Tengku Tengah Zaharah Mosque….Spiritual Decoration in Ibai River Estuary

<—-Previous Story

Failing to get off at Batu Burok Beach due to entrusted my trip too much to the Bas KITē driver, I was dropped off at my second target destination. It was Tengku Tengah Zaharah Mosque, the first floating mosque in my neighboring country.

Bas KITē stopped on the north side of the parking area which was also known as the Floating Mosque Ramadhan Bazaar area. Once down, I didn’t directly enter the mosque. I took a standing position on the north side of Ibai River’s estuary to enjoy the full view of Tengku Tengah Zaharah Mosque with its thirty-meter minaret from a distance.

Zaharah….is a word taken from the name of Sultan Mahmud’s mother, Tengku Intan Zaharah. The thirty-year-old mosque is truly enchanting to my naked eye from my standing position, it is appropriate that long wooden seats are provided on the north side of the estuary, allowing any visitor to sit at dawn or dusk to enjoy the beauty of the mosque which can accommodate a thousand worshipers.

Not only the building but I was also stunned by the water below. The estuary water is filled with tame fish which beautifully flock when fed by visitors from the connecting bridge on the north side. Visitors got fish food from a fish pellet seller in the parking area at a price of only one ringgit per pack.

I started to enter the mosque from the north bridge which was intentionally provided with a canopy along it, making it comfortable for visitors to linger to feed the fish. Along the canopy, signs bearing the words of the Prophet managed to become a shade of heart before actually entering the mosque.

The first thing I did when I arrived at the mosque’s door was to walk around the mosque and saw its view from all sides. Some amazing views of the surroundings were easy to find when I stood at the best spots on the mosque’s terrace. Do you want to see that beautiful view?…. Here it is:

Visitors who enjoyed fishing activities.
Cactus plant on the mosque’s veranda.
The connecting bridge on the south side is without a canopy.
Clear green….This is the form of the Ibai River estuary where the mosque stands.
An elegant pavilion that provides seating for visitors to enjoy the beauty of the surroundings.

After finishing recording memories in my head about all the beauty around the mosque, I rushed to the purification room. The time for Dzuhur hadn’t yet come, but I was very excited to perform the “tahiyatul masjid” prayer.

Entering the purification room, I washed my face solemnly, preparing myself to worship at the mosque whose position was very famous as an important landmark of the State of Terengganu.

Now I would enjoy the mosque inside which was the core part of the building, of course also the core part of this visit. The stretch of soft red carpet on the front row combined with a light blue carpet on the back makes the room come alive. Twelve large pillars support the entire mosque body and the side poles of the pulpit are decorated with beautiful lights looking up. While in the middle of the building perched a dome with a hexagon structure base. Then the dominant green windows enrich its color. Unfortunately, I didn’t have time to look upstairs.

I finished praying while some mosque staffs were still busy cleaning its terrace. I returned out of the mosque through the bridge on the north side and walked around the river estuary to the garden on the south side. I had to complete the point of view. After enjoying the north side, now I sat in the south garden and enjoyed the beauty of the Tengku Tengah Zaharah mosque from the other side of the estuary.

The visitation was completed by enjoying the beach on the east of the Lagun Kuala Ibai Public Park. That was a substitute beach for the Batu Burok Beach destination which I couldn’t reach because I was dissolved in the speed of the Bas KITe.

At one o’clock in the afternoon, I finished relaxing on the beach. I had to immediately take a seat in the area of ​​the Floating Mosque Ramadhan Bazaar which was widely stretched on the north side of the mosque to wait for the arrival of Bas KITē which would arrive in an hour. I didn’t want to be left behind because I had to immediately go back to the Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. I still wanted to look for opportunities to go to Crystal Mosque which I decided this morning to cross off my bucket list.

Let’s pray!
The door and window designs are cool.
The windows of the mosque on each side…
Southside garden.
The view from the south side of the estuary.

This time I deliberately didn’t attend the congregational Dzuhur Prayer which would soon be held, I decided to just do it later. I had to catch the bus that time because the Bas KITē might come sooner.

I decided to sit on a side of the grassy area under the Rhu trees to avoid sunlight directly. Rhu trees certainly made my body more comfortable in waiting for the arrival of the C01 A KITe Bus.

I was now preparing to leave the Kuala Ibai District.

Next Story—->

Bus Arwana dari Kuala Terengganu ke Kuantan

<—-Kisah Sebelumnya

Aku terhuyung menyambar sembarang pegangan ketika terbangun mendadak dari tidur dan langsung menuju kamar mandi bersama ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul. Itu gegara aku menatap jarum jam dinding bertengger di angka setengah delapan.

Kacau”, aku mengutuk bangunku yang sudah terlalu siang. Ba’da Subuh tadi, aku memang sengaja menarik kembali selimut dan menutupi badan yang kedinginan. Beruntung, semalam aku sudah mengepack semua perbekalan.

Aku mandi dengan cepat, toh seluruh badan masih terasa bersih setelah terakhir mandi jam sepuluh malam tadi. Aku memakai kembali t-shirt yang semalam kupakai untuk tidur dan mengenakan celana jeans yang telah kusiapkan dari semalam.

Seusainya, aku menggemblok backpack di punggung dan menuju shared-kitchen untuk menyeduh serbuk oat dengan air panas dari dispenser. Sungguh menu sarapan yang menjemukan, tetapi masih saja kurepetisi semenjak tiga hari keluar dari rumah.

Sembari menyesap serbuk oat basah suap demi suap, aku mulai khawatir karena meja resepsionis itu masih gelap dan kosong.

Aduh, jam berapa staff akan siap?. bisa kesiangan nih mengejar bus”, aku membatin dan berharap, seusai sarapan nanti, staff akan datang sehingga aku bisa menyerahkan kunci dan mengambil uang deposit.

Ternyata hingga sarapan usai pun, ruangan masih saja lengang. Aku yang semakin was-was hanya bisa pasrah menunggu di lobby. Beruntung, lima belas menit kemudian, owner penginapan muncul dan langsung tersenyum ke arahku.

Nak check-out….maaf lamē menunggu”, dia memulai percakapan sembari menyalakan lampu ruangan dan menuju belakang meja. Sedikitnya tamu penginapan membuatnya tak perlu menanyakan identitas dan nomor kamarku karena dia pasti mudah menghafalnya. Tak butuh waktu lama untuk mengambil amplop bernomor kamarku dan berisikan uang deposit 30 Ringgit lalu memberikannya untukku.

Terimakasih, Pak Cik”, aku menerima uangnya dan menyerahkan kuncinya.

Sampe jumpē….Hati-hati”, dia melambaikan tangan ketika aku mulai menuruni tangga untuk meninggalkan penginapan.

Di luar penginapan….Untuk kelima kalinya, aku sempurna mengkhatamkan jalur menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Kini aku berjalan sangat cepat dan hanya berfokus untuk segera sampai di terminal. Lebih baik aku menunggu jauh dari jam keberangkatan bus daripada ketinggalan.

Hampir setengah sembilan ketika aku tiba tepat di depan konter tempatku membeli tiket kemarin.

Tunggu sahajē di platform 1, nanti bus nak datang”, begitu jawaban abang penjaga konter ketika aku bertanya dimana harus menunggu.

Whatever,  satu jam ke depan aku akan menunggu di sini saja”, aku membatin ketika mengakuisisi tempat duduk beton di sebelah platform 1.

Tetapi menunggu sesuatu di negeri orang selalu saja menarik. Mengamati aktivitas warga lokal di setiap sisi terminal membuatku berada jauh dari rasa bosan.

Hingga akhirnya aku terperanjat ketika sebuah bus warna merah maroon berkombinasi kuning muncul dari gerbang belakang terminal.

Arwana Group”, dengan jelas aku bisa membacanya dari kejauhan.

Ini dia bus yang sedang aku tunggu. Bus itu tiba lima belas menit sebelum keberangkatan. Bus berhenti tepat di platform 1 dan aku bergegas mendekatinya hingga seorang berwajah Arab menghentikan langkahku.

Kuala Lumpur….this?, pertanyaan singkat darinya terlempar untukku.

Yes….This bus goes to Kuala Lumpur”, aku menjawabnya singkat.

Where are you come from?”, aku menambahkan.

Yemen….

Is Yemen Okay now?”, setahuku negeri itu sedang dilanda perang saudara.

Yeaa…better

Aku melompat masuk dari pintu depan dan mencari tempat duduk nomor 13. Aku memilih bangku tunggal pada bus yang memiliki formasi bangku 2-1 tersebut.

Tepat pukul setengah sepuluh bus pun memulai perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur…..

Perjalanan seharga 43 Ringgit itu akan ditempuh dalam waktu 5 jam dan menempuh jarak tak kurang dari 450 km.

Bus mulai meninggalkan kota dengan menyisir Laluan Persekutuan 3, inilah rute darat utama di pantai timur Malaysia yang membentang sepanjang lebih dari 700 km, bermula dari Kelantan di utara dan berakhir di Johor Bahru di selatan. Aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyisir lebuh*1) tepi pantai dengan pemandangan paling indah di seantero Malaysia. Pemandangan paling menakjubkan dalam perjalanan ini adalah dimana aku bisa melintasi lebuh yang hanya berjarak 50 meter saja dari bibir pantai. Nanti akan kuperlihatkan keindahan lebuh ini.

Di awal perjalanan, aku masih ingat dengan pemandangan Kuala Terengganu yang tersaji hingga Kampung Kuala Ibai, karena aku telah melintasnya saat mengunjungi Masjid Tengku Tengah Zaharah tempoe hari. Tetapi setelah melintasi Sungai Ibai, aku benar-benar melewati daerah dengan pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Alih-alih tertidur, justru pemandangan itu sukses membuatku terjaga sepanjang perjalanan.

Dalam setengah jam, bus mulai keluar dari Distrik Kuala Terengganu dan memasuki Distrik Marang yang bergerbangkan Pantai Pandak. Tiga kilometer jauhnya, bus melintas di garis Pantai Rusila yang menjadi salah satu pemandangan terindah di distrik itu. Hingga akhirnya bus beristirahat sebentar di Hentian Bas Marang. Bus harus menjemput beberapa penumpangnya di terminal kecil tersebut.

Pemandangan usai jeda sejenak di terminal bus Kota Marang, mungkin menjadi pertunjukan utama perjalanan ini. Pemandangan tepi pantai yang indah terhampar sepanjang 50 kilometer yang dimulai dari Pantai Peranginan Kelutut hingga Pantai Batu Pelanduk di permulaan Distrik Kuala Dungun.

Busku telah tiba.
Saatnya memulai perjalanan panjang.
Pantai Peranginan Kelulut.
Salah satu sungai di Distrik Marang.
Hutan Lipur Rantau Abang di Laluan Persekutuan 3, Distrik Marang.
Jembatan Pulau Serai di atas Sungai Dungun, Jalan Kuala Terengganu, Distrik Kuala Dungun.

Dua jam perjalanan, bus kini telah purna melintas landmark utama Distrik Kuala Dungun, apalagi kalau bukan Sungai Dungun yang memiliki lebar tak kurang dari 300 meter.

Dengan cepat bus mulai memasuki Kota Paka. Kota ini adalah rumah bagi pembangkit listrik terbesar di Malaysia yang dijalankan oleh perusahaan listrik nasional, yaitu Tenaga Nasional. Tak heran hamparan luas stasiun tenaga listrik berada di kota ini.

Lebih dari sepuluh kilometer menyejajari liukan Sungai Paka hingga akhirnya bus keluar dari Kota Paka dan memasuki kota baru, yaitu Kota Kerteh.

Kerteh adalah kota minyak karena memiliki potensi minyak bumi yang tersimpan di dasar Laut Cina Selatan. Kota Kerteh menjadi salah satu tempat terpenting di negara bagian Terengganu karena penduduknya yang padat disertai dengan fasilitas publik yang lengkap.

Menulusuri Kota Kerteh membuatku faham bahwa Petronas, si perusahaan minyak raksasa Negeri Jiran itu menempatkan banyak fasilitas pentingnya di kota ini. Kilang-kilang minyak, pipa-pipa gas, pabrik-pabrik kimia dan kompleks perumahan Petronas mendominasi penampakan di sepanjang Jalan Kemaman-Dungun.

Hampir setengah jam, aku disuguhkan kesibukan bisnis perminyakan Kota Kerteh, hingga akhirnya bus tiba di daerah paling selatan dari negara bagian Terengganu, yaitu Distrik Kemaman. Inilah daerah perbatasan antara Negara Bagian Terengganu dan Negara Bagian Pahang.

Memasuki Kemaman, bus secara langsung membelah kota Chukai yang menjadi ibu kota Distrik Kemaman. Taman-taman kota terhampar di pojok-pojok kota, kemacetan mulai terasa, sedangkan Sungai Kemaman tampak membentang luas sebagai penghias utama Kota Chukai.

Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin di Jalan Paka, Kota Paka.
Sungai Paka tampak dari Jalan Kemaman-Dungun.
Stesen Janaelektrik Sultan Ismail, Kota Paka.
Kilang minyak milik Petronas di Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Jembatan Kertih, di atas Sungai Kertih, Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Taman Persiaran Chukai di Jalan Sulaimani, tepat di tepian Sungai Kemaman, Kota Chukai.
Jambatan Geliga di atas Sungai Kemaman, Jalan Kuantan-Kemaman, Distrik Kemaman.
Hentian Bas Ekpres Kemaman di Distrik Kemaman.

Di selatan Kota Chukai, bus berhenti untuk kedua kali. Kali ini bus mengambil dua penumpangnya di Hentian Bas Ekpres Kemaman. Purna mengangkut penumpangnya, bus melanjutkan perjalanan untuk keluar dari batas Negara Bagian Terengganu sisi selatan dan memulai petualangannya di Negara Bagian Pahang.

Masih satu jam lagi untuk tiba di Terminal Sentral Kuantan, terminal bus utama di Negara Bagian Pahang. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Aku yakin semua penumpang sedang merasakan hal yang sama ….Lapar.

Pucuk dicinta ulam tiba, seperempat jam usai memasuki Negara Bagian Pahang akhirnya bus menentukan persinggahan makan siangnya.  Adalah D’Cherating Cafe yang mengambil nama sesuai dengan daerah dimana rumah makan itu berdiri yaitu di Kampung Cherating.

Di sinilah, pengemudi membiarkan penumpangnya untuk menikmati makan siang selama setengah jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan sisa menuju Terminal Sentral Kuantan. Di akhir perjalanan itu, pengemudi berfokus di belakang kemudi untuk menyelesaikan 40 kilometer terakhir menuju ke terminal bus terbesar di pantai timur Malaysia.

Perjalanan tahap pertamaku usai sudah….

Usai jeda di Terminal Sentral Kuantan, aku akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir yaitu Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur.

Rumah Makan D’Cherating, Negara Bagian Pahang.
Terminal Sentral Kuantan di Jalan Pintasan Kuantan, Negara Bagian Pahang.

Tiket bus Kuala Terenganu ke Kuantan (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

lebuh*1) = Jalan

Kisah Selanjutnya—->

Masjid Tengku Tengah Zaharah….Hiasan Ruhani di Muara Sungai Ibai

<—-Kisah Sebelumnya

Gagal turun di Pantai Batu Burok akibat terlalu menyerahkan perjalanan kepada pengemudi Bas KITē, aku diturunkan di destinasi incaran kedua. Adalah Masjid Tengku Tengah Zaharah, masjid terapung pertama di Negeri Jiran.

Bas KITē berhenti di area parkir sisi utara yang juga terkenal sebagai area Bazar Ramadhan Masjid Terapung. Begitu turun, aku tak langsung memasuki masjid. Aku mengambil posisi berdiri di sisi utara muara Sungai Ibai demi menikmati tampilan utuh Masjid Tengku Tengah Zaharah bermenara tiga puluh meter itu dari kejauhan.

Zaharah….Adalah kata yang diambil dari nama ibunda Sultan Mahmud yaitu Tengku Intan Zaharah. Masjid berusia tiga puluh tahun itu sungguh mempesona dipandang dengan mata telanjang dari posisi berdiriku, pantas saja bangku-bangku dari lembaran panjang kayu disediakan di sisi utara muara, memberikan kesempatan kepada pengunjung manapun untuk duduk di fajar ataupun senja demi menikmati keindahan masjid berkapasitas seribu jama’ah itu.

Tak hanya bangunannya, aku juga tertegun pada air di bawahnya. Air muara itu dipenuhi ikan-ikan jinak yang bergerombol indah ketika diberi makan oleh para pengunjung dari jembatan penghubung di sisi utara. Pengunjung mendapatkan makanan ikan dari seorang penjual pelet ikan di area parkir dengan harga satu Ringgit saja per bungkusnya.

Aku mulai memasuki masjid dari jembatan utara yang sengaja diberikan kanopi di sepanjangnya, membuat para pengunjung nyaman berlama-lama untuk memberi makan ikan. Di sepanjang kanopi, papan-papan bertuliskan sabda Rasulullah berhasil menjadi peneduh hati sebelum benar-benar memasuki masjid.

Hal pertama yang kulakukan ketika tiba di depan pintu masjid adalah mengelilingi masjid dan melihat pemandangan dari seluruh sisi. Beberapa pemandangan luar biasa ke arah sekitar mudah sekali kutemukan ketika aku berdiri pada spot-spot terbaik di teras masjid. Mau lihat pemandangan indah itu?….Ini dia:

Pengunjung yang menikmati kegiatan mengumpan ikan.
Tanaman kaktus di beranda masjid.
Jembatan penghubung di sisi selatan yang tanpa kanopi.
Jernih kehijauan….Inilah wujud muara Sungai Ibai dimana masjid berdiri.
Paviliun elegan yang menyediakan tempat duduk bagi pengunjung untuk menikmati keindahan sekitar.

Usai tuntas merekam dalam kepala segenap keindahan di sekitar masjid, aku bergegas menuju ke ruang bersuci. Waktu Dzuhur belumlah tiba, tetapi aku sangat bersemangat untuk melakukan shalat tahiyatul masjid.

Memasuki ruang bersuci, aku benar-benar membasuh muka dengan khusyu’, mempersiapkan diri untuk beribadah di masjid yang kedudukannya sungguh tenar sebagai landmark penting Negara Bagian Terengganu.

Kini aku akan menikmati sisi dalam masjid yang merupakan bagian inti dari bangunan itu, tentu juga menjadi bagian inti dari kunjungan kali ini. Bentangan karpet lembut warna merah di shaf depan dipadu dengan karpet biru muda di shaf belakang membuat ruangan  menjadi hidup. Dua belas pilar besar menyanggga keseluruhan badan masjid dan tiang-tiang sisi mimbar berhiaskan lampu-lampu indah bertengadah ke atas. Sedangkan di tengah bangunan bertengger kubah dengan dasar struktur segi enam. Lalu jendela-jendela yang dominan hijau semakin memperkaya warna saja. Sayang, aku tak sempat melongok lantai bagian atas.

Aku selesai menjalankan shalat di saat beberapa pengurus masjid masih sibuk membersihkan teras. Aku kembali keluar dari tempat ibadah itu melalui jembatan sisi utara dan berjalan mengelilingi muara sungai menuju taman sisi selatan. Aku harus menggenapkan sisi pandang. Setelah menikmati sisi utara, kini aku terduduk di taman selatan dan menikmati keindahan masjid Tengku Tengah Zaharah dari sisi muara yang lain.

Kunjungan itu disempurnakan dengan menikmati pantai di timur Taman Awam Lagun Kuala Ibai. Itulah pantai pengganti destinasi Pantai Batu Burok yang tak bisa kugapai karena aku terlarut dalam laju Bas KITē.

Pukul satu siang aku mengusaikan diri bersantai di tepian pantai. Aku harus segera mengambil tempat duduk di area Bazar Ramadhan Masjid Terapung  yang membentang luas di sisi utara masjid untuk menunggu kedatangan Bas KITē yang akan tiba satu jam lagi. Aku tak mau tertinggal karena harus segera kembali ke Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Aku tetap ingin mencari peluang untuk pergi ke Masjid Kristal yang tadi pagi telah kuputuskan untuk tercoret dari bucket list.

Shalat yuk!
Desain pintu dan jendelanya keren.
Jendela masjid di setiap sisinya..
Taman sisi selatan.
Pemandangan dari sisi selatan muara.

Kali ini aku sengaja tak mengikuti Shalat Dzuhur berjama’ah yang sebentar lagi akan diselenggarakan, aku memutuskan untuk menjama’nya saja nanti. Aku harus menangkap busnya kali ini karena bisa saja Bas KITē akan datang lebih cepat.

Kuputuskan untuk duduk di salah satu hamparan rumput di bawah pokok Rhu untuk menghindari terpaan langsung matahari. Pokok Rhu itu tentu membuat badan lebih nyaman dalam menunggu kedatangan Bas KITe Laluan C01 A.

Kini aku bersiap meninggalkan Distrik Kuala Ibai.

Kisah Selanjutnya—->