myBAS dari Sultan Mahmud Airport ke Pusat Kota Kuala Terengganu

Serupa dengan pengalaman ketika berkunjung ke Ipoh setahun sebelumnya. Di beberapa kota di Malaysia, mencari keberadaan bus menuju Pusat Bandar dari gerbang masuk kota menjadi sesuatu yang langka di dunia maya, sangat susah ditemukan. Konsekuensinya adalah, aku harus berjibaku mencarinya on the spot ketika tiba di tujuan. Ketenangan dan kekuatan mental sungguh diuji untuk menemukan bus umum itu.

Mengeksplorasi seisi Sultan Mahmud Airport, aku menyempatkan diri untuk bertanya kepada seorang petugas cleaning service yang sedang mendorong janitor trolleynya. Melalui percakapan sederhana, dia memberitahukan bahwa ada layanan bus menuju Pusat Bandar setiap satu jam. myBAS, nama bus itu dan kendaraan umum tersebut akan menurunkan penumpang di lantai atas bandara.

Berbekal informasi penting itu, aku memutuskan segera naik ke Departure Hall untuk memburunya. Tetapi beribu sayang, baru saja aku keluar dari gerbang depan Departure Hall, bus itu sudah mengepulkan asap tipis, menggerungkan mesin dan meninggalkan bandara.

Well, satu jam lagi”, aku mengeluh ringan.

Momen menunggu yang sebetulnya membosankan itu, kumanfaatkan untuk menikmati suasana sekitar bandara dari lantai atas. Selepasnya, aku terduduk mengampar di ujung teras Departure Hall demi menunggu kedatangan myBAS.

Mengisi waktu menunggu, aku memutuskan mencatat semua pengeluaran yang sudah kubelanjakan semenjak meninggalkan rumah kemarin siang. Lalu lalang kendaraan pribadi yang menurunkan calon penumpang penerbangan benar-benar kuhiraukan, hingga aku sadar bahwa sedari tadi banyak orang memperhatikan keberadaanku ketika berlalu lalang. Mungkin terasa sedikit aneh, ada seorang yang duduk di tepi teras menunggu bus. Aku sendiri sedikit heran, kenapa tak disediakan tempat duduk di teras luas itu. Tentu tak mungkin, aku harus berdiri selama satu jam menunggu bus itu datang. Hal ini mirip dengan pengalamanku di Manila ketika ditegur petugas MRT ketika aku duduk di lantai menunggu MRT datang.

Tepat satu jam, suara mesin yang sediki menggerung menyeruak dari ujung kanan Departure Hall, perlahan bus bandara itu merangkak naik ke lantai atas. Aku segera berdiri dan melambaikan tangan sebagai tanda aku akan menggunakan jasanya. Bus itu perlahan melambat dan berhenti tepat di depanku.

Melaju bersama myBAS menuju Pusat Bandar.

Aku melompat naik dari pintu depan bus berukururan sedang dengan kapasitas 34 bangku itu. Memberikan kepada sopir ongkos sebesar 1,8 Ringgit dan duduk di bangku belakang. Penumpang didominasi oleh para wanita dan aku sungguh kagum bahwa semuanya mengenakan jilbab. “Kental nian nuansa Islam di Terengganu”, aku membatin pelan.

Tak ada satupun penumpang yang turun dari bus itu. “Ah, mungkin orang Terengganu lebih suka menggunakan mobil pribadi untuk pergi ke bandara, tapi apa peduliku, yang penting aku bisa ke Pusat Bandar dengan biaya murah”, aku menyimpulkan dalam hati.

Dalam duduk aku menikmati dialek lokal yang dilontarkan antar penumpang, dialek Melayu yang selalu saja kurindukan ketika aku sudah berada di rumah nanti. Aku masih berada di aisle seat ketika myBAS pertama kali berjalan meninggalkan bandara, aku harus menunggu beberapa penumpang turun untuk bisa menikmati pemandangan Kuala Terengganu dari tempat duduk di sisi kaca.

Waktu yang kunantikan tiba ketika setelah beberapa menit, bus menurunkan penumpang dan menyisakan beberapa bangku kosong di sisi kaca, aku mengambil bangku paling kiri di bagian tengah dan mulai mengikuti laju bus yang memamerkan pemandangan orisinil Kuala Terengganu.

Pada suatu waktu, pemandangan Sungai Terengganu dan penampakan pusat kota di ujung jauh sana sangat menarik perhatianku. Sementara barisan kapal penumpang dan Boat Penambang tampak hilir mudik di hamparan sungai nan luas itu, menunjukkan kekuatan ekonomi Kuala Terengganu didukung dari perairan.

Tampak di kejauhan: Felda Residence Kuala Terengganu, Terengganu Drawbridge, UTC Terengganu dan Wisma Darul Iman.
Suasana di Jalan Masjid Abidin.
Suasana Jalan Air Jernih. 1,5 kilometer dari Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu
Aku sampai.
myBAS di Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

Pemandangan berikutnya yang tertampil adalah beberapa bangunan pemerintahan satu lantai yang menempati beberapa sisi jalan menuju pusat kota. Bus terus mengikuti markah jalan yang membimbing menuju Pusat Bandar, sementara markah  lain menunjuk arah ke Muzium Negeri Terengganu. Jalan besar menuju Kuantan pun tak lupa diberikan petunjuk arah, itulah jalan keluarku menuju Kuala Lumpur esok lusa.

Tak terasa, lima belas menit sudah berlalu, myBAS yang kutunggangi mulai merapat ke Pusat Bandar. Sepuluh kilometer sudah aku terpapar spoiler wisata Kuala Terengganu yang membuatku kian penasaran.  

Turun dari myBAS mungil itu aku segera melangkahkan kaki menuju The Space Inn tempatku menginap.

Petualanganku di Kuala Terengganu pun dimulai…..

Sejenak Mengintip Bandar Udara Sultan Mahmud, Kuala Terengganu

<—-Kisah Sebelumnya

Dalam pencarian di dunia maya sebelum keberangkatan ke Kuala Terengganu, aku tak pernah menemukan sematan kata International pada namanya. Aku hanya terus menduga bahwa bandara yang akan kutuju ini hanyalah bandara domestik yang hanya melayani penerbangan dalam negeri.

Ternyata aku hanyalah sedikit benar, tetapi tetap saja salah besar pada ujungnya. Karena bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional, walaupun hanya untuk keperluan haji dan umrah, yaitu penerbangan langsung menuju King Abdulaziz International Airport di Jeddah.

Kini aku melayang di atas Distrik Kuala Nerus. Sungai Terengganu nampak lamat ketika Malaysia Airlines MH 1326 perlahan menurunkan segenap flap di kedua sayap besinya. Lembaran-lembaran besi itu perlahan mendorong pesawat ke bawah menuju landas pacu tunggal milik Sultan Mahmud Airport.

Meluncur di atas landas pacu, aku disuguhkan pemandangan bangunan mungil berwarna kekuningan berdiri anggun memamerkan corak khas. Ukiran-ukiran indah pada lisplang dan ornamen kayu di sepanjang dinding bandara seakan membawaku ke pintu gerbang era kesultanan tempoe doeloe. Sedangkan atap-atap bertingkat pada pojok-pojok bandara menambah kewibawaan dan kesan klasik.

Arrival Hall

Pesawat paripurna sudah menyelesaikan tugasnya dan berhenti lembut di atas apron beralaskan beton kokoh tak berpelapis. Juluran aerobridge menyambut dan memberikan jalan untukku dan penumpang lain untuk menikmati keindahan bagian dalam bandara.

Malaysia Airlines 1326 di apron.
Koridor menuju arrival hall.

Kuning….menjadi warna keagungan Melayu yang konsisten dipamerkan. Papan kayu setinggi pinggang yang melapisi dinding membuatku serasa tak jauh dari rumah. Sementara permainan pola ubin tiga warna membuat suasana sepanjang lorong kedatangan lebih hidup.

Melangkah menuju Dewan Ketibaan Domestik, nuansa pariwisata Malaysia tampak nyata dalam iklan-iklan dinding di seantero ruangan. Gambar-gambar yang sudah familiar dibenakku, diperlihatkan dengan indahnya, Bot Penambang legendaris yang telah berlayar selama 90 tahun, Batu Burok Beach dengan keindahan pasir putihnya serta Traditional Trishaw yang menawarkan kindahan tur kota semakin membuatku tak sabaran saja berada untuk merapat ke tengah kota.

Jargon-jargon pariwisata Malaysia pun menimbulkan euforia yang selalu menumbuhkan rinduku pada Malaysia. “Cuti-Cuti Malaysia” menjadi jargon wisata domestik, “Malaysia Truly Asia” yang menjadi marketing campaign Kementrian Pariwisata dan “Beautiful Terengganu” yang menjadi slogan pariwisata terakhir milik Negara Bagian Terengganu, tampak ramai memenuhi lorong-lorong kedatangan.

Aku tiba di Dewan Ketibaan Domestik usai menuruni escalator, di lantai bawah aku menemukan konter pariwisata tak berpenjaga yang membuatku leluasa mengambil brosur-brosur pariwisata Kuala Terengganu.

Seperti bandara pada umumnya, tentu Balai Ketibaan ini di dominasi oleh konter-konter persewaan mobil, konter tiket taksi, toko souvenir dan restoran. Di lantai ini juga disediakan Area ATM dan Ticketing Counter. Tampak konter tiket milik Malaysia Airlines, Air Asia dan Firefly berada di sana.

Sementara area tempat duduk umum memanfaatkan ruang kosong di sekeliling tiang-tiang bandara dengan keberadaan tempat duduk tanpa sandaran.

Arrival Hall.
Jalur kendaraan di depan arrival hall.
Sultan Mahmud Airport yang begitu indah.

Naitku untuk mengeksplorasi bandara yang namanya diambil dari nama Sultan Terengganu ke-16 ini membuatku tak terburu-buru untuk meninggalkannya. Kini aku telah melangkah keluar dari bangunan bandara untuk melihat keindahan muka bandara yang dibangun untuk menggantikan bangunan bandara lama tiga belas tahun silam.

Menyeberangi  jalur yang dipenuhi taksi bandara, aku mulai menelusuri koridor dengan atap khas Terengganu membelah lahan parkir yang luas. Akhirnya di ujung koridor aku bisa leluasa menikmati keindahan bandara ini.

Departure Hall

Untuk menyempurnakan kunjungan, aku melangkah menuju Departure Hall di lantai atas. Toh, esok lusa aku tak akan mengunjungi bandara ini lagi demi menuju kembali ke Kuala Lumpur. Aku lebih memilih menaiki Bus Antar Negara Bagian yang tentu menawarkan tiket lebih murah. Aku akan langsung membelinya setiba di pusat kota nanti.

Menggunakan escalator, aku tiba di lantai atas. Tentu aku hanya menemukan sederetan konter check-in dan screening-gate yang tak mungkin ditembus. Aku lebih memilih berjalan keluar dari Departure Hall dan menikmati suasana bandara dari Drop-off Zone lantai atas. Setiba di luar, aku menemukan meriam-meriam kuno yang ditata apik menjadi penghias muka Departure Hall.

Drop-off zone lantai atas inilah yang nantinya menjadi tempatku menunggu selama hampir 45 menit untuk sekedar bisa menikmati jasa bus bandara menuju pusat kota.

Lapangan parkir dilihat dari Departure Hall.
Jalur kendaraan di depan Departure Hall.

Petualangan di Bandar Udara Sultan Mahmud pun rampung.