Makan Malam di Ameya Yokocho, Taitō

Platform Stasiun Shibuya.

Aku sudah berdiri lagi di platform kereta, tepatnya di Stasiun Shibuya, dalam ruas Yamanote Line, tepat pada pukul 15:48. Matahari telah undur diri di cakrawala kota dan membuat suhu terdegradasi ke titik 3o C. Lantas udara yang telah menjelang beku itu dengan mudah menembus tebalnya gloves hitam di kedua telapak tanganku. Tapi akan menjadi preseden memalukan apabila aku harus menyerah dan memilih meringkuk di peraduan Yadoya Guesthouse.

Aku sudah bersiap diri menjelajah Distrik Kota Istimewa Taitō. Dua belas kilometer di timur laut Distrik Khusus Shibuya, berjarak tempuh tiga puluh menit.

Ameya Yokocho adalah alasan utamaku singgah menuju Stasiun Ueno. Adalah pasar serba ada, serba murah dan serba discount. Konon jika hendak makan malam murah, maka para traveler berbondong menuju ke exs-pasar gelap yang sudah ada sejak Perang Dunia II itu.

Aku tiba di Stasiun Ueno tepat pukul 17:35. Keluar di Hirokoji Exit, pintu keluar terbesar di selatan bangunan stasiun. Pintu keluar ini memiliki halaman luas dan tepat menghadap Chuo-dori Avenue, berseberangan dengan Ueno Marui Department Store (OIOI), pusat fashion kenamaan  di Distrik Kota Istimewa Taitō yang menjulang tinggi dengan sembilan lantai.

Gelap mulai mengakuisisi hari ketika aku memulai langkah menuju ke Ameya Yokocho. Lebih ringkas dipanggil Ameyoko atau Ameyoko Market. Belum tiba pun aku membayangkan bahwa pasar itu sudah mulai ramai dan bertebar aroma masakan. Menjadikan perut keroncongan sepanjang jalan.

Aku menyusuri jalanan di bawah jalur layang kereta, mengarah ke selatan. Jarak pasar itu berkisar dua ratus meter, hanya lima menit dari Hirokoji Exit.

Tibalah langkahku di sebuah pertigaan yang di salah satu jalannya berdiri gerbang Ameyoko Market. Aku menghadap ke dua buah percabangan jalan yang keduanya adalah bagian dari jalur pasar itu. Tapi aku salah mengira. Bukan aroma harum makanan yang kucium, tetapi justru bau amis ikan laut yang pertama kali menusuk hidung dalam-dalam. Sudah barang tentu aku menghiraukannya karena perhatianku tertuju ke keramaian di dalam sana.

Gerbang Ameya Yokocho.
Gerbang Ameya Yokocho.
Bagian dalam Ameya Yokocho.

Tak kusangka, akan keberadaan beberapa restoran khas Turki dan beberapa gerai kebab di sana. Kufikir tak kan susah menemukan makanan halal untuk para traveler muslim di sini. Sementara di sepanjang jalan berikutnya, beberapa gerai yang menjual ikan laut diselingi oleh gerai fashion, souvenir, minimarket, peralatan olahraga serta beranekaragam gerai –gerai lain.

Kufikir aku tak akan menganggarkan untuk membeli barang apapun yang diperjualbelikan di pasar ini, kecuali makan malam.  Aku terus menyisir setiap jengkal Ameyoko Market hingga akhirnya tertarik pada tampilan gambar semangkuk chicken ramen. Bukan isi di dalam mangkuknya, tetapi harga yang tercantum di bawahnya, 399 Yen, itu berkisar Rp. 50.000.

Tak faham akan namanya, aku tak kurang akal. Kuambil telepon pintar dan kutangkap gambarnya. Bergegaslah aku menuju ke dalam rumah makan itu. Aku mulai mengamati sekitar, desain meja memanjang dan melingkar oval di tengahnya dengan beberapa meja di setiap sisi dinding yang sudah dipenuhi warga lokal. Mereka begitu berisik menyeruput mie di mejanya. Aku menuju ke pelayan wanita dan menunjukkan gambar di telepon pintar. Berteriaklan pelayan itu ke bagian dapur sembari menyebut nama menu yang kutunjukkan lalu dia menunjuk pada sebuah bangku kosong. Aku faham, itulah meja makanku. Aku duduk di sebuah meja di sisi dinding dan menunggu menu dihidangkan.

Salah satu rumah makan di Ameya Yokocho.

Sementara teko berisi air putih dengan es batu di dalamnya mulai kutuang.  Aku terus memperhatikan perilaku pengunjung rumah makan itu. Begitu mereka memasuki ruangan, maka mereka akan melepaskan jaket pada hanger di pojok ruangan, lalu duduk di meja makan, memesan dan menyantap makanannya dengan cepat. Semua serba teratur.

Tak lama pelayan menyajikan menu yang kupesan dan aku mulai menyantapnya. Menurut referensi yang kubaca, orang jepang akan meyeruput mie yang dipesannya dengan bunyi yang cukup untuk di dengar demi menunjukkan bahwa mie itu enak dan sebagai isyarat untuk menghormati sang koki. Maka akupun beradegan sama walau sedikit kerepotan dan membuat kuah mie ku berlepotan ke meja makan. Itu belum cukup membuatku malu, karena air teko di meja benar-benar habis tak bersisa, entah berapa kali aku menuangnya di gelas kecilku. Pelayan perempuan yang sedari tadi memperhatikanku pun menutup senyum dengan tangannya sambil sebentar-sebentar berbisik dengan pelayan yang lain. Dia tentu tahu bahwa aku seorang pengelana yang berbeda kulit dengan bangsanya.

Walhasil, aku pun membayar makanan itu dengan senyum lebar kepadanya, karena dia tak kunjung menutup senyumnya ketika menatapku.

Hirokoji Exit Stasiun Ueno.
Bagian dalam Stasiun Ueno.
Platform Stasiun Ueno.

Aku selesai bersantap malam pada jam 17:45, dan bergegas meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō.

Aura Patung Hachiko, Lima Kali Shibuya Crossing

Masih ingat?…..

Ketika mobil hitam milik D.K sedang mengejar Sean Boswell  yang melaju cepat dengan mobil balap warna merahnya dan rombongan balap itu dipimpin oleh Han Lue di depan yang dengan maskulin meliak-liuk dengan mobil balap ceper kuningnya. Dalam aksi kejar-kejaran itu, ada sebuah momen ketika ketiga mobil balap itu terpaksa melintas di sebuah simpang lima yang penuh dengan para penyeberang jalan. Adegan itu begitu mendebarkan tetapi terlihat sangat fantastis dari kamera atas. Tak salah lagi, itulah sepenggal scene dalam film “The Fast and the Furious: Tokyo Drift”. Dan simpang lima yang dimaksud terkenal dengan nama Shibuya Crossing.

Nah, kalau ini kisah yang berbeda lagi…..

Pernahkah kamu menonton sebuah film yang diangkat dari true story dan menceritakan seekor anjing bernama Hachi beserta tuannya Parker Wilson yang diperankan oleh aktor kawakan Richard Gere?.

Dalam film itu dikisahkan Hachi yang begitu setia dan setiap hari mengantar Wilson menuju stasiun untuk berangkat mengajar lalu menunggu kepulangannya di depan stasiun yang sama saat sore tiba. Begitulah kegiatan harian Hachi. Hingga pada suatu saat, Wilson meninggal di kampus karena serangan jantung dan tidak akan pernah bertemu Hachi kembali. Tetapi karena kesetiaannya, Hachi hingga akhir hayat tetap menunggu majikannya yang tak pernah lagi datang di depan stasiun. Anjing yang melegenda ini adalah kisah nyata yang menjadi asal usul Patung Hachiko yang lokasinya berada di dekat Stasiun Shibuya dan hanya berjarak seratus meter di sebelah selatan Shibuya Crossing.

Kedua film itulah yang sebetulnya menjadi dasar dan alasan bagiku untuk menempatkan Shibuya Crossing dan Patung Hachiko sebagai tujuan pertama di Toyo.

Siang itu udara semakin mendingin, perlahan turun dari 4o Celcius, waktu menunjukkan pukul 13:45 saat aku sudah berada di north entrance gate Stasiun Nakano. Tak lama, kereta Chuo-Sobu Line itu tiba. Siang menjelang sore, penumpang masih sepi, mungkin memang belum saatnya jam pulang kantor. Aku mengambil duduk di sisi gerbong sebelah kiri dan merasakan hangatnya udara dalam gerbong.  Aku baru sadar ketika merasakan hawa panas menyembur dari bawah bangku dan menerpa bagian bawah kaki ketika duduk. Rupanya kereta di Jepang menaruh mesin pemanas di bagian bawah bangku.

Sisi dalam Stasiun Shibuya.
Gerbang Stasiun Shibuya yang berhadapan langsung dengan Hachiko Square.

Hanya lima menit menuju tenggara, aku menuruni gerbong Chuo-Sobu Line untuk berganti  ke gerbong Yamanote Line. Kini kereta bergerak ke selatan sejauh empat kilometer dan memerlukan waktu tempuh sepuluh menit serta dalam kondisi penumpang yang semakin padat. Maklum Yamanote Line merupakan jalur kereta tersibuk di pusat kota Tokyo.

Aku tiba di Stasiun Shibuya pada pukul 14:00 dan mengambil arah ke Hachiko Exit Gate di sebelah utara bangunan stasiun. Langkah kakiku saat keluar dari gerbang stasiun seketika disambut oleh penampakan Hachiko Square yang sudah penuh dengan pengunjung. Sebagian duduk di setiap sisi plaza dan sebagian besarnya mengelilingi patung binatang loyal itu untuk mengantri berfoto. Taka da yang spesial dari patungnya, mungkin kisah hidup Hachiko lah yang membuat patung itu serasa hidup dan menjadi pusat perhatian.

Aku tak lama menikmati keramaian di Hachiko Square. Karena tak sabaran ingin merasakan sensasi menyeberang di Shibuya Crossing. Aku melangkah seratus meter  ke utara dan mulai berdiri di simpang lima ternama itu. Aku hanya bisa tersenyum sendiri ketika melihat kelakuan para turis di saat menyeberang. Ada yang berfoto ria di tengah simpang lima itu, ada yang berlari dan memanjat tiang rambu-rambu untuk mengambil foto dari ketinggian dan ada juga yang memuat vlog selama lampu hijau masih menyala. Dan saat bunyi tut-tut-tut berseru nyaring bersusulan sebagai pertanda lampu rambu akan berganti menjadi merah, maka para turis dan pejalan kaki lokal berlarian menuju ke tepian dan sekejap menyisakan hening sesaat, kemudian disusul oleh bunyi klakson dan deru mesin kendaraan yang berebut melintas simpang lima itu menuju ke segala arah.

Chūken Hachikō, andai masih hidup, dia sudah berumur 97 tahun.
Yuhuuu….Shibuya Crossing.
Tsutaya adalah toko buku kenamaan di Jepang. I’m @ Shibuya Crossing.
Simpang Lima yang konon mampu menyeberangkan 50.000 pejalan kaki selama 30 menit.

Aku yang masih tak percaya bisa berada di situ pun tertular keanehan akut mereka. Karena ini simpang lima maka genap lima kali pula, aku menyeberang bolak-balik dari satu sisi ke sisi yang lain di Shibuya Crossing. Oh Tuhan, inikah sebuah siang yang membuatku menjadi gila karena terpapar aroma kehidupan Tokyo?.

Stasiun-Stasiun Utama Tokyo….Sendi Pariwisata Nijūsanku

Dua hari berada di Tokyo membawaku mengalami sendiri hiruk pikuk kota itu. Sedikit moral yang Saya dapatkan sebagai hasil interaksi dengan beberapa warga kota. Seakan Saya telah membuktikan cerita-cerita baik tentang sifat orang Jepang yang selama ini hanya Saya dengar dan baca dari media.

Bagaimana Saya tidak mengamini sifat baik mereka ketika tiba-tiba Bapak setengah baya berlari menghampiriku di sekitaran stasiun Nakano hanya untuk menyerahkan dompetku yang tak terasa jatuh. Juga sifat mereka dalam menghargai setiap detik waktu seolah menjadi jiwa dalam keteraturan sistem jaringan kereta mereka yang sesungguhnya sangat masif dan rumit tapi terlihat mudah seolah tinggal menjetikkan dua jari tangan.

Langkahku mengunjungi beberapa obyek pariwisata Nijusanku (sebutan lain Tokyo) lantas mengantarkanku memasuki beberapa stasiun-stasiun utama di Tokyo yang menjadi akses pariwisata mereka.

Saya pun ingin menghadirkannya sekilas kepada Kalian yang belum sempat kesana untuk menjadi gambaran pertama sebelum Kalian melihatnya sendiri suatu saat.

1. Stasiun Tokyo

IMG_20161229_125316

Momen ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo

Stasiun termegah di saentaro Tokyo yang pernah Saya lihat. Main Hub nya si cepat “Shinkansen”. Menjadi sangat strategis juga karena menjadi titik perlintasan Tokyo Metro (kereta regular bawah tanah) dan Local JR-East Line (kereta reguler diatas tanah).

Selain kereta, Stasiun Tokyo juga terkoneksi dengan jaringan bus dalam dan antar kota.

Konektivitas Stasiun Tokyo

Kiri : Konektivitas Shinkansen di stasiun Tokyo

Kanan Atas : Shinkansen Track Gate

Kanan Bawah : Kantor JR Expressway Bus

2. Stasiun Shibuya

Shibuya Station2

Kiri: Halaman depan Stasiun Shibuya

Kanan Atas : Salah satu gate di Stasiun Shibuya

Kanan Bawah: Yamanote Line track di Stasiun Shibuya

Terletak 9 km di barat daya Stasiun Tokyo. Adalah salah satu stasiun komuter tersibuk di Tokyo. Menjadi sangat vital karena mobilisasi ke dan dari kota-kota di sekitar Tokyo sangat tergantung dari keberadaan stasiun ini.

Shibuya Tourism

Kiri : Patung Hachiko

Kanan: Salah satu sisi Shibuya Crossing

Shibuya sendiri menghadirkan beberapa spot wisata gratis diantaranya Patung Hachiko -anjing yang setia menunggu tuannya hingga mati didepan stasiun- dan tentu Shibuya Crossing yang menjadi penyeberangan tersibuk di dunia yang konon mampu menyeberangkan 50.000 pejalan kaki selama 30 menit.

3. Stasiun Ueno

Ueno Station2

Kiri : Halaman depan stasiun Ueno

Kanan Atas : Salah satu gate di Stasiun Ueno

Kanan Bawah : Yamanote Line Track di Stasiun Ueno

Terletak 6 Km di Utara Stasiun Tokyo, stasiun ini pada masa keemasannya adalah stasiun utama untuk kereta jarak jauh Jepang.

Ueno Tourism

Kalian harus mendatangi Ameyoko Market jika singgah di Stasiun Ueno. Pasar serba ada dengan harga murah dan serba discount. Buat kaum traveler, kalau makan murah datanglah ke tempat ini. Bahkan para traveler Syarí, Kalian akan menemukan makanan halal disini. Saya sendiri melihat banyak penjual kebab halal. Kesan pertama memasuki pasar ini adalah bau ikan…..ya memang ada yang jualan seafood segar beserta bumbu untuk memasaknya di pasar ini.

4. Stasiun Akihabara

IMG_20161229_175716

Foto sesaat setelah turun dari kereta

Terletak 3 Km di utara Stasiun Tokyo, Stasiun ini terletak di pusat di daerah perbelanjaan barang-barang elektronik Akihabara.

Akibahara Tourism

Suasana malam di sekitar pertokoan elektronik Akihabara

Akihabara ibarat surga bagi para penggila barang-barang elektronik. Karena di  sepanjang area ini menyediakan merek-merek terkenal dengan harga murah berikut promo dan discountnya yang fantastis.

5. Stasiun Harajuku

Harajuku Station

Suasana di depan dan di peron Stasiun Harajuku

Terletak 12 Km di sebelah barat Stasiun Tokyo. Harajuku adalah nama wilayah di timur stasiun ini. Harajuku menjadi stasiun tersibuk keenam di seluruh Tokyo.

Harajuku Station Tourism

Kiri : Takeshita Street

Kanan : Kuil Meiji-Jingu

Stasiun Harajuku adalah akses menuju spot wisata Takeshita Street yaitu jalan sepanjang 350 meter yang menjadi cermin muda-mudi Jepang dengan berbagai pakaian unik dan menarik. Sepanjang jalanan ini juga memanjakan wisatawan dengan toko-toko kuliner dan fashion.

Sementara itu 700 m di utara stasiun ini, Kalian bissa mengunjungi Kuil Meiji-Jingu. Kuil megah untuk mengabadikan Kaisar Meiji. Suasana hijau dan segar kuil ini tercermin dari lingkungan sekitar kuil yang berupa hutan yang sangat bersih dan terawat.

So.….tunggu apa lagi guys….Visit Japan.