Mengintip Devi’s Fall di Gupteshwor Mahadev Cave

Bunyi klakson membuatku menoleh ke kiri ketika baru saja beranjak keluar dari sebuah kedai mie di Tashiling. Ya, suara cempreng itu berasal dari taksi Mr. Tirtha yang entah sejak kapan sudah terparkir di bawah sebuah pohon tepat di arah keluar area Tashiling.

I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water debit is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from the cave”, tutur Mr. Tirtha sembari memutar setirnya ke kiri memasuki jalan Shital Path. Aku mengiyakan saja informasi itu.

Devi’s Fall sering dijuluk David’s Fall sejak berpuluh-puluh tahun lalu ketika seorang Swiss tenggelam termakan arus di air terjun ini.

OK….We are arriving”, seloroh Mr. Tirtha sambil menjentikkan jari ketika baru saja berbelok ke kanan mengikuti arus jalanan Siddhartha Rajmag.

Aku mulai memasuki gapura Gupteshwor Mahadev Cave yang di puncaknya didudukkan Dewa Siwa yang gagah bersila menggenggam trisula. Melewatinya, untuk kemudian menelusuri jalur masuk beratap terpal dengan deretan kios souvenir di kiri-kanan. Kemudian aku disambut dengan kehadiran patung Dewa Wisnu yang tertidur di sebelah bangunan utama.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_165707863_HDR.jpg
Balkon utama.

Saatnya menuju ke bagian balkon beton untuk membeli selembar tiket seharga Rp. 13.500. Sebelum menuruni tangga menuju mulut goa, sejenak aku memperhatikan detail dinding tangga yang dengan jarak teratur menampilkan pahatan Dewa-Dewi yang mungkin secara implisit menampilkan sebuah lakon tertentu.

Tangga menuju mulut goa.

Perbedaan suhu sudah mulai terasa pada pijakan pertama di mulut goa. Kini aku bersiap menelusuri goa terpanjang di Nepal.

Cow Shed”, aku tertegun memperhatikan sebuah kandang sapi berpagar besi biru. Bertanyalah aku kepada orang lokal yang sedang berbincang di depannya. Katanya singkat bahwa sapi ini melindungi Dewa Siwa. Aku mengangguk seakan faham.

Menuruni tangga melalui sisi kanan kandang aku merasa tarikan nafas semakin berat. Ruang sempit gelap lembab membuatnya demikian. Kemudian cahaya terang kembali kujumpai pada sebuah kuil yang didedikasikan untuk memuliakan Dewa Siwa.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_170114903_HDR.jpg
Dasar Donny….Kamu mencuri gambar….Kan “No Camera”….Parah.

Konon goa ini ditemukan pada abad ke-16 dengan kondisi mulut goa tertutup rerumputan. Orang lokal menamai goa ini Bhalu Dulo. Ketika ditemukan, sudah terdapat ukiran beberapa Dewa Dewi Hindu seperti Mahadev, Parvati, Nageshwor dan Saraswati.

Kini tangga menuju ka dasar goa semakin tajam dan licin. Air terus menetes dari stalagtit yang terhampar merata di atap goa. Sedikitnya lampu penerangan membuat perjalanan ke bawah menjadi sangat pelan.

Hati-hati ya…..

Akhirnya penampakan dasar goa terpampang menakjubkan. Ruangan yang sangat luas berada di bawah tanah. Kemudian di salah satu sisi tertampil sebuah celah alami yang menjadi satu-satunya lubang untuk menikmati keindahan Devi’s Fall.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_170803449_HDR.jpg
Itu Devi’s Fall….Keren kan ya?.

Lihat situasi Gupteshwor Mahadev Cave disini:

https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

Karya alam milik Tuhan yang luar biasa….

Semangkuk Mie di Tashiling Tibetan Refugee Camp

Aku sudah faham sebelum Mr. Tirtha memberitahuku bahwa destinasi berikutnya adalah Tashiling, pemukiman para pengungsi Tibet di Pokhara. Nepal sendiri memberikan akses migrasi ini karena sejak zaman dahulu, Tibet dan Nepal telah memiliki hubungan kerjasama yang erat dalam bidang ekonomi, diplomasi dan budaya. Kedua belah pihak pernah berulangkali dalam sejarah menandatangi berbagai perjanjian kerjasama sebagai dua bangsa yang saling berdaulat.

Bertolak dari International Mountain Museum, taksi kini merapat ke timur dan berlari sejauh 3,5 km. Kali ini Mr. Tirtha yang berganti menginterupsi perjalanan, dia berhenti di sebuah apotek untuk membeli seracik obat. Dia bertutur dengan tabah, bahwa ayah kandungnya mengalami gangguan liver yang mengharuskannya menyisihkan penghasilan dari menyopir taksi untuk pengobatan sang ayah.

Namaska”, teriaknya pada teman-teman seprofesinya di jalanan. Dia sedikit menjelaskan bahwa Namaska adalah sapaan yang mirip dengan “Namaste”. 

Kemudian, dia menegaskan bahwa pariwisata bak emas buat negaranya. Jadi banyak orang seusianya berjuang memiliki sebuah mobil kecil untuk dipekerjakan menjadi sebuah taksi. Dan english adalah kunci bagi mereka untuk menggaet wisatawan….”Maaf Mr Tirtha, kalau di Jakarta, aku lebih memilih menjadi salesman dengan komisinya”….Hahaha, dia tertawa lebar.

15 menit kemudian, taksi keluar dari jalan utama Siddhartha Rajmarg. Berhenti di sebuah jalanan tanah. “Welcome to Tashiling”, Ucap Mr. Tirtha.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_155437418_HDR.jpg
Pemandangan Tashiling dari dropping point.

Langkahku langsung tertuju pada deretan kios penjual souvenir. Yesss….Disitulah para Tibetan mengais rezeqi untuk menyambung hidup di pengungsian. Dalam perjalanan pulang nanti, Mr. Tirtha menyayangkan para Tibetan yang bermigrasi ini karena saat ini Tiongkok sudah lebih memperhatikan kesejahteraan Tibet.

Si bapak yang begitu ramah menjelaskan berbagai makna dari barang dagangannya.

Memasuki perkampungan berusia 56 tahun ini, aku bisa mengintip sedikit budaya Tibet. Cara mereka berpakaian dan beribadah adalah hal yang gampang ditangkap dalam kunjungan singkat ini. Keramahan penduduk berbadan mungil dengan kulit sawo matang dan bermata sipit menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Menurut pengakuan dari salah satu mereka, ada sekitar 700 pengungsi Tibet di kampung ini. Bahkan di masa-masa awal pengungsian terdapat hampir 2.000 warga.

Tashiling sendiri hanya merupakan salah satu dari 12 kamp pengungsian di seluruh penjuru Nepal. Seperti diketahui bahwa semenjak perlawanan Dalai Lama, banyak warga Tibet yang bermigrasi ke Nepal pada tahun 1959-1961.

Puas melihat muka Tashiling, aku menyempatkan diri untuk duduk di sebuah kedai makan milik mereka. Kupesan semangkuk mie sebagai menu makan siang. Menu sederhana seharga RP. 20.000 yang membuatku siap untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_162806742_HDR.jpg
Enak euy….Ada minyak babinya engga ya?….Hahaha.

Yuk, jalan lageeeeeeh….