepat di paling ujung selasar, disempurnakan dengan keberadaan pusat informasi untuk memfasilitasi kebutuhan informasi para penumpang.

Dari lift di ujung timur selasar, aku mulai naik ke lantai 4. Selasar lantai 4 ini di dominasi oleh food court, shopping centre dan tersedia juga transit hotel, serta akses menuju lokasi parkir. Dari lantai 4, aku menelusuri jalur tangga menuju lantai 5. Tak ada selasar lagi di lantai 5, melainkan semua lantai gedung didominasi medan kereta (parking area). Begitu pula lantai 6, juga digunakan untuk fungsi yang sama.

Setengah jam sudah aku puas mengeksplorasi seisi Terminal Bersepadu Selatan. Kini sudah saatnya bagiku untuk menuju ke The Bed Station. Aku harus segera merapat ke tengah kota sebelum kemalaman.

Selasar lantai 4 di terminal berusia 10 tahun itu tampak rapi.
Food court area lantai 4.
Area parkir di lantai 5.
Jembatan penghubung menuju stasiun Bandar Tasik Selatan.
Pemandangan dari jembatan penghubung ke arah timur.
Nah itu stasiun keretanya.

Akhirnya aku bergegas turun menggunakan escalator menuju lantai 3 rtuntuk meniti jembatan penghubung menuju ke LRT Laluan Seremban.

Kisah Selanjutnya—->

Bus Arwana dari Kuantan ke Kuala Lumpur

<—-Kisah Sebelumnya

Seperti adegan-adegan fiksi yang terjadi di terminal-terminal pemberangkatan, kali ini aku terharu ketika menyaksikan seorang perempuan muda beransel memeluk erat ibunya sembari menenteng travel bag besar. Dugaan termungkin adalah anak itu akan pergi jauh dari orang tuanya di Kuantan dan akan menuntut ilmu di ibu kota.

Naiknya perempuan muda itu melalui pintu depan Bus Arwana menjadi penanda bahwa perjalanan panjang harus segera dimulai lagi. Lima belas menit berhenti, waktu telah berhasil menyuguhkan berbagai aktivitas warga lokal yang unik di sepanjang platform Terminal Sentral Kuantan.

Bus perlahan keluar meninggalkan terminal terbesar di sepanjang pantai timur Malaysia itu, membelah Jalan Pintasan Kuantan yang menjadi jalan utama kota. Berbagai fasilitas publik dengan mudah tertangkap mata yang tak pernah mau tertidur demi menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.

Setengah jam lamanya bus menelusuri setiap sudut kota hingga akhirnya tiba di gerbang Distrik Gambang yang berada di sebelah barat Kota Kuantan. Distrik ini terkenal dengan aset alamnya, yaitu Hutan Lipur Pandan yang merupakan cagar alam besar yang menjadi milik bersama dua daerah, yaitu Kota Kuantan dan Distrik Gambang.

Lebuhraya Pantai Timur yang kulalui membelah sisi selatan cagar alam itu. Pemandangan hijau sangat mendominasi sisi kiri-kanan lebuh, mampu membuat mata menjadi sejuk dalam menikmati perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur.

Beberapa waktu kemudian, pemandangan cagar alam berubah menjadi kemunculan beberapa perkebunan kelapa sawit yang mudah sekali ditemukan di Distrik Maran. Maran memang terkenal sebagai penghasil minyak sawit di Malaysia, oleh karenanya, mataku mudah sekali menemukan hamparan perkebunan sawit di sepanjang jalan.

Kejutan lain adalah, semenjak terakhir melintas Sungai Kuantan di permulaan perjalanan dari Terminal Sentral Kuantan, kini aku dihadapkan kembali di kaca jendela, hamparan Sungai Pahang yang konon di beberapa bagian memiliki lebar lebih dari 500 meter. Kini aku tiba di Distrik Temerloh yang kotanya dikembangkan di pinggiran Sungai Pahang. Yang hanya perlu kamu tahu adalah, bahwa Kota Temerloh telah diproyeksikan pemerintah untuk menjadi ibu kota masa depan Negara Bagian Pahang untuk menggantikan Kota Kuantan.

Perjalanan lanjutan dimulai jam 2 siang. Akan menempuh jarak tak kurang dari 250 Km.
Stadium Hoki Indera Mahkota di Jalan Pintasan Kuantan, Kota Kuantan.
Tepian Lebuhraya Pantai Timur yang didominasi perkebunan kelapa sawit di Distrik Maran.
Sungai Pahang di Distrik Temerloh.

Dua jam lamanya, pesona alam adalah aset yang dipamerkan oleh Lebuhraya Pantai Timur, maka kini pemukiman penduduk mulai tampak ketika bus melintasi jalanan baru, yaitu Lebuhraya Kuala Lumpur-Karak. Kota yang kulalui kali ini merupakan bagian dari Distrik Bentong, distrik yang terkenal sebagai area peristirahatan untuk perjalan rute panjang Kuantan-Kuala Lumpur dan sebaliknya. Oleh karenanya, selain perkampungan, rest area banyak di temukan di distrik ini.

Tiga jam sudah perjalanan berlalu….

Kini nuansa kota mulai kentara. Dimulai dengan menelusuri Genting Sempah Tunnel. Inilah terowongan legendaris, karena tunnel ini menjadi terowongan jalan tol pertama di Malaysia. Bisa dikatakan terowongan ini adalah landmark utama sekaligus menjadi pembatas antara dua negara bagian, yaitu Negara Bagian Pahang dan Negara Bagian Selangor….Yeaaaay, aku kini sudah memasuki Distrik Gombak di Selangor.

Usai sebentar menikmati pemandangan Distrik Gombak, kini aku tiba di Kuala Lumpur. Kabar baiknya adalah, beberapa kali berkunjung ke Kuala Lumpur, baru kali ini aku sangat leluasa menikmati jalanan di utara kota. Pinggiran utara itu menujukkan kemakmuran dengan kesibukan pemerintah membangun fasilitas-fasilitas umum. Aku menikmati kesibukan, kemacetan dan hiruk pikuk kota hingga tak tersadar setengah jam berlalu untuk membuatkan tiba di Terminal Bersepadu Selatan di selatan kota.

Pemandangan di sekitar Kampung Cinta Manis, Kota Karak.
Rest area di Kampung Bukit Tinggi Betung, Distrik Bentong.
Genting Sempah Tunnel sepanjang 900 meter mengantarkanku memasuki perkotaan di Distrik Gombak.
Melawati Mall di Jalan Lingkaran Tengah, Kuala Lumpur.
Proyek di Jalan Lingkaran Tengah 2, Kuala Lumpur.
Hampir jam 6 sore aku tiba di Kuala Lumpur.

Aku tiba….

Lalu apalagi yang harus kulakukan?

Tiket bus Kuantan ke Kuala Lumpur (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Bus Arwana dari Kuala Terengganu ke Kuantan

<—-Kisah Sebelumnya

Aku terhuyung menyambar sembarang pegangan ketika terbangun mendadak dari tidur dan langsung menuju kamar mandi bersama ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul. Itu gegara aku menatap jarum jam dinding bertengger di angka setengah delapan.

Kacau”, aku mengutuk bangunku yang sudah terlalu siang. Ba’da Subuh tadi, aku memang sengaja menarik kembali selimut dan menutupi badan yang kedinginan. Beruntung, semalam aku sudah mengepack semua perbekalan.

Aku mandi dengan cepat, toh seluruh badan masih terasa bersih setelah terakhir mandi jam sepuluh malam tadi. Aku memakai kembali t-shirt yang semalam kupakai untuk tidur dan mengenakan celana jeans yang telah kusiapkan dari semalam.

Seusainya, aku menggemblok backpack di punggung dan menuju shared-kitchen untuk menyeduh serbuk oat dengan air panas dari dispenser. Sungguh menu sarapan yang menjemukan, tetapi masih saja kurepetisi semenjak tiga hari keluar dari rumah.

Sembari menyesap serbuk oat basah suap demi suap, aku mulai khawatir karena meja resepsionis itu masih gelap dan kosong.

Aduh, jam berapa staff akan siap?. bisa kesiangan nih mengejar bus”, aku membatin dan berharap, seusai sarapan nanti, staff akan datang sehingga aku bisa menyerahkan kunci dan mengambil uang deposit.

Ternyata hingga sarapan usai pun, ruangan masih saja lengang. Aku yang semakin was-was hanya bisa pasrah menunggu di lobby. Beruntung, lima belas menit kemudian, owner penginapan muncul dan langsung tersenyum ke arahku.

Nak check-out….maaf lamē menunggu”, dia memulai percakapan sembari menyalakan lampu ruangan dan menuju belakang meja. Sedikitnya tamu penginapan membuatnya tak perlu menanyakan identitas dan nomor kamarku karena dia pasti mudah menghafalnya. Tak butuh waktu lama untuk mengambil amplop bernomor kamarku dan berisikan uang deposit 30 Ringgit lalu memberikannya untukku.

Terimakasih, Pak Cik”, aku menerima uangnya dan menyerahkan kuncinya.

Sampe jumpē….Hati-hati”, dia melambaikan tangan ketika aku mulai menuruni tangga untuk meninggalkan penginapan.

Di luar penginapan….Untuk kelima kalinya, aku sempurna mengkhatamkan jalur menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Kini aku berjalan sangat cepat dan hanya berfokus untuk segera sampai di terminal. Lebih baik aku menunggu jauh dari jam keberangkatan bus daripada ketinggalan.

Hampir setengah sembilan ketika aku tiba tepat di depan konter tempatku membeli tiket kemarin.

Tunggu sahajē di platform 1, nanti bus nak datang”, begitu jawaban abang penjaga konter ketika aku bertanya dimana harus menunggu.

Whatever,  satu jam ke depan aku akan menunggu di sini saja”, aku membatin ketika mengakuisisi tempat duduk beton di sebelah platform 1.

Tetapi menunggu sesuatu di negeri orang selalu saja menarik. Mengamati aktivitas warga lokal di setiap sisi terminal membuatku berada jauh dari rasa bosan.

Hingga akhirnya aku terperanjat ketika sebuah bus warna merah maroon berkombinasi kuning muncul dari gerbang belakang terminal.

Arwana Group”, dengan jelas aku bisa membacanya dari kejauhan.

Ini dia bus yang sedang aku tunggu. Bus itu tiba lima belas menit sebelum keberangkatan. Bus berhenti tepat di platform 1 dan aku bergegas mendekatinya hingga seorang berwajah Arab menghentikan langkahku.

Kuala Lumpur….this?, pertanyaan singkat darinya terlempar untukku.

Yes….This bus goes to Kuala Lumpur”, aku menjawabnya singkat.

Where are you come from?”, aku menambahkan.

Yemen….

Is Yemen Okay now?”, setahuku negeri itu sedang dilanda perang saudara.

Yeaa…better

Aku melompat masuk dari pintu depan dan mencari tempat duduk nomor 13. Aku memilih bangku tunggal pada bus yang memiliki formasi bangku 2-1 tersebut.

Tepat pukul setengah sepuluh bus pun memulai perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur…..

Perjalanan seharga 43 Ringgit itu akan ditempuh dalam waktu 5 jam dan menempuh jarak tak kurang dari 450 km.

Bus mulai meninggalkan kota dengan menyisir Laluan Persekutuan 3, inilah rute darat utama di pantai timur Malaysia yang membentang sepanjang lebih dari 700 km, bermula dari Kelantan di utara dan berakhir di Johor Bahru di selatan. Aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyisir lebuh*1) tepi pantai dengan pemandangan paling indah di seantero Malaysia. Pemandangan paling menakjubkan dalam perjalanan ini adalah dimana aku bisa melintasi lebuh yang hanya berjarak 50 meter saja dari bibir pantai. Nanti akan kuperlihatkan keindahan lebuh ini.

Di awal perjalanan, aku masih ingat dengan pemandangan Kuala Terengganu yang tersaji hingga Kampung Kuala Ibai, karena aku telah melintasnya saat mengunjungi Masjid Tengku Tengah Zaharah tempoe hari. Tetapi setelah melintasi Sungai Ibai, aku benar-benar melewati daerah dengan pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Alih-alih tertidur, justru pemandangan itu sukses membuatku terjaga sepanjang perjalanan.

Dalam setengah jam, bus mulai keluar dari Distrik Kuala Terengganu dan memasuki Distrik Marang yang bergerbangkan Pantai Pandak. Tiga kilometer jauhnya, bus melintas di garis Pantai Rusila yang menjadi salah satu pemandangan terindah di distrik itu. Hingga akhirnya bus beristirahat sebentar di Hentian Bas Marang. Bus harus menjemput beberapa penumpangnya di terminal kecil tersebut.

Pemandangan usai jeda sejenak di terminal bus Kota Marang, mungkin menjadi pertunjukan utama perjalanan ini. Pemandangan tepi pantai yang indah terhampar sepanjang 50 kilometer yang dimulai dari Pantai Peranginan Kelutut hingga Pantai Batu Pelanduk di permulaan Distrik Kuala Dungun.

Busku telah tiba.
Saatnya memulai perjalanan panjang.
Pantai Peranginan Kelulut.
Salah satu sungai di Distrik Marang.
Hutan Lipur Rantau Abang di Laluan Persekutuan 3, Distrik Marang.
Jembatan Pulau Serai di atas Sungai Dungun, Jalan Kuala Terengganu, Distrik Kuala Dungun.

Dua jam perjalanan, bus kini telah purna melintas landmark utama Distrik Kuala Dungun, apalagi kalau bukan Sungai Dungun yang memiliki lebar tak kurang dari 300 meter.

Dengan cepat bus mulai memasuki Kota Paka. Kota ini adalah rumah bagi pembangkit listrik terbesar di Malaysia yang dijalankan oleh perusahaan listrik nasional, yaitu Tenaga Nasional. Tak heran hamparan luas stasiun tenaga listrik berada di kota ini.

Lebih dari sepuluh kilometer menyejajari liukan Sungai Paka hingga akhirnya bus keluar dari Kota Paka dan memasuki kota baru, yaitu Kota Kerteh.

Kerteh adalah kota minyak karena memiliki potensi minyak bumi yang tersimpan di dasar Laut Cina Selatan. Kota Kerteh menjadi salah satu tempat terpenting di negara bagian Terengganu karena penduduknya yang padat disertai dengan fasilitas publik yang lengkap.

Menulusuri Kota Kerteh membuatku faham bahwa Petronas, si perusahaan minyak raksasa Negeri Jiran itu menempatkan banyak fasilitas pentingnya di kota ini. Kilang-kilang minyak, pipa-pipa gas, pabrik-pabrik kimia dan kompleks perumahan Petronas mendominasi penampakan di sepanjang Jalan Kemaman-Dungun.

Hampir setengah jam, aku disuguhkan kesibukan bisnis perminyakan Kota Kerteh, hingga akhirnya bus tiba di daerah paling selatan dari negara bagian Terengganu, yaitu Distrik Kemaman. Inilah daerah perbatasan antara Negara Bagian Terengganu dan Negara Bagian Pahang.

Memasuki Kemaman, bus secara langsung membelah kota Chukai yang menjadi ibu kota Distrik Kemaman. Taman-taman kota terhampar di pojok-pojok kota, kemacetan mulai terasa, sedangkan Sungai Kemaman tampak membentang luas sebagai penghias utama Kota Chukai.

Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin di Jalan Paka, Kota Paka.
Sungai Paka tampak dari Jalan Kemaman-Dungun.
Stesen Janaelektrik Sultan Ismail, Kota Paka.
Kilang minyak milik Petronas di Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Jembatan Kertih, di atas Sungai Kertih, Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Taman Persiaran Chukai di Jalan Sulaimani, tepat di tepian Sungai Kemaman, Kota Chukai.
Jambatan Geliga di atas Sungai Kemaman, Jalan Kuantan-Kemaman, Distrik Kemaman.
Hentian Bas Ekpres Kemaman di Distrik Kemaman.

Di selatan Kota Chukai, bus berhenti untuk kedua kali. Kali ini bus mengambil dua penumpangnya di Hentian Bas Ekpres Kemaman. Purna mengangkut penumpangnya, bus melanjutkan perjalanan untuk keluar dari batas Negara Bagian Terengganu sisi selatan dan memulai petualangannya di Negara Bagian Pahang.

Masih satu jam lagi untuk tiba di Terminal Sentral Kuantan, terminal bus utama di Negara Bagian Pahang. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Aku yakin semua penumpang sedang merasakan hal yang sama ….Lapar.

Pucuk dicinta ulam tiba, seperempat jam usai memasuki Negara Bagian Pahang akhirnya bus menentukan persinggahan makan siangnya.  Adalah D’Cherating Cafe yang mengambil nama sesuai dengan daerah dimana rumah makan itu berdiri yaitu di Kampung Cherating.

Di sinilah, pengemudi membiarkan penumpangnya untuk menikmati makan siang selama setengah jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan sisa menuju Terminal Sentral Kuantan. Di akhir perjalanan itu, pengemudi berfokus di belakang kemudi untuk menyelesaikan 40 kilometer terakhir menuju ke terminal bus terbesar di pantai timur Malaysia.

Perjalanan tahap pertamaku usai sudah….

Usai jeda di Terminal Sentral Kuantan, aku akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir yaitu Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur.

Rumah Makan D’Cherating, Negara Bagian Pahang.
Terminal Sentral Kuantan di Jalan Pintasan Kuantan, Negara Bagian Pahang.

Tiket bus Kuala Terenganu ke Kuantan (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

lebuh*1) = Jalan

Kisah Selanjutnya—->

Exploring Penang Sentral

The increasing of direct flights from Jakarta to Penang, making traveler prefer landed at Penang International Airport rather than do travel overland for about 6-8 hours from Malaysia’s capital.

And if you are patient to do overland trip, your memory will be filled with interesting experiences and accompanied by breathtaking views throughout Selangor State and Perak State.

Then ….For you who travel overland using bus then majority of buses will stop at Penang Sentral which is tourist gateway of Penang Island.

Therefore….So you will not confuse and can get detail preview of Penang Central, so I present this article to you.

Yessss … that’s Penang Sentral appearance.

PENANG SENTRAL …. Built in 2018 as main transportation hub owned by Penang State. Penang Sentral strategically replaces Butterworth Bus Terminal role with an exceptional integration system. As you can imagine, this large building integrates bus terminal, train station and ferry port in a location. Third integrated building which I admire in Malaysia after KL Sentral and Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

Butterworth Bus Terminal before Penang Sentral is completed.
Source: Travel-Senang-Malaysia.com
Penang Island is seen from Penang Central.

—–****—–

This is my story of exploring Penang Central.…

At 13:54 hours, I arrived at Penang Sentral … yes, of course, I was dropped off at Drop Bay in 1st floor.

And for presenting this article, I delayed towards ferry terminal which can anchor me in George Town, capital of Penang State.

For 1 hour and 20 minutes, I would explore Penang Sentral.

FLOOR 1

Starting from this hall:

You will be dropped off at Drop Bay Area when you arrive at Penang Sentral.

Generally, 1st floor is used to drop and take passengers.

This is intercity/express bus platform area when I left Penang Sentral.

FLOOR 2

Come on, we’re going up to second floor. What are there?

After you go up escalator, you will see 2nd floor view.

So….What are you looking for?

  1. Bus Ticketing Counter.

Bus ticket sales counter is in front of me after I go up with escalator. I immediately buy a bus ticket to leave Penang with schedule about two days after my arrival in Penang. Existence of KiosK Self Ticketing which stuck to building pillar made me stop before reach sales counter. I am better to finding cheapest bus ticket via that machine, because many buses with varying fares provide routes to Ipoh.

Finally, I held Perak Transit bus ticket sheet after putting USD 5,2 in KiosK Self Ticketing machine….Bus ticket was in hand, my heart was calm.

That’s Penang Sentral Departure Board….Self Ticketing Kiosk is on that pillar. Do you see?

2. Information Centre

The first standard when arriving at a foreign place is visiting information centre to get as much information as possible before exploring it more deeply. So did I, asking about Penang tourism, asking for brochures, finding ways to leave the city in the best way and many other things which I asked to information centre officer.

Very easy to find it….It is in front of bus ticketing counter.

3. Ferry Terminal.

Walking on back side of Bus Ticketing Counter, in several meters you will find a linkway to Ferry Terminal. Located to left side of your steps, you will see clearly a direction sign whinch leading you to Ferry Terminal.

Linkway to Ferry Terminal.

Walk straight for about dozens of steps you will find a Customer Service Center which sells ferry tickets to George Town. The name of ferry terminal is Pangkalan Sultan Abdul Halim.

It’s cheap….ticket price is only USD 0,3 for a round trip ticket

4. Shopping Counter.

Actually more Shopping Counter are on 3rd floor. I didn’t have time to visit it because it was already late and if I didn’t leave Penang Sentral soon, my exploration in Penang Island would be disrupted.

Shopping counter which I showed was only on 2nd floor.

5. Eatery

Food stalls are located near linkway to Ferry Terminal. These are certainly guaranteed halal and relatively cheap in price.

Iqbal’s Restaurant is my place to eat when I enter and leave Penang
Try the squid….Delicious

6. Butterworth Station.

Another integrated transportation mode in Penang Sentral is train. Train station is called Butterworth Station. The station building is located separately from Penang Sentral main building.

To find this station. Walking straight pass Bus Ticketing Counter on 2nd floor, then you will find an lift at end of floor. Then go down to 1st floor via lift.

Lift is at end of 2nd
floor.

Not too far after exiting lift, on 1st floor then you will find a corridor with KTM (Keretapi Tanah Melayu) sign as a guide to Butterworth Station.

Front corridor appearance.

After a few tens of meters down the hall you will find a white building which is none other than Butterworth Station.

I rushed to hunt for an ETS (Electric Train Service) ticket but it was sold out.

OK…That is my story. I have explained all results of my exploration in Penang Sentral.

So, finally, you want to go to Penang by land or by air?

Mengenal Penang Sentral

Semakin banyaknya direct flight dari Jakarta menuju Penang, membuat para traveler lebih memilih untuk turun di Penang International Airport daripada harus bersusah payah melintasi daratan negeri jiran selama 6-8 jam dari ibukotanya.

Padahal jika Kamu mau saja bersabar untuk melakukan perjalanan darat tersebut maka memorimu akan terisi dengan pengalaman yang menarik dan disertai dengan pemandangan yang mempesona di sepanjang negara bagian Selangor dan Perak.

Lalu….Buat Kamu yang melakukan perjalanan darat menggunakan bus maka mayoritas bus akan berhenti di Penang Sentral yang merupakan gerbang darat wisata Pulau Penang.

Oleh karenanya….supaya Kamu tidak bingung dan bisa mendapatkan gambaran mengenai bentuk dan seluk beluk Penang Sentral, maka Kuhadirkan tulisan ini untuk Kalian.

Yessss….itulah penampakan Penang Sentral.

PENANG SENTRAL….Dibangun pada tahun 2018 sebagai main transportation hub milik Negara Bagian Penang. Penang Sentral secara strategis menggantikan peran Butterworth Bus Terminal dengan sistem integrasi yang luar biasa. Bisa Kamu bayangkan, bangunan besar itu mengintegrasikan terminal bus, stasiun kereta dan pelabuhan ferry dalam satu lokasi. Bangunan terintegrasi ketiga yang kukagumi di Malaysia setelah KL Sentral dan Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

Butterworth Bus Terminal sebelum Penang Sentral selesai dibangun.
Sumber: Travel-Penang-Malaysia.com
Pulau Penang dilihat dari Penang Sentral.

—–****—–

Inilah kisahku membedah Penang Sentral….

Jam 13:54, Aku sampai di Penang Sentral….ya iyalah, tentunya diturunkan di Drop Bay lantai 1.

Dan demi menghadirkan tulisan ini, Aku relakan diri menunda sejenak menuju ferry terminal yang bisa melabuhkanku di George Town si ibukota Negara Bagian Penang.

Selama 1 jam 20 menit, Aku akan mengeksplore Penang Sentral.

LANTAI 1

Bermula dari hall ini:

Kamu akan diturunkan di Drop Bay Area ketika tiba di Penang Sentral.

Secara umum lantai 1 ini digunakan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Ini adalah platform intercity/express bus area saat Aku meninggalkan Penang Sentral.

LANTAI 2

Yuk, Kita naik ke lantai 2. Ada apakah gerangan?

Begitu naik escalator, Kamu akan melihat sekilas luasnya lantai 2.

So….Apa yang kamu cari?

  1. Bus Ticketing Counter.

Konter penjualan tiket bus berada tepat dihadapanku setelah selesai menaiki escalator. Yang kulakukan saat itu adalah langsung membeli tiket bus untuk meninggalkan Penang dengan jadwal dua hari setelah kedatanganku di Penang. Keberadaan Self Ticketing KiosK yang menempel di salah satu pilar membuatku mengurungkan diri untuk bergegas ke konter. Lebih baik aku mengeksplore harga tiket bus termurah via mesin itu, karena banyak armada dengan tarif bervariasi menyediakan rute menuju Ipoh.

Akhirnya kugenggam lembaran tiket bus Perak Transit setelah memasukkan uang senilai Rp 70.000….Tiket bus di tangan, hati pun tenang.

Itu Departure Board Penang Sentral…. Self Ticketing Kiosk ada di pilar itu. Lihat ga?

2. Information Centre

Standar pertama ketika tiba di tempat asing adalah mengunjungi Information Centre untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum mengeksplorenya lebih dalam. Begitu pun Aku, menanyakan perihal pariwisata Penang, meminta brosur, mencari cara bagaimana meninggalkan kota dengan cara terbaik dan banyak hal lain yang kutanyakan ke petugas information centre.

Mudah kok menemukannya….tepat di depan Bus Ticketing Counter.

3. Ferry Terminal.

Berjalanlah membelakangi Bus Ticketing Counter maka setelah beberapa saat  Kamu akan menemukan linkway menuju Ferry Terminal. Terletak di sebelah kiri arah jalanmu maka akan terlihat dengan jelas direction sign menuju ke Ferry Terminal.

Linkway menuju Ferry Terminal.

Berjalanlah lurus maka dalam belasan langkah maka kamu akan menemukan Customer Service Centre yang menjual tiket ferry menuju George Town. Nama ferry terminalnya adalah Pangkalan Sultan Abdul Halim.

Murah kok….harga tiketnya Cuma Rp. 4.000. Satu tiket untuk pulang pergi

4. Shopping Counter.

Sebetulnya Shopping Counter lebih banyak berada di lantai 3. Aku tak sempat mengunjunginya karena sudah kesorean dan jika tak segera meninggalkan Penang Sentral maka eksplorasiku di Pulau Penang pasti akan terganggu.

Shopping Counter yang kutunjukkan ini hanya yang berada di lantai 2.

5. Eatery

Kedai penjual makanan ada di dekat linkway menuju Ferry Terminal. Sudah pasti dijamin kehalalannya dan harganya yang tergolong murah.

Iqbal’s Restaurant menjadi tempat makanku saat masuk dan keluar Penang
Cobain cuminya deh….maknyus

6. Stasiun Butterworth.

Satu moda transportasi lagi yang terintegrasi di Penang Sentral adalah kereta. Nah, stasiun keretanya bernama Stasiun Butterworth. Hanya saja bangunannya terletak terpisah dari bangunan utama Penang Sentral.

Untuk menemukan stasiun ini. Berjalanlah lurus melewati Bus Ticketing Counter di lantai 2, maka Kamu akan menemukan lift di ujung lantai. Kemudian turunlah ke lantai 1 melalui lift itu.

Lift diujung ruangan lantai 2.

Tak terlalu jauh setelah keluar dari lift di lantai 1 maka Kamu akan menemukan sebuah lorong dengan tanda KTM (Keretapi Tanah Melayu) sebagai petunjuk menuju Stasiun Butterworth.

Penampakan depan lorong.

Setelah beberapa puluh meter menyusuri lorong maka Kamu akan menemukan bangunan berwarna putih yang tak lain adalah Stasiun Butterworth.

Maksud hati berburu tiket ETS (Electric Train Service) tapi ternyata sold out….ealah.

OKE…Cukup sekian ya. Aku sudah menjelaskan semua hasil eksplorasiku di Penang Sentral.

Jadi, akhirnya Kamu mau ke Penang lewat darat atau lewat udara nih?…….

Bus from Malacca to Kuala Lumpur, Malaysia

After 5 hours trip in Malacca, I would stay in Kuala Lumpur because my flight to Jakarta would departure from Kuala Lumpur on tomorrow afternoon. In addition to got time for explored some places in Kuala Lumpur, I also felt more calm because I was near KLIA.

I’ve booked Hotel Pudu 88 near Puduraya Bus Terminal.

First step,  Of course I must go back to Melaka Sentral to got bus to Kuala Lumpur. To returned to Melaka Sentral, I used easy way …. I went back to starting point when I dropped by panorama bus at Bangunan Merah, Malacca. Long enough waiting for the bus …. almost 30 minutes,  a bus actually came.

Surely this bus took me around Malacca first then got back to Melaka Sentral. So during in bus, I could use the time to saw hustle-bustle of Malacca.

Panorama Bus Melaka

New model panorama bus …. when departing I rode old model one

By paying 2 Ringgit, I long enough rode around Malacca with this bus. After 45 minutes finally I arrived at Melaka Sentral.

When arrived at Melaka Sentral, I directly headed to Inter City Bus Terminal.

Terminal Bas Antara Negeri

I just followed this sign to found a bus to Kuala Lumpur.

No long searching, finally I found intercity bus ticket counters.

konter Bus ke KL

Didn’t worry…. a lot of buses options and prices …. just choosed …. Bus would departure every 30 minutes.

I got out of terminal room to saw some good buses to rode. Actually all buses were similar and I thought all buses were comfort. So I decided to grabbed fastest bus that would be departed.

Finally I bought Mayangsari bus ticket that would depart at 15:15. I must be hurried by bus timer because bus would depart in 2 minutes. Pity man who queued behind me, he couldn’t get a ticket and must wait for half an hour again.

I ran to bus and finally got a backseat, the seat number that I got wasn’t matching with seat number on ticket. I asked to ladies who sat on the middle seat….then a gentlemen behind them told me to sat anywhere …. It was free. Oh, that was the rule. Because available seat was at back, so that was my seat.

Bus Mayangsari 2

Left: The inside of Mayangsari bus that had route Melaka Sentral-Kuala Lumpur
Right: Mayangsari Bus when arriving at Terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur

tiket mayang sari

Cheap…. only 10 ringgit could move from Malacca to Kuala Lumpur

I didn’t know which way this bus was passed…. actually 2 hours later I arrived at Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

The first impression of seeing TBS was very amaze, for fist time I looked a large and clean bus terminal. Also LED information board was very large size for bus terminal standard.

Terminal Bersepadu Selatan

Terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur.
Left Top: arrival hall
Left Lower: ticket counter
Right top: Arrival and Departure Information Board

Right Lower: A guide sign to LRT network and KLIA Express train

Because this is an integrated bus terminal and train line to down town, So my eyes were carefully sweeping all information boards to get direction to Bandar Tasik Selatan station that was integrated with Terminal Bersepadu Selatan.

Both Terminal Bersepadu Selatan and Bandar Tasik Selatan Station are connected by a bridge aisle above road.

TBS dan BTS

Top left: Bandar Tasik Selatan Station
Lower left: Connection bridge between Bandar Tasik Selatan Station and Terminal Bersepadu Selatan
Top right: Terminal Bersepadu Selatan
Bottom right: a sign in bridge hallway towards Bandar Tasik Selatan Station

After arrived at Bandar Tasik Selatan Station, I bought ticket at an automatic ticket machine for 3 ringgit towards Plaza Rakyat Station because Hotel Pudu 88 is near it. LRT that I rode was Sri Petaling Line.

Got off at Plaza Rakyat Station, I must turn around UTC (Urban Transformation Centre) Pudu Sentral through a long hallway.

Stesen Plaza Rakyat

Left: Plaza Rakyat Station
Right: Long hallway from Plaza Rakyat Station towards Pudu Street.

utc pudu

UTC Pudu Sentral is a building where several government institutions such as Royal Malaysian Police (PDRM), Malaysian Immigration Office etc.

After reached end of block, I turned to walk through Pudu Street. After short walking, I saw Puduraya Bus Terminal at right side.

pudu sentral

Puduraya terminal on right side of road

After passed Puduraya Bus Terminal along 250 meters finally I found Hotel Pudu 88.

Hotel Pudu 88

My afternoon trip to Kuala Lumpur stopped here. A cheap and comfortable hotel to stay overnight.

Want to get tickets in Melaka and Kuala Lumpur without queuing? Try using 12go Asia services.Next is the link: https://12go.asia/?z=3283832