Lengah Melintas Pantai Batu Burok

<—-Kisah Sebelumnya

Kutempelkan access card untuk membuka gerbang penginapan yang tak berpenjaga.  Suasana jalanan telah ramai dengan kendaraan, senin pagi di Kuala Terengganu telah menggeliat.

Aku melangkah cepat tanpa menikmati keadaan sekitar, Ini kali keempat aku melewati jalanan yang sama selama dua hari di Kuala Terengganu. Beberapa waktu setelahnya, tanpa terasa aku sudah tenggelam di bawah kaki-kaki raksasa Paya Bunga Square.

Paya Bunga Square tampak tengah berbenah, petugas-petugas taman kota tampak sibuk di sekitar kendaraan bak terbuka yang terparkir dan mengangkut dahan-dahan pohon dari sekitar. Tampak beberapa dari petugas sibuk memotong dahan-dahan pokok yang bisa membahayakan para pengguna jalanan.

Aku menyelinap pada sebuah gang untuk menembus ke Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Sesampainya di terminal, aku bergegas menemui salah satu pengemudi Bas KITē yang tampak bersantai pada sebuah kedai kopi pojok terminal dengan sisa separuh batang sigaret di tangan kanannya.

Bas ke Pantai Batu Burok berangkat jam berapa, Pak Cik?”, aku melontarkan pertanyaan  setelah berada di dekatnya.

Pukul 11, bas sebelah kanan, bang”, dia menunjuk salah satu Bas KITē yang sedang terparkir.

Terimakasih, Pak Cik”, aku pergi dan tak mau mengganggu waktu mengopinya.

Masih ada waktu seperempat jam lagi sebelum Bas KITē berangkat. Aku memilih duduk di sebuah bangku beton di sisi utara terminal. Aku kembali mengatur ulang rencana perjalanan karena aku telah tertinggal trip pertama Bas KITē akibat kemalasanku untuk keluar dari penginapan lebih pagi.

Harus ada satu destinasi yang dikorbankan”, aku menghela nafas panjang. “Masjid Kristal”, aku menyebut destinasi yang dimaksud.

Selamat pagi, bang….Mau cobē tèksi”, seorang pengemudi taksi tiba-tiba sudah duduk di kananku. “Mau melawat kemanē, bang?”, percakapan yang lebih serius pun dimulai.

Pantai Batu Burok, Pak Cik….Tapi saya naik Bas KITē saja….Hari ini saya akan mencoba naik Bas KITē berkeliling Terengganu”, aku menjawab gamblang tanpa basa-basi.

Mungkin besok sayē  bisa antar abang pusing-pusing Terengganu….Tak mahal lah”, dia tak menyerah begitu saja.

Besok saya sudah balik ke KL, Pak Cik”, aku kembali menutup peluang.

Oh, Ok….Tak apē lah, bang”, akhirnya dia memilih mengeluarkan sigaretnya, menyulut dan menghisapnya serta memulai percakapan lain.

Kami terasa akrab, berbicara sembarang hal mengenai aktivitasnya sebagai pengemudi taksi di Terengganu hingga dugaan salahnya yang mengira aku adalah seorang TKA asal Indonesia yang bekerja di Kuala Lumpur.

Percakapan sepuluh menit itu usai ketika pengemudi Bas KITē melambaikan tangan kepadaku sebagai penanda bus akan memulai perjalanan.

Aku melompat ke dalam Bas KITē dan dalam sekejap langsung terkagum dengan interior bus kota itu. Cerminan budaya dan corak Terengganu terejawantahkan dalam ukiran pada bangku bus yang membuatnya tampak elegan.

Melompat dari pintu depan, aku bertanya kepada pengemudi perihal ongkos.

Pantai Batu Burok….Berapa, Pak Cik?”, aku mulai membuka dompet yang kusimpan di folding bag.

“3 Ringgit sahajē lah

Usai menyerahkan tiga lembar Ringgit warna biru, aku mengambil tempat duduk di bangku paling depan, aku bermaksud memohon sebuah permintaan kepada pengemudi karena perbincanganku dengannnya saat coffee time belumlah tuntas.

Tolong turunkan saya di Pantai Batu Burok, Pak Cik!”, aku sedari awal menanggulangi kebablasan untuk berhenti. Itu karena aku tak tahu bagaimana aturan naik dan turun ketika menggunakan jasa Bas KITē, bisa saja bus kota ini memperbolehkan penumpangnya turun atau naik di sembarang tempat.

Dekat lah….”, dia menjawab singkat sembari sibuk menerima ongkos dari penumpang lokal yang naik.

Setelah semua siap, Bas KITē mulai melakukan perjalanan. Saatnya menikmati perjalanan keliling kota. Dan saatnya bagiku untuk menangkap pemandangan mengesankan melalui bangku belakang. Yups, aku berpindah posisi duduk.

Setelah kemarin aku menikmati keindahan kota dengan seharian berjalan kaki. Kini mataku akan disuguhkan scene cepat pemandangan Terengganu. Baiklah, mari kusuguhkan pemandangan itu:

TD 1303 perusahaan penyewaan virtual office di Jalan Sultan Zainal Abidin.
Pemeriksaan dokumen kendaraan oleh Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ)/ Departemen Transportasi Jalan Malaysia di Jalan Persinggahan.
Menyusuri tepian pantai di sepanjang Jalan Persinggahan.
Persimpangan tiga jalan, yaitu Jalan Kelab Kerajaan, Jalan Pantai Batu Burok dan Jalan Persinggahan
Kuala Terengganu Hockey Stadium di Jalan Kelab Kerajaan.

Seharusnya aku bersiap diri usai melintas Kuala Terengganu Hockey Stadium karena Pantai Batu Burok berada di sekitar area itu. Tetapi aku masih saja menikmati pemandangan di atas laju Bas KITē karena aku sudah berpesan pada pengemudi untuk menurunkanku di Pantai Batu Burok.

Beberapa menit kemudian aku merasa janggal karena Bas KITē tak lagi berada di sekitar pantai. “Sepertinya pengemudi melupakan pesanku”, aku menyimpulkan.

Benar adanya, tetiba Bas KITē telah merapat di sebuah masjid apung. Aku tahu masjid itu, tak lain lagi itulah Masjid Tengku Tengah Zaharah. “Aku terlewat, aku harus turun di sini”, aku akhirnya memutuskan.

Nasi telah menjadi bubur, aku melewatkan satu destinasi penting. Terbatasnya waktu eksplorasi, kini aku berfokus menikmati keindahan Masjid Tengku Tengah Zaharah saja.

Aku pun mulai melarutkan diri ke dalam keindahan arsitektur masjid unik itu, satu jam lamanya aku menikmati keagungannya hingga aku menyadari sesuatu. “Sepertinya itu suara debur ombak”, aku segera keluar masjid dan mendekati arah suara.

Melangkah menerobos hutan Rhu*1), aku tiba di tepian pantai. “Great….Tuhan memberiku kesempatan lain untuk menikmati pantai di Terengganu”. Ini memang bukan Pantai Batu Burok, tetapi pantai di timur Masjid Tengku Tengah Zaharah ini terlihat lebih alami tanpa unsur sentuhan manusia.

Berbeda dengan Pantai batu Burok yang sejatinya telah terselip aroma bisnis. Berbagai kegiatan pengunjung seperti bermain layang-layang, berkuda, berkendara ATV ataupun berdirinya berbagai kedai-kedai kuliner yang menjual es krim goreng, nasi dagang ataupun menu andalan Terengganu seperti keropok lekor menjadi sesuatu yang sedikit mengurangi kealamian bentangan pantai itu. Pantai Batu Burok memang menjadi destinasi pilihan warga Terengganu saat libur akhir pekan tiba, bahkan tak sedikit warga dari luar Terengganu hadir di tempat itu sekedar untuk bersantai.

Tak khayal pantai paling bersih di Terengganu itu dikelola dengan serius oleh pemerintah kota. Bagi kamu penggemar kuliner, datanglah setiap Jum’at sore untuk menikmati pembukaan kedai-kedai kuliner lokal di pantai itu.

Tapi aku telah melupakan hingar bingar Pantai Batu Burok, di depanku kini terbentang sebuah pantai, letak persisnya adalah di sebelah selatan Pantai Batu Burok. Sebuah pantai nan tenang tanpa pengunjung. Begitu indahnya hamparan air laut berwarna biru kehijauan berpadu dengan bentangan pasir putih dengan batas pokok-pokok Rhu yang tinggi menghijau.

Keren kan?
Duduk dan tenang sejenak.

Sejenak aku akan menikmati sepoi-sepoi angin Laut China Selatan dengan duduk diatas dahan Rhu yang roboh….Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan gantinya…..

Keterangan kata:

Rhu*1) : Pohon cemara laut atau pepohonan casuarina

Kisah Selanjutnya—->