Tidur Siang di Kimchee Guesthouse Busan

<—-Kisah Sebelumnya

Lupa ambil foto pas nginep….Hihihi.

Aku masih saja bediri termangu di utara alun-alun untuk menikmati kegagahan Gwanghwamun Gate , gerbang enam abad milik Istana Gyeongbok. Alun-alun Gwanghwamun dengan dasar batuan andesit serta paduan hijaunya rumput taman tampak mulai dipenuhi oleh arus kunjungan para pelancong.

Selain patung Admiral Yi Sunshin, patung emas Raja Sejong yang Agung-sang raja keempat Dinasti Joseon adalah tujuan penting para pelancong. Mereka terlalu terpesona dengan patung-patung itu ketika aku lebih memilih memperhatikan kesibukan Kedutaan Besar Amerika Serikat di tepian Sejong-daero Avenue yang bersebelahan dengan National Museum of Korean Contemporary History.

Tak terasa waktu telah bergulir lewat dari tengah hari, sisa kantuk usai bermalam di Seoul Express Bus Terminal membuatku tak mampu menyembunyikan rasa kantuk di pelupuk mata. Badan yang belum terguyur air semenjak 30 jam yang lalu juga membuat tubuh tak merasa nyaman.

Lebih baik pulang ke penginapan saja”, begitu seru batin menggugurkan semangatku untuk melanjutkan eksplorasi. “Sial….Aku menyerah kali ini”, dengan bersungut-sungut kesal, aku memasuki gerbang Stasiun Gwanghwamun.

Selamat tingga Distrik Jongno”, lirih batinku ketika melompat masuk ke gerbong Seoul Metro Line 5. Tanpa memperhatikan keriuhan di dalam gerbong, aku segera mengarah ke tempat duduk kosong di dekat sambungan. Tanpa basa-basi aku segera memejamkan mata saking kantuknya.

Aku kini menuju ke Stasiun Hongik University dengan sekali transit di Stasiun Chungjeongno karena untuk menuju Kimchee Guesthoouse Sinchon di Distrik Seodaemun aku harus menunggang Seoul Metro Line 2.

24 menit kemudian aku tiba di tujuan. Sebelum benar-benar meninggalkan Stasiun Hongik University, aku menyempatkan diri menuju T-Money card vending machine di pojok koridor untuk mengisi T-Moneyku yang hampir kehabisan saldo. Kali ini aku memenuhi kartu perjalanan kota Seoul itu dengan 10.000 Won, angka yang lebih dari cukup hingga akhir petualanganku di Seoul.

Hilir mudikku di Stasiun Hongik berakhir di sebuah G-25 minimarket untuk sekedar makan siang seadanya. Sepotong Kimbab kemasan berhasil kudapatkan dengan harga 1.300 Won saja. Kenyang atau tidak, hanya itu jatah makan siang yang harus kuterima.

Usai menyantapnya di meja minimarket, aku segera menaiki escalator yang menjulang menuju permukaan, melewati gang Sinchon-ro 2-gil, menyeberangi Sinchon-ro Avenue, lalu bergegas menuju penginapan.

Hooohh….You, Donny. Welcome, your room is ready”, begitu sosok resepsionis yang sama sejak pagi tadi menyambut kedatanganku.

Hi, Sir….Thank you. I think I should go to bed soon….Hahaha”, aku menjawabnya ringan sambil merengkung backpack biru yang sedari pagi kutaruh di pojok ruangan depan.

Oh yeah, you look tired

Yes, I spent my last night at Seoul Express Bus Terminal”, aku mengiyakan.

Usai resepsionis itu me-scan passport yang kuberikan, kunci kamar pun diberikan. Tak menunggu lama, aku segera naik ke lantai atas, memasuki kamar, melepas winter jacket dan sepatu, kemudian segera melompat ke bunk bed untuk memulaskan diri hingga sore nanti.

Kisah Selanjutnya—->

Berburu T-Money bersama Mr. Park

<—-Kisah Sebelumnya

Gosok Gigi….

Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man!

Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota.

Berada di Seoul Express Bus Terminal berarti aku berada di ujung selatan kota, tertahan semalaman di Distrik Seocho demi menunggu kereta pertama beroperasi. Aku bergegas menuju Stasiun Express Bus Terminal….Yupz, stasiun itulah yang terintegrasi dengan terminal dimana aku bermalam.

Sementara residu udara beku masih terasa lekat di kulit ari begitu setengah langkahku terjulur keluar dari gerbang terminal. “Gilaaa….”, batinku yang membatin. Kusegerakan langkah dengan menaikkan tempo kaki menuju gerbang stasiun.

Damn….”, gerbang itu masih terhalang oleh standing barrier.

Belum boleh masuk….”, batinku membuat kesimpulan.

Tergopohlah diri kembali menuju terminal. Kuputuskan menunggu hingga genap satu jam, melebihi setengah jam dari rit pertama kereta beroperasi.

Satu jam yang kumanfaatkan dengan membuka kembali lembaran peta dasa jalur Seoul Metro. Jumlah jalur yang satu lebih banyak dari jalur MRT-LRT milik Negeri Singa. Kapankah Jakarta akan mengejarnya?

Genap enam puluh menit menanti, kini aku merepetisi jejak menuju gerbang Stasiun Express Bus Terminal. Standing barrier itu telah sirna, penanda bahwa stasiun telah membuka diri bagi setiap tamunya.

Memasuki bangunan stasiun, pohon-pohon natal masih saja menyambut walau ini sudah hari ketiga bulan Januari, patung Santa Claus dengan sembilan rusa kutub kesayangannya menyapa dan tepat di pojokan sana security berbadan tambun dengan kelebihan bentuk perut melempar senyum. Dengan sigap dia menyambar topi dan Tongkat-T putihnya lalu berlari kecil menujuku. Sepertinya dia faham bahwa aku bukanlah penduduk Negeri Ginseng, oleh karenanya, dia berniat membantu. Walaupun sebetulnya, aku lebih tertantang menemukan untuk platform dengan caraku sendiri. But, It’s OK, lah.

Security tambun: “Hellooo, where wil you go?

Aku: “Hongik University Station, Sir”.

Security tambun: “Oh, OK. Where are you come from?

Aku: “Indonesia

Security tambun: “Hmmh, Malaysia?

Aku: “No Sir. Indonesia. A country at south of Malaysia”.

Security tambun: “Oh really, follow me!…follow me!”

Aku pun menguntitnya dari belakang

This way”, dia menunjuk sebuah lorong menuju salah satu platform”.

Thank you, Sir”, aku menutup percakapan sebelum dia kembali menempati posnya.

Menyusuri lorong hingga ujung, aku mulai mencari keberadaan ticket vending machine. Mesin itu ada di salah satu sisi. Lorong masih sepi, memungkinkanku untuk mengeksplorasi layar mesin itu. Tekun menjelajah layar, tak ada satu kata pun yang bisa menuntunku untuk mendapatkan One Day Pass.

Aku memunculkan sebuah inisiatif untuk menghadap ke petugas stasiun. Ruangan itu jelas ada di samping sana. Dua orang staff berseragam tampak memulai hari di meja kerjanya. Aku terlanjur mengetuk pintu kaca dan tatapan mereka serempak menuju ke arahku lalu diiringi lambaian salah satu diantara mereka sebagai tengara bahwa mereka mempersilahkan aku untuk masuk menghadapnya.

Aku: “Good morning, Sir?

Staff: “Yes, Can I help you?

Aku: “Does Seoul Metro sell One Day Pass for passenger?

Staff: “No No No, you must buy a regular card

Aku: “What is that?

Merasa kerepotan berbahasa Inggris, dia beranjak dari bangku dan menuju pintu. Dia melambaikan tangan kepadaku untuk mengikutinya. “there!”, dia menunjuk kepada sebuah kotak mesin.

Merasa peluang untuk mendapatkan One Day Pass menipis, aku pun menyerah dan menutup percakapan. “Oh, OK

Langkah kakiku cepat menuju kotak mesin itu. Merasa penasaran dengan apa yang bisa dijual oleh benda penuh teknologi itu. Aku berhenti sejenak, mengamati lekat penampakannya. Belum juga aku memencet apapun maka berdirilah di sampingku seorang lelaki, umurnya 40-an tetapi masih terlihat segar bugar, murah senyum dan tampak berpendidikan.

Dia: “Helloo…..Can I help you? Where are you come from?

Aku: “Hi, Indonesia Sir. Yeaa, I looking for the One Day Pass in this machine, Sir”.

Dia: “Oh, there isn’t One Day Pass in Seoul Metro. You must buy T-Money for your journey using Metro

Aku: “Oh, ya

Dia: “OK, I will help you to get it”. Dia mulai mendekat ke layar, kemudian gesit memencet-mencet tombol hingga tiba pada menu akhir ekseskusi. “You need to insert 3.000 Won to this machine!

Aku: “Oh , Ok, I see”….aku memasukkannya dan dia mulai memencet tombol eksekusi terakhir.

T-Money itu keluar dari mesin dengan packingan rapi  berwarna putih. Lelaki itu mengambilnya dan menyerahkan kepadaku.

Kemasan T-Money.
Ini dia wujud T-Money.

So now, you can explore Seoul by this. Come on we go to platform. Where is your destination?”, dia mulai megajakku melangkah

Hongik University Station, Sir”, aku mencoba mengimbangi kecepatan langkahnya.

Oh, do you study there?”.

Oh, No Sir, I am just traveling now. What is your name, Sir?

In Chul Park. Call me Park”, dia mengulurkan tangan

Donny, Sir”, aku menjabat tangannya.

Kini aku memiliki teman berbincang selama perjalanan menuju Kimchee Guesthouse Sinchon.

Thank you very much Mr. Park….