Bukchon Hanok Village: Destinasi Pertama di Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya.

Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya.

Keluar dari minimarket, aku melangkah cepat menuju gerbang Stasiun Hongik University yang tak jauh lagi, tepat di sebelah kiri tikungan di depan sana.

Menuruni escalator super panjang menukik menuju bawah tanah, aku mulai membuka denah cetakanku sendiri, lalu menunjuk sebuah titik tujuan. “Aku harus menuju Stasiun Anguk”, batinku berseru sembari melipat denah dan memasukkan ke saku belakang.

Kini aku berada di batas platform. Menjelang siang, suasana stasiun bawah tanah lengang. Tetiba, pertunjukan romansa jalanan di ujung platform sana memudarkan rasa antusiasku dalam menunggu kedatangan Seoul Metro. Sepasang sejoli tampak berpeluk pinggang sembari bertatap mesra. Sesekali sang pria cuek menyosor gadis di depannya….”Buseeet….”, seloroh iriku keluar juga. Pertunjukan seperti itu memang tak membuatku heran karena sudah kerap kujumpai di moda transportasi yang sama milik Negeri Singa atau Kota Shenzen. “Anggap saja sebagai bonus perjalanan…”, batinku tersenyum kecut.

Pelukan mesra mereka terlepas beberapa saat setelah derap suara Seoul Metro terdengar dari lorong kanan. Seoul Metro mendecit lembut dan berhenti di hadapan, mereka mengakhiri romansa dan penonton tunggalnya pun ikut menaiki kereta.  

Seoul Metro Line 2 merangsek meninggalkan Distrik Seodaemun menuju timur. aku akan berwisata ke Distrik Jongno yang berjarak delapan stasiun dan harus berpindah ke Seoul Metro Line 3 di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga serta membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sesuai perkiraan waktu, kini aku sudah berdiri di depan pintu Seoul Metro ketika announcer sound mengatkan bahwa kereta akan segera merapat ke Stasiun Anguk. Setelah berhenti sempurna, aku melompat meninggalkan gerbong yang sedari menaikinya, tak ada kejadian berkesan lain setelah romansa setengah jam lalu.

Keluar dari Stasiun Anguk, aku dihadapkan pada Yulgok-ro Avenue. Percaya diri mengambil langkah ke kiri mengantarkanku pada sebuah simpang lima yang ramai dengan gerai fashion, kuliner dan kosmestik. Sepertinya aku salah jalan.

Aku berdiri terpaku di sebelah tugu Enso yang berlokasi tepat di salah satu sisi simpang lima tersebut. Enso sendiri adalah kuas kaligrafi tradisional asli Korea Selatan. Mengamati perilaku masyarakat lokal yang sibuk berbelanja. Sementara beberapa kelompok turis asal Eropa tampak sedang bercakap-cakap di gerai Tourist Information yang terletak di samping tugu. Sepertinya aku harus ke gerai itu dan menanyakan arah destinasi yang kutuju. Akhirnya aku melangkah menujunya.

Aku: “Hello, Ms. Can me know which way thet I need to choose toward Bukchon Hanok Village?

Dia: “Hi, Sir. You can go straight there and then turn left in crossroad. You will arrive in Bukchon Hanok Village with walking about 600 meter”.

Aku: “Very clear, thank you, Ms

Dia: “You are welcome. And this tourism map is for you”, dia tersenyum  sembari menyerahkan selembar denah pariwisata Seoul untukku.

Aku pun segera melangkah menuju utara. Sedikit santai sembari menikmati keramaian jalanan Bukchon-ro, akhirnya aku tiba di Bukchon Hanok Village dalam 20 menit. Perkampungan budaya ini berlokasi di sebelah barat jalan utama.

Notre Dame Education Center di Bukchon Hanok Village.

Diluar dugaa, ini berbeda dengan Gamcheon Culture Village di Busan yang kukunjungi beberapa hari lalu. Bukchon Hanok Village menampilkan deretan Hanok (rumah tradisional Korea Selatan) yang tersusun rapi memanjang mengikuti kontur jalan setapak. Kayu-kayu yang menjadi bagian dari bangunan Hanok tampak terawat mengkilap, Gang-gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki nampak rapih dan bersih. Inilah perumahan bangsawan era Dinasti Joseon yang berusia lebih dari enam abad dan menjadi kebanggaan Distrik Jongno.

Sesuai dengan julukannya sebagai “Kampung Utara”, maka desa ini memang terletak di sebelah utara dari dua ikon utama kota Seoul yaitu Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno.

Selain berfungsi sebagai pelestarian Hanok, desa ini juga berfungsu sebagai pusat kebudayaan, penginapan tradisional, restoran dan tempat minum teh bersama.

Menyusuri bagian dalam perkampungan, beberapa turis perempuan tampak anggun mengenakan Hanbok (baju khas Korea Selatan) demi menyusuri perkampungan budaya ini dengan lebih khusyu’.

Sebuah keindahan yang tersimpan di daerah Gahoe ini akhirnya berhasil kudatangi juga. Sebuah kesan klasik, ketenangan, kesunyian, sarat makna dan keagungan budaya sangat kental kurasakan dalam kunjungan ini.

Lelap Sejenak  di Kimchee Guesthouse Sinchon

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik.

Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang kupesan berada di dalam gang di seberang jalan sana. Aku melintas pada zebra cross tunggal yang ada pada ruas jalan dihadapan. Seoul Bus Rapid Transit dominan biru langit kelir putih, dengan AC outdoor compartment  memanjang di bagian atap melengkapi body panjangnya tampak berlalu lalang mengambil warga lokal yang mulai beraktivitas meghargai fajar.

Aku memutuskan untuk tak bertanya  kepada siapapun perilah letak guesthouse tempatku menginap, aku yakin di tengah Ibu Kota yang super sibuk, akan sangat langka bagi siapapun untuk mengetahui letak sebuah guesthouse kecil jauh di dalam gang antah berantah.

Aku mengambil peta dan dengan cepat memahami gang sebelah mana yang harus kumasuki. Aku mulai memasuki  Gang Sinchon –ro 3-gil dan berbelok ke kanan pada pertigaan pertama. Sesuai dugaan, aku akan mudah menemukannya.

Memasuki pintunya yang tak terkunci, aku menemukan meja resepsionis yang gelap dan kosong, lorong tangga, dapur dan ruang makan sama temaramnya. Tamu-tamu guesthouse rupanya masih tampak malas dalam selimutnya masing-masing, seakan enggan berjibaku dengan dinginnya hawa di luaran sana.

Tak ada pilihan, aku memasuki shared lounge yang sama temaramnya, mengambil tempat duduk, menaruh backpack dan menangkupkan muka dalam sedekapan tangan untuk turut terlelap dengan kondisi terduduk. Setidaknya shared lounge itu tak sedingin ruangan Seoul Express Bus Terminal dini hari tadi.

Lelapan pulasku terbangunkan oleh suara berisik seseorang yang tampak merapikan ruang resepsionis. Rupanya aku telah terlelap selama satu jam lamanya. Lelaki muda Korea itu tampak melihat kearahku tanpa ekpresi. Aku mengucek mata untuk membuat muka segera segar. Beranjak dari bangku dan segera menujunya.

Aku ; “Hello, I’m Donny from Indonesia. I had booked a room in this guesthouse. This is my booking confirmation”.

Dia: “Let me see”, dia seksama membaca detail lembaran itu. “I think you will get your room on 1 pm, so I’m sorry”, aku terkagum dengan aksen British pengucapan englishnya.

Aku: ‘Oh, It’s OK. I know that. I just want to put my backpack here and I will go to sightseeing the city”.

Dia: “Yeaa, It will be better. Just put your backpack there”, dia menunjuk sebuah pojok ruangan yang penuh tumpukan backpack.

Aku: “Ok, thanks, Sir”.

Usai sukses menaruh backpack yang mulai membuat punggungku terasa berat. Aku segera meninggalkan guesthouse. Aku harus mencari sarapan sebelum menuju ke destinasi pertamaku di Seoul. Semenjak bercakap dengan Mr. In Chul Park di Seoul Metro tadi pagi, aku mulai menahan rasa lapar yang menyerang lambung.

Menyeberang kembali Sinchon-ro Avenue aku memasuki gang menuju Stasiun Hongik University. Di dalam gang aku perlahan melangkah demi menemukan sebuah minimarket. Yups….Akhirnya aku menemukan sebuah CU minimarket.

Menelusuri rak berisi makanan, aku menemukan cup noodle dan kemasan nasi putih, tanpa ragu aku memungutnya dan membawanya ke kasir. Seperti minimarket di Busan, CU minimarket Seoul juga menyediakan pojok makan, lengkap dengan microwave dan air panas. Pelanggan dituntut untuk bisa mengoperasikan peralatan pemanas itu dan melayani dirinya sendiri untuk menyantap makanan yang dibelinya.

Aku yang sungguh kelaparan, menyantap cup noodle dan nasi kemasan itu dengan cepatnya. Untuk kemudian segera bergegas menuju destinasi wisata pertama.

Kisah Selanjutnya—->

Menjajal Seoul Metro: Menuju Stasiun Hongik University

<—-Kisah Sebelumnya

Aku berusaha menyejajari Mr. Park yang tampak gesit untuk kecepatan langkah seusianya. Menunggui Seoul Metro di satu sisi platform, kami bercakap ringan saja. Aku bercerita tentang perjalananku menyusuri Asia Timur kepadanya. Kuselipkan beberapa kisah petualangan di Tokyo, Osaka dan Busan beberapa hari lalu. Mr. Park tampak cukup terkesima mendengarkan alur kisah yang kusampaikan seringkas mungkin.

Sedangkan Mr. Park, In Chul Park nama lengkapnya….Menceritakan aktivitas sehari-harinya yang berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis Obsetri dan Ginekologi (Obgyn) di Myongji Hospital  di Distrik Deokyang.

My job is to help the baby to be born”, begitulah dia menyampaikan perihal aktivitas kesehariannya.

Seoul Metro tiba….

Berada di Line 6, kami berdua memasuki gerbong tengah. Seluruh gerbong tampak sepi pagi itu. Para pekerja belum banyak yang memulai aktivitasnya. Kami berdua terduduk di bangku tengah dan melanjutkan percakapan ke topik-topik ringan berikutnya, mulai dari keluarga kecilnya hingga sedikit menyampaikan serba-serbi Kota Seoul, aku kebanjiran informasi berharga pagi itu. Aku lebih banyak berperan sebagai pendengar yang baik dalam percakapan kami berdua.

Dua puluh menit menjadi perjalanan bersama yang berharga bersama Mr. Park. Aku berpamitan lebih dahulu, karena aku harus turun di Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 2. Sementara Mr. Park masih melanjutkan perjalanan sejauh 14 stasiun lagi menuju Stasiun Hwajeong.

Turun di platform Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga, aku mulai mencari koridor terusan menuju Stasiun Hongik University. Melihatku kebingungan mencari koridor itu, seorang lelaki tambun menghampiriku.

Dia: “Hello, Where will you go?”, dia mulai menyapa dengan pertanyaan.

Aku: “Hongik University Station, Sir. Which corridor should I choose?

Dia: “Wait….

Diapun tampak kebingungan dan berinisiatif mencegat seorang petugas Seoul Metro yang sedang melangkah di sebuah koridor. Mereka berdua tampak bercakap dan petugas Seoul Metro itu tampak menunjuk-nunjuk sisi lain bangunan stasiun.

Dia: “You must steps over there!”, lelaki tambun nan baik itu menunjukkanku sebuah arah setelah beberapa menit lalu bertanya kepasa petugas Seoul Metro.

Aku: “Thank you very much, Sir. You are a kind man”, aku sungguh merasa terbantu atas pertolongannya.

Pantas saja susah ditemukan, koridor itu ada di bagian ujung bangunan stasiun dengan bukaan koridor yang tak terlalu besar. Menelusuri koridor, membuatku sampai pada sebuah platform. Kini aku sudah berada di platform yang benar dengan kode warna hijau di setiap petunjuk.

Lima menit kemudian Seoul Metro tiba, aku segera mengalir di lorong-lorong bawah tanah Kota Seoul bersamanya. Seoul Line 2 tampak ramai dengan para mahasiswa. Mimik-mimik muda berpendidikan tampak berjejal di gerbong. Tak mendapatkan tempat duduk, membuatku harus berdiri di sepanjang 20 menit perjalanan lanjutan.

Akhirnya aku tiba di Stasiun Hongik University…..

Saatnya menuju ke Kimchee Guesthouse Sinchon

Kisah Berikutnya—->

Berburu T-Money bersama Mr. Park

<—-Kisah Sebelumnya

Gosok Gigi….

Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man!

Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota.

Berada di Seoul Express Bus Terminal berarti aku berada di ujung selatan kota, tertahan semalaman di Distrik Seocho demi menunggu kereta pertama beroperasi. Aku bergegas menuju Stasiun Express Bus Terminal….Yupz, stasiun itulah yang terintegrasi dengan terminal dimana aku bermalam.

Sementara residu udara beku masih terasa lekat di kulit ari begitu setengah langkahku terjulur keluar dari gerbang terminal. “Gilaaa….”, batinku yang membatin. Kusegerakan langkah dengan menaikkan tempo kaki menuju gerbang stasiun.

Damn….”, gerbang itu masih terhalang oleh standing barrier.

Belum boleh masuk….”, batinku membuat kesimpulan.

Tergopohlah diri kembali menuju terminal. Kuputuskan menunggu hingga genap satu jam, melebihi setengah jam dari rit pertama kereta beroperasi.

Satu jam yang kumanfaatkan dengan membuka kembali lembaran peta dasa jalur Seoul Metro. Jumlah jalur yang satu lebih banyak dari jalur MRT-LRT milik Negeri Singa. Kapankah Jakarta akan mengejarnya?

Genap enam puluh menit menanti, kini aku merepetisi jejak menuju gerbang Stasiun Express Bus Terminal. Standing barrier itu telah sirna, penanda bahwa stasiun telah membuka diri bagi setiap tamunya.

Memasuki bangunan stasiun, pohon-pohon natal masih saja menyambut walau ini sudah hari ketiga bulan Januari, patung Santa Claus dengan sembilan rusa kutub kesayangannya menyapa dan tepat di pojokan sana security berbadan tambun dengan kelebihan bentuk perut melempar senyum. Dengan sigap dia menyambar topi dan Tongkat-T putihnya lalu berlari kecil menujuku. Sepertinya dia faham bahwa aku bukanlah penduduk Negeri Ginseng, oleh karenanya, dia berniat membantu. Walaupun sebetulnya, aku lebih tertantang menemukan untuk platform dengan caraku sendiri. But, It’s OK, lah.

Security tambun: “Hellooo, where wil you go?

Aku: “Hongik University Station, Sir”.

Security tambun: “Oh, OK. Where are you come from?

Aku: “Indonesia

Security tambun: “Hmmh, Malaysia?

Aku: “No Sir. Indonesia. A country at south of Malaysia”.

Security tambun: “Oh really, follow me!…follow me!”

Aku pun menguntitnya dari belakang

This way”, dia menunjuk sebuah lorong menuju salah satu platform”.

Thank you, Sir”, aku menutup percakapan sebelum dia kembali menempati posnya.

Menyusuri lorong hingga ujung, aku mulai mencari keberadaan ticket vending machine. Mesin itu ada di salah satu sisi. Lorong masih sepi, memungkinkanku untuk mengeksplorasi layar mesin itu. Tekun menjelajah layar, tak ada satu kata pun yang bisa menuntunku untuk mendapatkan One Day Pass.

Aku memunculkan sebuah inisiatif untuk menghadap ke petugas stasiun. Ruangan itu jelas ada di samping sana. Dua orang staff berseragam tampak memulai hari di meja kerjanya. Aku terlanjur mengetuk pintu kaca dan tatapan mereka serempak menuju ke arahku lalu diiringi lambaian salah satu diantara mereka sebagai tengara bahwa mereka mempersilahkan aku untuk masuk menghadapnya.

Aku: “Good morning, Sir?

Staff: “Yes, Can I help you?

Aku: “Does Seoul Metro sell One Day Pass for passenger?

Staff: “No No No, you must buy a regular card

Aku: “What is that?

Merasa kerepotan berbahasa Inggris, dia beranjak dari bangku dan menuju pintu. Dia melambaikan tangan kepadaku untuk mengikutinya. “there!”, dia menunjuk kepada sebuah kotak mesin.

Merasa peluang untuk mendapatkan One Day Pass menipis, aku pun menyerah dan menutup percakapan. “Oh, OK

Langkah kakiku cepat menuju kotak mesin itu. Merasa penasaran dengan apa yang bisa dijual oleh benda penuh teknologi itu. Aku berhenti sejenak, mengamati lekat penampakannya. Belum juga aku memencet apapun maka berdirilah di sampingku seorang lelaki, umurnya 40-an tetapi masih terlihat segar bugar, murah senyum dan tampak berpendidikan.

Dia: “Helloo…..Can I help you? Where are you come from?

Aku: “Hi, Indonesia Sir. Yeaa, I looking for the One Day Pass in this machine, Sir”.

Dia: “Oh, there isn’t One Day Pass in Seoul Metro. You must buy T-Money for your journey using Metro

Aku: “Oh, ya

Dia: “OK, I will help you to get it”. Dia mulai mendekat ke layar, kemudian gesit memencet-mencet tombol hingga tiba pada menu akhir ekseskusi. “You need to insert 3.000 Won to this machine!

Aku: “Oh , Ok, I see”….aku memasukkannya dan dia mulai memencet tombol eksekusi terakhir.

T-Money itu keluar dari mesin dengan packingan rapi  berwarna putih. Lelaki itu mengambilnya dan menyerahkan kepadaku.

Kemasan T-Money.
Ini dia wujud T-Money.

So now, you can explore Seoul by this. Come on we go to platform. Where is your destination?”, dia mulai megajakku melangkah

Hongik University Station, Sir”, aku mencoba mengimbangi kecepatan langkahnya.

Oh, do you study there?”.

Oh, No Sir, I am just traveling now. What is your name, Sir?

In Chul Park. Call me Park”, dia mengulurkan tangan

Donny, Sir”, aku menjabat tangannya.

Kini aku memiliki teman berbincang selama perjalanan menuju Kimchee Guesthouse Sinchon.

Thank you very much Mr. Park….